Yang masih menunggu angkat tangan
.
.
HAPPY READING
.
.
.
Tiga hari berlalu, paska rapat terakhir Sakura, Jirayya dan Shikamaru kembali Kirigakure. Dan selama itu pula Sakura selalu malas-malasan didalam kamar. Melarang siapapun yang berniat berkunjung menemuinya.
Sakura marah besar atas keputusan Shikamaru yang rela memutuskan tali pertunangan demi tidak terjadinya perang. Perang atas titah makhluk terkutuk itu. Lagi.
Demi apapun, Shikamaru mengaku tidak akan melepaskannya jika Sakura tidak mau, asalkan tidak terjadi perang, tak juga peduli tak memiliki keturunan daripada harus ditinggalkan mati demi anaknya. Sangat manis. Tapi sekarang telah kandas. Hubungannya sekarang hanya seorang suruhan dan majikan. Melayani dan dilayani. Membujuknya agar bersedia memiliki anak dengan dia. Yang bahkan jika dia adalah makhluk terpampan dimuka bumi pun, lebih baik menikah dengan seorang budak. Tidak, lupakan itu.
Tak hanya Shikamaru yang memohon. Selepas Jirayya menjelaskan kepada aparatur Kerajaan, semua lebih baik mengirimnya ke Kekaisaran dari pada mengorbankan seluruh penduduk Kirigakure. Dalam hati sesungguhnya Sakura pun bertekad untuk keberlangsungan negaranya adalah utama. Tapi mengapa harus menikah.
Dari sekian orang yang terus memojokannya. Hanya Sasori yang membantah. Sakura mengerti kebencian yang dirasakan adiknya, tidak berbeda jauh dengan dirinya. Pengkhianatan, Kematian kedua orang tuanya masih sangat nyata. Pemutusan pertunangan yang sempat terjalin dulu masih sangat membekas. Ia dan Sasori masih menyimpan luka yang belum pernah terobati. Tapi apa daya Sasori hanya anak usia 13 tahun, tubuh tinggi nan gagah masih di nilai bau kencur, meskipun sering ikut menghadiri kenegaraan, pendapatnya masih dibilang labil. Dan Sakura tak lagi bisa mencari kawan. Kendati demikian, sejujurnya Sakura yakin mereka masih peduli, terbukti dengan setiap saat orang-orang terdekatnya tak kenal lelah ingin selalu berkunjung menemuinya, tapi ia tolak mentah-mentah.
Dan hari ini adalah penentuan, setelah rapat internal, Jirayya menulis dalam gulungan tentang penerimaan titah Kaisar yang harus mendapat stempel darinya. Dengan amat berat hati dan terpaksa Sakura menyetujui, tak kuasa melihat para abdi yang telah setia menemani masa jabatannya memasang wajah penuh permohonan. Tatapan terakhir Sakura berikan untuk Shikamaru sebagai tanda perpisahan. Dan Shikamaru pula yang akan menyerahkan gulungan tersebut hari ini.
Itu mengapa diluar kamar Sakura sangat ribut memintanya untuk membuka pintu. Tak peduli dengan penampilan Sakura beringsut untuk membuka kunci kamar.
"Oh, Ya Tuhan, Yang Mulia. Balikan wajah kalian." Teriak Ino, memerintah para lelaki yang berada diluar untuk tidak melihat penampilan Sakura yang hanya mengenakan gaun tidur tipis. Dengan tergesa, Ino masuk mencari Jubah tebal apapun yang bisa menutupi seluruh tubuh Sakura. Tak masalah dengan rambut yang digerai. Dan Sakura pun tidak peduli lagi dengan semua itu.
"Pakai ini, Yang Mulia dan duduk saja. Saya akan memanggilkan mereka." Setelah setengah diseret Ino untuk duduk, Sakura hanya mengikuti. Dan Ino bergegas keluar. Dan muncullah. Shikamaru, Jirayya, Sasori dan Sai.
"Selamat pagi, Yang Mulia." Bungkuk mereka kompak.
"Katakanlah!" Ujar Sakura malas.
"Hari ini adalah keputusannya, Yang Mulia." Jirayya berucap sendu. Walau bagaimana pun, Sakura ada dalam bimbingannya sejak kecil. Meski Kerajaan memiliki seorang Putra, tapi raja terdahulu tidak membedakan bimbingan kecuali latihan fisik yang tidak sekeras Sasori saat ini. Itu sebabnya, setelah Raja terdahulu wafat Sasori tidak langsung naik tahta karena masih kecil, dan mengangkat Sakura yang juga punya kemampuan memimpin.
"Bukannya tidak ada lagi yang perlu diperbincangkan atau mendapatkan cap dengan ku lagi." Sakura berkata sarkasme, sangat bukan Sakura.
"Kami hanya menginformasikan." Shikamaru mencoba mengerti dengan perasaan Sakura. Karena ia pun telah memiliki rasa yang sama setelah menetapkan hati pada sang Ratu.
"Ya ya, pergilah." Sakura mengibaskan tangan seolah mengusir mereka.
"Saran saya, mungkin Anda juga perlu ikut, Yang Mulia." Sai tertunduk hormat.
"Tidak akan. Pergilah."
"Kalau begitu Kami permisi, Yang Mulia." Semua pergi, tapi tidak Sasori yang menghampiri Kakaknya.
Memeluk erat tubuh rapuh Sakura. "Jangan menangis, Aku yakin Kakak kuat. Kakak janji, akan hidup baik-baik saja kan setelah nanti dijemput Kekaisaran." Sasori menatap sendu kakak kesayangannya.
"Biarkan aku begini dulu, pergilah Sasori-kun. Aku janji akan baik-baik saja." Sakura berusaha tegar, untuk adiknya.
"Selamat istirahat." Sasori mengecup singkat kening Sakura.
.
.
.
.
Matahari tepat diatas kepala, Shikamaru tiba di Kekaisaran Uchiha. Dengan ragu, mulai melangkah masuk setelah serangkaian keamanan di gerbang, tanpa diduga dihalalaman Kastil telah disambut oleh Naruto.
"Kau datang sendiri?" Naruto memastikan.
Shikamaru mengangguk ragu. "Ya."
"Pastikan Kau membawa berita bagus, walaupun Queen Sakura tidak ikut." oceh Naruto selama perjalanan hingga tepat masuk di ruang kerja Kaisar.
"Katakanlah!" titah Sasuke, saat Shikamaru selesai dengan salam hormatnya. Dia tak butuh itu.
"Ini adalah keputusan My Queen, My Lord." Shikamaru menyerahkan sebuah gulungan. Kakashi mengambil dan membukanya kemudian diserahkan pada Sasuke.
Alis Sasuke terangkat satu. "Kau yakin ini keputusan Sakura dengan sukarela?" Tanya Sasuke menyorot kejujuran Shikamaru.
"Kami tidak punya pilihan, dan itu juga cara menyelamatkan dunia Shinobi tanpa perang." dengan berat Shikamaru menjelaskan.
"Pertunanganmu?"
Shikamaru menekan ludah susah payah. "Kami memutuskannya sesaat sebelum cap Queen dibubuhkan."
"Aku tak bisa menjamin." Sasuke memandang Shikamaru remeh.
"Aku tidak tahu cara membuktikannya, My Lord."
"Mati atau menikah." Shikamaru terkejut, benar-benar iblis.
"My Lord, Akan perlu waktu lagi jika harus mencari pasangan menikah." Shikamaru berharap ia bisa mendapatkan kesempatan sekali lagi.
"Jadi pilihanmu menikah. Ku pikir Kau sangat mencintai Sakura bahkan rela mati." Sasuke masih menatap tajam Shikamaru yang menunduk. "Satu bulan, atau aku yang menentukan."
"Apakah itu artinya, Anda mempersunting My Queen satu bulan lagi." Shikamaru bertanya ragu.
"Tidak." Sasuke menyeringai. "Dua hari lagi bawa dia kemari."
"My Lord, Queen Sakura mempunyai permintaan tidak tertulis." info Shikamaru.
"Beliau ingin Anda sendiri yang menjemputnya untuk membicarakan Pra-nikah. Sesungguhnya beliau ingin Anda mengabulkan untuk mengadakan pernikahan disana."
"Permintaan ditolak. Aku akan mengirim Kakashi untuk menjemputnya." Shikamaru hanya menghela napas pasrah. "Ada lagi?"
Shikamaru menggeleng. "Selebihnya, beliau sendiri yang akan mengatakan."
"Kau boleh pergi."
"Baik, My Lord." Shikamaru mengangguk patuh.
.
.
.
.
.
Tok tok tok
"Yang Mulia, tolong Anda buka pintunya." Ino berulang kali mengetuk dan memanggil Sakura. Tergesa-gesa.
"My Queen, tolong, tolong jangan seperti ini." Nadanya sangat khawatir.
Sakura masih seperti ini, mengurung diri di kamar. Tertidur. Tak memperdulikan lagi keadaan sekitar, seakan memprotes tak kasat mata. Menulikan apapun yang coba mereka sampaikan.
Dilorong kamar, terlihat rombongan tak kalah tergesa-gesa, Ino melotot takut, Kakashi sampai harus menyusulnya, mungkin terlalu lama menunggu. Dibelakangnya ada Sasori dan Jirayya.
"Kenapa lama sekali?" begitu menapati Ino dan beberapa Maid berdiri didepan kamar yang diyakini kamar Sakura.
"Yang Mulia, sudah seperti ini sejak pulang dari Akademi Miyaboku, Tuan."
"Apa ini bentuk protes penolakan karena bukan Kaisar yang datang?" kecam Kakashi.
"Tolong, Anda bersabar. Paduka, memang sudah seperti ini, mungkin beliau sedang tertidur." Jirayya mencoba menenangkan Kakashi.
"Dia tahu hari ini?"
"Maaf, Kami tidak yakin, kami selalu memberi tahu tapi saya tidak tahu didalam My Queen sedang apa?"
"Minggir!" Sasori maju ke arah pintu."
Tok tok tok tok
"Kakak, ini Aku. Tolong, buka pintunya. Maid bilang, Kau meninggalkan lagi sarapan. Besok Aku tak ingin pergi ke Akademi lagi sebelum memastikan Kau makan. Tolong, jangan seperti ini, Kak. Kau berjanji padaku kan?" bujuk Sasori parau.
Ceklek
"Berisik. Ada apa?" Bentak Sakura murka.
"Berbalik semua!" Pemandangan yang sama setiap Sakura membuka pintu. Busana tipis, muka kusam dan rambut kusut. "Ayo masuk dulu Yang Mulia. Anda harus bebenah." selalu Ino dengan telaten mengurus keperluan Sakura. Meskipun hanya dengan penampilan sederhana.
"Cepat! Kalian sangat mengganggu." bentakan Sakura menghentikan gerakan Ino yang hendak memanggil para pria masuk. Ino yakin tanpa dipanggil pun mereka mendengar jika ucapan ini ditujukan untuk mereka.
Benar saja ketika Ino menoleh ke arah pintu, gerombolan Kakashi masuk memberikan salam. Dengan serta merta Ino mempersilahkan duduk di sofa, karena walau bagaimanapun Kakashi adalah tamu.
"Ada urusan apa? Untuk apa seorang Kakashi datang kemari?" wajah angkuh Sakura, mengkerut bingung, benar dugaan semua orang, Sakura melupakan hari ini.
"Apakah Tuan Nara Shikamaru tidak menyampaikan maksud kedatangan saya, Yang Mulia?" Kakashi hanya ingin memastikan, Sakura atau Shikamaru yang salah disini.
"Ah." Sakura mencoba menggali ingatannya. "Cks. Aku hanya ingat hari kedua, semua orang sangat berisik." Jawab Sakura tak berminat. "Dan Kau, membuatku muak karena datang lebih awal." tekan Sakura.
Belum sempat Kakashi membalas Sakura dengan tatapan bingung. Suara panik dan nyaring telah mendahului. "Ya ampun, Yang Mulia, Anda terlalu lama mengurung diri." Sakura memandang Ino datar.
"Ahem. Begini Yang Mulia." Semua menoleh pada Jirayya sekilas. "Sebelumnya, semoga Anda tetap sehat diluar pengawasan kami, hanya hingga kali ini saja kami membiarkan Anda mengkonsumsi suplemen." Sakura mendengus. Siapa peduli, memang benar kan mereka tak akan bisa mengawasinya lagi.
"Tuan Kakashi datang sesuai yang dijanjikan, cuaca sudah sangat terik dan beliau sudah menunggu sekitar satu jam. Ino bukalah gordeng kamarnya." Ino mengangguk patuh. "Hari ini sudah tepat 2 hari setelah keberangkatan Shikamaru." Sebagai yang dituakan Jirayya menjelaskan dengan apik.
"Oh" pandangan Sakura menjadi kosong seketika.
"Bersiaplah, keperluan Anda sudah disiapkan, mungkin Anda ingin membawa barang lain?"
Sakura menggeleng. "Pergilah!"
"Tolong setidaknya, biarkan Kakak ku makan siang dulu sebelum menempuh perjalanan jauh." Sesungguhnya Sasori tidak siap jika harus berpisah jauh dari Sakura. Keluarga satu-satunya.
"Silahkan, Saya ingatkan kita harus sampai sebelum gelap." Kakashi mencoba mengerti, namun dia tidak akan segan jika ini upaya mengulur waktu.
.
.
.
.
.
.
Sakura akui kereta kuda milik Kekaisaran sangat luar biasa. Bukan hanya design, tapi kecepatannya. Bisa Sakura pastikan jika memakai kereta kuda pada umumnya mereka akan sampai seharian. Sakura menghela nafas berat bahkan ini hanya setengah hari, mereka sudah memasuki Desa Konoha, belum terlalu gelap sehingga ia bisa melihat ke luar jendela.
Sebenarnya dalam kereta, berisi 2 orang. Tapi karena terlalu berisik, menanyakan keadaannya, menawarkan ini dan itu, atau hanya berusaha mengobrol, Sakura jengkel dan mengusir keluar orang yang diyakini Maid untuk melayaninya. Sakura tahu maksudnya baik, tapi dalam emosinya saat ini, semua terdengar tidak baik. Sakura bisa mencemooh saat melihat ekspresi bingung Kakashi saat menjemput Maid tersebut, dan menawarkan Maid lain, namun ditolak dengan alasan ingin istirahat.
Tak terasa kereta kuda berhenti saat tidak terasa Sakura hanyut dalam lamunan. "My Queen, kita telah sampai, bergegaslah." Kakashi mengetuk jendela kereta kuda.
Kakashi membantu Sakura turun, penampilan Sakura sangat sederhana, telah hampir seminggu ia tidak melakukan perawatan diri dan kali ini pun hanya memberi alasan malas toh ia akan sampai malam hari, tak akan ada yang memperhatikan.
Tapi dugaan Sakura salah, semua Maid dan pengawal sudah disiapkan untuk Sakura. Kini mereka telah menyambutnya sesaat setelah Kakashi memandunya turun.
Jangan lupakan, sang Kaisar dan kedua selirnya disamping kanan kiri. Tidak menyambut langsung mereka berdiri diatas lantai 3 yang menghadap pintu masuk Kekaisaran.
Sakura memandang kedalaman mata Sasuke lama, walaupun dari jarak yang sangat jauh dia tahu, Sasuke sedang memasang wajah datar. Hal yang paling Sakura benci dari Sasuke.
"Mari, Saya antar ke kamar sementara Anda, sebelum nanti menempati salah satu Kastil bunga, tempat dimana para Istri Kaisar tinggal." Sakura hanya mendengus. Suara Kakashi mengganggu lamunan singkatnya.
"Anda bisa istirahat disini. Sekarang tidak ada jadwal pertemuan dengan Kaisar, tapi besok pagi Anda akan sarapan dengan beliau sekaligus membahas rencana pernikahan." Sakura langsung melenggang masuk kamar. Kakashi sebenarnya jengkel karena tidak mendapatkan respon berarti dari Sakura, pun sekalinya ada respon tak ramah ia dapatkan. Calon istri Kaisar dengan gelar Queen memang merepotkan.
.
.
.
.
TBC
