BRUK!
Tubuh Kyungsoo yang terlalu kelelahan terduduk, tangannya berpegangan pada kayu di depannya. Ia menolehkan kepalanya, memastikan bahwa perempuan-perempuan tadi berhasil menyelamatkan perempuan itu. Senyumnya terkembang.
KRAK! KRAK!
"KYUNGSOO, MENJAUH DARI SITU!"
BUAGH!
Dan semuanya menjadi gelap di mata Kyungsoo.
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 19
Kyungsoo membuka matanya perlahan, cahaya di depannya begitu menyilaukan. Ia menghalangi cahaya menyilaukan itu dengan kedua tangannya, dan perlahan cahaya itu mulai redup. Kyungsoo membuka matanya, ketika cahayanya mulai redup. Ia mengernyit bingung.
Kyungsoo berdiri di tengah sebuah ruangan kayu besar, hiasan tanduk elk menghiasi ruangan itu, dengan karpet terbuat dari kulit beruang. Hiasan kepala macan juga menghiasi ruangan itu, dengan karpet harimau besar dipajang di dinding.
"Hey, hey, jangan lari-lari! Kau bisa melukai adikmu!"
Kyungsoo menoleh ke sumber suara, mendengar suara wanita yang begitu lembut. Tubuhnya hanya diam, merasa seperti seorang penyusup—bagaimanapun, ini bukan rumah Kyungsoo.
Benarkah?
"Kyaaaaa, kejar aku!"
Seorang bocah lelaki berlari ke dalam ruangan itu dengan riang. Kemudian disusul oleh kedatangan seorang bocah lelaki yang lebih besar darinya—Kyungsoo tidak mengenali keduanya. Keduanya memegang pedang ukuran kecil, namun jelas terlihat tajam. Keduanya berlari ke arahnya.
SRING!
Tubuh keduanya menembus tubuh Kyungsoo! Kyungsoo menoleh kaget ke arah kedua bocah itu, kemudian melihat tubuhnya sendiri. Apakah ini hanya mimpi? Apakah ini serpihan kenyataannya? Apakah ini hanya imajinasinya?
Kemudian, seorang wanita muda—masih begitu muda—berlari ke dalam ruangan itu, menyusul kedua bocah tadi. Kyungsoo menatapnya, matanya terbelalak sempurna.
Itu Kyungsoo sendiri!
Kyungsoo muda terlihat begitu bersinar, gaunnya melambai dengan anggun, rambutnya juga melambai dengan lembut. Kyungsoo menatapnya dalam diam, tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Kyungsoo muda merangkul kedua bocah tadi, mengingatkan mereka untuk saling berhati-hati jangan melukai saudara sendiri.
"WANITA JALANG! KEMARI KAU!"
Teriakan ganas terdengar dari lorong rumah. Baik Kyungsoo dan Kyungsoo muda mengalihkan pandangan ke arah lorong rumah itu. Kyungsoo muda mendekap kedua bocah lelaki itu, menyembunyikannya di balik tubuhnya.
"Di situ kau rupanya, dasar jalang! Sudah kubilang, aku hanya mau makan venison! Apa kau tuli, hah?"
Kyungsoo muda menatap pria gendut menyeramkan di depannya dengan marah, dengan kedua anaknya yang bersembunyi di balik tubuhnya. Kyungsoo begitu marah menatap pria itu, dan dia tidak bisa tenang melihat anak-anak itu ketakutan.
"Berhenti! Kau menyakiti mereka!"pekik Kyungsoo, berusaha menengahi suasana.
Namun, suaranya jelas tidak terdengar—Kyungsoo berada di dunia lain, dan keluarga itu berada di dunia yang berbeda.
PLAK!
Pria itu menampar pipi Kyungsoo muda dengan keras, bahkan membuat wanita itu terjungkang ke belakang dan terjatuh—untung kedua anaknya menahan tubuhnya sehingga dia tidak terantuk benda keras. Salah seorang anaknya—yang paling besar—berdiri di depan Kyungsoo muda, mengacungkan pedang kecilnya ke arah pria itu. Dia jelas marah dengan perlakuan pria itu pada ibunya.
"Hahaha, dasar bocah bodoh!"
BUAGH!
"Hentikan! Hentikan!"
Pria itu memukul bocah itu sampai dia terjungkang dan jatuh ke arah Kyungsoo muda—Kyungsoo muda langsung mendekapnya erat. Bocah kecil lainnya menangis ketakutan, memeluk ibu dan kakaknya.
"Sini kalian! Sini!"
Pria itu menarik tangan kedua anak itu. Anak yang paling muda meronta-ronta, berusaha menggapai tangan Kyungsoo muda yang terentang. Anak yang paling tua berusaha melepas genggaman pria itu. Dia bahkan menggigit tangannya dengan keras hingga luka bekas gigitannya berdarah.
CRASH!
"AAAAAAAAAAAA SIAL!"
Anak yang paling tua berlari ke arah Kyungsoo muda, mendekapnya dengan erat. Pria itu berjalan ke arah anak itu, langsung menarik rambutnya tanpa ampun. Anak tertua itu masih mendekap Kyungsoo muda, dan keduanya tidak mau saling melepaskan.
"Sini, bocah sialan!"
Pria itu jelas lebih kuat. Dia menarik rambut bocah itu dengan begitu kuat, dan bocah itu tidak tahan. Perlahan dia melepas dekapannya dari Kyungsoo muda. Kyungsoo muda begitu helpless, dia ketakutan dengan pria itu. Kyungsoo yang sedari tadi berdiri menyaksikan kejadian itu menutup mulutnya, berusaha menahan isakannya. Ya, dia ingat sekarang. Dia ingat memori ini.
Memori dimana dia terakhir kali melihat kedua anaknya, sebelum ia memutuskan untuk kabur dari rumah suaminya dengan tiga anaknya yang lain.
SRING!
Setelah mengingat kejadian itu, entah kenapa semuanya diam. Semuanya terpause begitu saja, berubah seperti manekin. Kyungsoo menatap kejadian di depannya dengan bingung, apa yang sebenarnya terjadi?
SRING!
Cahaya terang menyilaukan dari arah lorong, membuat Kyungsoo mau tak mau menahan silaunya dengan kedua tangannya. Ia memejamkan matanya erat, hingga cahaya itu meredup perlahan-lahan.
Sekarang, dia berdiri di depan sebuah rumah. Rumah kayu besar, rumah yang begitu kelam. Kyungsoo ingat. Ini adalah rumah—mantan—suaminya, rumah yang ia tinggalkan demi kehidupan yang lebih baik. Sudah lama semenjak ia melihat rumah itu, bertahun-tahun sebelumnya.
Kemudian, terjadi time lapse. Hari berganti siang, siang berganti malam, dan terus terjadi beberapa kali. Kyungsoo bisa melihat pendaran bintang-bintang dan galaksi di langit yang berganti dengan teriknya siang hari. Kemudian, semuanya berubah.
Kyungsoo melihat ke sekelilingnya, lantas terdiam. Semua terlihat kacau balau, dengan api berada di mana-mana. Sekelompok prajurit bersenjata besar membantai kelompok-kelompok kecil yang bertarung dengan kuda mereka, dan tentunya kelompok kecil itu kalah kekuatan dan jumlah dengan mereka yang menyerang.
Kejadian ini adalah saat dimana terjadi pembantaian Penunggang Kuda Celtic oleh Kerajaan Saxon.
BRUAGH!
Rumah-rumah di sekitarnya mulai runtuh, dengan api membakar semuanya. Kuda-kuda berkeliaran, lari ketakutan. Mata Kyungsoo tertuju pada seseorang yang tengah berlari menembus kerumunan yang bertarung, dengan sebuah pedang berdarah-darah di tangannya.
Itu Kyungsoo muda, hanya saja dia terlihat lebih berumur dan dewasa sekarang—jelas usianya sudah menginjak sekitar 25-27 tahunan.
Kyungsoo muda berlari ke arah rumah mantan suaminya yang terbakar hebat. Entah apakah ada yang selamat dari kebakaran hebat itu atau tidak, yang jelas kejadian ini merupakan bagian dari sejarah kelam Saxon. Kemudian, semuanya terjadi seperti slow motion—membuat Kyungsoo bahkan tidak percaya bahwa semuanya benar-benar terjadi.
Kyungsoo muda berlari ke arah rumah mantan suaminya, meneriakkan nama seseorang—suaranya samar di telinga Kyungsoo, namun Kyungsoo memahami ucapannya. Seorang pemuda terkulai lemas di atas tanah, dengan luka pada kepalanya yang begitu parah. Kyungsoo mendekap mulutnya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Kyungsoo muda merangkul pemuda itu, menangis sembari memeluknya—tangannya mengusap kepala pemuda itu yang berdarah-darah. Ia langsung mengangkat tubuhnya, kemudian menggendongnya dengan bridal style—kemampuan seorang wanita Penunggang Kuda Celtic memang sebanding dengan kekuatan prajurit biasa.
Kyungsoo muda menghampiri seekor kuda, menaikkan tubuh itu ke atas tubuh kuda itu.
DATS!
Kyungsoo muda hendak menaiki kuda itu, ketika sebuah anak panah menancap di pundaknya. Kyungsoo muda berteriak kesakitan, panah itu bahkan menembus lengannya. Dia berbalik, menatap siapa pelaku yang menembakkan panah itu.
Tampak wujud Peter Park di sana, menyeringai. Dia mengarahkan panahnya ke arah Kyungsoo muda, tidak ingin ada siapapun yang selamat dari pembantaian itu. Kyungsoo muda menatapnya dengan marah. Dia menatap kuda yang ada di sampingnya, kemudian memejamkan matanya—membiarkan tangisnya mengalir.
"Jika kita memang ditakdirkan untuk hidup bersama, anakku, Tuhan akan mempertemukan kita dan aku berjanji akan menemukanmu. Ibu sungguh mencintaimu."
PLAK!
Kyungsoo muda menampar pantat kuda itu dengan sekeras-kerasnya, membuat kuda itu terkaget-kaget dan langsung berlari menjauh—membawa tubuh pemuda yang tadi diselamatkan oleh Kyungsoo berlari menjauh.
DATS! DATS!
Beberapa anak panah dari Peter Park berusaha menghentikan kuda itu, membuat Kyungsoo muda panik. Dia lantas berlari ke arah Peter Park, menerjang tubuhnya dengan keras menggunakan tubuhnya sendiri. Peter Park melempar tubuh Kyungsoo muda ke sembarang arah, berusaha menyingkirkannya.
DUAK!
Dan kepala Kyungsoo muda pun terbentur bebatuan di sana, dengan darah mengalir dari kepalanya. Dirinya mulai tak sadarkan diri, dengan Peter Park yang berdiri menatapnya marah. Peter Park melihat ke arah kuda yang berlari tadi, membawa seseorang di sana. Namun, kuda itu telah hilang dari pandangannya.
Kyungsoo hanya berdiam kaku, menatap kejadian demi kejadian itu. Memorinya memaksa masuk, mengalir seperti aliran samudera yang kencang. Matanya terbelalak, dengan kekagetan dan dirinya yang mulai sadar tentang apa yang terjadi padanya dan keluarganya. Melihat sosok anaknya, membuat Kyungsoo tersadar akan sesuatu. Hatinya hancur sehancur-hancurnya, begitu menyakitkan.
Kyungsoo melihat Kyungsoo muda yang terbaring tak berdaya. Peperangan telah berakhir. Anggota suku yang lain telah tewas oleh Saxon, tubuh bergelimpangan dimana-mana. Time lapse kembali terjadi ke beberapa hari kemudian. Kyungsoo muda menggerakkan tubuhnya, berusaha bangun dari tidurnya. Dia menatap sekelilingnya, semuanya berubah kabur untuknya. Kyungsoo muda berusaha berdiri dengan kedua kakinya, kemudian meraih sebuah pedang di sekitarnya untuk bertumpu. Dia berjalan menjauh dari perkampungan itu, masuk ke dalam hutan belantara—dengan kepalanya dipenuhi darah yang kering.
Kyungsoo terduduk di tanah, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kedua tangannya menangkup wajahnya, berusaha menahan gejolak emosi yang menguasai seluruh inderanya. Semua ini terlalu berlebihan, Kyungsoo bahkan tidak siap.
Dia tidak siap untuk menerima satu kenyataan pahit lainnya, bahkan nanti setelah dia bangun dari komanya.
To be continued!
.
Yahh, intinya tinggal tunggu aja apa yang akan terjadi di chapter selanjutnya hwhwhw!
Jangan lupa baca FF kami yang lain yaaa! Semua ongoing project dijelaskan di profile! Our wattpad and ffn punya cerita yang beda-bedaa, jadi sayang kalo gk dibaca!
Mind to REVIEW and FAVOURITE our FF, please?
HUANG AND WU
