Selamat Tahun 2020.
Telat ya?
Iya.
Karena memang niatnya mau update ditahun baru, eh malah ada kendala sampe molor sejauh ini.
Alasannya apa?
Seperti yang kita tahu musibah yang menimpa Ibukota Jakarta tepat di tahun baru. Banjir.
Padahal kenanya cuma sehari, tapi capeknya berhari-hari, ditambah saudara yang sedang liburan sekolah pengen jalan-jalan setelah beberapa kali gagal karena hujan mengguyur padahal ortu udah masak bekal dari jam 3 pagi dan berakhir cuma dimakan bareng dirumah kayak lebaran, sisanya kepaksa kebuang gegara dikemas asal saat mau ngungsi, ditempat ngungsi boro-boro inget sama makanan kecuali harta benda yang kira-kira rusak kena air, alhasil makanannya dicuri tom dan Jerry bergantian, yahh walaupun masih banyak, kalo dimakan kan tetap bekas tikus dan kucing. Akhirnya dibuang deh.
Oke cukup curhat masalah banjir dan liburan setengah gagalnya. Langsung baca aja, gak usah dihiraukan ocehan berupa tulisan aku, cuma berbagi cerita aja, barang kali ada yang senasib juga wkwkwk
Itupun kalo masih ada yang masih nunggu sih
HAPPY READING
.
.
.
"Bagaimana?" Tanya Sasuke tak sabar, begitu Biwako -dokter Kekaisaran selesai memeriksa Sakura.
"Kali ini pun sama, My Lord." Informasi Biwako menyesal.
"Sampaikan pada Kakashi untuk mengabarkan beritanya!"
"Baik, My Lord." Pamit Biwako.
Sasuke menghampiri Sakura yang tengah ditenangkan Kurenai, posisinya berbaring miring dengan isakan-isakan lirih. Sasuke mengisyaratkan Kurenai untuk pergi. Berjalan ke arah ranjang dan memeluk Sakura yang menangis semakin menjadi.
Sudah tiga bulan berlalu, dan setiap 2 minggu sekali, Biwako datang untuk mengecek tanda-tanda kehamilan Sakura, selama itu pula hasilnya selalu nihil.
Meski Sasuke kecewa, yang paling hancur setelah tes ketiga adalah Sakura. Diawal-awal masih bisa menata perasaan, berusaha mengerti dan tegar, kadang-kadang menangis diam-diam. Semakin jauh, Sakura tak lagi bisa menyembunyikan kekecewaannya, tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Meski memang ini terpaksa, tapi perasaan Sakura selalu kacau ketika hasil lagi lagi negatif.
Mungkin merasa malu, setelah menolak percintaan mereka yang kedua, setelah 3 hari dari rapat yang membuat mereka bersitegang. Dan percaya diri setelah bercinta satu kali bisa jadi. Itu pun berlanjut ke hari-hari berikutnya.
"Isi gulungan itu bukan Aku. Aku yakin bukan." Suara Sakura masih serak.
"Tentanglah, jangan berpikir pendek."
"Tolong pikirkan lagi, mungkin Anda yang harus menghamili selir-selir Anda." Bukan tanpa alasan Sakura berkata begitu.
Setiap kali ia berjalan-jalan, masih banyak yang membuat gosip jelek tentangnya. Membandingkan-bandingkan setiap Istri Kaisar. Menuduhnya mandul. Mengatai tawanan yang sia-sia.
Saat mengikuti pergaulan tingkat Kekaisaran yang berisi putri dan istri bangsawan pun tak jauh berbeda dengan mulut ember para Maid. Diantara ketiga Istri Sasuke, Shion lah yang paling sering mengundang jamuan. Mau tak mau karena Ia bagian Kastil bunga, maka harus ikut bergabung dijajaran Istri Kekaisaran. Tak ada yang istimewa hanya sekedar minum dan memakan cemilan. Dan bagi Sakura daripada terlibat obrolan gosip atau pamer harta lebih baik minum dan makan dengan khidmat, dia sangat menyukai makanan manis, maka membuat perut puas lebih baik daripada tersulut bahan gosip yang justru akan memuaskan mereka.
"Tidak ada sarat apapun yang menempel pada mereka kecuali istri Kaisar. Jadi tenanglah."
"Pikirkanlah, tidak harus keduanya Kage, salah satu juga syaratnya. Perang dingin tidak hanya terjadi antar negara, tapi perang sesungguhnya adalah para Istri Kaisar, makanya Anda harus adil menghamili mereka juga." jelas Sakura asal.
"Jangan membuatku goyah. Berbahaya. Penjelasan mengada-ngada mu bisa membahayakan nyawa mereka. Apalagi jika harus hamil sebelum kau hamil. Cukup memberikan mereka kontrasepsi saja." Sasuke berpikir. "Kau tak memakai kontrasepsi kan?" Sasuke menyelidik Sakura.
"Tidak. Untuk apa Saya menunda." Jawab Sakura yakin.
"Bagus."
"Seolah berkata Kau pantas mati dengan menderita atau Kau pantas menjadi kelinci percobaan." Gumam Sakura asal, isak tangis nya sudah lenyap.
Sasuke hanya menggeleng tak percaya. "Jangan mulai. Kau lelah. Istirahat saja. Minum lagi tonik dari Tsunade secara teratur." peringat Sasuke.
"Sudah." Meski Sakura masih belum terbiasa, Kurenai sendiri yang memastikan ia tak melewatkan obatnya.
"Besok jadwal Anda ke Miyaboku. Saya ingin ikut membantu disana." Sakura memandang Sasuke penuh harap.
Sudah lebih dari satu bulan Sasuke melarang Sakura melakukan perjalanan kesana karena tak kunjung hamil. Sasuke berpikir karena Sakura kelelahan. Urusan rapat kenegaraan Kirigakure pun mereka yang datang ke Kekaisaran untuk meminta pendapat dan tanda cap Sakura. Begitulah Sasuke dengan keputusan mutlaknya.
"Tidak bisa, Sakura." Tolak Sasuke tegas.
"Anggap saja ini untuk menyegarkan kepenatan Saya agar cepat hamil, sekalian melakukan cek secara menyeluruh, apa yang salah. Ya, My Lord?" bujuk Sakura hati-hati.
Sasuke membuang napas frustasi. "Jika bukan tawaran untuk mengecek tubuhmu, Aku tak harus mengabulkan alasan konyol mu."
" Jadi, Saya boleh ikut."
"Sekarang tidur!"
"Baik, My Lord."
.
.
.
.
.
"Shishou." Panggil Sakura begitu keluar dari kereta kuda.
"Ahh.. Sakura, Kau datang?" Tsunade yang memang baru datang dari Desa sekitar berpapasan dengan kereta kuda Kekaisaran.
"Ya. Anda baru saja dari Desa sekitar?" Tsunade mengangguk. "Ah Aku merindukan saat-saat seperti itu juga." ekspresi Sakura menjadi sendu.
"Jangan murung begitu. Aku juga bertemu beberapa dari mereka yang mengenalmu. Mereka juga merindukan mu." hibur Tsunade.
"Sungguh? Konyol sekali. Padahal hanya beberapa kali?"
"Kapan kalian akan masuk?" kecoh Sasuke yang tidak tahan Karena cuaca sedang terik.
"Ah maaf My Lord, Saya tidak menyadari Anda. Mari masuk." bimbing Tsunade.
"Ah.. Anda datang Queen Sakura?" Sambut Matsuri yang sudah ikut turun tangan di Miyaboku. "Ah.. Selamat datang, My Lord." saat menyadari Sakura pasti tak sendiri kesini, seperti ia dan Gaara, Tsunade dan Kato. Jika pun harus mereka harus berbeda tugas, lebih baik mereka menginap lama sebelum dijemput pasangan masing-masing.
"Dimana King Gaara?"
"Gaara-kun dan yang lainnya sudah menunggu Anda di gerbang pegunungan, My Lord." info Matsuri. Sasuke mengangguk.
"Kakashi tetap disini." mentatap datar Sakura. "Lakukan cek menyeluruh pada dia." Sasuke menoleh ke arah Tsunade dan menunjuk menggunakan dagu ke arah Sakura.
"Baik, My Lord." Sakura hanya mendengus kasar memperhatikan mereka.
"Sebaiknya kita ke tempat pemeriksaan, Queen." Ajak Matsuri, saat Tsunade dan Sasuke ternyata terlibat obrolan panjang.
"Apakah ini karena kabar beberapa waktu lalu?" Tanya Matsuri, mereka sudah berada diruang pemeriksaan.
"Tidak sepenuhnya, cek tubuh murni karena Aku ingin kemari, hanya alasan untuk negosiasi, sekaligus memastikan Aku bisa hamil atau tidak." Jelas Sakura sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tak banyak berubah.
"Apakah datang bulan mu lancar?" bukan Matsuri tapi Tsunade yang baru memasuki ruangan. "Lord bilang Kau rajin mengkonsumsi tonik yang diresepkan."
"Hm, ya kupikir." memasang pose berpikir. "Tapi setelah ku ingat, setelah 3 bulan, tidak sebanyak saat masih belum menikah. Aku pikir itu adalah tanda-tanda."
"Kita lakukan tes darah saja, secara fisik kau sehat."
"Benarkan, Kaisar memang ingin mengekang."
"Itu tandanya Kaisar mengkhawatirkan Anda, Queen." Matsuri terlihat bersemu merah.
"Aku sudah bosan meminum obat, adakah resep yang lebih enak." eluh Sakura.
"Bersabar saja." Tsunade memberi semangat.
"Hasilnya akan muncul 2 hari lagi, tepat saat Kaisar turun dari gunung." setelah berhasil mengambil sampel darah Sakura.
"Selama itu, Aku bisa membantu disini. My Lord meninggalkan Kakashi disini jadi tidak bisa nekat kabur ke Desa." Sakura mengeluh kecewa.
"Yahh. Kami tidak berharap Kau menentang Kaisar. Aku juga disini untuk budidaya tanaman dan apoteker." Matsuri penuh semangat.
"Ayo Ladies saatnya bekerja."
"Siap, Shishou." Matsuri dan Sakura menoleh bersamaan, kemudian tertawa.
.
.
.
.
.
Sakura selalu senang jika mendapatkan bebas dari Kekaisaran, seperti sekarang dia bisa kembali membantu jalannya Akademi, ditambah sudah 2 hari tanpa pengawasan Kaisar. Dia bisa bergerak bebas kesana kemari. Banyak teman-teman baru juga setiap Ia mengunjungi Akademi. Tsunade sudah melarang Sakura untuk melakukan operasi besar atas permintaan Lord, tak apalah Ia bisa melayani pasien sakit atau luka ringan. Kadang ikut belajar dikelas ahli tanaman.
Tak jarang pula hilir mudik rombongan Kage yang berganti bertugas, begitupun dengan rombongan Kirigakure, Sakura merindukan mereka. Sesekali melakukan rapat yang semakin jarang Sakura hadiri.
Selama itu pula, Kakashi mengawalnya tanpa terlewati kecuali saat berada di kamar, dia menunggu diluar. Seperti saat ini, namun yang tidak biasa ketika Sakura mendengar sayup-sayup keributan di area Rumah Sakit, Kakashi mencegah Sakura keluar saat Ia hendak melihat situasi apa yang terjadi.
"Minggir, Kakashi. Aku harus tahu apa yang terjadi." Sakura kesal dengan Kakashi yang terlalu patuh pada Sasuke.
"Ini waktu untuk Anda tidur."
"Demi apapun, Aku bukan anak kecil. Dan aku harus melihat kesana."
"Tetaplah dikamar, menurutlah." Bujuk Kakashi.
"Tidak bisa." tolak Sakura keras kepala.
"My Queen-"
"Shannarooo." sebuah tiang yang menyangga atap bangunan runtuh dan memisahkan Sakura dengan Kakashi. Tanpa mengulur waktu, Sakura berlari ke arah Rumah Sakit.
"Queen.." Kakashi mengejar Sakura setelah sadar kehilangan pandang terhadap Sakura.
"Ada apa ini?" Sakura bertanya-tanya, karena yang dilihatnya adalah sekumpulan militer terluka yang sedang menunggu ditangani. Semua dokter dan perawat, baik ahli atau masih calon dikerahkan. Penerangan sudah dipasang disetiap penjuru.
"Ada apa ini?" sekali lagi bertanya karena tak mendapat sahutan.
"Queen Sakura." Sakura menoleh ke arah Matsuri yang sedang berjalan setengah berlari menghampiri dibelakang ada Temari yang mengikuti.
Berbicara tentang Temari, tepat satu bulan setelah pernikahan Sakura, Temari resmi bergelar Nyonya Nara, entah apa yang terjadi. Sakura sempat kecewa atau bisa dikatakan cemburu. Pikirannya melayang, baik Sasuke ataupun Shikamaru sama saja, sama-sama pria yang tidak benar-benar mencintainya sehingga dengan mudahnya menggandeng seorang wanita menjadi Istri setelah belum lama putus dengan Sakura.
"Queen Matsuri, Anda tahu, ini kenapa?"
"Rombongan Kaisar diserang oleh 2 pria berjubah hitam berlambang awan merah dan markas militer mendapat serangan dari seorang wanita berjubah sama." jelas Matsuri khawatir.
"Serangan dari kedua sisi."
"Bahkan Akademi juga, mereka sedang menahan digerbang hutan, mereka kalah jumlah sehingga bisa meloloskan prajurit yang terluka." jelas Temari. Hubungan komunikasi yang terlihat baik nyatanya memendam suatu rasa yang sukses membentengi diri masing-masing.
"Itulah mengapa Anda harus tetap dikamar, My Queen." Kakashi sudah berdiri dibelakang Sakura. "Dan Anda juga Queen Matsuri." seraya menoleh ke arah Matsuri.
"Mana bisa begitu." Bantah Sakura kesal. "Dimana Queen Tsunade?"
"Beliau yang dikawal Komandan Ibiki menuju gerbang pegunungan."
"Kau tetap disini bantu para Militer, Queen Matsuri, Saya akan menyusul Queen Tsunade." final Sakura cepat.
"Anda akan tetap dikamar Anda, Queen." tolak Kakashi tegas.
Sakura akan berlari tapi tertangkap Kakashi, kepalanya siap meninju sisi wajah berbalut masker, tapi dengan gesit Kakashi menghindar. Setelah cekalan Kakashi longgar, Sakura berlari pergi setelah menendang Kakashi yang akan kembali mengejar.
"Shishou." Sakura menghampiri Tsunade.
"Tak seharusnya kau disini, Queen."
"Jangan seperti pengawal Kaisar yang menyebalkan itu, Shishou." Sinis Sakura ke arah datangnya Kakashi. "Mana musuhnya?"
"Disana." tunjuk Tsunade kedepan. "Sekarang menjadi tiga."
"Mereka terlalu percaya diri untuk menghadapi Militer sebanyak ini." Posisi Tsunade dan Sakura memang masih terlindungi dari pandangan musuh karena berdiri belakang ratusan pasukan militer.
"Apa mau kalian?" Neji dibarisan terdepan sedang menghadapi ketiga musuh yang memasang wajah tenang, seperti tidak punya emosi. Dua orang memakai tutup kepala dan satu lagi jelas wanita.
"Ini hanyalah peringatan ringan, jika berani lebih jauh dari ini, siapa yang harus disalahkan." ucap perempuan berparas dingin.
"Siapa Kalian? Beraninya mengancam projek Lima Kage." mengintimidasi wanita berambut ungu yang terlihat paling waspada. Dua pria lain walaupun sama memiliki aura membunuh terlihat santai atau terkesan meremehkan terhadap jumlah tentara yang banyak.
"Ingat saja, A-katsu-ki." balas Satu pria yang wajahnya tertutupi topi dengan terkekeh meremehkan .
"Apa tujuan mu, ha?" Tunjuk Neji murka. Menyerang wanita satu-satunya diantara mereka. Pertempuran pun terjadi barisan militer satu per satu tumbang.
"Mundur!" Tsunade yang melihat pasukan berhasil dipojokan menarik perintah, dia tak mau lebih banyak lagi melihat korban berjatuhan. Tapi salah, Neji yang diandalkan untuk mengulik informasi terjebak ditengah ketiga musuh.
"Neji!"
"Kita harus melakukan sesuatu." Sakura berniat maju ke depan.
"Tetep disini, My Queen." peringat Kakashi tegas.
Dengan cepat Sakura merampas busur panah dari salah satu militer dan mengarahkannya kepada pria yang membelakangi militer yang menjaga. Secepat anak panah melesat secepat itu pula tubuhnya serasa di tarik kebelakang, mengalahkan atensi Kakashi yang berjaga. Pria itu, sedang menarik kerah bajunya.
"My Queen!" "Queen Sakura." teriakan bersahutan, setelah sadar dari kaget dan tidak percaya.
"Kau merah muda yang nakal." pria bertopi itu hanya menyeringai dengan memutar-mutar sombong anak panah yang digunakan Sakura.
Sakura masih melotot tidak percaya dengan kejadian kilat barusan. "Atau bagaimana jika panah ini menembus jantungmu dari dekat." Kakashi tak tinggal diam, dia menyerang pria yang tak melepaskan istri junjungannya."
"Lepaskan dia!" teriak Kakashi murka.
"Hm.." Pria itu menoleh ke arah Sakura. "Sepertinya, Aku mendapatkan tangkapan bagus. Hei Deidara, Apakah ini yang kau lihat saat Lord Shinobi menikah lagi?" teriak pria itu ke arah depan.
"yeah, Kau tidak salah lagi. Kisame." Deidara menyeringai tajam ke arah Sakura.
"SHANNAROO." Setelah akhirnya tenaganya terkumpul Sakura menyerang pria yang dipanggil Kisame.
"Wahhh itu berbahaya sekali." Ucap Kisame main-main.
"Mereka datang." ucap wanita itu retoris.
"Conan, Apa kita perlu membawa yang merah muda." Sakura memasang wajah wapada, begitu pun yang lain.
"Jika ingin bermain-main dengan Lord para Shinobi itu, boleh dicoba." Bukan Conan yang menjawab tapi Deidara yang sudah mengunci pergerakan Sakura. Sekali lagi semua orang terkejut.
Tidak lama kemudian tubuh Deidara terhuyung karena sebuah tinjauan keras. "Anda baik-baik saja, My Queen?" Tanya Naruto tanpa menoleh ke arah Sakura.
"Ya." Jawab Sakura setengah sadar.
"Oho, sudah turun rupanya." ejek Deidara retoris.
"Ingat peringatan Kami." tiba-tiba ketiga Akatsuki itu menghilang setelah gerombolan Kaisar datang.
"Mereka lolos?" Semua menoleh ke arah Sasuke dan membungkuk hormat.
"Pergerakan mereka cepat, mereka orang yang sama yang menyerang digunung tadi." Jawab Naruto cepat.
Sasuke menoleh ke arah Sakura. "Kenapa Kau diluar?" Sasuke berujar dengan tatapan menusuk.
"Sa-saya..."
"Sepertinya mulai sekarang musuh menargetkan Queen Sakura, Paduka." Lapor Kakashi memotong ucapan Sakura.
Walaupun kesal dengan aduan Kakashi Sakura tetap menunduk dalam saat tatapan intimidasi tak melepaskan targetnya. "My Lord, sebaiknya kita bicarakan didalam." Nasihat Tsunade menengahi.
"Jelaskan! Aku yakin musuh belum mencuri gulungan itu?"
"Salah satu dari mereka melihat Queen Sakura sebagai pengantin Anda saat pernikahan." Tsunade menjelaskan.
"Apa hubungannya?" Tanya Naruto tak mengerti.
"Mungkin mereka menjadikan sandra daripada disebut telah mengetahui isi gulungan itu." lanjut Tsunade.
"My Queen melakukan gerakan yang menarik perhatian mereka sehingga keberadaannya diketahui." Lapor Kakashi tanpa ekspresi. Tak peduli dengan Sakura yang semakin meringis ngeri melihat ekspresi Sasuke setelah ia melaporkan aksi Sakura tadi.
"Apa yang coba Kau tunjukkan kepada mereka?" Tanya Sasuke marah.
"My Lord sebaiknya Anda tidak emosi dulu, lebih baik obati luka Anda dulu." Saran Naruto ragu. Sakura hanya diam saja, ia tidak mau keributan rumah tangga diantara pembicaraan penting, itu akan membuat wibawa Kaisar buruk.
"Kenapa tidak bilang jika My Lord terluka." Tsunade segera mengambil beberapa antiseptik untuk mengobati luka Kaisar.
"Sebaiknya kita masukan ini untuk rapat ke Lima Kage My Lord, saat ini tidak memungkinkan untuk membahas musuh. King Bee ditempat, mendapatkan luka akibat serangan tiba-tiba, tapi akan pulih segera. King Gaara pun masih belum kembali." Tsunade menjelaskan sambil membubuhi antiseptik pada luka yang dalam, namun tak cukup panjang jika itu Sasuke.
"Apakah ada laporan dari King Gaara?" Tak merasa terganggu dengan tindakan Tsunade.
"Jika tak ada laporan, kemungkinan mereka aman. Tapi, ku pikir mereka menempuh jalan yang salah." jelas Tsunade.
"Apa maksudnya?" Naruto menyela.
"Karena jalan yang benar pasti mereka juga akan mengawasi." Sahut Kakashi santai.
"Kita tak mungkin berhenti karena tahu akan dapat serangan." bantah Naruto.
"Itulah sebabnya perlu diadakan rapat lagi, sekarang dengan mengajak beberapa ajudan terbaik." Saran Tsunade.
"Aku akan-"
"Kau pulang bersamaku, besok. Dan tidak lagi kemari untuk sementara waktu." Sasuke memotong ucapan Sakura tegas.
Sakura melotot. "Anda tidak bisa melakukan ini, disaat Aku juga seorang Kage." Bantah Sakura tidak terima.
"Terserah." Ucap Sasuke acuh. "Kau kesini hanya untuk melakukan tes kesehatan dengan Queen Tsunade, apa hasilnya?" peringat Sasuke tujuan Sakura datang ke sini.
"Besok Anda bisa melihat hasilnya, My Lord." beritahu Tsunade.
"Baik, Antar Queen Sakura kembali ke kamarnya!" Sasuke menoleh ke arah Kakashi.
"My Lord Sa-."
"Tidak membantah." Kesal, itulah yang Sakura rasakan saat mendengar titah mutlah Sasuke. Harus dilakukan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Sebenarnya untuk judul "Reborn, My Lord" juga mau sekarang tapi keburu pegel dan ngantuk. Mungkin besok atau lusa atau kalo sempet hehe
Maaf ya untuk yang nunggu "Reborn, My Lord" ditahan dulu.
