BE MY EMPEROR

(i'll be your king)

.

A Side Story.

.

.

.

Mereka memanggil dia, "Matahari".

.

.

.

Berita menyebar cepat di istana.

Dari ujung lidah para pengawal ke telinga pelayan-pelayan muda kemudian larut dalam ingar bingar dapur istana, lalu diangkut lebah dan kupu-kupu ke pucuk ribuan kembang; bakung, gerbera, hingga tentu saja, mawar. Kemudian ditiup angin musim panas dan bermuara di balkon kamar Choi Byungchan, Pangeran Terakhir.

"Tuan Lee sudah kembali dari perantauannya. Kabarnya beliau akan mengambil alih posisi tutor kerajaan atas permintaan Yang Mulia sendiri."

"Omong-omong beliau tidak sendiri. Ada anak laki-laki."

"Anak Tuan Lee?"

"Ya. Namanya Jinhyuk. Sepertinya seusia dengan Pangeran Terakhir. Sepuluh kali musim semi? Ah, mungkin lebih."

Dan yang paling sering Byungchan dengar—terus, terus, berulang-ulang bak kaset rusak—"Ia seperti matahari."

Byungchan mendengar semuanya. Di sela-sela gemerisik halaman kekuningan buku Sejarah Arosaluz yang ia gilir, hentak berwibawa alas sepatu para bangsawan di atas lantai marmer, dan derit pintu raksasa menuju ruang singgasana, nama "Jinhyuk" berseliweran—seolah pilar-pilar merah muda turut jatuh cinta pada si anak matahari lalu mendengungkan namanya dalam ratapan rindu, memintanya singgah barang sebentar saja. Demi Iuna, seluruh jejaknya dihantui sosok yang bahkan tak dikenalnya ini, layaknya bayangan yang melekat pada tiap langkahnya.

Hanya saja, yang Byungchan tahu benar, dirinyalah bayangan itu. Bukan Jinhyuk. Tak pernah Jinhyuk.

(Lee Jinhyuk benar-benar menjadi umbi hiruk-pikuk istana, seorang pangeran tulen dibuatnya meragukan identitas mulianya sendiri.)

Suatu dusta besar jika Byungchan mengaku tidak penasaran.

.

.

.

Byungchan berusia sebelas kali musim semi ketika keberaniannya cukup terkumpul untuk berbalik arah dan mengikuti jejak remah yang membawanya kepada sumber cahaya.

Mudah saja: di mana ada riuh tawa, di situ ada Jinhyuk.

Dengan ditunjuknya Tuan Lee sebagai tutor anak-anak raja musim gugur lalu, Jinhyuk lantas bebas berkeliaran di istana. Warga istana merespon positif kabar itu. Seperti disinggung sebelumnya, tidak hanya manusia yang terpesona oleh seorang Lee Jinhyuk. Mawar di taman kian merekah sejak kedatangannya—seperti berniat menggodanya mendekat. Hidangan-hidangan buatan juru masak terlihat dan terasa lebih menggiurkan. Bayang senyum permaisuri yang suka bersembunyi, sekarang betah tinggal.

Byungchan kecil merindukan keajaiban yang sama terjadi atas dirinya.

Mungkin Jinhyuk punya darah peri. Ia mau minta sedikit kekuatan Jinhyuk. Barangkali dengan begitu, ia bisa membuat orang-orang menatap Byungchan dengan sorot mata yang sama hangatnya. Betah berlama-lama dengannya. Mungkin energi magis yang ditularkan Jinhyuk akan membuat Baginda Raja—Ayah—menoleh ke arahnya.

Jadilah suatu sore, setelah sesi belajar hariannya selesai, sang pangeran bungsu mengintil anak gurunya.

Dari kejauhan tentunya. Bersembunyi di balik pilar merah muda. Melangkah begitu lembut agar tidak timbul suara.

Yang tidak ia sangka, tak hanya darah peri, Jinhyuk ternyata juga punya mata di punggungnya. Atau mungkin pilar-pilar yang sedang kasmaran dengan Jinhyuk itulah yang mengadukan perbuatan Byungchan padanya.

Karena, belum lama Byungchan melaksanakan aksinya, sang target sudah buka suara.

"Yang Mulia, Hamba tahu Anda mengikuti Hamba."

Jinhyuk berbalik, menatap lurus ke manik mata Byungchan yang tidak menyembunyikan keterkejutannya. Byungchan tertunduk. Panik, jelas. Ia tidak pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya. Seperti ada yang bergumul di perut, tapi ia tidak tahu apa. Mendesiskan 'maaf' kecil yang ia tak yakin Jinhyuk tangkap, sang pangeran memilih untuk mengobservasi sepatunya.

Hingga sepasang mata menginvasi zona penglihatannya. Coklat muda, berkilat. Hangat. Lee Jinhyuk berjongkok di hadapannya.

"Pangeran, kamu tidak apa-apa? Aku mengagetkanmu, ya?" tanyanya lembut.

Aneh. Jinhyuk melepas pemakaian bahasa formalnya, tapi Byungchan tidak tersinggung sama sekali. Malah dadanya berdesir. Gelarnya, ketimbang terasa seperti beban di atas bahu, terdengar seperti semilir hawa musim semi—manis dan harum. Tidak pernah ada yang memanggil Byungchan sespesial itu sebelumnya. Tidak raja, tidak permaisuri. Kakak-kakaknya. Tidak satu pun.

Baru Jinhyuk.

"Tidak apa-apa aku memanggilmu tanpa embel-embel 'Yang Mulia'?" tanya Jinhyuk, mendekatkan tangannya dengan salah satu tangan Byungchan yang terkulai lemah di sisinya. Cukup dekat untuk bersentuhan, tapi belum. Byungchan mengangguk. Jinhyuk tersenyum semakin lebar, memamerkan gigi putihnya. Silau.

"Mau berkenalan?" tanya Jinhyuk lagi, kali ini tangannya menyenggol tangan Byungchan yang saat itu lebih kecil.

Byungchan mengangguk lagi. Masih mencoba menggapai suaranya yang bersembunyi di dasar perut. Jinhyuk berdiri, membuat Byungchan turut mendongak, ketika tangan Jinhyuk diulurkan padanya. Senyum Jinhyuk masih setia menempel di wajah, seolah-olah anak itu memang terlahir dalam keadaan tertawa.

"Lee Jinhyuk. Anak Tuan Lee, tutor Pangeran."

Suara Byungchan amat pelan ketika ia menjawab, "Choi Byungchan, Pangeran Terakhir."

Dan beginilah awal mula cerita mereka.

.

.

.

Byungchan positif terkena sihir Jinhyuk. Mungkin bulu matanya menggeletarkan debu peri, atau mungkin ada rapalan mantra di balik setiap kata yang diucap Jinhyuk. Yang jelas, Byungchan sekarang tertular virus yang sama yang sebelumnya menyelebungi seluruh istana.

Bersamaan dengan itu, akses Jinhyuk di istana bertambah satu: kamar Byungchan. Kedua praremaja itu senang bercengkrama hingga larut malam—kadang-kadang Jinhyuk sampai dimarahi Tuan Lee karena mengganggu waktu tidur Byungchan, padahal sang pangeran tidak keberatan sama sekali. Di waktu lain, Jinhyuk bisa menghilang hingga tiga hari, membuat hati Byungchan membiru karena rindu, hanya untuk kembali dengan membawa segepok "rongsokan"—arloji tua, harmonika murah, lukisan seniman jalanan; Byungchan tidak peduli orang mau berkata apa, menurutnya mereka tetap harta berharga—dan cerita. Berjuta cerita. Pengalamannya turun ke kota.

Pertama kali Jinhyuk melakukannya, Byungchan bertanya, heran, "kenapa kamu menceritakan ini semua?"

Jinhyuk tersenyum. Lalu matanya melakukan hal itu lagi. Kelemahan Byungchan. Menatap Byungchan dengan sorot sehangat matahari terbenam. "Kamu bilang kamu nggak boleh keluar istana, kan? Aku ingin kamu tahu Arosaluz, lebih dari sekadar yang tertulis di buku." Dan Byungchan mengerti; ia bisa mendengar maksud Jinhyuk yang tidak terlisankan: aku ingin kamu merasakan hidup normal, tanpa embel-embel kemuliaan yang mengekangmu.

Jadi Byungchan mendengarkan. Seluruh cerita Jinhyuk tentang derai tawa para Rosalian selama malam puncak Pesta Kembang, di bawah gantungan lampion berwarna-warni dan pekik seruling, kuntum bunga disampirkan di sela daun telinga mereka. Tentang topan benih putih di sepanjang kota selama Hari Raya Dandelion, di mana para pengharap memanjatkan permohonan pada Iuna sebelum meniup anak-anak bunga itu terbang menuju rengkuhan angkasa ('lihat, aku berhasil menyelamatkan satu untukmu, ayo buat permohonan sekarang'). Tentang musik bossa nova yang didengarnya dari luar bar di perbatasan metropolis, yang membuat Jinhyuk berjanji pada dirinya sendiri untuk berkunjung ketika sudah cukup umur nanti. Dan tentu saja tentang bunga-bunga liar yang tumbuh bebas di padang rumput di luar kota. Bunga-bunga yang jelas tidak ada di taman istana yang terstruktur dan sudah didesain sedemikian rupa, tapi keindahannya tak kalah dengan tanaman-tanaman hias kebanggaan Arosaluz.

"Hari ini aku bawain kamu bunga langka," ucap Jinhyuk semangat. Ia mengeluarkan sekuntum bunga kuning yang bentuknya mirip lili. "Namanya gagea lutea. Sering disebut Si Bintang Kuning dari Betlehem. Menurut legenda, si kecil ini adalah bintang yang terlalu indah untuk mati, sehingga Yang Berkuasa mengabadikannya dalam bentuk bunga."

Byungchan menerimanya dengan hati-hati, mata gelapnya penuh imaji. "Si Bintang Kuning," hembusnya, menatap bunga itu memuja. Enam helai petalnya yang menyeruak bangga memang membuatnya terlihat seperti bintang kecil. "Cantik sekali."

"Artinya juga cantik," kata Jinhyuk, menyentuh kelopak bunga itu sayang. "Aku sempat bertanya pada ahli botani istana sebelum mendatangi kamu. Si Bintang Kuning ini bisa berarti kebahagiaan, tapi juga harapan. Optimisme untuk masa depan yang lebih baik."

Byungchan tersenyum penuh arti. Masa depan yang lebih baik, ya? "Akan kusimpan. Sebagai jimat." Byungchan memindahkan bunga itu hati-hati ke wadah di meja kerjanya, tempat ia menyimpan bunga-bunga liar pemberian Jinhyuk. "Pasti Si Bintang Kuning ini indah sekali dalam kerumunan ya, Hyuk?"

Jinhyuk mengangguk bersemangat. "Sangat. Seperti semak bintang yang tersembunyi ilalang." Ia berpikir sejenak sebelum menambahkan, matanya menatap Byungchan percaya diri, "suatu hari, aku akan membawamu ke sana."

Byungchan sontak tertawa. Ingin ia menggelengkan kepalanya dan menjawab 'mustahil' di sela-sela kekehnya, tapi lantas ia teringat Si Bintang Kuning dari Betlehem, gagea lutea, dan harapan yang dibawa tanaman lemah itu: optimisme untuk masa depan yang penuh kemungkinan menyenangkan. Mungkin sekali ini, Byungchan bisa berharap. Mungkin Jinhyuk bukan keturunan peri, melainkan titisan bintang yang nyaris mati namun dihidupkan kembali.

Maka ia menjawab, setulus, sepenuh harap anak berusia sebelas kali musim semi yang seharusnya, "baiklah. Akan kutunggu."

"Janji?" Jinhyuk mengulurkan jari kelingkingnya.

Kedua lesung pipi Byungchan menampakkan diri.

"Janji."

.

.

.

Butuh waktu, memang, tapi Jinhyuk menepati janjinya. Janji yang Byungchan sendiri bahkan sudah lupa.

Di sebuah pagi kala musim semi sedang beralih ke cuaca yang lebih panas—yang telah 16 kali Byungchan alami—ia tidak dibangunkan dengan tegas oleh Subin, pelayan pribadinya, melainkan goncangan hebat di bahu. Jinhyuk.

Sang Pangeran yang kini sudah remaja mengucek-ngucek matanya sambil merengut, seperti anak kecil. "Ngapain kamu di kamarku pagi-pagi, Hyuk..."

Jinhyuk membuang selimut Byungchan jauh-jauh dan menarik laki-laki itu bangkit. "Bangun. Mandi. Ganti baju kamu. Ah, tapi jangan baju formal ya. Aku mau ajak kamu keluar."

Seketika segala kantuk dan berat terangkat dari kelopak mata Byungchan. "Keluar? Serius? Kamu dapat izin?"

"Tentu. Ayahku sebenarnya hari ini absen, tapi kubilang pada Yang Mulia kalau Ayah mengajakmu studi di luar," Jinhyuk mengedipkan matanya. "Yang Mulia bilang tidak apa-apa asal ada Seungsik, salah satu pengawalnya Ayah."

Ah, Kang Seungsik. Anak ajaib yang luar biasa berbakat dalam seni pertarungan meski usianya hanya dua tahun lebih tua dari Byungchan. Panah, pedang, hingga senapan semuanya ia kuasai. Seungsik juga pernah mengajari Byungchan teknik-teknik pertarungan dasar. Meski bisa dibilang ganas di hadapan musuh, Seungsik sehari-hari sangat ramah dan sabar. Selalu tersenyum, bahkan ketika anak panah Byungchan tidak kunjung mencapai destinasi. Byungchan menyenanginya.

Langsung saja Byungchan meluncur turun dari tempat tidur ke permandian.

.

Byungchan sempat tidak percaya. Ia bisa leluasa melintasi jalan besar, sungguh-sungguh menapak dengan kakinya, bukan dengan kereta kencana—seraya menuntun kuda yang tadi ia tunggangi untuk turun dari istana. Identitasnya aman, dengan baju biasa dan masker polos, Byungchan dapat berbaur mudah dengan sekelilingnya. Kebetulan, kota sedang dilanda alergi serbuk sari. Memakai masker tidak membuat Byungchan terlihat mencurigakan.

Jinhyuk membawanya ke pusat jajanan di kota. Berbagai macam kue kering hingga goreng-gorengan yang tidak pernah dihidangkan di istana diperkenalkan pada lidahnya. Dinikmati bertiga di sudut yang berbayang sambil menikmati sekelompok pemusik jalanan—gitar, kontrabas, dan biola—melantunkan Daun-daun Musim Gugur dalam G Minor. Secara tidak sadar, Byungchan mengetuk-ngetuk pahanya mengikuti ritme.

"'Daun-daun Musim Gugur'?" tanya Jinhyuk, mengemuti jarinya yang berlumur krim stroberi. Seungsik meringis jijik di sebelahnya. "Aneh sekali memainkan lagu seperti itu ketika kita sedang transisi ke musim panas."

"Berisik. Justru itu hebatnya musik. Bisa dinikmati kapan pun dan membawamu ke dimensi mana pun."

Penampilan itu berakhir dan kerumunan kecil yang mengelilingi kelompok pemusik tersebut bersorak dan bertepuk tangan, melemparkan koin dan mawar putih ke dalam tas biola yang ditidurkan dan dibuka lebar untuk menampung apresiasi mereka. Byungchan menyusup di antara keramaian dan melemparkan beberapa koin emas dan menghilang di antara lautan manusia berpakaian warna-warni.

"Siap ke tujuan utama kita hari ini?" tanya Jinhyuk yang dibalas anggukan Byungchan. Mereka bertiga naik ke atas kuda masing-masing dan berderap menjauhi pusat kota.

Angin. Angin merangseknya dengan kekuatan penuh. Tapi Byungchan tidak pernah merasa sedekat ini dengan kata "bebas". Di atas pelana kudanya, membelah lapisan udara, merasakan keringat menetes dari pelipisnya. Tidak ada simbol kerajaan di dada, kepalanya pun nihil dari rangkaian bunga yang sehari-hari melingkarinya. Hari ini Byungchan seorang pelancong tanpa nama.

Di sebelah Byungchan, Jinhyuk tersenyum di atas kudanya sendiri. Menyamai derap tunggangan Byungchan. Ia bisa merasakan jiwa Byungchan yang hidup, berpendar dari figurnya. Sesekali seuntai tawa yang tidak disadari Byungchan lolos dari tenggorokannya, dan Jinhyuk bersumpah, semua omelan yang akan menantinya di rumah nanti tidak ada apa-apanya dibandingkan pemandangan ini. Ia bersiul, menangkap mata Byungchan yang sontak menoleh ke arahnya, lalu mengangkat alis. Menantangnya dalam diam. Byungchan mengangguk, meremas kekang di genggamannya. Jinhyuk menoleh ke belakang, memberi kode kepada Seungsik.

Dalam hitungan ketiga, Byungchan, Jinhyuk, dan Seungsik melesat ke horizon, ke dunia yang membentang di luar riuh rendah ibu kota.

.

"Kita sudah sampai."

Byungchan tidak kuasa mengatupkan mulutnya. Tenggorokannya tercekat, matanya tidak bisa memercayai pemandangan yang membentang di hadapannya.

Tempat ini.. bak kayangan. Byungchan akan percaya jika di sinilah Iuna memilih untuk bersemayam. Firdaus bunga liar yang tumbuh di tengah alang-alang, membelah hijau dengan neon kelopak mereka—hamparan kuning, magenta, dan nila yang pesonanya melebihi nalar manusia. Byungchan mengerjapkan mata. Sungguh tak masuk di akal. Tak masuk akal makhluk makhluk indah ini tumbuh dengan sendirinya dan bukan dirajut oleh peri-peri hutan.

"Suka?"

Byungchan menoleh cepat, mati-matian mendorong sensasi membakar di belakang matanya. "Suka, kamu tanya? Jinhyuk... Ya Iuna..."

Jinyuk tersenyum, menarik lengan Byungchan dan menuntunnya menyeruak rumput-rumput liar, masuk lebih dalam ke lautan bunga. Ia menunjuk bunga-bunga periwinkle mungil yang kelopaknya membulat ke atas seperti sebuah mangkuk kecil. "Lihat, itu speedwell. Yang pernah aku bawakan juga."

"Aku ingat," kata Byungchan, membungkuk dan membelai bunga-bunga itu halus. "Ah, Jinhyuk, itu para malaikat."

Jinhyuk mendekati kerumunan bunga yang ditunjuk Byungchan, saling menempel begitu erat seakan menyembunyikan rahasia dunia di bawah kelopak-kelopaknya. Ungu, merah muda, putih dengan pusat berwarna gelap, menimbulkan gradasi yang artistik. "Viscaria oculata."

"Tidak kusangka kau pintar urusan bunga-bungaan, Hyuk," timpal Seungsik yang dari tadi mengobservasi interaksi keduanya.

"Karena sering membawakan anak ini," Jinhyuk menunjuk Byungchan di belakang dengan jempolnya. Byungchan mengulum senyum.

Jinhyuk dan Byungchan menghabiskan sore itu mencoba mengidentifikasi bunga yang sudah pernah Jinhyuk hadiahkan, dan memetik yang belum. Kedua sahabat itu berusaha menemukan Si Bintang Kuning yang terbukti lebih pandai bersembunyi daripada teman-temannya. Tak terasa waktu bergulir, dan matahari mulai bergerak turun. Tak terasa juga langkah mereka membawa mereka jauh, hampir ke ujung padang di mana pohon-pohon besar menunggu.

"Jinhyuk, Yang Mulia, berhenti!"

Sontak, dua pasang kepala menoleh ke arah Seungsik yang tergopoh-gopoh mendekati mereka.

"Kenapa, Sik?"

"Jangan terlalu jauh. Sedikit lagi, dan kalian akan masuk ke perbatasan menuju Hutan Keramat."

"Oh?" Byungchan mengamati pohon-pohon yang menjulang beberapa puluh meter di belakangnya. "Astaga, aku tidak tahu Hutan Keramat di sini tempatnya."

Tapi tentu saja ia tahu keberadaan dan bahayanya Hutan Keramat. Tempat itu tempat terlarang bagi seluruh Rosalian, bahkan anggota kerajaan sekalipun. Hutan itu tidak pilih kasih dalam memangsa korbannya. Siapa pun yang berani menginjakkan kaki akan menerima kutukan abadi—dan ratusan kasus telah membuktikan: mereka tidak pernah kembali. Bisa jadi tersesat hingga mati dan menjadi tulang belulang di bawah pohon rindang, atau diserang entah monster apa yang bernaung di dalam kegelapan belantaranya. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang pernah kembali untuk menceritakannya.

Mitosnya, di jantung hutan itu, Iuna beristirahat. Menunggu Anak yang Terpilih untuk datang menjemputnya dan menyelamatkan sebuah bangsa. Dan ia tidak menerima siapa pun, siapa pun, selain Sang Terpilih.

Sayangnya, tidak ada petunjuk yang jelas siapa gerangan Anak yang Terpilih itu. Dan tidak ada yang cukup berani untuk mengaku-aku. Kalaupun ada, demikian nasib yang menunggunya: nama dan eksistensinya ditelan Hutan Keramat bulat-bulat.

"Maka itu, Hamba mengingatkan Yang Mulia. Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Sebentar lagi gelap."

Sebenarnya Byungchan masih ingin berlama-lama menikmati "kebebasannya", tapi kalau ia belum datang saat makan malam dihidangkan, bisa habis ia diceramahi permaisuri dan kakak-kakaknya. Dengan berat hati, Byungchan mengiyakan. Bertiga mereka berjalan menuju tempat kuda-kuda mereka ditali, Seungsik selangkah di depan Byungchan dan Jinhyuk.

"Bagaimana jalan-jalannya hari ini?" tanya Jinhyuk. Punggung tangan mereka bersinggungan dan mengalirkan kejut ke sekujur tubuh Byungchan.

"Aku senang sekali," Byungchan tersenyum kecil. "Terima kasih."

Jinhyuk terkekeh. "Aku belum memberimu apa-apa pada hari pertama musim semi kali ini. Padahal ini kali ke-16 mu. Dan usia 16 harus dirayakan dengan yang spesial. Sekalian menepati janjiku dulu: membawamu ke tempatku menemukan Si Bintang. Ah, tapi janji itu berarti baru setengah ditepati, ya. Hari ini kita nggak ketemu dia. Sayang sekali."

"Jinhyuk, aku mengejutkanmu dengan mainan tikus di pagi musim semimu yang ke-16."

"Bisa berteman denganmu itu sudah hadiah musim semi ke-16 yang terindah buatku. Anggap saja kamu memberikannya terlalu cepat."

"Kamu kesambet apa, sih? Kenapa tiba-tiba manis begini?"

"Untuk hari ini saja, Chan. Jangan terbiasa."

Mendadak Byungchan menarik lengan Jinhyuk, membuatnya berhenti melangkah. Jinhyuk menatap Byungchan penuh tanda tanya. Byungchan meneguk ludahnya. Mereka berdua, berdiri di tengah Eden dengan kembang-kembang yang menciumi kaki mereka, langit lembayung terpantul di manik mata Jinhyuk. Byungchan harus menahan diri untuk tidak melempar tubuhnya ke pelukan orang ini dan menghujani wajahnya dengan kecupan.

"Tidak ada Si Bintang Kuning juga tidak apa-apa," katanya lirih. Tempat di mana kulit mereka bersentuhan terasa hangat. Menenangkan. Pas. "Karena seharian ini aku bisa menikmati matahari."

Lagi pula, matahari juga bintang, kan?

Jinhyuk mengusak rambut Byungchan. Matanya melengkung gembira. "Begitu, ya? Aku senang mendengarnya. Semoga kamu bisa lebih sering menikmati matahari, Chan. Kamu layak mendapatkannya."

Jinhyuk benar-benar tidak tahu apa-apa. Byungchan melepas pegangannya dan berlari menyusul Seungsik yang sudah jauh di depan. "Ayo balapan ke kuda masing-masing!"

"Lah curang, kamu curi awalan!" seru Jinhyuk dari belakang.

Byungchan tertawa lepas. Hari ini benar-benar menjadi hari paling manis dan yang terpahit secara simultan selama 16 musim semi hidupnya.

.

.

.

Benar adanya, engkau "Matahari".

Dan aku bunga yang mendambakanmu.

.

.

.

A/N:

HALO! Maaf lama nggak ada kabar. Sambil menunggu chapter 3 disunting, makan bonus ini dulu aja, ya. Kita oleng sebentar ke weichan. Sekalian kasih sedikit gambaran seperti apa budaya Arosaluz, hubungan keluarga Byungchan, dan petunjuk apa yang akan terjadi di depan. Tenang, di chapter berikutnya seungchan bakal muncul lagi, kok. Jangan demo aku, ya.

Terima kasih sudah menunggu update-an BME! Dan terima kasih juga kepada yang sudah meninggalkan review! Feedback dari kalian selalu menjadi motivasi aku untuk melanjutkan cerita ini.

Kalian juga bisa meninggalkan kesan pesan, atau bahkan pertanyaan tentang universe BME di akun twitterku (choseungyounee) atau curiouscat (heochanee).

Sampai jumpa di chapter berikutnya,

D&D.