Hermione menoleh ketika melihat Harry melangkah masuk ke dalam apartemen. Gadis itu menurunkan buku yang dibacanya, tersenyum senang ketika berpikir pemuda itu akan menghampirinya tapi senyum itu sedikit memudar ketika melihat Harry berjalan melewatinya menuju dapur. Mengerutkan kening, dia bangkit dari sofa dan mengikuti langkah kekasihnya itu menuju dapur.

" Harry?"

" Oh, hai, Hermione" Harry menoleh sekilas sebelum kembali memandang isi kulkas, memutuskan apa yang bisa dia makan.

" Kau baru pulang?" Hermione mengerling jam dinding yang menunjukkan 10 malam.

" Ya, kupikir kau sudah tidur" balas Harry, mengeluarkan sekaleng jus, roti dan selai kacang.

" Um.. tidak, aku menunggumu" gumam Hermione, pelan ketika Harry mengolesi selai kacang di rotinya.

" Ada yang mau kau bicarakan?" lanjut Harry.

Hermione mengerutkan keningnya, tidak biasanya Harry berbicara seperti itu dengannya. Pemuda itu biasa sangat ramah dan selalu memeluknya ketika dia masuk ke dalam apartemennya.

" Tidak ada"

Harry hanya mengangguk singkat dan meneguk jus jeruk lalu menikmati roti selai kacang miliknya. Mungkin dia hanya lelah, batin Hermione.

" Kau tidurlah duluan, aku masih mau mandi" kata Harry, menghabiskan potongan terakhir rotinya, mengecup kening Hermione sekilas sebelum menghilang di balik tangga menuju kamarnya.

Hermione merasa bibirnya mengerecut, dia menunggu Harry daritadi berpikir kalau mereka bisa menikmati momen berdua di depan perapian sambil bercengkraman tapi sepertinya pemuda itu terlalu capek. Menghela napas, Hermione mematikan api perapiain dan mengambil buku yang dibacanya seraya menuju kamarnya. Suara shower kamar mandi masih terdengar, mungkin setidaknya mereka bisa bercengkraman di tempat tidur.

Gadis itu memakai gaun tidurnya dan berbaring di tempat tidur. Beberapa menit kemudian, Harry keluar dengan piyama tidurnya. Pemuda itu langsung berbaring di samping Hermione, melepas kacamatanya dan memejamkan matanya.

" Harry, aku –"

" Hmm…"

Hermione menghela napas, pemuda itu sudah tertidur. Dia mengecup pipi Harry sekilas sebelum memejamkan matanya yang berusaha tidur.

# # #

Hermione membuka matanya perlahan, dia berusaha meregangkan tubuhnya namun merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Tersenyum kecil, dia membalikkan badannya dan langsung disambut ciuman lembut di bibirnya.

" Pagi, Mione" sapa Harry

" Pagi, Harry" balas Hermione

" Selamat hari valentine"

Hermione menoleh dan melihat memang benar, hari ini tanggal 14 Februari. Dia balik memandang Harry dan tersenyum lebar.

" Happy valentine, Harry" balas Hermione " Jadi, apa rencana kita hari ini? Aku dengar ada film baru di –"

" Dengar, 'Mione" potong Harry, pelan " Aku tahu aku harusnya cuti hari ini, tapi semalam aku belum menyelesaikan semua laporanku" Hermione merasa dadanya merosot " jadi aku harus menyelesaikannya hari ini, Kingsley benar-benar butuh laporan dariku segera"

" Oh…" Hermione mengangguk pelan

" Sori, honey, bagaimana kalau kita makan malam diluar hari ini?"

" Ya…baiklah" gumam Hermione, masih sedikit kecewa.

" Aku harus pergi sekarang" Harry menyibak selimut dan keluar dari tempat tidur mereka, membuat Hermione langsung kehilangan kehangatannya.

Katakan saja Hermione egois tapi dia benar-benar ingin menghabiskan hari spesial ini dengan Harry tapi seperti biasa, rencananya tidak pernah berjalan lancar. Menggerutu pelan, Hermione memutuskan setidaknya dia bisa memasakkan sarapan untuk pemuda itu. Dia meraih mantel tidurnya dan keluar kamar, menuju dapur dan mulai menyiapkan omelet, sosis panggang dan membuat jus jeruk.

" Baunya enak" puji Harry ketika dia muncul di dapur " Kau harusnya tetap di kamar, ini hari cutimu" dia menambahkan.

" Bukan masalah" balas Hermione, tersenyum kecil " lagipula aku tahu kau hanya akan membuat roti selai kacang dan minum jus kaleng lagi jika aku tidak memasak" dia mengangkat alis dan Harry tertawa.

" Hei, kau harus ingat siapa yang mengajarimu memasak, Hermione"

" Aku tahu kau yang mengajariku, tapi kau selalu terlalu malas untuk memasak buat dirimu sendiri" balas Hermione

" Well, kau menang" Harry mengangkat kedua tangannya dan menyibukkan diri memakan sosis panggangnya.

Hermione duduk di depan pemuda itu sambil mengobrol ringan mengenai pekerjaannya. Belum sampai lima belas menit, telepon Harry berdering. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya dan berdiri ketika melihat nama penelponnya, dia mengeling Hermione sekilas sebelum keluar dari dapur dan mengangkat telepon di halaman belakang. Hermione mengerutkan keningnya dalam-dalam kali ini, dia dan Harry tidak pernah ada masalah mengangkat ponsel di depan satu sama lain dan pastinya itu bukan dari Kementrian karena mereka masih lebih sering menggunakan burung hantu atau jaringan floo ketimbang ponsel.

Hermione bangkit dari tempat duduknya dan perlahan mengintip ke halaman belakangnya. Dia bisa melihat Harry mengacak rambutnya yang sudah berantakan sambil berbicara dengan cepat di ponselnya.

" – ya, aku tahu kau menunggu lama" terdengar suara Harry " Aku janji akan memberitahukannya saat makan malam, percayalah"

Hermione mengerutkan kening, hal apa memangnya yang perlu Harry beritahukan padanya dan pada siapa dia bicara.

"Tentu saja aku tidak akan membatalkan makan malam, setidaknya itu yang bisa kuberikan padanya sebelum memberitahukan hal ini" lanjut Harry " Please, kau harus membantuku, Lucy" dan Hermione merasa matanya melebar ketika Harry menyebutkan nama itu, pemuda itu berbicara dengan wanita!

" Kenapa? Ayolah, aku tak mau mengecewakannya, aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja" sambung Harry " Yah, aku mengerti, aku mau kau membawa si kecil supaya Hermione bisa mengenalnya, kuharap Hermione mau menerimanya" dia menambahkan.

Hermione memejamkan matanya dan merasa matanya memanas. Nampaknya Harry berencana memberitahukan hal penting padanya saat makan malam dan itu bersangkutan dengan wanita bernama Lucy dan si kecil, apa itu anak? Apa Harry dan wanita itu punya anak tanpa sepengetahuan Hermione? Apa Harry sudah lelah menunggunya dan memutuskan untuk membangun keluarga dengan wanita lain?

Hermione perlahan melangkah kembali menuju kamarnya. Sudah lima tahun mereka bersama dan Hermione tidak pernah merasa Harry bisa menghancurkan hatinya seperti ini. Mungkin ini alasan belakangan ini sifat Harry berubah, dia jadi lebih cuek dan selalu pulang lebih larut dari biasanya. Meringkuk dalam tempat tidurnya, dia memeluk bantalnya erat.

" Hermione, aku pergi dulu!"

Plop!

Terdengar suara ber-Apparate Harry dan Hermione menghela napas keras-keras.

# # #

Hermione menghabiskan seharian berusaha mengalihkan pikirannya namun ingatannya tentang percakapan Harry di telepon tadi sangat sulit untuk di abaikan. Pemuda itu tidak ada menghubunginya seharian ini, bahkan tidak saat makan siang, biasanya dia akan memberitahukannya atau setidaknya bercerita sedikit saat makan siang.

Dia memandang sekelilingnya, ini adalah apartemen yang dibelinya dan Harry bersama-sama ketika mereka memutuskan hubungan mereka serius dan setuju untuk tinggal bersama. Dia ingat ketika mereka bersikeras untuk memindahkan barang-barang mereka dan mengecat dinding apartemen dengan cara Muggle meskipun mendapat tatapan aneh dari teman-teman penyihir mereka. Tapi orang-orang itu tidak mengerti, mereka berdua tumbuh di lingkungan Muggle dan melupakan sesaat bahwa mereka adalah penyihir merupakan hal yang menyenangkan.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya, jika Harry memilih wanita lain, apa itu berarti Hermione harus pindah? Apa dia harus kembali ke rumah orangtuanya atau kembali ke apartemen kecilnya, dia tidak tahu. Ada banyak kenangan di apartemen ini dan dia tidak bisa membayangkan jika Harry akan menciptakan kenangan baru dengan wanita lain dan anak mereka.

" Urrgghhhh" Hermione mengerang frustasi.

# # #

" Hermione"

Hermione menoleh, dia mengenakan gaun berwarna abu-abu lembut dan mengenakan sedikit make up untuk menutupi matanya yang bengkak karena menangis seharian.

" Ron dan Vanessa akan ikut makan malam dengan kita" kata Harry, ringan.

Hermione menarik napas, seperti Harry ingin ada orang yang menenangkannya ketika dia ingin memutuskannya. Harry tahu dengan jelas bahwa Vanessa adalah sahabatnya sejak dia masuk di Kementrian bahkan mereka lebih seperti saudara.

" Mereka akan datang sebentar lagi" ting tong! " Oh, itu mereka!" dia segera berjalan ke pintu depan dan meninggalkan Hermione yang berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.

Hermione menarik napas dalam-dalam dan melangkah keluar dari kamarnya. Dia melihat Ron sedang mengobrol dengan Harry sementara Vanessa langsung tersenyum ketika melihatnya namun senyuman itu memudar ketika dia memperhatikan mata Hermione yang sedikit bengkak, gadis itu mengangkat alis dan Hermione hanya menggeleng kecil.

" Jadi semua sudah siap?" tanya Ron " Aku sudah lapar" dia menambahkan dan membuat Vanessa memutar bola mata.

" Kapan kau tidak lapar, Ron?" goda Hermione, merasa sedikit lebih baik.

" Ayo, kita ber-Apparate" Harry mengulurkan tangannya pada Hermione, gadis itu mengenggam erat pemuda itu takut jika ini terakhir kali bisa mengenggamnya.

Mereka berApparate di depan sebuah restoran muggle yang nampak cukup mewah. Vanessa menggandeng Ron dan mereka berdua berjalan lebih dulu sementara Harry dan Hermione mengikuti di belakang. Harry nampak sedikit lebih cemas ketika mereka masuk ke dalam restoran.

" Aku sudah memesan untuk kita berempat" kata Vanessa ketika mereka duduk " Kurasa saladnya akan keluar sebentar lagi"

" Oh, apa tidak bisa langsung ke menu yang mengenyangkan?" protes Ron

" Ron, kau harus sabar sedikit" Vanessa menyikut Ron sementara Harry terkekeh.

Pelayan datang mengantarkan champagne mereka dan Hermione hanya memandang gelasnya, dia rasa tidak ada yang perlu di rayakan. Salad mereka datang tidak berapa lama kemudian dan mereka makan sambil mengobrol ringan.

" Dengar, aku ingin mengenalkan kalian dengan seseorang" kata Harry, berdeham.

Hermione merasa tubuhnya sedikit membeku, dia merasa tidak siap. Harry tersenyum dan melambaikan tangannya, Vanessa dan Ron menoleh mengikuti arah lambaian Harry sementara Hermione mengaduk-aduk minumannya.

" Hai" terdengar suara wanita.

Hermione melirik sekilas dan melihat seorang wanita dengan rambut pirang sebahu dan mata biru laut. Wanita itu tersenyum memamerkan deretan gigi putih yang rapi dan senyum menawan.

" Lucy" Harry bangkit dan menyapa wanita itu.

" Harry" balas Lucy, mengecup pipi pemuda itu dan cukup untuk membuat Hermione kehilangan kesabaran.

" Kau bisa langsung beritahukan apa yang ingin kau katakan" kata Hermione, dingin

Harry, Ron dan Vanessa memandangnya dengan kaget, Hermione biasanya selalu ramah namun kali ini gadis itu malah menggunakan kata-kata yang sangat dingin.

" Hermione?" Vanessa mengerutkan kening.

" Mau berapa lama lagi kau diam? katakan pada mereka!" Hermione mengambil tasnya dan melangkah keluar dari restoran

" Woah, 'Mione?" Harry mau mengejar namun Vanessa menggeleng, Harry mengangguk mengerti bahwa lebih baik membiarkan Vanessa yang bicara pada kekasihnya itu.

Vanessa bergerak cepat mengejar Hermione, tahu bahwa sahabatnya itu bisa ber-Apparate menghilang kapan saja.

" Hermione!"

" Tinggalkan aku sendiri" tukas Hermione, cepat

" Ada apa denganmu?" Vanessa berusaha mengimbangi langkah kaki sahabatnya itu.

Hermione hanya diam, menggigit bibirnya sambil terisak kecil, membuat Vanessa menjadi semakin cemas. Mereka berdua berjalan hingga sampai di taman dekat restoran itu, Hermione duduk di bangku taman terdekat karena merasa lututnya lemas, dia menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis terisak.

" H-Harry…d-dia selingkuh…" kata Hermione, lemas.

" Oh, Hermione" Vanessa mengusap punggung gadis itu " Itu pasti salah paham, kau tahu pemuda itu tergila-gila padamu, semua orang tahu"

" D-Dia dengan wanita lain dan k-kurasa mereka punya anak" bisik Hermione " Dia a-akan meninggalkanku, V-Van.." air mata mengalir lagi di pipinya.

" Dan kenapa kau bisa berpikir begitu?"

" Karena aku mendengar percakapannya"

" Hermione, kau pasti salah paham" Vanessa tersenyum seolah mengetahui sesuatu, dia mengeluarkan tongkat sihir " Expecto patronum" seekor burung merpati keperakan muncul di hadapan mereka " Harry, ke taman kota sekarang" dan burung itu segera melesat pergi

" Tidak! Kenapa kau memanggilnya kemari?" Hermione segera bangkit dari kursi

" Karena ini semua tidak seperti yang kau duga" kata Vanessa, lembut

Plop!

" Hermione!"

Harry segera menghampiri gadis itu dan memeluknya, bingung dengan Hermione yang tiba-tiba lari meninggalkan mereka di restoran tadi. Hermione memejamkan matanya dan balas memeluk pemuda itu, namun dia menangkap sosok Ron dan Lucy dari balik bahu Harry dan mengerutkan kening.

" Kenapa dia ikut kemari? Kau bahkan tidak bisa meninggalkannya di restoran untuk mengejarku?" Hermione mendorong Harry pelan

" Lucy? Tentu saja dia harus ikut" kata Harry, bingung " Aku ingin mengenalkanmu pada si kecil" dia menambahkan

Hermione merasa matanya memanas, Harry akan mengenalkannya dengan anaknya. Dia merasa air matanya akan tumpah ketika tiba-tiba Harry mengangkat sebuah mahluk kecil berbulu cokelat, membuat matanya mengerjap ketika melihat anak kucing itu.

" Surprise" Harry tersenyum " Aku ingin kau yang memberikan namanya jadi aku dan Lucy memanggilnya si kecil untuk sementara"

" A-Anak kucing?" bisik Hermione, kaget

" Ya, kau sering bilang kalau kau merindukan Crookshanks sejak dia menemani orangtuamu di rumah mereka" jelas Harry " Jadi aku mendatangi toko hewan di dekat Diagon Alley dan bertemu dengan Lucy, dia membantuku memilihkannya untukmu"

Hermione menelan ludah, dia memandang anak kucing yang manis itu dengan shock.

" Hai, Hermione" Lucy mendekat dan mengulurkan tangannya " Aku Lucy Anderson"

Hermione menjabat tangan wanita itu dengan agak ragu.

" Harry bercerita banyak padaku tentang dirimu karena itu aku ingin bertemu langsung denganmu" kata Lucy, tersenyum senang " tapi kurasa ada kesalahpahaman di antara kita" dia terkekeh " Aku sudah menikah dan suamiku adalah rekan kerja Harry di Dapartemen Auror, William Anderson, William bercerita bahwa kucing kami baru melahirkan dan menunjukkan foto anak-anak kucing itu ke Harry lalu dia memutuskan untuk memberikanmu kejutan"

" K-Kau… A-Aku…" Hermione memandang Lucy dan Harry bergantian sebelum memandang Harry " Hanya saja, kau meninggalkanku seharian dan kau bahkan tidak mengirimkan pesan apa-apa, aku curiga karena kau tidak mau mengangkat telepon di depanku"

" Well, aku tidak mengangkat telepon di depanmu karena aku ingin mengejutkanmu dengan anak kucing ini" kata Harry, mengusap punggung kucing itu " dan seharian ini aku sibuk menyelesaikan kejutan lain untukmu" dia menambahkan.

" Kejutan lain?"

" Well, aku dan Ron akan bawa anak kucing ini ke apartemen kalian" kata Vanessa, tersenyum penuh arti

" Yah, aku yakin Harry ingin kau jadi orang pertama yang melihat kejutan berikutnya" lanjut Ron, nyengir

" Aku yakin kalian akan merawat anak kucing ini dengan baik" lanjut Lucy " dan aku harus kembali ke restoran, William sudah menungguku" dia mengerling ke arlojinya.

Mereka bertiga ber-Apparate, meninggalkan Harry dan Hermione berdua di taman itu.

" Hermione" Harry tersenyum lembut sambil mendekati wanita itu.

" Seharian aku menangis dan meratapi nasib kalau kau meninggalkanku" kata Hermione, lirih " A-Aku benar-benar bodoh"

" Ssshhh…" Hermione membenamkan wajahnya di dada Harry dan menangis pelan " Hei, jangan menangis lagi, oke? Kau tahu aku tidak akan pergi darimu dan juga sebaliknya, aku tak akan biarkan kau pergi" dia mengecup kening Hermione

" Maafkan aku" bisik Hermione, pelan " Aku bukannya tidak percaya padamu, h-hanya saja…" dia mengiggit bibirnya.

" Oke, cukup dengan semua kesalahpahaman ini" kata Harry, ringan " Pegangan erat" dan dia membawa Hermione ber-Apparate.

Hermione membuka matanya dan melihat dirinya kini berada di sebuah rumah besar bertingkat. Dia merasa rumah ini familiar dan begitu dia memandang sekelilingnya, matanya melebar.

" Gordic Hollow?" Hermione memandang Harry dengan tanda tanya " Kau merenovasi rumahmu?"

" Ya" Harry mengangguk " Kemari, ada yang mau ku tunjukkan" dia menarik tangan Hermione dengan lembut untuk masuk ke dalam rumah itu.

Hermione masuk dan merasakan suasana hangat dari rumah itu. Dia melangkah masuk dan melihat beberapa kelopak bunga mawar merah di lantai, dengan bingung dia mengikuti jejak kelopak itu sementara Harry mengikutinya dari belakang.

Setapak demi setapak hingga kelopak itu menuntunnya ke ruang tamu dimana perapian menyala menerangi ruangan itu. Nampak sederetan lilin membentuk hati di lantai, kelopak mawar itu berhenti tepat di tangahnya.

" Harry, apa maksud semua ini?" gumam Hermione meskipun dia tersenyum " Harry?" dia menambahkan ketika tidak ada balasan.

Gadis itu membalikkan badannya dan merasa nafasnya tertahan ketika melihat Harry berlutut dengan satu kaki di lantai, tersenyum ke arahnya. Hermione tersentak kaget dan menutup mulut dengan tangannya, merasa matanya berair.

" Hermione, banyak orang di dunia ini yang mencintai seseorang karena orang tersebut memenuhi harapan mereka tapi kau berbeda, kau mencintaiku karena diriku apa adanya sebagai Harry – bukan Sang Terpilih, Anak Yang Bertahan Hidup, Pahlawan Dunia Sihir – kau mencintaiku hanya karena aku adalah Harry Potter, orang biasa yang bahkan tidak mengerti Aritmancy" Harry tersenyum sambil memandang tepat di mata Hermione yang air matanya sudah mengalir deras " Kau ada di saat-saat terburuk dalam hidupku bahkan ketika aku sendiri tidak mengerti apa yang harus aku lakukan, kau tetap percaya padaku bahkan ketika Ron meragukanku tapi kau selalu ada" dia meraih saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak belundru hitam " dan aku ingin kau selalu ada di sampingku, menghabiskan sisa hidup kita bersama selamanya, aku janji bahwa aku akan selalu mencintaimu dan kau selalu membuat mencintaimu adalah pekerjaan paling mudah karena setiap kali denganmu kau selalu memberikan satu alasan lagi kenapa aku mencintaimu" dia menarik nafas dalam-dalam dan membuka kotak itu, menunjukkan sebuah cincin dengan berlian indah di tengahnya " dan aku ingin mencintaimu sepanjang hidupku, Hermione, maukah kau menikah denganku?"

Hermione memandang pemuda itu dengan senyuman meskipun wajahnya penuh air mata, air mata kebahagiaan tentu saja.

" Ya, ya, ya!" Hermione mengangguk cepat " Tentu saja aku akan menikah denganmu, Harry" dia tersenyum

Harry nyengir dan memasukkan jari manis Hermione ke dalam cincin itu sebelum bangkit berdiri. Hermione langsung mengalungkan lengannya di leher Harry dan mencium pemuda itu penuh-penuh di bibirnya.

" Maaf kalau aku berbuat bodoh tadi" gumam Hermione " hanya saja aku mendengar pembicaraanmu dan langsung memikirkan kemungkinan terburuk" dia menambahkan.

" Kau tahu kalau kau bisa selalu percaya padaku kan, 'Mione?"

" Ya, aku percaya padamu" Hermione menghela napas pelan " hanya kadang aku tidak percaya kau memilihku, kau tahu ada banyak wanita di luar sana yang lebih baik daripada aku"

Harry tersenyum kecil dan menutup jarak di antara mereka lagi, kali ini mencium Hermione dengan jauh lebih intens, membuat gadis itu merasa jantungnya berdetak semakin lebih kencang dan keras.

" Sekarang kau sudah percaya?" goda Harry dan gadis itu bersemu " Aku mencintaimu"

" Aku mencintaimu, Harry" balas Hermione, pelan

" Aku tak sabar untuk memulai keluarga kita" balas Harry, nyengir " dan aku tak sabar memanggilmu Mrs Potter"

" Well, aku tidak sabar menjadi Mrs Potter"