Kyungsoo mengangkat kedua tangannya, kembali mengusap rambut Jongin dengan lembut. Kedua tangannya bergerak lembut, memberikan aliran energi aneh pada Jongin. Jongin sendiri tidak paham, dia familiar namun di saat bersamaan tidak familiar juga dengan sensasi ini.
Serta merta Kyungsoo mengusap luka pada kepala Jongin dengan lembut dan penuh sayang, walau matanya menangis tak karuan.
"Satunya telah gugur di medan perang. Di depan mataku sendiri."
.
.
"Dan satunya lagi berada di hadapanku. Mencintaiku."
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 21
Jongin terdiam. Wajahnya memancarkan kebingungan yang kentara, sedangkan Kyungsoo menundukkan wajahnya—mana kuat ia menatap wajah Jongin. Perlahan, Jongin berdiri dan berjalan mundur menjauhi Kyungsoo. Tanpa ia duga, matanya berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya, berusaha menguatkan dirinya akan berita yang mengejutkan itu.
"Ka-kau—apa?"tanya Jongin, tidak mampu berkata apa-apa.
Kyungsoo berdiri, menatap Jongin dengan matanya yang membengkak oleh airmata. Ia menarik nafas dalam, kemudian menatap Jongin tepat pada matanya. Jongin membalas tatapan itu, kegundahan dan kebingungan mengisi dirinya—dan Kyungsoo menyadarinya. Kyungsoo menyodorkan tangannya, ingin Jongin menggenggamnya.
Jongin menatap tangan itu, kemudian menatap mata Kyungsoo lagi. Mata itu, mata yang persis dengan Jongin. Kyungsoo tampak menguatkan dirinya, semakin tegar dan sabar. Jongin sendiri menyadari ia juga harus menguatkan dirinya. Meskipun masih ragu, Jongin menyodorkan tangannya dan menggenggam tangan Kyungsoo—tangan itu ramping, namun kuat dan sedikit kasar, hasil kerja keras Kyungsoo selama ini sebagai prajurit.
"Anakku."
Tanpa Jongin sadari, ia sudah menangisi Kyungsoo di hadapannya. Hatinya kebingungan, ia hancur dan bangkit di saat bersamaan. Kakinya tidak lagi kuat menahan perasaannya. Jongin jatuh terduduk di hadapan Kyungsoo, dengan Kyungsoo berusaha menahan beban Jongin dengan kedua tangannya. Walau masih lemas karena baru terbangun dari komanya, Kyungsoo tahu tidak ada yang lebih kuat menghadapi gejolak batin Jongin selain dirinya.
"Kyungsoo—hiks, kumohon. Hiks, ya Tuhan. Ibuku. Ibuku."
Hanya gumaman lirih yang Jongin bisa ucapkan, menggema dengan sendu dalam ruangan besar itu. Kyungsoo ikut terduduk di hadapan Jongin, kemudian serta merta mendekap Jongin dengan erat. Jongin membalas dengan sama eratnya—bahkan lebih erat—dan serta merta menelusupkan kepalanya pada ceruk leher Kyungsoo. Oh Tuhan, rasanya sungguh berat untuknya. Jongin sama sekali tidak pernah menduga hal ini terjadi.
Kyungsoo, kekasih tercintanya—salah satu alasannya bertahan hidup dan berjuang di dunia ini—tidak lain tidak bukan adalah ibu kandungnya sendiri.
-xoxo-
Setelah kejadian mengharukan sekaligus menghancurkan itu, Jongin memilih mendekam sendirian di ruangannya. Sehun hampir memaksakan diri untuk menemani Jongin—tentu saja dia khawatir melihat ketidakstabilan Jongin—namun tabib istana yang memahami situasi memutuskan untuk membiarkan Jongin sendiri.
Jongin menatap langit di luar jendelanya, dengan pemandangan perkampungan sekitar dan membentang hingga perbukitan di ujung sana. Jongin hanya bisa termenung, hatinya hancur lebur. Dirinya tak lagi bisa menerima kenyataan bahwa Kyungsoo kekasihnya, selama ini adalah ibu kandungnya. Mengetahui fakta bahwa Jongin sendiri pernah berhubungan badan dengan Kyungsoo, sebuah kenyataan yang mengerikan untuk ia kenang.
"Hentikan! Hentikan!"
Jongin memekik nyaring, dengan kedua tangan mencengkram kepalanya dengan membabi buta. Matanya terpejam erat, kembali menangisi keadaannya. Tubuhnya bangkit berdiri—tanpa sengaja menjatuhkan kursi yang ia duduki—dan berjalan mundur hingga menabrak tembok.
BRAK!
SRING!
Jongin mengeluarkan sebuah blade kecil dari sarung pedangnya, memegang blade itu dengan erat namun bergetar kuat. Kepalanya menengadah dengan putus asa, menatap langit-langit ruangannya yang muram. Matanya tak berhenti menangis, wajahnya pun memucat. Memorinya dengan Kyungsoo menghantam ingatannya dengan membabi buta—seakan tidak membiarkannya lepas.
Memori ketika ia pertama bertemu Kyungsoo.
Memori ketika ia memberi apel pada Kyungsoo.
Memori ketika ia mengunjungi Kyungsoo di ruangan tabib istana.
Memori ketika ia menyelamatkan anak-anak bersama Kyungsoo.
Memori ketika ia dan Kyungsoo berkuda bersama.
Memori ketika ia bercinta dengan Kyungsoo.
Memori ketika ia mencium Kyungsoo dengan lembut di dalam kandang kuda.
Memori ketika ia berjanji pada Kyungsoo untuk selalu kembali dan melindunginya.
Memori ketika ia menyelamatkan Kyungsoo dari kobaran api.
Memori ketika Kyungsoo tersenyum simpul di hadapannya.
"TIDAKKK! HENTIKAN! HENTIKANN!"
TOK TOK TOK!
"Jongin? Jongin?"terdengar suara tak asing dari luar kamarnya—suara Sehun.
Little did Jongin knew, Sehun memutuskan untuk menunggu di luar ruangan Jongin saking khawatirnya dengan keadaan sahabatnya.
"TIDAKK! TIDAKK! HENTIKAN SEMUA INI!"pekik Jongin, ia begitu frustasi dan putus asa akan dirinya.
"Jongin? Buka pintunya!"
Jongin menatap pintu kamarnya dengan tatapan kosong, tangannya yang memegang blade bergetar hebat. Ia berusaha menumpukan dirinya pada kedua kakinya yang entah kenapa melemah seiring dengan waktu. Ia menengadahkan kepalanya lagi. Hatinya—yang sudah hancur berkali-kali karena kehilangan orang yang ia sayangi—sekali lagi harus merelakan salah satu orang tersayangnya lepas dari hatinya dan kembali dalam bentuk yang baru.
Pemikiran bahwa ia tak bisa menggapai rasa cinta Kyungsoo sebagai seorang lelaki sungguh menyakitinya. Menyakitinya dengan begitu kuat.
"TIDAAKKK!"
BRAK!
Sehun mendobrak pintu itu, dan tatapannya menatap horor pada Jongin yang telah mempersiapkan blade tajam mengkilap tepat di depan dadanya. Jongin memejamkan matanya kuat, dan langsung mengarahkan blade itu pada jantungnya.
"JONGIN, JANGAN!"
CRASH!
Jongin memejamkan matanya kuat, menguatkan dirinya untuk menghukum dirinya sendiri dan mengakhiri hidupnya. Namun, ia tak merasakan apa-apa. Ada apa?; batinnya. Ia pun membuka matanya, lantas terpekik.
Sehun berdiri di depannya, menghadang pergerakan blade itu dengan menjadikan tangan kirinya sebagai target tusukan—hingga menembus punggung tangannya. Darah mengalir deras, dengan Sehun berusaha menguatkan dirinya melawan rasa sakit itu. Sehun menatap Jongin tepat pada matanya, menghadapi mata yang penuh dengan rasa sakit dan penderitaan batin itu.
"Jangan. Pernah. Lakukan. Itu."
Jongin terdiam mendengar Sehun. Sehun mengambil alih blade yang menusuk itu, serta merta memegang gagang blade itu. Ia menatap Jongin dengan mantap, kemudian memantapkan dirinya untuk menarik blade itu dari telapak tangannya. Rahangnya ikut mengeras, menahan rasa sakit yang tak terhitung itu.
CRASH!
"AAARRGHHH!"
Sesaat setelah menarik sekuat tenaga blade itu, akhirnya blade itu terlepas. Sehun membanting blade itu jauh, dengan tangan yang berdarah hingga mengaliri lantai. Dengan satu tangannya, Sehun menggenggam sisi kepala Jongin—Jongin masih sangat syok dengan segala rentetan kejadian hari itu, terkhusus dengan kondisi Sehun di depannya. Sehun mengusap kepala Jongin dengan lembut, dan memaksa Jongin menatap tepat pada matanya.
"Jangan pernah lakukan itu."
Jongin berkaca-kaca di depan Sehun, serta merta airmata mengalir begitu saja dari matanya. Sehun menyandarkan kening Jongin pada keningnya, keduanya saling memejamkan mata. Sehun begitu memahami hati Jongin yang begitu hancur, tak bisa lagi diperbaiki siapapun. Sehun membiarkan Jongin menangis di hadapannya, melampiaskan perasaannya yang begitu campur aduk. Kedua tangan Jongin menggenggam kedua pundak Sehun, berusaha menahan dirinya dari ambruk di depan sahabat terdekatnya—yang kemudian dibantu Sehun dengan menyokong tubuh Jongin. Sehun mengangkat kedua tangannya dan tidak memedulikan rasa sakitnya, kemudian mengusap kedua sisi kepala Jongin—Jongin tidak memedulikan darah pada tangan kiri Sehun.
"Kau adalah pejuang. Kau adalah seorang ksatria. Kau adalah seorang tentara. Kau adalah seorang pahlawan. Jangan akhiri dirimu seperti ini. Aku masih membutuhkanmu, Kim Jongin. Aku selalu membutuhkanmu. Kami semua membutuhkanmu. Aku mungkin egois tapi aku tak bisa membiarkanmu mengakhiri dirimu seperti ini."bisik Sehun, tepat di depan wajah Jongin.
Kedua tangan Jongin menggenggam kedua tangan Sehun yang mengusap kepalanya, matanya masih menangisi hatinya. Sehun mendekat pada Jongin, memeluk sahabatnya dengan begitu erat. Jongin membalas pelukan itu, menangis dalam pelukan Sehun yang perlahan menenangkannya.
Seketika, Jongin teringat sesuatu. Suatu ucapan dari nenek peramal misterius yang ia temui tempo lalu.
.
"Aku turut berduka, Jongin. Aku turut berduka atas cintamu yang berdiri di atas fondasi yang salah. Aku berharap jiwa ksatriamu akan menerima apa yang terjadi setelah ini, menerima bahwa cinta itu sudah seharusnya tidak ada sejak awal. Aku berharap keadilan ini masih adil untukmu. Kau memiliki jalan yang panjang, anakku. Jalan yang begitu panjang, begitu hidup, begitu perkasa, sebuah legenda yang kau bangun sendiri. Jangan biarkan hidupmu hancur oleh kehancuran hatimu."
.
Jongin melonggarkan pelukannya dari Sehun, menatap wajah sahabatnya. Sehun menatap Jongin, pandangannya menguatkan Jongin dan meyakinkannya bahwa Jongin tidak sendirian. Jongin mengeluarkan sebuah kalung gigi singa—kalung pemberian Jongdae tepat sebelum perang yang merenggut nyawanya—dari lehernya, kemudian melepasnya. Ia meraih tangan Sehun yang tidak terluka, kemudian menaruh kalung itu di atasnya.
"Ini apa, Jongin?"tanya Sehun, kebingungan.
"Sehun, aku bisa memercayaimu, kan?"tanya Jongin, nada suaranya lirih—namun Sehun tahu, Jongin berusaha kuat untuk tegar dalam ucapannya.
"Kau bisa memercayaiku, brother. Selalu."ucap Sehun, dengan penuh keyakinan.
"Kau tahu, aku tidak bisa menikahi Kyungsoo."ucap Jongin, kemudian wajahnya menunduk dalam.
Sehun terdiam. Dia mengetahui masalahnya. Kyungsoo menceritakan kejadian yang terjadi antara dirinya dengan Jongin pada Sehun dan tabib istana, hal itulah yang membuat Sehun begitu khawatir dengan kondisi Jongin. Sehun sangat mengetahui betapa besar cinta Jongin sebagai seorang lelaki pada Kyungsoo, yang ternyata merupakan ibu kandungnya sendiri. Entah seberapa hancur hatinya ketika mendengar berita itu.
"Maukah kau melakukan sesuatu untukku?"tanya Jongin, menatap Sehun dengan putus asa.
"Untukmu, Jongin. Apapun akan kulakukan."ucap Sehun, menatap Jongin dengan mantap—ia ingin meyakinkan Jongin, meyakinkan bahwa ia tidak kemana-mana dan selalu mendukung sahabat sehidup sematinya.
"Satu permintaan terakhirku padamu, brother."
.
.
"Kumohon dengan segenap hatiku, nikahilah Kyungsoo, ibuku. Jaga dia dengan nyawamu, demi aku."
-xoxo-
Kyungsoo terdiam di atas ranjangnya, masih berusaha mengontrol dirinya yang begitu sensitif dan rapuh. Ia mengepal tangannya, berkali-kali mengontrol nafasnya. Ia menatap jendela di sampingnya, berharap pemandangan di luar istana akan menenangkannya.
CKLEK
Kyungsoo menoleh, mendapati Sehun yang memasuki ruangannya. Di belakangnya, diikuti oleh beberapa tabib istana, pelayan istana, Jongin, dan juga Raja Marseilles serta Raja Joann. Kyungsoo serta merta berdiri, kebingungan dengan kenapa semua orang ini berkumpul di kamarnya. Matanya menatap Jongin yang begitu sembab dan sendu, namun dihadiahi sebuah senyuman kecil lemah dari Jongin.
Sehun berjalan dengan mantap ke arah Kyungsoo, berdiri di hadapannya. Kyungsoo bingung dengan Sehun, dan Sehun berusaha memantapkan dirinya.
"Aku berjanji pada sahabatku sendiri bahwa aku akan membahagiakannya dan melakukan apapun untuknya. Jika ia tak bisa mendapatkan kebahagiannya, maka aku berkewajiban untuk menjaga kebahagiaan itu dengan segenap jiwa ragaku."
Setelah berucap begitu, Sehun berlutut di hadapan Kyungsoo—membuat Kyungsoo kaget bukan main. Sehun menyodorkan kalung gigi singa yang ia dapat dari Jongin, menggenggamnya erat dan memperlihatkannya pada Kyungsoo. Ia mengangkatnya dengan penuh hormat, sembari matanya menatap lurus pada mata Kyungsoo.
Raja Marseilles dan Raja Joann berjalan ke arah mereka, masing-masing keduanya berdiri berhadapan di sisi yang berlawanan. Kyungsoo menatap keduanya bergantian, dengan Raja Marseilles yang hanya menunduk seraya mengangguk kecil.
"Prajurit Oh Sehun, prajurit infanteri kebanggaan Kerajaan Paris, bermaksud mempersunting Kyungsoo, prajurit Penunggang Kuda Celtic di bawah kesaksian dan perwakilan Raja Joann dari Kerajaan Berlin."
Kyungsoo terdiam, kemudian menatap Sehun—meminta penjelasan dan meyakinkannya. Sehun menatapnya dengan yakin, kemudian mengangguk mantap—ia sudah membulatkan hatinya untuk hal ini. Kyungsoo menatap Jongin, yang hanya berdiri diam di antara pelayan dan tabib istana. Jongin menatapnya dengan nanar, namun sejurus kemudian tersenyum lemah dan mengangguk—memberikan izin pada Kyungsoo. Mata Kyungsoo berkaca-kaca.
Ia bisa melihat betapa terlukanya Jongin, namun ia tahu inilah hal yang sudah Jongin pinta pada Sehun, sahabat sehidup sematinya. Jongin menitipkan kebahagiaan terakhirnya pada sahabatnya, meyakinkan bahwa ada orang yang akan menjaga Kyungsoo dengan sepenuh hatinya selain dirinya.
"Saya, Kyungsoo, prajurit Penunggang Kuda Celtic, menyatakan menerima pinangan dari prajurit Oh Sehun, prajurit infanteri kebanggaan Kerajaan Paris."
Sehun berdiri di hadapan Kyungsoo, menatapnya dalam—meminta izin pada Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk kecil. Sehun melingkarkan tangannya pada leher Kyungsoo, memasangkan kalung gigi singa itu pada Kyungsoo. Kyungsoo menangis dalam diam, menunduk dalam. Sehun mengusap kedua pundak Kyungsoo, berusaha menguatkan diri keduanya.
Dan ketika mereka menoleh ke tempat Jongin berdiri, sayangnya, Jongin sudah tidak di sana.
To be continued!
.
Seakan penderitaan Jongin nggak ada habisnya, tapi ya memang itu yang ingin HAW portray sejak awal dibuatnya FF ini! Memang nggak bisa diterima mungkin sama readers, mengingat Jongin sudah berjuang begitu keras dan mengorbankan segalanya untuk hidupnya, tapi pada akhirnya Tuhan ternyata punya jalan berbeda untuknya.
Pada akhirnya, misi terakhir Tuhan untuk Jongin akan segera dijelaskan pada chapter-chapter selanjutnya!
Mind to REVIEW and FAVOURITE our FF, please?
Huang and Wu
