Hi, guys. Selamat pagi.
Tetap jaga kesehatan agar imun tetap kebal dan jauh dari wabah yang sedang melanda dunia.
Btw, berbicara dengan wabah, cerita ini juga begitu kan. Cuman ini hanya cerita, penanganan tak masuk akal pun dibuat benar. Hanya aku merasa menggampangkan sesuatu dari realitas.
Kalian gak terlalu mempermasalahkan dunia fiksi aku, kan?
Ini alurnya benar-benar ngarang bebas, pun dengan wabah yang menjadi cerita pembuka.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
Sudah tiga hari, Sakura uring-uringan mengurung diri dalam kamar. Hormon kehamilan membuat hari-harinya tidak lagi terkontrol. Mudah emosi, mudah bersedih, dan tiba-tiba tertawa untuk sesuatu yang tidak lucu. Perutnya lapar, tapi tak satupun bisa ia telan. Mual, pusing, lelah menjadi campur aduk. Saking dikocoknya, hampir tiap waktu ia memuntahkan isi perutnya yang sudah tidak berisi lagi.
Juga, bayinya merindukan sosok ayahnya. Ya, hanya bayinya, bukan dirinya. Ia akan menolak keras kata rindu pada sosok ayah baru yang belum menunjukan batang hidungnya bahkan sejak pertama kali bayinya dikabarkan ada. Pertemuan terakhir mereka adalah pagi penuh drama itu, yang membuat Sasuke pusing hingga menyerah menghadapinya.
Inikah yang dirasakan Shion? Hanya dipantau kesehatannya. Memastikan semua baik-baik saja dan berjalan lancar. Tahu kabar pun hanya karena laporan dari bawahannya. Kemudian terkurung dan tidak bebas bisa keluar kastil. Sungguh calon ayah yang buruk. Ya, meskipun hanya berlaku untuk Shion, tidak berlaku untuk dirinya yang sudah dibebaskan.
Katanya Sasuke pergi lagi, ada tugas yang perlu dipantau diluar ibukota. Bahkan kehamilannya tidak disambut bahagia dan Sakura kesal dengan ketidak pedulian kekaisaran yang tidak ada semacam pesta perayaan. Katanya ada tugas dadakan. Jadi, tugas kekaisaran lebih penting dari segalanya daripada calon penerus tahtanya? Brengsek. Ya, Sasuke memang sebrengsek itu. Setelah apa yang telah ia lakukan untuk berpasrah di penjara bernama kemegahan kekaisaran, ia juga akan rela jika Sasuke benar-benar melepaskannya. Tidak lagi menggebu-gebu untuk mempertahankannya. Oh, katakanlah ini bukan emosi karena namanya hormon kehamilan. Yang katanya wanita hamil memang labil. Tidak, Sakura tak ingin disalahkan. Sasuke salah, dan ia benar. Itu adalah kesimpulan akhirnya. Namun, ugh.. Ia ingin Sasuke ada disini, hanya untuk menenangkan anaknya yang rewel kendati bayinya belum lahir. Ya, anaknya lagi. Kenapa sih dengan anak ini yang begitu manja pada sosok itu.
"My Queen, minum vitamin nya lagi, ya? Setelah itu anti mualnya. Anda, harus makan agar tidak lemas." Sakura bersyukur disaat seperti ini, Kurenai masih bersabar menghadapinya. Setelah diingat kembali justru ia yang dulu gigih mengusir Kurenai dari sisinya. Selain Kurenai saat ini, Sasuke menugaskan Shizune untuk merawatnya. Padahal ia bergelar dokter, tapi mau saja diminta untuk jadi perawat. Ya, siapa juga yang bisa melawan Sasuke? Tapi lagi-lagi Sasuke hanya mengandalkan bawahannya hanya untuk memastikan kondisi ibu dari anaknya baik-baik saja. Oh bolehkah ia mengumpat? Padahal ia sudah mengumpat sosok itu berkali-kali.
"Tidak mau, mual." Sakura menutup mulut sebal.
"Sabar, My Queen. Paksakan sebentar saja. Bayi Anda perlu nutrisi agar sehat dan berkembang dengan sempurna."
"Dia sudah sangat sehat, lihat dia terus menerus memproduksi rasa mual. Harusnya dia diam sebentar biar ibunya bisa makan. Dia kira aku tidak lapar. Huhh. Anak nakal." Omel Sakura gemas, lengannya mengelus lembut perutnya, berharap dia mau mendengarkan sejenak saja. Tapi nihil. Dalam bayangnya, Sakura semakin ingin mencubit gemas pipi bayinya, hanya saja masih belum terbentuk apapun.
Kurenai dan Shizune terkekeh menertawakan Sakura, terlihat lucu, namun kadang prihatin karena junjungannya kesulitan untuk makan. Padahal berulang kali Sakura mengeluh lapar.
"Minum obatnya dulu, biar mualnya sedikit berkurang." Shizune menyodorkan dua butir obat yang mau tak mau harus Sakura paksa telan.
"Aku ingin makanan berkuah, asam pedas." Membayangkannya saja sudah membuat Sakura ingin menetaskan air liur.
"Olahan ikan atau daging?"
"Tidak keduanya, aku mual mendengarnya."
"Ah baik, saya akan memberitahu koki dapur."
"Ingat harus pedas! Jangan membantah! Apalagi mengganggu selera makan ku lagi." Sakura bermaksud tegas. Tapi lihat raut kelelahan mana bisa disebut tegas.
Sakura memang selalu kesal dengan makanannya yang kurang pas menurut lidahnya. Ia ingin asam dan pedas, sangat. Tapi kedua maidnya ini seolah kompak mengurangi kadarnya. Kesehatan katanya. Omong kosong. Liurnya sudah akan menetes kapan saja untuk makanan idamannya.
"Apa My Lord sudah kembali?" Sakura bertanya pada Maid yang tertinggal satu.
Shizune tersenyum hangat, mungkin sudah terbiasa karena Sakura tak pernah absen menanyakan kabar Sasuke. "Sekarang belum, My Queen. Tapi saya dapat kabar jika My Lord akan pulang sore ini."
"Lama sekali." Eluh Sakura.
"Hanya tinggal 4 jam. Mungkin sekarang My Lord sedang dalam perjalanan." Sakura mengangguk senang. Pikirannya sudah sangat liar kemana-mana.
Pintu terbuka menampilkan Kurenai yang masuk bersama maid lain yang membawa nampan makanan.
"Nah, My Queen makan dulu, setelah itu bisa istirahat sebelum bertemu My Lord." Bujuk Shizune.
"Dipaksa makan, My Queen. Agar kuat ketika My Lord sudah datang." Kurenai ikut membujuk saat melihat raut Sakura yang enggan menyantap makanannya.
"Mau yang lebih asam dan pedas dari ini. Sekali saja." Rajuk Sakura. Dan hanya mendapat gelengan tegas dari Shizune.
"Itu tidak baik untuk lambung Anda nantinya. Segini saja, ya." Shizune membujuk Sakura lagi.
"Tapi rasanya kurang pas, lidahku pahit."
"Pelan-pelan saja. Anda harus punya tenaga agar bisa pergi ke Kastil Onyx." Dengan berat hati Sakura mengikuti bujukan kedua maidnya. Secara perlahan-lahan. Menahan mual.
.
.
.
.
.
Berita kepulangan Sasuke dari luar ibukota, membuat Sakura senang luar biasa. Entah karena apa. Tapi ada rasa membuncah yang siap meledak. Sakura meminta maidnya mendandani secantik mungkin. Ia ingin tampil maksimal, dan menutupi wajah pucatnya. Dan Sakura takjub dengan anaknya yang ikut mendukung, tidak bertingkah yang membuatnya lemas.
"Dedek anteng ya sore ini." Senyuman Sakura menular pada Kurenai dan Shizune yang sedang bertugas.
"Anda sangat cantik, My Queen." Puji Kurenai.
"Benarkah, aku tidak boleh terlihat pucat."
"Semua beres, My Queen." Sakura kembali berseri.
Setelah semua siap Sakura didampingi Kurenai segera menuju Kastil Onyx, langsung ke kamar utama. Berharap Sasuke masih membersihkan diri atau sedang istirahat dan tidak kembali berkutat dengan dokumen yang membuat Sakura mual membayangkannya. Padahal itu juga salah satu tugasnya, sebelum menjadi istri Sasuke. Sekarang, Sakura menggeleng tak mengerti dengan keadaannya sendiri.
Oh dan apa yang Sakura dapatkan? Kamar utama kosong. Tak ada jejak apapun yang menandakan Sasuke tengah kembali. Apa Sasuke serajin itu, hingga datang-datang langsung pergi ke ruang kerja. Merusak mood sekali dokumen itu.
"Apa perlu saya tanyakan pada dayang yang bertugas, My Queen?" Tanya Kurenai yang mengerti raut mendung yang menghiasi wajah Sakura.
"Tidak." Sakura menggeleng pelan. "Kita pergi ke ruang kerja Lord saja. Dia pasti masih disana. Setelah itu kita seret dia." Ucap Sakura main-main. Lagi, Kurenai tertular senyum Sakura yang kembali semangat. Benar-benar emosi Sakura yang sedang jungkir balik.
Sakura memasuki ruang kerja Sasuke sama seperti biasa, tanpa mau mendengarkan kata pengawal dan memilih merangsek masuk tanpa harus mengumumkan kedatangannya. Tapi yang Sakura dapati disana hanya Naruto, baru saja selesai membersihkan diri, terlihat dari ujung rambutnya yang masih basah. Ikut menatapnya juga, sehingga ia yang berniat duduk tidak terselesaikan. Dan Sasuke, tidak ada.
"Dimana My Lord?" Tatapan Sakura tertuju pada Naruto. Tidak ada raut senang yang menggebu. Ia hanya ingin tahu keberadaan Sasuke.
"Umm. Anda perlu sesuatu dengan My Lord, Yang Mulia?" Naruto berbalik tanya, yang justru membuatnya memicing curiga.
"Kau hanya harus menjawab." Masih menolak untuk meninggalkan raut tidak senang.
"Katakan saja, My Queen. Akan saya sampaikan." Tingkah pecicilan Naruto yang selalu mengejeknya hilang. Terganti dengan raut lelah yang sudah sedikit fresh. Mungkin juga tak mau diganggu.
"Dimana My Lord?" Sakura sudah tak sabar dengan obrolan yang berputar-putar.
"Aku dengar dia sudah kembali. Aku sudah mencarinya di kamar utama. Tapi kosong. Dimana dia sekarang jika disini juga tidak ada." Sakura berucap tegas. Tak ingin Naruto mengulangi kalimat berbeda dengan makna yang sama.
"My Queen, ada se-"
"Katakan Naruto?" Sakura berteriak semakin emosi.
Naruto menghela nafas kasar. Bimbang antara mengatakan sebenarnya atau tidak. Juga menerka-nerka, sejauh mana hubungan asmara antara kedua kage ini. Jika pasangan ini memang tak ada rasa setelah pertunangan mereka diputuskan, tak masalah bagi Naruto untuk jujur. Tapi melihat percakapan terakhir mereka... Ah entahlah. Jika sampai saat ini Sakura sudah dibebaskan Sasuke dalam segala hal, maka artinya tak masalah juga kan?
"Begini, My Queen. Tadi Lord... Umm... Menurut Dokter Biwako, Selir Shion sedang mengalami guncangan sehingga menyebabkan kandungannya lemah. Jadi, begitu tiba, My Lord pergi menemani Selir Shion karena mengalami pendarahan." Tangan Sakura terkepal erat. Naruto menjelaskan dengan ragu, Sakura tahu. Tapi intinya Sasuke sedang pergi ke istrinya yang lain. Sedang ia... Benar-benar Sasuke sialan, kan?
"Sejak kapan?"
"Umm?" Gumam Naruto bingung.
"Selir Shion." Tambah Sakura datar. Memastikan jika Shion tidak sedang menggunakan akal bulusnya untuk menarik perhatian Sasuke, ia juga sedang hamil, anaknya belum disapa ayahnya, dan Shion mencuri star. Jadi, jangan salahkan jika ia menjadi emosi.
"Oh. Sudah beberapa hari yang lalu."
"Apa Lord juga tau aku sedang mengandung?" Suara Sakura tiba-tiba meninggi, dan itu mampu membuat ragu.
"Ka-kami sudah mengumumkan kepada setiap kage. Dipert-" Belum selesai Naruto menjelaskan, Sakura langsung melengos pergi. Emosi sudah menguasai diri. Dan sudah tidak ada alasan lagi untuk mencari Sasuke di Kastil Onyx saat sudah jelas telinganya mendapat kabar jika sosok yang ia cari berada di kastil istrinya yang lain.
.
.
.
.
.
Seperti beberapa hari sebelumnya, hari Sakura selalu diawali dengan memuntahkan isi perutnya. Kerap kali ia menangis karena dirasa tidak tahan.
Apalagi jika mengingat perkataan Naruto sore kemarin, ia sampai tidak bisa tidur karena membayangkan apa yang akan dilakukan Sasuke disana, bersama Shion, berdua. Oh, berulang kali pikiran negatif ia enyahkan, hanya agar cepat meraup mimpi, dan tidak membuat kepalanya tambah pusing. Ya, Sasuke pasti tidur disana. Jika tidak, dia pasti akan datang menghampirinya, karena yakin Naruto akan mengatakan segalanya. Dan brengseknya pikirannya pasti tepat.
Lama termenung sambil meredakan mual, Kurenai mengatakan jika Kakashi datang untuk menjemputnya.
"Tuan Kakashi?" Kakashi yang tadinya membelakangi pintu segera berbalik begitu mendengar suara Sakura dengan raut mengernyit bingung. Pasalnya Sakura hanya memakai pakaian seperti biasanya ia berada disini.
"Selamat pagi, My Queen." Sakura mengangguk kepada Kakashi yang membungkuk memberi salam.
"Ada apa?" Alis Kakashi semakin mengernyit tak mengerti.
"Anda belum bersiap-siap?" Kini Sakura justru yang dibuat bingung dengan pertanyaan Kakashi. 'Jika hanya menjemput untuk bertemu Sasuke ia sudah biasa berpakaian seperti ini. Apa masalahnya?'
"My Lord sudah menunggu Anda di depan pintu utama." Kakashi mengingatkan Sakura.
"Pintu utama? Aku tak punya janji untuk bertemu disana." Kakashi hampir saja ingin merotasikan kedua bola matanya. Jengah. Jadi Sakura melupakan hari ini. Demi Pencipta Semesta, hari sudah semakin siang, mereka tidak mungkin harus menunggu Sakura yang berganti pakaian untuk dandan. Atau memang dia ingin pergi dengan gaun ribet seperti itu.
"Anda tidak melupakan jika hari ini kita ada pertemuan kage, kan?" Seketika Sakura mengepalkan tangan erat, rahangnya mengeras karena emosi. Sasuke mengingatnya lagi?
"Aku akan kesana." Sakura berjalan sangat cepat. Pandangannya lurus. Tindakannya membuat para maid dan Kakashi yang mengikutinya dari belakang merasa khawatir. Kandungan Sakura masih muda, dan ibunya bertindak seolah-olah anak itu tidak ada. Ya, Kakashi tahu Sakura tiba-tiba emosi untuk alasan tidak jelas.
.
.
.
.
.
Dari jauh Sasuke menyorot tajam ke arah Sakura yang mendekat ke arahnya, dengan gaya serampangan. Sekuat apa anaknya itu, hingga tidak keluar saat itu juga.
Dan, begitu tepat berdiri dihadapannya. Tanpa salam, tanpa sapaan, sangat Sakura sekali, tidak ada sopan satun. Rahangnya tegang dan tatapanya juga tajam sejak awal. Tapi tak cukup tajam dari matanya. Satu lagi penampilannya yang belum siap untuk pergi. Benar-benar berani.
"Aku hamil." Sasuke bergeming. Tentu saja, dia sudah sangat tahu, bahkan ia yang memberikan titah untuk mengabarkan berita yang sedang ditunggu-tunggu.
"Aku hamil, My Lord." Suara Sakura lirih sedikit serak, saat mengulangi berita yang sama.
Sasuke menghela nafas lelah, ia tahu akan ada drama pagi mengingat mereka tak melakukan syuting selama beberapa hari.
"Aku sudah memberitahu semuanya, tidak perlu ada perdebatan pagi ini." Sasuke berbalik ke arah pintu kereta, membukanya, mengedikan dagu kepada Sakura seolah memerintahkan untuk segera naik. "Masuk saja, tidak perlu berkemas!"
"Aku hamil-" sesak rasanya "-My Lord." Air mata Sakura meluruh, pun isakan kecil akhirnya samar-samar terdengar. Ia masih berdiri, mengamati setiap gerakan Sasuke yang sangat ia rindukan.
Suara pintu kereta yang tertutup begitu nyaring. Kekesalan Sasuke terpancing suara tangisan. Dulu, semua orang sekitarnya tahu, ia akan membenci setiap orang yang membuat Sakura menangis, dan sekarang untuk alasan yang tidak jelas tangis itu mengudara, dan ia malas mencari sumber kebenciannya pagi ini. Sasuke melipat kedua tangannya didepan dada. Menatap ke arah Sakura yang masih mengurai air mata penderitaan dengan tajam, seolah ia sedang menyiksanya, tidak ia tidak sekejam itu pada fisik wanita.
Ada Kakashi dan Naruto yang sjak tadi diam memperhatikan, tak harus ikut campur, karena ini memang menyangkut masalah mereka, bukan politik atau jenis aturan lainnya. Pun dengan para maid dan pengawal dari Kastil Onyx dan Kastil Cherry Blossom yang hanya menunduk sejak awal, bukan menjadi ranah mereka jika tidak ingin dipenggal Sasuke, pura-pura tuli, pura-pura buta.
"Apa mau mu?" Tanya Sasuke sarkas, jengkel menghadapi Sakura akhir-akhir ini, ia luapkan.
"Aku ham-"
"Berhenti bersikap omong kosong!" Potong Sasuke semakin murka.
"Omong kosong, Anda bilang? Kehamilan ini adalah omong kosong?" Sahut Sakura marah. Akal sehatnya menjadi kosong. Nafasnya tersengal karena tangis yang semakin menjadi karena ucapan singkat Sasuke. Sehingga Sakura tak cukup mampu untuk menyahut ucapan Sasuke lagi.
"Queen Sakura, segera naik ke kereta dan berangkat. Seorang kage tak seharusnya mengulur waktunya." Sasuke menekan setiap katanya. Mengisyaratkan pada pengawal untuk mengambil kudanya. Emosinya tak akan cukup redup jika dalam satu ruangan dengan Sakura.
"Anda mengizinkan ku ikut?"
"Ini semua atas permintaan mu, jika kau lupa? Dan sialnya, sifat pelupa mu malah membuang waktu untuk hal tidak penting. Cepat masuk atau ki-"
"Jangan pergi. Aku tidak mau ikut. Kita harus bicara didalam. Kita... jangan pergi." Sakura berusaha menegarkan diri, memotong ucapan Sasuke yang menohok jantungnya, jelas tindakan kurang ajar.
Sakura merutuki, ini masih tentang Sasuke yang masih menyimpan marah. Kehadiran anak ini, belum meluruhkan emosi ayahnya. Tidak, Sasuke terlalu menghormati janjinya. Dan ia haus diperjuangkan. Sakura terlalu terlena dalam khayal reaksi bahagia Sasuke atas buah hati mereka. Tapi justru Sasuke memang setangguh itu, hingga ia tak sedetik pun melepaskan tawa penyambutan.
Sasuke menghela nafas panjang, jengkel karena semua persiapan mereka berakhir sia-sia. "Kau seharusnya mengabari sejak awal jika tidak jadi ikut." Sasuke mengisyaratkan untuk semua bersiap. "Jangan membawa nama bayi untuk bersikap memuakan." Sasuke melajukan kudanya tanpa ingin melihat ekspresi terakhir Sakura yang sedang syok. Itu sungguh menyesakkan baginya jika harus mengingat bagaimana airmata mengalir di paras cantiknya.
"My Lord akan kembali empat hari lagi, My Queen." Entah dengan alasan apa Naruto ingin menghibur Sakura. Ia hanya seolah mengerti karena dulu saat Hinata hamil, juga berubah jadi manja.
.
.
.
.
.
"Ada dua harem kaisar yang hamil. Meski tidak bisa mengartikan keseluruhan isi gulungan, memantau kondisi kekaisaran saja seharusnya sudah mudah tertebak. Bagaimana menurutmu Uchiha Itachi?" Deidara menyeringai saat diakhir kalimat tanpa ragu bernada mengejek.
"Kita membunuh keduanya saja. Lebih efektif, daripada memusingkan mana yang kita cari." Ucap Tobi kekanak-kanakan.
"Aku yakin, setelah percobaan pembunuhan kedua, kita sudah dihadang." Kakuzu menjawab tak peduli.
"Itachi setidaknya kau yang paling jenius disini." Kisame hanya mengulang pertanyaan Deidara yang dijawab tak penting anggota lainnya.
Itachi membuka mata merahnya, tiga tomotte melingkar dengan cepat. Memandang semua anggota Akatsuki dingin. "Haruno Sakura, sang mantan tunangan. Kutukan ini, dibentuk dari darah perang amarah keduanya." Itachi mengarahkan pandangan pada Kakuzu, dingin.
"Ootsutsuki terlalu berani untuk ikut campur." Ujar satu-satunya wanita dalam tim.
"Fokus saja pada Shinobi. Kita tidak boleh melewati ini sementara." Ucap Orochimaru yang baru bergabung.
"Kesimpulannya kutukan mu berakhir dengan darah keduanya." Pain menatap Kakuzu dingin. "Mengecewakan." Kakuzu hanya mengangkat bahu acuh.
.
.
.
.
.
Usai mengadakan rapat terakhir, Sasuke meminta Sasori untuk mengadakan rapat internal. Semata-mata untuk membahas Sakura. Ada Jirayya dan Shikamaru yang mengawal seperti biasa. Pun dengan Naruto dan Kakashi yang akan selalu menempel.
"Saya sempat khawatir jika My Queen masih keras kepala untuk datang, tapi syukurlah, sepertinya beliau akan menurut pada Anda." Jirayya berkata seolah basa basi. Dia tidak bisa mengharapkan Sasori dan Shikamaru yang selalu emosi ketika bertemu Sasuke untuk sekedar mengurai suasana kaku. Bukan berarti ia tidak kesal, hanya saja ia memang sudah biasa, menutup mata hanya dalam negosiasi.
"Tidak kali ini. Beliau menolak tanpa diminta." Penjelasan Kakashi membuat Jirayya mengangguk. Seolah mengerti kesadaran Sakura.
"Apakah paduka kakak menitipkan pesan sesuatu hingga Anda sendiri yang mengundang kami?" Semua hening dengan pertanyaan Sasori.
"Tidak." Jumlah 6 orang dalam ruangan tidak cukup membuat hangat kala Sasuke mulai membuka suara.
"Aku ingin mendiskusikan tentang keamanan di Kirigakure." Tiga orang didepannya mengernyit tanda tak mengerti. Berbeda dengan Kakashi dan Naruto yang justru sudah menebak, namun dalam hati tidak menyetujui.
"My Lord, saya rasa ini perlu dipertimbangkan lagi. Mungkin lain kali kita--."
"Selama Queen Sakura mengandung, militer kekaisaran akan berjaga disana, dan-"
"Anda pikir dengan kehamilan My Queen, Anda bisa mengendalikan kami?" Sasuke menatap Shikamaru yang diliputi emosi dengan dingin. Merasa terganggu karena ucapannya dipotong secara tidak sopan. Juga jangan lupakan nada peduli dari mantan tunangan Sasuke, mengesalkan.
"Ini tidak seperti apa yang ada dalam pikiranmu. Dan lagi, lancang sekali memotong ucapan kaisar dan menimbulkan kesalahpahaman." Naruto membalas ucapan Shikamaru dengan emosi yang sama.
Jirayya berdehem pelan dan memberikan kode kepada Shikamaru. "Maaf My Lord, silakan dilanjutkan."
"Queen Sakura akan kembali ke Kirigakure setelah aman untuk bepergian jauh. Jika kalian masih enggan untuk berdiskusi langsung dengan ku, silahkan diskusikan masalah keamanan dengan mereka." Mereka yang dimaksud Sasuke adalah Naruto dan Kakashi, Sasori tahu itu. Kemudian ia melihat Sasuke siap berdiri untuk pergi, menyisakan dia yang dalam pikiran bingung.
"Setidaknya Anda menjelaskan sebelum benar-benar pergi?"
"Ucapanku, kau mengerti. Jika kau bertanya 'kenapa'. Kau nanti memiliki waktu panjang untuk bertanya pada kakak mu." Sasuke benar-benar sudah siap pergi. "Oh ya, kalian tidak bisa membantah militer dari kekaisaran, kita tahu sejauh mana pergerakan musuh yang mungkin sudah menargetkan dia." Menekan kaya 'dia' membuat orang Sasori semakin bingung, belum selesai bertanya-tanya tentang kembalinya Sakura, kini mereka tertampar kenyataan, melepaskan Sakura dari keamanan ketat kekaisaran disaat musuh benar-benar sedang menerka-nerka isi gulungan itu.
"Ahem.. Ku harap kalian menolak. Setidaknya untuk sekarang, selama 9 bulan, setelah itu terserah. Selain ini merusak citra kekaisaran, ini juga cukup beresiko untuk Queen Sakura, ku rasa Anda mengerti Prince Sasori." Kakashi berdehem untuk meminta perhatian dan menjelaskan apa yang perlu. "Tapi jika kalian ingin mengambil resiko seperti Lord, mari kita diskusikan apapun keamanan yang bisa dioptimalkan."
"Sebenarnya ada apa ini?" Naruto berdecak saat Sasori masih mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas.
"Queen Sakura akan pulang, My Lord sudah katakan tadi, jangan biarkan aku mengatai Anda bodoh?"
"Secara langsung justru kau mengataiku bodoh." Sasori berdecih. "Aku hanya ingin tau alasannya. Mengapa tiba-tiba?"
Shikamaru masih bergeming ditempat, merutuki tindakan spontannya sehingga membuat Sasuke menjadi enggan menjelaskan. Jelas ini bukan ranah dua bawahan kaisar untuk menjelaskan.
"Apa mereka... Um.. Bercerai?" Jirayya berkata ragu, tapi keraguan itu dibalas anggukan keduanya.
"Tidak bisa." Bantah Jirayya tajam. "Tidak ada satupun orang yang akan baik-baik saja setelah bercerai dengan kaisar. Itu akan menjadi aib untuk masing-masing negara."
"Ini bukan sesuatu yang pantas kita diskusikan disini, Tuan Jirayya."
"Tuan Kakashi benar, Tuan Jirayya." Kemudian Shikamaru menoleh ke arah Sasori. "Anda harus bertanya langsung dengan My Queen, Yang Mulia."
"Sebelum itu, My Lord akan tetap meminta hasil diskusi hari ini. Dan aku tidak berniat menunda. Sekali pun kita sama-sama menolak keputusan My Lord kali ini yang terbilang nekat." Kembali Kakashi mengajak untuk memutuskan kesepakatan.
"Boleh ku tahu, siapa yang mengajukan perpisahan."
"Queen Sakura. Anda pikir siapa lagi?" Naruto memandang Sasori sinis. Seolah yang berpotensi membuat ulah hanyalah dari pihaknya.
Sasori memejamkan mata erat. Ia dipusingkan dengan tumpukan buku tentang kenegaraan, dan pengetahuan lainnya. Para tertua sudah bergerak untuk segera membuatnya naik takhta, namun ia masih hiraukan, beruntung orang dalam yang selalu disampingnya bukan orang yang mendesak hingga berakhir tergesa-gesa, hanya saja untuk urusan belajar tidak ada celah absen. Dan sekarang kakaknya akan kembali ke Kirigakure, itu berarti akan ada pergolakan politik, pro dan kontra sudah biasa, masalahnya militer kekaisaran akan berdiri disana. Sasori sangat tahu, militer Kirigakure kalah saing dengan Konohagakure, walaupun bisa dikatakan kuat juga, masalahnya lagi kedua militer tersebut tidak akan bisa bersatu, malah akan semakin buruk. Bukan menghalau musuh, bisa jadi mereka saling membunuh satu sama lain. Meminta bantuan militer lain, hanya akan membuat Sasuke kembali tersinggung, ya dia memang masih kecil, tapi dia mengerti arti menjaga anak sendiri. Belum lagi saat benar-benar bayi itu lahir, apa yang akan terjadi dimasa depan?
"Kami disini bukan untuk menunggu Anda melamun Prince Sasori?"
Sasori menoleh ke arah Naruto tajam. Mulut pria nanas ini memang sejak awal selalu provokatif. "Kami akan siapkan istana khusus, dan asal militer kekaisaran tidak melewati batas itu, aku terima."
"Ck. Anda memang berencana mengisolasi kakak sendiri." Benar. Tapi Sasori tak mungkin membiarkan pergolakan politik juga mempengaruhi kesehatan kakaknya, maka hanya ini yang terlintas di kepalanya.
"Berapa banyak dari mereka?"
"Sepuluh ribu pasukan. Cukup?"
"Ck. Yang benar saja hanya menjaga satu orang? Hal terpenting adalah orang terdekat My Queen, itu berarti maid yang memiliki kemampuan bela diri, pengawal justru hanya memantau dari jauh. Lagi pula kondisikan batas tempat dan pangannya." Shikamaru berdecak tak percaya.
"Saran yang bagus, kami bisa mengirim militer perempuan lebih banyak untuk bagian dalam. Untuk masalah pangan My Lord akan menanggung anggaran."
"Tambahkan saja militer dari kerajaan lain. Biar bagaimana pun, bukan hanya Konohagakure dan Kirigakure yang diuntungkan. Setidaknya untuk mengurangi keresahan di Kirigakure nantinya." Kakashi menaikkan sebelah alis, ingin mencemooh, melirik ke arah Naruto sekilas.
"Ku pikir justru kesenjangan akan terjadi, jika terlalu banyak jenis militer elit. Bagaimana pun yang akan dikirim untuk menjaga Queen Sakura bukan militer biasa."
"Naruto benar, tapi jika itu keinginan Anda akan kami diskusikan dengan My Lord. Itu berarti masalah ini akan dibawa saat rapat Kage."
Sasori membenarkan penjelasan Kakashi dan Naruto. Jika dalam kondisi biasa, memulangkan istri kaisar adalah aib. Tapi biar bagaimana pun mereka memang harus mengerti. Karena secara langsung mereka lah yang memaksa Sasuke dan Sakura yang bersatu untuk suatu tujuan. Tidak ada yang salah dengan itu. Sakura, kakaknya tidak kabur, yang bisa saja menimbulkan perang antar negara. Sebaliknya Sasuke justru membicarakannya secara baik-baik, ya walaupun hanya lewat dua tangan kanannya. Lebih lagi, bertanggung jawab atas keselamatan kakaknya. Lalu bagaimana dengan bayinya nanti, keponakannya. Darah Uchiha mengalir deras dalam darahnya. Tapi lagi, ini bukan sesuatu yang bisa ia tanyakan kepada Kakashi ataupun Naruto.
"Benar. Untuk sementara hanya kesimpulan ini yang bisa disampaikan. Aku juga perlu konfirmasi dari My Queen. Begitu juga dengan Anda kepada My Lord."
"Yang Mulia, Anda yakin?" Jirayya yang sejak tadi diam bersuara, mencoba mencari jalan terbaik selain membiarkan militer elit kekaisaran bermarkas di Istana Haruno, tapi nihil, kecuali membiarkan Sakura disana.
"Jika itu keinginan Paduka Kakak."
Semua mengangguk mengerti. Kedekatan adik kakak ini sudah menjadi rahasia umum. Terjalin erat. Dan saling mengerti.
"Kalau begitu kami permisi, Yang Mulia." Pamit Kakashi, kemudian melirik Naruto yang masih memandang mereka tidak senang, setelahnya mengikuti Kakashi pergi.
.
.
.
.
.
"Kau bahkan sudah datang sebelum Lord pulang." Sakura masih menampilkan senyum lebar menyambut kedatangan Sasori.
Sasori ikut tersenyum, melemaskan otot-otot wajahnya yang selalu dingin jika tidak didepan kakaknya.
"Mau istirahat dulu?" Sakura melihat wajah letih Sasori. "Biar kakak minta maid untuk menyiapkan kalian makan siang." Sakura tak lupa pada rombongan yang datang bersama Sasori.
"Tidak. Tapi kalau makan boleh. Bisakah kita berbicara berdua, sambil makan." Alis Sakura tertaut bingung. Kemudian tersenyum, merasa adiknya masih merindukan masa-masa mereka bermain berdua.
"Baik kalau begitu, makan diruangan kakak saja, ya." Kemudian pandangannya beralih pada Jirayya dan Shikamaru serta rombongan lain. "Setelah makan siang, jika ingin istirahat, katakan saja pada maid. Aku harus mengasuh bayi merah dulu." Mata Sasori merotasi malas, sudah biasa, tapi tetap saja memalukan.
.
.
.
.
.
"Tidak, membiarkan militer lain bergabung hanya akan memicu adu domba. Jika dia ingin negara lain berpartisipasi cukup membantu dengan anggaran. Tapi kita masih sanggup untuk menanggung sendiri." Putus Sasuke tenang.
"Jadi kita tetap membuka masalah ini kepada para Kage?"
"Jika itu keinginan mereka."
"Yah, mungkin lebih baik. Dengan membuka, kita tidak akan terlalu disalahkan jika terjadi sesuatu."
"Lupa jika setiap kepala memiliki pikiran masing-masing?" Naruto mengangkat bahu tak acuh dengan balasan Kakashi.
.
.
.
.
.
"Ada apa, hm? Apa rapat Kage kali ini membuat mu kerepotan."
"Kali ini tidak terlalu banyak hal merepotkan. Semua laporan tiap negara juga berjalan lancar. Musuh seperti sedang menunggu waktu. Tapi pertemuan berikutnya kita akan naik gunung lagi."
"Tapi kau nampak lelah."
"Bagaimana keadaan kakak, hmm juga keponakanku." Tanya Sasori malu-malu. "Kakak nampak kuyu, tapi ada binar senang."
"Benarkah? Kau pandai menilai wanita rupanya, oh adikku sudah besar rupanya." Sakura meletakkan tangan pada kedua pipinya sendiri. Sedangkan Sasori hanya menggeleng tak mengerti.
"Dia sehat." Sakura tersenyum lebar mengelus perutnya sayang. "Aku juga, yah seperti yang terlihat. Hanya saja dia sering rewel, pemilih dalam makanan. Dan membuatku kerepotan, yah kau tahu ini luar biasa menyenangkan." Sakura terkikik kecil.
"Oh, ya, Sasori. Kau akan menyayangi keponakan mu, kan?" Bagaimana pun Sakura tahu, Sasori masih memendam dendam pada Uchiha, akan mendapatkan keponakan berdarah Uchiha jelas melukainya.
Sasori mendongak dari acara makannya, kemudian tersenyum lembut, memberikan ketenangan untuk Sakura yang ikut kembali tersenyum. "Tentu saja. Dia bukan ayahnya. Dia tetap dia. Tidak ada alasan mengapa aku harus menjauhinya."
"Kakak tidak perlu khawatir tentang nanti kehidupan keponakanku di Kirigakure. Aku akan menyayanginya begitu pun yang lainnya."
"Hahaha.. Baik paman, nanti kapan-kapan dedek main ke Istana Haruno, ya?" Ucap Sakura sambil menirukan suara bayi.
"Jadi setelah lahir keponakanku akan dibesarkan di Uchiha?" Sasori meraih gelas minumnya, menunda acara makannya, hanya ingin tahu penjelasan dari Sakura.
"Ya, tentu saja." Jawab Sakura mengertnyitkan alis bingung dengan pertanyaan Sasori.
"Kakak akan melepaskan bayi kakak?" Mata Sasori menyorot mata Sakura, mencari pembenaran.
"Apa maksud dari perkataanmu, Sasori?" Sakura benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Sasori. 'siapa yang akan merelakan bayi siapa?'
"Aku tidak masalah kakak lepas dari Sasuke, tapi kakak tega akan meninggalkan keponakanku disini?" Sasori menggeleng tidak percaya.
"Jaga bicara mu, Sasori!" Peringat Sakura, sedikit tersinggung.
"Ya, aku hanya perlu formal memanggilnya diluar, tidak harus disini juga."
"Bukan itu, tapi apa maksudnya aku lepas dari dia?" Senyum Sakura sudah lepas sepenuhnya dari wajah yang sejak awal berseri-seri.
"Ku pikir kakak sudah menebak kedatanganku. Itu artinya kakak juga sudah memikirkan solusi atas pengajuan Sasuke, untuk bermarkas di Kirigakure." Kakaknya bukan orang bodoh yang akan berbicara berbelit-belit hingga membuat lawan bingung. Dan kali ini Sasori seolah diajak berputar-putar.
"Aku tidak memikirkan solusi apapun untuk sesuatu yang tidak aku ketahui apa. Dan untuk apa Sasuke harus bermarkas disana?" Ingatannya tiba-tiba terhubung pada perdebatannya dengan Sasuke diruang kerja, tapi adiknya tak akan tahu itu.
Sasori menghela nafas lelah, apa katanya tanpa ada solusi? "Lantas kepulangan kakak ke Kirigakure tanpa kakak pikir dulu konsekuensinya?"
"A-apa?" Sakura tergagap bingung, matanya berkedip ragu, Sasori telah menanyakan kepulangannya. Itu berarti... Tidak... Saat itu Sasuke hanya sedang marah... Pun dengan pagi itu yang tidak memikirkan perasaannya sama sekali... Sasuke tak akan sampai rela hati melepaskannya.
"Jika kakak mau, kita berhak memperjuangkan pengakuan keponakanku untuk tinggal disana bersama kita nanti." Sorot mata Sasori menyiratkan semangat yang menggebu-gebu, hanya untuk menyambut kepulangan ia dan bayinya, walaupun kenyataannya Sasori tahu, kepulangannya akan menjadi aib.
"Siapa yang memberitahumu?" Sakura hanya sedang berusaha menetralkan organ pernapasan yang terasa kian menghimpit. Matanya mulai memerah.
"Dia sendiri. Aku tahu kepeduliannya hanya sebatas kakak dalam kondisi bahaya, dan dia tidak punya pilihan lain selain memasang militer elit disana. Ini juga yang harus kita bahas." Masih belum ingin mengerti dengan raut Sakura yang tiba-tiba muram, emosi dan sedih.
"Sasori, bagaimana kalau kakak menolak pulang?" Tanya Sakura ragu.
Sasori memandang Sakura bingung. "Jika kakak memikirkan seberapa bahaya diluar kekaisaran, aku setuju. Aku akui disini lebih aman."
"Aku tidak ingin pulang." Balas Sakura lirih.
Mata Sasori terbelalak lebar, kedua tangannya mengepal erat. "Kakak di usir?"
"Tidak. Tidak. Jangan salah paham dulu." Sakura meraih kedua kepalan tangan Sasori yang menegang. "Sasuke... Tidak. Benar, kakak yang meminta pulang. Bukan pulang dalam artian sebenarnya. Saat itu kami sama-sama, oh hanya aku yang kesal saat itu, aku mengancamnya pulang dan tak akan pernah mengenalkan ia pada anaknya." Bendungan airmata itu meluruh. "Dia hanya menyetujui. Tapi kenapa dia benar-benar sedang mempersiapkannya?" Sasori menghapus derai air mata yang jatuh dari mata kakaknya.
"Kakak masih mencintainya?" Sorot matanya bisa memastikan kebenaran.
Sakura menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku tidak akan sanggup jika suatu hari anak ini akan pergi ke Konohagakure untuk mencari ayahnya. Atau yang lebih parah merasa iri dengan saudara tirinya."
Sasori duduk disamping Sakura, memeluk kakaknya untuk menenangkan. "Sasuke memasrahkan kehendak sesuai keinginanku, termasuk juga memasrahkan anaknya."
"Aku hanya ingin pulang sesekali tanpa membuat anak kami bingung tempat pulang sebenarnya. Aku hanya ingin sedikit bebas disini, tidak dijaga ketat. Sasuke selalu menempatkan penjagaan ketat akhir-akhir ini. Aku tidak suka." Isakan Sakura semakin menjadi dibahu lebar Sasori.
Sasori sendiri mulai memahami, tindakan Sasuke dan saran-sarannya. Juga pengumuman tiba-tiba Sakura yang akan bergabung dalam rapat, lalu mendiskusikan keamanan Kirigakure. Sampai disini, ternyata ini hanya masalah internal yang terjadi dari dua negara yang saling bermusuhan, menaruh curiga satu sama lain. Dan ini tidak akan baik jika tidak diluruskan. Sasori juga menyadari kebenciannya tanpa sadar mencari keborokan Sasuke, sekecil apapun, hanya agar benci tetap ada, tidak luluh dengan sikap-sikap Sasuke, justru semakin membenci.
"Bicaralah, kak. Sasuke perlu tahu. Aku sudah terlanjur mengajukan untuk membuka masalah ini pada seluruh Kage."
"A-apa? Kenapa?" Sakura memandang Sasori serius.
"Agar mereka tidak memandang kakak rendah dikemudian hari."
"Melihat kamu saja membuktikan jika Sasuke cepat bertindak, bukannya tidak mungkin besok semua orang tahu. Benar-benar kepala es, menyebalkan sekali." Sakura berbicara jengkel, yang jelas membuat Sasori kembali bingung dengan perubahan ekspresi kakaknya yang terbilang cepat.
"Atau kakak ingin bermain-main dulu dengan Uchiha?" Sasori menyeringai, bermaksud menggoda kakaknya, sekaligus menghasut.
"Jika dia orang yang asyik. Saranmu akan di gunakan, luar biasa membuat seorang Lord kalang kabut. Tapi kita sama-sama tahu, manusia es itu sangat menyebalkan."
"Jadi, aku tidak harus memikirkan kepulangan kakak?"
"Bukan pulang Sasori tapi penyambutan, aku tidak mau terkurung disini terus." Sasori kembali menatap kakaknya sendu.
"Kak, untuk sementara keamanan memang harus diperketat, kemungkinan besar musuh tahu siapa kakak, dan ku pikir Sasuke memang melakukan itu."
Benar, Sasuke tahu segalanya, maka ia bertindak dan melakukan hal yang perlu dilakukan.
"Tapi aku siap berdiri di garda terdepan jika dia berani membuat kakak menangis lagi seperti tadi. Enak saja, kakak cantikku dibuat kelelahan menangis." Sakura hanya tertawa menanggapi ocehan-ocehan Sasori selanjutnya. Biar bagaimana pun Sasuke bukan orang yang Sasori kecil kagumi lagi, semua sudah berbeda, luka itu masih ada. Dan waktu belum mengizinkan bagi mereka untuk benar-benar berdamai.
.
.
.
.
.
TBC
Segini dulu aja ya, biar bisa update...
Ada yang masih bingung? Nggak, kan soalnya memang tidak menyimpan maksud tersirat.
Jadi gimana kali ini...
Pertanyaan iseng masih berlaku, ya, cerita yang paling kalian suka:
1. Reborn, My Lord
2. Dunia Shinobi
3. My Heart, My King
Sampai bertemu di chapter berikutnya...
