Previously (Chapter 13) :

Jongin tiba-tiba membanting pintu di hadapannya, masuk ke dalamnya dengan wajah pucat dan kelelahan yang kentara. Keringat membanjiri tubuhnya. Tubuhnya gemetar hebat.

Di dalam, ia bertemu pandang dengan Tuan Andrew, Jenderal Vincent, beberapa prajurit, dan Raja Marseilles yang tengah berdiskusi.

"Jongin?"kaget Tuan Andrew, yang kemudian menghampiri Jongin.

"SAXON AKAN MENYERANG KITA! MALAM INI!"

"APA!?"

.

-If You Could See Me Now-

.

.

Chapter 14

(Warning! NC contents in this chapter!)

"Kau bercanda, Jongin?"tanya Raja Marseilles, kaget luar biasa.

"Tidak, rajaku! Aku bersumpah!"pekik Jongin.

Raja Marseilles menatap pasukan Paris yang ada di sana, gusar. Sehun dan Kyungsoo kaget dengan ucapan Jongin, saling berpandangan. Jenderal Vincent mengusap wajahnya kasar, menatap setiap pasukan di sana.

"Kumpulkan warga di alun-alun istana. Secepatnya!"titah Jenderal Vincent.

Jenderal Vincent menatap Jongin, kemudian menghampirinya. Ia meminta Nathan untuk mengambil kertas dan sebuah pena bulu, dan juga lilin beserta capnya. Raja Marseilles mengajak Jongin ke sebuah meja, diikuti oleh Jenderal Vincent, Sehun, dan Kyungsoo.

"Kau yakin mereka akan menyerang kita?"tanya Raja Marseilles.

"Saya yakin, rajaku. Dengan segenap nyawa saya, saya yakin."jawab Jongin, mantap.

Nathan datang membawa kertas dan pena bulu. Raja Marseilles duduk di sebuah kursi, kemudian menulis sebuah surat di sana. Dialamatkan kepada Kerajaan Berlin, Jenderal Vincent membantu Raja Marseilles menulis.

"Jongin."

Jongin menoleh, mendapati Sehun dan Kyungsoo. Kyungsoo mendekap Jongin, menyalurkan secara tidak langsung betapa dia sangat khawatir padanya. Sehun menepuk pundak Jongin, dan dibalas oleh anggukan Jongin.

"Jongin."

Jongin menoleh, mendapati Raja Marseilles yang telah mencap surat itu dengan lilin. Ia menatap Jongin, kemudian menyerahkan surat itu padanya.

"Sampaikan ini pada Kerajaan Berlin. Kita tidak akan meminta konfirmasinya, kita meminta tolong padanya. Kau harus secepatnya ke sana, serahkan pada Raja Joann. Dia tahu apa yang harus dia lakukan."ucap Raja Marseilles.

Jongin menatap surat itu, kemudian mengangguk. Dia segera membungkuk hormat, kemudian berlari keluar ruangan cepat. Sehun dan Kyungsoo saling bertatapan.

"Follow him."ucap Sehun, diangguki Kyungsoo.

"Jongin, tunggu!"

-XOXO-

Jongin berlari ke arah kudanya, dan ia hampir saja pergi kalau saja Kyungsoo tidak menghalangi jalannya.

"Ada apa, Kyungsoo?"tanya Jongin.

"Aku ikut denganmu."ucap Kyungsoo.

"Ini berbahaya, Kyungsoo. Lebih aman kalau kau di sini, bersama Raja Marseilles. Aku tidak ingin kau terluka."ucap Jongin, digelengi Kyungsoo.

"Aku. Ikut. Denganmu."ucap Kyungsoo, penuh penekanan.

Jongin menatap yeoja di hadapannya, kemudian menghela nafas pelan. Dia kemudian mendekatkan kudanya pada Kyungsoo, dan menyodorkan tangan kirinya.

HAP!

Kyungsoo meraih tangan itu, kemudian duduk di belakang Jongin. Ia mendekap pinggang Jongin erat, merasakan punggung Jongin untuk pertama kalinya, di atas seekor kuda. Jongin tersenyum miring, kemudian mengusap tangan Kyungsoo dengan satu tangan–satu tangan lain memegang tali kekang kudanya.

"Ready?"tanya Jongin, dikekehi Kyungsoo.

"Always."jawab Kyungsoo.

"YA!"

TAK TOK TAK TOK

Dan Jongin memacu kuda itu cepat, menuju ke pintu utama kerajaan, secepatnya menuju Kerajaan Berlin.

-XOXO-

TAP TAP TAP

Peter Park berjalan melewati prajurit-prajurit Saxon, dengan namja bertudung hitam bercadar–yang tak lain adalah Jongdae–di belakangnya. Peter menatap persiapan yang dilakukan prajurit Saxon, sesekali menegur prajurit Saxon dan memberi tugas-tugas tambahan.

"Persiapan kita hampir matang. Bagaimana menurutmu, Jongdae?"tanya Peter seraya membalikkan tubuhnya menghadap Jongdae.

"Sesuai dengan prediksi, rajaku, bahwa kita akan membombardir Paris."jawab Jongdae, dengan suara sedikit teredam cadarnya.

Peter terkekeh jahat, kemudian melanjutkan jalannya lagi. Jongdae menatap namja di hadapannya. Sampai saat ini, Jongdae tidak juga memahami Peter sebagai seorang raja. Peter hanyalah seorang maniak dengan ketergantungan minuman keras dan juga hobi membunuh. Tapi, ada satu yang begitu Jongdae kagumi dari Peter–Jongdae sendiri tidak dapat menyangkalnya walau dia membenci Peter.

Peter memiliki kesetiaan dan integritas yang tinggi terhadap rakyatnya.

Peter tidak pernah menelantarkan prajurit Saxon-nya. Dia selalu memperhatikan mereka dari jauh, mengawasi perkembangan mereka, dan selalu memimpin mereka di setiap peperangan. Tidak seperti antagonis lain, Peter selalu berdiri di barisan depan dalam peperangan. Tidak heran kenapa banyak prajurit yang mengabdi setia pada Peter.

Sayangnya, Peter memanfaatkan pengabdian itu untuk sesuatu yang jahat. Egoismenya nyaris sebanyak dosanya, mengantarnya pada ambisi untuk menguasai ranah Eropa sebagai kerajaan Saxon. Saxonian–rakyat Saxon–tentu mendukung rencana Peter dan bahu membahu membantu Peter mewujudkan rencananya untuk menguasai Eropa.

Jongdae sendiri mengakui bahwa pepatah raja adalah gambaran dari rakyatnya adalah benar, bagi para Saxon ini.

Dalam hatinya, Jongdae berdoa, mengharapkan keselamatan Jongin di sana. Jantungnya berdebar, mengingat nama adiknya. Jongdae tidak ingin kejadian 15 tahun lalu terulang, dimana dia meninggalkan adiknya sendirian. Jongdae tidak akan mengulangnya.

Untuk pertama kalinya, Jongdae berencana untuk mengkhianati Peter.

-XOXO-

TAK TOK TAK TOK

Jongin memacu kudanya lebih cepat, seiring dengan semakin terlihatnya Kerajaan Berlin dari seberang bukit di hadapannya. Kyungsoo berpegangan erat padanya, bersama Jongin melawan angin.

"Halte dort an!"teriak seorang penjaga pintu portcullis Kerajaan Berlin. [Berhenti di situ!]

Jongin memelankan laju kudanya, kemudian menatap penjaga pintu itu. Gawat, dia tidak bisa bahasa Berlin. Jongin menatap surat di dalam kantung kudanya, memikirkan cara bagaimana melewati penjaga gerbang itu.

Tanpa ia sadari, Kyungsoo sudah turun dari kudanya.

"Wir sind vom Paris Königreich, müssen wir mit Ihrem König sprechen."ucap Kyungsoo, begitu fasih. [Kami dari Kerajaan Pairs, kami perlu berbicara dengan rajamu.]

"Bringst du den Brief denies Königs mit?"tanya penjaga gerbang itu. [Apa kau membawa surat milik rajamu?]

Jongin terkejut melihat kemampuan bahasa Berlin milik Kyungsoo. Kyungsoo berjalan menghampiri Jongin, berdiri di dekatnya.

"Mana surat kerajaan itu? Kita harus memperlihatkan capnya."ucap Kyungsoo, diangguki Jongin.

Jongin merogoh kantung kudanya, kemudian mengeluarkan sepucuk surat bercap dan menyerahkannya pada Kyungsoo. Kyungsoo berjalan ke arah penjaga gerbang itu, kemudian memperlihatkannya.

Penjaga gerbang itu meneliti surat itu, kemudian menatap rekan-rekannya dan mengangguk. Ia menyerahkan surat itu lagi kepada Kyungsoo, lalu mengangguk.

"Willkommen zum Berlin Königreich."ucap prajurit itu, diangguki Kyungsoo. [Selamat datang di Kerajaan Berlin.]

KRAK KRAK

Perlahan, pintu portcullis itu terbuka, menampilkan sebuah kota yang begitu cantik dan indah. Jongin sendiri dibuat terpana, kemudian menatap Kyungsoo dari ekor matanya.

"Bagaimana kau melakukannya?"tanya Jongin, membuat Kyungsoo bingung.

"Melakukan apa?"tanya Kyungsoo.

"Berbahasa Berlin!"ucap Jongin, disenyumi Kyungsoo.

"Pengalaman sebagai seorang slave di negara ini untuk beberapa bulan tidaklah seburuk yang orang-orang kira."ucap Kyungsoo, membuat Jongin terpana.

TAK TOK TAK TOK

Jongin segera memacu kudanya cepat, melintasi orang-orang yang berlalu-lalang, menuju ke arah kastil kerajaan Berlin.

-XOXO-

"Andrew, segera perintahkan rakyat yang mampu untuk mempersiapkan gerobak atau kereta kuda untuk perbekalan kita! Nathan, kau datangi toko-toko makanan untuk memasok gandum dan roti secepatnya! Sehun, segera kumpulkan anak-anak di alun-alun!"

Mereka semua melaksanakan perintah dari Jenderal Vincent. Andrew dan Nathan sudah berlari ke luar, disusul oleh Sehun. Sehun segera berlari keluar istana, menuju ke sebuah kumpulan anak-anak.

"Hai, adik-adik!"pekik Sehun dengan nada riang, membuat anak-anak itu menyapanya balik.

"Hai, kakak tampan!"sahut mereka, entah kenapa membuat hati Sehun menghangat.

Sehun berjongkok di hadapan mereka, menatap mereka dengan tatapan yang sulit. Tetapi, tatapan polos anak-anak itu menenangkan Sehun.

"Kalian mau membantuku?"tanya Sehun, diangguki mereka semua.

"Melakukan apa, kak?"tanya seorang gadis kecil.

Sehun mengusap wajah gadis kecil berpipi kemerahan itu, lantas tersenyum. Dia menatap seluruh anak-anak di sana, tanpa terkecuali.

"Kumpulkan baju dan makanan kalian secepatnya, kita berkumpul di sini lagi. Jangan tanya apapun, ini demi kalian. Jika kalian bertemu anak-anak lain, segera beritahu. Mengerti?"ucap Sehun, to the point.

Anak-anak itu tampak kebingungan, jelas sekali mereka mempertanyakan perintah Sehun. Tapi, tidak ada waktu lagi. Matahari semakin beranjak ke tengah langit dan mereka hanya punya waktu kira-kira 10 jam untuk segera mengungsi ke kerajaan tetangga.

"Baik, kak!"

Anak-anak itu pun segera berlari menjauh, menuju rumah masing-masing untuk mempersiapkan apa yang Sehun suruh. Sehun berjalan mengitari gang-gang sempit kerajaan, sesekali meminta beberapa ibu-ibu muda dan anak-anak untuk segera mengemasi barang-barang dan berkumpul di alun-alun.

Sehun menatap matahari yang sudah berada di tengah-tengah, memprediksi waktu. Dalam hatinya, Sehun mendoakan Jongin dan Kyungsoo yang tengah berjuang di Kerajaan Berlin sana, meminta perlindungan untuk Kerajaan Paris dan sisa penduduk Kerajaan Roma.

"Ya Tuhan, mudahkanlah ini semua."

Ia pun segera kembali ke alun-alun.

-XOXO-

CKLEK

"Raja Joann akan bertemu dengan kalian."ucap seorang prajurit–tentunya dengan bahasa Paris yang cukup fluent–kemudian meminta Jongin dan Kyungsoo untuk mengikutinya.

Mereka melintasi lorong istana itu, sedikit terpukau dengan begitu indahnya lorong itu dibangun. Dimulai dari pahatan pada dindingnya, lukisan-lukisan besar yang terbentang, beberapa patung dan hiasan baju zirah yang mengkilat, dan juga karpet merah beludru yang begitu mewah.

"Kerajaan Berlin sangat makmur. Kau melihat pasar yang kita lintasi tadi?"bisik Jongin, diangguki Kyungsoo.

"Rakyat di sini begitu sejahtera, sama seperti Paris dan Roma."ucap Kyungsoo.

CKLEK

Sebuah pintu besar terbuka lebar di hadapan mereka, menampilkan bentangan karpet merah yang panjang. Pilar-pilar menghiasi ruangan itu, dengan lukisan-lukisan besar gambar mozaik raja-raja terdahulu Kerajaan Berlin. Vas-vas bunga dari porselen murni menghiasi ruangan itu, dengan patung-patung dan baju zirah–yang tak kalah keren dengan lorong yang mereka lintasi–yang terpajang pada setiap sudut ruangan.

Prajurit itu mempersilahkan Jongin dan Kyungsoo berjalan lebih dulu, dengan beberapa orang telah menunggu mereka di ujung karpet merah. Seorang namja dengan sebuah jubah biru besar berbulu, dengan tongkat besar bertakhtakan berlian besar pada puncaknya, mahkota emas yang berkilau dengan ruby-ruby merah, dan jangan lupakan singgasana besar di belakangnya. Wajahnya seperti seorang namja paruh baya, dengan garis aristokrat yang kentara berpadu dengan iris biru matanya dan rambut cokelat pendeknya. Oh, jangan lupakan tubuh tinggi kekar khas prajurit kavaleri.

Raja Joann.

Jongin dan Kyungsoo berjalan beberapa langkah, kemudian terduduk hormat di atas lutut mereka. Raja Joann turun dari singgasananya, kemudian berjalan ke arah mereka.

"Kalian adalah utusan Marseilles, benar begitu?"tanya Raja Joann–bahasa Paris-nya begitu fasih–yang kemudian diangguki Kyungsoo dan Jongin.

"Kami membawa pesan dari Yang Mulia Raja Marseilles."ucap Jongin.

Raja Joann mempersilahkan mereka berdiri. Jongin dan Kyungsoo berdiri. Jongin merogoh tas kulitnya, kemudian menyerahkan sepucuh surat bercap lilin merah pada Raja Joann. Raja Joann menatap segel lilin merah itu–menandakan bahwa itu adalah cap resmi keluarga Kerajaan Paris.

"Kira-kira, apa pesannya?"tanya Raja Joann.

"Kami tidak tahu, yang mulia. Kami hanya menyampaikan amanat."ucap Jongin, diangguki Raja Joann.

Raja Joann merusak segel itu, kemudian membukanya dan membacanya. Jongin dan Kyungsoo saling bertatapan, wajah mereka serius sekali menunggu respon dari Raja Joann.

"Ini gawat sekali."gumam Raja Joann.

Raja Joann selesai membaca suratnya. Ia memanggil prajurit bawahannya dengan bahasa Berlin, kemudian memberi beberapa perintah padanya. Prajurit itu mengangguk, kemudian segera berlari keluar untuk melaksanakan perintah.

"Kami akan menyediakan ruang terbuka besar di belakang kastil, untuk pengungsian Kerajaan Paris dan penduduk Kerajaan Roma. Prajuritku akan mengirim pasukan kavaleri hitam untuk bala bantuan kalian, dan satu prajuritku akan mengirimkan pesan cepat melalui burung elang ke Kerajaan Amsterdam untuk membantu pasokan senjata dan perbekalan. Kerajaan Paris dan Roma akan kami terima di sini."jelas Raja Joann, membuat Jongin dan Kyungsoo menghela nafas lega.

"Terimakasih, Yang Mulia Raja Joann!"sahut keduanya, kemudian membungkuk hormat.

"Karena kalian sudah jauh-jauh datang kemari, istirahatlah sejenak di kamar tamu dan isilah perut kalian. Aku akan mengutus pelayan istana untuk mengirim kalian makanan."ucap Raja Joann.

Kyungsoo mengangguk setuju, tetapi Jongin sebaliknya.

"Maaf, Raja Joann. Dengan segala hormat, saya harus kembali ke Paris untuk membantu infanteri melawan Saxon. Saya tidak bisa membiarkan teman-teman saya bertarung selagi saya di sini."ucap Jongin, membuat Kyungsoo kaget.

"Jongin! Kau sudah berbuat banyak pada Paris! Istirahatlah sejenak, kita kembali sore ini!"ucap Kyungsoo.

"Kyungsoo, maaf, tapi tidak ada waktu. Aku harus kembali ke sana. Kau tetaplah di sini, istirahatlah di kamar itu. Aku tidak bisa meninggalkan Paris begitu saja. Raja Marseilles membutuhkan tenaga prajuritku."ucap Jongin.

Kyungsoo menggeleng, dengan kedua tangan menahan tangan Jongin–lebih tepatnya, meremasnya kuat. Jongin menatap mata Kyungsoo yang berkaca-kaca, mengharapkan Jongin untuk istirahat sejenak dari segala urusan peperangan ini.

Persetan dengan perang, Kyungsoo sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan Jongin yang menurun akibat terlalu banyak pikiran dan tugas perang.

"Istirahatlah, Jongin. Raut wajahmu menyatakan bahwa kau belum istirahat beberapa hari ini."ucap Raja Joann, menengahi perdebatan Kyungsoo dan Jongin.

Jongin menatap Raja Joann sekilas, kemudian menatap Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk ke arah Jongin, dan Jongin menghela nafas pelan. Ia sendiri–sebenarnya–mengakui bahwa tubuhnya telah berontak karena kelelahan.

"Baiklah. Beberapa jam."ucap Jongin, diangguki Kyungsoo.

"Oke."

Raja Joann mengangguk pada mereka, kemudian memerintahkan seorang maid istana untuk mengantar keduanya ke kamar tamu kastil itu. Kyungsoo memegang erat tangan Jongin, dengan Jongin yang mengusap tangan Kyungsoo yang memegangnya.

"Terimakasih."bisik Kyungsoo, membuat Jongin mengernyit heran.

"Untuk?"tanya Jongin.

"Karena mau mengistirahatkan dirimu."jawab Kyungsoo, disusul oleh senyuman cantik yeoja tambatan hatinya itu.

Pandangan Jongin meneduh, kemudian tersenyum pada Kyungsoo. Ia mengecup pucuk kepala Kyungsoo, sembari berjalan mengekori maid istana itu menyusuri lorong, menuju kamar tamu.

"Dies ist das Gästezimmer."ucap maid itu, diangguki Kyungsoo yang mengerti ucapannya. [Ini kamar tamunya.]

"Danke."sahut Kyungsoo. [Terimakasih.]

CKLEK

Jongin membuka pintu itu, mempersilahkan Kyungsoo masuk lebih dulu. Kamar itu cukup besar, dengan kasur king size dan jendela besar. Sebuah lemari ada di sana, dengan meja rias dilengkapi cerminnya. Kamar itu megah, untuk ukuran Jongin.

"Wow, aku tidak pernah tahu bahwa kamar tamu semegah ini."gumam Jongin.

GREP

Jongin menoleh, ketika merasakan seseorang menggenggam tangannya. Kyungsoo ada di sana, memegang tangannya dengan kedua tangannya yang berjari lentik. Ia tersenyum manis pada Jongin, kemudian mengecup punggung tangan Jongin.

"Tangan ini.. sudah banyak melakukan pengorbanan dan perjuangan, menjadi saksi dari kerja keras seorang anak yang begitu menghargai hidupnya dan melindungi orang-orang yang ia cintai."gumam Kyungsoo, lirih.

Jongin tercekat mendengar ucapan Kyungsoo, kemudian tersenyum. Dia mengusap wajah cantik Kyungsoo, merekam jelas-jelas wajah dengan manik mata yang indah itu. Jongin tidak pernah bosan menatap Kyungsoo.

Ia menarik tangan Kyungsoo, dan Jongin duduk di pinggir kasur. Kyungsoo berdiri di hadapannya, mengusap wajah Jongin dengan kedua tangannya.

"Untuk apa yang akan terjadi nanti malam, kita tidak akan tahu."bisik Kyungsoo, lirih (read, kalimat ini diadaptasi dari film King Arthur).

Jongin terpana dengan ucapan Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum lembut.

CHU!

Kyungsoo segera duduk di pangkuan Jongin, melingkarkan kakinya pada pinggang Jongin. Jongin mengecup bibir Kyungsoo, mendekap yeoja itu dengan erat. Kali ini, dia tidak akan melepaskan Kyungsoo.

Kyungsoo memejamkan matanya, meremas rambut Jongin dengan lembut. Jongin menghisap bibir atas dan bibir bawah Kyungsoo bergantian, sesekali menginvasi isinya dengan lidah panjangnya. Tangannya meraba-raba tubuh Kyungsoo, sesekali menarik gaunnya.

"Eungh.. eunghhh.."

Jongin menyudahi ciumannya, kemudian menatap Kyungsoo dengan tatapan sefokus mungkin. Kyungsoo merasa nafasnya tercekat oleh tatapan itu. Ia tidak pernah melihat Jongin menatap seseorang sefokus itu.

CHU!

"Ahhhh..."

Jongin mencium leher Kyungsoo, membuat Kyungsoo refleks menengadahkan kepalanya. Kyungsoo merasa tubuhnya bergetar, dan ia mendekap Jongin sekuat-kuatnya. Jongin menggigit dan mengecupi bagian leher Kyungsoo, dengan kedua tangannya tidak berhenti mengusap dan meremas bagian tubuh Kyungsoo.

"Ahh.. Jonginhh..."desah Kyungsoo, lirih dan serak.

Jongin mengecup bagian rahang Kyungsoo, kemudian menatapnya tepat pada matanya. Ia menarik tangan Kyungsoo, membawanya ke atas kasur. Dengan lembut, ia menidurkan Kyungsoo.

Ini bukan yang pertama bagi Kyungsoo, tapi Kyungsoo merasa kembali menjadi perawan karena ini adalah yang pertama ia bersama cintanya, bersama Jongin. Jongin merangkak ke arah Kyungsoo–entah kenapa terlihat seperti predator kelaparan oleh Kyungsoo–dan mengendus tubuh Kyungsoo yang masih berbalut gaun.

"Aku sudah tidak tahan, Kyungsoo. Kau adalah milikku, dan akan selalu begitu."

Milikku.

Sebuah kata posesif yang berhasil membuat Kyungsoo merona pekat. Jongin mengecup bibir Kyungsoo yang sudah agak membengkak, dengan tangan yang bergerak ke arah ikatan gaun Kyungsoo. Dengan sekali tarikan, ia menarik tali gaun itu perlahan.

Dengan mantap, Jongin menarik gaun Kyungsoo dari tubuh mungilnya. Jongin melepas ciumannya dengan Kyungsoo, kemudian menatap tubuh Kyungsoo yang sudah dilepas gaunnya. Nafasnya tercekat, dan pandangan Jongin meliar–naluri buasnya sebagai seorang namja mulai berjalan.

Tubuh itu indah, mulus, dan begitu sempurna.

"Jong.. Jongin.."gumam Kyungsoo, dengan wajah malu yang kentara.

"Kau sempurna, dear."

Jongin duduk di atas tubuh Kyungsoo, kemudian melepas pakaian ketentaraannya. Ia agak kesulitan dengan pakaiannya, sehingga Kyungsoo membantunya membukanya. Kemudian, tinggallah celana Jongin.

Kyungsoo tercekat dengan tubuh indah Jongin. Ber-abs, begitu kokoh, berotot khas tentara, dengan kulit tanned yang seksi. Siapa sangka bahwa namja yang begitu lembut sifatnya ini adalah namja dengan rupa bak dewa-dewa Yunani?

"Kau indah.."puji Kyungsoo, lirih.

Jongin tersenyum lembut, kemudian mengecup leher Kyungsoo. Ia turun ke bahu Kyungsoo, merasakan kulit di sana. Ia menciptakan banyak kissmark, membuat Kyungsoo heran bagaimana Kai–yang notabene baru pertama kali bercinta–ternyata bisa selihai itu.

Kepala Kai turun ke payudara Kyungsoo. Kedua payudara itu besar dan indah, dan Jongin menangkup payudara kanannya dengan satu tangan. Ia meremas payudara itu pelan, kemudian menatap ekspresi Kyungsoo.

"Enghh... ja-jangan di situhh.."desah Kyungsoo, lirih.

Jongin tersenyum, kemudian mengecup payudara itu lembut. Ia pun menghisap nipple Kyungsoo, kuat dan mantap. Satu tangannya lagi meremas payudara Kyungsoo yang satunya, dengan kekuatan yang mantap.

"Ohhh... Jonginhh... hhhh... kauhhh... enghh..."desahan Kyungsoo semakin verbal.

Jongin beralih ke payudara satunya, memperlakukannya sama seperti payudara sebelumnya. Meremas dan menghisapnya, mengulum nipple itu dengan kuat dan lembut secara bersamaan.

"Jonginhhhh..."desah Kyungsoo.

Mulut Jongin turun ke perut ramping Kyungsoo, merasakan kulit mulus di sana. Ia menciuminya dengan bersemangat, dengan tangan tak hentinya mengusap kulit putihnya–menggoda Kyungsoo.

"Jonginhhh..."desah Kyungsoo.

Jongin turun ke bagian penting Kyungsoo. Jantungnya berdetak kencang menatap mahakarya indah Tuhan di hadapannya. Ia mengusap paha Kyungsoo dengan begitu berhati-hati–seakan ia adalah porselen yang mudah pecah. Ia memandangi bagian vital Kyungsoo dengan penuh puja. Indah dan mengundang.

"Ja-jangan menatapnya begitu.."gumam Kyungsoo, dengan wajah malu.

Jongin menatap wajah Kyungsoo, kemudian maju dan mengecup bibirnya lembut. Ia menatap Kyungsoo dengan penuh cinta dan fokus.

"Aku begitu mencintaimu. Kau sangat indah, Kyung. Kau membuatku sulit bernafas."ucap Jongin, lirih.

Kyungsoo tersenyum mendengarnya. Jongin menatap bagian vital Kyungsoo, kemudian memposisikan tangannya di sana. Kyungsoo menatap wajah Jongin dengan raut muka yang mulai berubah, seiring dengan jari telunjuk Jongin yang dimasukkan ke dalam hole-nya.

"Ahhhh... it hurts.."gumam Kyungsoo, dengan mata terpejam.

Jongin menatap wajah Kyungsoo dengan serius, berharap tindakannya tidak menyakiti yeoja itu. Hole Kyungsoo begitu ketat dan basah, membuat Jongin semakin memajukan jarinya ke dalam sana.

"Jonghh..."desah Kyungsoo.

Jongin menciumi kening Kyungsoo, kemudian menatap tangannya. Ia mempersiapkan jari tengahnya, dan kemudian masuk–menyusul jari telunjuknya tadi.

"Ahhhhh!"pekik Kyungsoo, merasakan sesuatu di dalam hole-nya.

Jongin memasukkan jarinya hingga batas maksimal, kemudian menariknya lagi keluar. Ia kembali memasukkannya, kemudian mengeluarkannya lagi. Perbuatannya mengundang desahan Kyungsoo.

"Jonginhhh... hhhh... ohhhh..."desah Kyungsoo, dengan nada yang meninggi.

Jongin merasakan bahwa Kyungsoo basah.

"Kau basah."gumam Jongin, membuat Kyungsoo menatapnya dengan sayu.

"Enghh.. iyahh..."desah Kyungsoo.

Jongin menyudahi kedua jarinya, menariknya keluar. Jongin membuka celananya, membuat milik-nya menyembul keluar. Kyungsoo sedikit kecewa ketika Jongin menarik jarinya, tetapi kemudian jantungnya mulai berdebar ketika Jongin memposisikan milik-nya di antara paha Kyungsoo.

"Kau yakin?"tanya Jongin, meminta persetujuan Kyungsoo.

Dengan mantap, Kyungsoo mengangguk.

Jongin menciumi wajah dan bibir Kyungsoo dengan dalam, bersamaan dengan milik-nya yang mulai masuk ke dalam hole Kyungsoo. Kyungsoo menengadahkan kepalanya kuat, merasakan kepala milik Jongin yang memasuki hole-nya.

"Ohhhh... Godhhh... Jonginhhh... ughhh..."desah Kyungsoo, semakin keras.

Jongin membiarkan Kyungsoo mendekapnya, dan satu tangannya tidak berhenti meremas payudara Kyungsoo. Ia menatap wajah Kyungsoo yang agak kesakitan, kemudian memantapkan dirinya.

Dengan satu hentakan keras, ia memasukkan milik-nya yang sudah mengeras.

"AHHHHHHH!"pekik Kyungsoo.

Kyungsoo memejamkan matanya, dengan nafas tersengal dan keringat bercucuran. Payudaranya bergerak naik turun, mengundang Jongin untuk menghisap nipple-nya kuat. Jongin mulai frustasi, ketika hole Kyungsoo meremas milik-nya dengan begitu kuat. Jongin sesekali menutup matanya, merasakan nikmat tiada tara hole Kyungsoo.

"Kyung, ugh! Kau, begitu... ahh!"pekik Jongin, ketika menyesuaikan dengan hole Kyungsoo.

"Ahhh... bergerakhh.. enghhh... Jonginhh..."desah Kyungsoo, dengan wajah sayu yang kentara.

Maka, Jongin pun mulai memundurkan milik-nya, hingga tersisa kepala milik -nya. Tetapi kemudian, ia langsung menghentakkannya lagi. Keras dan mantap.

"Ohhhh! Jonginhhh!"pekik Kyungsoo, ketika Jongin menghantam sisi sensitif dari dirinya itu dengan keras.

"Oh God!"pekik Jongin, merasakan remasan tubuh Kyungsoo pada milik-nya.

Jongin kembali melakukan kegiatan maju-mundur, gerakannya semakin keras dan keras. Kyungsoo bertumpu pada leher Jongin, mendekapnya erat. Satu tangan Jongin menahan tubuhnya di kasur, satunya lagi meremas payudara Kyungsoo dengan brutal.

"Ohhh! Jonginhhh! Kauhhh... UGH!"desah Kyungsoo, kini dengan teriakan yang membahana.

"Kyungsoo, UGHHH!"pekik Jongin, mengimbangi Kyungsoo.

Gerakan maju-mundur itu semakin kuat, semakin brutal, semakin liar. Jongin semakin liar memaju-mundurkan milik-nya, membuat Kyungsoo pasrah setengah mati. Saking kerasnya, suara-suara kecipak dari hantaman milik Jongin di bawah sana terdengar jelas di ruangan sunyi itu.

Jongin semakin mempercepat tempo tumbukannya, dengan Kyungsoo yang putuh asa oleh Jongin yang semakin brutal. Jongin menumbuknya dengan sangat luar biasa, hingga suara tumbukannya pun terdengar. Kyungsoo bisa merasakan milik Jongin memenuhi hole-nya, dan Jongin pun mengerang keras ketika merasakan pijatan hole Kyungsoo pada milik-nya. Tubuh Kyungsoo bergoyang karena gerakan maju-mundur Jongin, dan kedua payudaranya bergerak dengan cepat seiring dengan gerakan itu. Jongin memegangi pinggang Kyungsoo, kemudian menggerakkannya.

"Arghhh! Ughh!"geram Jongin, di sela-sela kegiatannya maju-mundur.

Wajah Kyungsoo memerah total, dengan kedua tangan yang lemas pada leher Jongin. Jongin semakin kuat menggerakkan tubuhnya, Kyungsoo pasrah pada apa yang Jongin lakukan.

"I love you, Kyung. I love you to my heart content."

Dengan sayu, Kyungsoo menatap Jongin yang tengah menatapnya dengan mantap. Wajah keduanya sudah berlinangan keringat, dengan rambut yang tidak lagi rapi dan pakaian berserakan dimana-mana. Jongin masih giat memaju-mundurkan milik-nya di dalam hole Kyungsoo.

"Ohhh! Ahhh! Jonginhhh! Akuhhh.. AHHH!"pekik Kyungsoo, ketika dirasa bahwa milik Jongin membesar di dalam sana.

"BERSAMAA!"

Dan akhirnya Jongin mengeluarkan cairan-nya di dalam hole Kyungsoo–saking banyaknya, hingga mengalir keluar dari hole Kyungsoo dan membasahi kasur.

Jongin merasakan kelelahan luar biasa, kemudian berbaring di samping Kyungsoo. Kyungsoo merapat pada Jongin, menatap namja di sampingnya dengan penuh cinta.

"Kau luar biasa."puji Kyungsoo, lirih.

"Kau juga."sahut Jongin.

Kyungsoo mendekap Jongin, sama dengan namja itu. Kyungsoo menatap milik Jongin yang masih berada di dalam sana, kemudian menatap wajah empunya.

"Kau belum mengeluarkannya."ucap Kyungsoo, disenyumi Jongin.

"Jangan. Aku ingin berada di dalammu selama mungkin."sahut Jongin, dikekehi Kyungsoo.

Kyungsoo mendekat pada Jongin, kemudian tersenyum lembut. Kyungsoo mengucapkan sesuatu–walau lirih, tapi terdengar Jongin. Serta merta, Jongin tersenyum.

"Jongin."

"Hmm?"

"Apa yang membuatmu ingin menyentuhku?"

Jongin menatap Kyungsoo, dengan tangan mengusap wajah Kyungsoo lembut. Kyungsoo menatapnya dengan penasaran, raut wajahnya yang kelelahan nyatanya tidak menyembunyikan kecantikan dewi miliknya.

Aku menyentuhmu, karena aku takut tidak bisa bertemu denganmu lagi setelah perang ini; batin Jongin. Tapi, tidak. Dia tidak bisa mengucapkan itu pada Kyungsoo.

Dia tidak akan menyerah atas Kyungsoo.

"Karena aku sudah terlalu mencintaimu."jawab Jongin, dengan senyuman tulus–itu juga jawaban tulus Jongin, sebenarnya.

Kyungsoo terkekeh mendengar alasan Jongin, ia pun mendekap Jongin erat. Jongin mengusap rambut panjang Kyungsoo, membawa yeoja itu ke dalam mimpi indah yang hangat.

Kyungsoo tidak menyadari, bahwa Jongin ketakutan akan perang yang akan terjadi malam nanti.

-XOXO-

Sore menjelang.

Jongin terbangun dari tidurnya, dengan Kyungsoo masih berada dalam dekapannya. Ia menatap Kyungsoo, kemudian menyadari bahwa milik-nya masih bersarang dalam hole Kyungsoo. Perlahan, ia menariknya keluar.

Ia menatap wajah Kyungsoo yang terlelap, kemudian mengecup pucuk kepala Kyungsoo. Dia mengusap wajah Kyungsoo dengan penuh cinta.

"Aku akan kembali. I promise."

Jongin bangun dari kasurnya, kemudian memungut seluruh pakaian ketentaraannya dan memakainya. Ia merapikan gaun Kyungsoo, menyampirkannya pada meja nakas di samping kasur itu. Ia mematut dirinya di hadapan cermin, lantas terdiam. Matanya terpaku pada kalung gigi singa pemberian Jongdae pada lehernya.

Perang ini tidak akan pernah selesai, kalau tidak ada yang menyelesaikan. Aku harus bisa menyelesaikannya; batin Jongin.

Ia menatap Kyungsoo yang masih tertidur, kemudian mengeratkan selimut untuk menutupi tubuh Kyungsoo sebatas leher. Jongin mengusap rambut Kyungsoo dengan penuh cinta, lantas berbisik pelan pada telinganya–entah yeoja itu mendengar atau tidak.

"Aku akan kembali, cintaku. I promise, and I will never give up on you."

Jongin mengecup pelipis Kyungsoo, cukup lama.

Setelahnya, ia segera berjalan pelan keluar kamar.

CKLEK

Jongin membuka pintu itu pelan, dan sebelum menutup pintunya, ia menatap Kyungsoo. Jongin tersenyum, lantas menghela nafas pelan. Ia memantapkan dirinya. Ia memantapkan dirinya untuk segera menyusul kawan-kawannya yang akan berperang di arena sana. Perang antara Saxon dan Paris, dan Jongin sudah berkomitmen untuk berada di barisan terdepan Paris, membela kerajaan yang sudah begitu berarti baginya.

Setelahnya, ia menutup pintu itu, dan menguncinya dari luar.

TO BE CONTINUED

Note :

ASDFGHJKL ARGHHHHH! #HappyKaiDay everyone (padahal kecepetan H-1 wkwkwk)

THIS IS MY FIRST NC FF OMG! WHY SO HAWT! AND THIS PART IS SO LONG ARGHH DAMMIT KAISOOO! I'M SOBBING SO HARD BRUH!

Oke guyss, no comment! Mind to REVIEW and FAVOURITE my FF?

HUANG AND WU