Previously (Chapter 8) :
Jongin menatap Kris, yang kini memperlihatkan raut wajah yakin. Kris memejamkan matanya, kemudian menarik nafas panjang. Jongin mengerti raut wajah Kris yang satu itu. Ia sudah sangat familiar dengan cara Kris memejamkan mata seperti tadi.
Kris ingin meyakinkan dirinya sendiri.
Setelahnya, Kris membuka matanya, menatap mata Sehun dengan mantap. Sehun merinding. Ia menangkap kilat mata tajam, mantap, dan ada satu hal lagi yang membuat jantung Sehun berdegup kencang aneh–sudah lama ia tidak menangkap tatapan seperti itu.
Kasih sayang.
.
.
"Aku adalah kakakmu, Sehun."
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 9
Sehun, Jongin, dan Kyungsoo termenung mendengarnya. Kris menghela nafas berat, kemudian menganggukkan kepalanya. Dia menatap Sehun dengan pandangan yang selama ini tidak pernah ia berikan pada siapapun.
"Aku adalah kakakmu, Sehun. Kevin."ucap Kris, memperjelas perkataannya sebelumnya.
Jongin menoleh pada Sehun, yang tampak tidak percaya. Wajah itu menyiratkan beribu pertanyaan, dan Jongin tidak pernah melihat ekspresi Sehun yang seperti itu. Jongin menyentuh tangan Sehun.
"Hun?"tanya Jongin.
SRET!
Jongin kaget bukan main.
Sehun baru saja menepis tangannya.
"Ka-kau.. apa?"kaget Sehun, tampak tidak bisa berkata-kata.
"Aku adalah kakakmu, Hun. Aku adalah Kevin."ucap Kris, menatap Sehun dengan yakin.
Sehun menggeleng-geleng tidak percaya. Tanpa namja itu sadari, ia sudah berjalan mundur dengan wajah penuh tanda tanya. Kris berjalan mendekati Sehun, tetapi Sehun tetap menolak untuk mendekati Kris.
"Tidak mungkin! Kevin sudah mati! Dia sudah mati!"pekik Sehun, mulai histeris.
"Sehun.."gumam Kyungsoo, menatap Sehun dengan prihatin.
"Tidak! Tidak mungkin! KEVIN SUDAH MATI DAN DIA TAKKAN KEMBALI LAGI!"
"SEHUN!"
Setelah berteriak begitu kerasnya–sampai-sampai prajurit lain menoleh karena mendengarnya, Sehun berlari ke dalam hutan di samping perkemahan prajurit. Kris menatap kepergian Sehun dengan pandangan nanar, kemudian ia menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Letnan Kris."
Kris menoleh dengan lesu, begitu mendapati Jongin dan Kyungsoo yang menatapnya. Keduanya menuntut penjelasan dari Kris, dan Kris menarik nafas pelan.
"Kau harus menjelaskan banyak hal pada kami."ucap Jongin, tegas.
Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan penuh tanda tanya. Jongin menatap Kris dengan pancaran mata mantap, dan kemudian ia mendekati Kris.
"Sehun adalah sahabatku. Selama ini ia telah mendoakan kakaknya yang telah gugur dalam peperangan! Dia berdoa, berharap kakaknya bahagia di atas sana!"pekik Jongin, mulai menyalurkan emosi dalam dirinya.
"Jongin, sudahlah."ucap Kyungsoo, kemudian menarik satu tangan Jongin yang semakin mendekati Kris.
"Nanti dulu, Kyung."elak Jongin, kemudian menatap Kris dengan sengit.
Jongin mendekati Kris yang bahkan tidak berminat untuk bergerak. Mata Jongin mulai berkaca-kaca. Dia tidak habis pikir dengan letnan di hadapannya.
"KAU HANYA AKAN MENAMBAH LUKA DI HATINYA! TIDAKKAH KAU TAHU ITU?"
Kris dan Kyungsoo sama-sama terkaget, ketika mendengar teriakan Jongin. Terutama Kris. Jongin tidak pernah meninggikan suara sebelumnya, apalagi kepada seseorang yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya di infanteri.
Tapi nyatanya, Jongin baru saja berteriak padanya.
"Sehun berdoa dengan khidmat, berharap kakaknya bisa mendampinginya dari atas sana dan terus mengawasinya! Tapi apa? Doanya selama ini sia-sia! Kau bahkan tidak memunculkan batang hidungmu sedari lama! Kenapa kau berbohong pada Sehun, hah? Kenapa kau tidak mau mengakui bahwa kau adalah Kevin?"ucap Jongin, menyemburkan banyak pertanyaan pada Kris yang diam tak berkutik.
"Jongin, sudahlah."ucap Kyungsoo, kemudian menggenggam tangan kanan Jongin erat.
"Kau melukainya. Dia merasa terkhianati! Sehun tidak pernah berharap kau masih hidup, tapi ternyata kau muncul begitu saja! Kemana saja kau selama ini dalam hidupnya?"tanya Jongin, dengan wajahnya yang mengeras akibat marah.
Kris mengangkat wajahnya, menatap tepat ke dalam mata Jongin. Jongin dan Kyungsoo terkaget. Kris hanya berdiri di sana, menatap Jongin dengan tatapan nanar.
Tentu saja dengan mata yang sudah berlinangan airmata.
"Aku hanya takut dia tidak mau menerimaku lagi."ucap Kris, lirih.
Jongin menarik nafas dalam-dalam, berusaha menetralkan emosinya. Kyungsoo mengusap kedua lengan Jongin, berusaha menghilangkan amarah namja itu. Kris menatap Jongin dengan tangan terkepal, dan wajahnya menyiratkan beribu emosi yang berusaha dia telan bulat-bulat.
"Aku tidak mau dia menolak kehadiranku. Aku hanya ingin menjaganya dari jauh. Aku tidak ingin dia terluka. Aku tidak ingin dia tersakiti oleh kedatanganku pasca penyerangan Saxon itu."jelas Kris, lirih.
"Tapi kenapa, Kris? Kenapa kau bersembunyi selama ini? Sehun sangat menyayangi Kevin, Kris. Dia sangat menyayangi kakaknya. Kenapa kau tidak muncul saja? Kau malah menambah luka di hatinya."ucap Jongin, lirih.
Jongin menggeleng, tidak habis pikir. Airmata sudah mengaliri wajahnya juga, membayangkan luka pada hati Sehun akibat kehilangan sosok seorang kakak yang begitu dicintainya. Jongin tak tahu harus berbicara apa.
"Temui Sehun. Minta maaf padanya, dan jelaskan segala hal yang terjadi sejelas-jelasnya."ucap Jongin, lirih.
Kris menatap Jongin. Jongin mengangguk, kemudian membalikkan badannya dan berjalan menjauh. Kyungsoo menatap kepergian Jongin, kemudian beralih pada Kris. Kris menatap Kyungsoo dengan nanar, dan Kyungsoo membalas tatapan itu dengan prihatin.
"Good luck."ucap Kyungsoo, kemudian menatap Jongin dan berlari menghampiri namja itu.
Keduanya meninggalkan Kris, yang dilanda beribu emosi karena penolakan Sehun.
-XOXO-
Kyungsoo berjalan menuju tenda Jongin. Ia menarik nafas pelan, kemudian berjalan melintasi beberapa tali temali yang saling terkait–tali penguat tenda. Kyungsoo berjalan ke belakang tenda. Setelah berhasil sampai di belakang tenda, ia terdiam.
Jongin duduk membelakanginya, menghadap ke arah hutan yang berada di bawah bukit perkemahan mereka.
Kyungsoo berdehem, membuat Jongin agak menoleh. Kyungsoo menatap Jongin, kemudian berjalan menghampirinya. Gaunnya yang panjang melambai mengikuti angin, membuat sosoknya terlihat semakin anggun.
"Mau ditemani?"tanya Kyungsoo, lembut.
Jongin mendongak menatap Kyungsoo, kemudian mengangguk dan menggeser posisi duduknya. Kyungsoo merapikan rok gaunnya, kemudian duduk di samping Jongin. Ia mendekap kedua kakinya yang ditekuk, menatap namja di sampingnya.
Seperti yang Kyungsoo duga. Namja itu sudah berlinangan airmata.
"Hey, kenapa kau menangis?"tanya Kyungsoo.
Jongin menarik nafas berat, kemudian menghembuskannya berat juga. Ia menatap pemandangan di hadapannya. Sore sudah menjelang, jadi terlihat raut jingga di ufuk barat sana.
"Jongin, kau tidak salah apa-apa."ucap Kyungsoo, berusaha agar Jongin mau angkat bicara.
"Sehun tidak layak mendapatkan hidup menyedihkan seperti ini."
Kyungsoo terdiam mendengar penuturan Jongin. Jongin masih belum mau menatapnya, dan jejak airmata baru terus menghiasi wajah tampannya. Jongin duduk seraya bersila, kemudian mengusap kedua tangannya perlahan–membuat sensasi hangat dengan tangannya.
"Dia kuat, baik, benar-benar prajurit ideal. Aku sangat mengagumi keberanian Sehun. Dia setia kawan. Dia keras, dan dia juga terlatih. Aku tidak percaya bahwa Sehun punya hidup sebegitu keras, dan aku semakin tidak percaya bahwa kakaknya hadir untuk menghancurkan segala mimpinya."jelas Jongin, membuat Kyungsoo mengernyit.
"Kris hadir untuk melengkapi doa Sehun, bukan untuk menghancurkannya."elak Kyungsoo, digelengi Jongin.
"Tidak, dia menghancurkannya. Menghancurkannya dengan keras."
Kyungsoo menatap Jongin dengan sedikit penasaran. Kenapa namja itu berbicara seperti itu? Memangnya, apa efek dari kehadiran Kris pada Sehun? Sehun pasti sudah bercerita banyak padanya; batin Kyungsoo.
"Sehun selalu berdoa sebelum ia tidur. Aku harap, kakakku bahagia di atas sana, kelak menyambutku ketika aku gugur di medan perang. Dia sangat berharap kebahagiaan mutlak diraih kakaknya di atas sana, dan dia tidak pernah sekali pun berhenti berdoa. Dia sangat mencintai kakaknya, Kevin."
Kyungsoo mengernyit, kemudian menatap Jongin. Jongin mengangkat tangan kanannya, menyeka airmatanya dengan kasar. Jongin menarik nafas pelan, berusaha menetralkan suaranya yang mulai bergetar.
"Kris hadir sebagai Letnan Kris dalam hidupnya, kemudian tiba-tiba ia membuka kedoknya sebagai seorang Kevin. Tentu Sehun tidak bisa menerimanya. Dia tidak suka dibohongi, tidak suka dikhianati. Sehun ingin Kevin. Dia tidak ingin Kris, dan Kris sudah menghancurkan segala pengharapannya selama ini."jelas Jongin.
Kyungsoo menatap Jongin dengan prihatin, kemudian meraih tangan kiri Jongin dan mengusapnya lembut. Jongin menatap tangan Kyungsoo yang memegangnya, kemudian beralih pada sosok yeoja itu.
Jongin tak pernah menghitung sudah berapa kali Kyungsoo hadir untuk menghiburnya dalam segala kesulitan Jongin.
"Aku tidak tahu seperti apa kisah masa lalu Sehun dengan Kevin, aku tidak tahu apapun. Tapi, aku tahu bahwa Sehun masih memiliki satu hal ini. Satu hal yang dipunyai oleh semua orang di dunia, termasuk juga olehmu, Jongin."ucap Kyungsoo, membuat Jongin mengernyit.
"Apa itu?"
Kyungsoo menatap tepat ke dalam mata elang Jongin. Kyungsoo merasakan luka di sana. Luka yang bahkan bukan disebabkan oleh Jongin, tapi berdampak besar bagi namja itu. Kyungsoo tersenyum lembut, berusaha menghibur Jongin sebisanya.
Ia begitu menyadari bahwa rasa sayang Jongin kepada sahabatnya Sehun sebegitu besarnya.
.
.
"Sehun.. dia pasti masih memiliki rasa sayang terhadap kakaknya. Sejahat apapun Kris, aku tahu bahwa Sehun masih mengharapkan Kris atau Kevin untuk hadir dalam hidupnya. Tuhan masih berbaik hati pada Sehun, dengan membiarkannya bertemu dengan Kris. Cepat atau lambat, masalah ini akan selesai."
Jongin terdiam mendengar jawaban Kyungsoo. Kyungsoo mengusap tangan besar Jongin dengan lembut. Jongin menarik nafas pelan, kemudian kembali menatap wajah yeoja di sampingnya.
Entah kenapa, Jongin sangat betah menatap wajah Kyungsoo yang begitu keibuan.
"Kau benar."ucap Jongin, disusul oleh senyuman samar Jongin.
Kyungsoo tersenyum, kemudian mengangguk.
"Biarkan Sehun dan Kris menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita doakan yang terbaik untuk mereka."
-XOXO-
Malam menyapa.
Beberapa prajurit tampak mondar-mandir, dengan beberapa panci dan bahan makanan untuk makan malam mereka nantinya. Beberapa yeoja pelayan istana tidak lupa membantu mereka menyiapkan makan malam.
"Jongin."
"Hmm?"
"Bisa kau kupas apel ini? Kulitnya dipisah, ya! Nanti mau dijadikan cemilan."
Kyungsoo menyodorkan sekeranjang apel merah pada Jongin, dan namja itu menerima apel itu. Jongin meraih pisau tajam yang ada dalam kantung celananya, kemudian bersiap untuk mengupas kulit apel itu.
"Tunggu dulu!"
Kyungsoo tiba-tiba mengusik Jongin, membuat Jongin agak kaget. Jongin menatap yeoja itu, dan Kyungsoo menatap pisau Jongin. Kyungsoo pun ber-facepalm ria pada Jongin.
"Kau yakin, tidak mau mencuci pisau itu dulu? Itu makanan, bukan rumput untuk kudamu."ucap Kyungsoo, datar.
Jongin menatap pisau di tangannya, kemudian menatap Kyungsoo dan terkekeh penuh salah tingkah. Jongin menaruh apel itu kembali ke dalam keranjang, kemudian berdiri dan berjalan menuju sumber air perkemahan tersebut.
"Yeoja itu benar-benar.."gumam Jongin, mengingat Kyungsoo yang menginterupsinya tadi.
Jongin berjalan menuju sebuah saluran air, kemudian menatap pisaunya dan mencucinya di sana. Ia meraih sebuah daun bersih di sekitarnya, kemudian menggosok pisau itu dengan daunnya.
"JONGIN!"
Jongin terdiam, kemudian berdiri dan menoleh ke belakang. Jongin mengernyit heran, kemudian membuang daun di tangannya dan mengantungi pisaunya kembali. Ia berjalan menuju sosok yang memanggilnya tadi.
Kris menghampirinya, dengan raut wajah khawatir.
"Ada apa, letnan?"tanya Jongin, heran.
"Sehun, Sehun!"pekik Kris dengan nada cemas–kecemasannya tertular pada Jongin.
"Ada apa dengan Sehun?"tanya Jongin, khawatir.
.
.
"Dia belum kembali dari hutan! Dia tidak ada dimanapun!"
-XOXO-
CRASH CRASH CRASH
Sepasang kaki yang gagah tampak melintasi hutan belantara yang gelap itu, menatap sekelilingnya dengan wajah gundah. Wajahnya berlinangan airmata sedari tadi siang, dan tidak ada satu pun niatan baginya untuk kembali ke perkemahan.
Sehun mendongakkan kepalanya, menatap jalan setapak yang ia tengah lewati.
"Kevin sudah mati. Dia sudah mati, Sehun. Dia sedang menunggumu di atas, menunggumu untuk gugur di medan perang."gumam Sehun, dengan tangan sesekali memegangi pohon di sekitarnya.
Beberapa kali Sehun menginjak dedaunan yang berguguran. Hutan itu terasa kelam, dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Sehun tidak peduli apakah dia tersesat atau tidak–dia hanya ingin menjauh dan menjernihkan pikirannya.
TAP TAP TAP
Sehun terdiam. Ia berdiri diam, mendengarkan sekitarnya dengan seksama. Ia takut ia salah dengar, tapi dia yakin dia tidak salah.
Sehun yakin sekali bahwa dia mendengar suara tapak kaki orang lain.
Sehun kembali melanjutkan jalannya, berusaha menetralkan pikirannya. Mungkin hanya perasaanku saja; batin Sehun. Sehun melanjutkan jalannya, sesekali melintasi daun-daun yang menutupi jalan setapak tersebut.
TAP TAP TAP
Terdengar lagi langkah kaki.
Sehun masih melanjutkan jalannya, namun dengan telinga yang ditajamkan. Perlahan, tangannya merambat ke arah saku celananya–untuk meraih pisau miliknya. Sehun mengernyitkan keningnya. Suara itu muncul dan hilang secara bergantian, membuat Sehun kebingungan.
TAP TAP TAP
Suara langkah kaki itu semakin dekat, terdengar berat–Sehun yakin bahwa sosok itu mengenakan sepatu boots besar.
Perlahan, Sehun membalikkan tubuhnya. Pisau yang tajam sudah ada di tangannya. Sehun menengok ke belakang.
BUAGH!
"ARGH!"
Tiba-tiba, seseorang menghantam Sehun dengan tongkat besi yang besar dan panjang. Tongkat itu menghantam kepala Sehun, membuat namja itu linglung dan terjatuh di atas tanah seketika. Sehun memegangi kepalanya yang terkena tongkat tersebut, merasakan sekelilingnya yang mulai pudar.
BUAGH!
"ARGH!"pekik Sehun lagi, merasakan pukulan yang menghantam tulang rusuknya.
BUAGH! BUAGH!
Namja itu tidak berhenti memukuli tubuhnya, membuat Sehun terus mengerang kesakitan. Sehun menatap sekelilingnya, dan pandangannya tertuju pada pisau tajam Sehun yang terjatuh di dekatnya.
"HIYAAAAAHHH!"
CRASH!
Sebelum lawannya itu menyerangnya lagi dengan tongkat, Sehun sekuat tenaga menggerakkan tubuhnya untuk meraih pisaunya dan langsung menusukkannya pada perut namja itu. Sehun menarik kerah namja itu, bertumpu padanya agar bisa berdiri lagi. Sehun menatap namja di hadapannya, kemudian terkaget.
Namja itu memiliki kumis dan janggut yang tebal, dengan rambut kepang yang sangat khas.
Kaum Saxon.
"Sa-Saxon?"gumam Sehun, kaget.
CRASH!
Sehun menarik pisaunya dari perut namja itu, menatap namja itu dengan kaget. Mulut namja itu mulai mengalirkan darah, dan dia menatap Sehun dengan kaget bukan main. Namja itu jatuh terduduk di atas lututnya. Sehun berjalan mundur perlahan, berusaha menjauh darinya.
DUAGH!
Tanpa Sehun sadari, seseorang berdiri di belakang Sehun. Sosok itu langsung menghantam punggung Sehun dengan brutal.
BUGH!
Dan akhirnya, Sehun jatuh tak sadarkan diri. Pisau tajamnya pun terhempas ke tanah.
BUGH!
Prajurit Saxon yang tadi menyerang Sehun pun terjatuh di atas tanah dengan tubuh tengkurap, dan tidak lagi bergerak.
"Kita kehilangan satu prajurit. Lagi."
Namja yang tadi menyerang Sehun bergumam.
TAP TAP TAP
Seorang namja keluar dari persembunyiannya di balik pohon. Namja itu memiliki garis ketampanan yang kentara, namun dengan luka-luka di wajah dan juga pakaian kulit hewannya yang khas. Namja itu menghampiri tubuh Sehun yang tak sadarkan diri.
"Masukkan dia ke dalam karung. Prajurit kita yang mati itu akan menjadi pesan bagi mereka agar tidak main-main dengan kita."ucap namja itu, yang tak lain adalah Peter Park.
Namja yang tadi ia suruh pun mengangguk, kemudian meraih karung yang ia bawa sedari tadi dan langsung memasukkan tubuh Sehun ke dalam karung itu.
PRIIT!
Peter meniupkan jari tangannya, memberi isyarat.
Beberapa orang keluar dari persembunyiannya, kemudian berjalan ke arah Peter. Mereka adalah para Saxon. Prajurit-prajurit Saxon itu pun berjalan ke arah namja yang tadi membawa karung, membantunya untuk memasukkan tubuh Sehun ke sana. Setelah Sehun berhasil dimasukkan ke dalam sana, mereka pun menggotongnya bersama.
Peter menatap prajuritnya yang tadi tewas di tangan Sehun, dengan tangan terkepal. Pancaran matanya menyiratkan kebencian yang mendalam, tapi dia berusaha menyembunyikan ekspresinya dengan memasang ekspresi datar dan dingin.
"Akan kubalas kau, Marseilles.."
-XOXO-
"Sehun! Sehun!"
Begitu mendengar salah satu prajuritnya tidak ada, para prajurit Paris pun tidak tinggal diam. Mereka rela meninggalkan makan malam mereka, kemudian berjalan memasuki hutan. Beberapa prajurit membawa lentera di tangan mereka, agar hutan itu bisa diterangi dengan baik.
"SEHUNN! SEHUN!"
Jongin berteriak ke segala arah, memanggil nama sahabatnya dengan perasaan khawatir. Kyungsoo setia berjalan di sampingnya, memegangi lentera yang dititipkan Jongin padanya.
"Kyungsoo, firasatku buruk. Aku tidak yakin Sehun baik-baik saja."gumam Jongin, dengan wajah khawatir.
"Teruslah mencari."ucap Kyungsoo.
Kyungsoo menatap tangan kanan Jongin, kemudian mengenggamnya erat. Jongin menatap sekelilingnya, namun ia membalas genggaman itu dengan lebih erat. Mereka terus berjalan, mencari Sehun.
"SEHUN! SEHUN!"
Jongin dan Kyungsoo berjalan semakin ke dalam, dan prajurit lain sudah berpencar. Jongin menatap Kyungsoo yang masih sibuk melihat ke sisi lain hutan, mencari Sehun.
"Kau tidak takut di hutan ini?"tanya Jongin, membuat Kyungsoo menatapnya dan tersenyum.
"Aku tidak takut."ucap Kyungsoo, mantap.
Jongin terus berjalan, menggenggam tangan Kyungsoo erat. Kekhawatiran mereka semakin terasa, dan Jongin benar-benar merasakan firasat buruk yang melandanya.
"Tunggu dulu."
Jongin berhenti berjalan, dan Kyungsoo pun demikian. Jongin menatap lentera pada tangan Kyungsoo, kemudian merebutnya. Ia melepas genggamannya pada tangan Kyungsoo, kemudian berjalan ke depan. Ia menatap sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Ya Tuhan.."
Jongin berlari ke arah sesuatu itu, kemudian berjongkok di sampingnya. Jongin menaruh lenteranya di atas tanah, kemudian meraih benda itu.
Seonggok tubuh mayat.
Jongin meraih kedua pundak mayat itu, kemudian mendorongnya sekuat tenaga agar bisa membuat mayat itu menjadi terlentang. Kyungsoo berlari ke arah Jongin, kemudian membantunya.
BRUK!
Tubuh mayat itu pun berbalik. Jongin dan Kyungsoo terkaget bukan main, ketika melihat mayat itu.
"Saxon?"kaget Jongin.
Kyungsoo mengendarkan pandangannya, kemudian berdiri. Ia menatap tanah di sekeliling prajurit Saxon itu, kemudian memicingkan matanya ketika melihat suatu benda. Tanpa pikir panjang, Kyungsoo berlari ke arah benda itu.
Kyungsoo menangkup mulutnya dengan kaget, dan tangan satunya meraih benda itu dengan gemetar.
Itu pisau dengan gagang berpahat, dengan darah yang melapisinya.
"JONGIN!"
Jongin menoleh ke arah Kyungsoo, kemudian segera berdiri. Ia meraih lentera di sampingnya, kemudian berlari ke arah Kyungsoo. Kyungsoo masih menangkup wajahnya, kemudian memperlihatkan pisau itu pada Jongin.
"I-ini kan.."
.
"Pisau siapa itu?"
"Punyaku."
.
"I-ini pisau Sehun!"pekik Jongin, begitu mengingat pahatan pada gagang pisau tersebut.
Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan khawatir, dan Jongin menatap prajurit Saxon yang tewas di belakangnya. Dia mendekati prajurit itu, kemudian mencocokkan darah pada prajurit itu dengan darah pada pisau itu.
"Sehun pasti pernah kemari. Dia menyerang prajurit ini."gumam Jongin.
Jongin tidak bisa menenangkan dirinya. Jantungnya berdegup ketakutan sekarang, dengan kecemasan yang melanda. Jongin menatap sekelilingnya dengan panik.
"SEHUN! SEHUN! SEHUN!"
Tapi naas, Sehun tidak akan menjawab panggilan Jongin.
"Jongin, bagaimana kalau para Saxon menculiknya?"
Kyungsoo berlari ke arah Jongin, menatapnya dengan pandangan ketakutan. Jongin menatap Kyungsoo, kemudian beralih pada pisau berdarah di tangannya. Genggamannya pada pisau itu mengerat, seiring dengan rasa takutnya yang kentara.
Saking takut dan khawatirnya, Jongin meneteskan airmata.
"Sehun.."
Ya, Sehun telah diculik oleh para Saxon.
TO BE CONTINUED
Note :
Hahaha! Kok jadi rumit gini yaa? Well, Sehun diculik itu tuh biar dibawa ke rumah HAW /eh
Pada penasaran sama lanjutannya? Apa Sehun bakal selamat dari para Saxon? Bagaimana nasib Kris dan kisah cinta KaiSoo?
Jangan lupa REVIEW dan FAVOURITE yaaa! HAW bakal terus update cerita ini!
Dan secara pribadi HAW mengupdate FF ini untuk Bakkichot yang telah menunggu :) Makasih banyak untuk dukungannya yaa :) /bow
HUANG AND WU
