BE MY EMPEROR

(i'll be your king)

.

I wish for you to have no worries

I wish for you to be smiling

Like time has stopped

(—Good Night, CHEN)

.

.

.

ii

Ada sebuah legenda yang sempat Byungchan baca ketika ia mendekam di perpustakaan istana, mempelajari calon tempat tinggalnya. Gemiond—tanah yang beku sepanjang tahun.

Konon, ratusan tahun yang lalu, Gemiond adalah negara empat musim layaknya Arosaluz. Negara yang berbunga pula, meski tidak sekaya kampung halaman Byungchan. Maklum, jika Arosaluz terkenal akan ragam floranya, maka limpah permatalah yang memasyhurkan Gemiond.

Hanya dibutuhkan keegoisan seorang perempuan untuk merenggut matahari dan warna dari sebuah negara.

Semua bermula kala Gemiond masih dipimpin sosok ratu. Menurut legenda, Ratu Berlian I merupakan wanita yang tak bisa ditandingi kecantikannya. Kulit pucat dan mulus yang haram hukumnya untuk disentuh sembarang orang. Batang hidung yang tinggi dan kokoh. Rambut panjang berwarnakan malam. Begitu elok parasnya, hingga disandingkan dengan dewa-dewi. Terlalu indah, sampai tak ada yang dapat menaklukkan hatinya.

Hingga suatu hari.

Ratu Berlian I jatuh cinta. Ia kasmaran dengan seorang pria tak bernama, tanpa lambang kerajaan di dadanya—sosok yang tak sebanding, berjarak bumi dan kayangan. Namun, layaknya pasangan dimabuk asmara, mereka lupa dunia. Lupa dengan kesenjangan di antara mereka. Seakan isi semesta hanya ia dan kekasihnya.

Orang tua dan leluhur Ratu Berlian I tidak terima. Yang benar saja, manusia seagung Sang Ratu berhak mendapatkan yang lebih baik, yang lebih berkuasa, yang setara. Maka tanpa sepengetahuan penguasa pertama di negara itu, diaturlah perjodohan antara Ratu Berlian I dengan seorang putra bangsawan.

Tak bisa digambarkan dengan kata-kata betapa murkanya Ratu ketika mengetahui berita perjodohannya, yang kemudian berubah menjadi kepahitan kala tahu bahwa ikatan itu sudah disumpahkan pada dewa dan dewi. Sumpah di hadapan para roh sakral sifatnya, dan sarat hukuman. Jika ikatan tersebut diputus atau dikhianati, pelakunya tidak dapat lari dari kutukan.

Malam itu juga Ratu Berlian I melarikan diri dari istana. Menangis di pelukan kekasihnya, memohon, "bawa aku pergi dari sini. Ke tempat yang tak bisa dijangkau dewa-dewi. Di mana kita bisa bebas saling mencintai."

Maka pergilah mereka ke selatan, di tengah landa badai salju yang lebih pekat dari biasa. Sang Ratu menanggalkan mahkota dan kemuliaannya, meninggalkan keluarga dan rakyatnya. Selama ia bersama dengan orang yang ia cintai, kehilangan segala sesuatu rasanya impas.

Tapi di mata dewa-dewi, tak ada impas untuk sumpah yang dilanggar.

Keesokan paginya, jenazah mereka berdua ditemukan, tak jauh dari perbatasan Gemiond. Terjerembap di gundukan salju. Beku. Biru. Menghadap satu sama lain, ujung hidung bersentuhan. Di antara mereka, setangkai bunga asing—kelopaknya bening dan keras, mengilat dalam sentuhan—tumbuh, seolah-olah hendak berperan sebagai nisan bagi sepasang kekasih yang lari dari kekangan takdir.

Sejak hari itu—entah semesta yang berkabung, atau sebagai pengingat akan kefanaan manusia—musim dingin menolak berhenti. Lantas hijau-hijauan dan warna pelangi bunga lenyap dari Gemiond, eksistensi mereka seakan tak pernah menjadi bagian dari histori kerajaan itu.

Yang tersisa hanya Glacia; bunga yang beku dalam waktu.

.

.

Masa bodoh dengan legenda, Byungchan benci sekali dengan Ratu Berlian I saat ini.

Baru beberapa menit ia turun dari kapal dan menginjakkan kaki di negara suaminya, dan Byungchan sudah merindukan musim panas di Arosaluz. Ia bahkan enggan untuk sekadar menanyakan temperatur—yakin angka yang akan muncul alien baginya. Byungchan bersumpah demi Iuna, dewi bangsa Rosalian, musim dingin di Arosaluz tidak pernah semembekukan ini.

Sang Pangeran Terakhir mempertemukan kedua tangannya dan menggesek mereka, sesekali telapaknya ia tiup. Bodohnya Byungchan, entah di mana ia letakkan sarung tangannya.

"Kamu kedinginan?"

Byungchan berhenti menggosokkan telapak tangannya dan menoleh ke sumber suara. Kontras dengannya, Seungwoo seolah tidak terusik oleh angin dingin yang menusuk-nusuk kulit Byungchan. Padahal, Seungwoo tidak memakai mantel setebal dirinya. Entah rahasia apa yang tersembunyi di balik kulit putih para Gemian.

"Tidak, Yang Mulia," sangkal Byungchan, berusaha keras menahan gemeletuk giginya. Gagal total. Mukanya memerah malu melihat senyum tipis yang terbit di wajah Seungwoo. Byungchan berdeham untuk menutupi kecanggungannya. Masih ada juga sisa rasa tidak enak hati setelah insiden "merajuk"nya malam itu. Pagi berikutnya, ia menyesal telah terlalu terbawa perasaan—bagaimanapun Seungwoo benar, mereka berdua senasib di sini. Diperburuk dengan Seungwoo yang bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi selama dua hari dua malam perjalanan mereka ke Gemiond. Keduanya tetap tidak banyak bertukar isi pikiran, tapi setidaknya suaminya tak pernah absen menanyakan keadaan dan kebutuhan Byungchan.

"Boleh ulurkan tanganmu?"

Byungchan mengulurkan tangan kanannya bingung.

"Dua-duanya."

Bohong kalau ia tidak semakin heran, tapi Byungchan menurut saja. Kedua tangannya disambut oleh jari-jari Seungwoo yang—anehnya—hangat. Pangeran Gemiond itu lalu melepas cincin di jari manis Byungchan. Laki-laki itu gelagapan—apa yang Seungwoo lakukan?

Belum selesai Byungchan berkutat dengan kepanikan, Seungwoo sudah dengan cekatan memakaikannya sepasang sarung tangan tebal. Setelah kulit Byungchan tuntas diselimuti wol, Seungwoo mengambil tangan kanan sang suami dan memulangkan cincin pernikahan Byungchan ke jari manisnya.

"Jangan lupa pakai sarung tanganmu di sini. Gemiond luar biasa dingin bagi pendatang."

"A-ah," Byungchan menggaruk tengkuknya dengan tangan kiri. Pasalnya, tangan kanannya masih digamit Seungwoo. "Akan kuingat. Terima kasih, Yang Mulia."

Percakapan keduanya otomatis terhenti ketika seorang pria yang Byungchan tebak usianya tidak jauh dari Seungwoo berjalan mendekati mereka. Matanya intens. Raga tinggi. Kulit putih sepucat salju menunjukkan identitasnya sebagai sesama Gemian. Seperti Seungwoo, ia tidak tampak terganggu dengan rendahnya suhu. Mungkin benar, bangsa Gemian terlahir dengan tubuh yang kebal dingin. Byungchan tidak sempat mempelajarinya.

"Paduka Pangeran, Hamba berniat menyampaikan pesan dari istana," ujar laki-laki itu, melipat satu lutut dan membungkuk di hadapan kedua pangeran. Setelah Seungwoo menginstruksikannya untuk bangkit dari posisi, baru laki-laki itu melanjutkan, "Yang Mulia Ratu Berlian berniat menjemput Paduka Pangeran beserta suami di perbatasan istana."

Seungwoo mengangkat alis. "Tidak biasanya. Ada masalah apa, Seungyoun?"

"Sepertinya Yang Mulia Ratu sudah tidak sabar untuk bertemu Yang Mulia Pangeran Byungchan," jawab Seungyoun. Byungchan mengamati laki-laki itu. Nada bicaranya formal, tapi kilatan jahil di mata Seungyoun menunjukkan ia lebih dekat dengan Seungwoo dari yang ditampakkan.

Seungwoo menghela nafas, memijat hidung mancungnya. "Sepertinya ada sesuatu yang tidak kuketahui," gumamnya lebih kepada diri sendiri. "Lebih baik kita bergegas. Keretanya sudah siap?"

Seungyoun mengafirmasi pertanyaan Seungwoo. Tak lama, kereta kuda mewah dengan logo kerajaan berhenti di depan mereka. Seungwoo masih menggenggam tangan Byungchan ketika ia menuntunnya masuk ke dalam kereta.

Ia masih juga menggenggam tangan Byungchan ketika kereta itu berjalan.

"Erm, Yang Mulia?" Byungchan membuka suara.

"'Seungwoo' saat kita berdua, Byungchan."

Byungchan menggelengkan kepalanya, tak habis pikir. Sudah beberapa hari mereka memperdebatkan perihal panggilan, dan Seungwoo tetap tidak mau mengalah—kokoh dengan pendiriannya. "Baiklah, Seungwoo, sampai kapan kamu mau memegang tanganku?"

Seungwoo sontak mengangkat kepalanya dan menatap Byungchan, terkejut. Ia menarik tangannya dari milik Byungchan. "Ah, maaf, aku sudah membuatmu kaget. Aku lupa. Tadi kita dikelilingi banyak pelayan dan pengawal Gemiond, kukira tidak ada salahnya mengumbar sedikit afeksi di muka umum, mengingat di mata mereka kita adalah sepasang kekasih. Apa kamu merasa tidak nyaman?"

Byungchan menunduk, lalu melipat kedua tangan di pangkuan. "Tidak juga. Tapi lain kali bilang padaku dulu. Supaya aku bisa mengikuti skenariomu."

Byungchan mendengar Seungwoo mengiyakan permintaannya di sela-sela tawa canggung. Setelah itu, tak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Byungchan memilih menatap ke luar jendela. Mengamati salju yang menumpuk dan langit muram Gemiond. Matanya menangkap kilau beberapa Glacia liar yang tumbuh sembarangan. Ia penasaran dengan bunga itu. Bunga yang hanya mau memunculkan wajahnya di Gemiond dan menolak permukaan asing, bahkan firdaus kembang seperti Arosaluz sekalipun.

Ingatan Byungchan melayang ke legenda itu. Separuh dirinya mempertimbangkan kemungkinan kisah tersebut nyata. Terlalu magis untuk dipercaya, memang. Tapi keberadaan Glacia sendiri sesuatu yang cukup janggal; membuat penggemar bunga seperti Byungchan dirundung penasaran.

Yah, suara yang pahit dalam dirinya angkat bicara, nyata atau tidak, ratu bodoh itu berani mengejar yang diinginkan hatinya. Meski berakhir mati sia-sia.

Sepertinya semesta tidak tergerak dengan sentimentalitas Byungchan, karena kereta yang ditumpanginya berangsur-angsur memelan, sebelum berhenti sepenuhnya. Ia menarik nafas pelan, menguatkan dirinya sendiri sebelum bertemu dengan sang ibu mertua.

"Kita sudah sampai, Byungchan," suara Seungwoo memecah konsentrasinya. Byungchan menoleh, menangkap tatapan Seungwoo yang sulit diartikan. Pintu kereta dibukakan dari luar, dan Seungwoo memalingkan pandangannya, bergerak turun mendahului Byungchan. Sedikit bagian dari diri Byungchan kecewa dengan absennya uluran tangan Seungwoo. Byungchan gugup bukan main, ia butuh dukungan ekstra sekarang. Ia teringat Jinhyuk yang biasa menyemangati dan meyakinkannya. Oh, salahkan kepalanya, Byungchan malah semakin merasa sendirian.

Ketika kaki Byungchan memijak tanah, ia melihat Seungwoo tengah memberi salam pada Ratu Berlian dengan saling bergesakan hidung, seperti tradisi Gemiond. Wajah ibunda Seungwoo sama seperti yang diingatnya sejak pertemuan pertama mereka, beberapa minggu sebelum pernikahannya dengan Seungwoo di Arosaluz. Dingin, kaku, tak bersahabat. Di saat yang sama, indah bukan main, seperti titisan dewi.

Ratu Berlianlah yang pertama menangkap matanya. Byungchan yang tertangkap basah segera menundukkan kepala.

"Putra," panggilnya singkat. Seungwoo, mengerti maksud ibunya, memberikan gestur pada Byungchan untuk mendekat.

"Yang Mulia Ratu Berlian. Perkenalkan, suami saya: Pangeran Terakhir Arosaluz, Choi Byungchan."

Byungchan melipat tangannya di bawah dada dan membungkuk sembilan puluh derajat. Jantungnya berdegup kencang. Byungchan tidak pernah dekat dengan orang tuanya, tapi betapa ia merindukan keberadaan mereka sekarang. Rasanya ingin ia kembali ke usia sepuluh kali musim semi dan bersembunyi di balik figur ayah dan ibunya yang besar dan tegap, membiarkan mereka yang berbicara untuknya.

"Bangkit, Byungchan."

Byungchan mengikuti perintah Ratu. Ia menemukan dirinya menjadi pusat perhatian, ditatap dari segala arah. Mata Seungwoo, Seungyoun, dan pengawal-pengawal yang berkumpul di sana. Belum lagi sepasang mata paling mengintimidasi yang tentu saja dimiliki wanita di hadapannya. Wahai Iuna, Byungchan tak pernah ingin meringkuk dan bersembunyi dalam tubuhnya sendiri seburuk ini. Tetap saja ia memaksa dirinya berdiri tegak, menatap Ratu Berlian dengan senyum yang ia harap tidak terlihat dipaksakan. Ia ingin meninggalkan kesan yang baik di depan keluarga Seungwoo.

Mungkin Iuna mendengar doanya, karena setelah itu Ratu Berlian memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya dengan seulas senyum kaku. Wanita paruh baya bertubuh kurus dan menjulang itu—tingginya hampir mencapai dagu Byungchan—mengulurkan tangan putihnya. "Selamat datang ke Gemiond, Byungchan. Saya harap perjalananmu nyaman?"

Byungchan buru-buru menjabat tangan Sang Ratu. "Terima kasih Yang Mulia. Perjalanan Hamba nyaman. Hamba berharap Yang Mulia dikaruniai kesehatan selama kita tidak bertemu." Kemudian Byungchan teringat gestur yang dilakukan Seungwoo. Maka ia mencondongkan tubuhnya, memejamkan mata, dan menggesekkan hidungnya dengan hidung Ratu Berlian.

Seluruh orang yang menyaksikan terkesiap.

Begitu juga Byungchan, saat merasakan tarikan di pinggangnya. Ia membuka mata dan benar saja, ada tangan Seungwoo di sana, menariknya mendekat. Byungchan linglung—saking linglungnya, ia hampir tidak mendengar Seungwoo yang berulang kali membungkuk sambil meminta maaf.

...Meminta maaf untuk apa?

Di kala Byungchan mengangkat kepalanya, ia bertemu pandang dengan ibunda Seungwoo yang sedang memasang ekspresi terdatar di wajahnya. Perempuan itu bahkan tidak menghiraukan putra semata wayangnya yang masih membungkuk, lebih memilih untuk menatap Byungchan tajam. Sesuatu dalam diri Byungchan bergetar. Apa ia melakukan kesalah...

"Pangeran Byungchan," Ratu Berlian berdeham. "Tidak belajarkah kau, kalau tradisi ciuman hidung Gemiond eksklusif bagi sepasang kekasih... dan keluarga kandung?"

Oh, Iuna, bunuh saja Byungchan sekarang.

.

.

.

Impresi pertama Seungwoo terhadap Choi Byungchan adalah "tanggung jawab".

Seungwoo ingat ia masih berumur lima belas tahun ketika dirinya dipanggil ke ruang kerja Raja Berlian. Ayahnya menyodorkan potret anak laki-laki yang asing di matanya. Potret formal, seperti yang ia juga miliki, tergantung rapi di kamarnya dan lorong istana. Mengenakan baju kebesaran istana, berdiri tegak di depan lambang kerajaan dengan dua tangan terlipat di hadapan tubuhnya. Bedanya, pakaian yang anak itu kenakan adalah kemeja hitam dan setelan jas merah gelap dengan bordir mawar hitam di kerah dan lengannya; bukan seragam istana serba putih dengan aneka ornamen permata yang biasa dikenakan Keluarga Kerajaan Gemiond untuk potret tahunan. Mahkota yang mereka kenakan juga berbeda. Di kepala anak itu, mahkota bunga melingkar dengan indahnya, kontras dengan mahkota berlian berat yang duduk di kepala Seungwoo.

Tapi sorot mata anak itu—sorot mata itu bisa Seungwoo kenali kapan saja. Ia menemukannya setiap hari pada pantulan wajahnya di cermin raksasa kamarnya yang kelabu.

Seungwoo bisa mengenali burung dalam sangkar dengan sekali lihat.

"Namanya Choi Byungchan," ujar Raja Berlian. "Suamimu di masa depan, Putra."

Kalimat itu diucapkan dengan nada final. Mengindikasikan bahwa dari awal, tak ada ruang untuk perdebatan, apalagi penolakan. Seungwoo tahu diri. Seumur hidupnya, ia sudah dilatih untuk menundukkan dan menganggukkan kepalanya di hadapan mandat Keluarga Berlian. Raja selalu menekankan: Seungwoo Putra. Seungwoo penerus takhta. Dengarkan baik-baik titah Raja, agar kau pun kelak menjadi raja.

"Arosaluz negara yang kuat. Byungchan pangeran bungsu dari empat bersaudara. Kau paham maksudnya, Putra?"

Tentu saja Seungwoo paham. Sebagai bungsu dari empat bersaudara, Byungchan terlalu jauh dari takhta. Bahkan anak saudara-saudaranya saja memiliki kesempatan lebih besar untuk mewarisi kekuasaan daripada Pangeran Terakhir. Dapat dipastikan juga, tidak banyak tugas penting yang akan dipercayakan pada Byungchan. Bentuk pengabdian paling berarti yang bisa ia lakukan adalah menjadi suami orang. Orang terpandang. Untuk aliansi, perdamaian, perjanjian—apapun, atas nama negara.

Takdir Byungchan adalah menjadi upeti. Persembahan.

Senjata cadangan.

Sekarang Seungwoo semakin mengerti makna di balik sorot mata itu.

"Bulan depan akan ada kunjungan ke Arosaluz untuk membahas rencana kerja sama. Putra, kau ikut," titah Raja. Ia menatap Seungwoo intens, lama. Menjepit Seungwoo di posisinya berdiri. Seungwoo tidak bodoh, ia bisa mengenali sebuah ancaman dalam diam, terutama ketika ia menjadi targetnya. Bahkan sekarang, bungkam sang ayah dapat Seungwoo terjemahkan menjadi satu instruksi yang ia kenal baik: "jangan kecewakan saya".

Seungwoo melipat satu tangan di depan tubuhnya, lalu membungkuk dalam. "Jadilah kehendak Anda, Yang Mulia."

Selama sebulan penuh, mimpi Seungwoo dibayang-bayangi wajah Raja Berlian, dua ekor burung biru, dan sepasang mata yang sendu. Ia selalu terbangun dalam kondisi tubuh yang basah oleh keringat.

.

.

Seungwoo pertama kali melihat Byungchan ketika usia Byungchan "dua belas kali musim semi". Setidaknya itu yang ia dengar terlontar dari mulut Raja Arosaluz di aula perjamuan. Byungchan sendiri tidak ikut menyambut kedatangan rombongan Gemiond. Menurut Raja Arosaluz, Pangeran Terakhir sedang menjalani bimbingan harian dengan tutor istana.

Usai makan, orang tua Seungwoo dan orang tua Byungchan meninggalkan tempat—untuk membahas urusan orang dewasa. Seungwoo diperbolehkan menjelajahi istana, tentu dengan ditemani pengawal.

Seungwoo segera memanfaatkan kesempatan itu untuk mengunjungi taman bunga istana. Sudah lama ia penasaran dengan makhluk-makhluk rapuh itu. Menurut berbagai ensiklopedia yang Seungwoo baca, bunga seharusnya beragam dalam bentuk dan warna, kelopaknya mudah tanggal. Berbeda dengan Glacia yang transparan dan keras.

Ketika ia menginjakkan kaki di sana, Seungwoo berani bersumpah ia berada di kayangan.

Nuansa neon dan pastel yang tak pernah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, terhampar di hadapannya dengan cuma-cuma. Kuning aprikot, hijau, hingga lembayung yang menjadi kelangkaan di kampung halamannya hadir berdampingan—bahkan biru langit begitu menyakitkan mata; cerah dan bangga. Seakan tak hanya dirinya yang memuja keindahan surga itu, kerumunan Sparkleia menginvasi taman, berhinggapan di bunga-bunga yang tak Seungwoo ketahui namanya. Pemandangan itu begitu ajaib, Seungwoo takut ia sedang dimabuk khayal.

Namun satu hal yang lebih-lebih menyita nafasnya, panorama yang melebihi indah corak dan warna yang mengerumuni indranya—seorang laki-laki yang tengah berjongkok di depan semak mawar, jari-jarinya yang panjang menyentuh helaian bunga dengan lembut, seolah takut menyakitinya. Entah mengapa, Seungwoo merasakan tenaga magnetis kuat dari laki-laki itu. Ia bahkan harus menahan kedua kakinya mati-matian supaya tidak menyongsong lelaki satunya bak sahabat lama yang terpisah.

Ia tak tahu alasannya, tapi ia merasa seolah-olah belum seharusnya mereka bertemu.

Seekor Sparkleia terbang mendekati laki-laki itu, yang mana langsung mengulurkan jarinya. Setelah Seungwoo amat-amati, Sparkleia itu sedikit berbeda dengan yang hidup di Gemiond. Sparkleia yang ini tidak berjejak serbuk gemerlapan, dan sayapnya tidak bercahaya. Warna sayap serangga itu juga tidak berubah ketika mampir di kulit manusia—hal ini ia buktikan ketika makhluk mirip Sparkleia itu hinggap di jari laki-laki yang menjadi objek perhatiannya.

Laki-laki itu sekarang mengamati hewan di jarinya dengan tatapan memuja yang sama yang ia tunjukkan ke mawar tadi. Lalu ia menoleh ke kiri dan kanan, seolah mencari seseorang. Tak lama, matanya berbinar—Seungwoo menahan nafas—bibirnya melengkungkan senyum lebar, menunjukkan lubang di pipinya. Suaranya tinggi, membuat makhluk di jarinya terbang menjauh, ketika ia berseru, "Jinhyuk!"

Tak butuh waktu lama hingga seseorang, Jinhyuk, datang berlari-lari mendekati anak laki-laki yang memanggilnya. Jinhyuk membungkuk, mengistirahatkan kedua tangannya di masing-masing lutut sambil mencoba menstabilkan nafas. "Ada apa sih, Byungchan? Kamu dicariin Ayah!"

Untuk pertama kali dalam hidup Seungwoo berterima kasih pada ayahnya yang sudah memaksa Seungwoo untuk belajar berbagai macam bahasa. Ia bisa mengerti sedikit banyak percakapan kedua anak itu. Dan ia bisa mengetahui nama objek perhatiannya. Byungchan, namanya Byungchan.

Seketika jantung Seungwoo serasa berhenti. Byungchan? Choi.. Byungchan?

Jadi itu Byungchan. Calon suami Seungwoo. Rasanya aneh menyebut anak sekecil itu calon suami. Meski Seungwoo juga tak jauh lebih tua darinya. Beragam emosi yang tak dapat ia identifikasi mengalir deras dalam dada Seungwoo. Lidah dan tenggorokannya kering. Byungchan begitu berbeda dengan yang di foto. Byungchan yang ia ingat, dengan matanya yang tersesat, tidak terlihat begitu terperangkap di hadapan seorang Jinhyuk. Matanya bercahaya. Hidup. Beda. Mereka berbeda.

"Jinhyuk, di jariku ada kupu-kupu!"

"Mana? Di jarimu jelas-jelas nggak ada apa-apa, Chan."

Byungchan menengoki jarinya. Anak itu terkesiap, lalu memajukan bibirnya. "Yah, kupu-kupunya pergi.. Pasti karena takut sama kamu!" tuding Byungchan.

Derai tawa Jinhyuk terdengar, disusul dengan tawa Byungchan. Kelakar mereka berlanjut, namun Seungwoo sudah tidak mengerti lagi—atau mungkin ia yang tidak ingin mengerti. Ia melihat Jinhyuk menggamit tangan Byungchan, menarik bocah itu berdiri, dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Sisa-sisa dering kebahagiaan mereka masih terdengar di telinganya. Seungwoo ingin ikut tertawa. Rupanya ia keliru.

Byungchan bukan burung dalam sangkar. Mungkin ia lebih tepat disebut kupu-kupu, makhluk indah yang bebas terbang dan hinggap di tempat-tempat yang sama indahnya, bermandikan warna dan pemuja. Dengan matahari di matanya, serta hangat yang merengkuh senyumnya, Byungchan bersinar.

Tidak, Byungchan bukan burung dalam sangkar.

Byungchan bukan dirinya.

.

.

"Suamimu itu bodoh atau apa?"

Seungwoo merutuk dalam hati. Ia tahu cepat lambat ini akan terjadi. Pangeran Gemiond itu was was sepanjang malam, meski Byungchan telah berulang kali memohon maaf—mengatakan bahwa ia terlalu cepat berasumsi mereka sudah menjadi keluarga dan benar-benar lupa ciuman hidung tidak boleh dilakukan keluarga bukan kandung—bahkan bersimpuh di hadapan Ratu. Sempat ia mengira Ratu akan membiarkan insiden yang satu ini lewat. Pasalnya, sang ibunda tersenyum dan hanya berpesan pada Byungchan untuk lebih banyak belajar. Namun, saat setelah perjamuan makan malam Sunhwa meminta—mungkin lebih tepat memerintah—Seungwoo untuk datang ke kamar kakak semata wayangnya itu, ia langsung menerka akan ada sangkut pautnya dengan insiden Byungchan tadi sore.

Dan benar saja.

Mungkin di satu sisi ia harus berterima kasih pada Dewa dan Dewi, masih Sunhwa yang diutus Ratu. Berarti, ibunya memutuskan untuk tidak menceritakan kelalaian Byungchan pada Raja Berlian. Jika sudah Raja yang turun tangan, masalah ini pasti akan menjadi lebih rumit dari seharusnya. Omongan Sunhwa memang tajam, tapi Putri tipe orang yang tidak mau direpotkan dengan hal-hal yang tidak menjadi urusannya. Seungwoo yakin, separuh kekesalan Sunhwa kali ini juga berakar dari instruksi Ratu untuk menegur adiknya.

"Sekiranya saya boleh berbicara, itu hanya kesalahan amatir, Putri."

"Kesalahan amatir untuk sekarang," cibir Sunhwa. "Bayangkan jika dia melakukan kesalahan yang sama di upacara pernikahan, disaksikan ribuan orang. Apa kesalahan amatir itu tidak akan berubah menjadi fatal, Han Seungwoo? Kalau sampai terjadi, sia-sia saja mulutmu sampai berbusa membelanya."

Seungwoo bungkam. Harus ia akui, perkataan Sunhwa ada benarnya.

"Bisa-bisanya kau masih membelanya. Kesalahan sekecil apapun tetap kesalahan." Perempuan itu memicingkan mata. "Jangan bilang, kau masih terjebak dalam angan-angan konyol masa kecilmu?"

Seungwoo enggan merespon. Sunhwa menatap adiknya selama beberapa detik, lalu menghela nafas. Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Lagi-lagi kau terlalu naif, Putra. Pantas kan, aku menyangsikan keaslianmu sebagai seorang Gemian? Kau yang katanya calon raja."

Tampaknya Sunhwa berhasil menyentil titik rentan dalam diri Seungwoo karena dalam sekejap bahasa tubuh pangeran itu berubah. Tubuhnya menegang; tangan dikepalkan, rahangnya mengeras. Suasana di ruangan itu berubah mencekam. Berbahaya.

"Saya memohon maaf untuk kesalahan Byungchan, dan akan memastikan ia tidak mengulangi tindakan tersebut," ujar Seungwoo, menahan gertakan giginya. Setiap katanya ia ucapkan dengan tajam, manik matanya beradu intens dengan sang kakak. "Saya rasa diskusi ini tidak perlu diperpanjang, apabila Putri berkehendak."

Sunhwa menilainya sebentar dengan sorot mata yang sulit diartikan, lalu mengangguk. "Baiklah. Kau boleh pergi. Tapi, Putra," tambah Sunhwa cepat sebelum Seungwoo sempat membalikkan badan, "ingatkan suamimu, ia sudah bukan milik bangsanya lagi. Ia sudah kita beli. Ajarkan dia berlaku selayaknya seorang Gemian. Mungkin dengan begitu, kau juga bisa belajar satu-dua hal tentang bagaimana menjadi bagian dari bangsa kita."

Sebuah keajaiban Seungwoo bisa menahan dirinya untuk tidak membanting pintu kamar, ketika ia meninggalkan ruangan itu di belakangnya dengan langkah-langkah lebar.

.

.

.

tbc.

A/N:

Halo. Menunggu lama, ya? Terima kasih sudah membaca BME.

Setelah banyak pertimbangan, aku memutuskan untuk melanjutkan menulis BME dalam bahasa Indonesia. Alasannya sama, yaitu pangsa kapal Seungchan yang lebih banyak orang Indonesia.

Selain itu, ada beberapa dari kalian yang mengusulkan untuk pindah ke Wattpad. Terima kasih untuk sarannya, tapi aku tidak akan pindah ke WP karena ketidaksesuaian dengan preferensi pribadiku. Semoga kalian tidak keberatan, ya.

Terima kasih banyak yang sudah meninggalkan review! Review dari kalian sangat memotivasiku dalam menulis. Kalian juga bisa meninggalkan kesan dan pesan, atau bahkan pertanyaan tentang universe cerita ini di akun twitter (choseungyounee) atau curious-cat ku (heochanee).

Sampai ketemu di update berikutnya!

D&D.