SRET

Jongin menarik pedang itu, melihat ketajaman pedang itu. Jongdae merawat pedang mata dua itu dengan sangat baik, kilaunya tidak hilang meski sudah dipakai berperang bertahun-tahun. Jongin menarik pedang ksatrianya, kemudian menggantikan posisi pedang mata dua Jongdae pada kuburan itu.

"Rest in peace, brother. I'll be there, soon."

Dan Jongin melangkahkan kakinya pergi, dengan pedang mata dua Jongdae di tangannya.

.

-If You Could See Me Now-

.

.

Chapter 18

Sehun berdiam diri di balkon lantai dua istana Kerajaan Berlin. Dia menatap pemandangan pasar dan rumah-rumah warga di depannya, menikmati kesendiriannya. Dia masih belum membereskan dirinya, namun ia tidak terlalu memikirkannya.

"Hei."

Sehun menoleh, mendapati Jongin yang tengah berjalan ke arahnya. Sehun menatap Jongin, sesaat kemudian beralih pada pedang asing yang tengah digenggam erat oleh Jongin. Jongin menyadari arah pandang Sehun, kemudian menghunuskan pedang itu perlahan.

"Kak Jongdae menggunakan pedang ini selama pengabdiannya di Saxon."ucap Jongin, membuat Sehun mengernyit kagum.

"Pedangnya sangat berbeda dengan pedang prajurit Saxon lainnya."ucap Sehun, mengagumi kilau pada pedang itu.

"Itu menunjukkan bahwa dia bukan bagian dari Saxon. Kak Jongdae akan selalu menjadi protagonis dalam hidupnya."

Jongin menghela nafas, kemudian menepuk pundak Sehun dan berjalan menjauh. Sehun menatap kepergian Jongin, kemudian terdiam dan terpikirkan sesuatu.

"Jongin, tadi Kyungsoo mencarimu."

-XOXO-

Jongin berjalan menyusuri dapur istana, mendapati seorang wanita yang tengah membereskan piring-piring yang digunakan warga Kerajaan Paris untuk makan. Jongin berdiri di belakangnya, mengamati wanita itu dengan senyuman kecil.

"Sehun bilang kau mencariku."

Kyungsoo menoleh kaget, mendengar suara Jongin. Mata Jongin sembab, namun dia terlihat lebih baik. Di tangannya terdapat pedang hitam tidak lazim yang belum pernah Kyungsoo lihat. Jongin menghampiri Kyungsoo, kemudian mengangkat pedangnya dengan kedua tangannya.

"Ini pedang mata dua Kak Jongdae. Aku akan mulai menggunakannya selama pengabdianku dengan Kerajaan Paris."

Kyungsoo membelalak, tidak percaya dengan deskripsi Jongin. Kyungsoo mengusap lembut pedang yang berkilau itu. Pedang itu benar-benar menunjukkan jati diri Kim Jongdae, kakak dari pria yang dicintainya itu.

"Kalau kau bertemu dengannya, secara langsung, kau akan langsung menyukainya. Tuhan berkehendak lain."gumam Jongin, masih ada kesenduan di sana.

"Jongin, kau belum makan malam."ucap Kyungsoo.

Kyungsoo menarik tubuh Jongin untuk duduk di sebuah kursi, dan Kyungsoo menyajikan bubur ayam hangat di depannya. Jongin menatap Kyungsoo yang masih membereskan barang-barangnya.

"Apa kau sudah makan?"tanya Jongin, membuat Kyungsoo menghentikan aktivitasnya sejenak.

"Belum. Aku akan makan setelah semuanya selesai makan."ucap Kyungsoo.

Jongin serta merta berdiri, kemudian menghampiri Kyungsoo. Dia mencengkram kedua lengan Kyungsoo dengan lembut, menuntut wanita itu untuk duduk di kursi yang tadi didudukinya. Kyungsoo kebingungan, dia menatap Jongin heran.

"Kau makan sekarang. Aku yang akan membereskan sisanya."ucap Jongin, kemudian berjalan ke arah ember-ember cuci piring di sana.

"Jongin, kau saja yang makan!"ucap Kyungsoo, berusaha mencegah Jongin.

Jongin menatap Kyungsoo, tatapannya tajam. Kyungsoo terdiam, kemudian menunduk dan mengangguk paham. Dia tidak pernah bisa melawan sisi dominan Jongin, sisi yang—diam-diam—dia sukai karena Jongin terlihat begitu kuat dan perkasa.

Kyungsoo pun memakan bubur yang seharusnya dimakan Jongin, dengan Jongin membereskan piring-piring kotor di sana dengan telaten.

-XOXO-

Jongin mengajak Kyungsoo untuk berkuda bersama, berkeliling Kerajaan Berlin. Mereka melintasi pasar-pasar yang sudah tutup itu—waktu sudah malam—dengan beberapa pelacur yang menjajakan diri di sana. Dengan penuh hormat, Jongin menolak service mereka—tak lupa ia memberi mereka beberapa imbalan uang untuk makan malam. Jongin dan Kyungsoo menyusuri jalan setapak di pinggir sungai, menikmati keheningan yang terjadi.

"Kau tahu, Kerajaan Berlin benar-benar mengingatkanku dengan Kerajaan Paris."

Kyungsoo menoleh, mendengarkan gumaman Jongin. Kyungsoo mengiyakan, menatap sungai tenang di samping mereka yang memantulkan cahaya bulan. Apakah sekarang mereka sudah aman? Apakah sudah tidak ada lagi ancaman dari Saxon atau musuh lainnya? Apakah segala pengorbanan mereka telah berbayar sekarang?

"Menurutmu, apakah akan ada peperangan lagi setelah ini? Peperangan yang harus kita hadapi lagi?"tanya Kyungsoo, menengok ke arah Jongin yang terdiam dengan pertanyaannya.

"Aku benci peperangan, Kyungsoo. Peperanganlah yang merenggut semua orang yang kucintai. Tuan Andrew, Kak Jongdae, Letnan Kris, bahkan mereka merenggut bunda yang tak pernah aku ingat."jawab Jongin, nadanya sendu.

"Aku yakin mereka semua telah hidup damai di Elysium, Jongin, termasuk bundamu. Aku yakin beliau hidup damai di sana dan bangga dengan pencapaianmu di sini."ucap Kyungsoo, membuat Jongin tersenyum kecil.

"Aku begitu penasaran dengan rupa bundaku, Kyungsoo. Seorang wanita keturunan Penunggang Kuda Celtic murni. Tak bisa terbayang sekuat, seanggun, dan seberani apa beliau. Mengingat dirinya, entah kenapa, membuat hatiku hangat. Aku bahkan tidak bisa mengingat apapun, tapi hatiku tetap menghangat."ucap Jongin, dengan senyum tak luntur dari wajahnya.

Kyungsoo tersenyum, melihat Jongin yang tampak lebih tenang dan lebih damai sekarang. Tentu sepenggal memori yang Jongin punya mengenai bundanya jelas membuatnya begitu tentram dan damai—Jongin adalah anak yang sungguh berbakti, meskipun bundanya telah tiada.

"Aku yakin dia sekuat, seanggun, dan seberani yang kau bicarakan, Jongin. Dia bundamu, dia yang membesarkanmu menjadi sekuat dan seberani ini. Aku salut dengannya."ucap Kyungsoo, membuat Jongin menoleh padanya dan menatapnya hangat.

"Kau benar-benar mengingatkanku padanya, kau tahu? Kau juga berani, anggun, dan kuat. Kau benar-benar membuatku begitu mencintaimu."ucap Jongin, ucapannya membuat Kyungsoo memerah bukan main.

"Jangan begitu. Bundamu tetap yang terbaik Jongin. Seorang wanita biasa sepertiku tidak akan pernah mengganti posisi bundamu dalam hatimu."ucap Kyungsoo, membuat Jongin terkekeh.

"Kau benar. Aku akan selalu berbakti pada beliau, dimanapun beliau berada. Semoga beliau damai di Elysium sana, bertemu dengan Kak Jongdae dan saudara lainnya yang entah dimana keberadaannya."ucap Jongin, membuat Kyungsoo mengernyit bingung.

"Kau punya saudara lain, Jongin?"tanya Kyungsoo, diangguki Jongin—tentu saja dia kaget, Jongin tidak pernah membicarakan tentang saudaranya yang lain.

"Ya, kami lima bersaudara. Aku paling dekat dengan Kak Jongdae, tiga lainnya entah kenapa pergi bersama bunda. Bunda meninggalkanku dengan Kak Jongdae bersama tua bangka laknat itu, namun kami berhasil lepas darinya. Setidaknya, aku masih hidup. Bunda tentu menyayangi kami, dia tidak mungkin meninggalkan kami begitu saja."ucap Jongin, membuat Kyungsoo paham.

"Maafkan aku, Jongin."ucap Kyungsoo, membuat Jongin menoleh padanya dan terkekeh pelan.

"Tak usah minta maaf, Kyungsoo. Hal itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu, aku bahkan hampir tak mengingatnya."ucap Jongin.

Keduanya pun menikmati keheningan itu, menikmati suasana damai yang menemani mereka. Namun, suasana damai itu tidak berlangsung lama.

"JONGIN! KYUNGSOO!"

Jongin dan Kyungsoo menoleh ke belakang, mendapati Sehun yang memacu kudanya cepat ke arah mereka. Jongin dan Kyungsoo berbalik arah, menghampiri Sehun yang tampak cemas.

"Ada apa, Sehun? Kenapa panik sekali?"tanya Jongin, entah kenapa ikut panik melihat sahabatnya.

"Dapur—dapur kerajaan kebakaran!"

"APA!?"

-XOXO-

TAK TOK TAK TOK

Jongin, Sehun, dan Kyungsoo memacu kuda mereka cepat, mendapati api besar kemerahan di bagian belakang kastil—jelas sekali ada api tungku yang tidak terkendali dan menyambar barang-barang lainnya. Beberapa pengurus kastil bahu membahu memindahkan barang-barang dapur lainnya keluar, beberapa prajurit bahu membahu memindahkan ember berisi air untuk menyiram api.

Kyungsoo menuruni kudanya, dengan cepat ikut membantu pengurus-pengurus kerajaan memindahkan barang-barang mereka. Jongin dan Sehun ikut membantu prajurit-prajurit memindahkan ember berisi air dan disiramkan ke arah api yang besar itu.

"Bagaimana ini!? Kita harus memikirkan sesuatu!"pekik Sehun, jelas sekali cara mereka tidak menyelesaikan masalah.

Jongin melihat ke arah-arah lain, menatap sebuah pohon besar tepat di samping kastil—Jongin juga mengkalkulasi jika pohon itu diruntuhkan, bisa menghentikan penyebaran api ke bagian kastil yang lainnya.

"Kau! Kau! Ikut aku! Kau! Ambil gergaji besar di kandang kuda! Kau dan kau! Evakuasi semua orang dari area kebakaran! Kau! Datangi Raja Joann dan Raja Marseilles di barak pengungsian, katakan kita akan meruntuhkan bagian dapur!"

Semuanya langsung bekerja cepat. Dua orang prajurit lain mengikuti Jongin ke arah pohon raksasa di samping istana, dengan salah seorang prajurit mengambilkan gergaji besar di kandang kuda. Jongin memperhitungkan besar pohon itu dengan jarak antara pohon itu dengan jarak dapur yang terbakar. Bisa! Jika kita meruntuhkan pohon ini, bagian dapur akan rusak dan bagian kastil lain tidak akan terbakar! Kita harus mencobanya!; batin Jongin, optimis.

"JONGIN! Apa yang kau lakukan?"tanya Sehun, berlari menghampirinya

"Sehun, jika kita menebang pohon ini tepat waktu, bagian kastil dengan bagian dapur yang terbakar akan terpisah dan api tidak akan merambat ke sana! Kita harus mencobanya!"ucap Jongin, diangguki Sehun.

"Aku akan mengevakuasi orang-orang lain!"ucap Sehun, kemudian berlari ke arah kerumunan pengurus istana yang masih mengoper ember-ember air.

"Ini gergajinya!"

Jongin mengambil gergaji besar dari prajurit itu, dan menempatkan dirinya dengan satu prajurit lain di sisi lain pohon itu. Mereka mulai menggergaji pohon raksasa itu dengan cepat, bergantian ketika mereka kelelahan. Jongin berharap api besar itu tidak merambat cepat ke bagian istana lain yang masih berdiri tegak. Tidak ada waktu untuk menghitung ulang, it's now or never!

KRAK KRAK KRAK

Terdengar suara retakan dari arah pohon, jelas gergaji besar itu akan membelah pohon itu dan menumbangkannya ke arah perhitungan Jongin. Jongin terus menggerakkan gergaji itu, dengan prajurit-prajurit lainnya bergantian membantu Jongin.

"Semuanya, minggir! Semuanya menjauh dari bangunan!"pekik Jongin, meneriakkan orang-orang yang masih menyirami ember-ember air ke arah api itu.

Jongin memastikan semua orang sudah menyingkir, memastikan tidak ada orang berada di area kebakaran. Prajurit-prajurit lain masih menggerakkan gergajinya, dengan pohon itu yang mulai menggelegar.

KRAK! KRAK!

Pohon itu mulai bergetar, dengan batangnya yang mulai jatuh miring perlahan. Jongin menarik beberapa prajurit, menjauh dari area jatuhnya pohon itu. Jongin menatap area kebakaran, tiba-tiba matanya membelalak kaget.

"KYUNGSOO, MENJAUH DARI SITU!"

BUAGH!

-XOXO-

Kyungsoo membantu beberapa pembantu istana memindahkan beberapa barang istana keluar. Dia juga mondar-mandir menyiramkan ember air ke arah api besar itu. Api itu begitu besar dan berkobar, tentunya dengan dapur istana yang memiliki fondasi kayu membuatnya lebih ganas.

BRUAGH!

DUAGH!

"Aaaaaaaa!"

Seorang pembantu kerajaan tertimpa reruntuhan kayu dari dapur kerajaan, tubuhnya tidak bisa bergerak. Kyungsoo berlari ke arahnya, berusaha mengangkat reruntuhan atap yang menimpa perempuan itu.

"Bi—bisakah kau menggeser tubuhmu ke celah ini? Sehingga aku bisa menarikmu!"ucap Kyungsoo, menunjuk celah di samping perempuan itu.

Perempuan itu berusaha menggeser tubuhnya, terlepas kepanikannya karena api di atas tubuhnya begitu besar. Kyungsoo masih berjuang mengangkat kayu yang menimpa perempuan itu, memberinya celah untuk bergerak dan keluar dari posisinya.

"AAAAAARGHHHH!"pekik Kyungsoo, berusaha mati-matian mengangkat bongkahan kayu itu dengan kekuatan tangannya.

"Semuanya menyingkir! Semuanya menyingkir!"terdengar pekikan beberapa prajurit, namun Kyungsoo tidak memedulikannya.

Kyungsoo masih mengangkat kayu itu, sekuat tenaganya. Kayu itu terangkat sedikit, membuat perempuan yang terjebak tadi bisa bergerak sedikit ke arah celah yang ada di sampingnya.

"Siapapun bantu dia!"pekik Kyungsoo.

Dua orang perempuan pembantu berlari menghampiri Kyungsoo, keduanya menarik tangan pembantu yang terjebak tadi. Kyungsoo masih menahan kayu itu dengan kedua tangannya—siapa diduga kedua tangannya yang ramping membawa tenaga seperti seorang pria. Wajahnya sudah memerah menahan rasa kram pada tangannya dan panasnya api di depannya. Kedua perempuan pembantu tadi bersusah payah menarik perempuan yang terjebak itu.

BRAK!

Perempuan itu berhasil ditarik lepas, dengan kedua perempuan lainnya terjungkang ke belakang—saking kuatnya tarikan tadi. Kyungsoo menjatuhkan bongkahan kayu yang tadi dia tahan, kedua tangannya lemas tak karuan.

BRUK!

Tubuh Kyungsoo yang terlalu kelelahan terduduk, tangannya berpegangan pada kayu di depannya. Ia menolehkan kepalanya, memastikan bahwa perempuan-perempuan tadi berhasil menyelamatkan perempuan itu. Senyumnya terkembang.

KRAK! KRAK!

"KYUNGSOO, MENJAUH DARI SITU!"

BUAGH!

Dan semuanya menjadi gelap di mata Kyungsoo.

To be continued!

.

MAAFKAN AKU YANG MENISTAKAN KYUNGSOO DI SINI T_T

Bener-bener intense banget dari kemarin, kek Jongin tuh gak bisa hidup damai huhu. Well, bentar lagi bakal ada plot twist muncul! Siap siap aja! Dan jangan lupa untuk terus pantengin FF HAW ya! Dan sorry banget baru update sekarang cuz kemaren sibukkk ngelab dan research dan ditambah masalah si tukang lele hadeuh -_-

FF HAW yang lain di FFN : The Golden Chrysoberyl (EXO All OTP) dan Underworld Awakening (ChanBaek HunHan). FF HAW yang lain di wattpad : River Flows in You (HunHan) dan (Not Your) General Love Story (EXO All OTP).

Mind to REVIEW and FAVOURITE our FF?

HUANG AND WU