Warning! Anak kecil dilarang membaca atau lewatkan episode ini saja... ️
.
.
Happy Reading
.
.
.
Sakura duduk disamping singgasana Kaisar. Ritual pernikahan berlangsung dengan khidmat beberapa waktu lalu. Sakura terlihat sangat anggun, walaupun mimik muram sekaligus kesal tercetak jelas diwajah cantiknya.
Para tamu tidak buta untuk melihat jelas, namun mereka memilih tutup mulut, seolah menikmati pesta, atau mengobrol satu sama lain. Hanya Sasori dan Shikamaru yang tidak bergeming, ikut bersedih dengan Sakura. Bersedih karena tak mampu membawa Sakura kabur dari situasi seperti ini.
Sedangkan Sasuke hanya bertolak dagu diatas singgasana, memperhatikan jalannya pesta yang membuat istri barunya murung. Mengingat kata istri, dia tidak melihat kedua selirnya. Ya, mereka beberapa kali datang untuk protes karena tidak mau Ia menikah lagi, apalagi dengan status Queen. Kejadian semalam pun Ia tahu, jika mereka berusaha membuat Sakura buruk dimata para Kage. Kesalahan yang buruk. Mereka jauh akan menghormatinya, bukan hanya karena inovasi di tim kedokteran namun sekali lagi Sakura juga yang harus berkorban untuk melahirkan isi ramalan itu, bahkan ia pun tak tahu akan berhasil atau tidak. Benar atau kesalahan. Ia murni hanya ingin kutukan ini segera berakhir.
Rombongan Kerajaan Haruno terlihat sangat canggung berbaur dengan keramaian pesta. Tapi bukan itu yang menjadi arah pandang Sasuke. Dia melihat dua orang sedang bermuram durja ditempat berbeda.
Sasori yang duduk dikursi paling depan agak menjauh dari perhatian, siapapun akan memuji Sasori terlihat manis dengan segelas just strawberry ditangannya, biar bagaimanapun dia hanyalah bocah kecil dengan wajah imut, terlalu imut untuk dikatakan pemuda remaja. Dibalik wajah itu juga, Sasuke tahu bahwa Sasori menyimpan segala benci yang sangat kental pada dirinya.
Jauh dibelakang pesta, Sasuke bisa melihat Shikamaru yang berdiri bersender pada tiang besar dengan kurang ajarnya tertangkap melirik ke arah Sakura dengan pandangan patah hati. Segelas coktail ditangannya hanya diputar-putar tanpa niat diminum. Benar-benar pemandangan yang menyedihkan.
Sasuke menoleh kepada Kakashi yang juga mengahadap Kaisar, dan diberi anggukan tanda acara yang telah direncanakan segera disampaikan.
"Perhatian semua!" Kakashi memulai, seketika aula pesta menjadi hening, dan menghadap ke depan. Kakashi membuka gulungan yang diyakini perintah Kaisar. "Dengarlah titah Kaisar! Queen Sakura dari Kerajaan Haruno telah resmi menjadi anggota keluarga Kekaisaran Uchiha. Untuk itu, gelar Queen milik Kerajaan akan dilepas setelah waktunya tiba. Dan gelar King akan diberikan kepada Prince Sasori setelah menapaki usia dewasa. Sebelum itu terjadi, segala urusan Desa Kirigakure masih tanggung jawab Queen Sakura dengan Prince Sasori sebagai wakil, dan menyerahkan semua urusan lapangan kepada Perdana Menteri Jirayya sebagai wali dari Queen Sakura dan Prince Sasori. Demikian, dengan tanda cap dari Kaisar Uchiha." Kakashi mundur seraya melihat gulungan tersebut.
Namun belum sempat terlipat rapih, gulungan tersebut telah melayang asal, menimbulkan bunyi kelontang yang mencekam. Jangan tanyakan siapa pelakunya. Sakura segera berlari menuruni beberapa undakan tangga dan melempar gulungan dengan emosi. Dadanya naik dan muka memerah karena marah.
"Kalian tidak bisa seenaknya mengatur tatanan kenegaraan ku." tunjuk Sakura ke arah depan dengan nafas tersengal-sengal.
Sasuke mencoba untuk tidak terpancing emosi ditengah pestanya. Sikap Sakura yang diluar kendali sudah sangat mempermalukan martabat Kekaisaran. "Bawa Queen ke Kastilnya." Ucap Sasuke dingin.
"Kau..." kedua lengannya telah dicengram dua pengawal dibawah naungan Naruto untuk dibawa keluar pesta. "Beraninya.. Lepaskan Aku. Aku bilang lepas." teriak Sakura murka.
Melihat itu Sasori berdiri hendak menghentikan bawahan Naruto. "Jika Kau ikut campur, Aku tak akan ragu untuk melakukan hal yang sama. Mengurung dirimu di Istana mu sendiri hingga waktunya tiba menjadi King akan terlihat bagus." Peringat Sasuke tegas.
"Anda tidak bisa memperlakukannya seperti itu." Kecam Sasori tak kalah dingin.
"Aku bisa, siapapun yang menentang ku tidak akan mendapatkan hasil yang baik. Kau tau apa maksudku, kan?" Sasori diam, memalingkan muka menahan marah. Tangannya terkepal erat siap memukul siapapun yang lewat didepannya. Tak ada yang berani menolong, mereka memilih untuk berdiam memberi waktu.
Gaara menghampiri Sasori mencoba memberi ketenangan, berharap mengerti untuk tidak membuat Kaisar semakin marah. "My Lord, Izinkan Saya untuk juga membimbing Prince Sasori." Pinta Gaara sungguh-sungguh.
Sasuke memicing tajam. Kemudian diam mengerti. "Dia akan ikut setiap rapat para Kage." balas Sasuke tenang.
Semua menghela nafas lega, itu artinya Sasuke membolehkan, dengan begitu Sasori tidak benar-benar dikurung di Kirigakure.
"Tapi, Apakah itu artinya Queen Sakura tidak akan ikut lagi?" Bee bertanya dengan nada bingung.
"Tidak sepenuhnya. Dia punya kewajiban besar untuk sekarang. Selama memungkinkan Dia akan tergabung dalam rapat Lima Kage." Jawab Sasuke bijak.
"Bi-biarkan..." Sasori terdiam. Tak mampu meneruskan lagi.
"Katakanlah!" Sasuke jengah dengan orang yang ragu-ragu.
Sasori menunduk. "Selama kami disini, biarkan kami menemani Paduka Kakak, Kami tak mungkin rela meninggalkan Dia disini dengan perlakuan seperti tadi." Lanjut Sasori cepat, dia khawatir tindakannya malah membuat semakin runyam.
Sasuke mendengus. "Tak rela pun Kalian tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi baiklah. Dia sudah berada dikediaman barunya. Ingat jangan melakukan sesuatu yang membuatku marah."
"Baik, My Lord." jawab serempak.
.
.
.
.
.
"Inoooo.. Aku merindukanmu." Sakura akhirnya bisa memeluk Ino tanpa malu dengan tingkah konyolnya, disini hanya ada pihak Kerajaan Haruno dengan beberapa maid, Kurenai dan Naruto dengan beberapa pengawalnya berada diluar untuk berjaga.
"Huhhh kemarin siapa yang sebelum berangkat kesini merajuk dengan mengurung diri di Kamar." Sungut Ino.
"Tapi kan setidaknya ketika membuka pintu yang datang pertama adalah kamu." Sakura dan Ino memang bersahabat sejak kecil, Ino putri seorang pedagang menengah atas memutuskan menjadi Maid pribadi Sakura agar mereka selalu bersama, disamping itu dia juga seorang dokter ahli kedua setelah Sakura menggunakan metode caessar.
Ino datang bersama Sasori, Sai, Shikamaru dan Jirayya. Mereka hanya memperhatikan pertikaian antara dua sahabat itu. Sesekali bergabung dengan obrolan untuk sekedar mengejek atau saling memuji. Hubungan Sakura dan Shikamaru pun tidak secanggung saat mereka memutuskan hubungan. Ya, setidaknya Sakura mendapati kesenangannya setelah dirampas hampir 2 minggu lamanya. Dan kehidupannya masih panjang.
Tok tok tok
"Maaf mengganggu." Naruto datang dengan cengiran khasnya. "Malam sudah larut dan My Queen sudah harus bersiap-siap pergi ke Kamar Utama." Peringat Naruto.
Dahi Sakura mengkerut. "Aku melihat dikediaman ku juga ada kamar, Aku bisa tidur disini, nanti jika mengantuk."
"Maaf Yang Mulia. Itu. Ini adalah malam pertama pernikahan Anda, jadi-"
"Apakah Lord yang memerintahkan?" Sakura menyela penjelasan tak enak Kurenai. Tangannya meremas ujung bajunya erat, tanda dia ketakutan.
"Hm tidak, hanya saja ini sudah tradisi, setiap pengantin wanita harus sudah menunggu suaminya." Jelas Kurenai sabar.
"My Lord, sudah memberikan izin untuk kami menemani Paduka Kakak hingga Kami pulang besok sore." bantah Sasori.
"Tapi bukan berarti mengganggu jadwal malam pengantin. Maaf maaf saja Anda masih bocah dilarang mengintip." Naruto mengejek Sasori. Membuat pipi remaja itu memerah.
"Kalian menginap disini saja, biarkan Maid yang menyiapkan." Sakura akhirnya tersenyum penuh paksaan, seolah mengatakan tidak apa-apa.
"Saya akan bergabung dengan pesta para Kage, Yang Mulia." Jirayya yang dituakan disini memang selalu bijak. Sakura mengangguk mengerti.
"Bisakah Saya membantu disana, Saya juga Maid Yang Mulia." tawar Ino penuh harap.
Kurenai melirik ke arah Naruto yang diberi gelengan. "Maaf tidak bisa, mohon mengerti ini dilakukan agar My Queen bisa menyesuaikan diri dengan kondisi disini." jelas Kurenai.
"Anda akan baik-baik saja, Yang Mulia. Memang rasanya sakit diawal tapi nanti-."
"Woyyy Ino, Kau tak harus bercerita pengalaman Kita juga kan." peringat Sai. Yang justru mendapatkan tawa menyebalkan Naruto.
Sakura mengangguk ke arah Ino, yang masih menempeli dengan pelukan, tatapannya tak sengaja bertemu dengan tatapan Shikamaru. Sejenak Sakura mereka tak enak hati sekaligus malu.
.
.
.
.
.
Sudah sejak satu jam berlalu, Sakura menunggu kedatangan Sasuke dengan tegang. Tubuhnya beberapa kali tiba-tiba bergetar. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Membuatnya tersiksa semakin lama. Dan merasa lega secara bersamaan. Memang hari yang sial.
Tak lama kemudian Sakura terkaget dengan suara ketukan pintu, tidak terlalu keras, hanya jika itu Sasuke tak mungkin jika harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Siapa diluar?" Tanya Sakura waspada.
"Saya Naruto, Yang Mulia." Sakura bernapas lega.
"Ada Apa?"
"Anda bisa tidur sekarang. Saat menuju kemari tiba-tiba ada laporan yang harus My Lord tangani secepatnya, jadi belia-."
"Aku mengerti, Kau boleh pergi!" entah bagaimana kondisi hatinya sekarang, senang, lega, kecewa, sakit, dia merasa terhina, dia ditolak, lebih dari itu dirinya yang sudah rela berkorban tidak dianggap penting dan lebih mementingkan yang lain. Sakura menangis dalam diam. Meratapi kehidupan yang akan dijalaninya bersama Sasuke seumur hidup.
.
.
.
.
.
Sakura terbangun karena haus, matahari memang belum tinggi, Sakura yakin ini pagi buta, dengan kesal membuka selimut cepat, tapi Sakura merasakan ada kehidupan lain diruangan ini selain dirinya. Saat dia menoleh dia mendapati seseorang yang paling dibencinya telah tertidur. Pun menyadari segala pernak pernik dirambut merah muda yang tidak dilepas sebelum tidur telah terlepas karena rambutnya terurai. Jika masih ada tusukan rambut yang menempel Ia sudah yakin akan menusukannya tepat pada jantung sang Kaisar. Tak ingin bertemu dengan mata hitam menghayutkan, Sakura memilih keluar kamar pelan-pelan menuju Kastil Blossom.
Suasana Lorong Kamar Utama memang masih sepi, mungkin mereka sengaja meninggalkannya atau memang ini masih terlalu pagi. Saat melewati pintu kedua, Sakura dikagetkan dengan kedatangan Kurenai. Begitupun sebaliknya yang siap berteriak, namun dengan sigap Sakura bekap dengan tangannya, dan memberi kode untuk tidak membuat keributan dipagi hari.
"My Queen, Anda mau kemana?" Bisik Kurenai.
"Ke kamar ku." Jawab Sakura pendek.
"Tapi, Yang Mulia, ini terlalu pagi untuk meninggalkan tempat Kaisar." balas Kurenai panik.
"Jangan membantah lagi, sebelum semua Maid Kaisar bangun kita harus pergi, Ayo." Akhirnya mereka pergi mengendap-endap, dengan diliputi perasaan khawatir Kurenai.
Setelah berhasil memasuki Kastil Blossom Sakura dan Kurenai bernapas lega. Dan tanpa khawatir lagi berjalan ke arah kamar yang disediakan untuknya.
"Apa yang Anda lakukan disini?" Sakura tersentak saat mendengar suara tiba-tiba saat akan membuka pintu kamar.
"Shi-shikamaru.. Itu. Uh. Oh. Aku-aku-"
"Anda tidak melakukan hal yang aneh kan, ini masih gelap dan Anda telah disini?" Tanya Shikamaru khawatir.
Dengan cepat Sakura memasang pose angkuh. "Dengar, Aku tak melakukan hal aneh. Salah? Jika ingin tidur dikamar baruku?" Sakura langsung melengos masuk begitu saja tanpa menghiraukan Shikamaru yang memandangnya aneh.
.
.
.
.
.
Sore harinya semua tamu tengah bersiap untuk pulang, Sakura tidak pernah melepaskan diri dari tengah-tengah rombongannya. Sasuke tak melarang, dia dan dua selirnya juga ikut menghantarkan dipintu utama, memperhatikan semua persiapan masing-masing rombongan.
Setelah memeluk Sasori dan Ino, Sakura menghampiri tempat berdiri Sasuke dengan pandangan sendu.
"Sampai bertemu tiga hari lagi, My Lord, kalau begitu Kami permisi dulu." Sasuke mengangguk ke arah Gaara.
"Saya sudah meresepkan obat untuk My Queen, My Lord. Diminum secara teratur ya." Tsunade mengusap pipi Sakura lembut. Dan membungkuk salam hormat.
"Aku tidak sakit." Sakura menggerutu lucu. Tsunade hanya mengulas senyum keibuan.
.
.
.
.
.
"My Queen, My Lord sudah datang!" teriak Kurenai datang dari luar.
"Apa, mengapa tidak ada pemberitahuan?" Sakura yang sedang terlarut pada buku, terkejut panik.
"Tidak penting bertanya sekarang, bersiap-siap, My Lord sedang menuju kesini." Kurenai mondar mandir mempersiapkan segala keperluan.
"Tidak bisa, aku tidak bisa. Suruh saja dia kembali."
Sreggg
Suara pintu terbuka membuat Sakura dan Kurenai kaget.
"Selamat malam, My Lord." salam Sakura dan Kurenai.
"Siapa yang kau suruh kembali." Sasuke menyeringai kecil.
"I-itu-."
"My Lord, Anda duduklah dulu sebentar, Saya akan mempersiapkan My Queen." potong Kurenai cepat.
Sasuke mengangguk dan duduk di sisi ranjang, mengikuti arah Sakura setengah diseret paksa menuju kamar mandi yang terhubung dengan ruang pakaian. Dalam edarannya Sasuke menemukan buku kesehatan yang terbuka. Rupanya Sakura tengah membaca sebelum ia kesini.
"My Lord." Sasuke menoleh ke arah panggilan Kurenai. "Jika perlu sesuatu, kami ada diluar. Dan teh sudah kami siapkan."
"Pergilah!"
"Baik, My Lord, Saya permisi."
Setelah Kurenai pergi, Sakura menghembuskan napas kuat, berjalan ke arah meja dan menikmati teh yang disiapkan. Menolak keberadaan seseorang yang akan menjadi Ayah dari anaknya kelak.
"Kau tak menawariku? Beginikah kau bersikap pada suami mu?" Sasuke berdiri dari ranjang dan menghampiri Sakura.
"Anda akan kehausan jika ingin minum saja perlu ditawari." Ujar Sakura sarkas. Membuang segala rasa takut yang mengancam raga.
"Aku tahu Kau tidak dididik menjadi Maid. Tapi Aku yakin Kau diajarkan tatakrama melayani Suami." Sindir Sasuke, menuangkan teh tanpa gula pada gelasnya.
"Setidaknya jika itu suaminya bukan, Anda." Ujar Sakura lirih.
"Maka itu hanya akan menjadi mimpi selamanya, karena yang berdiri disamping altar saat itu adalah Aku." Sasuke menyeringai kemenangan.
Sakura sangat amat tahu, jika Kaisar sangat tampan, itu pula lah yang berhasil membuatnya jatuh hati dulu. Sekarang pun ketampanannya semakin matang, pria 3 tahun diatasnya ini adalah incaran para putri bangsawan jika tidak mengenal sikap bengisnya, begitu pun dengan Sakura segala rasa yang pernah tumbuh dimasa lalu harus Ia bakar seiring dia menaruh benci.
"Langsung saja." Ucapan Sakura ragu-ragu, tapi menghindar pun tak akan bisa. Ikatan mereka dibangun memang untuk melahirkan bayi. Semakin cepat semakin baik. Karena setelah dia hamil, tak ada alasan lain untuk mereka bertemu secara intim kecuali saat malam intim seperti yang Kurenai jelaskan, setidaknya ada satu malam wajib bagi Kaisar untuk mendatangi istrinya setiap bulan.
"Aku tidak akan horni jika tidak digoda." bohong. Tentu saja, siapa yang bisa menahan pesona cinta pertama yang sedang takut dimangsa Singa.
"My Lord, Ak-aku-."
"Ya. Tentu. Ini pertama untuk mu." Sasuke berdiri menghampiri Sakura yang awas mengikuti pergerakannya.
"Apa yang akan Anda lakukan?" Sasuke menyeringai, mengunci tatapan mereka. Membelai rambut merah muda yang selalu lembut dan menunduk menempelkan kedua bibir mereka.
Pelan menjadi hisapan, semakin lama semakin dalam, sesekali mengerang tanda kehabisan napas, hanya memberi lumatan lalu meraup lagi dan lagi, tangan Sasuke membawa tangan Sakura yang meremas pinggangnya untuk dikalungkan ke lehernya. Meremas lembut rambut raven Sasuke. Tak sampai disitu tangan Sasuke tak bisa diam menggerayangi tubuh, membuat Sakura sesekali merinding ngeri.
"Sudah mengerti yang akan ku lakukan?" pertanyaan menyebalkan disaat mereka sudah bergerak jauh. Sasuke masih dalam kondisi segar. Sedangkan dia, Sakura yakin, sudah sangat kacau dengan napas ngos-ngosan dan baju berantakan.
"Anda liar."
"Ya." kembali meraup Sakura lagi, lebih intim, memberikan kecupan-kecupan dirahang hingga leher jenjang, menggigit kecil dan menghisap kuat.
"Sasu-ke." erang Sakura.
"Ya, teruslah panggil nama ku selama penyatuan."
"hmp" Sakura menolak, dia tidak mau nampak menjijikan ditengah buaian menghayutkan.
Sasuke mengangkat tubuh kecil Sakura. Membawanya ke arah ranjang tanpa melepaskan tautan mereka. Membaringkannya secara perlahan. Sakura sudah terbuai mabuk dibawah kuasanya. Tak menyadari saat piyama tidur yang sengaja dipasang longgar telah terbuka, walaupun belum terlepas sepenuhnya.
"Hentikan Sasuke."
"Untuk apa?" Sakura merinding, saat hembusan napas yang keluar dari mulut saat berbicara meniup kulit dadanya. Tunggu kulit?
"Kapan baju ku, kau lepas." teriak Sakura berusaha menutup kembali tapi tak bisa karena dua sisinya bajunya tertahan dua lutut Sasuke.
"Kau mengganggu acara makan ku Sakura."
"Menyingkir!"
"Jangan membuat ku kesal Sakura."
"Ta-tapi-" Sasuke kembali membungkam mulut Sakura dengan ciuman. Kali ini lebih tergesa-gesa. Membuka sisa piyama Sakura yang masih tertanggal. Sakura berontak tapi tak cukup kuat ditambah remasan-remasan tangan nakal Sasuke membuatnya lumpuh. Puas dengan mulut Sakura, tangan dan mulut Sasuke menghujat dada dan perut Sakura kasar. Sakura hanya mengerang saat tak bisa menahannya lagi. Mendongak menatap langit langit kamar dengan memejamkan mata. Seketika panik saat tangan kekar itu telah mencapai liang kewanitaannya.
Dengan mengumpulkan sisa tenaga, Sakura memegang lemah tangan Sasuke. "Saya belum siap. Kumohon." Sakura memberikan tatapan memohonnya, berharap memberikan waktu lagi untuk melakukan kegilaan ini.
"Kau bahkan sudah berkali-kali orgame. Tindakan menolak mu, sangat membuatku marah, Sakura." Sakura menggeleng. Sasuke salah paham. Tidak bermaksud begitu. Tapi Sasuke telah lepas kendali. Dengan cepat Sasuke melepaskan seluruh pakaiannya dan tanpa ampun menghujam milik Sakura.
Sakura tak sempat merintih sakit saat keperawanannya direnggut, dibawah sana terasa mati rasa, Sasuke tak memberinya ampun sedikit pun, pun saat ia mencapai klimaks yang menyakitkan, tak ada istirahat Sakura pasrah, tak seharusnya ia membangkitkan kemarahan Sasuke. Dua ronde, tiga ronde entahlah, Sakura hanya ingat tubuhnya lelah dan ingin segera tidur atau mungkin pingsan.
.
.
.
.
.
Sakura terbangun dengan tubuh yang lengket, badannya terasa remuk jika digerakkan. Saat menoleh Sakura masih melihat Sasuke yang tertidur. Sakura ingin ke kamar mandi, panggilan alam tidak bisa ditunda lagi.
"Aww.. " secara reflek Sakura teriak sakit, kewanitaannya perih, pun memandang ngeri pada noda darah diseprai putihnya. Sebagai seorang Queen dari keluarga Kerajaan, dia tak pernah mengalami sakit karena luka apalagi dibagian yang sangat keramat. Saat latihan bela diri pun tak sampe terluka parah seperti ini.
"Kau berisik." dengus Sasuke kesal, acara tidurnya terganggu.
"Anda bisa pergi dari sini?" sunggut Sakura kesal.
"Kau mengusirku?" ucap Sasuke dingin.
"Demi apapun, Aku cuma ingin ke kamar mandi untuk pipis." teriak Sakura parau. Kapok melihat Sasuke kalau kalau dia ngamuk seperti semalam.
"Seseorang diluar?" panggil Sasuke sambil mengenakan piyama tidur.
"Saya My Lord." Kurenai masuk. Sesungguhnya dia sudah mendengar Sakura berteriak. Tapi karena berpikir masih ada jungjunannya yang lain, ia lebih memilih ketika dipanggil.
"Layani majikan mu!" titah Sasuke kembali berbaring. Sasuke tak perlu repot-repot menyembunyikan percintaan mereka karena pada akhirnya para Maid juga yang bertugas mengamankan sisanya.
"Anda perlu sesuatu My Queen?" Kurenai mendekati Sakura yang masih merintih, mencoba untuk tidak mengganggu tidur Sasuke.
"Bantu Aku ke kamar mandi." Kurenai segera membawa piyama bersih untuk dikenakan Sakura. Dan mengukungnya ke kamar mandi. Ia bisa mengerti Sakura mengalami kesakitan, kondisi tubuhnya parah, jangan hiraukan piyama yang sudah koyak dan kondisi sprai dengan limpahan noda sisa orgasme bercampur darah. Ia hanya berharap Sakura tidak trauma.
"Anda ingin sekalian mandi?"
Sakura mengangguk singkat. "Mungkin lebih baik."
Kurenai membiarkan Sakura berendam di air hangat. Pada mulanya Sakura kembali merintih sakit bahkan sampai menangis, meraung tak ingin mandi. Kurenai dengan sabar membujuk dan menambahkan cairan antiseptik pada air pemandian.
Selama Sakura berendam, Kurenai keluar membereskan kain berserakan. Melipat kain sprai yang ternyata sudah digulung Kaisar sebelum kembali terlelap. Menaruhnya diatas baki dan segera keluar, memberikan kepada Kakashi yang sudah menunggu untuk diantarkan. Penyatuan pada malam pertama istri baru Kaisar biasanya dikirim ke Kuil Agung untuk diramalkan.
Setelah menyiapkan beberapa antiseptik Kurenai kembali ke dalam kamar mandi dan menjemput Sakura.
"Setelah ini, Saya akan membantu melumaskan antiseptik pada Paduka." seraya mengukung Sakura untuk kembali ke kamar.
Sakura berdecak karena masih melihat Sasuke dikamar ini. "Disofa aja."
"Baik."
"Kau mau apa?" Saat melihat Kurenai mengenakan Sarung tangan elastis dengan beberapa antiseptik.
"Membantu mengoleskan salep pada luka Anda." Sakura memandang Kurenai tak yakin.
"Saya mantan asisten dokter, Paduka. Jadi jika hanya luka seperti ini saya bisa lakukan." Sakura mengangguk. Dan Kurenai melakukan tugasnya.
"Nah sekarang bagian milik Paduka."
"Hah? I-itu tidak perlu." sejujurnya sudah sejak awal Sakura menanggung malu karena Kurenai hampir melihat semuanya. Dan jika ia harus bertugas pada miliknya juga, entah semalu apa dia. Sakura memang masih merasa perih, tidak hanya perih karena lecet yang sudah pasti banyak tapi mungkin karena otot-otonya juga terguncang. Luka-luka terlihat saja sudah buat ia menangis beberapa kali dipagi ini. Hal yang paling beruntung adalah Sakura telah memecat hampir semua Maid yang ditugaskan untuknya. Hanya tersisa beberapa orang, itu pun ditugaskan setelah dirasa Kurenai tidak bisa menangani sendiri. Entah gosip apa yang beredar jika ratusan Maid melihatnya dalam Kondisi ini.
Kurenai tersenyum maklum. "Tidak perlu malu Yang Mulia, saat melahirkan bahkan lebih dari ini." Sakura mendengus dan lebih memilih menurut saja saat pahanya direnggangkan menggunakan bantal.
"Berikan baju ku?" setelah usai mengoleskan salep antiseptik yang membuatnya mati rasa.
"Anda menggunakan gaun tidur saja ya, biar Istirahat saja." Sakura mengangguk tak peduli.
"Toniknya sudah diberikan?" Suara serak khas bangun tidur Sasuke mengalihkan kegiatan berpakaian Sakura.
"Anda sudah terbangun, Yang Mulia." Kurenai membungkuk hormat. "Toniknya diminum setelah sarapan, My Lord." Sakura memandang Sasuke dari pantulan cermin rias didepannya. Tak ingin hanya sekedar untuk menyapa.
"Apakah, Anda ingin Saya menyiapkan sarapan disini, My Lord?"
"Hn."
"Baik, My Lord."
Sasuke dan Sakura sarapan dengan khidmat. Setelah Sasuke membersihkan diri dan rapih, beberapa Maid berdatangan menyajikan sarapan. Lagi lagi hanya Kurenai yang bertugas didalam setelah Maid lain diminta pergi.
"Tak berniat menambah Maid?" Sasuke dan Sakura memang belum berbicara sejak tadi. Sasuke rasa ini topik yang penting.
"Tidak." Jawab Sakura singkat. Tahu Sasuke tak merasa puas. "Saya sudah cukup dengan Maid yang sekarang."
"Dia." Sasuke menunjuk Kurenai dengan tatapan mata. "Juga manusia."
"Jika Kurenai tak sanggup, dia bisa pergi, Saya sudah memecatnya beberapa kali. Tapi dia batu." Sasuke membuang napas pelan.
"Saya tidak apa, My Lord. Saya hanya melayani Queen selebihnya dikerjakan Maid lain."
"Tambahlah Maid lain jika menyusahkan."
"Baik, My Lord. Saya akan menambah jika diperlukan." Sakura mendengus dengan ucapan Kurenai. Memangnya siapa majikannya.
"Minum toniknya, Sakura." Sakura mengepalkan tangan kuat, dia berusaha mengabaikan tonik yang ditaruh Kurenai setelah sarapan usai. Dan sekarang Sasuke seakan belum puas menyiksanya mengingatkan.
"Nanti."
"Aku tahu Kau akan membuangnya." Sakura menatap Sasuke dengan pandangan tak bisa diartikan. Sasuke tahu tentang dirinya yang membenci obat, bahkan ketika dia juga seorang dokter.
"A-aku bisa minum obat."
"Buktikan." Sakura kehilangan pandangan. Ludah mendadak kelu.
"Ada madu disampingnya." tunjuk Sasuke dengan dagu.
Sakura mengangkat mangkuk obat perlahan. "Bantu Queen, dia tidak bisa minum obat." Perintah Sasuke pada Kurenai.
"Ahh begitu, Ayo My Queen, pelan-pelan saja, setelah itu minum madu." berat hati Sakura mencoba meneguk cairan kental dengan bau menyengat.
Hoek hoek uhuk uhuk
"Sudah" muka Sakura memerah menahan pahit. Cepat cepat meraih madu dan melempar mangkuk tonik yang masih tersisa.
Sasuke meredam emosi. "Tidak apa My Lord, sebagian sudah tertelan, itu sudah cukup." Kurenai berusaha menjelaskan agar tidak marah. Tidak tega melihat Sakura dengan muka merah karena mual.
"Pastikan berikutnya dihabiskan tanpa sisa." Sasuke berdiri pergi.
"Baik, My Lord."
Sakura yang tak tahan lari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Terimakasih yang telah meluangkan waktu untuk klik bintangnya, dan memberikan masukan yang bisa membuat saya lanjut menulis.
