HAPPY READING

.

.

.

Tsunade duduk diam dihadapan Kaisar, menunggu kedatangan Sakura. Pandangan sedikit kosong, beberapa kali terlihat melamun. Tsunade yang biasanya akan mencari topik apapun untuk didiskusikan ketika dekat Kaisar, tidak berlaku demikian untuk saat ini. Setengah murung. Memikirkan bagaimana ia harus menjelaskan hasil lab kepada Kaisar. Ia yakini Sasuke akan marah. Bukan kemarahan Sasuke yang ia takutkan, tapi pasti efeknya akan menimpa Sakura. Sedikitnya Ia merasa kasihan pada Sakura, karena secara tidak langsung Ia jugalah yang mendorong Sakura untuk melakukan persyaratan itu.

Sasuke sendiri sejujurnya tidak ambil pusing dengan keterdiaman Tsunade, tidak terpengaruh apapun, Ia hanya perlu menunggu hasilnya dan langsung pulang membawa Sakura. Sampai saat pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok yang mereka tunggu.

"Selamat pagi My Lord, Queen Tsunade." Sasuke mengangguk.

"Selamat pagi, Queen Sakura." Tsunade tersenyum paksa. Merasa kecewa sebenarnya.

"Jadi bagaimana hasilnya, Shishou?" Tanya Sakura begitu duduk disamping Sasuke.

"Sebelumnya ada yang ingin Saya tanyakan dulu." Sakura dan Sasuke berpandangan sekilas dan kembali mengalihkan kepada Tsunade.

"Tanyakan saja, Shishou."

"Apakah Kau meminum resep dariku secara rutin?"

Sakura mengangguk yakin. "Walaupun selalu ada keributan dulu setiap pagi, Aku yakin tidak melewatkannya." Sakura mengingat-ingat, merasa lucu memang setiap pagi Ia dan Kurenai selalu ribut jika waktunya minum obat.

"Apakah Anda meminum tonik lain selain penyubur kehamilan?"

Sakura mengernyit bingung. "Tidak."

"Ada apa sebenarnya?" Sasuke yang jengah, membuka suaranya.

"Yang Saya temukan dari hasil darah Queen Sakura adalah obat pencegah kehamilan." Sasuke terhenyak, Sakura terkejut tidak percaya. "Bukan hanya itu, tidak seperti kontrasepsi yang kita distribusikan yang sudah dipastikan legal keamanannya, jika obat yang dikonsumsi Queen Sakura rutin diminum bisa merusak rahim dan tidak bisa hamil."

"A-apa?" Sakura menutup mulut tak percaya.

"Obat yang saya resepkan tidak bisa melawan dosis obat pencegah kehamilan yang telah diminum." Sasuke menatap tajam Sakura, aura Sasuke semakin kelam. Sakura menyadari itu.

Sakura menggeleng menatap Sasuke. "Sumpah, My Lord. Saya tidak melakukan itu." Sakura tahu itu sia-sia.

"Begini cara kamu memberontak." pertanyaan yang mirip pernyataan Sasuke tuduhkan.

"My Lord, Anda tidak bisa menuduh Saya begitu saja." Suara parau Sakura sekuat mungkin tidak terisak.

"Buktinya sudah nyata, Kau begitu takut mati sehingga melakukan ini." Sakura terhenyak dengan pernyataan benar Sasuke, tapi Ia tak melakukan apapun yang dituduhkan.

"Ingat, My Lord. Saya yang mengajukan diri untuk cek tubuh. Saya tidak mungkin menawarkan diri jika saya melakukan dengan sengaja." Teriak Sakura tidak terima. Airmatanya sudah tak bisa dibendung lagi. Tidak ada isak tangis, hanya saja Dia juga sama kecewanya dengan Sasuke.

"My Lord... " Cicit Tsunade merasa tidak enak hati menyaksikan keributan ini. "Bisa kita, bicarakan baik-baik saja dan mendengarkan solusinya." Sasuke tidak menjawab, tapi diam dan atensinya yang mengarah pada Tsunade diartikan jika Sasuke mendengarkan.

"Jika yang dikatakan Queen benar berarti Queen diracuni." lanjut Tsunade setelah mendapatkan perhatian Sasuke. "Kondisi rahimnya masih belum parah masih bisa disembuhkan dengan terapi." Tsunade memandang Sakura tak enak saat melihatnya menggeleng. Ia tahu betul terapi kesuburan sangat menyakitkan.

"Siapa yang bisa?"

"Semua dokter kandungan bisa, sehingga Anda tidak perlu khawatir jikapun ingin melakukan di Kekaisaran." Tsunade harus menjelaskan dengan hati-hati, korban disinilah yang tersakiti.

"Saya tidak mau melakukan terapi, tolong." Sasuke mengacuhkan permohonan Sakura.

"Ini cara tercepat yang bisa Kita tempuh, obat hanya akan menghasilkan waktu yang lama." Jelas Tsunade tegas.

"Resepkan tonik saja, masih belum terlambat untuk memulai."

Tsunade mengangguk mengerti maksud Sakura. "Bagaimana My Lord?" Tapi keputusan tetap ditangan Sasuke.

"Lakukan terapinya!" Sakura terhenyak mendengar keputusan Sasuke lagi.

"Saya bisa menuliskan rujukan. Bukankah ada yang lebih penting lagi, seseorang yang berniat meracuni Queen Sakura?" Tsunade memastikan tindakan Sasuke selanjutnya.

"Itu menjadi urusanku." jawab Sasuke tanpa ekspresi.

"Baik, My Lord." Tsunade melirik ke arah Sakura. "Berhati-hati dengan makanan yang dihidangkan, pengharum ruangan, dan alat kecantikan. Mungkin seseorang menyelinap diantara Maid atau pengawal."

Sakura hanya diam, percuma berbicara pun tak akan menjadi pertimbangan apapun untuk Sasuke. Dia sudah memutuskan maka keputusannya adalah mutlak.

"Jika tidak ada lagi yang ditanyakan, Saya permisi dulu." Pamit Tsunade.

.

.

.

.

.

"Kami dan tim lab sudah memeriksa pengharum, alat kecantikan dan baju My Queen, My Lord, tapi tidak terdeteksi apapun yang mengandung bahan pencegah kehamilan. Kami tidak bisa menyelidiki makanan yang diberikan kepada My Queen tapi mulai sekarang akan Kami periksa dulu sebelum disajikan." Jelas Kurenai.

Mereka sedang berada di Kastil Blossom. Sasuke memberikan titah untuk mengintrogasi setiap Maid dan pengawal yang ada disini. Beruntung Sakura hanya menyisakan beberapa pekerja sehingga tidak membutuhkan waktu lama dan tidak mungkin lolos untuk melarikan diri. Tapi belum ada yang membuktikan jika itu dari pekerja di Kastil Blossom, apalagi setelah mengundang ahli kimia untuk memeriksa pernak pernik yang sering Sakura gunakan. Kemungkinannya dari Koki dan Maid Kekaisaran. Makanan atau minuman.

"Tapi. Saya tidak bisa memeriksa setiap makanan yang My Queen terima di acara perjamuan, My Lord."

"Batalkan semua acara Queen Sakura. Untuk sementara tidak perlu menghadiri acara dan fokus pada pengobatan." Ucap Sasuke masih tanpa ekspresi.

"Anda benar-benar akan mengurung Saya, My Lord?" Sakura angkat suara.

"Mengertilah!" Ujar Sasuke tegas, kesal, dengan menoleh ke arah Sakura.

"Lantas, apa yang Anda mengerti?" Tak Sasuke hiraukan.

"Cobalah beberapa kali lagi pergi ke acara, My Lord." Sasuke menatap Naruto tajam. "Ah, bukan begitu. Saya akan mendampingi. Ada sesuatu yang harus Saya pastikan." jelas Naruto ragu-ragu.

"Apa jadwalnya?"

"Jadwal yang My Queen setujui dalam minggu ini ada 3. Perjamuan Selir Karin, perjamuan Nyonya besar Inuzuka, dan Perjamuan Selir Shion. Ketiganya dilakukan sore hari, sehingga tidak mempengaruhi jadwal terapi." Jelas Kurenai.

"Pastikan dari 3 itu, kau menemukan sesuatu, Naruto."

"Ah ya." Kakashi hanya menghela napas mendengar jawaban ragu-ragu Naruto.

"Ambil beberapa Maid dari Kastil Onyx untuk mendampingi di Kastil Blossom sampai Queen melahirkan."

"Saya sudah bilang, Saya tidak mau menambah Maid." Bantah Sakura.

"Anda tenang saja My Queen, Maid dari Kastil Onyx tidak akan mengganggu Anda, mereka akan mengawasi dari jauh." Jelas Kakashi tenang.

"Terserah." Bentak Sakura benar-benar frustasi.

.

.

.

.

.

Ini adalah hari terakhir Sakura mengikuti acara perjamuan, selalu begitu, Naruto mewanti-wanti agar Sakura tidak memakan atau meminum apapun yang disediakan.

Ngomong-ngomong tentang Naruto, ternyata dia memiliki istri yang sangat cantik bernama Hinata dengan bayi laki-laki berambut kuning yang begitu lucu bernama Boruto. Usianya baru 17 bulan dan Sakura menyukainya sejak pertemuan pertama di perjamuan Selir Karin. Katanya Hinata tak pernah menghadiri perjamuan sejak memiliki Boruto. Keberuntungan Boruto adalah lahir sebelum bencana ini terjadi.

Awalnya Sakura sedikit merasa tidak asing saat melihat Hinata, tapi saat Hinata yang terus berusaha membangun topik pembicaraan ditengah para wanita penggosip, mau tidak mau Sakura tak enak hati jika mengabaikan Hinata yang tidak pernah menyinggung hal sensitif apapun. Disitulah Sakura bertanya acara penasarannya, yang membuatnya menganga saat melihat senyum tulus Hinata setelah berucap jika Hyuga Neji adalah Kakak kandungnya. Hooo, Sakura kadang-kadang mengejek Naruto yang memang senang bercanda.

"Apakah Queen Sakura sedang tidak enak badan?" Tanya seseorang wanita tua sebagai bentuk formalitas. "Saya kira dari hari ke hari Anda semakin pucat."

"Ah, Saya baru sadar, Apakah My Queen tengah hamil?" Tanya wanita lain.

"Jika telah hamil semua Kekaisaran pasti sudah mendengar, atau ini baru diketahui?" Bantah Karin. Pertanyaan sensitif untuk istri Kaisar.

Sakura berusaha menarik senyum lembut. "Saya memang tidak hamil, terimakasih sudah memperdulikan saya."

"Mungkin Anda kelelahan My Queen, seharusnya Anda tidak memaksa diri jika sedang sakit. Atau mungkin meminum teh atau camilan bisa membangkitkan stamina Anda."

"Sekali lagi terimakasih atas perhatian Anda, Selir Shion. Tapi Saya sudah meminum teh tadi."

"Kalau begitu, Anda ingin minuman atau camilan lain, Anda harus menikmati jamuan ini."

"Saya rasa ini cukup, nanti Saya akan mencicipi jika sudah merasa ingin." dan obrolan-obrolan berlangsung lagi, setengah menyindir para Istri Kaisar yang dilanda ketakutan untuk hamil. Terutama Sakura yang memang dinikahkan ditengah bencana. Dan Sakura tidak perlu mengambil pusing kata mereka.

Sakura tampil pucat memang efek dari terapi yang dijalani setiap pagi. Beberapa kali Sakura berniat lari tapi selalu saja ajudan Sasuke yang secara bergantian menjaga menemukannya, dan menyeret untuk kembali ke kamar. Sakura yang memang tidak biasa merasakan sakit selalu terkulai lemas paska terapi, sehingga tidur seharian.

"Anak pintar mau kue, ya? Tapi itu punya Queen Sakura, nak." Kata Shion lembut saat melihat Boruto meraih biskuit milik Sakura.

Sakura yang memang duduk disamping Hinata, mengelus lembut rambut Boruto. "Tidak apa, Selir Shion, namanya juga anak-anak."

"Aduh maaf ya, Boruto memang suka mengambil apa yang bisa diraih, tuh kan kue nya hanya dicicip sedikit." Hinata membersihkan kue disekitar mulut Boruto.

Semua orang yang kebetulan melihat Boruto merasa gemas. "Tipikal Jenderal Namikaze sekali ya, selalu aktif." celetuk salah satu wanita setengah baya.

"Jadi tidak sabar melihat Kaisar Junior." ucapannya memang sederhana tapi cukup untuk menohok ketiga Istri Kaisar.

"Ada putra Kaisar pun belum tentu berjodoh dengan putri anda." Balas Karin sarkas. Dan begitulah cerita-cerita berlangsung.

.

.

.

.

.

"Sekali ini saja Kurenai, bekerja samalah." ujar Sakura dengan suara khas bangun tidur.

"My Lord akan marah jika Anda membantah lagi, My Queen." Kurenai memberikan pengertian.

"Biarkan saja tim terapis datang kesini, tapi sogok mereka untuk tidak bekerja kali ini saja."

Kurenai menggeleng lelah. "Jangan lupa maid Kaisar disini. Ayo bersiap-siap, bukan sekali dua kali Anda bersikap seperti ini."

Tok tok tok tok

" Mereka sudah datang, Saya akan membukakan pintu." Sakura hanya berbaring pasrah.

"Selamat pagi, My Queen. Jika telah bersiap, silahkan pada posisi Anda, Kita mulai terapinya." Mendengarnya Sakura menggeram kesal.

Setelah memastikan Sakura siap, Biwako segera melakukan tugasnya. "Hmppppp hemm hempp" Sakura menggeram menahan sakit, keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Rasa panas diarea punggung tak pernah tidak membuat Sakura berteriak.

"Ahkkkk berhenti, sakit. Ku bilang berhenti." Sakura menangis pilu. Pergerakannya terkunci karena tubuhnya ditahan oleh beberapa perawat.

"Sabar yang Mulia, sebentar lagi." Kurenai selalu sabar untuk menenangkan.

"Bagaimana keadaan Yang Mulia, dokter?" Tanya Kurenai pada dokter seusai memeriksa Sakura yang terkulai lemah paska terapi.

"Mulai membaik, hanya tinggal satu atau dua kali lagi." Biwakko tersenyum penuh arti.

"Ah benarkah, akhirnya. Anda dengar My Queen. Semuanya akan berakhir." Tawa senang terbit dari Kurenai. Sakura sendiri sudah tidak peduli lagi.

"Yang Mulia, Anda harus bertahan."

"Bahkan sekarang pun My Lord tidak datang." ujar Sakura kelu. Ya, sejak hari itu Sasuke tak pernah datang. Bahkan ketika Sakura sendiri yang datang menghampiri Kastil Onyx selalu kosong. Sasuke selalu bekerja diluar Kekaisaran, dan sekalinya pulang tidak pernah sekalipun datang hanya untuk menanyakan perkembangan, sungguh Sakura merasa hina.

.

.

.

.

.

"Bagaimana ini, My Lord?" Tanya Gaara yang sudah semakin geram.

"Apapun yang terjadi, jangan ada yang memberitahukan Queen Sakura." Semua diruang rapat merenung dengan pikiran masing-masing.

"Kita terpaksa menarik tim ekspedisi untuk tim patroli." Sasori membuka suara.

"Berita bagusnya, pendaftar militer semakin banyak bahkan perempuan juga, katakan Kita tidak akan menolak perempuan." Info Bee bangga.

"Lakukan saja." Putus Sasuke. "Pastikan ada kesempatan untuk penyuluhan tentang efek dari sex bebas." Meskipun Sasuke ragu, tapi terucap dengan lantang.

"Benar, negatifnya tidak hanya sedang bencana seperti sekarang saja, tapi segala aspek kehidupan." Jirayya membenarkan.

"Hah.. Itu kesalahan mereka. Terlalu bebas. Sehingga hamil sebelum Queen Sakura hamil." Tsunade berkomentar lelah.

"Mereka tidak main-main dengan ancaman, bagaimana bisa mereka mengganti kontrasepsi dengan obat penyubur sampai obat perangsang." keluh Matsuri.

"Lakukan sesuai rencana!" Sasuke mengakhiri rapat yang malah membuatnya pusing, belum lagi Dia memberi hukuman atas tindakan meracuni Sakura. Akhir-akhir ini semua sedang disibukan dengan pergerakan musuh yang semakin terang-terangan.

.

.

.

TBC