Previously (Chapter 15):
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, terdengar langkah kaki kuda dari kejauhan–dari arah Kerajaan Berlin. Raja Marseilles dan Jenderal Vincent menatap ke arah jalan di hadapan mereka yang membentang, berhiaskan salju yang turun.
Dengan seorang pengendara kuda di sana, perlahan mendekat ke arah mereka.
"I know it. Firasatku tidak pernah salah."ucap Raja Marseilles, membungkam Jenderal Vincent.
Pengendara kuda itu adalah Jongin.
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 16
"JONGIN!"
Pekikan Jenderal Vincent membuyarkan seluruh pasukan dan rakyat Paris sejenak. Jongin melambatkan laju kudanya, kemudian berhenti di hadapan Raja Marseilles. Ia turun dari kudanya, kemudian menarik kekangnya perlahan, dan berlutut di hadapan sang raja.
"Aku kemari hendak mengabdi. Izinkan aku mengabdi untuk Kerajaan Paris."
Raja Marseilles benar-benar tersentuh dengan Jongin. Dia berjalan mendekati Jongin, membuat jubah kerajaannya sedikit terseret tanah—lagipula, ia tidak peduli. Sang raja mengangkat tongkat kebesarannya, kemudian menaruhnya ke atas kepala Jongin.
"Dengan segala kekuatanku, kau kuterima dalam pasukan ini. Selamat datang kembali, anakku."
Jongin mendongakkan kepalanya, mantap. Ia berdiri, kemudian mempersiapkan pedangnya. Ia berhadapan dengan Raja Marseilles, dan jelas Jongin menangkap raut khawatir di sana.
"Tak perlu khawatir, rajaku. Aku akan berjuang sampai mati untuk Kerajaan Paris. Kalaupun aku harus mati, biarlah aku mati seperti rekanku, Letnan Kris yang terhormat, dan tak sia-sia."ucap Jongin, mantap.
Sehun terdiam mendengar ucapan Jongin. Jongin menatap Sehun, dan mengangguk mantap padanya. Sehun menguatkan hatinya, ikut mengangguk pada isyarat Jongin. Jongin menatap Raja Marseilles lagi, kemudian tersenyum.
"Ayo, kita bersiap."
-XOXO-
Seluruh pasukan Saxon telah menempuh jalan yang beberapa waktu lalu dilalui rakyat Paris. Mereka mengikuti jejak kereta kuda yang tercetak pada tanah tersebut, mengindikasikan bahwa targetnya belum jauh. Peter Park masih menahan amarahnya, dengan Jongdae yang setia di sampingnya.
"Jongdae."
Jongdae menoleh, mendapati Peter Park menatapnya. Terdapat raut khawatir di sana, tetapi jelas mata nyalang Peter akan menyembunyikan semua itu. Ia menatapnya dengan serius, membuat Jongdae tidak bisa berkedip karenanya.
"Kalau aku mati dan rakyatku menderita, aku akan menyerahkan tampuk kepemimpinan Saxon padamu. Kaulah orang yang paling bisa kupercaya di sini, bersama, kita sejahterakan rakyat Saxon yang selama ini menderita di bawah penaklukan Roma. Kita akan menguasai tanah Eropa, menjadi kaum yang paling ditakuti di seluruh daratan, dan memerdekakan diri kita sendiri."
Jongdae terdiam. Ia menatap Peter Park, kemudian sedikit berdeham. Peter menyadarinya, kemudian menoleh lagi pada Jongdae. Jongdae menatapnya dari balik cadarnya, wajahnya yang setengah terbakar membuatnya terlihat sungguh menyeramkan.
"Apa anda benar yakin ingin menerima saya sebagai pemegang tampuk kepemimpinan? Tuan, dengan segala hormat, andalah yang seharusnya memimpin kemerdekaan Saxon. Saya tidak bisa memegang kekuasaan tersebut."ucap Jongdae, membuat Peter tertawa pelan.
"Dari ucapanmu, aku jelas semakin mempercayaimu, kawan. Kau adalah satu dari sekian prajurit terpercaya, yang tidak akan melakukan korupsi atau berkhianat. Aku percaya, kau akan menjadi pemimpin Saxon yang luar biasa."ucap Peter, membuat Jongdae semakin diam—tidak tahu harus membalas apa.
"Tuan, saya bukan orang yang tepat. Saya bukan darah asli Saxon."ucap Jongdae, membuat Peter jengah.
"Tapi jelas kesetiaanmu menempatkanmu jauh di atas prajurit berdarah Saxon murni!"
Jongdae terdiam. Jika Peter Park sudah meninggikan suaranya, maka itu berarti ia tidak mau dibantah sedikitpun. Peter menarik nafas pelan, kemudian menatap ke arah depan dengan serius. Jongdae mengalihkan pandangan, dengan genggamannya pada belati di pinggangnya semakin erat.
"Kau akan memimpin Saxon jika aku mati di medan tempur. Tanpa ada penolakan. Saxon akan menerimamu."
Sungguh, Jongdae berharap semua adalah mimpi.
-XOXO-
Jongin mengecup tangan Raja Marseilles, kemudian membantunya menaiki kereta kudanya. Seluruh rakyat Paris sudah berangkat lebih dulu, dengan kereta dan rombongan pasukan raja menunggu kepergian kereta kerajaan.
"Aku mempercayaimu, Jongin. Kalah atau menang, kau akan selalu diberkati."ucap Raja Marseilles, diangguki Jongin.
"Kita akan menang, rajaku. Kita akan menang."ucap Jongin, membuat Raja Marseilles tersenyum.
"Semoga saja."
Kereta kuda itu mulai berjalan, bersama dengan beberapa pasukan berkuda beriringan di sekelilingnya—membentuk barrier pertahanan. Jongin menatap kepergian seluruh pasukan itu, kemudian menatap sisa pasukan yang akan pergi melawan bersamanya.
Melawan Saxon.
"Sehun dan seluruh pemanah, segera pergi ke tebing itu dan tunggulah di sana hingga aku memberi sinyal kalian memanah, yaitu sebuah pohon yang tumbang. Tuan Andrew, bawa pasukan baju baja ke arah selatan, jangan lebih dari sungai. Kalian akan menyerang Saxon dari barisan belakang, saat mereka berbelok di jalur ini. Jenderal Vincent, kau dan pasukan bertahan akan menunggu di balik pepohonan sana, bersiap dengan perisai anti-panah kalian. Sisanya, kalian akan ikut aku untuk menaiki pepohonan ini. Kita akan menjadi pertahanan garis depan, yang akan membantai Saxon sesaat setelah mereka tiba tepat di jalan ini. Jangan sampai terlihat. Hindari kontak langsung, maksimalkan senjata jarak jauh dan menengah."jelas Jongin, memberikan siasat-siasat jitu untuk melawan Saxon nantinya.
Pasukan-pasukan tersebut segera menuju posisi mereka. Sehun menatap Jongin, kemudian menghampirinya dan mendekapnya erat. Jongin sangat menyadari kekhawatiran Sehun, dan ia bersyukur sahabatnya baik-baik saja sejauh ini. Sehun menatap Jongin, kemudian menyatukan kedua kening mereka. Mereka saling terpejam.
"Berjanjilah untuk selamat, brother."ucap Sehun, diangguki Jongin.
"Pasti. Kau juga."
Sehun mengangguk, kemudian menepuk kepala Jongin dengan bersahabat sekali, dan segera menyusul pasukannya ke tempat dimana mereka ditempatkan pada strategi Jongin. Tuan Andrew menghampiri Jongin, membuat Jongin menoleh ke arahnya.
"Bawa ini, Jongin, in case you are in danger."
Tuan Andrew menyerahkan sebuah kalung salib berwarna perak yang begitu mengkilat. Ia mengenakannya pada Jongin, lalu mencium salib tersebut. Ia tersenyum pada Jongin, kemudian berjalan ke posisi siasatnya.
Jenderal Vincent berjalan ke arahnya, dan tanpa berbicara apa-apa, ia mengecup pucuk kepala Jongin. Ia mengangguk mantap padanya, kemudian berjalan menuju posisinya. Jongin memastikan bahwa seluruh pasukan sudah dalam posisi, dan kini dia berjalan ke arah sebuah pohon besar.
"Kau, bantu aku menggergaji pohon ini."
Jongin meminta satu prajurit untuk membantunya menggergaji pohon besar tersebut. Perintahnya yang lain adalah menempatkan sebuah tali di antara dua pohon, dan merentangkannya sampai kuat. Seorang prajurit lagi, atas instruksinya, membawa sebuah batang kayu besar dan mengikatkannya pada sebuah sudut ideal jalan tersebut.
Kau mungkin lebih kuat daripada kami, tapi kami tidak akan mundur.
-XOXO-
Kyungsoo menatap gundah ke luar jendela istana. Sudah seharian ini ia hanya diam di sana, wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendasar. Ia tidak bisa tenang, selalu gundah seharian itu. Tak ada detik berlalu tanpa memikirkan Jongin dan keselamatannya.
TOK TOK
Seorang pelayan masuk, dan membawa sebuah nampan makanan. Pelayan kerajaan itu menyadari bahwa Kyungsoo belum menyentuh makannya barang sekali pun di hari itu—nampan sarapan dan makan siangnya masih penuh. Pelayan itu berubah khawatir, kemudian menaruh nampan itu dan berjalan keluar sedikit cepat.
Beberapa lama kemudian, seseorang masuk, bersama pelayan tersebut. Kyungsoo tidak menaruh minat untuk tahu siapa yang sudah masuk.
"Tidak lapar, nona?"
Kyungsoo menoleh, menyadari bahwa Raja Joann memasuki kamarnya. Kyungsoo berdiri dengan anggun, kemudian mengangguk dan sedikit membungkuk. Raja Joann menatap Kyungsoo, kemudian menghela nafas pelan. Seorang pelayan membawakannya sebuah kursi, membiarkan sang raja duduk di sana. Kyungsoo kembali duduk pada posisinya, menunduk pada sang raja.
"Kamu sangat cantik, Kyungsoo. Tidak heran Jongin begitu posesif padamu."
Kyungsoo menatap Raja Joann, kemudian tersenyum dan mengangguk. Ia menatap ke arah langit di sampingnya, masih sama khawatir dengan sebelumnya. Raja Joann menatap ke arah langit yang sama, kemudian berdehem sedikit.
"Jongin adalah prajurit yang loyal, dia jelas sangat setia pada Kerajaan Paris. Tidak ada alasan bagiku menahan seorang prajurit berhati bersih sepertinya. Dia hanya ingin berjuang."ucap Raja Joann, membuat Kyungsoo sedikit tersenyum.
"Dan aku pun ingin berjuang, rajaku. Dengan segala hormat, aku keberatan untuk ditahan di sini."ucap Kyungsoo, dan Raja Joann mengangguk paham.
"Kau di sini pun karena Jongin yang meminta. Kami tidak mungkin melanggar janji kami padanya. Sudah cukup aku mengingkari janjiku pada Marseilles untuk menjaga kalian berdua, tidak perlu kau ikut ke sana dan membuatku ingkar janji kedua kalinya."ucap Raja Joann, membuat Kyungsoo menunduk lesu.
"Raja, dengan segala hormat, aku adalah seorang pemanah andal. Aku 3 kali menjuarai lomba memanah di tanahku, menjadi wanita pertama yang memenangkan juara lomba memanah. Aku tidak bisa tinggal diam dan membiarkan mereka menghancurkan kerajaan yang telah mempertemukanku dengan Jongin. Paris adalah tempat yang sangat berharga bagiku. Kami sudah diikat garis takdir di kerajaan itu, tidak mungkin aku hanya tinggal diam dan membiarkan semua terjadi tanpa berjuang sekali pun."
Raja Joann terdiam mendengarnya. Kyungsoo menatapnya dengan berani, kemudian menarik nafas pelan. Matanya sungguh berkaca-kaca. Kyungsoo murni mengkhawatirkan Jongin dan kondisi Kerajaan Paris—mengingat bahwa Saxon tidak akan membiarkan satu orang pun lolos dari cengkramannya.
"Jika aku membiarkanmu pergi, Nona Kyungsoo, aku berharap satu hal."
Kyungsoo menoleh kaget, mendengar ucapan Raja Joann. Sang raja berdiri, kemudian menepuk tangannya. Datanglah seorang prajurit, dan kemudian berlutut di hadapan sang raja. Raja tersebut mengangkat dua buah benda dari prajurit itu. Satu set panahan, dengan sebuah pedang besar dalam sabuknya.
"Berjanjilah kau akan membawa Jongin kembali ke sini, dengan selamat."
Kyungsoo serta merta berdiri di hadapan sang raja, kemudian membungkuk dalam. Ia menyanggupi satu permintaan itu. Ia menatap sang raja dengan mantap, dan Raja Joann tersenyum. Ia menyerahkan kedua alat itu pada Kyungsoo, membuat Kyungsoo terpana.
"Ada seekor kuda menantimu di stable di bawah, berwarna cokelat, seekor betina kuat dan handal sepertimu. Akan ada seekor burung hantu putih mengikutimu. Jika kau berpapasan dengan Raja Marseilles, kirim sebuah peringatan ke sini. Kami akan menjemput Raja Marseilles dan rakyat Paris dengan infanteri kami yang telah bersiap di kerajaan."
Kyungsoo mengangguk, kemudian membungkuk singkat dan berjalan dengan mantap ke luar kamar.
"Nona Kyungsoo."
Kyungsoo terdiam, kemudian berbalik dan mendapati Raja Joann yang menatapnya mantap. Raja tersebut tersenyum, membuat hati Kyungsoo menghangat seketika.
"Atau perlu kupanggil, Prajurit Do Kyungsoo."
Kyungsoo terdiam mendengarnya. Belum pernah ada orang yang mau mengakui dirinya sebagai prajurit tangguh. Pertama kalinya seseorang memanggilnya sebagai prajurit, dan bahkan seorang raja!
GREP!
"Aku tidak akan mengecewakanmu, rajaku."ucap Kyungsoo, dalam pelukannya dengan Raja Joann.
"Berjanjilah, anakku. Berjanjilah untuk kembali bersama Jongin."
"Ya, aku janji."
-XOXO-
Seluruh pasukan Paris menunggu dengan tegang. Tidak ada yang berbicara sama sekali di situ. Jongin menunggu di sebelah sebuah pohon besar yang sudah tergergaji setengah batangnya, dengan seorang prajurit di seberangnya. Jongin menatap ke atas tebing, dimana Sehun dan para pemanah berjaga di sana.
Sehun menatap semua pemanah, memastikan semua sudah mengisi posisi masing-masing. Sehun memfokuskan pandangannya pada Jongin. Oh, Tuhan. Sebenarnya dia sangat takut, adrenalinnya mengalir deras. Namun, Sehun hanya diam. Wajahnya sudah berkeringat dingin, namun dia hanya diam.
DUNG DUNG DUNG
Suara gong Saxon terdengar kejauhan, semakin mendekat. Jongin memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri. Ia merangkak ke prajurit yang berjaga di samping pohon itu, kemudian berbisik.
"Ketika barisan terakhir mereka sudah melalui pohon ini, selesaikan seluruh pohonnya. Kami bergantung padamu."ucap Jongin, membuat prajurit itu meneguk ludah kasar.
"Kau mau kemana?"tanyanya.
"Aku akan pindah ke garis depan, memanjat ke atas. Kau akan aman di sini, dan jika mereka menemukanmu, berlarilah ke arah mereka datang. Beberapa kaki dari sini kau akan menemukan pasukan Tuan Andrew dan bertarung bersamanya."ucap Jongin.
Jongin mengusap kepala prajurit muda itu, kemudian segera berlari menuju posnya yang beberapa jauh. Ia segera memanjati sebuah pohon, dengan sigap bergabung dengan prajurit-prajurit pemberani lain. Prajurit garis depan inilah yang paling rentan gugur, karena mereka akan memberikan sudden attack pada Saxon dari atas selagi Saxon melewati bawah mereka.
Jongin menatap ujung jalan setapak itu. Suara gong Saxon semakin dekat, membuat dia semakin takut. Tapi, Jongin menyalurkan seluruh ketakutannya pada adrenalin, dan dia akan membayarnya pada para pasukan Saxon. Dia tidak akan membiarkan Saxon menghancurkan kerajaan yang sudah menjaganya dan merawatnya, terlebih kerajaan yang mempertemukannya dengan Kyungsoo.
DUNG DUNG DUNG
Pasukan Saxon terlihat dari kejauhan. Jongin memberi isyarat pada semua garis depan untuk bersembunyi—agar tidak terlihat. Jongin menatap pimpinan para Saxon, Peter Park, dan pria lebih kecil di sampingnya. Jongdae, kakaknya. Jongin harus menyelamatkan Jongdae, sebelum dia dibantai oleh pasukan Paris lainnya.
Sementara itu, Saxon berjalan menyusuri jalan setapak itu tanpa kecurigaan. Peter Park agak kesal karena mereka terlambat menggempur Paris, namun Jongdae mengatakan bahwa Paris tidak mungkin jauh dari jalur mereka sekarang. Jongdae juga mengatakan bahwa Paris pasti hanya berjarak beberapa jam berjalan kaki sekarang.
"Aku masih tak percaya rencana penggempuran kita bisa bocor ke tangan Paris."gumam Chanyeol, diangguki Jongdae.
"Benar, tuanku. Jika kemenangan ini ada di tanganmu, sebaiknya kau mempertimbangkan untuk membatasi jangkauan informasi. Berikan kepada mereka yang kau percaya."ucap Jongdae, membuat Peter Park mendengus.
"Hanya kau satu-satunya kepercayaanku, Jongdae. Kau sudah membuktikannya selama 10 tahun mengabdi untuk kemakmuran Saxon."ucap Chanyeol, tanpa mencurigai apapun.
Jongdae tidak membalas. Dia hanya mengangguk berterimakasih atas kepercayaan itu, dalam hatinya ia berkeringat dingin dan ketakutan jika semuanya terbongkar. Jongdae harus terus setia dengan Peter Park, kalaupun dia harus mengorbankan dirinya setidaknya ia harus menjamin keselamatan Jongin terlebih dulu.
Ah, Jongin. Jongdae masih tak percaya Jongin akan hadir di hidupnya. Walaupun di waktu dan tempat yang salah, Jongdae masih bersyukur bahwa selama ini, adiknya baik-baik saja. Takdir memang misterius, namun begitulah kerjanya.
Pasukan itu melalui jalur setapak itu, semakin lama hampir mendekati ujung bawah tebing di depannya dan akan disambut oleh hutan yang jauh lebih lebat.
"SEKARANG!"
BUAGH
CRASH
BUAGH!
Tiba-tiba saja, sekelompok orang menyergap pasukan Saxon dari atas pohon, berjatuhan layaknya burung. Para Saxon kalang kabut, tidak siap dengan serangan mendadak itu. Beberapa prajurit Paris berhasil membunuh beberapa pasukan Saxon. Namun begitu, Saxon tidak tinggal diam.
"Serang mereka! Habisi mereka!"pekik Peter Park, dengan Jongdae yang sudah berjaga di hadapannya.
"AAAAAAAAAAAAAA!"terdengar teriakan dari barisan belakang Saxon.
Barisan belakang Saxon dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuan Andrew, yang menghabisi mereka dengan membabi buta dan tidak terduga. Pasukan Andrew mendorong pasukan Saxon untuk terus maju ke depan—tentu saja untuk kejutan lainnya.
BUAGH!
Tiba-tiba saja, sebuah pohon besar tepat di belakang pasukan Andrew yang tengah bertempur dengan pasukan Saxon pun roboh. Peter Park menatap robohnya pohon itu, kemudian terbelalak marah.
"MUNDUR! SEMUANYA MUNDUR!"
DATS!
Komando dari pimpinan Saxon itu terlambat, terlebih dengan berpuluh-puluh anak panah yang menghajar pasukan Saxon itu dengan brutal. Banyak anak panah yang menancap pada para pasukan Saxon, dengan pasukan garis depan yang masih bertarung di tengah-tengah kepungan pasukan Saxon.
Peter Park dan pasukan-pasukan yang berada di baris depan baru akan berjalan terus ke depan untuk menghindari pasukan Andrew dan panah ketika di hadapannya terdapat sekelompok pasukan lain. Pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Vincent menghadang mereka dari depan. Sial, pasukan Saxon terhadang dari berbagai sisi!
CLANG! CLANG!
Tiba-tiba, seorang pria berlari ke arah Peter Park dan hampir mengenai pedangnya pada pundak pria itu—kalau saja Peter Park tidak langsung menghunuskan pedangnya. Tuan Andrew berlari dari belakang ke depan, hanya untuk menyerang Peter Park. Wajahnya memancarkan amarah, dengan Peter Park hanya menyeringai.
"Well, well, well. A worthy opponent."gumam Peter.
CLANG! CLANG!
Andrew maju lebih dulu, kemudian melayangkan pedangnya ke arah pinggang Peter, namun berhasil dihempas oleh Peter. Peter melayangkan pedangnya pada leher Andrew, namun berhasil dielak oleh Andrew yang langsung membungkuk.
CLANG! CLANG!
Peter melayangkan pedangnya ke arah perut Andrew, namun berhasil ditelak dengan Andrew melayangkan perisainya. Andrew melayangkan pedangnya ke arah kaki Peter, namun Peter berhasil menolaknya dengan menghadangnya menggunakan putaran pedangnya.
"Come on, Letnan! Come on!"pekik Peter, menyulut emosi Andrew.
Andrew memutar tubuhnya, melayangkan pedangnya sejauh mungkin ke arah sisi tubuh Peter. Pedang itu melayang ke arah leher Peter dengan cepat.
CRASH!
TO BE CONTINUED
Note :
HAIIIIIIIIIII AND WELCOMEEEEEEE
(Jangan lupa REVIEW dan FAVOURITE yaaaaa, we finally have the chance to fulfill our promise to y'all!)
HUANG AND WU
