Kehidupan abadi yang artinya kekal tanpa rasa takut akan kematian, dan terhindar dari nama-nya zona waktu, tapi apakah itu memang menyenangkan? Dulu, dia dikejar waktu, takut pada putaran kehidupan yang akan membuat tubuh menua lalu mati. Dan, sekarang itu berbalik.. Naruto mengejar waktu yang terus menjauh dari jangkauan-nya, bahkan kini kematian pun menertawakan nya, cukup ironis bukan?
Untuk kali ini biarkan dirinya egois, Naruto lelah menjadi pahlawan yang pada akhir nya akan menjadi kegagalan, dulu — jika dia terdampar di suatu tempat yang tidak dikenal, maka yang pertama dilakukan nya adalah mencari jalan pulang sambil melakukan hal-hal heroik, namun sekarang dia bahkan tidak peduli. Yang hanya diinginkan Naruto adalah kehidupan yang tenang.
Tapi seperti nya itu mustahil ketika kau hidup di dunia yang berisikan malaikat, iblis dan makhluk lainnya, dan sungguh pemuda pirang ini sempat berfikir bahwa di dunia ini bahkan ada naga? Mendengus geli adalah apa yang Naruto lakukan.
Tidak mungkin ada naga, kan?
Iya, kan?!
Warning story: OOC, Edgy AF, Miss-typo, AU, Monoton, semi-GORE, AT and AR.
"Aku tidak takut mati.."
"—Dan jika kau tidak takut mati, maka tidak ada yang perlu ditakutkan.."
"Karena satu-satunya yang ditakuti manusia adalah, kematian.."
"Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, pertanyaan yang tidak bisa aku jawab.."
"Apakah aku benar-benar masih dianggap manusia? Aku tidak tahu.."
"Dan jujur, aku tidak terlalu peduli—"
"—Haruskah aku menggunakan kekuatan ini untuk menyelamatkan umat manusia? Mungkin.. Mungkin tidak."
[ N/U. Naruto. ]
Sepasang mata Azure tua menatap kosong pada wanita muda yang mengatakan namanya Rein-sensei, transfer dari prefektur yang jauh. Nah, dia tidak peduli. Asalkan orang ini menjauh dari kehidupannya, sama seperti yang orang lain lakukan. Hal ini sudah menjadi motto kehidupannya bahkan semua orang tahu itu, jangan pernah masuk ke dalam kehidupan Uzumaki Naruto.
"Ano, U-Uzumaki-kun?" tanya Rein-sensei, suaranya sedikit terbata-bata. Entah itu karena gugup atau menahan amarah, jelas itu bukan urusannya. [1]
"Maaf, aku akan duduk." Naruto menjawab, suara nya hambar tapi jika orang lain mengenal-nya lebih dekat, itu perkataan penuh amarah yang disembunyikan dengan baik. Marah, adalah sifat manusiawi. Tapi kemarahan Naruto itu berbeda. Jika orang lain marah, biasa nya mereka akan melampiaskannya dengan menangis, atau mengeluarkan sifat emosional lainnya. Maka yang dilakukan Naruto adalah mengunci perasaan marah itu pada dunia dan menggantikannya dengan topeng apatis.
Tanpa menunggu jawaban, Naruto berbalik dan berjalan menuju bagian belakang ruangan. Seluruh murid kelas memelototi-nya. Meh, cukup mudah untuk mendapatkan perhatian, bukan? Bahkan jika itu hal negatif sekali pun. Naruto duduk di kursinya dan mengeluarkan buku catatannya.
Beberapa hari yang lalu, Naruto menerima surat peringatan dari sekolah, bahwa dia akan dikeluarkan dari sekolah jika membolos lebih dari sepertiga tahun. Dan sayangnya — baginya, itu berarti bolos sekolah bukan pilihan lagi..
Mungkin, jika situasi nya berbeda dia akan tertawa.
Naruto Uzumaki, shinobi yang sudah membunuh jutaan orang, berlutut hanya karena satu pesan. Dan semua itu karena dia bolos sekolah. Menyedihkan, seharusnya tidak ada artinya, tapi mungkin saja kehidupan sekolah tidak seburuk yang dia pikirkan, dan bagi nya kehidupan yang tenang itu lebih dari sebuah anugerah.
"Aku lemah karena aku kuat—"
"—Dan aku cukup kuat untuk menjadi orang lemah."
[N/U. Naruto.]
Rias suka menganggap dirinya orang baik. Dia membantu para wanita tua menyeberang jalan. Dia mengajar teman-temannya di berbagai mata pelajaran. Rias tidak berpikir dirinya mampu membenci seseorang, sampai dia bertemu Naruto Uzumaki.
Ada yang salah dengan Naruto Uzumaki..
Itu bukan perilakunya, karena Naruto cukup sopan meskipun Rias tahu semua itu palsu, ataupun bukan karena penampilannya, karena Naruto Uzumaki cukup tampan dengan cara yang misterius, dan juga bukan karena cara sosok Naruto ini menenangkan diri, selalu bungkuk, tidak pernah fokus..
Itu karena matanya.
Mata birunya yang mengerikan.
Di dalamnya, Rias bisa melihat dendam yang dipegangnya untuk dunia. Dia bisa melihat kemarahan dan kebencian yang meluap-luap di bawah lapisan remaja manusia biasa. Orang seperti ini yang telah menghancurkan dunia di masa lalu. Pria yang menolak untuk melepaskan kepahitan mereka. Orang yang menahan amarah dalam jiwa mereka.
Sesuatu telah terjadi pada Naruto Uzumaki, dan apa pun yang terjadi telah mengubahnya menjadi.. Monster di balik topeng, iblis yang mengenakan kulit manusia.
Sekarang ini mulai lucu, karena Rias menyamakan kata iblis sama dengan pujian.
Sekarang, dirinya tidak begitu yakin.
Rias menyaksikan ketika Naruto duduk di kursinya dengan santai lalu mengeluarkan buku catatannya. Itu tindakan yang sangat normal. Dan ketika Rias melihat sekilas mata mengerikan itu, Rias melawan keinginan untuk menghancurkannya.
Mereka mengingatkannya pada orang lain, mengepalkan tinjunya, kuku menggali lubang berbentuk bulan sabit ke kulit yang sebelumnya tidak cacat. Mungkin jika Grayfia ada disini, dia pasti akan menegurnya; Rias tidak bisa merawat dirinya sekarang.
Karena Naruto Uzumaki dan Riser Phenex keduanya memiliki mata yang sama.
Kejam.
Pendendam.
Dan sementara Riser menggunakan niatnya seperti mantel baju besi, Naruto menyembunyikan pesona di balik seorang mahasiswa biasa.
Rias tidak yakin mana yang lebih buruk.
OoOoOo
"Hidup dimulai pada usia 40 tahun", mengapa orang menyatakan demikian? Mengapa pada usia 40? Salah satu alasannya mungkin adalah karena pada umur 40 usia kita sesungguhnya baru 17 tahunan! 40 dikurangi 1/3 hidup atau 13 tahun 4 bulan yang kita lalui untuk tidur [Tidak dihitung] dan Sisa 26 tahun 8 bulan dikurangi lagi dengan 9 tahun masa kita sebagai anak-anak [Tidak dihitung] dan hasilnya adalah 17 tahun 8 bulan, kata orang itulah usia sesungguhnya dari seorang yang berumur 40.
Tapi itu tidak berlaku bagi Naruto Uzumaki.
Tidak ada batas umur bagi-nya, kehidupan akan terus-menerus ada dihadapan Naruto. Terpaksa menyaksikan adegan mengerikan ketika satu-persatu orang yang disayangi nya mati, karena usia. Dan perlahan-lahan wajah mereka menghilang dalam otak Naruto. Sekeras apapun dia berusaha mengingat wajah mereka dipikirannya namun tidak membuahkan hasil; sia-sia.
Naruto sendirian di dunia ini, tidak ada orang yang dikenal-nya disini. Bahkan makhluk di dalam perut-nya yang sudah biasa disebut partner menghilang karena alasan yang tidak diketahui. Melalui rasa kesepian ini, Naruto terus berjalan dalam kehidupan tanpa warna. Mengembangkan rasa ketidakpedulian terhadap makhluk apapun.
Sekalipun itu iblis, malaikat ataupun manusia.
Jadi ketika Naruto mendapati dirinya dalam situasi klise dimana dia melihat seorang bocah berpenampilan rata-rata tertusuk tombak maka yang akan dilakukan sebagian besar orang ketika melihat ini adalah menolongnya.
Tapi sayang-nya, dia bukan orang yang baik hati.
Naruto perlahan mulai berjalan menjauh dari tempat itu namun sepertinya dunia seakan-akan membencinya, selalu menarik nya ke dalam masalah. Ketika dengan gerakan malas Naruto harus menghindari sebuah tombak yang mengincar kepalanya. Berdiri beberapa meter jauh dihadapannya adalah sosok wanita yang sempat membunuh bocah rata-rata itu beberapa menit yang lalu.
Naruto berdiri diam sambil mengamati sosok wanita tersebut, sebelum tubuh nya membuat gerakan postur khas-nya yaitu membungkuk malas. Sedangkan Raynare masih mengalami keterkejutan melihat bahwa manusia biasa bisa dengan mudah menghindari serangan tombaknya.
"Mengapa kau menyerangku?"
Raynare merengut kesal, mengapa manusia ini bisa begitu santai ketika berhadapan dengan dirinya? Itu penghinaan bagi harga diri Raynare. Menciptakan lima tombak lagi bermaksud menakuti manusia ini. Tapi reaksi Naruto malah semakin membuat Raynare kesal. Manusia ini.. Bukannya takut tapi malah mengupil?!
"Karena aku harus menghilangkan saksi pembunuhan sebelumnya.." Naruto tersenyum masam, dua bola mata Azure nya bersinar dalam cahaya biru yang dapat membekukan jiwa seseorang, dan detik berikutnya sinar itu menghilang. Digantikan dengan tatapan kosong tanpa dasar yang begitu hambar.
"Bah, aku tidak akan memberitahu siapapun."
Raynare menyeringai lebar karena rasa kesenangan yang begitu liar, dan lima tombak yang sebelumnya melayang dibelakang Raynare sekarang terlempar cepat menuju sosok Naruto yang kini masih mempertahankan postur malasnya.
Lalu belum sempat serangan itu mencapai sang target, lima tombak itu sudah terlebih dahulu hancur menjadi debu, dan Raynare yang masih dalam keadaan kaget karena menyaksikan sesuatu yang mustahil terjadi tidak memperhatikan bahwa sekarang sosok Naruto yang lain ada dibelakangnya, memegang kunai tumpul berkarat, dengan senyum masam Naruto berkata..
"Mari kita cari tahu, bagaimana jadinya jika kau tidak punya sayap.."
TBC.
Next: [02]
Madara harus menahan amarah-nya untuk sekarang, berdiri dengan angkuh dihadapan makhluk kematian itu sendiri, dan tanpa rasa hormat sedikitpun Madara menatap wajah makhluk tersebut sambil mengarahkan ujung pedang tipis berkarat penuh dengan noda warna merah gelap tepat ke arah wajah Shinigami.
"Katakan padaku, mengapa aku dilarang mati?"
Bruh, pendek plus lama lagi update-nya. Sorry, tapi CH berikutnya akan panjang, jadi santai aja jangan terburu-buru.
Etto.. Silahkan, berikan saran, maupun kritik yang masuk akal dan bisa diterima oleh logika.
