Previously (Chapter 12) :
Benarkah yang ia lihat kemarin adalah Kim Jongdae, kakaknya?
Jongin memacu kudanya lebih cepat, melawan arah angin. Airmata mengaliri wajahnya, tetapi Jongin harus terus memacu kudanya. Dia perlu jawaban, dia perlu sebuah jawaban. Dia perlu jawaban yang mantap. Di saat bersamaan, Jongin menguatkan hatinya untuk segala kemungkinan jawaban.
Jongin memacu kuda itu, tepat ke arah Kerajaan Saxon.
"Kak Jongdae.. benarkah itu kau?"
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 13
WOSH
Tuan Andrew menyalakan obor di tangannya, kemudian berjalan ke arah Sehun yang tengah berdiri di pinggir makam milik Kris, yang sudah dipenuhi oleh jerami dan daun-daun kering. Tuan Andrew menyerahkan obor itu, tersenyum lembut ke arah Sehun.
"You can do it."gumam Tuan Andrew, diangguki Sehun.
Sehun berjalan mendekati makam itu, disaksikan oleh Raja Marseilles, segenap pasukan, dan rakyat Paris. Sehun menguatkan dirinya, kemudian memasukkan obor itu ke dalam makam tersebut.
WOSH!
Api merambati jerami dan daun-daun kering di situ dengan cepat, membakar peti mati Kris yang damai di sana. Airmata tak dapat terbendung oleh Sehun. Melihat pertahanan Sehun runtuh, Tuan Andrew menghampiri Sehun dan mengajaknya berjalan menjauhi makam.
"Dengan ini, kita berharap semoga pengorbanan Letnan Kris tidaklah sia-sia. Semoga, keberanian, ketekunan, kejujuran, dan kesetiannya terwariskan pada kita semua, pada adiknya, dan pada para prajurit di luar sana. Rest in peace, Lieutenant Kris!"
"REST IN PEACE, LIEUTENANT KRIS!"
Seluruh rakyat meneriakkan nama itu, keras dan penuh hormat. Tuan Andrew mengusap kedua pundak Sehun, membiarkan namja itu menangis. Sehun menatap makam kakaknya yang telah terkobar api. Api semangat dan cinta yang–ternyata–selama ini mengawasi Sehun dari kejauhan.
"I'm gonna miss you.."
-XOXO-
SRET!
Kyungsoo mengikat kudanya dengan cepat, kemudian mengangkat gaunnya dan berlari ke dalam istana. Ia mengendarkan pandangannya, mencari-cari seseorang.
Sehun.
"Maid, apa kau melihat Sehun?"tanya Kyungsoo, pada salah seorang pelayan istana.
"Tadi dia ada di kebun bunga belakang, mengasingkan diri."jawab maid tersebut.
"Terimakasih!"
Kyungsoo berlari melintasi lorong-lorong, menuju ke kebun bunga yang tadi dibicarakan sang maid. Ia berjalan menuruni tangga, kemudian menyusuri kebun bunga itu. Begitu banyak bunga di sana, dan hampir semuanya tengah bermekaran.
Kyungsoo menatap sekelilingnya, kemudian mendapati Sehun yang tengah duduk di sebuah batu besar.
"SEHUN!"
Sehun mendengar seseorang memanggilnya, kemudian menoleh dan mendapati Kyungsoo tengah berlari ke arahnya. Sehun mengernyit heran. Kyungsoo menatap tepat ke arah Sehun, pancaran mata panik ada di kedua mata Kyungsoo. Sehun berharap Kyungsoo tidak membawa berita buruk.
Sayangnya, harapan Sehun tidak terkabul.
"Jongin.. dia menghilang!"
-XOXO-
TAK TOK TAK TOK
"Huss.. pelan-pelan."
Jongin memelankan laju kudanya, kemudian terdiam di balik sebuah pohon. Ia turun dari kuda itu, sedikit mengintip dari balik pohon. Langit malam kembali menyapa, jarak Saxon dengan Paris cukup jauh jika ditempuh dari hutan yang ia lewati–ia harus memutari gunung, karena Jongin tidak bisa melewati gerbang depan Paris jika tidak mau ketahuan.
Kerajaan Saxon, tepat di hadapannya.
Jongin mengikat kudanya di pohon itu, kemudian berjalan mengendap-endap menuruni bukit itu. Satu tangannya siaga dengan pedang yang tersampir pada sabuknya, satunya lagi membantu dia menuruni bukit. Setelah menuruni bukit, Jongin segera bersembunyi di balik semak-semak.
Jongin mendongak pelan, melihat ke segala arah.
"Penyerangan Paris kemarin benar-benar membutakan Raja Peter."
Mendengar suara seseorang mendekat, Jongin segera bersembunyi lagi. Telinganya terfokus pada pembicaraan kedua guard yang tadi tengah berjalan, melintasinya.
"Asistennya bahkan kesulitan untuk menghibur Raja Peter."
Asistennya? Siapa dia?
Jongin mendongak lagi, menatap kedua guard yang telah menjauh itu. Ia menatap dinding di hadapannya, kemudian keluar dari semak-semak dan berjalan ke arah yang sama dengan kedua guard tadi. Ia menguntit mereka di belakang.
Setelah beberapa lama berjalan, Jongin melihat sebuah celah. Ia menatap kedua guard yang sudah menjauh itu, barulah ia menyesuaikan dirinya ke dalam celah tersebut. Ia pun masuk ke dalamnya.
Jongin menatap sekeliling, mendapati tenda-tenda Saxon di sana. Ia berjalan mengendap-endap, melewati tenda-tenda itu lewat belakang.
"Hahahaha!"
Jongin terdiam, mendengar suara tawa. Setelah yakin suara itu pergi, barulah ia kembali berjalan pelan-pelan. Jongin melihat ke setiap tenda-tenda, mencari-cari targetnya.
Tampaklah sebuah tenda cukup besar, di samping tenda paling besar di sana. Jika tenda paling besar itu adalah milik Peter Park, maka tenda di sampingnya pastilah milik asistennya. Jongin memutuskan untuk masuk ke dalam tenda di samping itu.
SREK
Jongin memasuki tenda itu perlahan, dan ia berhadapan dengan beberapa barang dan sebuah kasur bulu di sana. Seseorang tertidur di atasnya, dengan sebuah pedang di sampingnya. Jongin mendekati orang itu, berharap dapat melihat jelas wajah di sana dengan penerangan lentera.
Jantungnya berpacu cepat.
-XOXO-
TAK TOK TAK TOK
SRET!
"Di sini aku terakhir bertemu dengannya."
Kyungsoo turun dari kudanya, disusul oleh Sehun. Mereka mengikat kuda-kuda itu, kemudian berjalan ke bawah jembatan–tempat terakhir Kyungsoo melihat Jongin. Kyungsoo melepas sepatu dan mengangkat gaunnya, membawa Sehun masuk ke dalam sungai.
"Lihat!"
Kyungsoo menunjuk pahatan tulisan di sana. Sehun mendekatinya, membaca tulisan itu. Raut wajahnya berubah, kemudian ia menatap Kyungsoo dengan kaget.
"Dia pergi ke hutan itu, entah kemana."ucap Kyungsoo, kemudian menunjuk hutan yang beberapa jauh di dekat sungai.
Sehun menatap hutan itu, memperkirakan segalanya. Ia menatap arah sungai itu, barisan bukit nun jauh di sana, dan juga arah jalan. Matahari semakin tenggelam di ufuk barat, pertanda malam tiba. Seketika, Sehun teringat sesuatu.
"Aku tahu dia pergi kemana."
Sehun membalikkan tubuhnya, berjalan menghampiri Kyungsoo dengan tidak sabaran. Sehun menatap Kyungsoo dengan panik, wajahnya ketakutan.
"Dia pergi ke Saxon sendirian!"
"APA!?"
-XOXO-
Lentera dalam tenda itu menerangi kegelapan, membuat Jongin dapat melihat dengan jelas wajah dari sang empunya pedang. Mata Jongin berkaca-kaca. Semakin ia mendekati sosok itu, semakin jantungnya berdegup kencang, dan semakin kakinya bergetar. Jongin mengeluarkan pedangnya, berhati-hati.
"Eungh.."
Sosok dalam tidur itu melenguh, sedikit terbangun. Ia mengubah posisi tidurnya, kemudian membuka matanya perlahan. Sekali lagi, lentera menyinari segalanya.
Dan seseorang tengah berdiri di dalam tendanya, mengacungkan pedang padanya.
SRET!
SRING!
Dalam sekejap, namja yang tertidur itu meraih pedangnya dan mengacungkannya pada penyusup tadi–Jongin. Namja dengan wajah setengah terbakar itu menatap Jongin sengit, berbanding terbalik dengan Jongin yang nyaris menangis.
"Ka-kau.."gumam Jongin, lirih.
"Siapa kau!? Jawab!"sahut namja berwajah terbakar itu, tegas dan keras.
.
"Rentangkan rantaimu, biar aku putuskan!"
"Kak Jongdae!"
"Untunglah kau tidak apa-apa, brother!"
.
Sebuah bayangan muncul di hadapan namja berwajah terbakar itu, sekilas dan cepat. Wajahnya semakin kaget, dan ia mengamati wajah Jongin yang hampir menangis di hadapannya.
"Ka-kau.."
"Halo, brother."sahut Jongin, lirih.
Airmata tak terelakkan. Jongin membiarkan airmatanya mengalir, membiarkan emosinya meluap. Jongin tidak percaya, ia akan mengalami momen ini.
Momen dimana ia bertemu dengan kakaknya yang hilang, Kim Jongdae.
Jongdae–wajahnya nyaris tak dikenali karena sudah setengah terbakar–berdiri dari kasur bulunya, masih dengan pedang teracung. Wajahnya campur aduk, sama dengan perasaannya kali ini. Ia menatap Jongin dengan kaget.
"Kau.. Jongin?"tanya Jongdae, kaget.
"Halo, brother."sapa Jongin, di sela-sela airmatanya.
PRANG!
GREP!
Jongin menghempaskan pedangnya, kemudian maju dan mendekap Jongdae erat. Dia tidak peduli apakah Jongdae masih memegang pedang atau tidak. Jongdae sendiri kaget dibuatnya, tak menyangka dengan apa yang ia lihat.
"Aku tahu.. bahwa kakak masih hidup. Brother, I miss you."bisik Jongin, di ceruk leher Jongdae.
PRANG
Mata Jongdae berkaca-kaca. Ia membanting pedangnya, kemudian membalas dekapan Jongin sama eratnya. Jongin menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher kakaknya, menumpahkan segala emosi yang melandanya. Jongdae mengusap rambut Jongin lembut, tidak menyangka sama sekali.
Ia tidak menyangka bahwa yang ada dalam dekapannya adalah Kim Jongin, adiknya yang selama ini ia cari-cari.
"You have no idea how much I miss you!"sahut Jongdae, diangguki Jongin.
"I'm sorry, brother!"pekik Jongin.
Momen mengharukan itu terjadi selama 5 menit.
Jongdae merenggangkan pelukannya, menatap Jongin yang masih sedikit terisak. Tangan Jongdae ia letakkan pada kedua pundak datar Jongin, menatap dari atas hingga bawah adik di hadapannya.
"Kau kan.. prajurit Paris itu.."ucap Jongdae, diangguki Jongin.
"Aku anggota pasukan Paris sekarang."ucap Jongin.
"Oh my God, kau benar-benar berbeda dari waktu kecilmu."ucap Jongdae, membuat Jongin terkekeh.
"Kau juga berbeda, brother."ucap Jongin.
Jongdae menepuk kepala Jongin dengan bersahabat, matanya berkaca-kaca. Jongin terkekeh, mengangguk senang. Mereka pun kembali berpelukan, bersahabat.
"Jongin, di sini berbahaya. Kau harus kembali ke Paris."
Jongdae menatap Jongin dengan raut cemas, Jongin sendiri mengangguk lemah. Ia menatap kakaknya dengan mantap, wajahnya meyakinkan.
"Ikutlah bersamaku, bro! Ke Paris!"
Jongdae kaget dengan ajakan Jongin. Jongin menatap Jongdae dengan penasaran, berharap Jongdae mau ikut. Dia tidak bisa membiarkan kakaknya terjebak di dalam pasukan tak berperikemanusiaan itu.
Sayangnya, Jongdae berkata lain.
"Aku tidak bisa."
Jongin mengernyit, mendengar ucapan kakaknya. Jongdae menatap Jongin dengan lekat, tangannya mengusap kepala adiknya dengan lembut. Jongdae begitu bersyukur, melihat adiknya berhasil tumbuh besar dan menjadi prajurit yang gagah seperti sekarang.
"Kenapa?"tanya Jongin, kaget.
Seketika, Jongin berharap tidak mendengar jawaban Jongdae.
"Aku pernah menjadi pasukan Paris, dan aku berkhianat. Aku tidak bisa kembali ke Paris."
Jongin terkaget. Jongdae menghela nafas berat, kemudian menatap Jongin dengan berat hati. Seketika, ucapan Tuan Andrew yang masih ia ingat terngiang-ngiang dalam benaknya.
.
"Wajahmu mengingatkanku pada salah seorang kawanku di infanteri yang berkhianat pada kerajaan ini. Aku ingin ada seseorang yang menggantikan posisinya dalam pasukan, dan aku percaya itu adalah kau."
.
"Ja-jadi.. Kak Jongdae adalah prajurit yang berkhianat itu?"tanya Jongin, diangguki Jongdae.
"Andrew pasti bercerita banyak padamu."
Jongin mengernyit, mendengar nama Tuan Andrew diucapkan oleh Jongdae. Jongdae tersenyum pahit, sedikit menerawang. Jongin menatapnya penasaran, tapi Jongdae berusaha menghindari tatapan Jongin.
"Aku dan Andrew, kami dulu bersahabat. Kami masuk ke dalam infanteri bersama-sama, menjadi prajurit di kala senang dan susah, dan diangkat menjadi letnan bersama-sama. Kami bertarung bersama, melalui suka-duka bersama, mengabdi pada Paris dengan setia."jelas Jongdae.
"Tapi kenapa kau berkhianat, brother?"tanya Jongin, tidak mengerti jalan pikir kakaknya.
"Aku terpikirkan dirimu, Jongin."
Jongin bingung seutuhnya. Mata Jongdae kembali berkaca-kaca. Ia mengusap wajah Jongin dengan lembut, memberikan sentuhan kasih sayang seorang kakak yang selama ini Jongin impikan, Jongin rindukan, Jongin inginkan.
Usapan sayang seorang Kim Jongdae.
"Aku berpikir bahwa Saxon menculikmu karena aku tidak dapat menemukan tubuhmu di luar kandang kuda, maka aku menyelinap dari Paris dan masuk ke dalam Saxon. Peter Park menyambutku, tapi aku tidak pernah bercerita padanya alasan aku berkhianat dari Paris. Itu sudah terjadi 5 tahun lalu, dan sudah terhitung 5 tahun aku mengabdi pada Saxon, 10 tahun pada Paris."
Jongdae menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan airmatanya. Jongin menutup mulutnya, kaget dengan penjelasan kakaknya. Jongdae bahkan masih berkorban demi Jongin di kala Jongin bahkan tidak mencari-cari Jongdae?
Jongin tidak dapat memperkirakan betapa Jongdae sudah banyak berjuang dalam hidupnya, hanya demi dirinya, adiknya.
"Luka pada wajahku ini disebabkan oleh api pada kandang kuda itu. Pasukan Celtic yang tersisa menyelamatkanku, kemudian membawaku pergi dari desa itu. Di tengah jalan, kami diserang oleh Saxon. Semua tewas, kecuali aku. Aku sempat bertemu pandang dengan Peter Park, dan aku menaruh dendam padanya. Setelahnya, aku kabur ke dalam hutan, dan akhirnya aku diselamatkan oleh sekelompok pedagang yang kebetulan menuju Paris. Aku mengikuti seleksi masuk infanteri, dan aku diterima. Saat itu, partner-ku adalah Andrew. Kami melalui singa dan harimau itu bersama, dan kami diterima. Begitulah awal mula aku bisa selamat dari Pembantaian Kaum Celtic 15 tahun lalu. Saat itu, umurku 12 tahun, dan kau masih 7 tahun."
Jongin benar-benar kaget dengan penjelasan Jongdae. Apa yang Jongdae alami nyaris sama dengan Jongin. Jongin sendiri bersama Sehun pada seleksi masuk infanteri, dan keduanya diterima. Benar-benar mirip persis, dan Jongin sendiri kaget karena benar-benar keberuntungan Jongdae bisa selamat dari Saxon.
Itu artinya, Jongdae adalah keturunan Kaum Penunggang Kuda Celtic, sama seperti Jongin.
"Aku dendam pada Peter Park, bahkan sampai sekarang. Tapi, aku menjadi asistennya yang setia, karena aku percaya, dengan bersama Saxon, aku bisa menemukan adikku yang hilang. Adikku yang, aku bahkan tak tahu wajahnya. Dan ternyata, aku benar."
Jongin menggeleng-geleng kaget. Airmata ikut mengaliri wajahnya. Jongdae tersenyum pahit, kemudian mendekap Jongin lagi. Jongin membalas dekapan kakaknya, menangis lagi di sana.
"Kau benar-benar bocah, kau tahu? Kau masih menangis."ejek Jongdae, walau tak dapat dipungkiri bahwa matanya juga basah oleh airmata.
"Aku terharu, brother. Kau mencariku di saat aku bahkan sudah putus asa. Aku bersyukur, brother. Terimakasih sudah banyak berkorban untukku."ucap Jongin, lirih.
"Kau akan tetap jadi adik tersayangku, kau tahu?"
Jongdae merenggangkan dekapannya, kemudian menatap Jongin. Jongdae mengusap kepala adiknya, memberinya kasih sayang yang 15 tahun ini tak tersampaikan pada adiknya.
SREK SREK
Terdengar suara-suara dari luar. Jongdae dan Jongin menatap ke arah pintu tenda itu. Jongdae menatap Jongin, memegang kedua lengan adiknya dengan mantap. Sebenarnya, ia tidak rela melepas Jongin, tapi ia harus.
Ia tidak ingin adiknya ditemukan Saxon dan kemudian dibunuh.
"Kau harus pergi. Para pasukan Saxon akan bersiap berangkat menuju Paris. Kau harus segera pergi."ucap Jongdae.
"Tidak! Aku tidak akan pergi tanpamu."elak Jongin.
"Jongin, listen to me! Saxon akan mengadakan penyerangan malam besok ke Paris, kami akan menyerang kalian. Kita akan bertemu lagi. Pergilah secepatnya ke Paris, kabarkan semua orang. Kosongkan Paris, dan jangan sisakan satu anak pun di sana. Kau harus menyelamatkan Kerajaan Paris, oke?"jelas Jongdae, membocorkan rencana Saxon pada Jongin.
Jongdae merogoh lehernya, kemudian mengeluarkan sebuah kalung. Kalung gigi singa. Ia mengalungkannya pada Jongin. Jongin menatap kalung itu, kemudian menatap Jongdae. Keyakinan melandanya, kuat.
"Kau harus pergi. Selamatkan Paris. Kita bertemu lagi malam ini di peperangan."
Jongin mengangguk mendengar instruksi Jongdae. Jongdae menepuk kepala Jongin dengan bersahabat.
"Now, go!"
Jongin menatap ke arah pintu tenda itu, kemudian menyelinap ke tempat tadi ia masuk dan pergi. Jongdae menatap kepergian Jongin dengan penuh harap, berharap adiknya tersembunyi dari pasukan Saxon.
"Semoga beruntung, brother."
Sementara itu, Jongin mengendap-endap cepat. Malam semakin menyapa, semakin larut dan dingin. Jongin menyelinap cepat di balik tenda-tenda, kemudian keluar melalui celah yang tadi ia lewati. Ia menatap ke kanan dan kiri, memastikan bahwa semua aman. Setelahnya, ia segera berlari menaiki bukit, menuju kuda yang telah lama menunggunya.
"Kau menunggu lama? Ayo, pergi!"
Jongin melepas ikatan pada kuda itu, kemudian segera menaikinya dan memacunya cepat. Ia memacu secepat-cepatnya, menuju Paris.
Ia harus memberitahukan ini pada pasukan Paris.
-XOXO-
"Dia belum kembali."
Sehun dan Kyungsoo kini tengah menunggu di tenda Jongin. Wajah mereka terlihat sangat khawatir, dan sosok yang mereka tunggu bahkan belum kembali.
"Kemana dia?"tanya Kyungsoo.
"Perjalanan menuju Saxon memang sangat lama. Butuh berjam-jam untuk dia sampai ke sana dan kembali lagi."ucap Sehun, membuat Kyungsoo semakin khawatir.
Kyungsoo dan Sehun memusatkan mata mereka ke arah ufuk timur, matahari kembali menyinari angkasa perlahan-lahan. Ini sudah berganti hari, dan Jongin belum menampakkan batang hidungnya.
TAK TOK TAK TOK
Terdengar suara langkah kuda. Sehun dan Kyungoo menatap ke arah gerbang, dimana seseorang bisa masuk dan keluar. Mata mereka membelalak kaget.
Jongin masuk, dan memacu kuda yang ia tunggangi melewati perkemahan pasukan itu, menuju ke arah pintu masuk istana.
"JONGIN!"
Sehun dan Kyungsoo segera bangkit dan berlari menghampirinya.
-XOXO-
SRET!
Jongin segera menghentikan laju kudanya, kemudian berlari ke dalam istana. Dia melewati banyak maid dan prajurit lain, melintasi lorong. Ia berlari menuju Ruang Dewan. Semua orang menatap Jongin yang berlari seperti orang kesetanan.
"Permisi, permisi!"
Beberapa saat kemudian, Sehun dan Kyungsoo menyusulnya berlari.
BRAK!
Jongin tiba-tiba membanting pintu di hadapannya, masuk ke dalamnya dengan wajah pucat dan kelelahan yang kentara. Keringat membanjiri tubuhnya. Tubuhnya gemetar hebat.
Di dalam, ia bertemu pandang dengan Tuan Andrew, Jenderal Vincent, beberapa prajurit, dan Raja Marseilles yang tengah berdiskusi.
"Jongin?"kaget Tuan Andrew, yang kemudian menghampiri Jongin.
"SAXON AKAN MENYERANG KITA! MALAM INI!"
"APA!?"
TO BE CONTINUED
Note :
Hai hai haiiiii! HAPPY NEW YEAR GUYSS! (telat wkwkwk)
Huhuhu, jujur aja, di part ini, HAW bener-bener emosional pas ngetiknya. Bayangin kalo ada di posisi Jongin, ugh! Pasti emosional banget. Semua alasan Jongdae, semua momen Jongin-Jongdae, UGH! HAW emosional bangetttt pas ngetiknya T_T
HAW harap, brothership Jongin-Sehun-Jongdae bisa bener-bener berasa ya readers!
Oiya, mau mengingatkan. FF ini nggak semuanya FULL KAISOO. HAW udah mengingatkan dari awal bahwa FF ini tuh lebih ke arah kehidupan Jongin dan brothership!KAIHUN, and also ada juga selingan KAISOO MOMENTs dan mulai muncul nih brothership!KAIDAE. Jujur aja, FF ini complicated dan beberapa kawan HAW juga bilang "nggak heran kalo kena writer's block" :3
FF ini penuh intrik dan jalan ceritanya rumit. Tapi, tenang aja, semoga aja nggak PWP hehehe. Stay tune aja lah yaaa! Nanti juga bakal kejawab semuaa misteri-misteri!
Btw, ada yang mau NC moment KAISOO? /cuman nanya lho yaa/
Mind to REVIEW and FAVOURITE?
HUANG AND WU
