Previously (Chapter 9) :

"Jongin, bagaimana kalau para Saxon menculiknya?"

Kyungsoo berlari ke arah Jongin, menatapnya dengan pandangan ketakutan. Jongin menatap Kyungsoo, kemudian beralih pada pisau berdarah di tangannya. Genggamannya pada pisau itu mengerat, seiring dengan rasa takutnya yang kentara.

Saking takut dan khawatirnya, Jongin meneteskan airmata.

"Sehun.."

Ya, Sehun telah diculik oleh para Saxon.

.

-If You Could See Me Now-

.

.

Chapter 10

BRAK!

Lorong istana itu sunyi, dengan suara bantingan pintu yang kentara. Tiga orang berjalan dalam lorong itu dengan cepat, wajah mereka menyiratkan kekhawatiran dan kemarahan dalam waktu bersamaan. Karpet merah yang mereka lintasi, dengan setiap patung-patung prajurit dan pilar-pilar lorong, menjadi saksi bisu kecemasan mereka yang kentara.

BRAK!

Kris membuka pintu di hadapannya dengan kasar, kemudian memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa. Tuan Andrew dan Nathan yang mengikutinya pun tampak sangat khawatir. Nafasnya tersengal-sengal, menandakan betapa ia cemas berlebihan.

Ternyata di dalam ruangan itu sudah ada beberapa orang lain.

"Letnan Kris."

Kris menoleh, mendapati Jongin yang bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Kris. Kedua tangannya menangkup suatu benda yang sudah diselimuti kain merah. Kris berjalan ke arah Jongin, kemudian membuka kain merah tersebut perlahan.

Sebuah pisau dengan gagang berpahat yang berlumuran darah pun muncul di hadapannya.

"Sehun.."gumam Kris, lirih.

Jongin menunduk, berusaha menyembunyikan airmatanya yang kembali menyeruak keluar. Kris mengambil alih pisau itu, mengusapnya dengan tangannya–tidak peduli apakah darah pada pisau itu berpindah pada jari tangannya atau tidak. Kris menatap pisau itu dengan perasaan gundah.

Kyungsoo bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekati Jongin. Ia mendekap lengan kanan Jongin, kemudian menatap Kris dengan pancaran mata yang menyiratkan keseriusan. Perlahan, ia mengusap lengan Jongin–menghiburnya.

"Jongin dan aku menemukan pisau itu di samping tubuh seorang Saxon yang berlumuran darah. Di tanah sekitarnya, terlihat sekali bekas-bekas perlawanan, dan kami percaya Sehun ada di sana. Dari situasinya, sudah terlihat jelas bahwa Sehun diculik oleh para Saxon."jelas Kyungsoo, menjelaskan kronologi kejadiannya secara rinci.

"Apa.. kalian tidak menemukan siapapun di sana?"tanya Kris, dengan nada yang mulai bergetar–terlihat sekali bahwa ia berusaha menahan tangisnya.

"Maaf, tidak ada."jawab Kyungsoo, lirih.

Kris mengangguk pelan, kemudian berbalik dan berjalan perlahan. Ia menatap pisau yang tengah ia genggam. Airmata Kris sudah tak bisa ditampung lagi. Ia menundukkan kepalanya, meratapi pisau tersebut.

"Kris, sudahlah."gumam Tuan Andrew, seraya mendekatinya dan mengusap punggung Kris dengan bersahabat.

"Tuan Andrew, aku tidak tahu harus bicara apa lagi."gumam Kris, lirih.

"Kami mengerti."

Jenderal Vincent berdiri dari duduknya, kemudian berjalan mendekati mereka. Ia menatap sekelilingnya dengan perasaan sama cemasnya, dan satu tangannya menepuk kepala Kris dengan bersahabat. Kyungsoo membawakan Kris sebuah kursi, dan Tuan Andrew membantu Kris duduk di atasnya. Namja itu benar-benar syok dengan kejadian ini.

"Seharusnya aku tidak memberitahunya. Seharusnya aku tidak bicara begitu. Seharusnya aku tidak melukai perasaannya. Seharusnya–"

"Kris, sudahlah."ucap Tuan Andrew, memotong gumaman Kris.

"Apa tidak ada cara untuk membawa Sehun kembali?"tanya Nathan, membuka suaranya.

"Kita harus minta persetujuan Raja Marseilles dulu. Kita harus berunding dengannya."ucap Jenderal Vincent, diangguki Tuan Andrew.

"Baiklah. Ayo, kita bicarakan dengan Raja Marseilles sesegera mungkin."ucap Jongin, mantap.

Para prajurit plus Kyungsoo itu pun keluar dari ruangan itu, segera menuju ke ruangan utama dimana Raja Marseilles selalu duduk di atas singgasananya.

-XOXO-

"Salah satu prajurit kita diculik?"

Terdengar ucapan kaget Raja Marseilles. Jenderal Vincent mengangguk penuh hormat, kemudian menatap sang raja dengan rasa sungkan yang kentara.

"Kami ingin merundingkan jalan terbaik untuk permasalahan ini dengan anda, wahai raja."ucap Jenderal Vincent, diangguki Raja Marseilles.

"Apa kalian tahu siapa yang menculik prajurit kita itu?"tanya Raja Marseilles.

"Saxon."jawab Jongin, tegas.

Raja Marseilles terdiam mendengar jawaban Jongin, kemudian menghela nafas berat. Ia menatap seluruh prajurit-prajurit andalannya, kemudian membenarkan posisi mahkotanya. Ia menegakkan tubuhnya, menatap mereka dengan pancaran penuh kewibawaan.

"Kurasa.. tidak ada yang bisa kuperbuat."

Semuanya terdiam.

"Apa tadi kau bilang?"tanya Kris, dengan nada tidak percaya yang kentara.

"Kris, jaga omonganmu. Sopanlah sedikit."tegas Jenderal Vincent.

Kris berjalan menghampiri Raja Marseilles, yang mulai enggan menatap tepat ke dalam mata Kris. Pisau milik Sehun masih ada dalam genggamannya, dan Kris hanya menatap raja terhormat di hadapannya dengan pandangan kaget yang luar biasa.

"Apa tadi kau bilang?"tanya Kris, kali ini tidak ada lagi rasa sopan santun.

Tuan Andrew menyadari situasi, kemudian menghampiri Kris dan menahan Kris mendekati Raja Marseilles. Tuan Andrew berkali-kali membisikkan kata-kata penenang pada Kris, tapi sepertinya tidak mempan.

"APA TADI KAU BILANG?"

Mereka semua kaget karena Kris berteriak. Raja Marseilles tidak kalah kaget. Dengan penuh kemarahan, sang raja berdiri dari singgasananya, menatap Kris dengan pandangan sengit.

"Aku harap kau mau menjaga nada bicaramu, letnan! Aku adalah rajamu! Kau tidak berhak untuk meninggikan suaramu seperti itu!"ucap sang raja dengan nada tegas yang kentara.

GREP!

"KRISSS!"

Kris mendorong tubuh Tuan Andrew yang menghalanginya, dan dalam gerakan cepat ia meraih kerah baju Raja Marseilles dan mengangkatnya dengan kasar. Raja Marseilles terkaget dengan gerakan Kris, dan Tuan Andrew memekik panik setelahnya.

"APA KAU PIKIR KAU LEBIH PENTING DALAM HIDUPKU, HAH? Prajuritmu ada di sana dan dia membutuhkan pertolongan! Kau pikir aku akan diam saja begitu menyadari bahwa ADIKKU SENDIRILAH YANG BERTARUH HIDUP DAN MATI DALAM KUNGKUNGAN KAUM SAXON!? HAH? Dimana rasa terimakasihmu pada adikku yang telah berperang demi kerajaan, hah? DIMANA RASA TERIMAKASIHMU?"

Mereka semua terdiam mendengar penjelasan Kris. Jenderal Vincent dan Raja Marseilles kaget mendengarnya. Kris memiliki adik? Dan Sehun adalah adiknya? Raja Marseilles menahan nafasnya, kemudian beradu tatap dengan Kris. Tubuhnya bergetar seketika.

Kris tampak menyeramkan, namun dengan airmata yang mengalir secara beringas pada wajahnya. Kerapuhan ada dalam sorot mata itu, dan ketakutan menguasainya begitu kuat.

"Dia adikku, raja.. Dia adikku dan AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANNYA MENDERITA BEGITU SAJA DI SANA!"

"Kris, lepaskan!"pekik Tuan Andrew, dengan nada tegas.

BRAK!

Setelah mendengar ucapan Tuan Andrew, Kris segera melepas cengkramannya pada kerah sang raja dengan kasar, membuat Raja Marseilles terjatuh di atas singgasananya dengan keras.

"Argh.."desis sang raja begitu menyadari punggungnya yang sakit terantuk singgasananya sendiri.

Tuan Andrew menghampiri Kris, kemudian menepuk-nepuk pundak Kris perlahan. Nafas Kris tersengal-sengal, ketegangan menyelimuti ruangan itu. Raja Marseilles menatap raut wajah Kris yang benar-benar memilukan, dan Kris menundukkan kepalanya–keputus-asaan ada di sana.

Jongin–yang sedari tadi hanya diam–pun maju perlahan, menghampiri Raja Marseilles. Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan kebingungan. Raja Marseilles menyadari Jongin yang berjalan ke arahnya, dan dari raut wajahnya terlihat sekali bahwa namja itu serius.

Dan setelahnya, semuanya terdiam melihat apa yang dilakukan Jongin.

Jongin berlutut di hadapan Raja Marseilles. Ia menunduk dengan penuh hormat. Jongin memejamkan matanya, kemudian menarik nafas pelan.

SRING

Ia menarik pedang kesayangannya dari sabuknya, kemudian menaruhnya di depan dirinya. Bagian tajam pedang itu menghadap ke lantai, dan Jongin memegang pedang itu dengan mantap.

"Dengan segala hormat, Raja Marseilles Yang Agung. Saya Jongin menghadap anda dengan penuh keseganan. Saya akan mengabdikan diri saya sepenuhnya dalam infanteri dan kerajaan ini, dan izinkan saya untuk bertolak ke negeri Saxon untuk menjemput kawan saya yang terjebak di sana. Saya tidak membutuhkan pasukan apapun. Saya akan menghadapi semuanya. Yang saya butuhkan hanyalah restu darimu, wahai baginda."

Kris dan Tuan Andrew menatap Jongin dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Kyungsoo sedikit tercekat, sedetik kemudian tersenyum mendengar penuturan Jongin. Jongin masih menundukkan kepalanya, tidak mau menatap wajah Raja Marseilles.

Apa yang dilakukan Jongin membuat Raja Marseilles tersentuh.

Kris menatap Jongin, kemudian berjalan ke arahnya dengan mantap. Ia berdiri di samping Jongin, menatap Raja Marseilles dengan pancaran mantap dan penuh harapan–berbeda dengan sebelumnya. Setelahnya–sama seperti Jongin–ia berlutut di hadapan Raja Marseilles, kemudian mengeluarkan pedangnya dan menaruhnya di hadapan sang raja.

Raja Marseilles bangun, kemudian berjalan ke arah mereka. Tongkat bangsawannya setia pada tangan kanannya, dengan tangan kirinya yang mengangkat jubahnya yang panjang. Ia berdiri di hadapan Jongin dan Kris, menatap keduanya bergantian.

Setelahnya, ia mengangkat tongkat bangsawannya, dan menaruhnya di atas kepala Jongin dan Kris berturut-turut.

"Dengan ini, aku restui kalian untuk bertolak ke negeri Saxon, menjemput kawan kalian yang terjebak di sana. Kuberkati kalian, prajurit hebat Paris yang selalu menjunjung kesetia-kawanan dan perdamaian. Tuhan memberkati kalian, dan Paris mendukung kalian."

Kris dan Jongin mendongak ketika mendengar ucapan Raja Marseilles, dan mendapati senyum pada wajah sang raja. Kris serta merta berdiri, menatap sang raja dengan pancaran kaget. Raja Marseilles tersenyum menatap Kris, kemudian mengusap kedua pundaknya.

"Kau harus bertanggungjawab terhadap adikmu. Kembalilah dengan selamat. Kalian boleh membawa setengah pasukan untuk menyelamatkannya."ucap Raja Marseilles, mantap.

GREP!

Sejurus kemudian, Kris mendekap sang raja dengan erat. Raja Marseilles lagi-lagi dibuat kaget oleh Kris.

"Terimakasih banyak, raja. Maafkan aku.."bisik Kris, lirih.

Raja Marseilles tersenyum lembut, mengusap punggung Kris dengan bersahabat. Sang raja mengangguk dalam dekapan itu, berusaha menenangkan Kris.

"Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku menarik ucapanku padamu sebelumnya."ucap sang raja.

Kris melepas dekapannya, menatap sang raja dengan penuh hormat. Jongin berdiri, menatap Raja Marseilles dengan senyuman di atas tangisnya. Sang raja menepuk pundak Jongin, menatapnya dengan yakin.

"Kau akan jadi prajurit yang hebat, Jongin."gumam sang raja.

Jongin mengangguk mantap, dan sang raja membalas anggukan itu dengan senyuman. Raja Marseilles berbalik, menatap Jenderal Vincent yang setia berdiri di samping singgasananya.

"Panggilkan prajurit-prajurit terbaikmu, Vincent. Kumpulkan mereka kemari. Panggil Theodore. Aku akan membuat surat jalan untuk kalian."titah sang raja, diangguki Jenderal Vincent.

"Baik, raja."

Raja Marseilles berjalan ke arah singgasananya, kemudian berbalik dan menghempas jubah kebesarannya. Ia menatap prajurit-prajurit di hadapannya, kemudian tersenyum. Sungguh, Jongin benar-benar berterimakasih atas kebijaksanaan raja agung di hadapannya.

"Persiapkan perbekalan kalian. Malam ini kalian akan langsung berangkat ke negeri Saxon."

-XOXO-

BUAGH! BUAGH!

"ARGHHHH!"

Seorang namja tampak diikat di sebuah tiang, dengan kedua tangannya dirantai dan ditarik ke atas–membuat tubuhnya seperti digantung. Kakinya sudah tak mampu lagi menapaki tanah, seiring dengan rasa sakit yang menyerangnya.

BUAGH!

"Itu adalah hukuman pada kalian yang telah memusnahkan setengah pasukanku!"

Namja yang dirantai itu–yang tak lain adalah Sehun–mendongakkan kepalanya, dengan wajah yang sudah babak belur dan juga tubuh half-naked-nya yang dipenuhi darah dan memar. Seorang namja berjalan dari balik kegelapan sudut ruangan, menatapnya dengan tajam.

Peter Park.

"Sejujurnya, aku tidak terlalu mengenalmu. Tapi, berhubung karena kau adalah anggota pasukan Paris, maka aku menculikmu. Walau aku sendiri tahu bahwa tidak ada gunanya aku menculikmu."ucap namja itu, kemudian menghampiri Sehun.

Sehun menatap Peter dengan pandangan sengit. Walau ia sudah dilukai dan disiksa habis-habisan, pancaran mata kejam dan tidak berperikemanusiaan tetap terpancar dengan mantap dari mata itu. Peter ber-smirk ria.

Nyali bocah ini boleh juga..

"Siksa dia lagi!"

BUAGH! BUAGH!

Seorang namja bercadar hitam dan berjubah pun langsung maju dan tanpa ba-bi-bu menonjok tubuh Sehun seakan-akan tubuh itu adalah karung jerami yang biasa digunakan prajurit untuk berlatih tinju. Tubuh itu linglung ke belakang, dan kemudian kembali ke depan dan kembali mendapat hajaran telak.

"Aku tinggalkan dia padamu. Kau siksa saja dia sesukamu."ucap Peter, diangguki namja bercadar itu.

Peter menatap Sehun yang tengah menunduk, meringis merasakan rasa sakit pada tubuhnya. Darah sudah mengalir dari mulutnya, namun tentu Peter Park tidak akan peduli dengan hal itu.

Peter berjalan ke arah pintu, kemudian keluar dari ruangan. Ia meninggalkan namja bercadar tadi dengan Sehun sendirian di dalam ruangan.

Sehun mengangkat wajahnya, menatap namja di hadapannya. Namja itu memiliki garis mata yang tajam, dengan tubuh cukup tinggi dan kulit sawo matang. Oh, jangan lupakan hidung bangirnya.

Mengingat hidung itu, membuat Sehun teringat seseorang yang familiar.

BUAGH!

"ARGH!"pekik Sehun, ketika namja itu meninjunya lagi untuk kesekian kalinya.

Namja itu menatap Sehun, membuat Sehun meringis nyeri. Sehun menatap tepat ke arah mata namja itu dengan satu matanya yang masih sehat–mata lainnya sudah bengkak karena tinjuan namja itu.

"Kau.. mengingatkanku pada seseorang.. cuih!"ucap Sehun, dan diakhiri dengan mulutnya yang memuntahkan darah ke lantai.

"Aku bukan siapa-siapa."gumam namja itu, nadanya terdengar dingin dan tajam.

"Kau hanya belum tahu siapa dia."ucap Sehun, lirih.

.

.

"Aku tahu siapa kau. Kau mungkin akan kaget jika menyadarinya."

BUAGH!

Ucapan Sehun itu, membuatnya dihadiahi oleh tinjuan lagi di bagian perutnya. Dan Sehun–sekali lagi–hanya bisa meringis nyeri, meratapi rasa sakit yang didera tubuhnya.

-XOXO-

Jongin berjalan menuju seekor kuda jantan kecokelatan di kandangnya, kemudian berdiri di depannya. Kuda itu menatap Jongin, mengerti bahwa majikannya akan mengatakan sesuatu.

"Kita akan selamatkan Sehun. Kita harus selamatkan dia. Aku percaya padamu, kudaku."bisik Jongin.

Kuda itu meringkik pelan, kemudian menghembuskan nafasnya ke Jongin. Jongin mengusap kepala kuda itu dengan penuh kelembutan, kemudian menghela nafas berat.

"Hei."

Jongin menoleh, mendapati Kyungsoo yang tengah bersandar pada sebuah dinding kayu. Jongin menatapnya dalam diam, kemudian tersenyum miring.

"Kau tidak tidur?"tanya Jongin, digelengi Kyungsoo.

"Aku mana bisa tidur. Besok akan jadi hari yang menyenangkan."ucap Kyungsoo.

Jongin terkekeh. Kyungsoo terpana akan kekehan Jongin, kemudian menghampiri Jongin dengan gaunnya yang sudah kusam. Kyungsoo berdiri di samping Jongin, menatap namja yang masih sibuk mengusap kepala kuda itu.

"Aku selalu memergokimu berbicara empat mata dengan kudamu ini. Apa yang kalian bicarakan?"tanya Kyungsoo, membuat Jongin menoleh.

"Banyak hal. Random."jawab Jongin.

"Ceritakan satu."ucap Kyungsoo, membuat Jongin kembali terkekeh renyah.

"Kami sering membicarakan tentang pertarungan apa yang akan kami hadapi esok hari. Kami selalu mengantisipasi setiap pertarungan bersama-sama, berbicara dari hati ke hati walau aku tidak tahu apakah dia mengerti atau tidak."jelas Jongin.

"Kenapa harus pertarungan?"tanya Kyungsoo.

"Sudah tradisi keluargaku, untuk gugur di medan perang. Kakek buyutku, kakekku, pamanku, semuanya gugur di medan perang. Mungkin, pengecualian untuk ayahku yang kejam."ucap Jongin, kemudian menghela nafas berat.

"But it seems like you don't hate your father."ucap Kyungsoo, membuat Jongin menatapnya lembut.

"Aku tidak membencinya. Semua kejadian pahit itu membawaku sampai ke titik ini, momen ini, dimana aku berbicara berdua denganmu di sini."

Kyungsoo terdiam. Jongin tersenyum samar, kemudian kembali mengusap kepala kudanya. Kyungsoo menatap tangan Jongin, kemudian menatap empunya lagi. Wajah itu mulai membaik, tidak lagi dilanda stres seperti saat ia memikirkan Sehun. Nafas Kyungsoo memburu. Dia tahu bahwa perasaan ini akan datang.

Kyungsoo menatap tangan Jongin, kemudian memegangnya dengan lembut. Jongin terdiam, kemudian menoleh pada Kyungsoo. Kyungsoo mendongak, menatap tepat ke dalam iris cokelat Jongin yang mirip sekali dengan iris miliknya.

"Kita memiliki warna mata yang sama, Jongin."ucap Kyungsoo, disenyumi Jongin.

"I know. Tapi, mata milikmu jauh lebih indah dari punyaku. Lebih bulat dan lebih cerah."ucap Jongin–ia berhasil membuat Kyungsoo merona.

Jongin membalas genggaman tangan Kyungsoo, kemudian mendekat padanya. Nafas keduanya tertahan. Kyungsoo berjalan mundur, hingga akhirnya ia terpojokkan ke dinding kandang itu. Jongin mengunci dirinya dengan kedua tangannya–satu tangan di samping kiri, satu lagi di samping kanan Kyungsoo. Kyungsoo menaruh tangannya pada kedua lengan kekar Jongin, merasakan otot keras Jongin.

"Bolehkah.. aku.."ucapan Jongin berubah terbata-bata.

Kyungsoo menatap perubahan perilaku Jongin, kemudian terkekeh manis. Rona merah pada wajahnya membuatnya terlihat semakin cantik dan manis. Ia mengusap pipi Jongin, satu tangannya lagi ditaruh malas di dada bidang Jongin.

"Aku juga menginginkannya."

.

.

CHU!

Dan kemudian, kedua insan itu berciuman, lembut.

-XOXO-

Kris berdiri di sebuah bukit, menatap pancaran lentera-lentera di bawah bukit sana–pemukiman penduduk kerajaan. Ia menghela nafas pelan, menatap pisau milik Sehun yang tengah ia pegang.

"Besok akan jadi hari yang panjang."

Kris terdiam, kemudian menoleh ketika mendapati Tuan Andrew yang berjalan ke arahnya. Tuan Andrew tersenyum, kemudian berdiri di samping Kris.

"Tentu, letnan."ucap Kris, dikekehi Tuan Andrew.

"Kau pun seorang letnan, Kris. Jangan terlalu formal padaku."ucap Tuan Andrew, dikekehi Kris.

"Anda adalah inspirasi saya untuk masuk ke dalam infanteri ini, Tuan Andrew."sahut Kris, membuat Tuan Andrew menoleh padanya.

"Aku merasa tersanjung. Terimakasih."

Keheningan menyelimuti mereka. Tuan Andrew merasakan angin yang berhembus pada wajahnya, memejamkan mata sejenak. Ketika ia menengok lagi ke arah Kris, ia mendapati namja itu telah menitikkan airmata perlahan.

"Menangis akan mengurangi bebanmu."ucap Tuan Andrew, digelengi Kris.

"Seorang tentara tidak boleh menangis. Itu membuatnya terlihat lemah. Aku bisa-bisa diacuhkan semua tentara."bisik Kris.

"Siapa bilang tidak boleh?"

Kris menoleh, ketika mendengar sergahan dari Tuan Andrew. Tuan Andrew menatapnya sembari tersenyum bijak, kemudian menatap langit di atasnya.

"Batuan di sungai yang terlihat rapuh ternyata memiliki berlian di dalamnya, tidak ada yang menyadarinya. Kelapa yang tergantung jauh di atas dan mustahil dicapai ternyata memiliki air kelapa mujarab, tidak ada yang menyadarinya. Hujan yang membasahi tanah kita ternyata memiliki manfaat yang berlimpah, tidak juga ada yang menyadarinya. Mereka yang sulit dan mustahil diraih, ternyata adalah mereka yang berharga dan indah. Mereka yang teracuhkan, ternyata adalah mereka yang memiliki gudang emas. Manusia terkadang terlalu memikirkan standarnya, tanpa pernah tahu bahwa melampaui sedikit standar itu tidaklah buruk. Menangis bukanlah hal yang tabu di dunia ini. Wanita menangis ketika melahirkan, lelaki menangis ketika anak atau istrinya dikebumikan. Semua orang menangis. Kau hanya terpengaruh oleh standarisasi ketentaraan. Menangis bukanlah dosa."

Kris terdiam, mendengar penjelasan bijaksana dari Tuan Andrew. Tuan Andrew menatap Kris, kemudian menepuk pundaknya dengan mantap.

"Kau harus mencontoh Jongin, Kris. Dia menangis di saat dia membutuhkan pertolongan, dia menangis di saat dia terharu, dia menangis di saat ia kehilangan Sehun. Orang seperti itulah, yang akan menjadi penerusku kelak."ucap Tuan Andrew.

Kris terdiam, kemudian mengangguk pelan. Tuan Andrew menepuk pundak Kris beberapa kali, kemudian berjalan memasuki istana. Angin sepoi-sepoi setia menemaninya.

Meninggalkan Kris yang perlahan-lahan membaik.

-XOXO-

CHU!

"Eumhh..."

Jongin melepas ciumannya dari Kyungsoo, menarik nafas dalam-dalam. Kyungsoo menarik nafas juga, kemudian menatap Jongin. Kyungsoo mengusap kedua pipi Jongin, memintanya untuk menatap ke arah matanya.

"Ini first kiss-mu?"tanya Kyungsoo.

Jongin menatapnya dalam, kemudian mengangguk. Jongin masih mengunci tubuh Kyungsoo pada dinding itu, mengapit Kyungsoo. Kyungsoo menatap Jongin, kemudian mengusap bibir namja itu dengan jari lentiknya. Jongin menatap wajah Kyungsoo.

"Kau lihai, Jongin. Aku suka."

Jongin terdiam mendengar pujian itu. Kyungsoo menarik Jongin mendekat, kemudian meraih kedua tangan Jongin. Ia menaruh satu tangan Jongin pada pinggangnya, satu tangannya lagi pada dadanya.

"Aku ingin kau menyentuhku, Jongin."

Jongin membelalak kaget. Ia menatap Kyungsoo dengan tidak percaya, dan mendapati wajah sayu yeoja itu. Kyungsoo masih memegangi tangan Jongin yang memegang dadanya, dan satu tangannya mengusap pipi Jongin.

"Sentuh aku. Aku menginginkanmu."ucap Kyungsoo.

Jongin kaget mendengar ucapan Kyungsoo. Ia menatap tangannya yang menyentuh dada Kyungsoo, kemudian menatap wajah yeoja itu. Jongin sadar bahwa tubuhnya bergejolak, ia pun menginginkan Kyungsoo.

Tapi, nalurinya sebagai seorang namja bijaksana masih berjalan.

"Aku tidak bisa menyentuh orang yang bukan hakku."

Kyungsoo mengernyit. Jongin menarik tangannya dari dada Kyungsoo, kemudian menatap Kyungsoo sama sayunya. Kyungsoo meminta penjelasan pada Jongin melalui kedua matanya.

"Kau jauh lebih berharga dari ini, Kyungsoo. Aku tidak mau merusakmu."ucap Jongin.

Kyungsoo kaget mendengar ucapan Jongin, kemudian tersenyum lembut. Dia menyadari apa yang Jongin katakan, dan mengerti betul. Jongin mencintainya lebih dari apapun, dan Kyungsoo tahu itu. Dia juga mencintai Jongin lebih dari segala harta di dunia ini, dan mereka bersyukur bahwa perasaan mereka saling terbalaskan.

Kyungsoo berniat untuk membuka satu rahasia dalam dirinya.

"Jongin, ada yang aku ingin kau tahu."

"Apa itu?"

.

.

"Aku adalah seorang janda."

TO BE CONTINUED

Note :

HAYAHAAAAYYYYY!

DUHHHHHH AKHIRNYA NGGAK KENA WRITER'S BLOCK LAGI BRUHHHH! WHAT A GIFT!

GIMANA GIMANA GIMANAA? WELL, HAW UDAH NYIAPIN KEJUTAN-KEJUTAN LAINNYAA.

SO, STAY TUNED!

HUANG AND WU