Happy Reading
Sakura berdiri di balkon lantai 2 yang mengarah ke arah pintu masuk utama Kekaisaran. Bisa Sakura lihat rombongan Kage dan para tamu undangan memasuki wilayah Kekaisaran.
Jika Sakura bisa, dia memilih loncat dari sini dan menerobos penjagaan di gerbang utama. Kabur. Tapi itu mimpi, pasti ia akan mati. Atau setidaknya punya kekuatan super yang bisa merobohkan Kekaisaran ini. Dan semua orang disini mati tertimbun. Jika seperti itu pasti Ia sudah jadi Empress berkuasa tanpa harus di kuasai Uchiha sejak dulu. Hadeh pikirannya kacau. Hari ini adalah hari terakhir masa lajangnya. Parahnya lagi suaminya adalah mantan tunangan pertamanya lagi. Parahnya lagi pernikahan ini seperti menjadikan dia sebagai tumbal. Hidup dan matinya sedang dipertaruhkan.
"My Queen, Anda harus segera menyambut para tamu." Sakura mendelik sinis pada Kurenai, dia tahan banting rupanya, berulang kali ia memecatnya, berulang kali juga tak bertahan. Ada ratusan Maid dan pengawal untuk dirinya, dalam waktu 3 hari, hampir semua dayang dan pengawal dipecat atau mengundurkan diri. Sedih? Justru senang, tak ada yang berisik mengganggu acara tidurnya selain si keras kepala Kurenai.
"Kurang ajar. Berani memerintah ku? Kau sudah ku pecat, jangan sampai batang hidung mu muncul lagi dihadapan ku. Atau-"
"Atau apa My Queen." potong Kakashi yang tiba-tiba datang. Jengah. Entah sejak kapan gadis kecil manis yang periang menjadi begitu kasar. Ia telah mengikuti Sasuke sejak masih berstatus putra mahkota. Dan tahu siapa saja yang menjadi teman kecilnya termasuk gadis didepannya ini. Dulu dia masih sangat sopan meskipun terdapat perbedaan adat dan tatakrama pada setiap negara, Sakura kecil selalu bisa menghargai orang lain, dan menerima masukan orang lain untuk berubah.
Kali ini, sudah ratusan Maid dan pengawal terlatih harus menganggur gara-gara satu kata yang keluar dari mulut ularnya. "Anda tak bisa lagi memecat orang-orang Kekaisaran?"
"Ya. Aku bisa. Orang-orang Kekaisaran adalah musuh bagiku. Kau menempatkan banyak mata-mata kan. Kau mencari celah untuk menghancurkan ku. Kau mencurigai gerak gerik ku." Sungut Sakura marah.
"Mereka hanya bertugas melayani Anda, tidak seperti yang Anda tuduhkan."
"Mana ada maling ngaku." sentak Sakura kasar.
Kakashi memejamkan mata frustrasi, jengah juga lama-lama. "Lebih baik, Anda segera menemui para tamu terutama para Kage, keluarga Anda juga sudah disana." lebih baik menjelaskan langsung ke intinya.
"Hah.. Aku capek, mau istirahat." Sakura berjalan angkuh ke arah kamarnya.
Dengan sigap Kakashi berdiri dijalur keluar Sakura. Beberapa kali Sakura mencoba menghindar tapi tak pernah berhasil. Kesal. Sakura melayangkan satu tamparan keras. "Apa mau mu, sialan?" teriak Sakura lantang.
"Sungguh tidak beradab. Sekarang Saya semakin yakin untuk mendatangkan Guru Tatakrama untuk Anda. Dan, ya. Keinginan Saya sekarang, ikuti Saya untuk menyambut para tamu. Jika masih tidak berkenan, setidaknya lakukan sebagai formalitas." Ucap Kakashi tegas, tidak terpengaruh dengan tingkah bar bar Sakura.
"Kau menyebalkan." Sakura mendorong Kakashi kuat dan berteriak kesal. Tapi langkahnya menuju Aula pertemuan.
.
.
.
.
"Oh, Queen Sakura. Apa kabar?" Tsunade menyambut Sakura yang datang dikawal Kakashi. Langkahnya menuju kursi kosong disamping Sasori. Tak Ia hiraukan, sambutan Tsunade yang siap memeluknya.
"Seperti yang Anda lihat, Saya baik." Wajah angkuh Sakura, mengedar dan berakhir pada Sasori.
Tsunade yang terlihat mendapatkan pelukan kosong lantas kembali duduk disamping Kato.
"Mengapa semua diam? Bukankah sekarang sedang rapat?" Kakashi hanya menepuk jidat lelah, yang mendapatkan cengiran mengejek Naruto.
Sakura juga tak salah, karena memang formasinya mirip dengan formasi rapat para Kage. Kecuali setiap ajudan yang berbeda pun dengan jumlahnya. Seperti pihak Kaisar yang diapit kedua selir dan 2 ajudan. Tsunade masih bersama Kato dan Neji. Bee dengan Selir Lisa dan Karui. Gaara dengan Matsuri dan kedua kakaknya. Dan pihaknya yang paling banyak selaku keluarga mempelai wanita.
"Tidak bisa dikatakan rapat mendesak, kapan lagi para Kage berkumpul tanpa rapat jika tidak karena pesta. Jadi bersikap santai saja." Tsunade berusaha menghalau suasana canggung.
"Tolong, tidak diambil hati Queen Tsunade. Queen Sakura mungkin hanya terlalu senang karena bisa bergabung dengan Kekaisaran." Singgung Karin tak enak hati, seolah berkata untuk memaafkan ketidaksopanan Sakura, yang akan mencoreng nama baik Kekaisaran.
Sakura sekilas menoleh tak bersahabat kepada Karin. "Ahh, sama sekali tidak masalah Selir Karin. Kami sudah cukup saling mengenal." Tsunade memberikan tatapan maklum pada Sakura.
"Aahhhh, Saya tidak suka suasana canggung." teriak Bee main-main. "Bagaimana jika kita membahas lanjutan langkah kita, sudah seminggu kita dalam kondisi jalan ditempat." lanjutnya.
"Yahhh kemajuan dibidang kedokteran sih mendapatkan motivasi baru, katanya ini adalah ide Queen Sakura sebelum perkumpulan Lima Kage dimulai. Aku baru memasukan dalam list tiga hari lalu sebelum ditandatangani." Ucap Tsunade bangga.
"Apa? Apalagi lagi ide untuk masa depan kedokteran?" Sama seperti Bee, Sakura juga tidak tahu ide apa lagi.
"Mungkin Queen Sakura, bisa menjelaskan." Ucap Gaara berusaha menarik atensi Sakura.
"Aku bahkan tidak tahu." Sakura yang memang masih bingung menjawab spontan.
"Hohoho.. Terlalu merendah. Kau tahu, aku beberapa kali mengeluh pada setiap apoteker atau farmasi tentang persediaan obat-obatan, mereka juga hanya bisa mengeluh. Apa perasaan mu, Aku mengeluh malah dijadikan tempat mengeluh." Tsunade mengingat-ingat kesal. "Mereka mengeluh, para pencari tanaman obat semakin berkurang, para pencari tanaman juga mengeluh tanaman obat dihutan bebas juga berkurang karena saling memburu untuk menghasilkan uang. Sekarang Aku tak akan malu untuk mengeluh, karena berkat itu, Pangeran Sasori mendengar secara tidak sengaja." Sasori mendengus, saat namanya dipanggil. Sakura menoleh ke arah Sasori dengan tatapan bertanya.
"Berarti itu adalah ide Pangeran Sasori?" Suara lembut mengalun dari bibir Shion. Jelas sekali, Shion tak menyukai Sakura disanjung.
Tsunade menggeleng. "Yah Anda bisa bertanya langsung sih. Tapi kata Pangeran Sasori, Queen Sakura sudah menggalakkan ahli tanaman disetiap penjuru Kirigakure saat menyadari persediaan obat. Seperti yang kita tahu, tidak setiap daerah tumbuhan bisa tumbuh. Dengan tindakan tersebut, persediaan tanaman obat tidak punah secara drastis apalagi hanya mengandalkan musim tumbuh dihutan." Jelas Tsunade riang.
Sakura paham sekarang. "Itu bukan saran yang bagus, menanam tanaman memerlukan waktu lama. Biarpun memang di Kirigakure menerapkan sistem itu. Karena sebelumnya kami berpikir untuk tidak melakukan kerjasama dengan negara manapun. Aku tidak sadar jika sistem itu belum ditarik." mendengar penuturan Sakura seketika hening. Bukan hening karena kagum, canggung atau puas. Tapi lebih ke tidak bekerjasama.
"Bukankah Anda terlalu sombong jika tidak berpikir bekerjasama?" Tanya Naruto sarkatis.
"Beginikah cara Kakak Saya diperlakukan disini? Jangan berpikir Saya tidak menyadari sejak tadi pihak Kekaisaran menyinggungnya." sejak tadi Sasori diam bukan karena mengerti, tapi meredam emosi. Sekarang setelah terang-terangan dituduh, dia tak bisa menahannya lagi. Ruangan hening yang baru saja mencair kini membeku kembali.
Dengan cepat Sakura meraih tangan Sasori agar segera duduk, kode untuk bersikap tenang.
Diujung meja Sasuke hanya memperhatikan, tak berniat ikut campur sebenarnya. Menoleh tajam ke arah Naruto yang membuatnya kikuk.
"Ah begini-."
"Tak perlu berkilah." Sakura memotong permintaan maaf Naruto cepat. "Jika Saya sombong pun bukan urusan Anda. Tidak ada yang salah dengan keputusan Saya waktu itu. Kami memang tidak punya sesuatu untuk diperdagangkan secara besar-besaran dengan negara mana pun hanya untuk mendapatkan perdagangan obat-obatan." Sakura menoleh ke arah Naruto acuh. "Baru sesaat setelah tahu, bahwa wabah ini ternyata tidak hanya menyerang Kirigakure, Saya tahu, Saya bisa meminta bantuan dengan penemuan Kami, berharap kami mendapatkan hak yang setimpal dengan dibukanya pengetahuan baru." Ungkap Sakura lirih. "Jadi Tuan Naruto, Apakah Saya masih sombong?" Tanya balik Sakura.
Matsuri terharu, mukanya memerah menahan tangis. "Tidak, jika saat itu, Anda memutuskan tidak datang mungkin Saya sudah tidak ada, Terimakasih Queen Sakura."
Sakura menggeleng kecil. "Saya memang berniat tidak datang karena sibuk di Rumah Sakit. Tapi Perdana Menteri pasti akan datang, pikiran Anda terlalu pendek jika beliau tidak akan menolong Anda saat bersalin." Sakura menjawab datar.
"Jadi intinya, semua jangan khawatir, semua sudah berlalu kan. Lagipula itu pemikiran karena merasa hanya Kirigakure yang mengalami bencana. Jika seperti itu tidak ada yang dirugikan sebenarnya, kan? setelah tahu, kita telah menyaksikan sendiri ketika bertugas di Akademi Miyaboku dia turun tanpa lelah ke desa-desa kecil disekitar tanpa memperhatikan itu wilayah mana, kan? Apa yang jadi masalah untuk menghakiminya? Justru menolong beberapa nasib yang hampir mati. Setidaknya kita bersyukur, Aku sendiri hanya menyumbang dalam jumlah kecil belum mampu untuk menyuplai negara sendiri. Tapi sistem pemerataan ini, Aku punya, Apa yang belum tentu Aku punya, bahkan setidaknya untuk satu nyawa." Bee kembali mencairkan suasana.
"Dan mungkin, Aku hanya memberikan sedikit nasihat tidak hanya untuk Queen Sakura, tapi untuk para pemimpin baru. Tidak ada satupun negara ada yang sempurna?" Suara Bee melirih di akhir. "Jadi jangan terlalu merendah karena tidak punya. Juga menjunjung tinggi karena kaya. Ingat sesuatu yang indah sesungguhnya ada ditengah. Berbaur. Berbaur. Maka aktivitas dunia akan hidup. Hehe.. Lupakan saja, Kembali lagi ke topik." Bee berdehem saat ternyata semua orang menatap kepadanya dengan tatapan kagum, membuatnya merasa malu.
"Ahahaha kenapa tidak dilanjutkan, itu nasihat yang sangat bagus."
"Hei diam kau, katakan saja list yang kamu maksudkan itu."
"Masih agresif, seperti masa muda, bukan begitu Selir Lisa?" Kato menggoda selir Lisa yang bersemu merah dengan kelakuan suaminya.
"Ha.. Memangnya Kau yang hanya bisa memasang muka penuh harapan tapi palsu." Serang Jirayya pada Kato.
"Heee... Kakek, daripada Kau yang selalu menebar wanita disetiap petualangan mu."
"Yak, Kau.. " Tunjuk Jirayya pada Kato.
"Haaa.. Aku tak dengar.. Ada-"
"Berhenti ribut Kalian berdua." Teriak Tsunade marah.
Sakura dan Sasori hanya saling memandang tidak mengerti dengan situasi ini. Mungkin yang lain juga, menganggap hiburan secara tidak langsung.
"Tolong garis besarnya saja Queen Tsunade? Malam sudah semakin larut."
"Baik, My Lord. Jadi garis besarnya kita juga perlu menggalakkan ahli tanaman untuk menanam tanaman obat, karena sifat tanaman yang berbeda-beda sehingga memungkinkan menunjuk wilayah tertentu. Tapi saya akan menerapkan harga bagi para penjual, sehingga mereka termotivasi untuk bertanam." Tsunade tersenyum ke arah Sakura.
"Metode ini sebagai pengganti tumbuhan yang hidup berdasarkan iklim. Kita tidak bisa mengatur iklim tapi kita bisa merekayasa pertumbuhan tanaman agar sesuai dengan iklim yang terjadi."
"Ahhh begitukah kesimpulan dari manfaatnya?" ujar Sakura senang.
"Berbagi itu indah kan?"
"Terimakasih Shishou." Ucap Sakura tulus.
"Aaaa.. Kau ini." Tsunade merasa kikuk.
"Aku juga, akan membantu di Miyaboku. Ku harap kita bisa bekerjasama juga ya Queen Sakura." info Matsuri semangat. Semenjak hari bersalin itu, Matsuri mengagumi Sakura. Maka, ketika Gaara menceritakan setiap rapat, Ia rela jika Gaara mengangkat Sakura menjadi istri. Tapi karena kondisi sekarang sudah lain. Ia senang jika bisa berteman dengan Sakura.
Sakura hanya memberikan senyuman kaku, belum tentu Ia bisa bergerak bebas setelah hari esok.
"Sesungguhnya ada hal penting yang harus dibahas dari tim ekspedisi. Ini ditemukan secara tiba-tiba. Tapi lebih baik dibahas setelah pernikahan dan dalam rapat resmi." Lapor Gaara.
"Baik. Tiga hari lagi kita kembali ke pegunungan Miyaboku." Final Sasuke.
Sasuke menoleh ke arah Sakura. "Istirahatlah!" titahnya. Dengan perasaan kesal, Sakura bangkit dari duduk dan pergi dari ruangan diikuti Kurenai dan Kakashi. Sakura membenci pada posisi tidak bisa melawan Sasuke.
"Kalian juga!" Sasuke menoleh pada kedua selirnya.
"Baik, My Lord." Ucap Karin dan Shion serempak.
"Kalian bisa menikmati pesta atau istirahat. Mintalah kepada Maid disini."
"Baik, My Lord. Tapi sepertinya lebih baik kita menikmati pesta dulu." ucap Killer Bee jahil.
.
.
.
.
.
"Jadi Kau merelakan, Queen Sakura?" Tanya sebuah suara saat Shikamaru sedang duduk sendiri dikursi taman, menjauh dari hiruk pikuk persiapan pesta.
"Ya." Shikamaru menjawab lirih, menoleh ke arah samping dan menemukan Temari ikut mendudukan diri. "Apa yang Anda lakukan disini?"
" Tidak perlu terlalu formal, Aku hanya kakak seorang Raja, tapi lihat Aku sebagai petugas Kerajaan." Temari terkekeh pelan. "Aku ingin menemani seorang pria yang patah hati."
"Masuklah, angin malam tidak baik."
Temari meninju pelan lengan atas Shikamaru. "Kau bercanda, walaupun perempuan Aku juga seorang Shinobi."
"Tidak bermaksud meragukan, hanya memang nyatanya malam ini angin cukup kencang." peringat Shikamaru.
"Aku akan masuk, jika pemberi nasihat masuk."
Shikamaru berdecak halus. "Ternyata perempuan memang menyebalkan."
"Hei, Queen Sakura juga perempuan."
"Tapi Dia lebih baik dari kamu." ucapan Shikamaru membuat Temari terdiam kosong. Tak memperhatikan lagi apapun yang Shikamaru katakan.
"Hoi." decak Shikamaru kesal karena wanita yang katanya ingin menemaninya malah larut dalam lamunan sendiri.
"Ah apa yang Kau katakan?" Temari merasa malu karena tertangkap melamun.
"Aku akan mengantarmu, dimana kamarnya?" ulang Shikamaru kesal.
"Oh padahal tidak perlu, tapi jika sudah menawarkan Aku terima." Temari nyengir senang. Menggamit tangan Shikamaru, menuntut langkah ke arah kamarnya.
Shikamaru hanya mengikuti pasrah atas menuntun rasa menyeret yang dilakukan Temari.
.
.
.
TBC
.
.
.
Like and comment menentukan referensi untuk melanjutkan atau menghentikan kelanjutan cerita ini.
