HAPPY READING
.
.
.
Berita kehamilan Shion menjadi topik hangat bagi warga Konoha. Ada yang mengasihani, ada juga yang justru senang. Ceroboh, pikir mereka. Siapa yang tidak mengira, bahkan penyuluhan tentang sex bebas sedang dimarakkan, obat untuk mencegah kehamilan sedang digalakkan oleh pihak Kekaisaran. Tapi melihat kondisi istri kaisar sekarang, semua hanyalah terdengar omong kosong.
Jangan tanyakan kondisi Shion saat ini, sangat memprihatinkan, setiap ingat wabah ini, Shion semakin terpuruk.
Sasuke menjebaknya. Sasuke mengunjunginya setelah pulang dari pegunungan Miyaboku dengan aura bersahabat, memberikan tatapan mendamba, seolah-olah ia adalah segalanya. Tapi apa? Shion dikurung dalam istananya setelah malam panjang itu terjadi, siapa pun melarang memberikan kontrasepsi dan mendapatkan pengawasan ketat langsung dari Kastil Onyx. Adalah kasus Sakura yang menyebabkan semua terjadi. Sasuke menyelidikinya secara diam-diam. Dan menghukum dirinya juga secara diam-diam.
Shion menyesali atensi Hinata yang tiba-tiba kembali memasuki pergaulan kelas atas, pun tak pernah mendengar juga jika sejak awal kondisi Sakura telah diketahui tim medis. Saat itu, sisa kue yang dimakan, tidak, tidak dimakan, hanya dimainkan bocah itu, Boruto, diberikan pada Jenderal Naruto, orang yang ditugaskan secara diam-diam untuk membongkar orang yang menaburi obat pencegah kehamilan dengan dosis tinggi. Hukuman Sasuke juga tak tanggung, dengan cara harus merasakan kehamilan ditengah bencana. Merasakan bagaimana ketakutan itu menghantui.
Mungkin jika semua normal, Shion akan bangga. Memamerkan kepada dunia, calon pewaris kaisar. Tapi tidak, teringat kematian Empress Hana, membuatnya semakin gemetar.
"My Lord berpesan untuk selalu menjaga kandungan Anda, Yang Mulia. Rutin meminum vitamin dan makan makanan bergizi." Rin. Salah satu maid Kastil Onyx, mengawasinya. Melaporkan setiap gerakan yang dilakukannya. Beberapa kali Sasuke datang, hanya untuk memastikan kesehatan rahimnya. Kejam. Memang.
.
.
.
.
.
Kehebohan kekaisaran, tak luput juga dari perhatian Sakura. Jujur saja, Sakura sangat terkejut. Tiga bulan Sasuke menghindarinya. Dan ternyata, dia sempat membuat salah satu selir hamil. 'Apa hanya aku, yang tidak dia kunjungi?' Sakura mendengus jengkel. Tak sabar untuk segera pergi ke Kastil Onyx. Hanya tinggal beberapa langkah lagi.
"Maaf, My Queen, beliau tidak bisa bertemu sekarang. Didalam sedang ada rapat dengan para tetua." Lagi. Sakura ditahan untuk masuk. Pengawal yang berjaga sudah diberi perintah untuk mencegah dirinya. Biasanya Sakura tidak akan perduli dan memilih pergi. Tapi kali ini berbeda.
"Minggir!" Titah Sakura tegas.
"Ini perintah My Lord, ma--?" Merasa jengah. Dengan kasar Sakura mendorong kasar pengawal tersebut.
Kurenai yang sejak tadi mengikuti merasa cemas. Dia tidak bisa mengurungkan niat Sakura. Sekarang jungjunannya sedang membuat keributan didepan ruang kaisar. Ini tidak baik.
"My Queen, kami mohon." Sakura tidak perduli seberapa besar kepatuhan atas perintah. Sekali gebrakan keras, Sakura memasuki ruang Sasuke.
Semua orang yang ada dalam rapat menoleh terkejut ke arah pintu yang didobrak paksa. Lebih terkejut lagi, saat tahu ternyata Sakura pelaku tindakan tidak senonoh tersebut.
Mata Sakura bersibobrok dengan mata hitam legam milik suaminya. Dibalas Sasuke yang memandang Sakura dengan tajam, bukan takut, Sakura justru lebih senang melawan, beradu tatapan.
"Sangat tidak terdidik." Hardik salah satu tertua dikursi paling depan.
Sakura tidak menghiraukan kasak kusuk dari tamu penting disana. Tujuan Sakura telah mantap, mendapatkan jawaban Sasuke.
Baik Kakashi maupun Naruto, masih tetap bergeming ditempat, belum mengambil inisiatif untuk membantu kaisar, sejatinya melewati istri kaisar sangat menguji kesabaran.
"Tunggu di kamar utama!" Sasuke tidak berniat mengalah, hanya ingin semua cepat berlalu.
"Sekarang!" Bantah Sakura tajam. Sasuke semakin memandang Sakura dingin. Dia benci dibantah. Ditambah mereka memang memiliki kemarahan yang sama dimasa lalu.
Tanpa menunggu perintah, Kakashi mengambil inisiatif sendiri untuk membimbing Sakura pergi dengan paksaan, karena Sakura memberontak secara brutal.
.
.
.
.
.
Sasuke merasakan tubuhnya diterjang saat memasuki kamar pribadinya. Mata emerald itu masih menantangnya, menuntut jawaban dari apa yang telah dilewati. Menghindari. Benar. Sasuke memang hampir tak menemui Sakura, tak ada laporan yang pernah mereka sepakati. Semua masih akan tertata rapi, jika sorot keingintahuan Sakura tidak terungkap.
"Setidaknya Anda harus membayar janji." Sakura mendesis sinis.
"Semua masih berjalan sesuai rencana."
"Oh, ya. Kalau begitu, Anda tidak perlu melarang saya untuk mengikuti pertemuan berikutnya."
"Tidak. Kau tetap dalam kastil." Sakura mendengus sinis.
"Itu tidak akan menjadi keputusan Anda, jika saat itu aku mendapatkan laporan lain." Sasuke masih bergeming ditempat. Memperhatikan raut cantik yang warnanya telah kembali, setelah beberapa bulan lalu pucat selalu menghiasi.
"Oh. Satu lagi. Dan apakah kewajibankusudah tidak diperlukan lagi? Itu bagus." Tiba-tiba Sakura merasakan sesak. "Ini menambah nilai kedua untuk aku bisa kembali menjalani tugas sebagai kage."
Sasuke berjalan tanpa menghiraukan, jubah kebesarannya ia hempaskan pada sandaran sofa kamar, kemudian mendudukan dirinya diujung kasur. Memandang Sakura yang telah mengepalkan kedua tangannya, menandakan untuk mendekat.
Dalam hati Sakura menjerit menolak, tapi langkah kakinya tidak mengikuti, biarpun begitu, Sakura menunggu jawaban 'ya' atas segala permintaannya.
Sasuke menarik Sakura dalam pangkuannya. Membuatnya tersentak kaget. "Diamlah!" Mendengar nada Sasuke yang masih tenang, Sakura berhenti memberontak, walaupun posisi seperti ini membuatnya tidak nyaman untuk mengobrol.
"Aksi nekat mu waktu lalu, akan membahayakan mu."
"Tidak akan."
"Kau harus tetap menjaga kesehatanmu."
"Aku sangat sehat."
"Sakura, berhenti cemburu. Kau tahu aku pria beristri tiga. Satu hamil. Memungkinkan dua lagi mengalami hal serupa."
"Anda terlalu percaya diri. Hal itu tidak akan pernah terjadi padaku."
Sasuke memiringkan kepala, menatap lekat langsung manik emerald dengan seringai yang terlihat sexy bagi Sakura, seketika membuat gugup merajai.
"Kita sedang berbicara, jangan tiba-tiba seperti ini." Bisik Sakura lirih, saat mulut Sasuke merangsek disela-sela lehernya. Menolak, tidak, ia begitu menikmati setiap sentuhan Sasuke.
"Sasuke..." Rengek Sakura.
"Hn." Sasuke memilih tidak perduli. Sekarang, kebutuhannya adalah memuaskan sesuatu yang sudah mengeras dibawah sana. Tiga bulan menghindari karena kesehatan Sakura, membuatnya mau tak mau puasa. Atau kadang-kadang mendatangi kedua selir yang lain, malah selalu membuat emosi karena rasanya berbeda. Tidak pernah puas.
"Aku ingin berbicara dulu." Posisi keduanya sudah menjadi terbaring, dengan Sakura yang sudah berantakan berada dibawah kekuasaan Sasuke.
Sasuke hanya menanggapi dengan memasukan kejantanannya tanda ia tak akan mendengarkan.
"Ouh sial, Sasuke." Kesal, Sakura memilih mengikuti permainan Sasuke.
Baiklah, Sasuke akan mengampuni kekurangan ajaran Sakura saat bercinta kali ini. Oh, karena berikutnya racauan sexy Sakura lebih mendominasi, sehingga gairah Sasuke semakin meningkat.
"Berpasrahlah Uchiha Sakura."
.
.
.
.
.
Sakura merutuki hari yang sudah gelap. Tubuhnya lengket dan pegal sana sini. Selalu. Bercinta dengan Sasuke berujung pada tubuhnya yang keram.
Sasuke masih tertidur pulas disampingnya. Seolah tidak tidur berhari-hari. Sakura jadi berpikir apakah dia terlalu lelah dengan tugas kekaisaran, tapi bahkan Sasuke jarang bedada di Konoha akhir-akhir ini. Jika masalah di Pegunungan Miyaboku, pasti masalahnya tidak sesederhana seperti yang tadi dikatakan, kan. Apa yang Sasuke sembunyikan? Dan kejadian Shion. Sakura tak habis pikir, dia lupa menanyakan ini pada Sasuke tadi.
"Tidur lagi, Sakura." Sasuke lebih mengeratkan pelukan pada pinggangnya.
"Tidak, kita harus bangun." Sasuke tidak perduli dengan ajakan Sakura.
"Ish. Bangun sekarang, My Lord. Anda harus makan. Malam akan semakin larut." Dengan terpaksa, Sasuke menyadarkan diri pada kepala ranjang. Matanya benar-benar lelah. Sakura benar, mereka harus makan. Sasuke harus siaga. Dan Sakura harus sehat. Hanya itu yang Sasuke yakini.
.
.
.
.
.
Suatu pagi, Sakura nekat pergi ke luar diam-diam. Sasuke sedang berada di Pegunungan Miyaboku. Secara tiba-tiba, menolak keras saat ia juga ingin bergabung.
Setelah beberapa kali mendapatkan jawaban serupa, Sakura tak lantas puas untuk percaya. Penjagaan disekitar kastil juga semakin diperketat diam-diam, walaupun terlihat tidak mencolok tapi Sakura tahu, setangkas apa bawahan milik Naruto. Dan Sakura tak mau melewatkan kesempatan disaat mereka sedang sibuk seperti ini, celah untuk kabur.
Masalah kehamilan Shion pun, Sakura tanggapi dengan miris. Sasuke tidak menjelaskan secara langsung. Tapi penjelasan Hinata saat berkunjung ke kastil untuk mengajak main Boruto, membuat Sakura mengerti tindakan Sasuke.
Permusuhan mereka beberapa tahun lalu, tak membuat ia lupa tentang perangai Sasuke yang mengutamakan tindakan daripada berkata, termasuk dalam menghukum seseorang.
Sakura bahkan tak perlu repot-repot menunjukan segala bentuk kasihan kepada Shion, membenci pun tidak. Sasuke sudah bertindak, ia hanya perlu menyaksikan. Kecemburuan antar istri biasa terjadi, dan jika salah langkah menyebabkan bunuh diri. Seperti shion yang menerima akibatnya, jika wabah ini masih berlanjut, maka kan menjadi mimpi buruk hingga masa persalinan tiba.
Sakura telah sampai di pusat kota Konoha, ini masih jam kerja, kebanyakan dari mereka masih berkutat dengan kegiatan masing-masing. Tapi seiring langkah, Sakura akan tepat berada di pusat makanan, tempat sebagian besar warga yang akan datang pada jam makan siang, Sakura hanya perlu menemukan tempat untuk dirinya.
Benar saja, tak sampai harus menunggu lama. Bahkan minuman dan makanan yang ia pesan pun belum tersaji, tapi berbondong-bondong lautan manusia mulai melupakan pekerjaan mereka. Sakura tidak lapar atau haus, itu jelas bukan tujuannya. Pun dengan larangan makan sembarangan masih Sakura tata apik setiap kali mengingat ekspresi kecewa Sasuke.
Termasuk kedai yang Sakura kunjungi, sama ramainya dengan kedai-kedai lain. Posisi Sakura cukup pas untuk melihat kondisi luar kedai yang mengarah pada pemandangan luar lainnya. Suara bising dari obrolan menjadi polusi. Mendominasi. Sakura bersyukur penyamaranya tidak diketahui, mengingat rambutnya yang pasti sangat mencolok sehingga mudah untuk dikenali.
Sakura membeku. Berpikir bingung. Dan tatapannya memicing curiga. Hal yang harus Sakura acungi jempol, di wilayah Konoha tidak membatasi pergerakan setiap perempuan untuk bekerja, tidak menjadikan laki-laki diatas segalanya dari perempuan, sehingga pada saat sekarang pun tak terlalu didominasi oleh kaum laki-laki, sebagian besar kaum wanita Konoha cukup mandiri ternyata. Ya, mereka bukan dari kalangan bangsawan, dan sistem perbudakan sudah Sasuke berantas. Sangat berbeda untuk beberapa negara lain, yang sangat sulit bagi perempuan bukan bangsawan untuk merdeka. Tapi itu bukan fokus Sakura saat ini, sekarang yang Sakura perhatikan ada hampir sekitar 35% wanita berperut buncit, hanya yang terlihat dan hanya dikedai ini.
Jika Sakura tak salah menghitung, seharusnya wanita yang tengah mengandung hanya akan semakin sedikit. Atau hampir tidak ada. Mereka yang kebetulan hamil ditengah bencana pasti dalam keadaan hamil tua atau hampir telah melewati masa persalinan. Tapi kali ini adalah lain. Mereka berada diusia muda, dengan usia kehamilan masih terhitung muda. Dan ada banyak. Apa bencana ini telah lewat tanpa diketahui Sakura atau justru keadaan diluar tidak terjangkau untuk informasinya.
"Boleh saya bergabung, didepan nona masih kosong, dan tempat disini sudah hampir penuh?" Renungan Sakura berhasil dibuyarkan oleh seorang gadis, tidak, wanita muda yang tengah hamil muda, meminta izin untuk tempat duduknya.
"Silahkan." Dengan canggung Sakura mengangguk. Sakura tidak pernah berbicara pada orang asing sebelumnya. Tidak termasuk pada pertugas pada setiap negara. Terbiasa ditemani oleh orang terdekatnya.
"Nona, sepertinya tidak selera makan." Wanita itu tidak melewatkan untuk membuat suasana sepi ternyata. "Ah, nama saya Lily. Nona?"
Sakura tersenyum ramah. "Rara."
"Apa Nona Rara bekerja disekitar sini?"
"Tidak, saya habis jalan-jalan dari pasar, lalu mampir untuk makan." Sakura tidak berbohong, dia memang melihat pasar walaupun tidak sampai berlama-lama.
"Dan sekarang, makanan nona masih utuh." Decak halus Lily.
"Ah hanya tiba-tiba kenyang." Sakura gelagapan ketika menjawab.
"Bagaimana mungkin, nona pasti hanya ingin berteduh dari terik matahari kan. Nona memang terlihat orang kaya, tapi biarpun begitu jangan membuang-buang makanan." Alis Sakura mengkerut dalam. Sakura pikir pakaiannya cukup bisa menutupi latar belakangnya. Berteduh? Mungkin memang benar.
Sakura hanya menanggapi dengan senyuman kaku. "Kau bisa memakannya jika mau."
"Benarkah?" Muka Lily berkaca-kaca. Sakura mengangguk bingung dengan ekspresi tiba-tiba itu.
"Makanan yang nona pesan paling mahal disini, dan aku sudah sangat mengidam sudah sejak lama, tapi apa daya, harus menabung untuk persalinan nanti." Wajah Sakura menyendu mendengarnya. Merasa miris dengan keadaan mereka yang berbeda jauh. "Walaupun ada pihak kekaisaran yang menjamin rakyat ditengah bencana seperti ini. Tetap saja, sesuatu seperti sebelum dan sesudah harus dipersiapkan, pasti membutuhkan biaya." Lily mengambil makanan Sakura, menikmati dengan wajah berbinar, sebelah tangannya membelai perut yang sudah menyembul.
"Dimana suamimu?"
"Suami?" Tatapan Lily menyendu. "Ini adalah kesalahan kami, beberapa dari kami mengabaikan peringatan kekaisaran. Nona tahu tentang bencana yang meresahkan para wanita?" Sakura mengangguk ragu.
"Bukankah telah selesai?" Lily berdecak sebal.
"Jangan bilang siapa pun. Aku hanya memberitahu nona, karena nona terlihat polos. Ada salah satu pengawal yang bilang bahwa semua ini akan selesai jika istri baru kaisar berhasil melahirkan normal."
'Siapa yang membocorkan ini?' batin Sakura.
"Hah tapi bahkan sampai sekarang wanita itu tak kunjung hamil. Malah selir lain yang hamil. Jadi nona, masalah ini belum selesai." Ada tangan tak kasat mata yang meremas ulu hatinya. Sebesar ini efek dari kegagalannya.
"Aku wanita bebas. Bayi ini tidak punya ayah. Nona pasti bingung, karena sepertinya nona tidak pernah keluar rumah. Kami memanfaatkan obat kontrasepsi yang dijual kekaisaran sehingga tidak terlalu peduli dengan bencana. Siapa sangka, kontrasepsi tetaplah buatan tangan manusia, tidak bisa mengalahkan sperma karya pencipta alam." Alis Sakura semakin mengernyit bingung.
"Wanita disana juga wanita bebas sepertimu?"
"Ah itu Anne, dia bersuami. Sudah ku bilang kontrasepsi hanya pengalih untuk tidak khawatir, mereka masih menikmati nuansa suami istri, benar-benar memanfaatkan penyuluhan untuk tetap bisa bercinta."
"Nona, tidak semua yang ku maksud wanita bebas adalah seorang geisha atau pelacur. Mereka yang bahkan baru menginjak remaja tengah diuji rasa ingin tahunya akan hubungan orang dewasa, bersama kekasihnya."
"Kau sendiri?"
"Kekasihku yang melakukan, aku sudah dewasa. Keluarga ku menganggap ku aib, siapa yang tidak, aku hamil tanpa pernikahan, aku diusir. Keluarga kekasihku tak merestui karena aku miskin, berakhir seperti ini. Tapi setidaknya aku bersyukur, My Lord memiliki kepekaan luar biasa, sehingga pendidikan mengenai sex bebas terjadi dimana-dimana. Beruntung mereka yang pernah mendengar sebelum mencoba, setidaknya itu saja bisa menyelamatkan beberapa kaum wanita, kan." Lily tersenyum pedih. Berbeda dengan Sakura yang sudah diselimuti kabut emosi.
'Kau membohongiku, Sasuke.'
"Kadang aku berpikir, bagaimana dengan negara lain, apa hanya Konoha saja, secara garis besar aspek kehidupan Konoha sangat bebas, walaupun tetap dibentengi peraturan kekaisaran."
Benar. Sesungguhnya Sakura tidak perlu peduli dengan mayoritas kehidupan di Konoha, tapi apa kabar dengan negaranya. Sejauh ini baik Sasori ataupun Jirayya tidak pernah berkata apapun tentang kasus lain, yang menyatakan masih ada wanita lagi yang nekat hamil ditengah bencana.
"Nona tampak melamun. Jika nona ketakutan, jangan terlalu dibuat khawatir. Ikuti penyuluhan saja. Saranku, asal jangan melakukan sex dulu, kau akan aman." Mana mungkin.
"Nona, maaf aku harus pergi, jam istirahat sudah hampir selesai, terimakasih untuk makanannya."
Sakura menampilkan senyum paksa. "Kau ingin makanan lain, ambil saja, aku akan membayar."
"Ah aku malu, bayi ini membuatku malu, bagaimana kalo cake strawberry?"
"Ambil saja."
"Terimakasih."
"Terimakasih juga untuk informasinya." Sakura menjawab lirih, memandang Lily yang sudah menjauh. "Sasuke, kau membohongiku."
.
.
.
.
.
.
Sakura dikejutkan dengan kehadiran Sasuke dalam kamarnya. Sedang menatapnya tajam. 'Bagaimana mungkin Lord sudah kembali?'
Setelah menyadari apa yang ia temukan, Sakura tak harus merasa terintimidasi dengan kemarahan Sasuke. Ataupun tatapan yang bisa melubangi tubuhnya.
Sakura menantang tatapan itu, menganggap semua yang ia lakukan adalah benar. Bukan suatu pertentangan dimana ia harus menuruti apa kata Sasuke lagi. Tapi bukan itu yang Sakura harapkan dari sikap menantangnya, tatapan Sasuke menyiratkan kekecewaan.
Kemarahan suaminya bukan hilang tak berbekas, tapi terselimuti rasa lain yang justru membuat Sakura goyah. Tanpa sadar keheningan ruangan, membuatnya menjadi serba salah.
Sasuke bangkit dari duduknya, tak perlu lagi merasa harus menghakimi, selesai dengan pengamatannya hari ini, mengecewakan.
Tidak akan ada kata maaf yang akan lolos dari bibir merah jambu itu. Yang ada, Sasuke akan emosi setiap mengingat kenekatan Sakura. Setelah cukup memastikan wanitanya baik-baik saja, Sasuke lebih baik mundur. Sebelum Suara merdu itu berhasil menghentikan untuk membuka pintu.
"Kemana?" Sakura tahu Sasuke pendiam. Tapi tak pernah mengabaikan sesuatu diluar keinginannya. Tak pernah meloloskan pendosa untuk tidak dihakimi. Dan itu sedikit menyentil ego Sakura.
"Pertanyaan itu cocok untuk mu." Posisi mereka masih dalam zona lurus, dimana Sasuke masih berada didepan pintu membelakangi Sakura. Tak tahu masing-masing wajah menunjukkan ekspresi seperti apa.
"Tapi Anda tidak bertanya?" Sakura menantang Sasuke, dagunya terangkat angkuh. Sebelum lagi-lagi semua runtuh dengan pengabaian Sasuke.
"Nikmati hari bebasmu." Sebuah kalimat yang Sakura yakini tak membutuhkan jawaban pada alur obrolan mereka. Benar-benar tanda penutup, ditambah sosok yang telah memergoki aksi kaburnya hari ini, benar-benar telah hilang dari kamarnya.
Sasuke menolak menjelaskan, Sakura tahu dari gestur kokoh suaminya yang enggan jika topik hari ini diangkat menjadi perdebatan.
Sekarang berbalik Sakura yang justru diliputi emosi. Merasa dirinya bahkan bernilai tidak ada artinya. Perasaan kesal itu tiba-tiba meluap begitu saja. Satu pun dari rasa bersarang sesak itu mampu untuk diluapkan.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya Sakura bertekad untuk memberontak pada Sasuke. Terserah jika ini akan menjadi perdebatan panjang, tak peduli juga jika ini akan menjadi keributan-keributan lainnya dalam rumah tangga politik mereka. Pokoknya terserah.
Tapi lagi lagi semua tampak mudah untuk didapatkan dari seorang Uchiha Sasuke yang ingin selalu mengendalikan.
"Tarik semua penjagaan ketat di kastilku, mataku sakit melihat mereka." Adalah permintaan Sakura saat mendapatkan izin menemui Sasuke. Naruto maupun Kakashi hanya menggeleng ringan mendengar permintaan Sakura.
"Hn." Sasuke mengangguk setuju, tatapan menandakan kode perintah bagi Naruto. Lalu kembali pada berkas dihadapannya. Membuat Sakura berdecak kesal.
"Kapan rapat kage diadakan lagi?"
"Sepuluh hari lagi." Sasuke masih menyahut dengan nada biasa rupanya.
"Kali ini, aku akan ikut." Kali ini Sakura akan menyeringai atas perhatian Sasuke. Dia berhasil menolehkan pandangan dari berkasnya.
"Akan dipersiapkan." Seringaian itu luntur, Sasuke tak menghakiminya kemarin, dan sekarang ia juga tidak terlalu dikekang. Lantas apa arti kekosongan yang dia rasakan saat ini.
"Ada lagi?" Saat perhatian Sasuke yang diberikan untuk Sakura, malah justru diabaikan oleh lamunan tak tertebak.
"Aku juga akan keluar masuk kastil, memastikan keadaan dengan kedua mataku sendiri, tidak ditipu lagi." Menyendir. Sasuke tahu itu.
"Lakukan. Setidaknya bawa Kurenai jika pengawal membuat mu risih." Kali ini benar-benar seperti mimpi, semudah ini?
"Satu lagi, cepat buat aku hamil. Kita selesaikan masalah ini dengan cepat. Aku sudah cukup muak dengan kerjasama ini." Sakura menggebrak meja pelan. Kekesalan yang telah bertumpuk. "Setelah itu biarkan aku menjalani kehamilan di Istana Haruno, disini benar-benar membuatku stress."
"Kita sedang berusaha." Kali ini Sasuke benar-benar menunjukan kekecewaan. "Semuanya akan dipersiapkan."
Sakura menarik langkah mundur. Menatap nanar pada Sasuke yang akan kembali beralih pada berkasnya. Sasuke sedang marah, emosinya sangat rapi kali ini. Tapi justru malah sebagian besar tubuhnya merasa gemetar. Sasuke marah. Tapi tidak emosi. Pria itu menahanya sendiri. Sefatal apa kesalahannya, sebesar apa kemarahan Sasuke jika diluapkan. Tidak. Justru ia harus memanfaatkan kesempatan ini. Pulang adalah kata mustahil bagi pernikahan politik antar negara. Namun Sasuke kali ini melepaskan. Kenapa baru sekarang. Pada saat kondisi hatinya yang sudah pasrah pada kekuasaan hati Sasuke. Sejenak Sakura merasa terbuang.
"Aku benar-benar membencimu, Uchiha Sasuke." Sakura menekankan pada setiap kalimat. Wajahnya memerah karena emosi. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis.
"Telah membenciku selama bertahun-tahun tak lantas membuatmu mati. Lakukan seterusnya, semua akan baik-baik saja."
"Jika anak ku lahir nanti, jangan harap dia akan menjadi bagian dari Uchiha."
"Ya. Didiklah dia menjadi seperti Haruno, aku menitipkan segalanya padamu. Kalian akan menjadi pahlawan luar biasa dimasa depan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Airmata Sakura sudah tak mampu lagi untuk dibendung, semua tumpah ruah. Sasuke benar-benar akan melepaskannya. Naruto dan Kakashi yang sejak tadi mendengarkan hanya terdiam, tidak lagi merasa perlu menggoda kelakuan istri junjungan mereka. Semua tahu bagaimana perasaan Sasuke saat ini.
"Kalau begitu untuk apa bayi itu nanti ada. Seharusnya dia tak pernah hadir, kan? Itu mengapa dia sampe hari ini belum datang. Dia tahu, menyatukan kedua negara yang saling bermusuhan tak akan pernah berhasil." Sakura tak perlu lagi membendung emosi. Harga dirinya sangat terinjak sekarang. Sakura ingin Sasuke marah, entah untuk apa. Tapi setidaknya, Sakura bisa tahu sebesar apa kepedulian Sasuke.
"Queen Sakura, itu pun jika kau tega kaum mu dimusnahkan."
Kali ini Sakura mencemooh Sasuke. "Tanpa kaum wanita, pria pun akan musnah."
"Setidaknya kaum wanita tidak harus menyaksikan seberapa turunnya harga diri kaum kami karena tak mampu melindungi wanitanya. Karena kami telah membuat mereka istirahat dengan layak sebelum kami mati secara perlahan." Sakura semakin tergugu, Sasuke masih memuliakan seorang wanita. Seperti ia yang selalu menghormati ibunya dulu.
"Kembalilah ke Kastil Blossom, Queen. Semua akan semakin buruk jika dilanjutkan." Sakura lebih memilih menjadi penurut. Sasuke telah berbaik hati menerima permintaan yang dilakukan secara spontan, yang justru membuatnya merasa menyesal.
.
.
.
.
.
Benar. Sasuke tak main-main menuruti permintaan Sakura. Geram, tentu saja. Kastilnya hanya tersisa oleh orang Sakura saat belum terjadi keracunan. Pun dengan persiapan rapat kage, Kakashi dengan telaten menjelaskan apa yang telah Sakura lewati. Terutama tentang obat kontrasepsi yang digantikan dengan obat penyubur. Sangat biadab sekali pelakunya ini. Juga musuh yang semakin mengganggu jalannya kinerja bangsa Shinobi. Pernah terjadi gagal panen tanaman obat. Pernah terjadi kebakaran salah satu gudang pangan. Pembegalan dijalan saat menjalankan tugas. Ternyata kasus Lily juga tidak hanya terjadi di Konoha, tapi hampir disetiap negara. Terutama para budak dan geisha. Sakura hampir menangis mendengar semua ini.
Semua para kage disibukan dua tugas. Tugas menyelamatkan bangsa Shinobi di Pegunungan Miyaboku sangat penting, tapi tugas sebagai pemimpin negara tidak kalah penting. Perombakan jadwal pertemuan sering terjadi. Sakura menyesal selalu merutuki Jirayya atau Sasori yang telat memberi laporan, pun ia yang suka menyepelekan Sasuke akan perhatiannya.
Satu yang lebih penting lagi. Gulungan dari bangsa Ootsutsuki juga telah sampai ke tangan musuh. Itulah mengapa pertemuan kemarin bersifat darurat. Musuh tahu apa yang mereka cari sekarang, dirinya. Bukan aksinya dulu yang terbilang nekat menyerang salah satu dari mereka. Tapi karena isi gulungan. Walaupun Kakashi berkata belum tentu mereka berhasil menterjemahkan, karena gulungan tersebut telah kembali ke tangan Sasuke. Sakura berpikir lain, pun yakin dengan yang lainnya untuk semakin waspada, terutama dirinya.
Berbicara tentang kewaspadaan Sasuke, justru ia melimpahkan kepercayaan pada Sakura terlalu tinggi. Terbukti dengan Kastil Onyx yang menarik lagi pengawalan atas permintaannya. Sakura yang menyamar hanya dengan membawa Kurenai, seperti katanya. Dan Sakura benar-benar dibebaskan untuk lainnya. Tapi hanya ketika bersama Sasuke, Sakura merasa benar-benar aman.
"Cukup untuk hari ini, aku lelah."
.
.
.
.
.
"Baik, My Queen. Saya akan memanggil Kurenai agar Anda bisa beristirahat." Sakura mengangguk setuju. "Kalau begitu, saya permisi."
"Aku mendengar kau belum bangun sejak siang tadi. Kenapa?" Tanya Sasuke begitu masuk dalam kamar sambil melepas jubah yang membungkus tubuhnya.
"Malas."
"Sakit?"
Sakura berdecak pelan. "Hanya malas, My Lord."
"Sudah makan malam?"
"Tidak selera."
"Harus tetap makan!"
"Saya malas untuk malam ini." Sasuke hanya mengangguk setuju. Dia tak akan memaksa untuk menggauli wanita yang sedang tidak berselera.
"Harus tetap makan!" Sakura hanya mengangguk sambil menggerutu kesal.
.
.
.
.
.
Sakura terus memuntahkan semua isi perutnya. Sudah sejak pagi. Dia terbangun karena gejolak yang terus mengocok perut kosongnya. Sasuke yang juga ikut terbangun, menyerah membantu Sakura yang nampak sensitif, dengan emosi sangat tidak terkontrol, lebih memasrahkan segalanya pada Kurenai untuk menghindari ribut-ribut di pagi hari.
Sejak awal Sakura menolak didatangkan dokter. Jadwal rutinnya hanya tinggal menghitung hari adalah alasannya. Tapi Sasuke tetap berpesan jika Sakura masih seperti ini sampai siang, Kurenai harus bertindak.
"My Queen sejak pagi muntah-muntah, dokter. Asupan makannya juga tidak bagus sejak kemarin, sehingga beliau hanya memuntahkan cairan kuning." Info Kurenai begitu Dokter Biwako masuk.
"Ah, mungkinkah ini gejala?" Sakura tidak memperdulikan obrolan mereka. Tubuhnya lemas, pun dengan kepalanya yang pening. Perutnya masih sangat mual. Sudah tidak ada yang perlu dimuntahkan sehingga menjadi perih.
"Apa selama dua minggu ini Anda mengalami menstruasi, My Queen?"
Sakura berdecak kesal. "Dokter, hari ini bukan jadwal cek kehamilan. Kau, ada disini karena aku sakit. Jadi jangan melenceng."
Biwako tersenyum menanggapi. "Bagaimana jika saya katakan ini adalah tanda-tanda kehamilan?" Sakura terdiam linglung. Kurenai disampingnya sudah nampak sumringah. Sedikit pun tak mempengaruhi Sakura yang larut dalam lamunan.
"Mari saya periksa, My Queen."
"Aku tidak menstruasi selama dua minggu ini."
"Baik, My Queen. Bisa saya periksa sekarang?"
"Ya." Lirih Sakura.
Sakura memperhatikan jalannya pemeriksaan kali ini. Berdebar. Entah mengapa kali ini terlihat berbeda. Harapan itu bergejolak. Dan semakin membuncah saat melihat senyum tanpa paksaan milik Dokter Biwako.
"Selamat, My Queen. Anda positif hamil."
Reflek Sakura memeluk perut ratanya. Buah cintanya yang mereka nantikan. Harapan yang semoga menjadi harapan dunia Shinobi akan segera lahir. Airmata haru tak bisa terbendung. Semua rasa takut sebelumnya saat ia akan menghadapi ketidakpastian ini musnah. Anak adalah berkah. Pembawa senyuman bagi seorang ibu. Dan Sakura mempercayai itu sekarang. Ia menangis karena terlalu senang. Ia akan menyambut seseorang yang akan memanggilnya ibu. Lily benar, seburuk apapun bencana ini. Ia tetap akan senang karena seseorang telah tumbuh menumpang hidup pada rahimnya.
"Oh, My Lord. Perjuangan kita." Sakura berkata lirih, tapi siapapun tahu, sinar binar berbaur airmata itu adalah bentuk syukur.
"Selamat, My Queen." Kurenai memeluk Sakura dengan senang. Disambut anggukan senang Sakura sebagai tanda terimakasih.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hi, guys...
Apa kabar?
Selamat menjelang siang...
Ada yang masih nunggu cerita yang ini gak?
Gimana menurut kalian?
Pisah atau bersatu?
