Chapter 5: Shinobi dan seekor naga.


.

.

Di malam hari bersama dengan lampu-lampu jalan yang redup, Naruto berdiri diam sambil melihat rumahnya yang ia beli dua bulan yang lalu. Merasakan perasaan bahaya datang dari dalam rumahnya membuat Naruto merasakan emosi yang tidak jelas.

Benar-benar menjengkelkan..

Sebagian dari dirinya menyuruh Naruto untuk berbalik arah dan pergi, yang artinya tidur di luar rumah. Tapi hari ini ia sangat lelah, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Naruto perlahan berjalan ke arah rumahnya, mengabaikan perasaan bahaya yang membuatnya kesal..

Naruto mengambil kunci rumah di dalam saku celananya, suara kunci pintu terbuka terdengar nyaring di malam hari yang sunyi. Asalkan tidak menggangu tetangga sebelah, ia tidak terlalu peduli.

Membuka pintu secara pelan, Naruto melihat di dalam ruangan yang sederhana, ada satu sosok pendek yang sedang menunggunya, melihat ke arahnya. Naruto mengabaikan sosok itu, setelah mengunci pintu, ia langsung melemparkan tas sekolahnya ke tempat tidur, hampir mengenai kepala kecil sosok tersebut.

Naruto lagi-lagi mengabaikan keluhan pihak lain, ia masuk ke ruangan dapur, membuka kulkas yang isinya hanya ada satu ramen. Naruto menghela nafas ringan, merasa bahwa dirinya benar-benar kekurangan uang, dengan enggan mengambil ramen yang tersedia.

Setelah menutup pintu kulkas, sosok gadis berdiri di sampingnya hampir membuat Naruto jantungan, "..." Sialan, ia lengah, tapi yang membuatnya ragu yaitu langkah kaki pihak lain benar-benar tidak terdengar.

Ini membuat Naruto merasakan perasaan rumit sekali lagi, ia melirik ke arah gadis yang menatapnya dengan mata kosong, tapi anehnya samar-samar Naruto melihat ada keluhan di dalam matanya yang hitam abu-abu.

..Itu pasti hanya ilusinya, kan?

Naruto yang masih ragu memilih untuk merebus ramennya dulu, setelah itu ia memberi isyarat kepada gadis di sampingnya untuk mengikutinya. Membawanya ke ruangan tengah, Naruto duduk di lantai kayu yang diikuti oleh gadis itu di depannya.

"..Baiklah, apa yang kau inginkan?"

Ophis menatap manusia di depannya, dengan keluhan yang samar di dalam matanya yang hitam abu-abu. "Kau harus membantuku.." mendengar ini Naruto berpikir sejenak, dengan ragu bertanya, "Membantumu dalam hal apa?"

Ophis menjawab dengan nada angkuh tanpa ragu-ragu, "Membantuku membunuh Baka-Red.." Naruto yang mendengarnya merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia menggaruk kepalanya karena gatal, kutu sialan..

Lagian, saha euy Baka-Red ieu teh?

Naruto mencoba mengingat sosok Baka-Red di dalam benaknya, namun hasilnya sia-sia, karena ia memang tidak pernah bertemu ataupun mengenal sosok Baka-Red ini. "..Tunggu, jelaskan dulu siapa yang kau sebut Baka-Red."

Ophis yang wajahnya selalu tabah kini ada kerutan di keningnya, seolah-olah memikirkan jawaban dari sebuah pertanyaan yang paling sulit di dunia, membuat Naruto speechless, tidak bisa berkata-kata..

Setelah terdiam lima menit, Ophis akhirnya bersuara, walaupun suaranya masih datar tanpa emosi, namun ada keraguan di dalamnya. "Baka-Red adalah Baka-Red.."

Hal ini membuat Naruto menganggukan kepalanya sok, lebih baik berpura-pura mengerti daripada masalahnya semakin ribet, "..Oke, lalu kenapa kau ingin membunuhnya?"

Naruto menatap gadis yang duduk di depannya, merasa rumit. Ophis kini mempunyai ekspresi suram, bahkan sekarang keluhan di dalam matanya semakin jelas. "Dia merebut rumahku.."

..Hanya karena itu? Naruto terdiam sesaat, "Maaf, aku tidak bisa membantumu." Ini memang benar, ia tidak ingin terlibat dalam masalah apapun, apalagi masalah yang dapat mengacaukan kehidupan tenangnya.

Ophis menundukkan kepalanya, terlihat seperti gadis yang menyedihkan. Sayangnya keputusan Naruto masih sama, tidak tergoda. "..Oi, bahkan jika kau bertingkah menyedihkan, itu tidak akan membuat keputusanku berubah."

Jadi berhentilah bertingkah seperti itu, jangan membuat cerita gaje ini lebih dramatis lagi. Naruto mengeluh dalam hatinya, merasa keputusan yang ia buat kali ini salah, harusnya ia lebih memilih tidur di luar rumah daripada harus menghadapi situasi brengzek seperti sekarang ini.

"Kalau kau membantuku, aku akan memberimu telur.." Ophis berkata dengan sungguh-sungguh, mata hitam abu-abunya dipenuhi dengan keseriusan, yang membuat Naruto tercekik karena emosi.

"..Jangan bercanda, iblis bisa bertelur?" Naruto menatap langit-langit rumahnya, merasa bahwa ia terlalu bodoh untuk memahami para makhluk supernatural. Di dalam benaknya, kata-kata iblis bisa bertelur terngiang-ngiang secara terus menerus.

Ophis menatap manusia yang kini sedang linglung, lalu dia sepertinya menyadari satu hal. "..Aku bukan iblis." Naruto yang sedang linglung mendengar ini langsung menoleh, lagi-lagi merasakan perasaan rumit. "Lalu kau itu apa?"

"Aku seekor naga.."

Naruto terdiam, lalu mengangguk pelan. "Aku mengerti.." ia tanpa tergesa-gesa bangun dari kenyamanan duduk di lantai kayu yang dingin. Melirik ke arah jam dinding, masih jam delapan malam.

Naruto mencoba tersenyum ramah namun gagal kepada gadis yang masih duduk di lantai. "Ayo, ini belum terlalu malam, dimana alamat rumahmu? Kakak akan mengantarmu pulang.."

"..Ah?"

Naruto dengan cepat kembali duduk, menyesuaikan ekspresi wajahnya agar kembali datar, berdehem. "Jadi kau adalah naga?"

Ophis masih bingung akan tingkah laku manusia di depannya barusan, dia mengabaikan pertanyaan pihak lain, dengan ragu dia bertanya. "Tadi apa yang kau lakukan?"

"..Lupakan itu, hanya adegan tidak penting yang hanya bermaksud menambah words dalam cerita." Naruto menjawab dengan datar, ia sampai matipun tidak akan memberitahu pihak lain bahwa tindakan yang ia lakukan barusan adalah ketidakpercayaannya terhadap naga di dunia ini.

Naruto mengulangi pertanyaannya, "Jadi kau adalah naga?" Ophis mengangguk pelan, "Ya, aku adalah naga." Nada suaranya penuh dengan kebanggaan bahwa dirinya adalah seekor naga.

Naruto menatap gadis di depannya dengan pandangan kasihan, seolah-olah melihat pasien rumah sakit jiwa yang keterbelakangan mental. "..Baiklah, coba buktikan bahwa kau adalah naga."

Ophis menggangguk sombong, dia mencoba mengeluarkan sayap di belakang punggungnya, namun tidak ada yang keluar membuat dia bingung, Ophis melirik ke arah manusia yang masih memandangnya dengan kasihan.

"Tunggu.." Ophis mencoba mengeluarkan ular-ular kesayangan dari lengan bajunya, tapi sama saja ular-ular itu tidak muncul. Naruto melihat semua tindakan yang dilakukan Ophis dengan datar, "..Oi, dari tadi apa yang kau lakukan? Cepat mana bukti bahwa kau adalah seekor naga?"

Ophis menundukkan kepalanya, tanpa sadar mengeluh. "Kekuatanku belum pulih.." Naruto lagi-lagi speechless, merasa bahwa jika obrolan malam ini terus berlanjut, ini tidak akan berakhir sampai pagi.

Naruto tiba-tiba menyipitkan mata birunya, lautan yang tenang menyembunyikan bahaya di kedalamannya. Naruto mengelus dagunya, merasa bahwa ia telah melupakan sesuatu yang penting.

Ramen..

Ekspresi datar yang dibuat Naruto retak, digantikan dengan kepanikan yang hebat, ia bangun tergesa-gesa, langsung berlari ke ruangan dapur meninggalkan Ophis yang kini sedang bingung.

Tidak butuh waktu lama bagi Naruto untuk kembali dari dapur sambil membawa satu ramen yang sudah matang. Ia kembali duduk, menunda ramen di sampingnya. Naruto menyesuaikan kembali ekspresinya menjadi datar, "..Untuk saat ini aku percaya bahwa kau adalah naga.. Tapi bukan berarti karena hal ini aku akan membantumu, bahkan jika aku diberi sebuah telur, aku masih tidak akan bisa membantu."

Kilatan kecewa melintas di mata hitam abu-abu, Ophis bertanya dengan suara rendah, "Kenapa?" Mengapa manusia ini tidak bisa membantunya? Padahal manusia ini memiliki kekuatan yang begitu besar..

Naruto terkekeh, seolah-olah mendengar sesuatu yang lucu. "Karena aku hanya orang biasa, warga biasa yang taat hukum dan membenci masalah."

Naruto mencondongkan tubuhnya, mengulurkan tangannya ke depan, menyentuh leher ramping yang berwarna pucat, mata birunya sekarang seperti lautan biru yang terkena badai, jika Naruto mau bahkan Ophis pun tau, dengan satu gerakan leher ramping ini akan patah..

"Jadi naga-san, bisakah kau pergi dari sini? Aku sangat membenci masalah.."

.

.

.

.


TBC.


Wuhui, akhirnya bisa update nih cerita lama. Meskipun chapter kali ini masih pendek, maaf aja ini karena ane udah buntu buat ngetik kelanjutannya. Puyeng euy, mending di update daripada harus nunggu ide lain yang nggak tau kapan muncul.

Ane kurang tau/mengenal tentang karakter Ophis, jadi harap jangan kaget kalau ada OOC di suatu karakter di cerita ini. Dan sebenarnya ane mau buat chapter ini lebih serius lagi, malah kebablasan nyelipin humor yang kurang jelas, harap dimaklumi.

Lalu dimana Madara? Tenang, dia masih ada di hutan belantara. :)

Oke, segini dulu. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.