Peter melayangkan pedangnya ke arah perut Andrew, namun berhasil ditelak dengan Andrew melayangkan perisainya. Andrew melayangkan pedangnya ke arah kaki Peter, namun Peter berhasil menolaknya dengan menghadangnya menggunakan putaran pedangnya.
"Come on, Letnan! Come on!"pekik Peter, menyulut emosi Andrew.
Andrew memutar tubuhnya, melayangkan pedangnya sejauh mungkin ke arah sisi tubuh Peter. Pedang itu melayang ke arah leher Peter dengan cepat.
CRASH!
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 17
CRASH!
CRASH!
CRASH!
Andrew terdiam, gerakannya berhenti di udara. Peter begitu dekat dengannya, dengan seringaian di atas wajahnya yang berdarah-darah. Dan itu bukan darahnya.
Peter berhasil menebak gerakan Andrew, dan berakhir dengan dirinya menusuk Andrew terlebih dulu. Ia menusuk Andrew tepat pada dadanya, menembus baju zirahnya. Dengan sekuat tenaga, Peter memutar pedang itu pada tubuh Andrew, menimbulkan luka yang lebih parah lagi di sana.
CLANG
Pedang pada tangan Andrew terjatuh, dengan tangannya yang mulai melemas. Dari mulutnya, mengalir darah segar dengan brutal. Peter mengangkat dagu Andrew dengan angkuh, memberinya seringaian menyeramkan.
"Got you."
CRASH
Peter menendang tubuh Andrew, membuat pedangnya terlepas dari tubuh lemas itu. Darah mengalir deras dari abdomen Andrew, dengan tangan Andrew menggenggam perutnya yang terluka.
DUGH
Tubuh Andrew jatuh terduduk pada lututnya, masih memegangi perutnya. Mulutnya ingin mengucapkan sesuatu, namun darah mengalir dari sana. Dengan segenap tenaga, Andrew mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk mengucapkan sesuatu.
"JONG-JONGIN!"
Andrew berteriak keras di antara kerumunan perang itu, menatap Peter yang berdiri di depannya dengan marah. Semakin lemas, dan tubuh itu pun terjatuh ke depan.
BUGH
Dan tidak lagi bernyawa.
-XOXO-
"JONG-JONGIN!"
Jongin mendengar namanya dipanggil. Ia menatap ke segala arah, dan pandangannya menangkap pemandangan horor beberapa jarak di depannya. Semuanya bagaikan slow motion.
Tuan Andrew yang jatuh berlutut di depan Peter Park.
"TIDAK!"
CRASH
Jongin langsung menyelesaikan pertarungannya dengan seorang prajurit Saxon dengan cepat—mengiris leher prajurit itu—dan langsung berlari ke arah Peter Park yang tengah tertawa jahat. Melihat Jongin berlari ke arah Peter Park, Sehun—yang berada di atas tebing—tidak tinggal diam. Dia mengarahkan seluruh anak panahnya ke arah prajurit Saxon yang hendak menyerang Jongin. Sehun terdiam, menyadari apa yang terjadi.
Tuan Andrew gugur di medan pertempuran.
CLANG!
Jongin langsung mengayunkan pedangnya pada Peter, yang langsung dengan mudah dilawan dengan pedang besar Peter Park. Peter dan Jongin saling berhadapan, dengan pedang tersiap di masing-masing mereka.
"Apakah kau prajurit kesayangannya Andrew? Kau tahu? Kau harus melihat dia ketika dia menangis di depanku!"pekik Peter.
"HIYAAAAAA!"
CLANG! CLANG!
Pedang itu beradu di udara beberapa kali, menimbulkan suara-suara nyaring. Jongin menyerang Peter Park dengan membabi buta, terlepas staminanya yang telah drop karena harus menjaga garis depan pertahanan. Jongin melayangkan pedangnya ke arah tangan Peter Park.
CRASH!
"Argh!"
Pedang itu nyaris memotong tangan Peter Park, jika saja Peter tidak menghindar. Hanya saja, pedang itu menyayat dagingnya, menimbulkan rasa luka di sana. Peter menatap bagian bajunya yang tersayat pedang Jongin dengan darah mengalir di sana, lantas beradu pandang dengan Jongin yang tengah mempersiapkan kuda-kuda lagi.
"Kau akan membayarnya, bocah!"
CLANG! CLANG!
Peter maju lagi, dan pedang mereka kembali bertemu di udara. Peter tidak menduga bahwa seorang prajurit biasa seperti Jongin memiliki kemampuan pedang yang begitu mumpuni. Menyadari bahwa lawannya bukan main, Peter mendengus kesal.
"Kau benar-benar merepotkanku, bocah."gumam Peter.
CLANG! CLANG!
Peter mengacungkan pedangnya ke arah kaki Jongin, namun Jongin berhasil menahannya dengan pedangnya. Peter kembali mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah pinggang kiri Jongin, namun Jongin berhasil menolaknya dengan pedangnya.
CRASH!
"Argh!"
Peter melakukan gerakan ketiga, yaitu memutar dan mengayunkan pedangnya secepatnya dari atas. Hal itu membuat pedang itu mengenai pundak Jongin, menimbulkan luka yang cukup dalam di pundak kanan itu. Jongin meringis nyeri, memegangi pundaknya yang mengucurkan darah. Staminanya juga sudah menipis.
"Ah, sial."gumam Jongin.
CRASH!
Tanpa diduga, Peter mengarahkan pedangnya ke kaki kiri Jongin, menimbulkan luka menganga di sana. Jongin merasa limbung, dan berlutut dengan satu kaki. Kaki kirinya mati rasa, pedang Peter jelas begitu bagus dan tajam.
"Any last words, kiddo?"tanya Peter, mengacungkan pedangnya tepat di hadapan wajah Jongin.
"Go to hell."gumam Jongin.
Peter menyeringai, memutar tubuhnya di udara. Ia melayangkan pedangnya ke arah leher Jongin dengan cepat.
CLANG!
-XOXO-
TAK TOK TAK TOK
Kyungsoo memacu kuda itu dengan cepat, gaunnya beterbangan dengan indah mengikuti angin. Rambutnya berkibar, tangannya dengan mantap memegang tali kekang kudanya. Seekor burung hantu putih terbang di atas Kyungsoo, mengikuti kemanapun arahnya pergi.
TAK TOK TAK TOK
Terdengar suara tapak kaki kuda dari arah di depannya. Kyungsoo memelankan laju kudanya, menatap jalan setapak di depannya. Ia meraih panahannya, bersiap dengan anak panahnya. Dengan berani, ia mengacungkannya ke arah ujung bukit itu—jalannya melekuk turun ke sisi lain bukit.
Sekelompok pasukan terlihat di sana, dengan beberapa prajurit membawa bendera besar yang berkibar kuat. Sebuah kereta kuda memimpin rombongan itu, dibawa oleh dua ekor kuda putih gagah. Kyungsoo menurunkan panahnya, kemudian menuruni kudanya.
"Raja Marseilles!"
Raja Marseilles memerintahkan semuanya untuk berhenti, kemudian keluar dari kereta kudanya. Dia berjalan ke arah Kyungsoo ditemani salah seorang prajurit infanteri yang melindunginya. Tangannya terentang.
GREP!
Kyungsoo berlari ke arahnya, memeluknya dengan erat. Raja Marseilles memejamkan matanya, bersyukur bahwa salah satu rakyatnya baik-baik saja. Kyungsoo menatap semua orang yang ikut di sana, tidak menemukan orang yang dicarinya.
"Dimana yang lain? Jenderal Vincent? Letnan Andrew? Jongin?"tanya Kyungsoo, dan Raja Marseilles menunduk dalam.
"Mereka bertarung, memberi kita waktu untuk menjauh dari Saxon. Aku hanya membawa sedikit infanteri untuk melindungi rakyat yang ikut bersamaku. Mereka menjebak Saxon di balik gunung itu."
Raja Marseilles menunjuk sebuah gunung kecil yang berada di belakang mereka. Kyungsoo menatap gunung itu, mengangguk memahaminya. Kyungsoo bersiul memanggil burung hantu putih yang tadi mengikutinya, lantas menyelipkan sebuah surat pada pipa kecil di kakinya.
"Pergilah."
Burung itu pun terbang, kembali ke arah Kerajaan Berlin. Kyungsoo menatap Raja Marseilles dengan khawatir, namun dia percaya dia masih punya waktu untuk membantu infanteri lain.
"Raja Joann mempersiapkan sepasukan infanteri besar di seberang sungai, tak jauh dari sini. Kalian hanya harus mengikuti arah jalan setapak ini. Burung itu akan menyampaikan pesan bahwa aku sudah berpapasan dengan Raja Marseilles tanpa kekurangan apapun. Aku harus segera menyusul Jongin."ucap Kyungsoo.
Dia mengecup tangan sang raja, memberinya hormat. Dengan tekad yang bulat, Kyungsoo segera berlari ke arah kudanya. Kyungsoo baru akan menaiki kudanya, ketika dicegat oleh Raja Marseilles.
"Kyungsoo, bertarunglah dengan ini. Kau akan lebih terlindungi."pekik Raja Marseilles, kemudian memerintahkan salah satu prajuritnya untuk mengambil sesuatu dari kereta kudanya.
Seorang prajurit membawakan Kyungsoo satu set baju zirah kehormatan Kerajaan Paris. Kyungsoo terdiam. Dia tidak menduga akan diberikan baju zirah kebangaan ksatria Paris. Kyungsoo menghampiri Raja Marseilles perlahan, matanya tak percaya. Tangannya bergerak mengusap pakaian kehormatan itu dengan segan.
"Selamat bertarung, Prajurit Kyungsoo. Semoga Tuhan memberkatimu."
-XOXO-
Peter Park membelalakkan matanya, menatap ke depannya dengan tidak percaya. Pedangnya masih terhunus dengan mantap, namun tangannya bergetar. Ketidakpercayaannya semakin tinggi, melihat siapa yang berdiri di depannya menghunus pedang untuk melindungi Jongin dari serangan terakhir Peter.
Jongdae, penasihatnya. Penasihatnya yang paling dia percaya.
Jongdae menarik cadar yang menutupi wajahnya, merobeknya dengan cepat—menampakkan wajahnya yang setengahnya dipenuhi luka bakar. Jongdae menatap Peter Park dengan marah, pedangnya melindungi Jongin yang masih jatuh terduduk di tanah. Jongin menatap tak percaya sosok yang melindunginya.
Jongdae benar-benar berdiri di sana, melindunginya.
"Ka—kau... Jongdae?"nada suara Peter Park bergetar marah—dia jelas memendam marahnya.
"Maafkan aku, tuanku. Aku tak punya pilihan lain selain melindungi adikku sendiri."
Jongdae bersiap dengan kuda-kudanya, menatap Peter dengan tajam. Peter membuang ludahnya sembarang arah, mulutnya berdesis. Dia tidak percaya bahwa sang pengkhianat ternyata adalah orang yang paling dia percaya seumur hidupnya. Dia tidak bisa memercayai bahwa Jongdae-lah pengkhianat dari Saxon.
"Jadi kau yang membocorkan rencana penyerangan Saxon?"tanya Peter, nada suaranya dalam—Jongdae harus berhati-hati dengan kemarahan Peter.
"Aku tak punya pilihan lain, selain melindungi adikku."
Jongdae dan Peter saling berhadapan, pedang terhunus dengan siap. Pedang besar Peter berhadapan dengan pedang bermata dua Jongdae—pedang yang Peter berikan spesial untuk Jongdae atas pengabdiannya pada Saxon. Begitu ironi, menyadari pengkhianatnya selama ini adalah penasihatnya sendiri.
Jongin bertumpu pada pedangnya, berusaha berdiri walau kakinya pincang. Dia memegang pedangnya dengan kuat, kemudian serta merta mengatur nafasnya. Dia mengangkat pedangnya, berhadapan dengan Peter Park.
Kini, dua bersaudara itu akan melawan Peter Park.
"Reuni yang begitu menyentuh."sindir Peter Park, merasa kalah kekuatan dengan lawannya.
CLANG! CLANG!
Jongdae maju lebih dulu, menghunuskan pedangnya ke arah dada Peter. Peter mengelak dengan cepat menggunakan pedangnya, menghalang gerakan pedang itu. Jongin mengacungkan pedangnya ke arah kepala Peter, namun Peter dengan sigap menolak pedang itu dengan pedangnya juga. Gerakan keduanya yang cepat sedikit menyusahkan Peter.
"Dua lawan satu. Kau tak akan menang, Peter Park!"ucap Jongin, dengan nada yang marah.
CLANG! CLANG!
Jongin mengacungkan pedangnya, niat menusuk ke arah pinggang Peter. Dengan cekatan, Peter menghantamnya dengan pedangnya lagi, menolak serangan itu. Jongin mendesis, kemudian langsung mengarahkan pedangnya ke paha kanan Peter. Namun, lagi-lagi, Peter Park jauh lebih cepat.
"Aku tidak perlu menang."
CRASH!
Dengan cepat dan tanpa membalikkan tubuhnya, Peter menghunuskan pedangnya ke arah belakang dirinya. Jongin membelalak, dengan Peter yang hanya tersenyum miring.
"Aku hanya perlu lebih unggul darimu."
Peter menusukkan pedangnya lebih dalam pada tubuh Jongdae, yang tadi hendak menusuk Peter dari belakang. Perut Jongdae tertusuk pedang Peter, darah mengucur di sana. Jongdae terbatuk-batuk, darah mengalir dari mulutnya. Matanya nanar menatap Jongin, yang masih terdiam menganga di tempat—mata Jongin sudah mengaliri airmata tanpa sadar.
CRASH!
Peter menarik pedangnya dari perut Jongdae, membiarkan tubuh itu diam berdiri di belakangnya. Jongin menatap tubuh kaku Jongdae yang masih bertapak pada kedua kakinya, Jongdae memegangi perutnya yang mengeluarkan begitu banyak darah.
"TIDAK!"
DATS! DATS!
Jongin dan Peter sama-sama terdiam. Kejadian demi kejadian terjadi begitu saja. Tiba-tiba saja, dua buah anak panah menancap tepat pada dada Peter Park—pada bagian jantung dan paru-parunya. Peter menatap kedua anak panah yang menancap dalam itu, kemudian mendongak menatap siapa pelakunya.
Seorang wanita mengenakan baju zirah Kerajaan Paris berjalan ke arahnya, baju zirahnya sudah terkena darah-darah musuhnya. Pedang besar tersampir di pinggangnya, pedang itu juga sudah berdarah-darah. Jongin membalikkan tubuhnya, ikut menatap arah pandang Peter.
Kyungsoo berjalan ke arah mereka, kemarahan dan keberanian terpancar kuat pada matanya. Dia mengangkat busur panahnya dengan mantap, satu anak panah telah siap di sana.
"Go to hell."
DATS! CRASH!
Kyungsoo melepaskan anak panahnya, membiarkannya menancap dengan sempurna pada wajah Peter Park—menembus tengkoraknya. Peter terdiam, semuanya terasa begitu cepat. Tubuhnya langsung jatuh kaku di atas tanah, tidak lagi bergerak.
Peter Park telah tewas di medan perang.
"KAKAK! KAKAK!"
Jongin berlari ke arah tubuh Jongdae, yang kini sudah terbaring tak bernyawa di atas tanah. Jongin mendekap tubuh itu, tangannya menggerak-gerakkan tubuh Jongdae yang kaku. Kedua mata Jongdae masih terbuka, menatap langit yang sendu itu.
Kyungsoo duduk di depan Jongin yang menangis, meraung-raung menyebut nama Jongdae. Kyungsoo tidak pernah mengenal siapa Jongdae, namun melihat besarnya reaksi Jongin, Jongdae pastilah orang yang begitu berharga dalam diri Jongin. Tangan lentik Kyungsoo bergerak pada wajah Jongdae yang berdarah-darah, serta merta menutup kedua mata itu dengan lembut.
"KAU TIDAK SEHARUSNYA MENGAMBILNYA, TUHAN! AMBIL AKU! DIA TERLALU BANYAK BERKORBAN! KUMOHON, KEMBALIKAN DIA!"
Jongin berteriak, menatap ke arah langit keabuan yang sendu. Kyungsoo menunduk, mengusap pundak Jongin perlahan-lahan. Ia menangis dalam diam, ikut merasakan kesedihan Jongin. Semuanya bercampur jadi satu di situ.
Hari itu, kemenangan Paris atas Saxon tercetak di atas selembar hidup Jongin yang—sekali lagi dan terakhir kalinya—kehilangan kakaknya.
-XOXO-
Seluruh pasukan infanteri yang tersisa berjalan menghampiri dinding Kerajaan Berlin yang terlihat di depan mata. Kyungsoo berjalan di samping Jongin, menggenggam tangannya dengan erat sementara tangan Jongin yang lain membawa tali kekang kudanya. Di atas kuda itu, terdapat tubuh kaku Jongdae yang telah ditutupi kain jubah. Sehun berjalan di samping mereka, tidak mengucapkan apa-apa. Di atas kuda yang ia bawa, terdapat tubuh kaku Letnan Andrew yang juga ditutupi kain jubah. Prajurit-prajurit lainnya juga membawa tubuh-tubuh mereka yang gugur di medan perang. Jenderal Vincent memimpin mereka, wajahnya sudah berdarah-darah dengan pakaian compang-camping di sana sini.
Raja Marseilles dan Raja Joann menyambut mereka di depan kastil kerajaan, dengan seluruh rakyat Paris dan Berlin menunduk hormat, menyampaikan belasungkawa mereka atas siapapun yang gugur di sana. Raja Marseilles turun lebih dulu dari altar halaman istana, berjalan menghampiri Jenderal Vincent yang menunduk hormat dengan pedang di tangannya—pedang itu sudah berwarna merah di semua sisinya, terlumuri oleh darah musuh mereka.
"Maafkan aku."ucap Raja Marseilles, menyampaikan belasungkawanya.
"Mereka yang gugur akan bereinkarnasi menjadi kuda perang yang gagah berani. Keberanian mereka diturunkan pada mereka yang masih diberi kehidupan, dan dengannya mereka tak pernah mati."gumam Jenderal Vincent, di antara tangisnya yang sunyi.
Sehun berjalan ke depan, membawa tubuh Letnan Andrew di atas kudanya. Raja Marseilles menghampiri tubuh itu, mengusap tangannya yang terkulai kaku. Raja Marseilles memberkati tubuh itu, memanjatkan doa-doa Kristus padanya. Sehun menunduk hormat pada sang raja, wajahnya begitu kelelahan dengan airmata yang sudah mengering.
Raja Marseilles berjalan ke arah Jongin, yang masih menggenggam erat tangan Jongdae yang kaku. Raja Marseilles terdiam, menatap tubuh di balik kain itu. Pakaiannya tidak mencerminkan prajurit kerajaan Paris, namun Raja Marseilles tidak mau berkomentar apa-apa.
"Dia adalah kakakku. Bisakah kau memberkatinya?"tanya Jongin, dengan airmata yang sudah mengering dan staminanya sudah hilang—Kyungsoo masih setia menemaninya.
"Tidak ada seorang adik pun yang seharusnya mengubur tubuh kakaknya, begitupun seorang kakak pada tubuh adiknya. Tidak seorangpun layak mendapatkan ini, namun kita hanya perencana. Tuhan Maha Adil, Maha Mengetahui. Aku turut berduka, Jongin."
Raja Marseilles menggerakkan tangannya, mengusap tangan kaku Jongdae. Dia memberkati Jongdae, membacakan doa-doa Kristus padanya. Kyungsoo mengusap punggung Jongin, masih berusaha menenangkannya.
Raja Marseilles pun bergerak pada tiap tubuh kaku yang dibawa oleh infanterinya, memberkati semuanya satu per satu.
-XOXO-
Setelah acara penguburan semua prajurit yang gugur di medan perang dengan Saxon, Raja Marseilles meminta seluruh prajuritnya untuk makan malam dan istirahat. Raja Joann memerintahkan seluruh pelayan istana untuk melayani Kerajaan Paris, dengan rakyat Kerajaan Berlin yang dengan sukarela membagi buah-buahan dan roti mereka untuk rakyat Kerajaan Paris juga.
Jongin duduk di depan kuburan Jongdae, dengan sebuah pedang hitam menancap pada kepala makamnya—pedang mata dua Jongdae. Jongin hanya diam, sesekali membersihkan daun-daun yang mengotori sekitarnya. Dia menatap makam Jongdae, matanya sudah bengkak dan tidak lagi menangis—airmatanya seakan sudah habis.
"Kalau kau masih di sini, kak, aku ingin mengenalkanmu pada Letnan Andrew, Sehun, dan Kyungsoo. Tapi ternyata, kau akan bertemu dengan Letnan Andrew tepat di sana, di Elysium. Kalian dulu adalah sahabat, dan sahabat tidak pernah meninggalkan sahabatnya yang lain. Sehun sendiri adalah sahabat sehidup sematiku, kami berjuang untuk satu sama lain dan saling melindungi satu sama lain. Tanpanya, aku tidak akan ada di sini dan menemanimu berbaring dengan damai. Kyungsoo, kau harus melihatnya. Kau tahu, dia adalah wanita tercantik yang pernah kutemui. Meski dia begitu dewasa, keanggunan dan keberaniannya benar-benar menggugah perasaanku. Kau akan suka dengannya, kak. Aku benar-benar mencintainya."
Jongin mengusap pedang yang menancap pada makam itu, mengusapnya dengan lembut. Pedang Jongdae terlihat begitu berbeda dibanding pedang dari prajurit Saxon yang lain, dan itu menunjukkan kepribadiannya juga. Jongdae hanyalah orang baik yang terjebak di dunia Saxon, kemampuannya bertahan hidup di antara orang-orang yang berbeda prinsip dengannya betapa menunjukkan kegigihannya untuk menemukan Jongin. Dan ketika ia menemukan Jongin, Jongdae memberikan segala-galanya yang ia miliki untuk Jongin, termasuk nyawanya.
SRET
Jongin menarik pedang itu, melihat ketajaman pedang itu. Jongdae merawat pedang mata dua itu dengan sangat baik, kilaunya tidak hilang meski sudah dipakai berperang bertahun-tahun. Jongin menarik pedang ksatrianya, kemudian menggantikan posisi pedang mata dua Jongdae pada kuburan itu.
"Rest in peace, brother. I'll be there, soon."
Dan Jongin melangkahkan kakinya pergi, dengan pedang mata dua Jongdae di tangannya.
To be continued!
.
I'M SO SORRY FOR WHATEVER I DID IN THIS CHAPTER.
HAW tau ini pasti gak adil untuk Jongdae dan Tuan Andrew, tapi HAW juga pengen readers sekalian memahami bahwa untuk mengajarkan Jongin arti kehidupan, dia harus belajar kehilangan. Dan baik Jongdae dan Tuan Andrew lebih cocok untuk gugur dan jadi pahlawan, dimana persahabatan mereka tidak pernah berakhir. Jongdae dan Tuan Andrew adalah sahabat (baca chapter-chapter awal pas Tuan Andrew ngobrol sama Jongin) dan akan selalu bersama T_T
Jangan lupa baca FF HAW lainnya. Di FFN ada The Golden Chrysoberyl (EXO All OTP) dan Underworld Awakening (ChanBaek HunHan). Di wattpad ada (Not Your) General Love Story (EXO All OTP) dan River Flows in You (HunHan). HAW juga punya instagram, lho! Di situ kami selalu update FF yang sedang kami kerjakan!
Mind to REVIEW and FAVOURITE our FF, please?
HUANG AND WU
