Previously (Chapter 11) :
Airmata Jongin mengalir. Ia kaget. Ia masih syok dengan apa yang ia lihat. Jongin hanya berharap bahwa itu hanyalah imajinasinya belaka. Jongin hanya berharap bahwa apa yang ia lihat hanyalah apa yang ia ingin lihat. Jongin berharap bahwa apa yang ia lihat hanyalah mimpi.
Jongin bersumpah.. algojo tadi adalah kakaknya, Kim Jongdae, yang–selama ini Jongin kira–telah meninggal saat menyelamatkannya dari kebakaran di kandang kuda, dulu.
Hanya saja, dengan luka bakar di setengah wajahnya.
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 12
KREK KREK
Matahari telah menyinari area istana Paris dengan begitu cerah. Masyarakat Paris menyambut kedatangan pasukan mereka, dan gerbang istana pun terbuka.
Tetapi, sambutan itu hilang sekejap.
Tuan Andrew memasuki area istana, dengan wajah sendu. Di hadapannya, tampak sesosok tubuh yang tinggi dan kekar, ia bawa dengan hati-hati. Tuan Andrew turun dari kudanya, kemudian menyamankan posisi tubuh itu. Ia menggiring kudanya, membawanya ke arah Raja Marseilles yang telah menunggu di depan pintu istana. Di belakangnya, Kyungsoo menatap kedatangan mereka semua dengan pandangan sendu.
"Letnan Andrew.."gumam Raja Marseilles, dengan wajah yang kaget.
Tuan Andrew menarik nafas pelan, berusaha menenangkan dirinya yang gundah. Ia menunduk, menunjukkan belasungkawanya yang dalam.
.
.
"Letnan Kris gugur dalam pertempuran."
Raja Marseilles terdiam. Ia berjalan perlahan, menghampiri kuda yang tadi digiring oleh Tuan Andrew untuk membawa sesosok tubuh. Raja Marseilles menatap Tuan Andrew, meminta penjelasan.
"Ia ditusuk oleh seorang algojo Saxon, ketika berusaha melindungi Sehun."jelas Tuan Andrew.
Raja Marseilles berduka. Paris berduka. Tuan Andrew mengangkat wajahnya, kemudian menengok ke belakang–ke arah dua orang namja yang tengah saling menghibur diri.
Sehun dan Jongin.
Raja Marseilles berjalan ke arah keduanya. Jongin mengusap kedua pundak Sehun, berharap sahabatnya itu tegar dan kuat. Raja Marseilles menepuk pundak Sehun dengan lembut dan bersahabat, membuat Sehun mendongak. Wajahnya kacau, rambut acak-acakan, dan mata yang bengkak.
"Aku turut berduka."ucap Raja Marseilles.
Sehun mengangguk pelan.
Jongin mengalihkan pandanganya, yang kemudian bertemu dengan Kyungsoo yang masih berdiri di depan pintu istana. Jongin menatapnya dalam, dan Kyungsoo bisa menangkap sinyal duka dari Jongin. Jongin menatap mereka semua, pandangannya memudar oleh airmata yang menggenangi kedua matanya.
Wajah setengah terbakar orang bernama Jongdae itu terbayang di benaknya, begitu kuat dan menghantuinya.
"Saya izin undur diri."ucap Jongin, kemudian membungkuk singkat.
Jongin menatap Sehun singkat, kemudian berlari ke seekor kuda. Seluruh pasukan dan rakyat menatap apa yang Jongin lakukan. Jongin menaiki kuda itu, kemudian segera memacunya untuk pergi menjauh.
"Jongin!"pekik Tuan Andrew.
Kyungsoo menatap kejadian itu, ia pun segera berlari ke seekor kuda dan menyusul Jongin. Tuan Andrew menatap kepergian keduanya.
"Jongin, tunggu!"
-XOXO-
SRET!
Jongin menghentikan kudanya, kemudian segera turun dan berlari ke sebuah jembatan bata. Ia berjalan menuruni jembatan itu, kemudian memilih untuk duduk di bawah jembatan itu. Jongin menekuk lututnya, menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya. Tidak peduli air sungai yang membasahi tubuhnya.
"Hiks.."
Dan Jongin menangis sambil terisak.
TAK TOK TAK TOK
SRET!
Kyungsoo menghentikan kudanya, begitu melihat seekor kuda bercak putih yang diam di tengah jembatan. Kyungsoo meraih tali kekang kuda itu, kemudian membawa kedua kuda itu ke sebuah pohon dan mengikatnya. Ia mengangkat gaunnya, kemudian berjalan ke arah jembatan.
"Jongin! Jongin!"
Tatapan Kyungsoo tertuju pada jembatan, dan ia pun memutuskan untuk turun. Ia mengangkat gaunnya setinggi lutut, kemudian melepas sepatunya. Ia memasuki air yang dingin itu, dan menatap ke bawah jembatan.
Kyungsoo berjalan perlahan, kemudian berdiri di samping Jongin yang masih mendekap lutut. Kyungsoo mendudukkan dirinya di samping Jongin, tidak peduli apakah gaunnya basah karena air sungai kecil itu ataukah ia kedinginan karena airnya dingin.
"Jongin, kau tak apa?"tanya Kyungsoo, lirih.
Jongin tidak menjawab. Ia masih mendekap diri, terisak di antara tangisnya. Kyungsoo tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tubuh Jongin bergetar. Kyungsoo mengusap punggung dan lengan kanan Jongin, menenangkannya.
"Jongin, tatap aku, kumohon. Ada apa?"tanya Kyungsoo.
.
.
"Leave me alone."
Kyungsoo terdiam, mendengar kalimat itu. Jongin mengalihkan pandangannya, membelakangi Kyungsoo. Ia masih tidak mau melihat Kyungsoo.
"Jongin, kau tak–"
"LEAVE. ME. ALONE!"
Kyungsoo terdiam, mendengar pekikan Jongin yang tajam. Jongin masih tidak mau melihat Kyungsoo, dan tubuh itu bergetar hebat. Kyungsoo mengangguk, cukup paham dengan perkataan Jongin.
"Jika kau mencariku, aku ada di istana."
Kyungsoo memajukan wajahnya, kemudian mengecup pucuk kepala Jongin. Ia mengusap pundak Jongin, kemudian mengangkat gaunnya dan berjalan menjauh dari sungai itu.
Meninggalkan Jongin yang kembali terisak hebat.
-XOXO-
CKLEK
Kyungsoo memasuki sebuah ruangan, dan ia terdiam di pintu.
Sehun, terduduk di atas salah satu kasur di ruangan itu, dengan wajah tertunduk. Luka di tubuhnya telah dibalut oleh obat-obatan, dan perban juga menghiasi tubuhnya. Kyungsoo menyeka airmatanya, kemudian berjalan menghampiri Sehun dan duduk di sebuah kursi kayu di hadapannya.
"Hai."
Sehun mengangkat wajahnya, kemudian membalas sapaan itu tanpa suara. Kyungsoo menunduk, dengan tangan yang saling menangkup. Ia menatap Sehun dengan pandangan prihatin.
"I'm sorry."
Sehun mendongak, mendapati Kyungsoo yang tengah menatapnya. Sehun mengangguk pelan, kemudian kembali menunduk.
Keheningan itu terjadi selama kurang lebih 5 menit.
"Kau butuh sesuatu, Hun?"
Sehun menatap Kyungsoo, kemudian menggeleng lemas. Kyungsoo mengangguk mengerti, kemudian menatap Sehun lagi. Ia memanjangkan tangannya, menggenggam tangan Sehun yang masih gemetaran.
"Kris tidak akan suka melihatmu lemah seperti ini."
Sehun menatap Kyungsoo, yang kini tengah tersenyum lembut. Senyum keibuan yang begitu menenangkan Sehun. Kyungsoo mengusap tangan Sehun dengan lembut, berusaha menenangkan sang empunya.
"Kris.. dia sangat menyesal, Hun. Dia menyesal dengan apa yang ia pernah lakukan. Ia nyaris membunuh Raja Marseilles karena pada awalnya sang raja tidak mengizinkan kami menyelamatkanmu dari Saxon."
Sehun terdiam, mendengarkan perkataan Kyungsoo. Kyungsoo memajukan kursi yang ia duduki, lebih dekat dengan Sehun.
"Dia kalap, ketika tahu bahwa kau diculik. Dia menghajar dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri. Saat itu, dia berharap bahwa dia tidak mengakui semuanya. Jika saja dia tidak mengakui semuanya, everything would be okay. Itu yang dia pikirkan."jelas Kyungsoo.
"Ka-kau.. yakin Kak Kris.."ucapan Sehun terbata-bata.
"Ya. Aku ada di sana, di setiap momen ia menyesal. Aku dan Jongin. Kami ada di sana ketika Kris mengatakan dia menyesal. Dia lebih memilih mati daripada melihatmu menderita oleh Saxon."
Airmata Sehun kembali mengalir. Mulutnya bergetar. Kyungsoo mengangguk, airmata juga mulai mengalir darinya. Ia menggenggam tangan Sehun erat, kemudian menatap tepat ke arah mata Sehun.
"Kris mengharapkan ini, Sehun. Dia mengorbankan dirinya demi dirimu. Dia rela melakukannya. Dia rela, demi menghapus kesalahan yang ia perbuat terhadapmu, Sehun. Dia rela, asal kau memaafkannya."ucap Kyungsoo, lirih.
"Kris.. ti-tidak salah.."ucap Sehun, dengan nada bergetar.
"I know. Kau hanya harus memaafkannya, meskipun dia tidak salah."ucap Kyungsoo.
"Ini semua.. salahku.."ucap Sehun, lirih.
"Kris akan membencimu, jika kau menuduh dirimu sendiri. Stop blaming yourself."
Sehun menatap Kyungsoo, yang kini tersenyum lembut. Kyungsoo mengusap tangan Sehun, berharap dengan begitu Sehun bisa merasa lebih baik. Kyungsoo menepuk pundak Sehun dengan bersahabat.
"Jadilah kuat, Sehun. Kris akan membencimu jika kau lemah dan tak berdaya."ucap Kyungsoo.
Sehun mengangguk pelan. Kyungsoo pun maju, mendekap tubuh Sehun yang gemetar. Sehun tidak membalas dekapan itu, tetapi ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Kyungsoo.
"Terimakasih... Kyungsoo.."bisik Sehun.
Kyungsoo mengangguk, dengan tangan mengusap punggung Sehun.
"Your welcome."
Kyungsoo melepas dekapannya, kemudian tersenyum. Ia merogoh kantung gaunnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dan menaruhnya di atas tangan Sehun.
Sebuah apel.
Sehun menatap apel itu dalam diam, tidak ada niatan untuk memakannya.
"Apel itu untuk dimakan, bukan untuk dipelototi. Jongin pernah berkata begitu padaku."ucap Kyungsoo, diselingi kekehan.
Sehun terkekeh pelan mendengar ucapan Kyungsoo, kemudian mendongak.
"Mana Jongin?"tanya Sehun.
Kyungsoo menghela nafas berat, kemudian mendelik.
"Dia mengasingkan dirinya. Mungkin dia masih syok. Sudah, jangan pikirkan dia. Jongin ingin kamu lebih baik, Sehun. Dia akan mengatakan hal yang sama seperti yang aku ucapkan sekarang."
Kyungsoo menepuk kepala Sehun bersahabat, kemudian tersenyum manis. Ia pun berjalan keluar ruangan.
CKLEK
"Emm, Kyungsoo!"
Kyungsoo berdiri di ambang pintu, dan menoleh ke arah Sehun. Sehun menatap Kyungsoo dengan pandangan yang lebih baik dari sebelumnya–kesenduannya perlahan-lahan meredup.
"Aku akan mengunjungi Jongin, setelah memakan apel ini."ucap Sehun.
Kyungsoo terdiam, kemudian tertawa pelan. Kyungsoo mengangguk, kemudian berjalan keluar ruangan itu.
BLAM
Meninggalkan Sehun yang menatap apel di tangannya dengan perasaan tentram.
"Jongin.."
-XOXO-
"Kyungsoo?"
Kyungsoo menoleh, mendapati Tuan Andrew yang tengah berjalan di lorong istana itu. Kyungsoo membungkuk hormat, dan dijawab oleh anggukan oleh Tuan Andrew.
"Sehun di dalam?"tanya Tuan Andrew, diangguki Kyungsoo.
"Dia sudah baikan."sahut Kyungsoo.
"Sebentar lagi upacara pemakaman Kris. Kupikir, sebaiknya kau mendatanginya. Aku akan mengajak Sehun."ucap Tuan Andrew.
"A-aku akan menunggu di sini dan pergi bersama kalian."ucap Kyungsoo, memberi saran.
"Baiklah. Tunggu sebentar."
CKLEK
Tuan Andrew memasuki kamar itu, menghampiri Sehun. Kyungsoo menunggu di situ, menatap ke arah pilar-pilar lorong istana. Banyak sekali baju-baju zirah terpajang di situ. Kyungsoo menatap salah satu baju zirah yang ada di dekatnya.
Lieutenant Nicholaus der Staar
1245 – 1301
The war will never end me. The war will never separate me and my family. Only the dead can do it.
Kyungsoo terdiam. Ia menatap baju zirah itu. Baju zirah yang tersebar di lorong itu pernah menjadi milik seseorang, yang kemudian gugur di medan perang. Kyungsoo terdiam.
Itu artinya, baju zirah Kris pun akan dipajang di lorong itu.
"Kyungsoo?"
Kyungsoo menoleh, mendapati Sehun yang sudah keluar dari kamar bersama Tuan Andrew. Kyungsoo tersenyum, kemudian berjalan di samping Sehun. Tuan Andrew mengusap kedua pundak Sehun, membawanya berjalan ke arah lapangan.
Ketika mereka memasuki lapangan kerajaan, seluruh rakyat dan prajurit Paris sudah menanti.
Kyungsoo menoleh pada Sehun, ia benar-benar khawatir dengan sahabatnya ini. Sehun menarik nafas, kemudian menghembuskannya lagi dengan berat. Dengan mata berkaca-kaca, ia berjalan ke arah tengah lapangan.
Dimana sebuah peti mati terlihat.
Raja Marseilles telah menunggu Sehun, kemudian mempersilahkan Sehun berdiri di dekat peti mati itu. Raja Marseilles menatap setiap orang yang hadir di situ, kemudian mulai bersuara.
"Letnan Kris.. telah mengabdi selama lebih dari 10 tahun pada kerajaan ini. Semua bermula ketika Letnan Andrew menemukan seorang anak remaja yang terluka-luka berat di belakang istana akibat anak panah dan pedang. Melihat potensi pada diri remaja itu, Letnan Andrew tidak sungkan menjadikannya seorang prajurit. Prajurit yang berani, rela berkorban, dan setia pada kerajaan. Prajurit yang pengabdiannya tidak dapat dihitung, tidak ternilai, dan begitu menginspirasi. Seorang letnan yang gugur, demi seorang adik yang begitu ia cintai. Cintanya, meliputi kita semua."
Kyungsoo menatap khawatir ke arah Sehun, yang hanya menunduk, menatap peti mati di hadapannya. Sehun mengusap bagian luar peti mati itu, berharap apa yang terjadi hanyalah mimpi.
Sementara itu, Sehun tidak dapat membendung airmatanya lagi.
"Jadi.. saat itu kau tidak mati? Kau.. berhasil menyelamatkan diri dari Saxon dan merantau hingga.. kerajaan ini. Kak, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku, kak. Aku.. aku tidak mencarimu. Aku cepat putus asa, semenjak aku mengira.. kau telah mati pada perang itu. A-aku sungguh berharap, kau mendengarku. Aku sungguh menyayangimu."gumam Sehun, lirih.
Tapi, Sehun sangat tahu, bahwa sosok di dalam peti itu tidak akan membalas ucapannya lagi.
Kyungsoo mengendarkan pandangannya, merasa ada sesuatu yang kurang. Ia mencari-cari ke segala arah, kemudian terpikirkan sesuatu. Mana Jongin?
Kyungsoo menatap Sehun, kemudian segera berjalan mundur dan melewati kerumunan orang di belakangnya. Setelah ia menembus kerumunan orang itu, Kyungsoo pun berjalan ke kuda miliknya yang ada di dekat pohon sana.
Tanpa diketahui siapapun, ia memacu kudanya, untuk menemui Jongin di tempat terakhir mereka bertemu.
-XOXO-
TAK TOK TAK TOK
Kuda milik Kyungsoo telah sampai di tempat itu, namun Kyungsoo merasa janggal. Kuda milik Jongin–yang sebelumnya sempat ia ikat di sebuah pohon–sudah tidak ada. Kyungsoo menghampiri pohon itu, mengikat kudanya, dan berjalan ke arah sungai itu.
"Jongin?"panggilnya, namun tak ada sahutan.
Kyungsoo mengangkat gaunnya, lalu melepas sepatunya. Ia berjalan pada sungai itu, menatap ke arah bawah jembatan.
Hanya untuk mendapati jembatan yang kosong.
"Jongin!?"pekik Kyungsoo, namun tak ada sahutan.
Kyungsoo berjalan ke sana, kemudian mendapati sebuah pahatan di dinding. Ditulis oleh Jongin, menggunakan pedang yang ia bawa.
.
Kyungsoo, jika kau mencariku, katakan bahwa aku mengasingkan diri ke hutan. Jangan cari aku. Aku akan kembali. Jangan katakan pada siapapun.
.
Kyungsoo menangkup mulutnya. Wajahnya kaget, tidak percaya. Ia berjalan keluar dari sungai itu, menatap ke segala arah dengan gundah. Ia mengangkat gaunnya, berjalan keluar jembatan dengan panik.
"JONGIN!?"
-XOXO-
TAK TOK TAK TOK
Kuda bercak putih itu berlari dengan cepat, dengan penunggangnya yang mengendalikan kuda itu dengan lihai. Larinya mantap, mengarungi area hutan dengan yakin.
Jongin mengendarai kudanya dengan mantap, menuntunnya ke satu arah.
Jongin melintasi hutan itu, melewati pepohonan dengan lihai. Ia belum berganti baju zirah semenjak pertempuran di Saxon kemarin, dan hanya kebingungan yang melandanya. Ada sebuah pertanyaan dalam benaknya, dan ia butuh jawaban sekarang.
Benarkah yang ia lihat kemarin adalah Kim Jongdae, kakaknya?
Jongin memacu kudanya lebih cepat, melawan arah angin. Airmata mengaliri wajahnya, tetapi Jongin harus terus memacu kudanya. Dia perlu jawaban, dia perlu sebuah jawaban. Dia perlu jawaban yang mantap. Di saat bersamaan, Jongin menguatkan hatinya untuk segala kemungkinan jawaban.
Jongin memacu kuda itu, tepat ke arah Kerajaan Saxon.
"Kak Jongdae.. benarkah itu kau?"
TO BE CONTINUED
Note :
Haiiii guyssss!
MET TAHUN BARU 2017 GUYSSS!
Well, gimana nih guysss? Jongin mau balik lagi ke Saxon! Kira-kira dia mau ngapain, yaaa?
Maaf yaa, kalo misal momen KAISOO-nya kuraaang. Soalnya, di sekitar chap 11 sampai entah chap berapa yang penting belasan, Jongin lagi fokus mencari jati diri dan mengumpulkan ingatan-ingatan diaa yang ilaaang. Mungkin cuman 3 chapter. Tenang aja, guys! ADA NC MOMENT, LHOOOO /ups spoiler/
Stay tune yaaaaa! HAW sebisa mungkin akan update cepet, karena lagi gak kena writer's block hehehe
HUANG AND WU
