Kini aku berada di sebuah ruangan yang luas. Berbagai hiasan ada di sini, entah tempat apa ini.

Hiasan bunga lah yang paling banyak, mungkin ini kebun bunga? Yang jelas aku juga tidak tahu kenapa aku berada di sini.

"Hanabi."

"K-kak N-Naruto?"

Tunggu dulu, apa hubungannya semua ini dengan kak Naruto?

"Tentu kita belum ada hubungan. Karena itu sekarang aku ingin membuat hubungan denganmu."

Eee? Dia membaca pikiranku?

"Anu. A-aku, kak N-Naruto.."

Aku sekarang gugup, tubuh kak Naruto di depanku terus mendekat.

Apa ini akhirnya? Padahal aku belum mencapai apapun selama aku hidup. Apa harus berakhir seperti ini?

Tunggu dulu! Memangnya kak Naruto akan membunuhku?

"Aku menyukaimu Hanabi, ayo kita menikah."

"A-aapa? Ta-tapi aku belum berlatih ijab qobul."

Aku belum siap! Tolonglah, aku hanya ingin mengatakan itu kepada kak Naruto. Jadi jangan menganggap ku aneh karena bilang kalau aku belum berlatih ijab qobul. Aku masih seorang gadis!

"Bangun."

"Anu? Apa maksudnya kak Naruto?"

"Bangun... Sudah pagi. Kusiram air saja."

He? Mengapa perkataanya jadi kacau?

(byurrrrr)

"Kyaaaa!!"

Dan setelah itu aku berjanji tidak akan lupa untuk membaca doa sebelum tidur dan juga berjanji tidak akan menikmati mimpi dan bangun lebih awal.

Kepanjangan ya? Terserahlah.

--

"Hanabi, tadi pagi kak Naruto menyapaku!"

"Teganya kau!"

"Hehehe..."

Saat ini aku berada di kelas. Kalian sudah bisa menebak dari awal kan, kalau scene di awal tadi itu hanya mimpi, kenapa tidak memberi tahuku? huh!

Kupikir penulis novel dan pembuat film romantis itu bercanda saat mereka bilang kalau cerita mereka itu terinspirasi dari kisah nyata, tapi nyatanya aku mengalaminya. Mimpi indah tapi sad ending tadi itu adalah scene yang sudah biasa terjadi di film romantis.

Dan itu tidak menyenangkan saat kau berakhir di siram air.

"Kak Naruto menyanyakanku?"

"Oh. Mulai jujur dengan perasaanmu, Hanabi?"

"Sudahlah jawab saja!"

Aku hanya penasaran dengan surat waktu itu. Mungkin saja kan dia tiba-tiba membicarakan soal surat itu pada Sara. Hanya karena itu aku bertanya!

"Tidak, dia hanya mengangguk lalu melewatiku."

Apa itu termasuk sapaan? Hm.

"Kau sengaja berangkat siang untuk menghindarinya Hanabi?"

"Tidak, aku hanya bermimpi lalu bangun telat."

"Sudah bisa ku tebak. Kau bermimpi tentang Naruto yang mengajakmu menikah bukan?"

Hah.. Kekuatan supranatural Sara kembali dia gunakan.

"Iya.."

"Aku benar? Ternyata aku jenius."

Apa hal itu bisa di sebut kejeniusan ya?

"Hanabi."

Seorang gadis mendekat ke arahku, yang ku sadari ternyata dia adalah Hotaru teman sekelas ku.

"Hm?"

"Kak Naruto menyukaimu."

"Apa!"

Belum sempat aku menanyakan kejelasannya, Hotaru berlalu pergi keluar kelas.

"Sudah di pastikan, ini memang benar. Kak Naruto menyukaimu Hanabi."

"T-tapi, dia belum bilang apapun. Aku tidak mungkin bukan langsung bilang aku juga menyukaimu padanya."

Sara kulihat hanya tersenyum ceria melihatku.

Apa sih?

"Kau mengakuinya. Selamat ya Hanabi."

"Eh?"

Bukan Sara yang berbicara seperti itu. Teman sekelasku lah yang tiba-tiba bicara lalu menyalamiku.

Dan selanjutnya teman-temanku yang lainpun mengikuti.

"Sara!"

Kesalahan besar. Aku tidak menyadari keadaan sekitar.

Hidupku sudah tamat.

--

Berjalan di lorong sekolah, aku berniat pulang tentunya. Sebenarnya jam pulang sudah berbunyi dari tadi, tapi aku memilih tinggal sebentar karena malu tentang kejadian tadi.

Ternyata hidupku masih berlanjut.

"Hanabi?"

"A-aa.."

Seperti scene di banyak novel romantis. Kak Naruto dan aku berpapasan denganku sekarang.

Padahal aku juga berniat menghindarinya tadi dengan pulang lebih lambat.

"A-anu.. Kak Naruto. Eeh?"

Aku tersentak karena tiba-tiba kak Naruto memegang pundak ku sambil menatap ku dengan tajam.

Apa ini ungkapan cinta? Aku belum siap kak Naruto!

"Hanabi. Ayo pulang bersama."

Ya, sepertinya aku terlalu berharap.

--

Rizuki. Wkwk :v biar kayak sinetron indo :v thanks review-nya.

Oxed. Hehe. udh lanjut Om :v makasih review-nya.

Terimakasih.