HAPPY READING

"Yang Mulia, ayo bangun. Paduka, ayolah. Sudah hampir satu jam kami membangunkan Anda, tapi belum bangun bangun." keluh kepala Maid.

"nngh~" Sakura memunggungi tak peduli.

"Oh ya ampun. Yang Mulia, Kaisar tidak suka bila harus menunggu lama. Tolong bangunlah, jangan membuatnya marah dan datang kemari." Sakura tak memperdulikan racauan Maid itu.

"Baiklah, Saya yang akan menemui Kaisar dan bilang Yang Mulia merajuk karena bukan beliau yang menjemput." Sakura sontak melotot.

"Kurang ajar!" Hardik Sakura kasar.

"Ah, akhirnya bangun juga, kenapa tadi tidak aku pikirkan cara ini ya." gerutunya.

"Siapa kamu?" Tanya Sakura malas. Sejujurnya Sakura berharap ini mimpi. Dan masih belum terbangun.

"Saya Kurenai, Yang Mulia. Kepala Maid yang akan melayani Anda." Kurenai memperkenalkan diri dengan senyum halus. Sakura menilai Kurenai sebagai pribadi yang tegas. Ah mungkin hanya pikirannya saja.

"Nah Ayo mandi dan bersiap-siap." tanpa bisa mengelak lagi Sakura mengikuti.

.

.

.

.

.

"Lain kali, kebiasaan buruk ini harus dihilangkan, Yang Mulia." Peringat Kakashi saat mengantarkan Sakura ke ruang makan Kaisar.

"Kenapa, tak suka?" Tantang Sakura.

"Jangan berpikir Anda merajuk dengan cara tidak masuk akal. Jika Kami para bawahan tidak sanggup mendisiplinkan Anda, maka Kaisar yang akan melakukannya. Sebelum itu terjadi, dan jangan sampai terjadi, ikuti aturannya." Ancam Kakashi.

"Kita lihat nanti, Tuan sok pintar." Sakura tersenyum mencemooh.

"My Lord, Queen Sakura akan memasuki ruangan." Pintu terbuka, setelah informasi yang Kakashi ucapkan lantang.

Sakura memasuki ruang makan, ternyata dia tak sendiri, ada dua yang berstatus selir disana. Dalam hati Sakura bersyukur pada pertemuan pertama setelah rapat itu, ia tidak sendiri.

"Duduklah!" Setelah mengucapkan salam singkat Sakura mengikuti perintah Sasuke. Sakura ingat, saat Kurenai mendandaninya, ia diberi tahu bahwa ketika makan tidak boleh ada yang bersuara. Dan Sakura benci ini, suasana ruangan yang hening hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring, sangat mencekam.

"Bagaimana istirahat mu?" Lima belas menit berlalu dan semua selesai melakukan santap makan. Sasuke menatap Sakura datar, seolah pertanyaan itu diperuntukkan dirinya.

"Tidak terlalu buruk." balas Sakura tak kalah datar.

"langsung saja, ini kedua istriku." sebenarnya Sasuke masih ingin membantah, tapi dia terlalu tahu watak Sakura dan membuat ribut pagi-pagi bukan pilihan terlebih didepan dua selirnya yang sedang menampilkan raut cemburu.

Sakura memperhatikan keduanya. "Ya, salam kenal."

"Tidak sopan, beginikah sikap seorang Queen dari negara lain." Cerca Karin

"Dan Apakah begini watak seorang selir pada tamunya?" balas Sakura tak kalah sinis. Membuat Karin mengepalkan tangan kesal.

"Maksudnya, Kami bingung untuk memulai perkenalan, seharusnya Anda memperkenalkan diri Anda terlebih dahulu, biar bagaimanapun Anda akan menjadi Istri keempat My Lord." Shion mampu mengontrol emosi, tapi bukan berarti akan bersikap ramah.

"Jika Anda mengerti mengapa tidak dilakukan lebih dulu, pasti Saya mengikuti." ucapan yang mampu membuat Shion diam.

"Yang rambut merah adalah Karin selir pertama. Rambut pirang adalah Shion selir kedua. Istri pertama, Kamu sudah tahu, Empress Hana yang telah wafat."

"Maaf, My Lord." Karin dan shion, merasa tak enak hati kepada Kaisar. Tidak sepantasnya hal sekecil ini menjadi tugas Kaisar.

"Dia, Queen Sakura dari Kirigakure, bersikaplah sesuai pangkat, statusnya masih seorang Queen walaupun 3 hari dari sekarang, dia adalah istri keempat ku." Lanjut Sasuke.

"A-apa? Ti-tiga hari? Apa maksudnya?" Awalnya Sakura tidak perduli dengan sikap Sasuke yang tiba-tiba bawel ditengah-tengah istrinya. Tapi jika ia juga harus sah menjadi istrinya dalam waktu singkat ini keterlaluan.

"Ya. Akan ada pesta pernikahan 3 hari lagi. Dan kedua selir ku harus tahu, jika kau yang bertugas melahirkan keturunan ku disaat bencana terjadi."

"Anda belum mendiskusikannya dengan Saya." bantah Sakura.

"Pergilah Kalian!" titah Sasuke tegas memandang Karin dan Shion bergantian.

"Baik, My Lord." Karin dan Shion lekas pergi menuju kediaman masing-masing.

"Gulungan yang dikirim oleh mantan tunangan mu adalah jawaban iya bagiku."

"Aku hanya menyetujui pernikahan, tidak diwaktu yang singkat." Teriak Sakura lepas Kontrol.

"Lebih cepat lebih baik, anak itu sudah harus tumbuh sebelum korban berjatuhan."

"Brengsek, tak bisakah kau sadar diri, jika Kau tak pantas bersanding dengan ku?"

Sasuke terkekeh. "Tak bisakah Kau lebih mendinginkan kepala. Jika seperti ini tak akan ada permintaan pra-nikah seperti yang ajudanmu katakan?"

Sakura memalingkan muka kasar, susah payah mencoba meredam emosi. "Tolong undur kembali waktunya."

"Pergilah. Aku tidak akan negosiasi tentang waktu." Sasuke bersidekap santai.

Sakura terdiam tak berniat untuk mundur. Mengesampingkan permasalahan awal. Sakura mendongak ke arah Sasuke. Berpikir darimana dia harus memulai.

Sasuke tak mengganggu, memberikan waktu berpikir untuk bahan negosiasi. Dia hanya memandangnya dingin. Dulu tatapan seperti ini tak pernah ia layangkan, Sakura akan protes jika ia berkata tanpa ekspresi. Ah dulu, sebelum pertunangan diputuskan secara sepihak karena sebuah insiden.

"Bagaimana jika kita lakukan pernikahan kontrak saja?" Mulai Sakura, membangunkan Sasuke dari lamunan, tak kentara memang.

"Ada lagi?"

"Aku ingin menyelesaikan satu-satu." ujar Sakura frustrasi.

"Aku menolak."

"Kenapa? Begitu inginkah Kau menyiksaku?"

"Apa Kau pernah mendengar jika Aku menggunakan kekerasan pada Istriku?"

"My Lord, Anda tahu pasti maksudnya?" sentak Sakura marah.

"Dan aku tetap menolak."

"Aku seorang Queen."

"Gelar mu bisa lebih tinggi jika Kau berusaha."

"Aku tak membutuhkan gelar disamping Anda."

"Aku tidak memaksa, dua istriku yang lain masih mengincar posisi itu." Sasuke mengingatkan.

"Setelah menikah, Aku tetap akan mengurus Kirigakure dan menjalani kehamilan disana."

"Semua yang Kau ajukan tidak masuk akal rupanya. Berhenti mengucapkan omong kosong jika tidak benar-benar Aku kurung."

"Anda berjanji untuk mendengarkan." sergah Sakura tak mau kalah.

"Kau membuang waktu ku untuk mendapatkan jawaban yang sudah pasti."

"Setidaknya Kau berbelas kasih untuk negosiasi, karena disini Aku yang paling dirugikan."

"Aku hanya menjanjikan kehidupan mewah disini, biarkan kau dilayani tanpa repot-repot membuang keringat."

"Kau tahu, Aku tak mungkin mau dikekang disangkar emas."

"Ya. Dan segeralah mengajukan sesuatu yang masuk akal."

"Aku akan masih tergabung dengan perkumpulan Lima Kage untuk mematahkan kutukan ini."

Sasuke memandang Sakura dalam. Dia amat tahu, Sakura sedang menahan tangis. "Selama dalam batas wajar."

"Tanpa terkecuali." bantah Sakura memaksa.

"Kau tak perlu terlalu terjun ke lapangan, Aku akan memberikan informasi yang Kamu butuhkan."

Sakura menggeleng kuat. "Tidak. Aku tak berminat untuk menggabungkan negara ku."

"Urusan Kirigakure, selalu dipegang oleh Jirayya, mereka hanya butuh pengganti mu untuk memberikan cap Kerajaan."

"Sebagai seorang Kaisar kau salah menilai ketatanegaraan sesempit itu."

"Apapun yang ada dalam pikiran mu. Cepat atau lambat gelar Queen akan berpindah pada Sasori. Tidak masalah jika dia mulai ikut campur dengan tugas Negara. Kau hanya perlu membimbingnya sesekali."

Perkataan Sasuke tidak salah, yang salah hanya memaksakan waktu sesuai keinginannya. Seusai Sasori menjadi Raja, ia hanyalah seorang istri Kaisar yang tak punya kuasa apapun. Pun anaknya akan mengikuti marga Ayahnya.

"Kau ingin mengendalikan Sasori dari ku?"

"Mengapa tidak? Dia salah satu orang yang tidak akan tunduk kepada ku, begitupun dengan mu."

"Kau tak sadar diri jika itu karena ulah mu sendiri."

"Kita saling membenci hanya itu yang ku tau. Kau tahu memusnahkan Kirigakure sangat mudah sekarang. Jika Kau macam-macam dan melanggar tugas, Aku tak akan segan membunuh Sasori, dengan begitu Kau yang memang seorang Queen dan menjadi istriku, sudah cukup untuk menjadikan Kirigakure menjadi bagian wilayah Konohagakure."

"Kau memang biadab."

"Maka lakukan tugas mu dengan baik." tidak sedikit Sasuke terpengaruh dengan segala macam emosi dari Sakura.

.

.

.

.

.

.

Kedatangan Sakura, telah menjadi topik gosip terhangat baik itu gosip positif ataupun negatif. Merebak cepat bahkan sampai ke luar Kekaisaran sekalipun.

Sakura pernah mendengar, jika ia dijadikan tawanan Kaisar untuk mencegah perang. Maka dari itu ia rela dinikahi untuk menjadi berkuasa. Ada yang bilang ia menggoda Kaisar. Ia haus kekuasaan disaat Empress meninggal dan ia berstatus sebagai Queen. Atau sampai membuka masa lalu yang mengatakan dia datang untuk balas dendam. Atau belum melupakan mantan tunangan. Yahhhh, Sakura jengah sendiri. Disamping itu ada juga yang bersyukur khususnya perempuan muda yang segera ingin memiliki momongan, karena begitu Sakura berhasil melahirkan bayi, mereka bisa hamil juga tanpa ketakutan berarti. Mendengar ini, justru Sakura takut, bagaimana jika tafsiran salah, itu berarti nyawanya juga terancam.

Sakura berjalan di lorong ruang kerja Kaisar berniat untuk masuk tanpa mengetuk pintu. Belum sampai mencapai pintu dua pengawal menghadang.

"My Lord, Queen Sakura ingin menemui Anda." ujar salah satu dari mereka. Sakura memberenggut.

Tak lama pintu terbuka dan keluar siluet Naruto memintanya untuk masuk.

Selain Kaisar, diruangan ada Naruto dan Kakashi. Melihat Sakura yang datang dengan muka mencebik. Naruto tak tahan untuk tak bersuara. "Biar ku tebak, Kau bersikap sembarangan lagi dengan bawahan mu." bukan lagi rahasia umum jika Sakura yang ceroboh selalu ribut dengan para Maid atau pengawal. Pernah dengan Naruto pun dengan Kakashi, hanya karena masalah sepele salah salam, tidak salam, berkata tidak sesuai. Demi Tuhan, tatakrama disini lebih ketat.

Terakhir saat diskusi yang tak kunjung mendapatkan persetujuan dari Kaisar pun. Diakhir dia kena tegur dengan ceramah panjang tentang tatakrama dan tutur kata. Setidaknya Kaisar tidak semenyebalkan bawahannya yang jika salah langsung tegur. Sehingga ia yang memang sering lupa, melupakan segala macam yang akan diucapkan.

Sakura memandang Naruto sinis, berpaling dan langsung berjalan ke arah meja Sasuke yang masih acuh membaca sesekali menulis beberapa kata pada dokumen.

Sakura menggebrak meja dengan kedua tangannya, sehingga menimbulkan bunyi nyaring membuat Kurenai, Naruto dan Kakashi meringis, sejauh ini yang berani menghadapi Kaisar hanya calon istri barunya itu, Empress terdahulu pun tidak.

Sasuke mendongak, menatap mata hijau Sakura, menuntut penjelasan dari tindakannya. "Setidaknya jika punya mulut tanya ada apa? Anda tidak bisu, kan?" Sasuke sudah menghiraukannya, sebelum cepat cepat menyampaikan maksudnya. "Ish. Aku mau Maid dan Ajudan ku menemani ku disini." pinta Sakura dengan lantang.

Disudut ruangan, Naruto yang sudah tidak kuat menahan tawa, menyemburkan tawa girangnya. Benar-benar tidak sopan. "Sekarang disini Kau lah yang tidak sopan." tunjuk Sakura pada Naruto.

"Mana ada dari semua tindakan Anda yang sopan sejak masuk ruangan." balas Naruto tak mau kalah masih tidak menghilangkan ekspresi cerianya.

"Aku tidak peduli." berbalik kembali ke arah Sasuke yang sudah fokus lagi pada dokumen. "Aku bil-."

"Setelah memastikan kau mengandung."

"Aku mau secepatnya, bawahan mu menyebalkan semua." Adu Sakura.

"Anda harus menguasai tatakrama Kekaisaran dulu, baru bisa memboyong Maid dan-."

"Hanya Maid." ucapan Kakashi dipotong tegas oleh Sasuke.

"Tidak bisa mereka harus sepaket. Tidak bisa dipisahkan." bantah Sakura keras kepala.

Sasuke diam tak menyahut. Sakura kesal. "Tak usah ada Maid sekalian." Sakura berbalik ke arah Kurenai. "Kau dipecat." tunjuk Sakura jengkel.

Kurenai ditempat gelagapan, tak mungkin kan kepala Maid dipecat. Kurenai menoleh ke arah Kakashi.

"Jangan diambil hati, cepat kejar My Queen sebelum memecat lebih banyak Maid lagi." Kakashi menenangkan.

"Saya permisi, My Lord." pamit Kurenai pada Kaisar.

Naruto tak henti-hentinya tertawa, merasa lucu. "Kau tau maksud dari Maid dan Ajudannya, Kakashi?"

"Mungkin si rambut pirang, yang merangkap sebagai dokter ahli. Dan Shikamaru, mana ku tahu." Kakashi mengedikan bahu acuh.

.

.

.

TBC