Halo, namaku Hanabi. Seperti yang kalian tahu kemarin, secara tidak terduga diriku mendapat surat pernyataan cinta dari orang yang kusukai yaitu Kak Naruto.
Aku tidak tahu mengapa kertas itu bisa ada di tasku. Seingatku aku tidak pernah meninggalkan kelas meskipun saat waktu istirahat datang.
Tunggu? Ah iya aku lupa. Ternyata kemarin ada pelajaran olahraga yang mengharuskanku untuk meninggalkan tasku tanpa pengawasan di kelas. Hah.. Pasti saat itu mungkin dia datang.
Setelah kejadian itu aku mendapat kegelisahan. Meskipun ini belum tentu benar dari Kak Naruto tapi. Jika ini benar darinya pun aku akan tetap gelisah karena tidak tahu harus bersikap seperti apa saat di sapa olehnya nanti di sekolah.
Dengan perasaan gelisah itu aku tetap berangkat ke sekolah hari ini. Tentu, karena aku ini adalah seorang murid teladan dan mempunyai mental baja jadi aku tidak akan membolos hanya karena urusan seperti ini.
Belajar untuk remaja sepertiku adalah hal penting yang harus di utamakan olehku. Itu adalah prinsipku!
"Nah seperti itu! Jangan harap kau kuberikan ijin membolos hanya karena masalah yang tidak jelas seperti kau takut di marahi guru karena belum mengerjakan tugas. Hah.. Cepat berangkat!"
"I-iya Ibu!"
Hehe.. Sebenarnya aku tetap berangkat karena ibuku tidak memberikanku ijin seperti yang tertera di atas.
Hiks..
--
Saat ini aku sudah sampai di depan sekolahku. Berjalan menuju pintu gerbang yang kulihat baru saja di buka oleh satpam sekolah.
Jika membolos untuk menghindari bertemu dengan dirinya gagal. Maka, berangkat sangat pagi adalah jalan terakhir yang aku gunakan untuk mencapai tujuanku, hehe.
Aku berjalan memasuki sekolahku. Menyapa pak satpam dengan tersenyum kepadanya.
Tapi, saat aku kini sudah tiba di lorong yang jalurnya menuju kelas ku aku mendapati Kak Naruto berjalan menuju ke arahku.
Tanpa sengaja pandangan kami bertemu saat aku memastikan wajahnya. Aku langsung malu, tapi sebelum aku sempat memalingkan wajahku Kak Naruto kulihat memalingkan wajah sambil tangannya menggaruk belakang kepalanya.
Ada apa dengannya? Apa memang benar surat itu darinya?
Kak Naruto kulihat terus melihat ke arah lain. Dan saat dia menemukan sebuah belokan diapun berlalu ke belokan itu sebelum sempat berpapasan denganku.
Sepertinya.
Hah...
--
"Ada apa denganmu Hanabi?"
"Tidak."
Dengan kedua tangan menahan dagu, aku kini sedang duduk di memejaku sambil memikirkan saat tadi berpapasan dengan Kak Naruto.
Aku hanya menjawab singkat satu kata saja yaitu "Tidak." pertanyaan Sara karena aku ingin fokus memikirkan hal tadi.
Ada apa dengan dia? Tapi, walau aku berpikir dengan keraspun aku tidak menemukan jawaban dari pertanyaanku barusan.
"Bisa tidak jangan memajukan bibirmu seperti itu. Karena itu sangat manis untuk kulihat, bisa-bisa aku menyerangmu sekarang."
Meskipun Sara menambahkan kata manis di sana, tapi kenyataan kalau aku baru saja memajukan bibirku membuatku malu. Dan yang lebih menyebalkan, sekarang dia tertawa karena itu.
"Hey! Jangan tertawa!"
Kenapa dia malah membuat perasaanku semakin buruk? Huh.. Dasar Sara menyebalkan!
"Hah.. Maafkan aku Hanabi."
"Hm. Terserah."
Setelah dia mendengus menjawabku. Sara mengambil tempat di sampingku dengan kata lain dia kini duduk di bangkunya sendiri.
"Jadi, hal ini tentang Naruto yang memberi surat cinta padamu secara diam-diam lalu pagi ini dia menghindarimu, atau karena hal lain?"
"Kenapa kau bisa tahu sedetail itu!"
Aku sekarang sangat yakin kalau dia benar-benar mempunyai kekuatan supranatural dari keluarganya seperti yang pernah dulu ku jadikan dugaan karena Sara tidak mau menyebut marga dari namanya saat perkenalan di kelas.
Ini sangat aneh. Seingatku dia sudah pulang saat aku menemukan kertas itu di tasku. Dan, saat aku berpapasan dengan Naruto tadi aku tidak melihat dia di manapun, mungkin kalau hal ini dia bisa saja bersembunyi di suatu tempat tapi. Kalau soal surat aku yakin dia menggunakan kekuatan supranatural untuk mengetahuinya.
"Eh? Memangnya itu benar? Kak Naruto memasukan surat cinta ke tasmu kemarin?"
Meskipun dari raut mukanya yang sekarang terlihat terkejut membuatku sempat berpikir kalau Sara itu memang hanya menebak saja tadi, tapi kenapa.
"Kenapa kau bisa tahu tempat dia memasukannya dan kenapa juga kau bisa tahu kalau hal itu terjadi kemarin?"
Sekarang aku sudah lelah untuk terkejut jadi aku hanya menggunakan nada biasa untuk bertanya padanya.
"Eh? Jadi aku benar lagi?"
Sial.
"Terserahlah."
"Jadi, itu benar Hanabi? Kak Naruto menyukaimu!"
"Diamlah!"
Sara ini, tidak tahukah dia kalau di kelas ini sudah banyak orang. Bagaimana kalau ada yang mendengarnya dan itu menjadi gosip yang menyebar seantero sekolah.
Tidak, aku tidak mau memikirkan hal itu terjadi.
Dan selanjutnya bel masuk berbunyi. Aku pun mengikuti pelajaran hari ini dengan malas. Hah.. Kak Naruto!
--
Aduh saya mulai tidak bisa menahan diri untuk memeluk Hanabi! Hanabi Chan ku! Wkwk... :v
Ok thanks yang sudah review.
Rizuki dan Ishida. Huh... kasih tanggapan dong bagaimana menurut kalian cerita saya? Hehe.
Raynoval. Aduh Om :v Chapter ini yang ngegantu juga sebagai pembuktian bahwa saya belum mengetahui mau ngapain lagi setelah si Naruto nembak :v . Ok, semuanya.
Terima kasih.
