Yang masih belum nemu wattpad aku @aas.asia / @aas_asia ya..
Jangan lupa follow, comment dan like juga ya
HAPPY READING
.
"Jadi ku dengar dari Tuan Kankuro, bahwa Queen Sakura mempunyai solusi." Tsunade menatap Sakura dengan senyuman tenang.
"Bagaimana keadaan Istriku Queen Tsunade?" Sela Gaara, khawatir karena istrinya ditinggalkan oleh dokter ahli.
"Setelah memberi epidural, Aku memintanya tidur untuk mengurangi rasa nyeri." Gaara mengangguk paham.
"Jadi?" Tanya Be.
"Aku, Sasori dan Perdana Menteri menyimpulkan bahwa metode yang telah dijelaskan King Kato untuk metode yang Anda gunakan bisa digabungkan untuk menaikkan tingkat presentase. Ini membutuhkan banyak tenaga medis. Semua aparat penting dan memiliki bakat di Kerajaan Haruno dikerahkan memiliki kerja ganda sejauh ini, hanya demi mencari tenaga medis."
"Jangan Khawatir, Desa Iwagakure mayoritas memiliki kemampuan medis bahkan seorang militer sekalipun." dukung Tsunade.
Sakura mengangguk. "Dalam beberapa waktu lalu, kami menggunakan metode bernama caesar. Yaitu pengguntingan bagian perut." Semua menahan nafas ngeri.
"Seorang Queen dilarang memiliki bekas luka." bantah Sasuke.
Sakura menoleh sekilas. Mengangguk. "Tapi mereka yang berhasil aku tolong bukan bergelar Queen. Juga, para bangsawan juga memilih menghapus peraturan seperti itu untuk istrinya. Itu hak mereka karena urusan rumah tangga mereka." Sakura menatap Tsunade.
"Sejauh ini metode ini berhasil sekitar 80% untuk yang sempat kami tangani. Sejumlah besar warga ku yang meninggal adalah mereka yang melahirkan sebelum ditemukan metode ini dan mereka yang tak sempat kami tangani. Kami punya tenaga medis ahli lebih kecil dari pada tingkat kehamilan yang meningkat setiap saat." jelas Sakura.
"Jika begitu, kau bisa menolong Istriku, Queen Sakura." pinta Gaara penuh harap.
Sakura menggeleng. "Aku tidak bisa menjamin. Metode ini dilakukan dengan tekad kuat. Pada awalnya, kami merasa tidak berdaya, dari pada memandang mereka yang terus merintih, akan lebih baik jika bertindak, sekali pun itu gagal."
"Ok. Aku paham, Aku tak akan menyalahkan mu. Jika. Jika sesuatu buruk terjadi." Ucap Gaara tak yakin.
"Tubuh istri mu akan terkoyak, jika gagal jawabannya adalah kematian." tegas Sakura.
"Bukankah sama saja, sama-sama akan mati."
"Asalkan tidak menimbulkan kesalahpahaman dikemudian hari, apalagi sampai terdengar rumor bahwa Queen Sabaku mati ditangan Queen Haruno lebih tidak baik lagi."
"Itukah yang Kau khawatirkan, tenang saja, kita sama-sama sudah mengenal lama, aku tahu kamu tak akan melakukan secara sengaja, walaupun istriku mati itu sudah takdir." Gaara pasrah.
Sakura mengangguk. "Itu juga perjanjian kami dengan Suami dan keluarga pasien. Karena satu kendala yang pasti terjadi." Sakura menutup mata rapat.
"Apa itu?" Tsunade tak sabar untuk melihat akhirnya.
"Kami menyebut metode caesar setengah berhasil. Karena setiap operasi caesar berhasil dilakukan hanya satu orang yang mampu kami selamatkan. Ibunya. Atau bayinya. Sejauh ini tak pernah ada selamat keduanya. Kecuali mati keduanya." Sakura menatap Gaara menyesal.
"Bukankah itu lebih baik." Ucap Be. "Jika kau memang kehilangan bayi mu, setelah kita membrantas sebabnya kau masih punya kesempatan punya lagi dengan istri mu. Tapi jika istri mu yang pergi, setidaknya ada bagian istrimu disisimu. Ku tahu kau hanya setia pada satu istri." lanjutnya lagi.
"Tapi kemungkinan keduanya meninggal juga ada." ingat Sakura.
"Itu keputusan King Gaara, mati terkoyak, atau mati putus asa. Seperti katanya sama-sama mati." Ucap King Kato.
"Lalu apa hubungannya dengan ku." Tanya Tsunade.
"Kita perlu ahli medis bagian bedah, anastesi, dan kandungan, tak masalah jika ada tenaga medis lain pun hanya perlu dilatih untuk bagian penting itu. Kita juga perlu ahli Farmasi dan apoteker untuk mengolah obat-obatan. Hal yang paling penting adalah bahan obat-obatan. Tidak semua desa memiliki bahan obat yang dibutuhkan." jelas Sakura.
"Disini bisa terjadi konflik ekonomi perdagangan." potong Sasuke.
"Itu sudah pasti, My Lord. Tapi untuk sekarang apapun bisa kami upayakan, benarkan?" ujar Be.
"Hn. Ya. Sementara tim dokter kandungan dibentuk, maka tim ekspedisi untuk mencari sebab mengapa terjadi kekacauan seperti ini didunia Shinobi juga harus dikerahkan. Kita tak boleh menghentikan kelahiran generasi Shinobi." ungkap Sasuke, memandu ke tujuan awal pertemuan ini diadakan.
"Aku setuju, My Lord. Jadi maksud meminta ku disini untuk ahli anastesi, Sakura." Tsunade memandang Sasuke dan Sakura.
"Anda benar, Shishou. Banyak kematian karena gagal mendapatkan anastesi dengan baik. Juga dengan kemampuan epidural bisa setidaknya menahan giliran operasi untuk mereka yang tidak tahan dengan kontraksi."
"Ah. Ya. Masuk akal. Tapi aku pun tak bisa menangani yang katanya operasi caesar."
Sakura terdiam. "Queen Sakura, menerapkan sistem menangani pasien sambil mengajari tenaga medis baru. Artinya memasrahkan urusan operasi pada satu tenaga ahli dengan memboyong tenaga medis yang belum ahli. Sejauh ini metode ini masih lambat. Tapi kami mendapatkan hasil." jelas Jirayya, karena ikut memantau keadaan dilapangan.
"Ah hebat sekali, apakah seorang perawat juga diajari." ucap Hana semangat.
"Perlu diketahui bahwa memotong organ manusia itu perlu keberanian. Tak cukup disitu ketelitian juga menentukan agar tidak terjadi infeksi. Jadi memboyong tak asal memboyong. Dan mengajari juga tak semua tenaga medis meraup dengan cepat." bantah Sasori setengah sinis.
"Kalau begitu bagaimana jika dibuat tim dalam tim?" Usul Tsunade.
"Jelaskan." titah Sasuke.
"Dalam tim Dokter kandungan terdiri dari tim bedah, tim anestesi dan tim pemantau kandungan. Para medis tidak harus mempelajari semua bagian itu akan lama, mereka hanya perlu mendalami masing-masing peran. Begitu juga untuk para peracik obat." Tsunade melirik wajah satu-satu.
"Jadi dalam ruang operasi terdiri dari 6 orang." Be berpikir.
"Kenapa kamu memusingkan itu." sungut Tsunade sebal. "My Lord, tolong perintahkan untuk mengerahkan tenaga medis sebanyak-banyaknya. Dan kita tarik satu orang ahli bedah dari Kerajaan Haruno. Untuk urusan anestesi dan kandungan Saya bersedia melatih mereka." Tsunade berdiri dan menatap Sasuke dengan semangat.
"hoi hoi kau pikir, itu mudah, pikirkan tempat dan segala tetek bengeknya juga." bantah killer Be.
"Tidak berapa persen pun tingkatnya pelatihan medis seperti ini sangat bagus untuk sekarang ataupun kedepannya. Aku akan mendukung apapun yang aku bisa. Dan tolong lakukan pemerataan." Pinta Gaara sungguh-sungguh.
"Baiklah, dibagunnya Tim dokter kandungan karena adanya keberhasilan kecil dari Queen Sakura. Tidak masalahkah jika Aku menimpakan ketua kepada Queen Tsunade?" Sasuke menatap Sakura tajam.
Sakura menggeleng. "Tidak masalah, My Lord. Shishou lebih pengalaman dalam bidang medis, akan lebih baik jika tugas ini diberikan kepada Queen Tsunade. Hanya seperti yang King Gaara katakan, tolong lakukan pemerataan."
"Saya akan menjalani tugas dengan baik, My Lord. Biarkan Queen Sakura menjadi wakil Saya jika begitu."
"Silahkan"
"Terimakasih, My Lord." Ucap Sakura dan Tsunade.
"Bagaimana jika para Raja memimpin ekspedisi. Sementara para Ratu menghadapi masalah didepan mata." Tanya Sasuke mantap.
"Ya. Lebih baik, My Lord. Saya tidak mengerti medis. Tapi tidak berpikir untuk menonton juga." ucap Be, dan diangguki setiap orang.
Sakura menghela nafas lega, menoleh kepada Jirayya dan Sasori. Seolah mengatakan masalah sedikit terbantu.
"Karena lokasi setiap Kerajaan berjauhan. Ada sebuah lahan kosong bagian timur yang luas dibawah kaki pegunungan Miyaboku. Kurasa tempat itu cocok untuk tempat melatih tim medis." ucap Sasuke tiba-tiba.
"Itu adalah perbatasan Lima negara, dan merupakan titik temu terdekat untuk setiap negara, tempat yang sangat bagus, My Lord, kita bisa membuat akademik terbesar yang pernah ada didunia Shinobi." Jirayya menyetujui saran Sasuke.
"Aku tidak akan menyarankan untuk mengosongkan tenaga medis pada setiap daerah dimasing-masing wilayah, lakukan secara berkala. Jika dirasa bisa mumpuni mengemban tugas segera sebar mereka ke wilayah membutuhkan."
"Baik, My Lord." jawab semua serempak.
"Queen Sakura, bisakah lebih dulu menolong Istriku, aku akan melakukan apapun, jika Istriku selamat." Gaara sekali lagi menatap Sakura penuh permohonan.
"Sekali lagi, ajarkan juga bagi para medis untuk membuat perjanjian dengan keluarga pasien terutama Suami. Memberitahukan para medis hanya melakukan tindakan. Selalu ada kata gagal disamping kata berhasil. Dan belum pernah ada yang selamat keduanya. Pun tak bisa memilih ibu atau anak yang harus hidup. Kematian keduanya pun bisa saja terjadi. Jika keluarga setuju lakukan tindakan seoptimal mungkin. Jika tidak lebih baik menolong yang lain yang siap dengan segala konsekuensi." Sakura mengumumkan surat perjanjian pada keluarga pasien.
"Aku setuju, Sakura. Dan akan kupastikan dokter Suna juga akan menggunakan surat perjanjian keluarga pasien." dukung Gaara.
"Baik. Bisakah Queen Tsunade juga membantu?" Sakura melirik ke arah Tsunade.
"Dengan senang hati, ini akan jadi pelajaran pertama untukku."
"Dengan begitu rapat ditutup, jika ingin, semua bisa ikut ke Istana Sabaku. Menyambut kelahiran Putra pertama King Gaara." Sasuke menutup jalannya rapat.
.
Pemandangan pertama yang Sakura lihat saat masuk ke kamar Ratu Matsuri adalah ringisan ringan namun mampu menyayat hati. Sepertinya pengaruh epidural sudah hilang. Begitulah kata Tsunade pengaruh epidural bisa hilang sewaktu-waktu.
"Gaara-kun, Sa-sakit." Gaara hanya bisa mengusap lembut kening Sang Istri.
"Pembukaan masih belum terjadi, Yang Mulia." Ucap salah satu tabib yang bertugas.
"Huhuhu aku tak sanggup."
"Tenanglah." Gaara sangat menyayangi Istrinya.
"Kau akan disini Gaara?" Tanya Sakura, setelah Sasori datang dengan membawa alat bedah yang sudah disterilkan. Sakura hanya membiarkan Tsunade dan Gaara yang masuk tadi. Sasori pun diusir kembali setelah menyiapkan peralatan yang ia bawa.
"Ya, Aku akan disini." jawab Gaara mantap.
"Mau apa?" Tanya Matsuri panik, tadi ia tidak memperdulikan kedatangan Sakura dan Tsunade, tapi setelah melihat benda yang dibawa Sasori, dia tidak bisa tidak takut.
"Queen Sakura, punya cara, Kau akan di operasi. Tak ada waktu untuk menjelaskan. Hanya ikuti. Biarkan Queen Tsunade dan Queen Sakura yang bertindak. Percayalah. Yakinlah. Kita akan menua bersama." Gaara mencoba memberikan semangat walaupun dia juga takut kehilangan.
Sakura tersenyum menenangkan ke arah Matsuri. "Bisakah menggelar futon tipis dilantai, sebisa mungkin tidak menyebabkan gerakan apapun selama operasi."
"Lakukan apa yang diminta." Ujar Gaara pada para pelayan disudut ruangan.
"Anda bisa melakukan anastesi sekarang, Shisou"
"Seluruh atau setengah?"
"Setengah juga tidak masalah."
"Baik, Queen Matsuri, organ tubuh anda dari perut ke bawah akan mati rasa, tapi Anda akan sadar dan bisa terus mengobrol dengan King Gaara." Tsunade mengerjakan bagiannya dengan terus membuat Matsuri tenang dalam duduknya.
"Sa-kit." eluh Matsuri.
"Hanya sebentar, setelah bagian bawah tak bisa digerakkan katakan saja."
"Ini saja sudah mati rasa, perut ku juga tak sakit lagi." Adu Matsuri. "Gaara-kun, apakah artinya Aku sembuh dan melahirkan."
"Nanti Aku jelaskan, tapi sekarang kamu nurut dulu ya." Gaara yang Sakura tahu dingin, saat ini tersenyum melihat Matsuri mengangguk patuh.
"Ayo bantu baringkan disini, kondisi bantal harus rendah agar posisi badan lurus, tidak dianjurkan dikasur empuk karena saat tertekan ditengah operasi bisa menekan luka dan terjadi pendarahan." Jelas Sakura pada Tsunade.
"Anastesi lokal sangat hebat, tadi Saya tidak yakin, tapi melihat Queen Matsuri masih sadar dan bagian bawah mati rasa, Aku percaya." puji Sakura.
"Terimakasih, Queen Sakura."
Sakura menggeleng. "Jangan sekarang."
"Kau pasti bisa, Sakura." Sakura dan Gaara memang teman masa kecil jadi jarang menggunakan embel-embel gelar.
"Maaf harus dihalangi dari jangkauan pandangan, ini untuk menghindari terjadi tekanan mental atau stress. Anda hanya boleh memikirkan yang senang-senang. Karena masih sadar Anda bisa mengobrol tapi hindari tertawa atau hal-hal yang menyebabkan gerakan." jelas Sakura membantu para pelayan membuat sekat diatas dada Matsuri. Matsuri mengangguk patuh.
Seperti kata Sakura, Matsuri mengobrol dengan Gaara, tanpa tahu apa yang terjadi, hanya menurut penjelasan Gaara. Selebihnya tak dipikirkan lagi. Ngeri. Maka lebih baik mengobrolkan hal positif.
Sedangkan Tsunade fokus pada tugas Sakura dan apapun yang diminta Sakura. Mulut Sakura tak lelah untuk menjelaskan selama dia juga menjalankan operasi.
Saat Lapisan terakhir Tsunade bisa melihat kepala bayi yang masih terbungkus lapisan ketuban. Tsunade tahu saat memberikan anastesi, bayi itu tidak bernafas. Tsunade hanya sesekali melirik kearah kesadaran Matsuri dan Gaara bergantian. Sesekali menanggapi obrolan mereka. Pun Sakura yang ternyata punya selera humor namun tak pernah ditampilkan didepan umum.
"Angkat!"
Tsunade mengangkat bayi berjenis kelamin perempuan sesuai instruksi. Tak satu pun pasangan Sabaku itu sadar. Hanya para pelayan yang menutup mulut hendak bersuara tapi mendapat tatapan tajam Tsunade seolah mengancam mereka untuk tetap diam.
"Aku rasa ada sesuatu melompat dari bawah sana." Kata Matsuri.
"Sudah ku bilang kan, jangan terlalu fokus sama yang mereka lakukan. Kecuali jika diminta." Gaara cemberut disamping kepala Istrinya dan mendapat senyuman manis Matsuri.
Sakura menghela nafas berat melihat seonggok bayi tak bernyawa. "Biarkan saja, bantu aku membersihkan ini."
Tsunade membantu membersihkan isi rahim Matsuri, dan darah disetiap lapisan. Beruntung tidak terjadi pendarahan. Matsuri masih sadar. Pun saat Sakura mulai menjahit dan membutuhkan anti septik setelahnya. Tanda operasi telah selesai. Hanya membersihkan sisa noda disekitar yang terkena cipratan. Itu tugas pelayan. Tsunade harus mengingat harus ada bagian khusus untuk menjahit, mengurus bayi dan bersih-bersih.
"Setelah efek anastesi hilang, akan perih, hanya memperhatikan pola makanan dan aktivitas, akan sembuh dengan sendirinya. Tapi ingat jangan lakukan gerakan apalagi diawal-awal paska operasi." jelas Sakura ke arah Matsuri.
"Apakah sudah selesai?" Saat melihat perawat ternyata berkumpul diujung kaki Matsuri dan pembatas sudah diangkat.
Sakura mengangguk. Melirik ke arah Gaara, dengan tatapan menyesal. Gaara mengerti tatapan itu, dan meyakini kumpulan perawat dan Tsunade adalah bayinya.
"Perutku kempis meskipun belum sepenuhnya." Ujar Matsuri melemah.
"Bayinya perempuan." Beritahu Sakura.
"Oh Tuhan, dia lahir. Tapi. Aku tidak sadar. Gaara." Matsuri menatap Gaara haru.
Gaara mengecup setiap sudut wajah Matsuri, penuh sukur. Matsuri masih disini. Hanya bayinya ia tahu jawabannya tapi Matsuri pasti akan sedih.
"Aku ingin menggendongnya, dia tidak menangis."
"Satu hal yang harus kamu tahu, ku harap kau mengerti kondisi mu setelah tahu kenyataannya. Ingat jangan melakukan apapun yang mengguncang tubuhmu. Kau harus merelakan bayi mu."
"A-ap-apa maksudnya?" Tanya Matsuri merasakan perasaan tak enak.
"Kami tak bisa menyelamatkannya."
"Oh,Tuhan. Oh.. Gaara, putri Kita." Matsuri menangis pilu. Larangan akan kondisinya memburam. Putrinya. Putri yang telah mereka nantikan tak sempat melihat kedua orang tuanya.
"Ssstttt.. Tenangkan dirimu. Kumohon."
"Putri kita... Gaara." Gaara hanya mampu mengangguk berusaha menenangkan istrinya.
"Janjilah untuk sembuh, tenangkan dulu. Ingat jangan bergerak, jangan sampai pendarahan. Kau tak ingin meninggalkan ku juga kan." Sorot Gaara menyendu.
Matsuri tahu Gaara juga kehilangan, tatapannya tak bisa dibohongi. Sangat Khawatir. Ya, Dia harus sembuh untuk Gaara.
"Aku ingin melihatnya."
Gaara mengangguk. Tsunade menghampiri dan menyerahkan pada Gaara. Matsuri hanya mampu memegangnya. Tak bisa egois, untuk melakukan tindakan yang bisa membahayakan dirinya.
"Efek anastesinya akan membuat mu tidur, tapi itu tidak masalah. Aku sudah meresepkan obat penghilang rasa nyerinya juga." jelas Tsunade.
"Luka operasi akan membekas dan akan benar-benar sembuh sekitar 3 bulan. Tapi jangan khawatir karena waktu seminggu juga sudah bisa melakukan aktivitas ringan. Tim medis akan memantau." Sakura juga menjelaskan kekhawatiran yang selalu terjadi pada pasiennya.
"Apakah aku bisa hamil lagi."
"Tentu. Tapi tolong jangan pada kesempatan ini. Sekarang pencegah kehamilan sangat dianjurkan." Matsuri mengerti, karena ia pun sempat berpikir untuk menyerah, apalagi sebelum kedatangan Tsunade.
"Terimakasih Sakura, Aku sudah berjanji akan melakukan apapun asal kau menyelamatkan Matsuri. Kau bisa memintanya sekarang."
Sakura menggeleng. "Aku senang bisa menolong, walaupun hanya setengah. Pasti berat. Tapi kami juga belum mampu melakukan apapun."
"Baik tidak sekarang, Aku tidak akan melupakannya."
"Bagaimana Queen Tsunade." Ucap Hana saat melihat Tsunade keluar kamar, tak lama kemudian Sakura juga keluar dengan raut sedih.
"Kak, Ada apa?" Sasori menggandeng Sakura yang diberi senyuman paksa dan mengacak rambut merahnya.
"Tck menyebalkan." gerutu Sasori, merapihkan kembali pelampiasan Sakura.
"Jika ingin menjenguk istri King Gaara, besok lagi saja, dia sedang tidur." Tsunade berucap lelah.
"Itu artinya Queen Matsuri selamat?" Tanya Temari penasaran.
"Ya." Tsunade tersenyum memeluk tubuh Kato, merasa haru. Baru kali ini. Dimasa seperti ini. Seseorang berhasil selamat dari maut.
Semua tersenyum lega. Masa depan segera dibuka. Haru, senang, bangga semua berkumpul menjadi satu.
"Penelitian tak bisa berhenti disini, karena yang kita harapkan Ibu dan Anak selamat, tak hanya salah satu." Ucap Sakura memecah segala haru setiap orang.
"Ya, kita akan berjuang bersama." Sahut Tsunade penuh janji.
"Apakah bayinya-?" Tanya Hana menyesal.
"Sesuai berita sebelumnya. Tapi mungkin Aku tahu sebabnya setelah menangani beberapa pasien lagi." Tsunade memasang tampang berpikir.
"Kau memang wanita generasi ku yang paling hebat." kekeh Bee bangga.
TBC
