Previously (Chapter 14) :
CKLEK
Jongin membuka pintu itu pelan, dan sebelum menutup pintunya, ia menatap Kyungsoo. Jongin tersenyum, lantas menghela nafas pelan. Ia memantapkan dirinya. Ia memantapkan dirinya untuk segera menyusul kawan-kawannya yang akan berperang di arena sana. Perang antara Saxon dan Paris, dan Jongin sudah berkomitmen untuk berada di barisan terdepan Paris, membela kerajaan yang sudah begitu berarti baginya.
Setelahnya, ia menutup pintu itu, dan menguncinya dari luar.
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 15
Jongin menatap sekitarnya, kemudian mengendap-endap melewati lorong itu. Ia berusaha berlagak normal, dengan langkahnya menuju tempat dimana ia mengikat kuda yang ia bawa.
"Hey!"
Jongin menoleh, ketika dua orang prajurit menatapnya dengan heran. Mereka heran dengan pakaian ksatria Jongin yang berbeda dengan Kerajaan Berlin pada umumnya. Kedua prajurit itu berjalan cepat ke arahnya. Jongin menatap langit di luar. Matahari sudah agak menyimpang dari tengah, menuju ufuk barat.
Dia tidak ada waktu lagi.
TAP TAP TAP
"Hey! Haltestelle rechts!"pekik prajurit itu, lantas segera berlari ke arah Jongin yang berusaha kabur dari mereka. [Hey! Berhenti di situ!]
Jongin berlari cepat, ke arah taman istana. Dia yakin dia memarkir kudanya di pohon sekitar situ.
KIKIKIKIK!
Terdengar ringkikan kuda. Jongin segera berlari ke arah kuda miliknya yang masih terikat pada pohon. Ia mempercepat larinya, kemudian menarik untuk sekali tali itu dari posisi tertentu.
DUAGH!
Sayangnya, seorang prajurit berhasil mengejarnya dan langsung mendorongnya ke tanah. Prajurit itu mengunci pergerakan Jongin, dan Jongin sedikit meringis kesakitan ketika prajurit itu memelintir tangannya.
"Was geht hier vor sich?" [Apa yang sedang terjadi di sini?]
Kedua prajurit Berlin beserta Jongin pun menoleh, ketika seseorang menginterupsi mereka. Itu Raja Joann, dengan beberapa bawahannya yang setia. Raja Joann menatap mereka heran, mempertanyakan kedua prajurit itu.
"Er versuchte zu entkommen!"sahut seorang prajurit, mantap. [Tadi dia berusaha kabur!]
Raja Joann menatap kedua prajuritnya, kemudian menggeleng. Kedua prajurit itu heran, dan Raja Joann meminta keduanya untuk melepaskan Jongin.
"Er ist kein Bösewicht."ucap Raja Joann, membuat kedua prajuritnya tadi saling berpandangan bingung. [Dia bukan orang jahat.]
Raja Joann menatap Jongin, kemudian menghampirinya dan menyodorkan tangannya pada Jongin. Jongin menatap tangan itu, kemudian menyambutnya. Raja Joann membantu Jongin untuk bangun.
"Dilihat dari caramu pergi, kurasa ada yang kau sembunyikan."ucap Raja Joann.
Jongin menatap Raja Joann dengan kaget, lantas berdehem dan mengangguk–dia berpikir tidak ada gunanya ia berbohong pada Raja Joann. Raja Joann menatapnya dengan penasaran, meminta penjelasan. Dalam hatinya, Raja Joann tertarik untuk mengenal lebih jauh prajurit muda di hadapannya. Dia prajurit yang menarik, tidak mengherankan Raja Marseilles mengirimnya; batin Raja Joann.
"Aku harus pergi diam-diam. Aku tidak ingin Kyungsoo memergokiku. Dia akan aman di sini, dan aku harus kembali ke Paris dan melawan Saxon bersama teman-temanku."ucap Jongin, lirih.
Raja Joann menatap tepat ke dalam hazel cokelat Jongin, melihat ketulusan, keberanian, kejujuran, dan kesetiakawanan yang kentara. Raja Joann mengulas senyum, kemudian menepuk bahu Jongin.
"Maka, pergilah."ucapnya.
Jongin menatap Raja Joann dengan kaget, serta merta mengangguk mantap dan berlari ke arah kudanya. Dengan sigap, ia menaiki kudanya.
"HA!"
Ia memacu kudanya, keluar dari kastil itu, ke arah Paris.
"Mein König, warum läßt du ihn gehen?"tanya prajurit yang tadi menahan Jongin, menatap heran ke arah rajanya. [Rajaku, kenapa kau membiarkannya pergi?]
Raja Joann menatap tempat terakhir Jongin terlihat, lantas menghela nafas pelan.
"Kein Wunder, warum König Marseilles ihn hier behalten will."jawab Raja Joann, diselingi senyuman di atas wajah berwibawanya. [Tidak heran kenapa Raja Marseilles ingin dia dijaga di sini.]
Kau memiliki prajurit yang luar biasa, Marseilles.
.
Isi surat Raja Marseilles kepada Raja Joann
Kepada Joann, kawanku
Joann, Paris akan dibombardir oleh Saxon. Kami akan mengungsi ke area kerajaanmu. Kuharap, kau mau berbaik hati membuka gerbang dan membiarkan rakyat-rakyatku mengungsi ke sana.
Kurir pesan ini bernama Kim Jongin. Dia adalah seorang prajurit kerajaanku. Prajurit terhebat dalam infanteriku.
Joann, aku ingin kau menjaganya. Aku tidak ingin dia tewas pada peperangan. Dia terlalu berharga untuk tewas di tangan Saxon. Mohon, tahan dia selama mungkin dalam kerajaanmu. Usahakan agar dia tidak kembali ke Paris.
Aku mengandalkanmu
Marseilles
.
-XOXO-
Matahari sudah menyapa ufuk barat, malam nyaris menyapa.
Sehun menatap langit di atasnya dengan cemas, lantas segera berlari ke arah gerobak-gerobak penduduk yang sudah siap. Seluruh penduduk sudah menaiki alat transportasi masing-masing. Keluarga kerajaan berada di barisan depan, dengan rakyat yang mengikutinya. Pasukan kavaleri disiapkan di sekeliling rombongan, melindungi mereka.
"Kita harus jalan sekarang, letnan."ucap Sehun pada Tuan Andrew.
Tuan Andrew mengangguk, kemudian memacu kudanya ke arah Jenderal Vincent. Jenderal Vincent mengangguk, kemudian menatap rombongan rakyat itu.
"Kita akan mulai berangkat. Go!"pekik Jenderal Vincent.
Rombongan itu pun berjalan, perlahan-lahan keluar dari gerbang Paris melewati gerbang belakang kerajaan. Sehun menatap dinding besar kerajaan Paris di belakangnya. Dinding yang begitu bersejarah baginya.
Dinding yang mempertemukannya dengan Kris.
Aku tidak akan menyerah pada keadaan, brother. Aku berjanji padamu; batin Sehun, menguatkan dirinya sendiri.
GONG GONG GONG
Suara genderang Saxon terdengar dari kejauhan. Jenderal Vincent dan Nathan saling berpandangan, khawatir. Tuan Andrew menarik nafas pelan, menenangkan dirinya. Sementara Sehun? Dia memacu kudanya di barisan belakang, meyakinkan bahwa tidak ada rakyat Paris atau Roma yang tertinggal.
"Ayo, jalan!"
-XOXO-
TAK TOK TAK TOK
Jongin memacu kudanya cepat, melawan arah angin malam. Dia harus segera bertemu Raja Marseilles. Dia tidak akan membiarkan dirinya diam saja melihat teman-teman sepasukannya bertempur melawan Saxon.
Mengingat nama Saxon, membuat Jongin mengingat nama Jongdae.
Apa kakaknya ini memegang kata-katanya? Apa mereka benar-benar akan bertemu di peperangan? Apa mereka akan saling membantu walau beda kubu? Jongin tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi malam nanti.
Dia terlalu ketakutan.
Jongin melintasi pohon-pohon, memacu kudanya dengan lihai. Airmatanya kembali menggenang, mengingat Jongdae. Dia harap kakaknya baik-baik saja. Dia harap, Peter Park tidak menyadari pengkhianatan yang dilakukan kakaknya.
Lalu, Kyungsoo.
Kyungsoo sudah aman sekarang. Jongin percaya pada Raja Joann–he feels it deeply. Kerajaan Berlin akan menjaga Kyungsoo, menjaganya untuk Jongin. Jongin tidak yakin, tapi ia hanya merasa bahwa Raja Joann ingin menahan Jongin di kerajaannya agar tidak kembali ke Paris.
Entah apa tujuannya.
-XOXO-
Angin dingin menyapa. Rakyat-rakyat Paris saling berdempetan di dalam kereta kuda dan gerobak mereka, saling menghangatkan diri. Sehun memusatkan perhatiannya pada tiga orang anak di dalam sebuah gerobak, dengan seorang yeoja menjaga mereka. Seorang namja yang bugar menarik gerobak itu–mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil.
"Mommy, kenapa Saxon benci pada kita?"tanya seorang anak namja berambut cokelat pada ibunya.
"Saxon membenci kita karena kita lebih bahagia dari mereka."jawab sang ibu, dengan tangan mengusap rambut anak yang tadi bertanya.
"Kenapa mereka tidak mencari kebahagiaan mereka sendiri? Susan kedinginan karena angin malam. Kalau mereka mencari kebahagiaan mereka sendiri, kita tidak akan kedinginan seperti ini."ucap seorang yeoja manis berambut pirang, dengan wajah cemberut yang kentara.
Sehun tersenyum miring mendengar ucapan itu. Interaksi keluarga itu cukup menghiburnya di kala perang seperti ini. Ibu dari tiga anak itu mengusap ketiga anaknya perlahan, menenangkan mereka dan meyakinkan mereka bahwa semua baik-baik saja.
Memberi harapan. Sehun tahu bahwa harapan itu kecil.
Tapi, Sehun bertekad untuk mewujudkan harapan itu.
Maka, Sehun memacu kudanya pelan, berjalan di samping gerobak itu. Keempat orang dalam gerobak itu menatap Sehun, dan dibalas oleh senyuman Sehun yang tampan.
"Kalian akan baik-baik saja. Aku janji."ucap Sehun, dengan nada yakin di sana.
Mendengar ucapan yakin Sehun, membuat ibu tiga anak itu nyaris menangis haru. Sehun mengangguk pada ibu itu, kemudian menatap tiga anak manisnya bergantian.
Sehun melepas pegangan pada tali kekang kudanya, kemudian melepas mantel besar khas tentara miliknya–terbuat dari bulu hewan–yang ia pakai. Ia menatap mantel itu, kemudian menyerahkannya pada mereka. Anak yang paling kecil menerimanya, merasakan kelembutan bulu pada mantel itu.
"Jangan sampai kedinginan. Kalian calon prajurit, tidak boleh sakit."ucap Sehun, dengan tangan kembali memegang tali kekang kudanya.
Ketiga anak itu menatap Sehun, kemudian terkekeh senang dan berterimakasih. Ia menatap ibu dari ketiga anak itu, kemudian mengangguk. Ibu tersebut sangat terharu dengan kebaikan hati Sehun. Ketiga anaknya melebarkan mantel itu, menjadikannya selimut dan menghangatkan tubuh mereka.
Sehun menatap ke depan, kemudian sedikit melambatkan kudanya. Ia menatap jalur di belakangnya dengan waspada, berharap Saxon belum mengejar mereka.
GONG GONG GONG
Terdengar suara gong lagi, kali ini lebih dekat. Sehun bisa lihat kepulan asap dari kejauhan. Kepulan asap itu terlihat dari balik bukit yang baru mereka lintasi–arahnya dari Kerajaan Paris. Sehun berdoa dalam hati.
Dia berdoa semoga Saxon tidak mengejar mereka.
-XOXO-
PRANG!
Peter Park melempar seonggok besi di hadapannya, menatap marah ke segala arah. Pasukan Saxon baru saja menerobos ke dalam gerbang kerajaan Paris, dan apa yang mereka dapati?
Hanya gundukan tanah kosong dengan bangunan-bangunan yang sudah diruntuhkan lebih dulu.
"Kemana semua orang!?"pekik Peter, marah.
Prajurit Saxon-nya sudah menyebar ke segala arah, mencari tanda-tanda kehidupan dalam dinding kokoh kerajaan Paris. Tapi, nihil. Tidak ada apapun yang tersisa. Baik itu harta benda maupun nyawa.
"Mereka tahu bahwa kita akan menyerang mereka."gumam Jongdae, membuat Peter frustasi.
"Bagaimana bisa!? Kita sudah mematangkan rencana ini! Bagaimana mereka bisa tahu!?"pekik Peter, dengan langkah yang tergesa-gesa–kebiasaan ketika Peter mulai kalut.
"Kurasa ada pengkhianat di antara kita."
Mendengar ucapan Jongdae, membuat Peter terdiam. Dia menatap ke dalam mata Jongdae, dan dibalas oleh anggukan Jongdae. Jongdae mengalihkan pandangan pada pasukan Saxon yang masih terus berpencar, kemudian menatap Peter.
"Tidak salah lagi. Ada yang berkhianat."ucap Jongdae, dengan nada menghasut yang tak dapat dielakkan.
Peter mengerang marah, kemudian berlari ke arah kastil kerajaan. Prajurit-prajuritnya masih berpencar, dan masih tidak ada tanda-tanda sesuatu–atau mungkin, tidak akan ada sesuatu. Kerajaan itu benar-benar kosong.
"SIAL! SIAPA YANG TELAH BERKHIANAT PADAKU, AKAN KU PENGGAL KEPALANYA!"pekik Peter, frustasi.
Dalam diam, Jongdae memperhatikan. Sejujurnya, tubuhnya mulai berkeringat dingin. Dia sangat menyadari resiko atas apa yang dia lakukan, tapi dia hanya diam. Peter sungguh percaya padanya bahwa ada pengkhianat di sana, dan Peter memang selalu percaya pada hasutan Jongdae.
Tanpa menyadari bahwa traitor itu ada di sampingnya.
-XOXO-
WUSH! WUSH!
Angin dingin semakin menyapa para pengungsi Paris dan Roma. Salju sudah turun perlahan, menyapa dengan cara yang tidak menyenangkan. Sehun menguatkan dirinya, menajamkan pandangannya. Dengan tenaga yang ada, dia memacu kudanya menuju Tuan Andrew.
"Kita tidak akan bisa mencapai Berlin."
Tuan Andrew menatap Sehun, mempertimbangkan ucapan Sehun. Tuan Andrew menatap rakyat-rakyat yang masih berjalan di belakangnya, kemudian menatap Jenderal Vincent yang berusaha menghalau dingin dengan mendekap dirinya sendiri di atas kuda.
"Kita tidak akan berhasil. Kita harus pakai plan B."ucap Sehun.
Tuan Andrew menatap Sehun, dengan pandangan nanar. Sehun benci pandangan itu, tapi mau bagaimana lagi. Dengan mata berkaca-kaca, Sehun mengangguk mantap–meyakinkan Tuan Andrew.
"Plan B adalah bunuh diri."ucap Tuan Andrew.
Kemudian, ia menatap senyuman miring di atas wajah Sehun. Senyuman miring, perpaduan dari keberanian dan keputusasaan.
"At least Kerajaan Paris selamat."
Tuan Andrew pun mengangguk padanya, kemudian memacu kudanya mendekat pada Jenderal Vincent.
"Vincent."
Jenderal Vincent menoleh, mendapati Tuan Andrew yang memasang wajah serius. Jenderal Vincent bisa menangkap isyarat itu. Isyarat akan sesuatu yang buruk, namun final dan tidak dapat diubah lagi.
"Kita harus berpindah pada plan B."
.
.
"Kita tidak akan berhasil membawa seluruh rakyat. Harus ada yang berkorban."
-XOXO-
"Eungh.."
Suara lenguhan seorang yeoja terdengar, manakala angin menyusup dari ventilasi, menyapa tubuh naked-nya yang tertutup selimut. Kyungsoo membuka matanya, berusaha membiaskan cahaya pada matanya.
Kasur di hadapannya kosong.
Kyungsoo bangun seketika. Ia menatap sekitarnya panik, kemudian menyingkap selimut itu dari atas tubuhnya. Dia menatap kamar itu, tepatnya ke arah lantai.
Tidak ada pakaian Jongin di sana.
Kyungsoo mengendarkan pandangannya, lantas menemukan set gaun miliknya telah ditaruh rapi pada meja nakas. Kyungsoo segera meraihnya, kemudian memakainya.
Setelah memakainya, ia berjalan ke arah pintu. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran, dan dia sudah menduga bahwa ini akan terjadi.
Nyatanya, Jongin lebih cerdik dari Kyungsoo.
KLAK! KLAK!
Ketika Kyungsoo berusaha memutar kenop pintu, pintu itu tak mau terbuka. Terkunci, dari luar. Siapa lagi kalau bukan karena Kim Jongin?
"Hey! Heyy!"pekik Kyungsoo, berusaha memanggil mereka yang ada di luar.
BUG BUG BUG
Kyungsoo menggendor pintu itu dari dalam, tapi tidak ada yang merespon dari luar. Kyungsoo menghela nafas berat, lelah dengan apa yang dia lakukan. Kepalanya tertunduk, ketika ia menyadari ada sesuatu di sana.
Sebuah surat.
Kyungsoo berjongkok, meraih surat itu. Ia membawa surat itu ke pinggir kasur, kemudian duduk di sana. Gaunnya mengikuti tubuhnya yang elok, menghiasi Kyungsoo dengan indah.
.
Kyungsoo, ini Raja Joann.
Jongin menitipkanmu padaku. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa melepaskanmu dari ruangan. Jongin sendiri yang ingin agar kau terkunci dalam ruangan itu. Dia tidak ingin kau terkena bahaya dari peperangan ini.
Sebenarnya, Marseilles memintaku untuk menjaga kalian berdua, untuk menahan Jongin kembali ke Paris. Tapi, aku tidak bisa. Aku tidak bisa menahan seekor singa bijak di dalam kandang. Jongin tahu apa yang dia lakukan, dan dia hanya mengharapkan doa darimu.
Maaf jika aku harus membiarkanmu terkurung dalam kamar. Jangan menggedor atau berusaha mencari pertolongan, karena seluruh penghuni kastil sudah tahu mengenai hal ini. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan karena tindakan yang sia-sia.
Berdoalah untuk Jongin.
.
Kyungsoo menangkup wajahnya dengan satu tangan, airmatanya tumpah ruah membaca surat itu. Ia terisak pelan, dengan tangan yang mulai meremas surat itu. Kyungsoo tertunduk, kemudian tatapannya teralih pada jendela kamar itu.
Kyungsoo berjalan ke arah jendela itu, menatap pemandangan Kerajaan Berlin di sana. View yang sangat indah dan menenangkan.
Tapi, view itu gagal untuk menenangkan hati Kyungsoo.
"Jongin.."
-XOXO-
SREK SREK SREK
Prajurit-prajurit Paris mempersiapkan gerobak berisi persenjataan mereka. Barisan pengungsi itu berhenti berjalan sejenak, seiring dengan pasukan Paris yang bersiap.
Raja Marseilles menatap prajurit-prajurit dan rakyatnya–yang mampu memegang senjata–yang akan bertarung. Jenderal Vincent berjalan ke arahnya, kemudian membungkuk hormat.
"Persenjataan telah siap, wahai rajaku. Tak perlu ada yang dikhawatirkan. Pasukan kavaleri Berlin akan menyambut para pengungsi di balik bukit di sana, tidak jauh. Jika kami butuh pertolongan, kami akan memberi isyarat pada mereka."jelas Jenderal Vincent.
"Tidak, bukan itu yang aku khawatirkan."ucap Raja Marseilles.
"Lalu, apa itu, rajaku?"tanya Jenderal Vincent.
Raja Marseilles menatap Jenderal Vincent, dengan raut wajah serius.
"Jongin. Dan para anggota pasukan lainnya, termasuk dirimu."
Jenderal Vincent menatap Raja Marseilles dengan bingung. Jongin? Namja itu sudah aman di Kerajaan Berlin sekarang, sesuai permintaan pribadi Raja Marseilles.
"Aku punya firasat dia akan kembali kemari."ucap Raja Marseilles.
"Raja, dengan segala hormat, firasat anda itu–"
TAK TOK TAK TOK
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, terdengar langkah kaki kuda dari kejauhan–dari arah Kerajaan Berlin. Raja Marseilles dan Jenderal Vincent menatap ke arah jalan di hadapan mereka yang membentang, berhiaskan salju yang turun.
Dengan seorang pengendara kuda di sana, perlahan mendekat ke arah mereka.
"I know it. Firasatku tidak pernah salah."ucap Raja Marseilles, membungkam Jenderal Vincent.
Pengendara kuda itu adalah Jongin.
TO BE CONTINUED
Note :
Yehetttt!
Well, the war will begin in next chapter! Jangan lupa nantikan next chapter yaaa! Perang perang peraaaang!
I don't know why, but I fall in love deeper and deeper with Jongin here. HAW jadi makin cinta sama karakter Jongin di sini, UGH! Like, hell, dia bener-bener mengorbankan semuanya demi Paris!
Ayo, guys, support Jongin dengan REVIEW and FAVOURITE! Kalo REVIEW dan FAVOURITEnya kurang, bisa-bisa Jongin HAW suntik mati di FF ini /hmmmm, what a bad idea, actually/
AND I'M GOING TO CONTINUE THIS STORY BECAUSE I JUST GOT A LOT OF INSPIRATIONS! SUPPORT ME, PLEASEEEE~
HUANG AND WU
