Previously (Chapter 10) :
"Kau jauh lebih berharga dari ini, Kyungsoo. Aku tidak mau merusakmu."ucap Jongin.
Kyungsoo kaget mendengar ucapan Jongin, kemudian tersenyum lembut. Dia menyadari apa yang Jongin katakan, dan mengerti betul. Jongin mencintainya lebih dari apapun, dan Kyungsoo tahu itu. Dia juga mencintai Jongin lebih dari segala harta di dunia ini, dan mereka bersyukur bahwa perasaan mereka saling terbalaskan.
Kyungsoo berniat untuk membuka satu rahasia dalam dirinya.
"Jongin, ada yang aku ingin kau tahu."
"Apa itu?"
.
.
"Aku adalah seorang janda."
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 11
"Ja.. janda!?"
Jongin terkaget bukan main. Kyungsoo menatap Jongin dengan nanar, kemudian mengangguk pelan. Jongin terdiam, memikirkan segalanya. Kyungsoo mengangkat tangannya, mengusap pipi kiri Jongin dengan lembut.
"I'm sorry.."gumam Kyungsoo.
Jongin menatap Kyungsoo tepat ke dalam manik matanya, menyelami mata bulat itu. Kyungsoo sudah berkaca-kaca, airmata menggenangi matanya. Kyungsoo menunduk, menyembunyikan airmatanya dari Jongin.
Jongin menangkup wajah Kyungsoo, mengangkatnya dengan lembut. Kyungsoo menghindari kontak mata dengan Jongin, tapi Jongin menatap wajah Kyungsoo dengan begitu dalam.
CHU!
Kyungsoo membelalak kaget. Jongin memajukan wajahnya, dan mencium tepat pada bibirnya!
Jongin mendekap Kyungsoo dengan erat. Satu tangannya mendekap pinggang Kyungsoo, satunya lagi bertumpu pada dinding. Kyungsoo memejamkan matanya–membuat airmatanya terjatuh–dan mendekap leher Jongin sama eratnya.
Jongin memajukan tubuhnya, membuat punggung Kyungsoo terantuk pelan dinding. Jongin semakin dalam menciumi Kyungsoo, menciumnya dengan penuh cinta. Tangan Kyungsoo bergerak meremas rambut Jongin, membuatnya berantakan.
"Eunghh..."
Kyungsoo melenguh pelan. Ia merasa kesulitan bernafas. Jongin menyadari sinyal itu, kemudian ia melepas ciumannya dari Kyungsoo.
Jongin menatap wajah Kyungsoo yang memerah pekat. Jongin mengusap rambut Kyungsoo yang panjang bergelombang, menyampirkan poni Kyungsoo ke samping wajahnya.
"Siapa namja yang begitu bodohnya meninggalkan malaikat sepertimu?"tanya Jongin, lirih.
Kyungsoo menangis di hadapan Jongin, tepat setelah Jongin menanyakan itu. Jongin menyeka airmata itu, dengan satu tangannya menggenggam erat tangan Kyungsoo.
"Dia kejam dan dia bahkan memperlakukan anak-anaknya buruk. Dia jahat, dia sering menyiksaku, dan dia juga sering mengambil uang di rumah untuk berjudi. Aku tidak tahan dengannya, maka aku bercerai dengannya. Padahal, ada 5 anak kami yang harus kami rawat. Bodohnya, aku hanya membawa 3 anak. 2 anak lainnya tertinggal di rumah ketika aku dan anak-anak lainnya kabur. Aku masih mencari mereka sampai sekarang."jelas Kyungsoo, lirih.
"Tapi kau masih muda, Kyung."ucap Jongin, diangguki Kyungsoo.
"Sesaat setelah rahimku siap untuk dibuahi–sekitar umur 13, ayahku menjodohkanku dengan orang itu. Umur kami terpaut 10 tahun, dan aku tidak pernah menyetujui perjodohan itu."jawab Kyungsoo.
"Kau melalui masa yang berat, Kyungsoo."gumam Jongin, lirih.
Kyungsoo terisak di hadapannya, dan Jongin dengan sigap mendekapnya. Jongin mengusap punggung dan rambut Kyungsoo, membiarkan Kyungsoo menangis pada ceruk lehernya. Kyungsoo mendekap tubuh tinggi Jongin dengan erat, menumpahkan segala emosinya.
"Kau yeoja yang luar biasa, Kyung. Aku semakin menyayangimu."gumam Jongin, lirih.
Kyungsoo terharu mendengar ucapan itu, kemudian semakin menenggelamkan kepalanya pada tubuh Jongin. Jongin tidak berhenti mengusap punggung dan rambut Kyungsoo. Kyungsoo sudah melalui hidup yang begitu berat, dan Jongin begitu takjub dengannya.
Kyungsoo melonggarkan dekapannya, menatap Jongin dengan nanar. Jongin menyeka airmata pada wajah Kyungsoo, kemudian tersenyum lembut. Jongin meraih tangan Kyungsoo, kemudian menciumnya lembut. Jongin menatap Kyungsoo, dengan tatapan yang mantap.
"Kyungsoo, aku–"
.
.
"Jongin? Di sini kau rupanya!"
Jongin dan Kyungsoo menoleh, mendapati seorang namja yang berlari ke arahnya. Jongin menatap Kyungsoo lekat, kemudian berjalan ke arah namja itu.
"Kita harus pergi sekarang. Malam sudah semakin larut dan kurasa penyergapan hanya bisa dilakukan di malam hari."ternyata itu adalah Nathan, bawahan dari Jenderal Vincent.
"Aku menyusul."
Nathan mengangguk, kemudian menatap Kyungsoo sekilas dan berlari keluar. Jongin berbalik ke arah Kyungsoo, kemudian menatap mata yeoja itu dengan lembut dan diiringi senyuman tampannya.
"Jongin, aku ikut denganmu."ucap Kyungsoo, digelengi Jongin.
"Tidak, kau tidak bisa. Kau harus menjaga pertahanan kerajaan ini. Kau harus menjaga Raja Marseilles selagi aku dan prajurit lain pergi. Aku akan kembali, Kyung. Aku berjanji. Kau tidak boleh kemana-mana."jelas Jongin, tentunya membuat Kyungsoo menunduk sedih.
Jongin mengusap wajah Kyungsoo, meminta Kyungsoo untuk menatapnya. Jongin tersenyum, kemudian mengecup kening Kyungsoo lembut. Kyungsoo memejamkan mata, menikmati sentuhan Jongin yang lembut dan manis. Jongin menatap mata Kyungsoo, kemudian menyodorkan tangan kanannya.
"Aku janji akan kembali."ucap Jongin, entah kenapa wajahnya terlihat lucu di mata Kyungsoo.
"Hahaha, kau menggelikan."ucap Kyungsoo, kemudian menyambut jabatan tangan Jongin.
Jongin menepuk kepala Kyungsoo lembut, kemudian mencium yeoja itu kilat dan segera berlari keluar dari kandang kuda itu. Kyungsoo menatap kepergian Jongin dengan perasaan campur aduk, namun dia tahu, bahwa Jongin akan memenuhi ucapannya.
Jongin akan kembali.
-XOXO-
"Ayo, cepat! Malam semakin larut dan kita harus siap berangkat ke Saxon!"
Tuan Andrew tampak memberi instruksi dimana-mana, mempersiapkan sekitar 15 prajurit yang diutus oleh Raja Marseilles untuk pergi menjemput Sehun di ranah Saxon. Para prajurit bahu-membahu mempersiapkan perlengkapan tempur.
Jongin berjalan ke arah kuda cokelatnya, kemudian menaruh barang-barangnya di atas kuda itu. Ia mengikat barang-barangnya kuat-kuat, kemudian menepuk leher kuda itu dengan bersahabat.
"Semoga kau bisa berlari cepat malam ini."gumam Jongin.
"Jongin."
Jongin menoleh, mendapati Kris yang tengah berjalan ke arahnya dengan baju zirah lengkap. Jongin menatap mata Kris, menyadari bahwa mata itu membengkak dan sedikit memerah. Jongin tidak mau berkomentar lebih lanjut.
"Terimakasih karena mau membantu menyelamatkan Sehun. Aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan lagi. Ini terlalu dramatis bagiku. Aku tahu aku sudah membohonginya, dan aku memang selayaknya mendapatkan tinjuan darinya. Aku sadar aku tidak menjadi kakak yang baik baginya, tapi aku hanya menyayanginya dan–"
GREP!
Ucapan Kris berhenti ketika Jongin memeluknya dengan bersahabat. Kris terdiam, matanya kembali berkaca-kaca dan dia semakin emosional. Jongin menepuk punggung Kris dengan lembut, bersahabat, dan menenangkan.
"I'm sorry. Aku akan menyelamatkan Sehun dengan seluruh jiwa ragaku, untuk membawanya kembali menerimamu, Kris."ucap Jongin, lirih.
Airmata Kris kembali mengalir, dan ia pun menyembunyikan wajahnya pada pundak Jongin. Ia mendekap Jongin erat, membayangkan bahwa Jongin adalah adiknya. Bahwa Jongin adalah Sehun.
"Terimakasih, Jongin."
Jongin melepas pelukan itu, kemudian menatap Kris dengan tatapan mantap. Kris menarik nafas pelan, menyurutkan emosinya dan berusaha memantapkan jiwanya. Jongin mengangguk mantap, begitupun Kris.
"Kau siap?"
.
.
"Ya, aku siap."
-XOXO-
KRAK KRAK
Gerbang istana Paris itu terbuka, dan masyarakat Paris menyaksikan pasukan kerajaan mereka yang berjalan keluar dari gerbang itu dengan kuda dan perbekalan mereka. Raja Marseilles menatap kepergian pasukannya dari balkon istana, dengan tongkat kebesaran di tangannya.
Jongin berjalan di barisan pasukan depan. Ia menatap ke arah kastil kerajaan, matanya terpaku pada sesosok yeoja yang berada di belakang Raja Marseilles. Gaun yeoja itu melambai lembut, mengikuti angin malam.
Jongin mengangkat satu tangannya, menyapanya. Yeoja itu–Kyungsoo–tampak terisak dalam tangisnya, lalu mengangkat satu tangannya juga. Kyungsoo tersenyum di antara tangisnya, dan Jongin hanya mengangguk meyakinkan.
"Ready?"
Jongin menoleh, mendapati Tuan Andrew yang tengah tersenyum ke arahnya. Jongin mengangguk mantap, dengan senyum tampan di atas wajahnya.
"Lets get Sehun."
TAK TOK TAK TOK
Dan setelah melewati gerbang istana, mereka segera memacu kuda mereka cepat, menuju ke arah dimana kehidupan mereka kelak akan ditentukan.
-XOXO-
"YA! YAAAAA!"
TAK TOK TAK TOK
Suara tapak kaki kuda bergemuruh, di antara kerumunan orang-orang yang tengah berkumpul di sebuah tempat yang–terlihat–seperti tempat berkumpul atau alun-alun. Namja-namja di sana berjanggut lebat, dengan tubuh-tubuh kekar dan mereka tengah menikmati minuman keras mereka.
GONG
Terdengar suara dentuman gong sekali, dan semua langsung diam seketika–hening tak bersuara. Seorang namja berjalan keluar dari sebuah tenda besar, dengan pedang besar di tangannya. Ia menatap ke segala arah, kemudian tersenyum jahat. Namja itu adalah Peter Park.
"Hari ini, kita akan mengeksekusi salah satu dari keluarga Paris yang malang!"pekiknya, disambut sorak sorai pasukannya.
SRET!
Sebuah tenda terbuka, menampakkan seorang namja yang tengah diseret oleh dua orang prajurit Saxon. Tubuhnya luka-luka, dan darah mengucur dari mulut serta hidungnya. Matanya berkunang-kunang, tampak sekali bahwa ia setengah sadar.
Sehun.. tampak begitu memprihatinkan.
"Kita akan perlihatkan pada Paris bahwa Saxon tidak layak untuk dijadikan candaan! Babi ini akan menjadi bukti, bahwa kita tidak selemah yang mereka pikir!"pekik Peter, kemudian menunjuk ke arah Sehun dengan pedangnya.
Sehun menatap Peter Park dengan wajah marah yang kentara. Di atas luka-lukanya, semangatnya tidak luntur. Ia mengutuk orang di hadapannya dalam hati, lekat-lekat dan berharap Tuhan mendengar laknatnya.
Peter berjalan ke arah Sehun, kemudian mengangkat dagu namja itu dengan pedangnya. Peter mengamati wajah penuh luka Sehun, lantas terkekeh mengejek.
"Well, ada kata-kata terakhir?"tanya Peter, dengan nada penuh canda yang kentara–benar-benar mengejek Sehun.
.
.
"Fuck you."
CUIH!
Dengan desisan tajam dari mulutnya yang berdarah, Sehun mengeluarkan dua kata tajam itu. Benar-benar tajam, yang kemudian disusul dengan meludah tepat di depan Peter. Ludah bercampur darah itu bertemu tanah, membuat Peter murka. Yang Sehun lakukan tadi adalah penghinaan.
Dan Peter, tidak mentoleransi penghinaan.
"Bawa dia ke arena pancung."ucap Peter, dengan nada lirih–berusaha menahan amarahnya.
Kedua prajurit Saxon itu pun menyeret tubuh Sehun ke arah arena pancung, dimana seorang algojo dengan topeng hitam dan pakaian serba hitam telah menunggu. Kapak besar berdarah di tangannya terlihat begitu menyeramkan.
Tapi Sehun.. dia tidak takut. Tidak sekalipun ia gemetar, menangis, atau berteriak kesakitan. Sehun memendamnya dalam-dalam. Hanya satu yang ada di pikirannya.
Kris.
Sehun tahu betapa bodohnya ia memaki Kris yang telah berusaha datang di hidupnya. Walau cara Kris salah, tapi tidak sepantasnya Sehun memaki Kris. Bagaimanapun juga, Kris adalah kakak kandungnya. Kris adalah kakak yang melindunginya dari pasukan Saxon bertahun-tahun lalu.
Kris adalah sosok yang selalu ia jadikan tempat bersandar dulu, saat mereka masih menjadi kakak-adik.
"On your head, pig."
Dengan paksa, kedua prajurit Saxon meletakkan kepala Sehun di atas tempat pancung. Sehun menatap algojo di sampingnya dengan tatapan tajam dan penuh dendam. Jikalau ia mati, ia tahu ia harus meneror siapa. Ia tahu harus membunuh siapa.
Sehun bersumpah.. Saxon akan merasakan pembalasan darinya yang tiada terkira.
"Goodbye, pig."gumam Peter, mendesis dan menakutkan.
Algojo itu mengayunkan kapaknya ke udara, bersiap untuk menghantam leher Sehun. Sehun memejamkan mata, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Jika saja aku punya kesempatan untuk berbicara lagi, aku hanya ingin mengatakan satu kalimat pada kakakku.
.
.
Aku menyayangimu, brother.
CRASH!
Suara itu terdengar kencang, menggema ke segala penjuru Saxon. Sekilas, para prajurit Saxon terdiam bisu, berusaha mencerna situasi yang terjadi. Di saat-saat menegangkan itu, Sehun hanya memejamkan matanya.
Tapi nyatanya, ia tidak merasakan rasa sakit pada lehernya.
"A-apa yang–"
BUGH!
Terdengar suara sesuatu menghantam tanah dengan keras. Sehun menoleh, kemudian terbelalak kaget dengan apa yang ia lihat. Sehun tidak tahu apa, tapi Sehun berusaha mencerna kejadian yang terjadi.
"ARGHHHHH!"
Algojo itu kini berbaring, mengerang kesakitan dengan sebuah anak panah menancap pada dada kirinya.
"HIYAAAAAHHHHH!"
PRANG! PRANG!
Sehun mendengar suara dentingan pedang-pedang yang saling bertemu. Ia segera berdiri dari arena pancung itu, kemudian menatap kedua tangan dan kakinya yang diborgol.
"ARGH!"pekik Sehun, berusaha melepaskan dirinya dari borgol yang menghalangi tangan dan kakinya.
"SEHUUUNNN!"
Sehun menoleh cepat, mendapati seorang namja yang tengah berlari ke arahnya. Sehun terbelalak kaget. Namja itu mengayunkan pedangnya dengan lihai, berusaha menghalau serangan-serangan Saxon pada dirinya.
Kris.
"KAK KRIS!"pekik Sehun.
Kris berlari ke arah Sehun, kemudian menaiki arena pancung itu. Ia berdiri di hadapan Sehun, dengan wajah yang tak bisa dideskripsikan. Matanya berkaca-kaca, dan Kris berusaha tersenyum.
"Aku tahu kau akan bertahan, brother."gumam Kris.
Sehun menatap Kris tepat ke dalam matanya, merekam dalam-dalam betapa indah mata kakaknya. Mata itu.. sama dengan mata Sehun. Mata brown hazel dengan kecemerlangan yang memukau siapapun yang melihatnya.
"Let me get you out of here."gumam Kris.
Sehun melebarkan tangan dan kakinya, dan Kris bersiap dengan pedangnya. Ia memfokuskan diri pada borgol di tangan dan kaki Sehun, kemudian memantapkan dirinya.
SRING!
CRASH!
Dengan satu ayunan pedang, Kris menghantam borgol pada kaki dan tangan Sehun. Kini, Sehun tidak lagi terikat borgol.
"Ayo!"pekik Sehun.
"SEHUN, AWAAAASS!"
CRANG!
Kris mendorong tubuh Sehun hingga terjatuh dari arena pancung, dan sekejap mengayunkan pedangnya ke arah sang algojo berpakaian hitam yang tadi mengayunkan pedangnya ke arah Sehun. Kris menatap tepat ke arah mata algojo itu dengan kemarahan yang membara.
"Kau nyaris membunuh Sehun.."desis Kris.
SRING!
Kris dan algojo itu saling bersilangan pedang, menatap lawan masing-masing dengan kewaspadaan tinggi.
"HIYAAAHHHH!"
CRANG! CRANG!
Sehun mendengar seseorang berteriak di belakangnya, dan ia langsung menoleh ketika seseorang menghalangi pedang yang mengarah padanya. Sehun menatap tubuh tegap tinggi itu, yang kini tengah berduel pedang.
CRANG! CRANG!
"SEHUNNN!"
Jongin berduel pedang dengan prajurit Saxon itu. Ia mengayunkan pedangnya ke kanan, dan prajurit Saxon itu menghalau serangan Jongin. Wajah Jongin merah padam, diketahui bahwa ia sudah begitu murka.
"MATI KAU!"
CRASH!
Setelah memekik begitu, Jongin langsung menusukkan pedangnya pada dada prajurit Saxon itu. Begitu kejam, begitu dingin, dan begitu tidak berperikemanusiaan. Jongin menendang tubuh itu agar terlepas dari pedangnya.
BRUK!
Dan tubuh itu ambruk.
"Sehun!"
Jongin berlari ke arah Sehun, kemudian berjongkok di hadapannya dan menatap wajah temannya itu. Jongin tersenyum senang, menatap Sehun yang baik-baik saja walau terluka dimana-mana.
CRANG! CRANG!
.
.
CRASH!
"ARGHHHH!"
Sehun dan Jongin mendongak dengan kaget–sebuah teriakan memekikkan terdengar–hanya untuk mendapati Kris yang terdiam di arena pancung. Algojo itu menatap Kris tajam. Kris menunduk, menatap ke arah dadanya yang kini telah tertusuk pedang sang algojo.
"TIDAKKKK!"pekik Sehun.
BRUGH!
Tubuh Kris ambruk, terjatuh dari arena pancung itu.
Dengan amarah, Jongin menatap algojo itu dan segera menaiki arena pancung. Algojo itu mengeluarkan satu lagi pedangnya. Jongin mengacungkan pedangnya ke arah sang algojo, dan mereka pun saling beradu pedang.
Sehun merangkak ke arah tubuh Kris yang masih bergerak lemah. Sehun memegangi pedang yang menancapi tubuh Kris, menatap wajah sang kakak yang sekarat.
"Bro... brother.."gumam Sehun, lirih.
Kris menatap Sehun, kemudian tersenyum lemah di atas mulutnya yang berdarah-darah. Sehun memegangi tangan Kris erat, berharap dengan begitu Kris bisa lebih baik.
"Maafkan aku.."gumam Sehun.
Kris tersenyum lagi, kemudian mengangguk lemah. Perlahan, Sehun merasakan tangan Kris yang melemah. Kepala Kris menatap tepat ke arah langit, dimana bintang-bintang berkilauan menyapanya. Raut cahaya matahari telah muncul dari ufuk timur. Pandangan Kris buram, semakin buram.
SRET
Dan kemudian, tangan yang ada di genggaman Sehun pun terjatuh begitu saja ke tanah. Sehun menatap tubuh kaku Kris dengan kaget.
"Brother..? TIDAAAKKK!"
"HIYAAHHHH!"
CRASH! CRASH!
Mendengar suara teriakan di belakangnya, Sehun segera berdiri dan menarik pedang yang menancap di dada Kris. Ia melayangkan pedangnya ke belakang, dan menusuk prajurit Saxon yang tadi mengarah kepadanya.
Perlahan, airmatanya mengalir.
Sementara itu, Jongin masih beradu pedang dengan algojo di hadapannya. Mereka saling bersilangan pedang, kewaspadaan mereka benar-benar diuji saat itu.
"HIYAAHHHH!"
CRANG! CRANG!
Jongin mengayunkan pedangnya ke arah sang algojo, yang kemudian ditepis dengan cepat. Algojo itu mengayunkan pedangnya ke arah dada Jongin, tetapi Jongin dengan sigap langsung berjalan mundur menghindar.
Jongin mengarahkan pedangnya ke arah leher sang algojo, dan algojo itu langsung berjalan mundur dan menepis pedang itu dengan pedangnya.
CRANG!
Mereka saling bersilangan pedang. Jongin menatap arena pancung itu, kemudian ia langsung berjalan ke arah sang algojo dengan pedang teracung lagi.
"Kau melukai Sehun!"
CRANG! CRANG! CRANG!
Jongin mengayunkan pedangnya dengan membabi-buta, dan algojo itu masih beruntung dapat menepis pedang-pedang Jongin. Jongin menatap algojo itu penuh amarah, tak bisa terjelaskan.
SRING!
Jongin mengayunkan pedangnya ke arah kepala algojo itu, tetapi kemudian pedang algojo itu menghadangnya. Pedang mereka pun saling bergesekkan.
DUAGH!
Tapi kemudian, dalam sekejap, Jongin menendang dada algojo itu sehingga tubuhnya limbung dan terjatuh dari arena pancung.
SRET!
"Kau pembunuh sialan!"pekik Jongin.
Jongin menuruni arena pancung itu, menduduki tubuh sang algojo, menatap topeng hitam sang algojo. Tangan Jongin bergerak menuju topeng itu, kemudian menariknya dengan cepat dari wajah sang algojo.
SREK!
Terpampanglah wajah sang algojo, dengan bekas luka bakar di setengah wajahnya–wajah kiri.
Jongin terdiam. Mematung. Speechless.
"Ka-kau..."
"JONGIN AWASSS!"
CRANG! CRANG!
Tampaknya, sang algojo masih memegangi pedangnya. Ia pun mengayunkan pedangnya ke arah Jongin. Untung saja, Tuan Andrew ada di situ dan menghalau gerakan pedang itu.
DUAGH!
Sang algojo menendangi tubuh Jongin, membuatnya tersungkur ke samping. Jongin terdiam. Matanya masih membelalak kaget, dengan jantungnya yang berpacu cepat. Tuan Andrew menghampiri Jongin, kemudian mereka berdua menatap ke arah sang algojo yang masih mengawasi mereka. Wajahnya penuh luka dan kotor.
.
.
"Jong-Jongdae?"kaget Tuan Andrew, mengenali wajah itu.
Tetapi kemudian, sosok yang tadi dipanggil Jongdae pun segera berlari pergi, menjauh dengan cepat. Tuan Andrew menatap kepergian sosok itu dengan kaget, kemudian menghampiri Jongin yang juga masih kaget.
"Sehun mana?"
"HIYAHHHH!"
CRANG! CRANG!
Mendengar teriakan itu, Tuan Andrew segera menghampiri Sehun yang masih beradu pedang dengan prajurit Saxon lain. Tuan Andrew menarik tangan Sehun, menariknya dari arena bertarung itu. Tapi, Sehun berontak.
"TIDAK! KAK KRISS! KAK KRIS!"
Di lain sisi, Jongin menatap tempat terakhir algojo tadi berdiri. Seketika, kesadaran menghantamnya. Airmatanya mengalir, tapi Jongin tepis perasaan itu. Ia berlari ke arah Sehun dan Tuan Andrew.
Maka, Jongin segera menarik tangan Sehun untuk pergi. Sehun memberontak, ia tidak ingin meninggalkan Kris. Tuan Andrew mengambil alih tubuh Kris, kemudian menggendongnya di punggung. Jongin meraih perisai di punggungnya, kemudian melindungi Sehun dan Tuan Andrew dari sasaran anak panah Saxon.
TRANG! TRANG! TRANG!
Suara pedang yang berdenting memenuhi seluruh daerah itu. Darah tumpah ruah di sana, dari para Saxon yang kalah kekuatan dengan pasukan Paris. Suara desisan anak panah di udara juga mewarnai peristiwa itu.
"BACK! BACK!"pekik Jongin, sekeras-kerasnya.
Maka, prajurit Paris yang tersisa pun segera mengakhiri duel mereka dengan para pasukan Saxon, kemudian berlari menyusul Jongin yang sudah siap di atas kudanya. Sehun ada di belakangnya, dan Tuan Andrew beserta tubuh kaku Kris telah siap juga. Dengan sigap, pasukan yang tersisa menaiki kuda mereka.
Mereka memacu kuda mereka secepat-cepatnya, menjauh dari Saxon yang sudah dilingkupi amarah.
-XOXO-
Jongin memacu kudanya cepat. Sehun berpegangan di belakangnya, masih dengan airmata yang terasa membasahi punggung Jongin. Jongin tahu pasti bagaimana rasanya, melihat sendiri kematian seorang kakak.
Matahari semakin bersinar di atas sana, seiring dengan airmata Jongin yang semakin deras.
Airmata Jongin mengalir. Ia kaget. Ia masih syok dengan apa yang ia lihat. Jongin hanya berharap bahwa itu hanyalah imajinasinya belaka. Jongin hanya berharap bahwa apa yang ia lihat hanyalah apa yang ia ingin lihat. Jongin berharap bahwa apa yang ia lihat hanyalah mimpi.
Jongin bersumpah.. algojo tadi adalah kakaknya, Kim Jongdae, yang–selama ini Jongin kira–telah meninggal saat menyelamatkannya dari kebakaran di kandang kuda, dulu.
Hanya saja, dengan luka bakar di setengah wajahnya.
TO BE CONTINUED
Note :
EHEM EHEM EHEMMM!
KRIS GUGURRR ASDFGHJKL /andwaeeeee!/
Well, reveal-reveal menarik semakin muncul, nih! HAW akan mulai menyingkap segala misteri-misteri di cerita ini! Semua pengungkapan misteri akan mulai dari chapter ini! Tentang semua rahasia, semua yang readers pertanyakan!
SIAP-SIAP DENGAN BERBAGAI KEJUTAN YANG AKAN MUNCUL YAAA! TIDAK MUSTAHIL JIKA HAW AKAN MENEWASKAN BANYAK KARAKTER UTAMA DI FF INI!
Thanks untuk para readers yg udah ngasih masukan untuk FF ini. Masukan yang memang cocok akan HAW pakai, untuk yg belum cocok akan dicocokkan dengan FF lain hehe.
Stay tune and don't forget to FAVOURITE and REVIEW!
HUANG AND WU
