Suara Dunia Shinobi mana?
Ini dulu yah, yang ku update
Warning : Typo bertebaran, kata rancu dimana-dimana.
Yang gak suka, silahkan out dari sini. Dari awal dan dari beberapa story saya sudah mempersilahkan.
Yang mau baca, merapat!
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
Berbulan telah berlalu, pada akhirnya masih Sakura masih tinggal di kekaisaran. Keputusan itu berubah setelah malam itu. Sasuke memang tidak berubah jadi lembut. Tapi tidak juga mengabaikan.
Selama itu pula, dia memang bisa menyaksikan Sasuke yang menaruh hormat pada semua istrinya, kendati sikap dingin dan tegas masih menyelimuti. Jadi sikap Sasuke yang tidak bersahabat memang tidak berlaku pada Sakura saja.
Sasuke sering mendatangi Shion, sama seperti dirinya, karena kehamilan, yang katanya direncanakan Sasuke sebagai alasan hukuman atas tindakan meracuni Sakura dengan obat pencegah kehamilan. Beratnya seimbang. Tapi Sasuke justru tak menurunkan kunjungannya, malah kata Kurenai ini termasuk sering daripada sebelum Shion hamil.
Belum lagi tingkah menyebalkan, sepupu jenderal terkuat di kekaisaran, Karin. Hanya dia dari istri Sasuke yang tidak hamil. Tapi semakin hari tingkahnya semakin agresif, layaknya ikan kehausan. Bagaimana tidak, Karin selalu mepet ke arah Sasuke disetiap ada kesempatan, dan tak peduli tempat. Alasannya memang masuk akal, keadilan katanya. Karin iri pada Shion dan Sakura. Ya, istri mana yang akan biasa saja jika diperlakukan tidak adil.
Dan Sakura selalu dibuat uring-uringan oleh tingkah mereka. Lupakan tentang Shion yang memang dikurung dalam kastilnya, tentu saja tidak menutup kemungkinan ia tetap mengumpati Sasuke jika tahu pergi ke sana. Tapi, Karin. Sakura bahkan sering memergoki mereka yang tengah bercumbu di ruang kerja. Karena kamar utama ternyata memang kamar pribadi yang hanya atas izin Sasuke untuk menidurinya. Dan Sakura cukup merasa menang disini, karena ia bebas keluar masuk, lebih tepatnya ia tak perduli teguran apapun. Tapi hati kecilnya berbisik nakal, mungkin saja mereka juga bercumbu disana saat Sakura lengah. Kurang ajar!
Ya, ingin sekali Sakura berteriak hingga gendang telinga seseorang yang mendengar menjadi tuli, terutama si merah Karin. 'Sasuke hanya milik anaknya!' Ya, hanya anaknya, karena sampai hari ini pun Sakura pantang mengakui jika ia masih sangat terikat pesona dengan pria semacam Sasuke yang memiliki banyak istri. Tidak. Dirinya yang seorang queen jelas merasa terhina. Ini hanyalah keadaan darurat yang terpaksa harus dilakukan untuk keberlangsungan negara dan seluruh dunia shinobi. Cukup menghibur diri dengan kata 'mulia'.
Jangan salah berpikir, Sakura akan manut terhadap Sasuke setelah hari itu. Tidak, nyatanya Sasuke selalu dibuat naik pitam setiap adu argumen dengan Sakura. Ya, masih dalam jangka wajar. Setidaknya Sasuke tidak salah paham lagi. Dan berakhir pada Sakura yang merasa bersalah.
Hormon hamil, adalah gumaman Sakura setiap sadar melakukan hal yang tidak semestinya. Perasaan sentimen yang selalu Sakura tolak kecuali dengan alasan kehamilan. Lucu sekali, bayinya selalu membuat repot ibunya dengan alasan-alasan ngidam dan perasaan campur aduknya. Sehingga Sakura tidak bisa membedakan mana keinginannya, dan mana keinginan bayinya. Padahal usia kandungannya terbilang tua, lima bulan.
Selama itu pula Sakura tidak mendapatkan kebugaran, kehamilannya, mengganggu kesehatannya. Barangkali itupula, perasaan ingin diperhatikan semakin membuncah. Kadang kala Sakura masih mengalami mual-mual dipagi hari. Kurenai sampai selalu menampilkan raut cemas setiap dia ambruk tiba-tiba. Terlampau sering. Dan Sakura kembali memuji kesiagaan Sasuke sejak diumumkan kehamilannya. Menempati Shizune disisinya, bertugas hampir berdampingan dengan Kurenai. Para maid tak perlu melakukan kehebohan yang mondar mandir mencari tim medis. Meski Shizune juga selalu dibuat heran, setidaknya Sakura selalu lebih baik setelah mendapatkan penanganan.
Padahal, sebisa mungkin Sakura tidak melewati waktu makannya. Sasuke juga selalu memperingati maidnya. Tapi kondisi Sakura yang mudah lemas bukan kebohongan yang dibuat-buat. Beruntung kondisi bayinya selalu dinyatakan sehat. Saat diperiksa tim medis yang dipimpin dokter Biwako juga. Bahkan saat Tsunade yang berkunjung bersama Matsuri mengatakan hal sama. Akhirnya mereka sepakat untuk membuat Sakura istirahat total. Hei, bukankah itu sama saja ia dikurung?
Sakura menghela nafas jengah, bosan. Kemudian berdiri dari acara membaca bukunya. "Aku akan ke Kastil Onyx." Pernyataan spontan Sakura ingin ditentang Kurenai, tapi tidak Sakura hiraukan, ia hanya terus berjalan ke luar kastil.
"Anda harus banyak istirahat, My Queen. Bukankah semalam Anda kurang tidur." Kurenai tahu, apapun yang dikatakannya tidak akan mempengaruhi kehendak Sakura. Menghela nafas pasrah, pandangannya bertatapan dengan Shizune, isyarat untuk mengikuti Sakura.
Keamanan Sakura kembali diperketat. Lebih ketat dari sebelumnya malah. Jika ingin diam-diam kabur dari kekaisaran lagi, mungkin Sakura akan gagal. Bagaimana tidak? Selain mereka yang jelas nampak berjejer, pengawal bayangan pun ternyata ada dimana-mana. Selalu, Sakura merasa jengah, ia juga shinobi, bisa merasakan orang yang mengintainya dari jauh, dan itu sangat-amat-menyebalkan. Ingin rasanya menghajar mereka. Tapi semua orang menyarankan untuk tidak melawan, termasuk Sasori dan Tsunade. Dan sekarang, setiap dia keluar dari pintu kediamannya, kemana pun, harus diiringi rombongan yang jumlahnya tidak sedikit. Demi alam semesta, Sakura merasakan tidak nyaman.
Sakura tak harus cekcok lagi dengan penjaga pintu ruang kerja Sasuke, mereka sudah terlalu terbiasa, merasa sia-sia menegur Sakura yang semakin hari semakin galak, itu juga mengapa Sakura sering memergoki Karin dan Sasuke yang sedang bercumbu. Sakura menggeleng, berusaha menyingkirkan pikiran memuakan tentang mereka. Karena hari ini, wanita merah itu tidak ada.
"Selamat pagi, My Queen. Ku pikir ini terlalu pagi untuk berkunjung." Sapa Naruto, ketika sadar ada yang membuka pintu ganda. Tidak terlalu bar-bar memang. Tapi siapapun akan sadar ketika pintu terbuka atau tertutup kembali.
Kakashi hanya berdiri merasa sudah terwakilkan. Dan keduanya duduk kembali setelah mendapat anggukan singkat Sakura. Menerima salam mereka.
Sedang Sasuke masih berkutat dengan gulungan yang harus dia baca. Sesekali membubuhkan tinta, entah menulis atau sekedar memberikan tanda tangan.
Sakura. Dia lebih memilih duduk di sofa. Tidak merasa perlu menyapa karena Sakura yakin Sasuke sudah sangat menyadari kedatangannya. Lebih lebih, tadi Naruto sudah menyebut namanya.
"Perlu sesuatu untuk menemani acara bersantai Anda, My Queen?" Kakashi yang memang risih tak tahan untuk bersuara. Berbasa-basi. Heran, mengapa Sakura selalu datang dengan tingkah berbeda, namun tetap tidak membenarkan. Berapa banyak stok cara yang Sakura miliki.
"Boleh saja." Kakashi kembali berdecak. Sakura dengan segala sifat menyebalkan memang satu paket. Sulit untuk di netralkan. Bersyukur Kakashi tidak pernah kehabisan akal, jadi jawaban singkatnya diartikan Kakashi bebas membawakan apapun untuk menghilangkan bosan Sakura. Tanpa banyak kata, Kakashi keluar memanggil Kurenai, dan memasrahkan segalanya.
Beberapa saat kemudian, bisa dilihat, Kurenai membawa teh serta camilan ringan dan sebuah buku tentang tanaman obat. Kakashi hanya menggeleng dengan pikirannya sendiri, Sakura hanya pindah tempat untuk bersantainya. Karena, tidak ada suara dari kedua junjunannya. Begitupun Naruto yang sedang merekap data militernya dengan serius. Yah, mereka memang sedang sibuk, apalagi di akhir bulan seperti ini. Sebuah keberuntungan langka dimana Sakura tidak datang hanya untuk merusuh.
Saat jam makan siang, Sasuke meminta Kakashi dan Naruto untuk keluar, mencari tempat sendiri. Begitu juga dengan dirinya yang tak akan melewatkan makan siangnya saat dia tahu Sakura ada disini. Sakura akan melewatkannya, jika Sasuke juga melewatkan.
Sejak awal, Sakura hanya diam saja, Sasuke tidak ambil pusing, hingga ia menoleh dan mendapati Sakura tertidur dengan posisi terduduk, setelah menghabiskan semua cemilan yang dihidangkan.
Sakura mengerang, saat seseorang mengguncang bahunya pelan, tapi cukup mengganggu. "Sakura." Dan suara pelan Sasuke yang disambut tendangan kuat dari bayinya. Reflek tangannya mengelus perutnya yang sudah agak membuncit. Meski sudah merasakan pergerakan kecil dari berminggu lalu, Sakura masih tidak terbiasa, selalu meringis walaupun tidak kentara. Terbukti dengan Sasuke yang masih bermuka datar walaupun menangkap pergerakan perutnya.
"Pindah?" Sakura menggeleng pelan, kemudian menyandarkan kepalanya pada lengan Sasuke yang ditumpukan pada bantalan sofa.
"Kau tidak pegal tidur seperti ini?"
"Kepalaku pusing." Adalah balasan diluar pertanyaan. Sasuke menghela nafas kasar. Menenangkan wanita bukanlah keahliannya, tapi sejauh itu ia tak akan memusingkannya, semua istrinya cukup disodorkan maid yang serba bisa, dan dokter terbaik. Itu saja cukup. Kali ini dia harus dibuat menahan emosi berkali-kali ketika berhubungan dengan Sakura, yang Sasuke yakin kebutuhannya sudah sangat terpenuhi, melampaui Shion dan Karin, karena status Sakura juga tidaklah main-main.
"Aku bosan, capek, muak. Aku benci mereka yang berjaga seolah ingin membunuhku." Lanjut Sakura saat tak ada lagi tanggapan dari Sasuke.
"Aku tak bisa melonggarkannya." Sakura mengangguk mengerti sebagai jawaban.
"Aku hanya ingin bilang." Sakura memilih diam, ingin memejamkan mata lagi.
"Ingin makan apa?" Sasuke mencoba mengalihkan pikiran Sakura dari para militernya yang berjaga.
Sakura menggeleng. "Tidak selera."
"Harus tetap makan!" Sasuke menumpukkan telapak tangannya pada telapak tangan Sakura yang berada di perutnya. Mengingatkan jika ia tidak sendiri. Sakura hanya mendengus sebal.
"Tertarik makan di tepi Danau Kaisar?" Adalah tempat paling indah dalam kekaisaran, dan hanya berada dibagian terbelakang Kastil Onyx. Sangat jarang ada orang yang bisa mendatangi tempat itu, karena merupakan tempat pribadi kaisar, dan hanya kaisar yang memegang kunci gerbang, itulah mengapa dinamai Danau Kaisar.
Cepat-cepat Sakura mengangguk, sangat antusias, jarang sekali Sasuke memberikan izin untuk masuk ke sana, dan Sakura tak akan melewatkan tawaran ini.
"Menu apa?"
Sakura berpikir sejenak. "Apa saja?" Menyerah, karena memang tidak benar-benar lapar, dan tidak menginginkan sesuatu.
Sasuke mengangguk, lalu memanggil maid agar menyiapkan semuanya, mungkin ia juga akan menemani Sakura bersantai sejenak.
"Ayo!"
Mereka berjalan beriringan, tidak terlalu berisik, lagi-lagi Sakura tampak tenang, hanya mengeluh bosan.
"Kapan Anda kembali ke pegunungan?"
"Kenapa?" Sakura menggeleng ragu. Kesal, karena dijawab pertanyaan.
"Lusa. Hanya meninjau. Sebaiknya kita memang membangun istana disana. Kau butuh suasana bersalin yang nyaman."
Mereka memasuki kawasan hutan yang sangat terawat rapih, Jalan setapak yang mereka telusuri dibuat untuk mengarah langsung ke arah gajebo diatas danau. Dan Sakura selalu takjub dengan berbagai jenis pohon yang berjejer tinggi tersusun rapi. Menguarkan udara segar untuk dihirup. Tanpa sadar, senyum tulus terpatri apik. Sasuke menikmati pemandangan manis daripada pemandangan alam disekitarnya.
"Ini menenangkan." Gumam Sakura santai.
Hidangan makan siang telah tersusun sempurna, Saat Sakura dan Sasuke menaiki memasuki gajebo yang sangat luas. Sasuke duduk pada kepala kursi, sedangkan Sakura disamping kanan. Tak langsung menyantap, Sakura masih menikmati suasana, sebelum kemudian Sasuke menegur untuk segera makan.
Sakura menghentikan kegiatan makannya saat Sasuke selesai. Dia benar-benar tidak berselera. Ia hanya ingin bersantai disini. Menghirup udara segar dengan pemandangan menakjubkan.
"Habiskan!"
"Sudah. Penuh." Sakura mengelus lembut perut buncitnya.
"Kau sakit?"
"Ini sudah biasa, My Lord." Sakura menjawab asal.
Sasuke menyendokan makanan lalu disodorkan pada mulut Sakura. "Habiskan! Pelan-pelan saja." Mau tak mau Sakura menerima. Sasuke terlalu sayang untuk ditolak.
"Ini sudah benar-benar cukup, My Lord. Saya akan mual jika dipaksakan lagi." Sasuke menghela nafas, berusaha sabar, menghargai Sakura yang bersikap baik hari ini. Makanan yang masuk cukup lumayan, meski bisa dikatakan terlalu sedikit.
"Ingin camilan?"
Sakura menggeleng cepat. "Saya akan makan lagi jika lapar." Sasuke menyerah. Ini tugas maid pribadinya untuk mendesak Sakura. Sangat merepotkan jika ia harus turun tangan juga.
Sasuke membawa Sakura untuk menepi. Membawa tubuh kurus itu dalam pangkuannya. Membiarkan kepalanya bersender diperpotongan lehernya. Sementara tangannya saling mengelus perut menonjol Sakura. Menyapa putranya yang masih bergelung nyaman dalam rahim ibunya. Sesekali Sakura meringis ketika tendangan kecil bergerak terlalu aktif. Dan kembali tenang dalam buaian ayahnya.
Sasuke mengerti Sakura adalah putri manja, hampir tidak pernah tergores rasa sakit. Sakura yang sedang sakit akan merepotkan orang disekitarnya. Lima bulan usia kandungan, tentu membuatnya kepayahan. Sering kali maid dari kastil blossom datang sekedar memanggilnya untuk berkunjung, tapi tak satu pun Sasuke gubris. Ia hampir tidak pernah memanjakan istri-istrinya dengan alasan bayi. Baginya itu sangat menyebalkan. Ia akan datang ketika ingin atau memanggil Sakura datang langsung ke kamar utama.
"Saya ingin ikut ke Pegunungan Miyaboku." Keluh Sakura. Sasuke hanya bungkam, tak ingin memicu apapun yang akan berakhir dengan perdebatan, keinginannya sudah jelas tertentang.
"Mungkin saya bisa menjalankan kehamilan disana, ikut membantu, seperti dulu mendiang Empres Hana." Sakura mendongak saat Sasuke tak kunjung bersuara. Perutnya memang sedikit lega dan nyaman dengan elusan Sasuke.
"My Lord?" Sakura memastikan jawaban Sasuke lagi.
"Kau tau benar jawabannya."
"Kami akan baik-baik saja, ada Queen Tsunade disana." Sakura memaksakan argumen.
"Riwayat kehamilanmu buruk. Lebih buruk dari kedua istriku yang lain. Pulihkan saja dirimu, lahirkanlah dia dengan baik. Aku akan lebih menghargai."
Sakura melepaskan diri dari pelukan Sasuke, berdiri, melihat sudut lain dari pemandangan sekitar. "Anda seolah mengenal kondisi kami, tapi bahkan tidak pernah Anda berusaha mengikuti andil dalam mengurusi kehamilan ini."
"Apa para dayang dan perawat tidak cukup memenuhi keinginanmu? Memenuhi aksi ngidammu?" Sasuke berbalik menghadap Sakura dari ujung seberang.
"Perlu diingat yang membuat saya begini bukan orang yang anda sebutkan tadi." Sasuke terdiam. Dia tak suka tuntutan.
"Terserah." Tanpa peduli lagi, Sasuke memilih pergi, membiarkan Sakura yang masih betah bersantai disini.
Sakura memandang Sasuke sendu. Tak lama kemudian Sakura menggeleng pelan. Meyakinkan diri, sudah sepantasnya seperti ini. Mereka bersama, karena bayi ini.
Flashback On
"Sasuke-kun, apa yang kau lakukan malam-malam disini." Sakura memandang Sasuke yang kacau. Mata tajam yang tersembunyi dengan kelembutan itu nampak mengerikan. 'Ada apa?' Tidak biasanya Sasuke berkunjung ke kerajaannya tanpa penyambutan, terlebih Sasuke datang ke kamarnya tanpa pengawasan.
"Ikut denganku!" Bulu kuduk Sakura meremang. Sekilas ia meragukan pemuda didepannya.
"Tapi ada apa? Tidak biasanya. Kau aneh."
"Bisa berhenti bertanya. Ikut saja!" Sasuke membentak.
"A-aku akan izin ke ibu. Ayah sepertinya sedang dalam--"
Sebelum Sakura berhasil mengutarakan maksud, Sasuke menciumnya kasar, lebih menuntut daripada yang biasa dilakukan.
Baru Sakura menyadari jika tangan Sasuke lembab. Kamar temaram menyamarkan semuanya. Termasuk Sasuke yang datang tiba-tiba.
"Tanganmu basah. Ada ap--" Sakura histeris, jatuh terduduk, kedua tangannya bergetar, ketakutan lebih mendominasi kala bau amis masuk ke indra penciumannya.
"Ada apa ini, Sasuke-kun?" Sakura mendongak dalam duduknya.
"Disini tidak aman, ayo pergi!" Katana Sasuke sekarang terlihat jelas dalam genggaman. Sebelah tangannya yang bebas membawa Sakura ke dalam pelukan. "Jangan takut! Aku bersamamu." Sakura mempercayai suara Sasuke yang kembali melembut. Benaknya berkata, Sasuke datang untuk menyelamatkannya.
Sakura mengangguk pelan, mengikuti kemana Sasuke membawa. Keadaan diluar kamarnya ternyata lebih parah. 'Siapa yang membunuh para penjaga dan pelayannya?'
Tanpa tanya, sebisa mungkin Sakura mengikuti langkah Sasuke. Semua sudah jelas, ada penyerangan. Jujur saja dia menggigil dengan darah yang berserakan dimana-mana.
"Berani kau, Uchiha! Lepaskan putriku!" Sakura mendongak saat mendengar suara lantang ibunya dari tangga bawah. Sasori kecil sudah berada ditangannya, melindunginya di balik punggung.
"Ibu." Sakura terisak lirih. "Ada apa ini?" Ia bingung dengan situasi kacau ini. Siapa yang berani membuat kerusuhan di kerajaannya.
"Sakura. Turun dari situ! Kemari! Menjauh dari monster itu!" Mebuki masih tak menurunkan suara. Memperingati putrinya. Tidak. Ia ingin melindungi putra dan putrinya terlebih dahulu.
"Jangan turuti!" Sasuke berucap lirih dan tegas. Hingga hanya Sakura yang mampu mendengar.
Sakura bimbang, apa yang harusnya dilakukan. "Dia, ibuku. Ayo! Kita akan baik-baik saja. Kita harus bersama."
"Kau akan menyesal. Jika satu langkah lagi menjauh dariku!" Ancam Sasuke tajam saat Sakura hendak menuruni tangga.
Sakura berbalik tidak mengerti. Senyumnya terbit walau airmata belum berhasil surut. "Aku tidak mengerti. Tapi aku tidak bisa melewatkan keluargaku. Tolong lindungi mereka juga!" Sakura berkata lirih.
"Sakura! Cepat! Jangan menengok ke belakang! Kau sudah benar. Ayo kita kemari!" Teriakan Mebuki disertai dengan kedatangan para militer kerajaan, lengkap dengan perlengkapan perang demi melindungi anggota keluarga raja.
"Lihat, Sasuke-kun! Para militer sudah datang. Kita aman. Aku takut melihatmu seperti ini. Kau bisa terluka." Sakura membujuk.
"Kau tidak mendengar perintahku, Sakura!" Sasuke menggelap saat Sakura kembali menjauh.
Sakura memeluk ibunya ketakutan. "Ada apa sebenarnya, Bu? Kenapa semua menjadi sekacau ini?"
"Kau, pergi! Bawa Sasori dengan para militer duluan. Nanti Ibu jelaskan. Jangan takut. Kau putri ibu, kan? Jangan lagi--"
"Kak Sasuke!" Teriak Sasori saat melihat Sasuke turun dari undakan tangga. Auranya menggelap.
Mata Mebuki melotot panik. Segera meraih tubuh putranya yang akan menghampiri Sasuke. "Tetap dibelakang ibu, Sasori!"
Sejujurnya Sasori juga merasa ganjil dengan penampakan Sasuke, "Pergilan dengan kakakmu!" Sasori hanya mengangguk patuh, meraih lengan kakaknya.
"Kami pergi. Kak Sas--IBU...!" Sasori menoleh ke belakang bermaksud pamit pada Sasuke dan ibunya, namun pemandangan yang terlihat adalah katana ditangan Sasuke sudah bersarang ditubuh ibunya. Tubuh para militer dalam sekilas juga sudah berjatuhan. Semua terjadi begitu cepat. Sasuke masih lihai memainkan katana tajamnya.
"IBU...IBU..." Sakura tadi hampir menolak perintah ibunya. Tapi melihat kondisi yang tidak memungkinkan, ia lebih memilih menurut kala Sasori menggenggam tangannya. Tapi teriakan Sasori pulalah yang pada akhirnya membuat Sakura berbalik.
Sakura tidak percaya apa yang sudah tunangannya lakukan. Tubuh ibunya sudah tumbang bahkan sebelum dia melewati pintu ruang utama. Para militer yang banyak dikalahkan seorang diri.
"Aku sudah memperingatimu!" Sasuke mendekati Sakura penuh ancaman. Sekujur tubuhnya sudah banjir oleh darah.
Pikiran Sakura sekarang hanya pada Sasori. Sisa pengawal yang berjaga tidaklah seberapa. Ini bukan waktunya mendekati Sasuke dengan mata yang sudah berubah merah, sharingan.
"SHANNAROOO!!!" Satu pukulan keras Sakura yang berhasil sedikit mengalihkan perhatian Sasuke, digunakan untuk membawa lari Sasori. Sisa militernya, terbagi dua. Sakura harus segera mencari bantuan lain.
"Kak!" Nafas Sasori terengah.
"Tetap lari, Sasori!" Setelah melewati gerbang, Sakura berharap, masih ada yang akan peduli pada kerajaan.
Entah apa yang terjadi. Ini bukan perang besar. Selain Sasuke, dia tak menemukan musuh lain . Hanya saja keadaan dalam istana bisa sekacau ini.
"Princess!" Sakura menoleh. Nara Shikaku, Jiraiya dan pejabat lainnya datang bersama pengawal elit.
"Apa yang terjadi?" Sakura yang masih bingung, ingin kejelasan. Sasori sudah pada gendongan Shikaku.
"Dimana, My Queen?" Jiraiya belum menjawab. Pandangannya meliar saat tak mendapati Mebuki diantara keluarga raja.
"Ibu...Ibu, paman." Sasori memang tidak meraung menangis, tapi dia tampak syok.
"A-aku tidak tahu, tapi Ibu ditusuk tepat di jantung." Semua orang disana menunduk, merasa berduka, sebagian, merasa gagal.
"Princess, begini...My King telah tiada, Lord dan Empress Uchiha juga." Dunia Sakura seakan runtuh, belum punah rasa kehilangan ibunya ditangan Sasuke, ia harus mendengar kematian ayahnya juga. "Kami belum mendapatkan berita pasti penyebabnya. Kita harus membahas nanti. Kalian berdua harus menyelamatkan diri dulu."
Sakura tidak tahu apa yang terjadi berikutnya. Sasori adalah prioritas, pewaris takhta. Jiraiya beserta pasukan pejabat lain menghadapi Sasuke.
Hari berikutnya, genderang perang benar-benar terjadi. Sasuke bisa kembali ke Konohagakure dengan selamat pun, Sakura tidak bisa membayangkan bagaimana caranya. Yang jelas, akibat dari perang ini berdampak banyak.
Tak hanya Konoha dan Kiri, tiga negara lainnya pun ikut terkena kerugian. Dua tahun, saling serang dan bertahan. Sadar atau tidak, perang yang terjadi tanpa landasan tujuan yang jelas.
Banyak petinggi penting yang tewas dimasing-masing negara. Termasuk, Nara Shikaku. Bahkan, ketika kekaisaran goyah karena kematian Lord Fugaku. Gelar kaisar masih dikendalikan Konoha diakhir perang, dengan Sasuke sebagai kaisar baru.
Perang berakhir dengan kemenangan kecil kekaisaran. Tersisa hanya perang dingin berkepanjangan. Sejauh ini, masih tidak ada tujuan. Selain, dendam.Uchiha dan Haruno.
Sakura, atas apa yang ia lihat. Sasuke, atas luka yang dibawa ketika pulang malam itu.
Secara resmi pertunangan Sakura dan Sasuke putus. Tanggal pernikahan yang direncanakan merupakan akhir dari angkat senjata, dan berganti perang dingin.
Namun, meski masih menyimpan sakit hati, keempat kage masih harus patuh pada kaisar. Itu mengapa, Kirigakure bertingkah seolah dikucilkan. Perkumpulan kage, hanya dihadiri perwakilan. Sakura yang sudah diangkat jadi kage, menolak apapun dibalik kedok pertemuan lima kage.
Flasback off
"SASUKE!" Sasuke menghentikan langkah dan berbalik cepat. Sakura sedang berlari kencang ke arahnya.
Sasuke melotot tajam. Bukan. Bukan pada Sakura. Tapi dibelakang Sakura, pria berjubah awan merah.
Sharingan aktif, Sasuke melesat ke arah Sakura. Tapi Sasuke kalah cepat, pria bertopeng dengan satu lubang dimata juga memiliki sharingan.
Byurrrrr
"Kyaaa..." Demi apapun Sakura tidak bisa berenang.
Tak lama kemudian Naruto, Kakashi dan para pengawal datang saat merasakan cakra tak di kenal.
Merasa terdesak, Tobi menghampiri Sakura yang sedang menggapai-gapai udara, berlomba dengan Sasuke.
Setelah memeluk Sakura yang lunglai, Sasuke mengeluarkan bola api dari mulutnya.
Tobi, menghindar jauh. Sangat gesit. "Hohoho, hampir saja, hampir."
Detik berikutnya serangan demi serangan datang bertubi-tubi dari Naruto dan Kakashi.
Sasuke segera pergi membawa Sakura yang pingsan beberapa saat lalu, darah segar terus merembes mewarnai area kedua pahanya. Ini tidak baik.
"Ah, jika itu mati. Aku tak perlu repot membawa wanita itu, kan?" Tobi melirik ke sudut kiri, tempat dimana satu dari mereka juga berada.
Kakashi mengikuti arah pandang Tobi. Dia tidak bisa, tidak terkejut. "Uchiha Itachi?"
Sasuke berhenti melangkah. Menoleh pada arah pandang Kakashi. Rahangnya semakin mengeras. 'Itachi masih hidup?'
Belum sempat terpecahkan tanda tanya dikepala dengan pria bertopeng. Persis yang dikatakan Shikamaru. Dia memiliki mata sharingan, dan tingkah polah yang bukan Uchiha. Kenyataan Uchiha Itachi masih hidup dan merupakan salah satu dari mereka lebih mengejutkan lagi.
Sasuke dan Itachi hanya beradu tatapan mata sharingan tajam. Saling menyelami pikiran masing-masing. Tak lama kemudian, menghilang bersama dengan Tobi yang masih bertarung dengan Naruto.
.
.
.
Sakura hanya mampu meringis sakit. Tim medis masih memberikan cakra penyembuhan. Beberapa menit yang lalu sadar, dan pendarahan belum berhenti.
"Bagaimana?" Sasuke yang berada disamping Sakura setelah mengetahui sadar pun tak bisa menutupi rasa khawatirnya. Setidaknya hanya Sakura yang bisa membaca ekpresi itu.
"Jika pendarahan belum berhenti, lebih baik dilakukan persalinan segera. Tapi sepertinya pendarahannya mulai berangsur berkurang." Biwako masih fokus pada penyembuhan.
"Bayinya masih menendang kuat. Dia baik-baik saja, My Queen. Jangan terlalu cemas." Shizune mengerti kekhawatiran Sakura sejak tadi. "Anda bisa merasakannya?"
Sakura mengangguk lemah. Merasa lega dengan informasi yang ingin didengar sejak ia sadar.
Sakura memandang Sasuke nanar. Tanpa kata. Seolah tangan yang saling menggenggam, saling menyalurkan kekuatan. Mereka butuh kerjasama untuk menjaga bayi. Jika saja, Sasuke mau sedikit saja meluangkan waktunya. Bukan dari laporan yang setiap hari diterimanya.
"Jangan dipikirkan, fokus saja, ikuti arahan dokter!" Sakura tahu, Sasuke tidak bisa marah dengan kondisinya. Tapi, dia tahu, sekeras apa pergolakan emosi Sasuke saat ini.
.
.
TBC
.
.
.
Gimana tanggapan kalian?
Sasuke baik, kan? #halu
Terimakasih yang sudah baca dan review
Ya, selain menyiapkan diri kena flame lagi... Kali ini aku gak banyak kata deh...
.
.
.
Jangan lupa klik semua tombol dibawah ini!
