Kyungsoo terduduk di tanah, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kedua tangannya menangkup wajahnya, berusaha menahan gejolak emosi yang menguasai seluruh inderanya. Semua ini terlalu berlebihan, Kyungsoo bahkan tidak siap.
Dia tidak siap untuk menerima satu kenyataan pahit lainnya, bahkan nanti setelah dia bangun dari komanya.
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 20
TAK TOK TAK TOK
Jongin mengendarai kudanya dalam diam, kini ia tengah menuju salah seorang tukang kayu terkenal di ujung Kerajaan Berlin, bermaksud mempekerjakannya untuk membantu membangun dapur istana yang rusak berat.
Ide Jongin untuk meruntuhkan penghubung bagian dapur dengan bagian istana lain ternyata sukses. Api tidak merambat ke bagian kastil yang lain, hal itu memberi cukup waktu untuk seluruh pekerja bahu membahu meredakan ganasnya api. Saat itu, Jongin menyelamatkan Kyungsoo dan membawanya menjauh dari kobaran api. Melihat Kyungsoo tidak terbangun, Jongin segera membawanya ke tabib istana dan membiarkannya diobati. Terhitung sudah 3 hari Kyungsoo belum juga bangun, namun tak juga mati.
Jongin hanya berkelana dalam diam, dalam pikirannya hanya ada Kyungsoo seorang. Dia takut sesuatu terjadi padanya, pada wanita yang begitu ia cintai. Jongin hanya bisa berdoa, semoga Tuhan berbaik hati menjaga Kyungsoo dan membiarkannya terus hidup.
SREK
Lamunan Jongin buyar, ketika seseorang menggenggam kakinya dengan lembut. Jongin menoleh, mendapati seorang nenek-nenek tua renta yang memegangi kakinya. Dengan lembut, Jongin melepas kakinya dari genggaman nenek itu. Ia turun dari kudanya, kemudian menghampirinya.
"Nenek, nenek sedang apa? Ada perlu apa?"tanya Jongin dengan santun.
"Ahh, anak muda. Kau tampan sekali."
Jongin terdiam, kemudian tersenyum sedikit malu karena respon itu. Jongin mengamati wajah nenek itu. Ia menyadari bahwa seluruh mata nenek itu telah terkena katarak—membuatnya buta.
"Apakah nenek tersesat? Mau kuantar, nek?"tanya Jongin, tangannya menggenggam tangan keriput sang nenek dengan lembut.
SRET
Nenek itu memutar tangan Jongin, menghadapkan telapak tangannya ke atas. Satu tangannya yang lain meraba-raba telapak tangan Jongin, membaca seluruh garis pada tangan yang kasar dan penuh luka itu.
"Kau seorang pejuang, hidupmu begitu kelam dan Tuhan menyembunyikanmu dari kenyataan. Tuhan menyembunyikanmu dari sesuatu yang seharusnya diketahui sejak dulu. Ah, entah Dia berbuat tidak adil padamu atau pada wanita itu. Ketidakadilan ini, bersamaan juga dengan keadilan-Nya sebagai nahkoda hidup kita."gumam nenek itu, membuat Jongin mengernyit.
"Nenek sedang apa? Nenek perlu sesuatu?"kasihan Jongin, dia masih belum paham apa yang dilakukan nenek itu.
Nenek itu sedang membaca garis tangannya, meramalkan hidupnya.
"Cinta itu begitu kuat, terlalu kuat, namun terlalu rapuh juga. Ia akan hancur dengan sendirinya, dengan terpaksanya membunuh dirinya sendiri. Cinta ini tidak adil, namun itulah seadil-adilnya cinta yang Tuhan karuniai."gumam nenek itu, membaca garis tangan pada kelima jari Jongin.
Jongin terdiam, memikirkan kata-kata nenek itu. Nenek itu menyinggung 'wanita itu' dan 'cinta'. Apa berhubungan dengan Kyungsoo? Kyungsoo masih koma; batin Jongin, sedih memikirkan Kyungsoonya yang masih terkulai tak berdaya di ruangan tabib. Entah apakah nenek itu bisa membaca pikirannya atau tidak, tiba-tiba nenek itu tersenyum sendu.
"Ah, kehidupan itu telah kembali, Jongin. Kehidupan itu telah kembali, dengan kebenaran yang ia bawa bersamaan dengan kehadirannya yang kembali. Kesedihanmu tidak lagi diperlukan, bersedihlah untuk dirimu sendiri, anakku."
Jongin terkaget dengan ucapan itu. Kehidupan itu telah kembali? Apa jangan-jangan—
"Nenek, izinkan aku pergi! Aku harus kembali ke istana!"
SRET
Dengan agak terpaksa, Jongin melepas genggaman tangan itu. Dia baru akan berbalik menaiki kudanya, ketika tangan keriput itu menahannya lagi. Jongin membalikkan wajahnya, menatap sang nenek yang berubah sedih. Sedih?
"Aku turut berduka, Jongin. Aku turut berduka atas cintamu yang berdiri di atas fondasi yang salah. Aku berharap jiwa ksatriamu akan menerima apa yang terjadi setelah ini, menerima bahwa cinta itu sudah seharusnya tidak ada sejak awal. Aku berharap keadilan ini masih adil untukmu. Kau memiliki jalan yang panjang, anakku. Jalan yang begitu panjang, begitu hidup, begitu perkasa, sebuah legenda yang kau bangun sendiri. Jangan biarkan hidupmu hancur oleh kehancuran hatimu."
Jongin terdiam, genggamannya pada tali kekang kudanya melemas. Dia terdiam mendengar ucapan nenek itu. Nenek itu berjalan maju ke arahnya, mengusap bagian pucuk kepalanya—tepat pada luka di kepalanya yang telah ditutupi oleh rambut. Ia mengusapnya dengan lembut.
"Identitasmu adalah luka ini, tidak kurang tidak lebih. Berpeganglah padanya, prajurit. God be with you."
Setelah mengucapkan itu, nenek itu berjalan menjauhi Jongin dengan terantuk-antuk, berjalan seakan mengetahui kemana tujuannya. Jongin menatap kepergiannya dalam diam, kepalanya berpikir keras.
Ia mengesampingkan pikirannya, kemudian segera menaiki kudanya dan memacunya secepat yang ia bisa ke arah kastil istana.
-XOXO-
Jongin berlari menyusuri lorong istana, melewati beberapa pembantu istana dengan tidak sabaran. Wajahnya berubah cemas, berharap bahwa firasatnya tidak salah. Ia berlari ke bagian ruangan tabib istana.
"Sehun! Sehun!"
Jongin meneriakkan nama Sehun, ketika ia melihat pemuda itu berdiri di depan ruangan Kyungsoo dengan gundah, mondar-mandir tidak jelas. Sehun—yang menyadari kehadiran Jongin—segera berlari menghampiri Jongin. Jongin baru mau menerobos Sehun, ketika Sehun menahan langkahnya.
"Jongin, tunggu! Jongin!"pekik Sehun.
Jongin terdiam, menatap Sehun dengan bingung. Sehun tampak kebingungan, namun ia menghela nafas pelan dan menatap Jongin dengan khawatir. Jongin semakin kebingungan.
"Kyungsoo, dia—"
"Kyungsoo, kenapa? Ada apa?"
Jongin tidak sabaran dengan penjelasan Sehun. Ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat, berjalan ke depan pintu ruangan Kyungsoo itu. Sehun menatap Jongin dengan kaget, secercah kekhawatiran menelusup dirinya.
"Kyungsoo tidak mau kau menemuinya lagi!"
BRAK!
Bersamaan dengan teriakan Sehun, Jongin mendorong pintu ruangan itu dengan keras. Ia merangsek masuk, berdiri berhadapan dengan kasur Kyungsoo—dimana wanita itu tengah duduk di pinggir kasur, bersama beberapa tabib yang mengurusinya. Kyungsoo terkaget-kaget melihat kehadiran Jongin.
"TIDAAAAKK!"
Pekikan Kyungsoo melengking, membuat beberapa tabib segera menenangkannya. Tubuhnya bergerak histeris, ia bahkan menjambak dirinya sendiri. Jongin panik dengan kondisi Kyungsoo, sejurus kemudian segera berlari ke arahnya dan mendekapnya erat.
"Sssssttt, Kyungsoo, sssttt, sayangku, ada apa? Ada masalah apa, hmm? Apa kau baik-baik saja? Aku tahu kamu kesakitan, ada masalah apa?"gumam Jongin, selagi mendekap Kyungsoo erat serta mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
"PERGI! PERGI DARIKU! JONGIN, JANGAN DEKATI AKU!"pekik Kyungsoo, kedua tangannya berusaha memukul Jongin sekeras-kerasnya—sakit memang, tapi Jongin menghiraukannya.
"Ada apa, Kyungsoo? Aku tidak akan melukaimu! Tenanglah, Kyungsoo. Kumohon, tenanglah!"gumam Jongin, masih berusaha menenangkan Kyungsoo.
"TAPI AKU AKAN MENYAKITIMU, JONGIN! PERGILAH, TINGGALKAN AKU!"
Jongin terdiam dengan ucapan itu. Dia tidak mengerti kenapa Kyungsoo berbicara begitu. Selintas, terpikir ucapan nenek misterius yang ia temui beberapa waktu lalu.
.
.
"Aku turut berduka, Jongin. Aku turut berduka atas cintamu yang berdiri di atas fondasi yang salah. Aku berharap jiwa ksatriamu akan menerima apa yang terjadi setelah ini, menerima bahwa cinta itu sudah seharusnya tidak ada sejak awal. Aku berharap keadilan ini masih adil untukmu. Kau memiliki jalan yang panjang, anakku. Jalan yang begitu panjang, begitu hidup, begitu perkasa, sebuah legenda yang kau bangun sendiri. Jangan biarkan hidupmu hancur oleh kehancuran hatimu."
.
.
"Kyungsoo, tenanglah! Aku tidak akan kemana-mana! Aku tidak akan membiarkan dirimu melukaiku! Aku tidak akan membiarkanmu melukaiku, Kyungsoo! Aku tidak akan kemana-mana!"pekik Jongin, masih berusaha menenangkan Kyungsoo.
"Hiks... Jongin, kumohon. Hiks, pergilah Jongin. Hiks, tinggalkan aku, kumohon..."gumam Kyungsoo, dengan tangis yang tidak bisa berhenti mengalir.
Jongin melonggarkan pelukannya, menatap Kyungsoo yang masih menunduk dalam dengan tangis di wajahnya. Jongin benci tangisan itu. Jongin benci melihat wanita yang amat ia cintai menangis sendu begitu. Kedua ibu jarinya mengusap wajah Kyungsoo, menyeka airmatanya dengan lembut.
"Ada apa, Kyungsoo? Kumohon, katakan padaku. Kau tidak akan melukaiku, Kyungsoo. Aku mencintaimu, dan kau mencintaiku. Kita tidak akan melukai satu sama lain."gumam Jongin, berusaha menenangkan Kyungsoo.
Jongin ingin Kyungsoo menjelaskannya. Jongin ingin Kyungsoo mengatakan sesuatu, menjelaskan kondisinya, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja! Tapi kenapa Kyungsoo malah histeris begini?
Kyungsoo terisak pelan, kepalanya tertunduk. Perlahan, satu tangannya bergerak ke arah kepala Jongin, mengusapnya dengan lembut. Kyungsoo menyentuh bagian luka Jongin, mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Jongin terdiam, dia merasa begitu familiar dengan usapan ini—namun ia pendam sendiri.
"Maafkan aku, Jongin. Maafkan aku."gumam Kyungsoo, kemudian menyandarkan keningnya pada kening Jongin—yang kini berjongkok di hadapannya.
"Tidak apa-apa, Kyungsoo. Kau tidak salah apa-apa. Tenanglah, kumohon. Aku mencintaimu, Kyungsoo."gumam Jongin, dengan tangannya mengusap tangan lentik Kyungsoo dengan lembut.
"Aku ingin bicara, empat mata denganmu."gumam Kyungsoo, diangguki Jongin dengan cepat.
Jongin menginstruksikan rekan-rekan tabibnya untuk keluar. Sehun menatap Jongin dan Kyungsoo dari luar, dengan Jongin yang memberinya tatapan meyakinkan. Sehun mengangguk, kemudian—setelah semua orang keluar—Sehun menutup pintu ruangan itu.
Little did Jongin knew, Sehun memutuskan untuk menunggu di luar, meski hatinya gundah dengan kondisi kedua sahabatnya yang saling mencintai itu.
-XOXO-
Jongin masih berjongkok di hadapan Kyungsoo, membiarkan Kyungsoo menenangkan dirinya dulu. Tangan Kyungsoo tak hentinya mengusap kepala Jongin, dengan Jongin tak hentinya mengusap tangan Kyungsoo yang satunya—sesekali menepuknya dengan lembut. Keduanya saling memejamkan mata, membiarkan keheningan itu menguasai mereka.
"Jongin."
"Ya?"
Jongin membuka matanya, menatap Kyungsoo yang masih menunduk dalam. Jongin menggenggam kedua tangan Kyungsoo dengan erat. Ia menatap Kyungsoo dengan tajam, seakan-akan hanya ada Kyungsoo di dunianya. Oh, betapa Jongin begitu mencintai wanita itu. Dia begitu mencintai Kyungsoo dengan segenap hatinya.
"Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, bahwa jika Tuhan memang mengizinkan, aku akan bertemu dengannya."
Jongin mendengarkan dalam diam. Ia membiarkan Kyungsoo berbicara, menumpahkan isi hatinya yang begitu campur aduk. Jongin mengeratkan genggamannya pada Kyungsoo, memberinya kekuatan untuk melanjutkan ucapannya.
"Berjanji untuk bertemu dengan anakku."gumam Kyungsoo, membuat Jongin terdiam.
Jongin tidak paham kenapa Kyungsoo mengungkit anaknya. Jongin sendiri selalu berdoa semoga apapun yang Kyungsoo harapkan dapat terwujud, dan jika ia meminta sesimpel itu, Tuhan pasti akan mewujudkannya dan Kyungsoo bisa menepati janjinya. Jongin yakin Tuhan tidak akan sejahat itu memisahkan Kyungsoo dengan anaknya seumur hidupnya.
Kyungsoo menatap Jongin tepat pada kedua matanya. Kedua mata cokelat bening yang indah, berani, dan begitu polos. Kyungsoo membiarkan airmatanya mengalir, matanya tak berhenti menatap mata Jongin yang memancarkan kecemasan. Kedua tangan lentiknya bergerak mengusap kepala Jongin dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kau tahu? Aku berhasil mewujudkan janji itu."gumam Kyungsoo, serta merta membuat Jongin kaget dan bahagia di waktu bersamaan.
"Benarkah!? Kau bertemu dengan anakmu? Dimana mereka? Dimana anak-anakmu?"tanya Jongin, nadanya begitu bahagia dan bersyukur atas berita bahagia Kyungsoo.
Kyungsoo memejamkan matanya, menolak kontak mata dengan Jongin. Jongin kebingungan, serta merta menggenggam pundak Kyungsoo dengan lembut—membuat Kyungsoo mendongakkan kepalanya. Jongin menatapnya hangat, senyum tak lepas dari wajahnya.
"Dimana dia, Kyungsoo? Katakan padaku. Dimana anak-anakmu?"ucapnya, berusaha meyakinkan Kyungsoo.
Kyungsoo mengangkat kedua tangannya, kembali mengusap rambut Jongin dengan lembut. Kedua tangannya bergerak lembut, memberikan aliran energi aneh pada Jongin. Jongin sendiri tidak paham, dia familiar namun di saat bersamaan tidak familiar juga dengan sensasi ini.
Serta merta Kyungsoo mengusap luka pada kepala Jongin dengan lembut dan penuh sayang, walau matanya menangis tak karuan.
"Satunya telah gugur di medan perang. Di depan mataku sendiri."
.
.
"Dan satunya lagi berada di hadapanku. Mencintaiku."
To be continued!
.
KEPADA PARA PEMBACA UNTUK TIDAK SPILLING SPOILER DI COMMENT SECTION YA!
Maaaafff banget baru bisa diupdate sekarang, HAW sedang sibuk-sibuknya penelitian dan magang soooooo can't talk much in fanfics! Di wattpad juga belum update huhuhu T_T
Untuk story ini, no comment! Selamat membacaaa
Mind to REVIEW and FAVOURITE our FF, please?
HUANG AND WU
