Hermione bukan hanya sekedar tahu bahwa Harry kehilangan orangtuanya ketika dia baru berusia satu tahun tapi dia mengerti bahwa di hari itu juga dia kehilangan cinta dan kasih sayang dari sesuatu yang disebut keluarga. Keluarga Dursley tidak pernah memberikan perhatian dan cinta yang diharapkan Harry semenjak dia masih kecil dan itu membuatnya tumbuh penuh dengan bully dan bahkan dia harus tidur di gudang bawah tangga hingga berumur 12 tahun.

Tapi, bertahun-tahun diejek dan dikucilkan oleh teman-teman di sekolahnya adalah hal yang membuat Harry menjadi orang pertama yang berusaha mencari Hermione ketika gadis itu kabur ke toilet di tahun pertama mereka, Hermione takkan pernah melupakan hari dimana dirinya, Harry dan Ron menjadi teman baik. Hermione tidak mengerti bagaimana bisa Harry bertahan menjadi orang yang luar biasa dan sangat rendah hati ketika dia mengetahui dirinya adalah penyihir terkenal di dunia sihir, bahwa banyak sekali orang yang berterimakasih padanya karena dia sudah menyelamatkan dunia sihir dari Voldemort. Tapi itulah hal yang membuat pemuda itu menjadi istimewa.

" Hermione" Harry mengusap matanya sambil memandang ke samping " Kenapa kau terbangun jam segini?" dia menoleh ketika melihat jam di meja mereka menunjukkan pukul 3 pagi.

" Tidak, hanya memikirkan beberapa hal" gumam Hermione, menyusup masuk kembali ke dalam selimut, masuk ke pelukan pemuda itu.

" Oh ya?" Harry mengerutkan kening " Kuharap bukan soal peri rumah?"

" Tidak" Hermione terkekeh pelan. Tahun lalu dia sudah berhasil membuat Kementrian mengesahkan undang-undang kebebasan peri rumah agar mereka mendapat perlakuan yang layak. Dia tahu peri rumah suka melayani tapi sekarang mereka lebih terlindungi jikalau ada keluarga yang memperlakukan mereka dengan kekerasan.

" Jadi apa yang menganggu pikiranmu?" Harry memainkan rambut Hermione.

" Aku hanya memikirkan kalau kau sangat luar biasa, Harry" gumam Hermione, pelan.

" Kau baru sadar?" goda Harry dan Hermione memutar bola mata, memukul pelan bahu pemuda itu " Apa yang membuatmu berpikir begitu, heh?"

" Aku tak bisa bayangkan sulitnya tidak tumbuh bersama orangtuaku" Hermione mengangkat bahunya " Tidak mengontak mereka selama satu tahun ketika aku menghilangkan ingatan mereka sudah sangat berat, aku tak bisa bayangkan jika aku bahkan tumbuh tanpa mereka" dia menambahkan.

" Aku bahkan tidak mengenal orangtuaku, Hermione, mungkin karena itu aku tidak benar-benar merasa kehilangan mereka" kata Harry, pelan " Kau sudah tumbuh sejak kecil bersama orangtuamu, tentu saja itu berat bagimu" dia menjelaskan " tapi aku punya kau dan para Weasley dan Hogwarts dan masih banyak lagi" dia tersenyum kecil.

" Dan aku tidak akan meninggalkanmu, Harry" kata Hermione, pelan namun tegas.

" Aku tahu, kau sudah membuktinya berkali-kali" balas Harry " Kau selalu ada di sampingku, bahkan disaat-saat aku tidak tahu apa yang aku lakukan tapi kau tetap percaya padaku" dia menghela napas sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Hermione.

Hermione tersenyum kecil dan memejamkan matanya. Dia membiarkan Harry bermain dengan rambutnya hingga dia jatuh tertidur.


" Dia wanita yang luar biasa" Harry tersenyum ketika melihat Hermione nampak serius di depan persidangan, membahas banyaknya penggelapan bahan baku sihir yang berbahaya masih beredar di Knockturn Alley.

" Merlin, Harry, kau bicara soal penyihir terbrilian sepanjang abad" protes Dean sambil tertawa " Tentu saja dia luar biasa" dia menggeleng-geleng.

Dean Thomas juga mendaftarkan diri sebagai Auror dan dia yang bertugas membongkat beberapa transaksi gelap di Knockturn Alley. Harry sendiri sudah membaca laporannya dan dia mengakui ternyata masih banyak transaksi yang terjadi meskipun sudah beberapa tahun yang lalu Knockturn Alley sempat di bersihkan oleh Kementrian dan segala bahan baku berbahaya serta benda-benda sihir kuno yang dianggap bisa berdampak buruk jika jatuh di tangan yang salah.

Harry kembali mengalihkan pandangannya ke Hermione dan tersenyum lebar melihat wanita itu nampak sangat bersemangat. Dia bahkan tidak heran jika suatu saat Hermione bisa menjadi Mentri Sihir, dia begitu percaya diri dan mengerti apa hal penting yang harus dia bicarakan. Dia sudah berjasa di berbagai bidang demi kemajuan dunia sihir, jika Kingsley sudah memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Mentri Sihir dia yakin Hermione akan jadi salah satu pertimbangan.

" Aku tidak tahu kalau kau juga akan datang" Hermione tersenyum dan menghampiri Harry seusai persidangan.

" Aku tak akan melewatkannya, kau mempersiapkan diri untuk persidangan ini sejak lama sekali" tukas Harry " dan kau sangat luar biasa" dia memeluk Hermione dan mengecup singkat bibir wanita itu, membuatnya sedikit bersemu.

" Jadi ku tebak kau menitipkan anak-anak di The Burrow?"

" Tidak, aku menelpon orangtuamu dan mereka dengan senang hati mau menjaga mereka" kata Harry " lagipula kurasa cukup lama sejak terakhir mereka melihat cucu-cucu mereka"

" Oh, trims, Harry, aku yakin mereka sangat senang" kata Hermione, tersenyum puas.

" Jadi kita jemput anak-anak kita sekarang?"

" Ya, aku tahu aku baru bersama mereka tadi pagi tapi aku selalu merindukan mereka setiap kali aku harus meninggalkan mereka untuk pekerjaan" gumam Hermione

" Tentu saja aku mengerti, 'Mione, aku merasakan hal yang sama" balas Harry sebelum mereka berdua ber-Apparate ke kediaman Granger.

Hermione tersenyum ketika sampai di depan rumah orangtuanya. Dia segera mengetuk pintu, memeluk ibunya yang membukakan pintu sebelum masuk ke dalam bersama Harry menyusul di belakangnya.

" Mummy!" Albus yang berumur 1 tahun tertawa melihat kedua orangtuanya.

" Halo, sweetie" Hermione tersenyum senang dan mengangkat putranya itu.

" Dimana James dan Lily?" tanya Harry, memandang sekelilingnya.

" Bersama Ryan di halaman belakang" jawab Ellen, sementara Albus nampak mengoceh – meskipun masih berantakan – dengan semangat kepada Hermione yang memasang wajah serius, seolah putranya itu benar-benar membicarakan hal yang penting.

" Aku akan melihat James dan Lily, kau disini dengan Albus dan Ellen" kata Harry, mengecup pipi Hermione dan highfive dengan putranya sebelum berlari kecil ke halaman belakang.

" Jadi, bagaimana sidangnya?" tanya Ellen, dia berjalan ke dapur untuk mengambil jus jeruk yang sudah disiapkannya.

" Lancar, Mum" balas Hermione, mendudukkan Albus di pangkuannya.

" Bannie" Albus menunjuk boneka beruang berwarna coklat di samping Hermione.

" Kau mau Brownie?" Albus mengangguk dan Hermione memberikan boneka itu pada putranya yang langsung sibuk bercerita dengan beruang kecil itu, sangat menggemaskan " Trims, Mum" dia menambahkan saat menerima segelas jus jeruk dari ibunya.

" Dia sangat manis" kata Ellen, memandang Albus dengan senyum lebar " Hari ini dia tidak rewel dan sangat manja, dia tidak mau turun dari gendongan atau pangkuanku kecuali untuk bermain dengan mainannya di lantai" dia menambahkan.

" Ya, dia memang sangat lengket, tidak seperti James ketika seusianya"

" Oh, aku takkan melupakan masa-masa itu" Ellen tertawa " Aku tak bisa menoleh sedikit saja dan anak itu sudah menghilang dari pandanganku" Hermione ikut tertawa

" Aku tahu, dia sangat penuh semangat sejak kecil" kata Hermione " Beruntung Harry bisa mengimbangi staminanya, aku takkan sanggup berlari-lari keliling rumah hanya untuk mengejarnya untuk mandi" dia menambahkan.

" Dia sangat luar biasa, bukan?" Ellen tersenyum

" Ya, dia benar-benar luar biasa" kata Hermione, menghela napas " Aku sangat beruntung memilikinya"

" Lily benar-benar mengingatkanku padamu sewaktu kecil, dia sangat suka membaca" kata Ellen " dan dia membaca dengan cepat, aku yakin buku-buku hadiah natalku sudah habis di baca olehnya" dia menambahkan sambil tertawa.

" Ya, dia pembaca yang cepat dan sangat cerdas" kata Hermione, mengangguk setuju " tapi aku takkan membiarkan dia terlalu fokus dengan hanya membaca sepertiku dulu, Mum, aku ingin dia juga belajar bergaul" dia menambahkan " beruntung dia memiliki sifat Harry, dia masih suka bermain dengan para Weasley dan teman-temannya ketika mereka di The Burrow dan tidak hanya sibuk membaca"

" Lalu bagaimana denganmu, Alby?" Ellen mengusap tangan Albus " Kau akan suka berlari seperti James atau kutu buku seperti Lily, eh?"

Albus memandang Ellen dengan mata hijau zambut besarnya sebelum tertawa, membuat kedua wanita itu ikut tertawa.

" Kau mau bermain dengan balokmu?" tanya Hermione, perlahan mendudukan Albus di lantai. Anak bungsunya itu segera merangkak ke balok-balok yang bertebaran di lantai dengan Brownie duduk di sampingnya.

Hermione dan Ellen duduk sambil mengawasi Albus dan meminum jus jeruk mereka, sesekali keduanya membahas hal-hal ringan seputar berita di televisi atau menceritakan pekerjaan mereka. Ryan dan Ellen masih menjadi dokter gigi meskipun tidak sesibuk dulu, mereka hanya membuka praktek setengah hari dan libur di akhir pekan.

" Untuk seseorang yang tidak tumbuh di keluarga yang penuh cinta, Harry punya banyak cinta di dalam dirinya" kata Ellen " Aku melihatnya setiap kali dia memandangmu, sayang, aku merasa seperti ketika Ryan memandangku" dia menambahkan.

" Aku tahu, Mum" Hermione mengangguk " Dia memang tidak pandai dalam mengutarakan perasaannya" dia mengangkat bahu ringan " tapi dia menyampaikannya lewat banyak tindakannya"

Ellen mengangguk dan membiarkan Hermione melanjutkan ceritanya dengan tertarik.

" Sewaktu anak-anak masih kecil, dia tidak membiarkan aku bangun sendirian untuk menyusui mereka tengah malam, dia bahkan kadang meminta aku memompa ASI-ku lebih dulu supaya dia bisa memberikannya pada mereka tanpa menganggu tidurku di malam hari" kata Hermione " Dia tidak membiarkan aku sendirian, ketika tekanan di Kementrian sangat berat atau ketika anak-anak sedang berulah dan membuatku stress, dia tidak mengatakan banyak hal, Mum, dia hanya duduk di sampingku dan memelukku, membiarkan aku menangis sampai aku puas hingga aku merasa lega" dia menambahkan " Mungkin terdengar aneh tapi dia tidak perlu mengatakan dia mencintaiku untuk membuatku tahu kalau dia sangat mencintaiku"


" Oke, semua anak-anak sudah tidur" kata Hermione, tersenyum seraya masuk ke dalam kamarnya.

" Kurasa mereka kecapekan karena bermain seharian" kekeh Harry " dan aku yakin kau juga capek, kemari" dia mengulurkan tangannya.

Hermione tersenyum dan masuk ke dalam pelukan Harry, mereka berbaring di tempat tidur mereka, menikmati keberadaan satu sama lain.

" Aku tidak bermasuk menguping tapi aku mendengar percakapanmu dengan ibumu" gumam Harry, memecahkan keheningnya " Maaf kalau aku tidak pandai dengan kata-kata, aku tidak tahu kata yang tepat untuk mengutarakan perasaanku"

" Oh, Harry" Hermione tersenyum " Kau tahu kau tak perlu banyak bicara untuk membuat aku mengerti" dia menambahkan " Aku selalu mengerti dirimu, bahkan tanpa kata-kata"

Harry mengangguk dan menghela napas.

" Aku besar tanpa pernah mendengar bagaimana ayahku berbicara pada ibuku, bagaimana mereka menyusun kata-kata manis satu sama lain" lanjut Harry " jadi aku tidak pernah tahu cara yang tepat untuk mengungkapkannya padamu, aku hanya berusaha melakukan hal-hal yang membuatmu nyaman dan bahagia, Mione"

Hermione merasa hatinya meleleh, pemuda itu selalu punya cara untuk membuatnya semakin jatuh cinta padanya setiap hari. Hermione mendekatkan wajahnya dan membawa Harry dalam ciuman yang panjang, berusaha menyampaikan betapa dia mencintainya.

" Kau tahu kan satu tindakan manis itu lebih berarti daripada seribu kata-kata manis" kata Hermione " Harry, aku mengerti dirimu, aku mengenalmu dengan sangat jelas dan aku menerimamu dengan semua hal itu" dia tersenyum lebar " dan aku juga minta maaf kalau aku sangat sibuk dengan pekerjaanku, aku takut tidak punya waktu yang banyak untuk keluarga kita"

" Hei, aku juga mengerti dirimu, Hermione" balas Harry " Aku tahu kau sangat mencintai keluarga kita, lagipula bukan kuantitas yang penting, bukan? Tapi kualitas, kau selalu berusaha semaksimal mungkin menyisihkan waktu untuk keluarga kita, aku tidak pernah berpikir anak-anak kekurangan kasih sayang darimu" dia menambahkan " Mereka beruntung punya ibu sehebat dirimu" dia mengecup bibir Hermione

" Well, mereka punya ayah yang luar biasa sepertimu" balas Hermione.

Mereka berdua saling pandang dan tahu mereka akan baik-baik saja. Mereka mengerti.