Selamat siang guys

Siapa yang nunggu Dunia Shinobi?

Jangan bosen ya, apalagi masih banyak typo bertebaran

Terimakasih sudah membuat aku semangat nulis, sudah gedor2 papan komentar aku. Jangan keterusan tapi.. Cukup kasih aku vote dan comment yang banyak. Biar tahu aja sih kalo cerita aku menarik atau tidak

Oh iya permintaan ku masih sama. Bagi pembaca baru. Jangan lupa vote dan comment dari chapter 1 ya, biar seimbang. Terimakasih bagi yang sudah.

.

.

.

HAPPY READING

.

.


.

.

Sakura langsung mendatangi ruang kerja Sasuke setelah memastikan dari maidnya jika dia berada disana. Dia tak mau mengundur waktu. Pun jika ternyata Sasuke berada di Kastil Shion atau Katil Karin sekali pun dia akan menyusul, menyeretnya untuk berbicara berdua.

Sakura menjeblakan pintu ganda tersebut. Seperti biasa setelah berselisih dengan penjaga pintu. Yang selalu berakhir dimenangkannya. Menatap Sasuke yang sepertinya baru akan duduk. Mungkin saja baru menyelesaikan bersih-bersih paska menempuh perjalanan jauh.

Tujuannya hanya satu. Nyatanya walaupun dia telah membela Sasuke didepan Sasori sebelumnya, memberikan sikap seolah baik-baik saja, kabar berita itu menjengkelkan. Ingin diluapkan pada pelaku kekesalannya. Dan ingin mendapatkan sesuatu yang entah apa itu. Perhatian. Sakura tidak tahu, kenapa perasaan seperti itu sangat diinginkan sekali saat ini.

"Selamat siang, My Queen."

Sasuke menatap Sakura yang masih didepan pintu yang telah menutup dengan datar. Keributan ini, bukan sekali terjadi, tapi berkali-kali. Dan kali ini dia coba tidak mengabaikan dengan mengalihkan pandangan pada dokumen. Tapi tidak menyambut baik kedatangan Sakura juga. Hanya sikap datar.

"Bisakah mereka pergi dari sini?" Sakura menatap lurus onyx yang juga menyambut kedatangannya dalam diam. Sasuke sekali. Irit kata. Minim ekspresi.

"Kalau begitu kami permisi, My Lord, My Queen." Dan tanpa diusir dua kali. Pun tanpa kata iya dari Sasuke. Kakashi dan Naruto berinisiatif sendiri membiarkan mereka berbicara. Keduanya yakin Sasuke tidak mempermasalahkan.

Setelah keduanya pergi Sasuke menegakkan punggung pada sandaran kursi saat melihat Sakura berjalan cepat ke arahnya, setengah berlari. Sontak saja Sasuke melotot tidak percaya. Dan tepat saat mulutnya akan terbuka memperingatkan, siap berdiri untuk menghentikan. Tapi semua tertahan, Sakura langsung menerjangnya, hingga kembali duduk dengan dia berada dalam pangkuannya, merengkuh tengkuknya untuk menunduk. Menghentikan segala ungkapan kata yang ingin terlontar dengan mulutnya. Sakura menciumnya. Sangat menuntut dan bergairah.

Hal yang Sasuke hindari akhir-akhir ini, mengontrol gejolak gairah yang selalu cepat naik jika berdekatan dengan Sakura. Tapi Sasuke tidak sekejam itu untuk tidak membalas tuntutan dari pagutannya. Dia bergairah, istrinya juga. Pantas saja, pertemuan mereka selalu dilandasi dengan pertengkaran. Mereka melakukan hubungan intim hanya agar Sakura cepat hamil atas keinginan istrinya. Disaat seperti itu juga Sakura benar-benar pasrah. Selebihnya mereka tidak lain hanyalah dua pemimpin negara yang disatukan. Ego masing-masing masih dijunjung tinggi. Sasuke tidak punya alasan lain agar mengalah lebih dulu. Biarkan waktu yang menuntun. Pada akhirnya Sakura akan pada keputusannya. Menghindari kekaisaran, itu seperti motto.

"Bernapas, Sakura!" Sasuke berbisik rendah, berganti berinisiatif untuk menecup bagian yang bisa dijangkau mulutnya. Lengan kanannya mengelus pelan perut Sakura yang masih rata, namun terasa berbeda dibandingkan saat sebelum hamil. Bermaksud menenangkan anaknya dari sikap bar-bar ibunya tadi. Sambil terus merapalkan doa untuk kebaikan janinnya. Sedang tangan kirinya menyanggah punggung Sakura agar terengkuh.

"My Lord~" Mata Sakura sayu--berkabut. Sasuke tahu artinya. Tapi ia ingin pura-pura buta. Tak diindahkan. Tangannya masih nyaman pada posisinya. Dan mulutnya yang berdiam ditengkuk wanita itu. Sakura hanya bersandar didadanya. Membujuknya dengan tangan mungilnya yang liar kemana-mana. Sangat menguji kesabaran.

"Berhenti, Sakura!" Sakura hanya menggeleng. Tak ingin melihat ekspresi Sasuke yang entah marah atau tidak. Tidak perduli, Sasuke jelas tahu keinginannya, tapi malah dihiraukan. Impas, kan?

"Aku. Bilang. Berhenti!" Sasuke mengeratkan pelukan mereka. Saat dengan kurang ajar adiknya dipelintir keras tangan Sakura. Habis sudah kesabarannya yang hanya terstok terbatas.

"Berhenti! Atau ku banting?" Sasuke berkata tegas dan dingin.

"A-anda tidak akan lakukan." Dalam hati Sakura sudah sangat ketar ketir. Sasuke dengan segala ucapannya adalah kebenaran. Dan baru saja dia sekali lagi menantang. Urusan yang lalu saja belum selesai.

Dan ya, Sasuke melakukannya. Dia menggendong Sakura menuju kamar utama. Kemudian membantingnya tanpa perasaan. Jangan bayangkan mereka akan melakukan hubungan intim seperti novel-novel romantis seperti yang selalu Sakura baca akhir-akhir ini, karena nyatanya perut Sakura melilit. Dan Sasuke yang bersiap untuk kembali pergi.

"Sakit, hiks hiks hiks." Sakura menangis tergugu. Sakura memang cengeng, kehamilannya membuatnya semakin menjadi. Tapi bukan karena perutnya yang sakit sejenak seperti tadi, sehingga anaknya syok. Namun untuk penghinaan Sasuke, dan atau jika beruntung menarik perhatian Sasuke.

Dalam hati Sakura tertawa puas, saat Sasuke benar-benar berbalik. Mengecek tempat tidur. Mungkin mengecek bercak darah. Tentu saja tidak ada. Sasuke hanya membantingnya dikasur yang empuk. Bukan lantai keras. "Akan ku panggil dokter."

Belum sempat Sasuke berdiri, Sakura sudah memeluk Sasuke dari belakang. Tak ingin melepaskannya, kali ini saja. Sebelum mereka benar-benar harus bicara.

"Tetap disini, My Lord."

"Bagaimana dengan sakitnya!" Tanya Sasuke tak sabar.

"Dia syok tentu saja. Tega sekali ayahnya ini. Maka dari itu perbaiki!"

"Aku sudah memperingatimu jangan pernah bersikap memuakkan dengan dalih kehamilan untuk menarik perhatianku."

Sakura menghapus air matanya kasar. "Aku tahu ini memang memuakkan, tapi Anda salah jika berpikir saya main-main. Anda yang paling tahu, seenggan apa saya terhadap Anda."

Sasuke menyeringai miring, sangat tipis dan miris. Itulah mengapa Sasuke tidak ingin terlena oleh kemanjaan Sakura kali ini, pun seterusnya. Ya, ia tahu pasti apa perkataan Sakura. Dan ia sama tak ingin memanfaatkan hormon Sakura hanya untuk sesaat. Tubuhnya tidak akan sanggup menerima kehilangan dikemudian hari.

Membiarkan Sakura dengan segala pemikirannya. Karena meladeni wanita hamil jelas tidak akan membuatnya menang. Sakura adalah istrinya hamil ketiga. Lebih baik Sasuke kembali ke ruang kerja. Masih banyak pekerjaan yang belum tersentuh. Termasuk segala permintaan Sakura sendiri.

Melihat Sasuke yang hendak berbalik ke arah pintu lagi tanpa kata, Sakura turun dari ranjang dan berlari cepat menyusul sebelum Sasuke berhasil membuka pintu. "Jika terjadi sesuatu dengan anakku, jangan harap kau bisa berkeliaran bebas untuk kehamilan berikutnya."

"Kalo begitu mari kita bunuh saja. Deng--"

Plakkk

Airmata Sakura kembali mengalir. Panas di pipinya nampak nyata. Sakit. Tentu saja. Sasuke menamparnya. Seseorang yang dulu tidak mungkin menyakitinya. Orang yang selalu memastikan perlindungannya. Sakura menatap Sasuke nanar, tangan memegang pipi kirinya yang memerah. Sosok yang selalu menjauhkannya dari rasa sakit, kini membuatnya sendiri tidak hanya fisiknya tapi hatinya pun ikut tergores.

"Aku sudah cukup sabar menghadapimu. Kau ingin membunuhnya? Baik lakukan. Aku--"

"Cukup, Sasuke!" Panggilan yang tidak menandakan keasingan diantara keduanya, Sasuke akui ia merindukan moment itu. Walaupun itu hanya diucapkan untuk membentak. "Sampai kapan Anda selalu salah paham dengan setiap kata yang saya lontarkan." Ah lagi lagi, Sakura akan menerimanya sesaat. Setelah hormonnya terpenuhi, ia bagai perenggut kebebasan.

"Anda marah?" Sakura masih menatap lekat onyx yang masih menunjukkan aura datar. Tidakkah Sasuke merasa bersalah?

"Katakan sefatal apa kesalahan saya, sehingga Anda harus menghindari saya." Dengan kesal Sakura mengguncang jubah Sasuke, tangisnya semakin sesenggukan.

"Kau terlalu percaya diri." Sasuke memegang lengan Sakura dijubahnya. "Tapi Queen, apa yang kurang, aku sudah memenuhi keinginanmu. Semuanya. Tunggu waktu hingga benar-benar kau siap untuk bepergian." Susah payah Sasuke tekan segala sesak agar tidak lebih kasar dari ini. Tapi lagi lagi ego merasuki. "Aku tidak tahu mengapa anak itu merubahmu menjadi jalang yang haus disentuh. Tapi akan kupikirkan percintaan terakhir kita nanti saat perpisahan. Mungkin aku harus menyusun metode terindah agar mudah dilupakan. Bersabarlah!" Sasuke menyentak tangan mungil Sakura. "Persiapkan diri untuk itu. Dan siapkan hati untuk semakin membenciku."

Sakura memandang Sasuke tidak percaya. Serendah itukah tadi dia dimata Sasuke. Dia menyalahkan anaknya yang tadi dibela karena ibunya spontan berkata untuk membunuhnya, hei itu hanya untuk menarik perhatian Sasuke. Tidak benar-benar ingin diucapkan. Bodohnya Sakura, karena saat ini mode Sasuke masih pada kekecewaannya karena ia melanggar aturan hingga mencari berita sendiri dengan kabur ke luar istana.

"Demi pencipta semesta, seharusnya disini yang marah adalah aku." Sakura menunjuk dirinya sendiri. "Anda membohongi saya. Melanggar janji. Korban dari petaka ini adalah saya. Anda bersikap seolah hanya saya yang melanggar aturan. Dimana pikiran Anda?" Tunjuk Sakura pada Sasuke.

"Untuk itulah aku membebaskanmu. Segalanya. Itu adalah titik dimana aku harus tidak peduli atas keinginanmu. Terserah. Kau mau kabur keluar dari istanamu, tidak ada yang mengekang. Berbicara kasar, silahkan. Mau mengulik informasi dari seluruh manusia pun bebas. Aku mengembalikan semuanya. Sudah. Hanya menunggu waktu yang tepat. Hanya mungkin fakta kita pernah menikah dan ada satu anak yang tidak bisa kuperbaiki. Juga fakta kau yang tak akan memberi kesempatan untukku bertemu dengannya sudah aku pasrahkan. Atau kau tak ingin kami bermarkas disana? Aku belum bisa mengambil resiko untuk itu. Anak itu perlu lahir, tidak perduli kondisi orang tuanya. Aku bertanya, terlepas dari markas militer yang belum menemukan slolusi untuk menghilangkan dahagamu, apa yang kurang dari semua itu, Queen?"

"Perjuanganmu." Sakura menyahut lirih, tapi pasti. Dia tahu ada gurat sedih dimana saat Sasuke benar-benar akan merelakan anak mereka. Tapi jelas itu saja menggores egonya yang lain, seharusnya Sakura bisa marah lagi karena anaknya dianggap hal yang mudah direlakan.

"A-apa maksudmu? Kau menganggap perjuangan kami di Pegunungan Miyaboku kurang?" Sasuke terkekeh kosong. "Ah, aku!" Sasuke mengangguk singkat. "Setelah memastikan kau pulang dengan aman. Aku akan menetap disana. Semaksimal mungkin aku usahakan semuanya segera berakhir. Hanya ini yang bisa ku janjikan."

Ingin Sekali Sakura meraih Sasuke, merengkuhnya, memeluknya erat, sama seperti mereka dulu ketika selalu bersama. Tapi Sasuke akan menolak, dia menganggap semua semu. "Tidak. Sasuke. Tidak. Bukan itu."

"Oh Anda masih belum terpuaskan juga, My Queen?"

"Tolong dengarkan! Dan tidak salah paham! Bisakah Anda tidak asal menyimpulkan. Saya, lelah." Sakura terduduk dengan isakan yang semakin nyata. Tangannya meremas pelan perutnya yang keram. Dan kali ini sungguhan, tapi bisakah Sasuke tak menyadarinya sehingga menimbulkan kesalah pahaman yang lain.

Sakura harus kecewa melihat Sasuke yang panik. Membentak pengawal diluar untuk memanggil dokter. Kemudian kembali masuk hanya untuk menggendongnya ke ranjang. Sakura harus tenang. Ini hanya keram. Ia harus mulai membiasakan diri agar tidak terlalu gampang mengeluhkan sakit.

Sakura menggamit lengan Sasuke saat tim medis telah datang, akan bersiap pergi. "Tetap disini atau tidak perlu ada mereka?" Sakura mengancam dengan menahan sakit. Ekspresinya tidak bisa berbohong.

Sasuke menatap Sakura tajam. Mungkin jika dalam keadaan normal Sasuke akan mengulang kata yang sama. "Aku benci memperingatimu terus menerus." Tapi menuruti permintaan Sakura untuk mengikuti alur pemeriksaan.

"Terimakasih!" Sakura berujar tulus yang ditatapi raut tidak percaya dari Sasuke.

.

.

.

.

.

"Percepat! Jika memang ada militer hebat selain dari kekaisaran. Biarkan saja! Kau bisa bertanya kepada Prince Sasori, militer mana yang bisa membuat mereka nyaman. Asalkan mereka memenuhi standar kekaisaran, boleh diperhitungkan."

"Anda yakin, My Lord?" Sasuke hanya mengangguk pasrah. Kepalanya cukup pusing, waktu istirahatnya berkurang akhir-akhir ini.

Sayup-sayup Sakura bisa mendengar suara orang mengobrol. Ia masih berada di kamar utama paska tadi siang meminum tonik yang membuatnya mengantuk. Tapi ia telah mengancam Sasuke untuk berada didekatnya, begitupun jika bangun Sasuke harus ada dikamar ini. Kelambu tempat tidur yang tertutup, menandakan jika Sasuke bekerja diruangan ini bahkan jika harus meminta pendapat dua anak buahnya. Tanpa sadar Sakura tersenyum sendiri dengan kepedulian Sasuke. Tapi apa yang mereka bicarakan hingga membawa nama Sasori.

"Baik, My Lord." Terdengar jeda panjang dari Kakashi. "Sebaiknya Anda istirahat. Anda terlalu banyak bekerja akhir-akhir ini. Jagalah kesehatan Anda."

"Jangan terlalu dihiraukan. Aku akan lakukan sesuai porsinya."

"Tapi, My Lord--"

"Kakashi, persiapkan semuanya. Kau yang akan mengurus kekaisaran selama aku disana. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Pastikan semua pejabat dan bangsawan tidak membuat kerusuhan."

"Seharusnya ini tidak pernah terjadi, baik saya atau Naruto harus disamping Anda. Semuanya tampak baik-baik saja walaupun Anda bolak balik konoha-miyaboku. Mengapa tiba-tiba? Saya tidak bisa mentolelir ini. Untuk militer, memang tidak ada yang sebaik kekaisaran tapi akan saya usahakan. Maaf Yang Mulia, saya harap Anda mengerti."

"Kakashi!" Sasuke membentak pelan, takut membangunkan tidur Sakura. "Lakukan apa yang aku suruh. Atau--"

"Sekali lagi maaf, saya menolak. Anda seperti meninggalkan surat wasiat untuk mati. Padahal Kirigakure tidak seekstrim itu. Jika begini hasil akhirnya lebih baik dulu saya menyembunyikan kebenaran untuk isi gulungan itu."

Sakura tersentak. Ada apa ini sebenarnya.

"Lancang sekali kamu!"

Sakura tahu, disana Sasuke sedang emosi sehingga membentak Kakashi dengan nada marah.

"Ya, silahkan jika Anda ingin memecat saya. Dari jauh pun saya akan tetap melindungi Anda. Tapi jangan melewati batas hanya untuk wanita Anda. Nyawa Anda lebih berharga daripada memenuhi ego masing-masing. Jika Anda mati pun belum tentu Queen Sakura bisa mengendalikan kekaisaran sekalipun nanti dimasa depan putra Anda memang akan menggantikannya." Kakashi menggeleng mencemooh.

Sakura tertegun.

"Masih terlalu jauh untuk itu. Anda juga masih bisa mencari ibu lain untuk putra Anda yang lain, jika benar Anda merelakan dua putra Anda yang sekarang. Antara Selir Shion dan bayinya. Kita tidak tahu mana yang akan bertahan."

Sekali lagi, Sakura tersadarkan keadaan lain dibalik kejadian dalam kekaisaran.

"Baik, Kakashi. Jika kau begitu tidak mampu. Kau bisa pergi." Sasuke berkata tegas.

"Tolong berhenti membuat tubuh Anda lelah, My Lord. Jangan lakukan hal yang sia-sia."

"Berhenti berbicara. Tidak akan ada yang sia-sia. Semuanya bisa menikmati."

"Tapi tidak dengan mengorbankan diri Anda." Ada jeda panjang yang terjadi.

"Aku sudah menjadi korban. Lalu, mengapa tidak sekalian tenggelam."

Cukup sudah, Sakura tidak tahan.

"My Lord." Sentak Kakashi tidak percaya.

"Pergilah, Kakashi!" Kakashi dan Sasuke menatap ke arah Sakura dengan ekspresi berbeda.

"Cukup sudah Anda mempengaruhi, My Lord. Sekarang saya sangat setuju jika Anda memang harus pulang."

"Itu bukan sesuatu yang harus mendapatkan persetujuan darimu." Kakashi mengangguk jengkel. Tak ingin berurusan dengan Sakura dengan alasan tidak perduli. Baginya Sakura tidak begitu penting. Selain kenyataan dia adalah istri Sasuke.

"Saya permisi, My Lord."

Sakura memandang Sasuke yang merebahkan diri disofa. Tak memperdulikan atensi dirinya. Sekarang Sakura mulai bertanya-tanya, apa ia ada arti khusus untuk disisi Sasuke selain anak.

Sakura setengah duduk didekat kepala Sasuke. Tangannya mulai bergerak memijat kening Sasuke yang mengkerut bahkan ketika memejamkan mata.

"Tidurlah lagi!" Sakura menggeleng lemah. Bagian dalam pipinya ia gigit kuat-kuat, melihat kondisi lelah Sasuke. Selama ini, Sasuke hampir tidak pernah menunjukkan raut lemahnya. Tapi justru itu yang membuat merasa berarti, dia merasa dianggap tempat pulang.

"Saya tidak akan pulang jika Anda tidak mengizinkan." Sakura memulai hati-hati.

"Aku sudah. Kau hanya tinggal berangkat. Jangan terlalu dipikirkan, semua akan baik."

"Anda menginginkannya?" Sasuke hanya diam, tak berniat menjawab.

"Abaikan ucapan Kakashi." Sakura menggeleng keras. Pijatan pada Sasuke pun terhenti.

"My Lord--"

"Bisakah nanti saja?" Sasuke menoleh ke arah Sakura, berharap kali ini saja mereka tidak terlalu larut dalam obrolan.

"Tolong! Dengarkan sebentar saja." Sakura memelas. Ia tak mau hingga membuat Sasuke kerja dua kali.

Sasuke kembali mendudukan diri, tepat dihadapan Sakura yang duduk dilantai. "Kau memintaku mendengarkan, tapi kau selalu melontarkan pertanyaan menyebalkan. Jangan lupakan kau yang selalu sensitif."

"Bagian--"

"Belum apa-apa sudah akan terpancing, kan?" Sakura diam menunduk. Membenarkan. Itulah mengapa untuk menjelaskan kesalahanpahaman atas permintaannya tidak kunjung selesai.

"Bisakah aku pergi saja, tidak ada masalah jika kau masih ingin disini." Sakura mendongak, ingin rasanya ia membentak Sasuke yang selalu akan pergi sejak tadi. Air mukanya sudah sangat merah menahan tangis. Lagi lagi. Pelan, Sakura mengusap pipinya yang basah. Sebisa mungkin menampung airmata agar tidak terlihat Sasuke. Percuma. Sasuke tidak buta, apalagi jarak mereka sangat dekat.

Sasuke menengadah, menghela nafas untuk mengurangi kadar emosi yang kapan saja bisa tersulut oleh suara tangisan tertahan. Sasuke mengusap muka kasar, lalu berdiri, merengkuh Sakura dalam gendongan, dan membawa mereka pada ranjang. Sasuke sudah sangat lelah. Berharap Sakura sedikit mengerti artinya. Dan Sasuke akan memilih tidak perduli jika Sakura masih ingin berbicara, dia sudah ikut berbaring hanya tinggal menutup mata, dan semoga telinganya bisa ikut berkompromi.

"Katakan ke intinya. Atau tidurlah!" Gumam Sasuke rendah, lengan kirinya dijadikan bantalan untuk Sakura. Sementara Sakura tidur menyamping ke arahnya dengan kepala merangsek didada bidangnya. Tangan lembutnya memeluk dadanya. Sementara Sasuke masih asik melihat langit-langit kamar.

"Aku bilang tidak ingin pulang."

"Kenapa? Semuanya sedang dipersiapkan." Sasuke menatap Sakura jengahm

Sakura menggeleng. "Saya sudah berbicara dengan Sasori. Anda tidak bilang apa-apa. Jadi saya tidak bisa mencegah." Sakura merasa was-was saat dirasa Sasuke hanya diam.

"My Lord. Anda tidak akan mengusir kita, kan?" Sasuke mengernyit saat telapak tangan Sakura menyentuh rahangnya yang keras.

"Kau menuduhku?"

"Jangan salah paham. Saya mengerti, Anda hanya menuruti ucapan saya waktu itu." Tanpa sadar Sakura terisak. "Tapi kenapa tiba-tiba Anda memudahkan segala?"

"Saya tidak perlu jawaban." Potong Sakura saat Sasuke akan kembali membuka mulut untuk bersuara. Sakura tahu apapun kata itu akan menyakitinya.

"Jangan sering diluar kekaisaran. Anda punya istri, dua diantaranya sedang hamil. Tidakkah Anda melewati masa-masa itu?"

"Perjuangan yang ku maksud. Bukan Anda yang harus mengorbankan waktu disana sepanjang hari. Tapi Anda sudah tidak memperjuangkan kami lagi. Kenapa? Karena sejak awal kita adalah musuh? Anda bahkan rela tidak bertemu anak yang akan ku lahirkan." Lagi lagi, Sakura memotong agar Sasuke tidak bersuara.

"Jangan memgambil kesimpulan sendiri!"

Sakura tahu akhirnya Sasuke memilih diam mendengarkan dengan helaan nafas yang dibuat keras beberapa kali.

"Aku tidak akan meminta maaf karena kabur dari kastil. Tapi aku minta maaf telah membuat Anda kecewa sehingga menimbulkan kekacauan ini. Maksudku Anda dengan bawahan Anda." Sakura sengaja mendongak memastikan jika Sasuke tidak tidur dan hanya mendengarkan. Rupanya pembicaraan satu arah lebih baik untuk sekarang ini. Tanpa ia juga yang menuntut balasan dari jawaban Sasuke.

"Saya sudah meluruskan maksudnya. Terserah, jika Anda masih ingin berlanjut dengan rencana yang telah disusun. Saya yakin banyak sekali gulungan dokumen disana. Tapi tetaplah jaga kesehatan, aku tidak sudi melahirkan sendiri." Sakura berbalik memunggungi Sasuke. Mengusap perutnya sayang. Rasa lega melingkupi hatinya. Jika pun persiapan memang sudah dibentuk, Sakura tidak akan menyesal dia pergi.

Sakura terisak dalam diam. Dia sudah terbiasa dengan dikte Sasuke. Membayangkan jika mereka harus berjauhan lagi seperti dulu, ia merasa akan kacau lagi. Tapi benar kata Sasuke, mereka hanya perlu mencoba sekali lagi, dan tidak akan mati.

Lama waktu berlalu dan Sakura masih belum selesai dengan rasa sedihnya. Tangan kekar itu melingkari perutnya. Mengusapnya lembut. Kepala Sasuke menyusup ditengkuknya, hanya diam dengan helaan nafas yang menggelitikinya. Sangat nyaman. Bayinya seolah merespon, padahal masih cukup muda. Sasuke tidak berkata apapun tentang penjelasannya. Tidak juga berkomentar, itu lebih baik daripada mereka kembali berakhir dengan adu mulut.

"Tidurlah. Kau lelah." Betapa manisnya, jika saja mereka tidak memiliki masa lalu yang buruk. Mereka akan bahagia. Sasuke juga tidak akan memiliki istri banyak. Sakura yakin.

"Anda juga."

"Hn." Kosa kata yang khas untuk lelakinya kala dia benar-benar sudah jenuh menjawab. Sakura tersenyum senang.

Hening malam semakin berkuasa, Sakura yakin Sasuke sudah pulas. Nafasnya teratur, dan tangannya sudah berhenti memberi anak mereka belaian. Dan Sakura masih membuka mata, tidak mengantuk. Berbagai macam jenis makanan tiba-tiba menari-nari dalam bayangan. Tapi Sakura terlalu malas untuk sekedar bangun mencari maid. Mau tidak mau adalah membangunkan Sasuke, tapi ragu itu masih merajai, bagaimana pun dia masih tidak tahu perasaan Sasuke setelah ini.

"My Lord." Bisik Sakura pelan. "My Lord." Masih tak ada reaksi. Sakura berbalik dan menghadap ke arah Sasuke. Tampan dan polos. Sayangnya tampang itu akan sirna kala lereng hitam dan tajamnya kembali menampilkan sinarnya. Tapi justru itu yang membuatnya terpukau dulu. Sekarang? Entahlah. Segala rasa masih campur aduk. Saat ini merasa aman saja sudah sangat cukup. "Uchiha Sasuke." Panggil Sakura agak keras. Dan Sakura kembali tersenyum kala mata sayu itu terbuka.

"Apa? Besok saja." Sakura mendengus sebal, saat lengan Sasuke meraih punggungnya dan menyusupkan kepala pada belahan dadanya.

"Bangun!"

Terdengar helaan nafas lelah Sasuke. Tapi entah kemana simpatinya tadi. Sakura tetap tidak perduli. "Jika ada lagi yang mengganjal, katakan saja!"

"Lapar." Bisik Sakura tepat ditelinga Sasuke.

Tiba-tiba Sasuke terbelalak. Kantuknya hilang sesaat. Ingat jika Sakura memang belum makan sejak siang tadi. Dan dari laporan pun pola makan Sakura sangat buruk. "Panggil maid saja!" Benar, kenapa Sasuke harus terkejut. Maid di kekaisaran banyak. Mengapa harus sampe kepikiran karena terlambat makan.

"Malas." Apa katanya?

"Kau menyuruhku?"

"Anda yang menyimpulkan."

"Lalu kenapa membangunkanku."

Sakura berdecak. Kemudian kembali memunggungi Sasuke yang tidak peka.

Akhirnya Sasuke mengalah turun dari ranjang, memanggil maid untuk makan malam yang sangat terlambat. Sakura hanya melirik Sasuke dari balik punggung dengan senyum jahil.

Mata Sasuke sudah kembali berat saat Maid datang membawa makanan. Sakura sejak tadi memang sudah menunggu disofa, ingin menegakkan tubuh katanya.

Kemudian Sakura kembali ke ranjang saat para maid keluar. Menghampiri Sasuke yang duduk dikepala ranjang, setengah mengantuk.

"Para maid bilang, Anda juga belum makan. Kita makan bersama."

"Makanlah! Aku tidak selera." Sakura menggeleng tegas.

"Kita makan bersama. Atau kita sama-sama kelaparan." Oke. Darimana Sakura berkata tegas dengan ekspresi tidak terbantahkan seperti itu. Apa anaknya meniru sifatnya?

Sasuke yang memang selalu menuruti mau Sakura yang jinak, mau tidak mau ikut bergabung, hanya untuk menyenangkan. Karena dia tidak benar-benar lapar, apalagi ini terlalu malam.

.

.


TBC

.

.

.

Holaaaaaa...

Hei, thank you yang sudah mendukung cerita aku, sudah kasih vote dan comment juga... Semoga aku semakin rajin juga ya... Hehhe pis

Gimana? Suka Sasuke yang dimana:

1. Reborn, My Lord

2. Dunia Shinobi

3. My Heart, My King

Jangan lupa klik tombol dibawah ya