Ini adalah akhir pekan di tengah liburan Natal, meskipun beberapa tawaran untuk berpesta muncul dari Kementrian dan beberapa rekan kerjanya Hermione memutuskan bahwa menghabiskan waktu di apartemennya adalah hal terbaik. Dia sudah memastikan tugasnya untuk berbelanja kado Natal, memasang pohon Natal di ruang tamu apartemennya dan menyelesaikan kaos kaki rajutan untuk para Peri Rumah telah selesai.

Gadis itu tersenyum puas ketika memastikan semua persiapan untuk Natal telah beres. Dia membuat cokelat panas dan mengambil buku di rak buku sebelum duduk di sofa depan perapian miliknya.

" Accio selimut" dan sebuah selimut tebal yang lembut terbang ke arahnya. Hermione menarik selimut itu hingga menutupi pinggangnya, menyandarkan diri di sofa dan membuka buku di pangkuannya seraya sesekali menyeruput cokelat panas. Cara terbaik menghabiskan akhir pekan, batin Hermione senang.

Entah berapa lama dia sudah tenggelam dalam buku yang dibacanya ketika terdengar suara dering bell pintu depannya. Hermione mengerang kesal, ini akhir pekan dan seharusnya tidak ada orang yang mengunjunginya, semua orang harusnya sibuk pergi ke pesta. Menggerutu di dalam hatinya, gadis itu bangkit berdiri dan menuju pintu depan.

" Jika ini bukan hal penting maka lebih baik kau – " kata-kata Hermione terhenti ketika dia melihat pemuda bermata hijau zambrut di depannya " Harry?"

" Hei, Hermione" balas Harry, tersenyum kecil " Apa aku menganggu?"

Hermione terdiam, otaknya berusaha mencerna mengapa pemuda itu ada di depan pintu apartemennya. Harusnya dia di The Burrow, menikmati akhir pekan bersama keluarga Weasley.

" Jadi apa aku menganggu? Maksudku aku bisa pergi jika kau tidak ingin aku disini. Oh, Merlin, harusnya aku tahu kau tidak mau aku kemari. Kau tidak merespon, apa kau membenciku sekarang? Bukan ingin mendesakmu, Mione, tapi kau tidak memberikan kabar apa-apa belakangan ini dan aku pikir hei, mungkin lebih baik aku mengunjungi Hermione malam ini, tapi sekarang kurasa itu ide buruk dan –"

" Harry" potong Hermione, memutar bola matanya.

" Ya?" balas pemuda itu, menghentikan ocehannya.

" Pertama, ya aku sempat merasa terganggu tadi karena aku ingin menghabiskan waktu membaca buku. Kedua, tidak, apa kau gila? Aku tidak pernah membencimu" jawab Hermione " dan sedang apa kau disini?"

" Jadi kau terganggu karena aku kemari?" Harry memandang Hermione dengan sedih dan sukses membuat Hermione merasa bersalah.

" Aku hanya bingung sedang apa kau kemari?" Hermione melipat tangan di depan dadanya " Jangan membalas pertanyaanku dengan pertanyaan lagi, Potter"

" Aku hanya berpikir kau sendirian dan kupikir menemanimu adalah ide yang bagus" jawab Harry, Hermione mengangkat alis " Oke, dan aku malas ke The Burrow, kau tahu bagaimana Ginny selalu memandangku membuatku merasa bersalah dan Mrs Weasley yang selalu berbicara tanpa henti" Hermione mendengus " Jangan menganggapku salah, aku menyukai keluarga Weasley hanya saja kadang mereka terlalu…berisik?" Hermione tertawa kali ini.

" Aku mengerti, Harry, hanya saja kupikir kau akan pergi ke tempat lain jika kau tidak ke The Burrow, aku yakin banyak yang mengundangmu ke pesta"

" Ya, tapi kau tahu aku tidak suka keramaian" balas Harry, mengangkat bahu " dan aku membawa ini" dia mengangkat sekantong plastik berisi berbagai jenis cemilan muggle dan butterbear.

" Apa kau menyogokku, Harry?" Hermione berusaha menahan senyumannya.

" Oh, ayolah, Hermione" Harry mengerucutkan bibirnya " Aku kemari ditengah hujan salju diluar sana, mampir ke supermarket muggle untuk membelikan kudapan bagi kita dan sekarang aku harus memohon supaya kau mengijinkanku masuk?" dia balas melipat tangan di depan dada.

" Well, kita tahu jelas kalau kau sudah bisa ber-Apparate dan hujan salju diluar sana sama sekali tidak mempengaruhi bagaimana kau bisa kemari, lagipula supermarket muggle ada di depan apartemenku" Hermione tersenyum penuh kemenangan sementara Harry mengerang kesal.

" Ingatkan aku lagi kenapa aku bisa bersahabat baik denganmu?"

" Karena aku menyelamatkan kau dan Ron puluhan kali dari kematian?"

" Gezz, baiklah, Mione, boleh aku masuk sekarang?" Harry menggeluarkan senjata terakhinya, puppy face.

Sekarang Hermione yang mengerang kesal, dia tidak pernah bisa menolak tatapan mata hijau zambut yang membesar dan super polos milik Harry. Bagaimana bisa dia menolaknya? itu seperti menendang anak anjing di tengah hujan badai.

" Oke, masuklah" Hermione membuka pintu apartemennya lebih lebar, Harry nyengir dan segera melangkah masuk sebelum gadis itu berubah pikiran.

Hermione mengunci pintu apartemennya dan menuju ruang perapian.

" Kau membaca di akhir pekan saat liburan Natal? Well, kita harus mengubahnya" gerutu Harry, memberikan pembatas buku di buku yang Hermione baca tadi lalu mengesampingkannya.

" Apa yang kau lakukan?" Hermione mengangkat alis ketika Harry menyingkirkan buku dan mengganti posisi sofanya.

" Aku membeli kaset film di supermarket muggle tadi" kata Harry " dan kupikir kita bisa menontonnya bersama" dia menambahkan sambil menyalakan TV dan DVD Player milik Hermione.

Hermione memang melengkapi rumahnya dengan beberapa alat Muggle, tidak bisa dipungkiri peralatan muggle mempermudah beberapa perkerjaannya. Terkadang jika dia sedang sendirian dan sudah menghabiskan buku yang dibacanya dia bisa menikmati film muggle atau sekedang memutar mp3 player miliknya.

Harry menggeser sofa itu agar menghadap ke TV plasma dan memperbesar sofa supaya muat untuk mereka berdua.

" Kau ada selimut dan bantal?"

Hermione memanggil selimut dan bantal dengan tongkat sihirnya lalu membiarkan Harry menatanya sementara dia mengeluarkan beberapa botol butterbear dan kudapan yang dibeli Harry. Beberapa menit kemudian Harry menyulap sofanya menjadi penuh dengan bantal dan selimut tebal yang – Hermione harus mengakuinya – terlihat nyaman.

" Sudah siap!" Harry tersenyum puas

" Film apa yang kau beli?" Hermione menjatuhkan dirinya di sofa " Oh, ini nyaman" dia tersenyum senang ketika menenggelamkan dirinya di bantal dan selimut

" Zootopia!" jawab Harry, semangat " Aku baru menonton trailer-nya dan kupikir kau akan suka, kau biasa tidak suka film action" dia menambahkan seraya memasukan piringan kaset itu ke DVD Player.

Hermione mengangguk dan Harry menyusup masuk ke dalam selimut di sampingnya ketika film itu di mulai, dia menjentikkan tongkat sihirnya dan lampu ruangan meredup. Gadis berambut coklat itu menyandarkan diri di tubuh Harry, pemuda itu merangkulnya dan mata mereka berdua tertuju pada TV di depan mereka.

" Rubah itu mengingatkanku pada Malfoy" komentar Harry sambil mengunyah popcorn.

Hermione tertawa pelan mendengar komentar itu.

" Karena Malfoy memang rubah" tukas Hermione " tapi kurasa dia lebih baik dari Malfoy" dia menambahkan.

" Butterbear?" Harry menyodorkan sekaleng Butterbear yang langsung diterima oleh Hermione.

" Trims" Hermione mengangguk ringan kemudian meneguk Butterbear itu.

Mereka menonton film itu dalam keheningan yang nyaman, sesekali mereka bertukar komentar mengenai tokoh atau cerita film itu sebelum kembali menontonnya dalam diam. Hermione menguap ketika film itu berakhir, dia menoleh dan melihat Harry sudah terlelap di sampingnya.

" Ketiduran sebelum film selesai" Hermione tersenyum geli, dia dengan hati-hati membersihkan sisa makanan dan kaleng Butterbear mereka menggunakan tongkat sihir.

Hermione dengan hati-hati melepas kacamata Harry dan meletakkannya di meja disamping sofa. Dia mengawasi wajah pemuda itu sebelum perhatiannya tertuju pada luka berbentuk sambaran petir di kening pemuda itu. Hermione mengulurkan tangannya dan mengusap lembut luka itu, luka yang membawa banyak kesulitan yang harusnya tidak dipikul oleh Harry.

" Kau pantas bahagia, Harry" bisik Hermione, pelan " Kau pantas setelah semua yang kita lewati, kau membuat dunia sihir menjadi tempat yang lebih baik" dia tersenyum kecil sebelum mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening pemuda itu.

Hermione menarik dirinya kembali dan terkejut mendapati sepasang mata hijau cemerlang menatapnya. Gadis itu merasa wajahnya sedikit memanas, dia baru ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi detik berikutnya dia merasakan bibir Harry sudah menutupi bibirnya. Dia tersentak kaget sebelum memejamkan matanya dan membalas ciuman dari pemuda itu. Entah berapa lama sebelum mereka saling menjauhkan diri.

" Hermione" gumam Harry, pelan.

" A-Aku…" mata Hermione membesar " Sori, Harry, aku tidak tahu apa yang merasukiku" dia segera menarik tubuhnya menjauh dan menghindari pandangan sahabatnya itu.

" Hei, itu bukan sesuatu yang salah" Harry menahan lengan Hermione " dan aku yang menciummu, kau tidak perlu minta maaf untuk itu"

" Tapi aku membalasnya, seharusnya aku tidak melakukan itu" balas Hermione tanpa menyadari ada rasa sakit terlintas di pandangan Harry.

" Kenapa kau tidak mau melakukannya?" balas Harry, pelan.

" Karena kau seharusnya mencium Ginny, bukan menciumku, bukankah itu sudah jelas" tukas Hermione, memejamkan matanya " Kalian akan membentuk keluarga bahagia, dengan anak-anak berambut merah yang cantik berlarian di rumahmu" dia menggigit pelan bibirnya " Kau harusnya punya anak-anak yang jago Quidditch seperti dirimu dan Ginny"

" Apa maksudmu?" Harry mengerutkan keningnya " Hermione?"

Hermione menggeleng dan dia bangkit dari sofa namun Harry lebih cepat, dia segera menarik gadis itu hingga duduk di pangkuannya. Hermione merasa matanya memanas ketika Harry mendekapnya erat, dia harusnya tidak boleh membiarkan Harry mengetahui perasaannya yang sebenarnya.

" Well, aku tidak pernah membayangkan memiliki anak-anak berambut merah atau pun yang jago Quidditch" bisik Harry " Kau tahu apa yang ku bayangkan? Aku membayangkan anak perempuan berambut coklat dengan mata hijau yang sibuk merengek padaku untuk dibelikan buku cerita terbaru karena dia sudah menghabiskan semua buku cerita yang kubelikan padanya atau seorang anak laki-laki yang sangat pintar dan sibuk mengerjakan tugas liburan musim panas padahal itu masih minggu awal liburan" dia tersenyum kecil " dan aku membayangkan kau mengajari anak-anak itu bagaimana melafalkan mantra dengan benar atau mengomel ketika aku mencoba memperkenalkan mereka pada Quidditch sebelum umur enam tahun"

Hermione tersenyum kecil, dia juga menginginkan bayangan yang sama. Dia menoleh dan melihat Harry menatapnya tepat di matanya. Hermione menelan ludah, merasa dirinya tenggelam dalam mata Harry yang begitu jernih.

" Aku menginginkannya" kata Harry lagi " dan aku tidak ingin bersama Ginny, aku ingin bersamamu, Hermione, apa itu kurang jelas?" dia mengeratkan sedikit pelukannya " Aku tidak peduli apa yang oranglain katakan, Ginny hanya melihatku sebagai sosok pahlawan dunia sihir tapi kau berbeda" pemuda itu tersenyum " Kau melihatku sebagai Harry, sebagai seorang anak muda biasa dan kau tidak dekat denganku karena reputasiku, kau mencintaiku sebagai diriku sendiri"

Harry menarik napas dalam-dalam sebelum menanyakan bertanyaan yang sudah dia pendam sejak lama, " Aku mencintaimu, Hermione, apa kau juga mencintaiku?"

Hermione memandang Harry sejenak sebelum melingkatkan tangannya disekeliling pemuda itu dan menariknya dalam ciuman panjang. Harry tersenyum, dia tahu jelas apa jawaban Hermione.