Manusia itu sombong. Sungguh, ini fakta yang tidak bisa diperdebatkan. Manusia ini mengklaim, bahwasanya mereka masih bersih dan murni karena berbuat baik terhadap manusia lainnya. Atau begitulah menurut pemikiran dari seseorang yang ingin mengubah dunia, sebut saja dia: Madara Uchiha. Dan, mereka bahkan menggunakan spesies mereka sendiri sebagai contoh kematian, ada juga yang berpikir tentang hal moralitas, mencoba membuat keputusan sepihak tentang kemanusiaan. [1] Ironi..

..Ini pertanyaan sederhana, mengapa ketika bayi lahir, naluri pertama mereka adalah meminta susu. Dan jika ditolak, mereka akan menangis dan membuat orang lain sengsara?

..

..

Narsisme, eh?

"..Madara Uchiha memang pantas dianggap jenius, ini realitas yang tidak dapat dibantah. Namun, semua pola pikir yang ada di kepala Madara Uchiha cenderung ke arah negatif, dan mungkin saja, ini adalah salah satu alasan mengapa dia menjadi penjahat."

..

..


"..Jika para manusia percaya mereka dilahirkan dalam keadaan suci dan murni, lalu mengapa mereka harus mengajar kebaikan kepada anak-anak?" — ini sebuah pertanyaan random yang ada di kepala Madara ketika dia masih berusia enam tahun. Untuk mengurangi rasa penasarannya, Madara mulai mempertanyakan hal ini kepada Ayahnya, dan coba tebak? Jawabannya mengejutkan bocah Uchiha.

"Ini tentang moralitas, dan untuk itu, ada perbedaan antara manusia dan hewan."

Namun meski begitu, rasa keingintahuan Madara semakin bertambah. Jadi, dia mulai membalas perkataan sang Father Uchiha dengan logis. "Dan artinya penjahat dilahirkan tanpa moralitas sejak kecil? Apakah begitu Otousan?"

"..."

Madara yang sejak kecil memang membenci keheningan, menambahkan pertanyaan kepada Ayahnya yang masih diam. "Jika Otousan memang yakin penjahat dilahirkan dengan membawa sifat buruk dari pertama mereka membuka mata, lalu mengapa setiap orang tua tahu bahwa mereka harus mendidik anak-anak mereka sejak dini tentang kebaikan dan moralitas? Bahkan jika anak itu adalah penjahat sekalipun?"

"..."

"Otousan? Mengapa kau diam?"


.

.

Madara mempunyai banyak pertanyaan kali ini, bahkan dia yang mempunyai gelar jenius tidak dapat menjawab misteri ini. Jika kalian tidak bisa mati, apa kalian akan menerimanya? Terjebak dalam tubuh tua untuk selamanya, ketika Madara berpikir demikian, itu membuatnya ingin meninju seseorang. Dan bahkan jika tubuh abadi ini adalah kelebihan yang diberikan oleh dewa kepadanya, ini tidak membuatnya senang, bahkan menganggapnya sebagai kutukan. Karena alasannya begitu sederhana..

Madara Uchiha, sudah bosan melihat dunia..

Ada begitu banyak darah, jika orang lain melihat Madara sekarang, dipastikan orang itu akan muntah dan bahkan mengalami trauma berkepanjangan. Madara melihat jantungnya: inti organ kehidupan manusia sekarang ini berlubang cukup besar namun yang paling mengerikan dari semua itu adalah..

Madara Uchiha, masih hidup.

Ini tidak normal.. Dan tentunya sangat-sangat begitu abnormal: Mengepalkan satu tangan sampai jari-jari kukunya memutih, dan satu tangannya lagi memegang erat pedang tipis berkarat yang penuh dengan darah.

Madara sudah lama menyerah pada apa yang namanya kehidupan, dia sudah tua dan generasinya sudah lama hancur karena egonya sendiri. Sekarang, Ini adalah hukuman yang pantas untuknya karena menghancurkan setiap harapan, dan impian semua orang. Walaupun begitu, dia tidak bisa berbohong pada perasaannya, ini sangat menyakitkan.

Ketika dia mulai berpikir untuk melakukan upaya bunuh diri lagi, sosok pria yang diselimuti kabut mencegahnya. Hal ini tidak mengejutkan bagi Madara, karena pada dasarnya dia tahu bahwa di dunia ini, tidak semua makhluk mati. Sunggu lucu ketika Madara memikirkan ini, karena apakah bisa membunuh sang pembawa kematian itu sendiri?

Tidak, dan mustahil.

"Kau terlihat menyedihkan, nak."

Madara tersenyum masam, ada perasaan yang tidak asing bagi Madara ketika dia melihat Shinigami di depannya. Begitu sangat dekat dengan kematian. Kedua bola mata merah yang hanya dimiliki oleh seorang Uchiha itu kini perlahan-lahan namun pasti, warna yang ada di matanya meredup akan cahaya kehidupan. Dengan susah payah Madara mulai berbicara lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada sosok Shinigami.

"Jadi begini akhirnya, heh tidak terlalu buruk.."

Secara mengejutkan, pria yang masih diselimuti kabut itu tertawa namun sayangnya, tawa ini tidak manusiawi, dan sangat tidak nyaman untuk di dengar, begitu dingin dan hambar. "Oh, kenapa terburu-buru nak?"

Pedang berkarat yang penuh dengan warna merah kini sekarang diacungkan tepat di depan Shinigami, tentunya penuh ancaman. Madara menatap penuh kebencian kepada pihak lain, "Katakan padaku, mengapa aku tidak bisa mati?"

"Apakah kau tidak takut mati, nak?" Pria itu bertanya, sama sekali tidak peduli dengan ancaman Madara.

"Kematian?" Madara menjawab setelah beberapa saat hening. "Iya." dia menjawab dengan jujur. "Kematian itu cepat dan tidak memihak. Setiap orang harus mati, itu bagian dari hidup, fakta yang tak terbantahkan dari keberadaan kita."

Kecuali dia yang pada dasarnya tidak bisa mati.

Madara menyipitkan matanya, "Jawab aku, apakah aku masih bisa mati?" Setelah memikirkannya, melakukan upaya untuk menghilangkan nyawa itu melelahkan. Jadi, dia langsung ke intinya dan menanyakan kepada pihak kematian itu sendiri untuk memastikan...

"..Tidak ada manusia yang abadi selamanya, termasuk kau nak. Tapi kau harus mengerti untuk sekarang—" Pria itu menjawab dalam kabut hitam yang masih menyelimutinya, namun suaranya cukup jelas dan dapat dipahami. "—kau perlu belajar untuk memahami setiap makhluk hidup."

"Tidak ada sisa makhluk hidup untuk dipahami." Madara menurunkan senjatanya, dia berdiri diam tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin masih mengejutkan bagi Madara ketika mendengar dia punya kesempatan untuk mati.

"Benar, dan untuk itu kau harus pindah."

Sekali lagi, Uchiha yang dulu sombong itu terdiam selama beberapa menit, pikirannya berpacu dengan pikiran pribadi. Lalu, dia merespon. "Pindah kemana?" Madara menyembunyikan emosinya dengan baik, tapi di dalam hatinya dia sangat ketakutan.

"Itu sepenuhnya terserah kau, nak." Pria itu menjawab, kedua mata hitam muncul dalam kabut, menatap Madara dengan emosi yang tidak dapat dimengerti. "Kau bisa pergi ke tempat yang pantas kau tuju dan bersama orang-orang yang telah menunggumu." Untuk pertama kalinya sejak pria itu datang, Madara memutuskan kontak mata, menatap ke kiri, menjauh dari pria itu. "Atau," pria itu melanjutkan, "kau bisa mencoba lagi."

Madara kembali menatap pria itu, matanya sedikit melebar. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, apa saja, tapi tidak ada yang keluar. Madara membuka dan menutup mulutnya beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan kontak mata sekali lagi. "Coba lagi? Coba lakukan apa, tepatnya? Akhirnya membakar dunia menjadi abu?" Madara menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak ingin mengulanginya."

"Bocah bodoh." Pria dalam kabut yang awalnya tenang sekarang mulai marah. "Kapan kau akan mengerti bahwa semua ini bukan hanya tentang sosok dirimu.."

Mata Madara menyipit lagi, meski dia tetap diam.

"Baiklah—" Shinigami berkata pelan, pria itu akhirnya mulai tenang ketika dia melihat Madara masih mendengarkannya. "—mungkin, kau harus belajar dari sosok Uzumaki Naruto."

"Tidak ada yang bisa dipelajari dari seorang bocah idiot." Madara menjawab dengan nada meremehkan, tapi Shinigami mengabaikannya dan berkata. "Kau punya pilihan." ketika Madara mendengar ini tubuhnya menegang bahkan ekspresinya semakin memburuk. "Apa itu?"

"Pertama, kau bisa hidup di sini sendirian, kekal, abadi, tanpa takut akan kelaparan namun sebagai gantinya aku akan mengambil seluruh kekuatanmu."

"..." Madara tetap diam, tapi hatinya menolak pilihan ini. Mendengarnya saja membuat dia merasa ketakutan.

"Kedua, aku akan mengirimu ke dunia baru. Dimana kau bisa belajar makhluk hidup lainnya. Sebagai gantinya, jika kau berbuat baik selama dunia itu mencapai batas akhir—" Pria itu berhenti sejenak, tidak ada yang tahu ekspresi wajahnya karena kabut hitam terus menyembunyikan sosoknya. "—kau bisa mati dengan tenang." Dan untuk mengkonfirmasi perkataannya dia berkata. "Kau bisa yakin padaku, nak."

Madara menyentuh jantungnya yang sekarang mulai berdetak, seolah-olah air hangat membasuh keseluruhan area tubuhnya, membuatnya merasa menjadi manusiawi lagi, seolah-olah memenggal kepalanya saja dapat membuatnya mati, tapi detik berikutnya semua itu hilang bagaikan ilusi, Madara menekan jantungnya lagi untuk menyadari bahwa sekarang sudah tidak berdetak, seperti mayat.

"..Shinigami, katakan padaku, apakah ini menguntungkan bagimu untuk membantu penjahat sepertiku?"

Pria dalam kabut terdiam untuk sesaat. "Aku tidak membantumu, nak.." setelah mengatakan ini, dia tertawa. "Aku hanya merasa kasihan pada seorang kakek yang sangat ingin mati, dan aku membuat pilihan ini untuk memudahkankannya."


OoOoOoOo


.

.

Marah, bangga, iri.

ini adalah dosa-dosanya.

Dan, Raynare jatuh karena mereka.

Betapa dia iri pada kera tak berbulu yang dipuja dan dicintai para Seraph. Itu menyebalkan. Seiring waktu, sayapnya menggelap saat ketidaksukaannya terhadap ciptaan terbesar Yahweh meningkat.

Terus dan terus dirinya membiarkan kesombongannya menyulut kebenciannya sampai akhirnya, sayap putihnya menjadi hitam.

Sekali lagi, Raynare menyalahkan manusia atas aibnya dan memilih untuk membalas manusia dengan kehancuran. Mereka tidak lebih dari bidak di matanya. Kawanan yang menunggu untuk dipimpin oleh seorang gembala. Mereka semua, tidak lebih dari sampah yang cacat.

Dan hari ini, salah satu dari mereka menghajarnya hingga jatuh ke tanah seolah-olah dia tidak lebih dari seekor lalat. Manusia ini menangkapnya dengan tangan kosong dan menghancurkannya. Sebelum Raynare bisa terkesiap, manusia ini terlebih dahulu meletakkan tangannya di mulutnya.

Hal berikutnya yang diketahui Raynare, dia berada di luar pinggiran Kota Kuoh dan terhempas ke permukaan yang dingin. Raynare terkejut dengan kekuatan manusia ini. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan cara manusia ini memandangnya.

Seolah-olah dirinya adalah hama.

Membiarkan amarahnya lepas, Raynare terbang dan memutuskan untuk menusuk manusia ini dengan tombaknya. Namun, pria itu sepertinya menghilang dari pandangannya. Raynare merasakan tarikan keras di sayapnya. Entah kapan Naruto telah muncul di atasnya dan dengan satu tangan, memutar sayap kanannya.

Raynare merasakan sakit yang luar biasa, setiap sarafnya menekankan kesedihan yang dia alami. Kemudian tanpa ampun Naruto mencengkeram sayap lainnya, melanjutkan untuk menyiksanya lebih banyak di udara sebelum Raynare dibiarkan jatuh ke tanah. Wajahnya sekarang berlapis lumpur, dan debu.

Raynare tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri ketika rasa sakitnya menjadi terlalu hebat. Mata kecubungnya mendongak untuk melihat manusia ini berdiri di dekatnya. Menatapnya dengan tatapan kosong.

"Yah, kau terlalu agresif." Naruto berkata dengan nada malas, lalu meregangkan lehernya, pandangannya berpaling dari Raynare. "Aku memberimu kesempatan. Tapi kau mengabaikannya."

Raynare melihat bagaimana Naruto meraih punggungnya, dan kunai kecil bertumpu di tangannya. Naruto membungkuk ke levelnya dan menatapnya.

Raynare gemetar ketakutan. Sesuatu yang tak terlihat mencekiknya. Angin berhembus kencang. Bulan tersembunyi oleh awan yang lebih hitam. Bayangan kegelapan membayangi dirinya. Hal ini untuk memberitahunya, betapa tidak ada gunanya melawan pria ini.

Tidak, monster ini.

Kunai itu turun ke tenggorokannya lalu Raynare merasakan logam dingin menekannya. Dan memotong kulitnya, beberapa darah mulai keluar. Perasaan terkutuk yang menempatkannya ke dalam jurang neraka mencekiknya.

"Aku harus membunuhmu," Naruto berkata dengan dingin dan kejam. Tangannya menjangkau bagian belakang kepala Raynare, mengambil segenggam rambutnya dan mengangkat wajahnya untuk bertemu dengan tatapan sepasang es beku mematikan. Kunai itu masih ada di tenggorokannya, dan Raynare tahu waktu kematiannya sudah dekat.

Sampai perasaan putus asa itu lenyap saat Naruto melemparkannya kembali ke tanah.

Sekali lagi, Raynare terkejut dengan manusia ini. Dirinya yakin bahwa manusia ini akan mengakhirinya sekarang. Setelah benar-benar menghancurkannya dalam pertempuran, ini adalah satu-satunya kesimpulan yang bisa Raynare pikirkan.

"Tapi," suara serak Naruto membuat Raynare terbangun dari lamunannya. Naruto berdiri di sampingnya. "Sama seperti hama, membunuhmu itu tidak berguna." Raynare merasa lebih buruk sekarang. Disebut tidak berguna, itu adalah ketakutan terbesarnya. Itulah kenapa dia bergabung dengan rombongan Kokabiel sejak awal. Untuk membuktikan bahwa dia bukan hanya prajurit biasa di Grigori.

"Namun, ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu, da-ten-shi." Naruto berkata lembut, sangat berbeda dari nada sebelumnya, bahkan Naruto tidak repot-repot menatap Raynare. Tatapannya tertuju pada langit malam, ada ekspresi sedih di wajahnya. "Jangan menyeberang jalanku lagi. Aku tidak ingin membunuh siapa pun. Aku hanya ingin dibiarkan sendiri. Jika kau terus menggangguku, berharap mendapatkan balas dendam yang menyedihkan, yakinlah akan satu hal—"

Raynare menelan ludah, kegelisahan memumpuk di hatinya hanya karena perkataan Naruto yang menggantung.

"—Aku akan mengakhiri keberadaanmu, Raynare."

Janji lain.

Salah satu yang akan monster ini lakukan.

Kemarahannya bergetar di bawah tatapan matanya yang dingin.

Harga dirinya hancur oleh tangan kosong monster berkulit manusia.

"Apakah kau mengerti?" Naruto bertanya dengan lembut dan perhatian. Raynare mengangguk ringan saat dirinya berbaring di tanah. Dan sosok Naruto menghilang saat angin bertiup kencang.

Dan untuk pertama kalinya dalam seabad, mungkin lebih, Raynare mulai menangis. Diam-diam, dia terisak oleh keadaannya, rasa sakitnya dan penghinaan totalnya


TBC.