Jangan lupa tinggalkan jejak ya ️
Karena itu merupakan referensi saya, cerita ini cocok dilanjutkan atau tidak
Happy Reading
...oOo...
Setelah dua hari menjemput Jirayya, semua Kage berkumpul di ruang rapat Akademi Miyaboku. Jirayya memberikan gulungan tersebut kepada Sasuke setelah segel berhasil dibuka.
Semua orang memandang penasaran kearah Sasuke. Ruangan begitu karena tak kunjung angkat suara. Sakura menoleh ke arah Jirayya, dan mendapat tatapan tak bisa diartikan.
"Bacakan ini Queen Tsunade." semua orang mengkerut bingung. Kenapa tidak langsung saja.
"I-ini?" Tsunade patuh dan terkejut saat membaca. "Ditulisan ini tercantum bahwa seorang Ibu dan anak yang baru dilahirkan secara normal harus dimandikan dipusat sumber air yang mengaliri sungai Dunia Shinobi. Bayi yang terlahir harus dari pasangan penguasa Dunia Shinobi untuk menyatukan perang dingin antar Shinobi." Tsunade memandang seluruh anggota rapat. "Dibawah tulisan utama tertulis sebuah catatan kecil. Hal apapun yang tertulis diatas boleh tidak dilaksanakan. Itu hanya cara mematahkan kutukan yang ditanam di sumber air para Shinobi. Musuh sesungguhnya masih akan menyerang dibalik Pegunungan dunia Shinobi." Tsunade memberi jeda. "Begitulah isi dari tulisan yang kita saksikan bersama saat segel dibuka." Tutup Tsunade.
Semua tak langsung merespon. Masih tampak memikirkan apapun yang siap ditanyakan atau diungkapkan. Tulisannya terlihat simple hanya tidak terdengar spesifik atau masuk akal. Seperti mengada-ngada.
"Melihat istriku tidak melahirkan normal beberapa bulan lalu dan hampir kepayahan. Apakah itu artinya bukan Aku dan Istriku." ungkap Gaara ragu-ragu.
"Istriku bahkan sudah bunuh diri." Bee ikut berkilah.
"Tapi Istri dan bayi Lord Sasuke juga tidak selamat." Perkataan Kato mengingatkan. "Dan Istriku sudah tidak subur lagi. Jelas bukan Aku. Tapi jika dipikir-pikir, jikapun aku masih bisa produksi anak, Aku bukanlah penguasa sesungguhnya di Iwagakure."
Tsunade melotot tajam pada Kato. "Mau coba-coba selingkuh?"
"Eh ampun, Sayang. Aku kan cuma mengingat aturan tulisan itu, kita tidak boleh gegabah karena ini menyangkut nyawa." Kato meringis mendapat cubitan maut istrinya.
Ruangan kembali hening. Walaupun Kato masih terlihat meringis sakit.
"Maaf menyela, bukankah dari semua alasan hanya tinggal Queen Sakura?" semua menoleh ke arah Naruto, Jenderal Kekaisaran Uchiha. Dan kemudian menoleh ke arah Sakura bergantian.
Sakura memijat pelipis yang mengkerut pening. "Alasan ku adalah belum menikah. Aku benci disini seolah-olah kalian sudah mencoba usaha dan aku belum."
Gaara terkekeh geli. "Jangan diambil hati, Sakura. Kami seolah membuat alasan karena tanpa sengaja sudah terjadi, tidak berniat menghakimi. Dan aku juga ragu jika harus membiarkan mu mencoba. Tapi cepat atau lambat Kau juga harus menikah."
"Jika urusan coba mencoba bukankah Queen Tsunade juga belum tentu tidak bisa hamil." Sakura memberenggut.
"Maaf mengecewakan mu, Yang Mulia, tapi Aku dan Istriku masih aktif melakukannya. Jangan lupa perempuan usia diatas 50 sudah sepantasnya sistem reproduksi berhenti, kasihan jika istriku harus mengerang karena melahirkan, mending dia mengerang karena-- Aww."
"Tutup mulut kotor mu." Pipi Tsunade bersemu merah karena malu dan kesal.
"Tua tua keladi, makin tua makin menjadi." Jirayya bersiul usil.
"Jirayya, tutup mulut mu. Lebih baik kau cari solusi." Tunjuk Tsunade, mengalihkan rasa malu. Sedang yang lain hanya terkekeh melihat pasangan tua rasa anak muda kecuali Sasuke yang memasang wajah datar.
"Hah? Solusi? Lupakan saja." Jirayya menggaruk pelipis yang tidak gatal.
"Apa maksud mu?"
"Percuma mencari solusi tapi saling menuduh untuk melakukannya. Jika yang tertulis disana adalah penguasa berarti diantara lima kage. Daripada saling menuduh siapa yang harus berperan lebih baik semua ikut berperan itu akan adil. Maaf mengacau, ini hanya saran." Jirayya menghentikan pendapat karena merasa menghakimi 5 kage sekaligus dan itu tidak baik untuk dirinya dan jungjunannya.
"Apa Kami menyinggungmu?" Tanya Sasuke datar.
Sakura menoleh khawatir kepada Jirayya. "Tidak. Tidak ada My Lord." Jirayya menjeda. "Hanya saja jika My Queen harus mencoba melakukan pembuktian dengan cara menikah secepatnya. Aku merasa semua Kage juga harus melakukan. Anda--" Jirayya menoleh ke arah Sasuke. "My Lord dan King Bee, masih punya istri lain. King Gaara dan Ratu Matsuri juga masih muda, atau menarik selir juga masih bisa karena anda Raja sebenernya. Untuk King Kato memang tak berpengaruh sekalipun mengambil selir, tapi putra sulung Queen Tsunade satu bulan lagi telah memasuki masa dewasa, sudah bisa membuat anak dan cukup pantas dijadikan Raja sejak dini, sama-sama mengejar waktu. Jika demikian tak ada yang dirugikan."
"Ahem, maaf. Aku salah, aku tak bermaksud memaksa Queen Sakura." Gaara memandang bersalah ke arah Sakura.
"Aku bahkan tidak sampai berpikir sejauh Tuan Jirayya." Sakura tersenyum canggung.
"Yahhh. Maafkan saya juga Queen karena ikut memprovokasi." Kato tersenyum tidak enak. Yang diangguki Sakura.
"Jadi kita berhenti membicarakan cara mematahkan yang katanya adalah kutukan perairan dunia Shinobi?" Tanya Bee memastikan, menatap remeh ke arah Sasuke. "My Lord?"
"Tidak." Tatapan Sasuke mengarah tajam. "Artikan maksud tulisan itu. Dan berhenti saling menuduh."
"Saya rasa tulisan itu telah cukup jelas, dan saling menuduh hanya akan terjadi kesenjangan, mengikuti saran Jirayya juga terlalu tergesa-gesa. Sesuatu yang dilakukan secara tidak matang dikhawatirkan menimbulkan konflik yang tidak diinginkan dikemudian hari." Tsunade tak akan menyerah agar kutukan itu dipatahkan, bahkan jika harus terus mendesak Kekaisaran.
"Ya. Sayang sekali jika dilewatkan ketika kita mendapatkan petunjuk. Aku akan rela mengambil selir jika diperlukan. Mungkin Ratu ku akan mengerti." Gaara meragu.
"Tolong bicara, hanya memberikan solusi, tidak mengeluh." Sakura sebal. Rapat ini hanya terus berputar-putar.
"Seperti yang telah Queen Tsunade katakan jangan tergesa-gesa, begitupun dengan pendapat. Perhatikan baik-baik kata '-harus dari pasangan penguasa-', ini memang mengarah pada lima Kage. Tapi 'pasangan' menjurus ke arah pernikahan 2 negara." Penjelasan Kakashi membuat semua terkejut. Karena tidak berpikir ke arah sana.
"Saya juga sempat berpikir begitu. Tapi ini terlalu ekstrem untuk diung-."
"Shikamaru!" Peringat Sakura untuk menghentikan apapun yang akan Shikamaru lontarkan.
"Lanjutkan!" Perintah Sasuke lebih tegas dan menuntut.
Sakura menoleh cepat pada Sasuke. "My Lord, abaikan saj-."
"Lanjutkan! Ini perintah!" menatap Sakura tajam. Tak Sasuke pedulikan apapun yang ingin Sakura lindungi.
Dengan ragu-ragu Shikamaru melanjutkan. "Saya rasa, maksud Tuan Kakashi memang sudah jelas karena tak mungkin maksud tulisan itu adalah lima Kage dengan pasangan masing-masing. Karena yang tertulis bukan penguasa dengan pasangan tapi pasangan penguasa. Itu se-seper-"
"Seperti pernikahan antar kage, benar kan, Tuan Shikamaru? Apa yang membuatmu ragu untuk melanjutkan." Seringai Kakashi yang memotong keraguan dalam nada terakhir Shikamaru.
Sekali lagi semua orang dibuat terkejut. "Seperti yang diharapkan, seorang Klan Nara selalu memiliki pemikiran yang realistis." provokasi Kakashi misterius.
"Bukan begitu." Bantah Shikamaru tegas.
"Lalu apa, apa kalian tidak menghormati kami para Kage yang menunggu penjelasan kalian?" hardik Bee Tsunade tak sabar. Kakashi diam mencari celah. Shikamaru terdiam ragu.
"Jika 2 Kage menikah, berarti mempelai wanita jelas Queen Sakura tidak mungkin nenek peot seperti-" Lemparan gelas kosong sontak menghentikan segala ucapan asal Naruto. "Ehhhh, itu berbahaya tahu." Tunjuk Naruto pada Tsunade selaku pelempar gelas.
"Tutup mulut mu, atau ku buat robek dengan pisau bedah." Ancaman Tsunade membuat Naruto bungkam dengan menumpukan kedua tangan dimulut. Dan ruangan kembali hening menunggu penjelasan.
"Jelaskan!" Sasuke kembali memberi perintah saat tak kunjung ada suara.
"Baik. Saya mengerti jika Tuan Shikamaru tidak mau menjelaskan. Sebenarnya mungkin Anda semua juga sudah mengerti garis besarnya, itu mengapa anda semua terdiam untuk menghindari provokasi lagi yang mengarah pada Queen Sakura." Sakura mendongak ke arah Kakashi tak terima, tapi Sasuke yang melihat Sakura akan bersuara memberi tatapan tajam seolah mengatakan jangan berani menyela.
"Diantara Lima Kage hanya Queen Sakura kage yang bisa menjadi mempelai wanita, karena walaupun Tuan Naruto berkata asal, memang benar Queen Tsunade sudah tidak pada masa reproduksi, apalagi jika harus menikah lagi. Aib bagi wanita yang memiliki lebih dari satu suami." Tsunade memandang Sakura menyesal. Biar bagaimana pun disini satu-satunya kandidat perempuan adalah Sakura.
"Lalu mempelai prianya?" Tanya Jirayya menoleh ke arah Shikamaru yang memejamkan mata erat. Seolah menunggu vonis hukuman mematikan.
"Tentu itu harus didiskusikan, ada 3 kandidat yang bisa dijadikan Suami." Kakashi menoleh ke arah Jirayya yakin.
"Ini hanya prediksi kan, lebih baik mengikuti usul Tuan Jirayya sebelumnya." bantah Sakura, menolak segala kemungkinan yang akan merugikan dirinya.
"Tapi mematahkan kutukan memang tidak bisa sembarangan, itu yang saya tahu. Mengapa kita tidak bisa mendengarkan penjelasan hingga tuntas. Menjadikan saran Tuan Jirayya sebelumnya sebaga plan A. Dan lanjutan pemilihan kandidat pasangan pengantin sebagai plan B." Saran Temari tegas, ia yakin tak hanya dirinya yang bingung dan gelisah tapi anggota lain juga.
"Ahem. Mungkin jika arti tulisan adalah yang dimaksud Tuan Shikamaru dan Tuan Kakashi benar, maka Kami beruntung bekerja sama dengan Anda, Queen Sakura, karena masih lajang dan belum menikah." Sakura menatap tajam ke arah Bee. 'dasar kakek jelalata.' inner Sakura.
"Oh, bukan berarti aku tak tahu rasa terima kasih atas ide cemerlang Anda yang berhasil menyelamatkan warga saya." Bee Panik, mengangkat tangan menyerah.
"Tapi ini nyata, maaf aku senang diatas penderitaan mu. Tapi tolong jangan menjadikan ini beban atau bahkan penderitaan. Aku tahu, Aku sudah tua, maka dari itu masih ada King Gaara dan Lord Sasuke yang masih muda. Yahhh, memang sama-sama tidak setimpal jika menjunjung harga diri, Aku punya banyak istri, jadi bukan yang pertama. Begitupun dengan Lord dan King Gaara."
"PENGHINAAN MACAM APA INI? SHANNAROO."
BRUKKK
Seketika meja ruang rapat terbelah berkeping-keping, semua berdiri untuk menghindari serpihan yang mungkin bisa melukai mereka.
"KALIAN PIKIR, KALIAN SIAPA BEBAS MENENTUKAN SIAPA YANG AKAN MENJADI PENDAMPINGKU?" habis sudah kesabaran Sakura.
"Sakura, Kita bisa-"
"Diam Kau." Sentak Sakura pada Gaara.
Tubuh Sakura membeku, terasa mati lumpuh, tak bisa digerakkan. Sakura menoleh ke samping matanya membulat menemukan netra yang semula hitam sekelam malam berubah menjadi merah darah sedang menatapnya datar. 'Sharinggan'
Melihat itu Jirayya dan Shikamaru tak bisa tinggal diam, dan siap menarik senjata untuk menyerang Sasuke. Begitupun dengan Naruto dan Kakashi yang siap melindungi Sasuke.
"Tenang, atau dua tangan kanan mu juga ikut menerima akibatnya." ucap Sasuke dingin. Tatapan menusuk itu seolah memintanya untuk mati. Tak ada lagi tatapan lembut meneduhkan dari netra yang berubah merah.
"Lepaskan mereka." Sakura menurunkan emosinya. Pun dengan mata Sasuke yang kembali hitam setajam elang.
"Duduk dan cepat selesaikan!" titah Sasuke mengintimidasi tanpa repot-repot mengganti meja.
"Apa alasan lain mengapa pernikahan antar Kage diperlukan?" Sasuke kembali bersuara disaat yang lain hening, karena kesenjangan yang terjadi beberapa saat lalu.
Kakashi menoleh le arah Shikamaru. "Dalam tulisan dikatakan 'untuk menyatukan perang dingin'. Sejauh ini perang dingin antar negara memang kerap terjadi. Itulah sebabnya saya hanya berani mengungkapkan pernikahan 2 kage tapi sejujurnya-"
"Yang benar-benar melakukan perang dingin hanya Kerajaan Haruno dan Kekaisaran Uchiha, begitu maksud mu?" Jirayya menghela nafas berat.
"Satu syarat itu tidak menjadi alasan." Lanjutnya.
"Sesungguhnya Anda mengerti begitupun dengan Tuan Shikamaru. Anda hanya sedang menutup mata Anda." Sanggah Kakashi.
"Ada tiga syarat untuk mematahkan kutukan dari yang tertulis. Pertama memandikan Ibu dan Bayi dipusat mata air, yang sudah kita ketahui ada di pegunungan Miyaboku, itupun menuntut dua syarat lainnya jika terpenuhi. Kedua, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya arti pasangan penguasa adalah antar Kage dan penguasa dari Lima Kage adalah Kaisar. Anda memaksa saya untuk mengatakan secara tidak langsung disini, Lord lah yang berkewajiban menanggung beban." Kakashi menarik nafas keras. Sasuke. Jangan tanyakan sesungguhnya ia pun mengerti sejak tadi, hanya jika ia yang mengungkapkan jalannya rapat tidak akan jelas mengarah kemana.
"Dan yang ketiga menyatukan perang dingin, seperti yang kita tahu, selain masalah kutukan ini, Queen Sakura tidak pernah menangani rapat apapun. Menghindari kontak langsung dengan Kekaisaran, hanya mengirimkan Perdana Menteri Jirayya untuk datang." Kakashi menekan kata Perdana Menteri. "Dan dari syarat kedua dan ketiga bisa disimpulkan bahwa bayi yang harus dilahirkan adalah dari pasangan My Lord sebagai penguasa tertinggi dan Queen Sakura yang memang terlepas dari tiga syarat, beliau lah kandidat perempuan satu-satunya. Bukan begitu Tuan Nara? Oh Apakah Queen Sakura juga sudah mengerti sejak awal?" Sindir Kakashi.
"Tidak." bantah Sakura. Menggeleng ke arah Shikamaru yang seperti sudah benar menafsirkan.
"Maaf, Yang Mulia." bisik Shikamaru lirih, raut penyesalan Shikamaru membuat segala dunia Sakura hancur. Dan semua orang mengerti jika apa yang sudah ditafsirkan Kakashi memang benar.
"A-aku bisa memberikan gelar kage pad-."
"Tolong mengertilah, Sakura." Tsunade mendekati Sakura yang seolah kehilangan arah. Menawarkan tatapan antara guru dan murid. Meneduhkan.
"Tidak, maaf." Sakura berucap lirih, namun mampu didengar semua orang.
"Disaat kita susah berjuang sejauh ini, hm? Hanya tinggal satu langkah lagi."
"Jalankan menurut penafsiran Jirayya saja."
"My Lord." Sentak semua orang panik dengan keputusan tak berdasar Sasuke. Sakura memandang Sasuke tak mengerti. Entah mengapa perasaannya juga sakit karena tertolak.
"Tolong menger-"
"Dan basmi semua penduduk, Kirigakure!" tekan Sasuke datar.
Wajah Sakura merah karena marah. "Atas dasar apa Anda melakukan itu?" Jirayya dan Shikamaru disampingnya sudah siaga berdiri menekan pedangnya.
"Aku bisa menaklukkan negara mana pun tanpa alasan." susah payah Sakura menelan ludah. Kondisi negaranya saat ini tidak siaga untuk perang. Biaya militer berkurang untuk menunjang kasus kutukan ini.
"Begitukan cara Anda berterima kasih." Cela Sakura. Sebagai pemimpin menunjukkan sikap takut adalah kesalahan.
"Ya. Sangat membantu. Tapi cukup sampai disini saja. Itu berguna untuk mengurangi beban prasarana." Sakura menarik nafas berat. Memasang sikap waspada, walaupun Kage lain mungkin lebih memilih diam jika tidak ingin mengikuti titah Kaisar, membantu memilih melawan Kaisar tentu bukan pilihan terbaik di masa krisis ini. Penduduknya sedang dipertaruhkan.
"Maaf menyela My Lord, mungkin Queen Sakura hanya ingin memilih siapa yang menjadi suaminya, masih ada King Bee dan Saya. Ya, Sa-Saya bisa me-"
"Katakan sekarang Sakura, siapa yang ingin kamu pilih?" Selaan Gaara dipotong cepat oleh Tsunade, tatapan tajam Sasuke mengikutinya setelah menatap Gaara mengintimidasi. Bisa dilihat ucapan Gaara menyundut api kemarahan Sasuke.
"Aku hanya akan menikah dengan tunangan ku."
Secepat ucapan Sakura, maka secepat itu pula Killer Bee menerjang Shikamaru yang memang paling dekat dengan dirinya. Membekuknya, sehingga gerakannya terkunci. Dengan cepat Karui, menghunuskan kunai tepat di leher Jirayya.
Sakura yang terkaget, dengan cepat berdiri panik memandang dua ajudannya terancam. "Apa yang kalian lakukan? Kalian juga akan memusuhi ku?"
"Apa kami harus membereskan dulu tunangan Anda, Queen? Jika itu tidak memberi Anda pilihan dan bisa mencegah perang maka kita siap menjadi pendosa di ruangan ini." Shikamaru tidak melawan, ini adalah keputusan sulit untuk berbagai pihak.
"Bukankah, kata Kakashi sudah jelas, sejauh manapun kalian berusaha melindungi Queen Sakura. Kandidat tertinggi prianya adalah Lord." Naruto memasang raut serius, tingkah petakilanya seolah lenyap.
"Tapi arti penguasa, bisa saja lima Kage." Bee tidak menyerah.
"Aku tak mengerti mengapa kalian harus repot-repot melindungi seseorang yang tidak membuka pikirannya. Aku siap jika memang harus menaklukkan negara yang tersisa." Tawar Naruto percaya diri. Semua orang tahu, sepak terjang Naruto dalam berperang apalagi setelah topeng humornya hilang.
"Naruto, jika memang tafsiran Kakashi benar, kita tetap membutuhkan Queen Sakura." Neji ajudan Tsunade mencoba negosiasi.
"Bukan perkara sulit, untuk memaksa Queen Sakura setelah Kirigakure binasa." Jawab Kakashi enteng, memandang Naruto yang kapan saja bisa goyah dihadapan keluarga Kakak iparnya. "Oh jangan lupa dengan lambang Uchiha yang muncul sebelum segel terbuka."
Semua orang tercekat. Penuturan pihak Kekaisaran memang terdengar mengentengkan sekaligus menakutkan secara bersamaan. Tidak memakai perasaan, bahkan hanya untuk rasa terimakasih.
"My Lord." Shikamaru memandang Sasuke dalam. "Berikan kami waktu." semua menoleh ke arah Shikamaru, ruangan tanpak sunyi. "mungkin-."
"Waktu untuk? Melarikan diri?" Sindir Naruto tajam. "Simple saja, jika menolak secara baik-baik, maka perang. Jangan memandang kami seperti kami Iblis, kami lakukan ini untuk keberlangsungan dunia Shinobi." Bela Naruto mendapatkan tatapan takut namun menghujat. "Yah kemana pun melarikan dirinya pasti tertangkap." Naruto mengangkat bahu acuh.
"Demi dunia Shinobi kata mu? Bagian mana jika perang antar Shinobi untuk kebaikan Dunia Shinobi. Ya benar kalian memang Iblis." sentak Sakura memandang Naruto sengit.
"Kau ingin melanjutkan, Nara?" Shikamaru yang kesal karena ucapannya dipotong Naruto, kembali mengangguk yakin saat tanpa diduga Sasuke justru menawarkan. "Lanjutkan!"
"Ya, sebisa mungkin tolong hindari perang. Kami meminta tenggang waktu. Kami akan melakukan diskusi internal di Kirigakure. Biar bagaimana rujukan yang mengarah pada My Queen pasti mengejutkan. Bantahan seperti tadi anggaplah spontan karena panik." Shikamaru berusaha menarik kepercayaan Sasuke.
"Lalu?"
"La-lalu. My Lord, seperti yang Anda tahu, selain Tuan Kakashi yang mengetahui pasti isi penafsiran itu adalah saya. Jika Saya masih menutup hati untuk fakta itu berarti Saya tidak mementingkan dunia Shinobi. Hanya tolong berikan Kami waktu."
"Tiga hari." Final Sasuke.
"A-apa?" Sasuke memandang Sakura yang juga sedang menatapnya. Nampak jelas kegelisahan menyelimuti tubuh ramping berbalut kain sutra tebal.
"Terimakasih, My Lord. Kami akan menyampaikan keputusan kami di hari ketiga." Bee melepaskan Shikamaru begitupun dengan Karui. Semua orang kecuali Sakura dan Sasuke merasa lega, setidaknya tindakan perang sedikit goyah.
"Bilang saja, kalian akan membunuh ku dengan melahirkan anak itu, dan mencari aman atas keluarga kalian." Sentak Sakura, mengarah pergi keluar ruangan, tapi belum sempat Sakura mencapai pintu.
"Aku akan membuat Istriku hamil lagi, setelah memastikan Kau juga mengandung sesuai dengan sarat. Sehingga kita sama-sama dilanda ketakutan yang sama." Ucap Gaara meyakinkan.
"Terserah." Dan tanpa basa basi lagi Sakura pergi.
TBC
