Hi guys... Ada nunggu ini...
.
Terimakasih bagi yang sudah setia mengikuti fic aku...
.
Warning: Typo, rancu.
.
.
Notes: Oh ya di 3 fic aku (Reborn, My Lord; Dunia Shinobi; My Heart, My King), ku tegaskan lagi jika ini adalah fic harem. Dan aku ambil alur emang gak memaksa Sakura untuk bersama Sasuke gitu aja, secara cuma-cuma. Yang mentang-mentang Sasusaku, mereka lolos tanpa bersentuhan tokoh lainnya termasuk dengan sex bersama istri lain (coba ambil kehidupan poligami, suami gak mungkin anggurin salah satu istrinya). Jujur aja, kalo gak gitu, buat apa aku ambil tema harem? Mungkin disini bagi readers yang masih nyuruh aku main ke fic orang lain. Tandanya kamu gak kreatif yang maunya ngambil alur orang lain. Atau kalo nggak coba kamu aja deh yang bikin. Karena aku gak suka, yang ujung-ujungnya bikin alur karena (contoh: Sasuke selingkuh) padahal aslinya hanya salah paham yang dibuat-buat. Fic aku pasti akan dibikin Sasuke selingkuh beneran. Terimakasih. Mungkin ini jawaban untuk flamers, dedek emes, atau haters sasusaku, dan yang lebih parah haters aku (dipersilahkan go out, haram kamu dilapak aku).
.
.
Aduhhhhh maafkan aku, untuk kalian yang pengen cepet-cepet baca... Langsung saja ya.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
Dunia Shinobi memang sedang kacau. Bahkan setelah begitu lama perjuangan para kage, kondisi belum berujung sebelum menunggu keberhasilan antara Sakura dan Sasuke.
Ditambah kejadian menggemparkan diusia kehamilan Sakura yang baru menginjak usia tujuh bulan.
Para kage memang sudah menghitung. Akan ada puncak kegemparan setelah alat kontrasepsi ditukar secara illegal menjadi penyubur kehamilan. Terlebih, saat itu hampir semua orang memanfaatkan kontrasepsi agar tetap bisa menyalurkan hasratnya. Baik bagi mereka yang sudah menikah maupun sex bebas.
Semua tim medis hampir kelimpungan dengan jumlah kelahiran yang cepat diwaktu hampir berdekatan. Padahal jumlah dan keahlian mereka telah meningkat pesat sejauh ini.
Yang paling utama, adalah obat-obatan. Meski sudah dipersiapkan jauh hari agar tidak kehabisan stok. Setelah melewati rintangan sulit, seperti saat pernah gagal panen besar-besaran. Pencurian saat akan didistribusikan. Ada juga pejabat-pejabat nakal yang menimbun dan menjual dengan harga mahal.
Sasuke geram. Setelah meminta hak kepada kage lain, dia sendirilah yang datang membantai semua keluarga koruptor, tanpa pandang bulu, tanpa memandang negara asal.
Selain itu, susunan militer sempat kacau. Alasannya, mereka terpaksa membagi tugas lagi untuk mengawal para medis. Ya, tidak sedikit dari tim medis tewas mengenaskan. Padahal untuk menjaga setiap pelosok daerah yang mungkin didatangi anggota Akatsuki saja, sudah sangat kekurangan.
Semua Kage dan tim yang terlibat, sibuk dengan peran masing-masing. Bolak balik, ke lokasi-lokasi tertentu. Pembagian waktu yang berbentrokan sempat terjadi perdebatan panjang.
Anggota Akatsuki juga telah menghitung waktu. Pergerakan mereka dalam mengecoh, semakin terang-terangan. Sehingga merusak mental para relawan yang ikut bergabung dalam projek di Pegunungan Miyaboku.
Padahal semua sudah dikerahkan untuk mengetahui dimana letak markas Akatsuki. Mereka perlu dimusnahkan jika tidak ingin mendapatkan gangguan lebih dari ini. Tapi, mereka bagai hidup didimensi lain yang datang ke setiap negara untuk membuat keributan.
.
.
.
Paska penyerangan yang menimpa Sakura, Sasuke bahkan baru bisa pulang beberapa kali.
Termasuk hari ini. Disampingnya, Tsunade mengikuti. Shion dikabarkan telah mengalami kontraksi sejak semalam. Sasuke tidak bisa mengabaikan kekaisaran sekali pun Shion hanya selir politik.
Sasuke memang menghukum Shion atas dasar meracuni Sakura secara berkala, tapi tak ada niat untuk membunuh bayi atau ibunya. Semuanya dia lakukan agar Shion mengerti ketakutan Sakura ditengah bencana ini. Dipaksa untuk menerima beban ramalan yang belum tentu benar terjemahannya.
Setelah menunggu lama, operasi cesar selesai. Shion dinyatakan koma setelah histeris mengetahui keadaan bayinya yang tidak bernyawa. Ya. Bayinya tidak selamat. Itu akan terjadi pada salah satu jika mengingat tentang wabah. Bayinya atau ibunya.
Sasuke hanya bisa memandang miris pada keduanya. Sesungguhnya, dirinya pun ragu jika dia yang dimaksudkan dalam ramalan. Bohong jika Sasuke tidak merasa berduka. Sebesar apa pun para selir tidak diinginkan, mereka tetap pernah menjadi bagian dari anggota kekaisaran. Begitupun kedua putranya. Secara tidak langsung, mungkin dirinya yang membunuh Empress Hana, kedua putranya, dan yang membuat Selir Shion sekarat.
"Saya minta maaf, My Lord. Saya masih belum bisa membuat salah satu dari keduanya baik-baik saja." Tsunade dan Biwako menghadap Sasuke yang masih menampilkan raut datar. Semua orang tahu, tidak satu pun dari mereka mampu membaca ekspresi Sasuke yang hanya menampilkan raut datar namun berkarisma gelap.
"Tetap pantau Selir Shion, Dokter Biwako!" Sasuke menatap Biwako datar. "Anda bisa menempati salah satu paviliun disini, atau meminta izin pada Queen Sakura untuk beristirahat disana, Queen Tsunade." Kemudian beralih pada Tsunade yang Sasuke minta untuk menangani Shion langsung.
"Kebaikan Anda, My Lord. Saya akan mendatangi Queen Sakura terlebih dahulu." Sasuke hanya mengangguk singkat.
Tatapannya jatuh pada Kakashi untuk memberi perintah menyiapkan pemakaman putranya.
Mereka harus cepat menyelesaikan masalah kekaisaran. Karena hari berikutnya sudah harus kembali berpatroli ke setiap wilayah.
.
.
.
Berbeda dengan Sakura yang menjadi semakin pendiam setelah kejadian yang membuat bayinya hampir terbunuh. Bahkan saking sibuknya, Sasuke hampir tidak menyadari perubahannya. Memang, secara pribadi Sasuke telah menawarinya pindah ke Kastil Onyx, yang berakhir tak ia indahkan.
Ada kesal. Kecewa. Marah. Hanya sampai disitu perjuangan Sasuke. Cukup dengan gesture enggan Sakura, dan Sasuke tanpa berniat membujuk. Sakura sangat ingin mengerti untuk menghibur diri, kesibukan Sasuke sangat menyita waktu. Tapi, tidak bisa.
Sakura sendiri tahu kondisi kacau dari laporan yang sesekali dilaporkan pihak kerajaannya yang juga terhambat. Sangat lambat dari biasanya. Padahal laporan yang disampaikan tetap apa adanya, tidak lagi ditutup-tutupi seperti beberapa bulan lalu, yang membuat Sasuke hampir melepaskan Sakura. Tapi--tetap saja, ada harapan agar Sasuke lebih peduli ketika pulang.
Sakura juga tidak lagi sering bolak balik pergi ke Kastil Onyx sambil menunggu Sasuke pulang.
Sakura cukup bersadar diri. Sasuke datang ke kastilnya saja sudah untung. Tidak pun, tak masalah. Sakura selalu berusaha menekan hormon hamilnya. Artinya, hubungan keduanya memang bukan apa-apa sejak awal. Benar kata Sasuke, prioritas utama adalah bayi mereka. Maka, dia akan menjaga buah dari pria yang dulu menjadi tunangan masa remajanya.
Ah...jika mengingat itu, Sakura selalu berpikir masih sedikit terasa mimpi. Tidak menyangka status yang telah lama putus, justru semakin mengikat tak terlepaskan dalam waktu singkat. Dalam perang dingin yang belum berakhir pula.
Mengelus perut buncitnya dengan kasih sayang yang luar biasa besar. Dia mencintainya. Seperti dulu mencintai ayah dari calon bayinya. Tersenyum gemas pada bulatan penuh perutnya sendiri. Lekukkan tubuhnya berubah pesat. Padahal kehamilannya termasuk dengan ukuran kecil. Tidak menyangka, ia akan segera menjadi ibu. Terlebih saat Tsunade mengatakan bayinya sangat kuat. Hanya perlu meningkatkan pola makan agar bayinya tidak kekurangan berat badan saat lahir nanti.
Tapi, jika dipikirkan lagi, Sakura khawatir tentang banyak hal. Wabah. Perut terkoyak. Kematian. Semuanya adalah pemandangan horor diwaktu yang tidak tepat seperti sekarang ini. Kemungkinan-kemungkinan terburuk selalu menghantui dalam benak.
Sakura juga sudah mendengar, Selir Shion dikatakan mungkin lewat dengan bayinya yang dinyatakan tidak selamat. Ah...laporan dilapangan juga membuatnya lebih merinding.
Sakura tersentak saat tangan Sasuke memeluk perutnya dari belakang. Apakah dia terlalu larut dalam lamunan? Sedikit pun Sakura tidak mendengar suara masuk dari balik pintu kamar dibelakang tubuhnya.
"My Lord, Anda membuatku terkejut." Sakura mendengus saat Sasuke mengendus leher jenjangnya.
"Jangan dipikirkan!" Dengusan Sakura tak membuatnya berhenti meresapi aroma istrinya.
"Huh? Apa?" Sakura mendelik bingung.
"Shion."
"Oh." Sakura paham. Mungkin pada saat tadi melamun, Sasuke mengira ia ketakutan.
"Kau berubah."
"Untuk?"
Sasuke menggeleng tak tahu bagaimana harus menjelaskan.
"Kau menjadi asing." Hanya itu yang mampu Sasuke ucapkan.
"My Lord, kita--"
"Suami dan istri." Sasuke memotong kalimat Sakura yang mungkin akan berakhir argumen atau lebih parah, menyakitkan.
"Bukankah ini bagus untuk Anda?"
Sasuke hanya diam. Menghela nafas. Mengerti benar maksud Sakura.
"Kau ingin balas dendam?" Sasuke memandang Sakura penuh arti.
Sakura berbalik menghadap Sasuke atas pertanyaan sensitifnya.
"Aku tidak mengerti."
Sasuke mengangguk atas jawaban bingung Sakura. Sejujurnya ia pun tak mengerti mengapa tiba-tiba menanyakan itu.
"Kemarilah! Aku tahu sekarang."
Sakura menurut. Duduk dipangkuan Sasuke yang bersandar dikepala ranjang. Tangan besarnya menenangkan kenakalan putranya dengan lembut.
"Kenapa Anda datang kesini?" Kondisi sibuk seperti ini bukan saat untuk bersantai, kan?
"Kau boleh menghindariku. Tapi, Sakura, dia akan mengganggumu terus jika lebih lama tidak mendapatkan perhatianku." Katanya datar.
Sakura mendengus, ia akui kondisi tubuhnya secara alami terasa lebih baik dalam dekapan Sasuke. Hatinya ikut tenang saat mendengar denyut jantung Sasuke yang berdetak konstan.
"Bukan seperti itu maksud saya."
Sasuke memandang Sakura yang mendongak meminta perhatian.
"Itukah kenapa Anda mengatakan saya asing?"
"Hn."
Sakura mendengus lagi. Sasuke dalam mode irit bicara seperti ini hanya akan membuat salah paham.
"Terserahlah." Sakura tak ingin pusing untuk saat ini. Ia lebih memilih menikmati buaian Sasuke yang sangat jarang didapatkan.
Nyatanya, banyak kata rindu yang ingin terucap tak berhasil membuka kunci gerbang yang terlampau tinggi menjadi benteng. Masa lalu kelam yang tidak tahu dasar permasalahannya menjadi pemisah nyata. Keduanya masih rapat menyimpan sakit hati yang mendalam. Meski korbannya adalah jalinan cinta tulus mereka yang harus terpaksa kandas karena perang hati yang tak kunjung padam.
"Dia penurut terhadap Anda." Sakura menimpa lengan Sasuke. Bergerak seiring pergerakan Sasuke.
"Lebih baik?"
"Sangat."
"Kenapa tidak pindah ke kamar utama?"
Sakura menggeleng pelan sebagai jawaban. "Tidak perlu lagi. Ikatan kita dimulai dengan bayi ini. Dia akan menjadi manja pada kedua orangtuanya. Hanya dia. Kita tidak lebih dari orang tua itu. Lupakan tentang kita. Ya, walaupun saya tidak akan minta maaf atas hormon diawal kehamilan. Meski begitu, dia akan tetap menjadi prioritas, kan?" Sejujurnya Sakura tak butuh jawaban. Sasuke pasti akan melakukan yang terbaik. Jika pun, ternyata ramalan itu tidak benar, Sakura berharap putranya lahir dengan selamat.
Sasuke berhenti menggerakkan tangannya. Remasan pelan tangan Sakura yang seolah butuh pegangan sedikit menyentil ulu hatinya.
Sasuke membuang nafas kasar. Ini yang Sasuke khawatirkan ketika dia sudah lebih terbiasa dengan kehadiran Sakura disisinya. Hanya orang tua? Bagaimana istri? Suami? Keduanya tak mungkin saling menatap dingin ketika ada anak ditengah-tengah mereka. Ketika Sakura yang memiliki status tinggi dalam kekaisaran. Hanya sebatas itu?
Lama merenung, tanpa sadar Sasuke menatap wajah pulas Sakura sejak awal meliarkan pikiran. Rona ceria Sakura telah hilang. Pucat. Sikap bar-barnya lebih hati-hati sejak dinyatakan hamil. Terganti dengan raut letih karena harus membawa perut besar disetiap langkahnya. Pergerakan aktif putranya juga mungkin membuat Sakura kewalahan.
"Permaisuriku, Aku bahkan tidak pernah lupa cara dulu kau begitu manja padaku. Bukankah cinta itu pernah ada? Bahkan, tanpa paksaan politik takdir membuat kita merasakan masa indah. Tapi...takdir jugalah yang membuat kita canggung." Sasuke berbisik lirih.
.
.
.
"Bisakah sekali saja Anda menuruti kemauan saya?" Sakura sudah memberenggut diranjang sejak pagi, sejak bola matanya menangkap Sasuke yang tengah bersiap pergi.
Sasuke sedang dibantu para maid untuk berpakaian, menoleh dari ujung matanya. "Tidak. Mengertilah! Kondisi disana tidak aman."
"Ketika Anda menetap disana, tidak akan pernah ada yang berani." Paksa Sakura jengkel. Lagi pula, siapa yang akan macam-macam pada Sasuke yang telah menaklukan lima negara. Bahkan Akatsuki pun mundur saat Sasuke tiba ditengah pertempuran.
"Lupa, bagaimana cara kamu terjatuh ke danau?" Balas Sasuke sarkas.
Sakura mendengus. "Itu karena Anda meninggalkan saya tiba-tiba. Sendiri." Tekan Sakura pada kata 'sendiri'.
"Kau menyalahkanku?" Balas Sasuke sarkas.
"Lalu. Siapa?" Sakura tak kalah sinis.
"Aku disana bukan untuk liburan." Kata Sasuke datar.
"Saya tidak bilang begitu." Sakura semakin memberenggut. Membuat para maid tersenyum geli dengan perdebatan dua junjungannya.
"Terserah!"
Muka Sakura semakin merah. Kesal dengan tanggapan Sasuke. Mood paginya campur aduk.
"Hanya satu bulan lagi, menjelang usia sembilan, kita disana."
Kurenai tak lebih cemas terhadap kondisi Sakura nanti. Dia selalu berdoa untuk yang terbaik bagi junjungannya. Bagaimana pun, ia sudah sangat nyaman bisa melayani Sakura, meski diawal-awal mengalami gangguan emosi.
"Terserah!"
Sasuke hanya menghela nafas pelan saat Sakura membalikkan ucapannya. Setelah persiapannya rapih, Sasuke meminta para maid keluar. Berpesan agar sarapan Sakura tidak dilewatkan.
Sasuke menghampiri Sakura yang membuang muka. Merengkuh tubuh ringkih yang sedang mengandung putranya untuk lebih mendekat. Lengannya tak pernah bosan untuk menyapa calon putranya. Calon harapan Dunia Shinobi. Ada bangga dibalik rasa cemas yang akhir-akhir ini mengganggu. Untuk keselamatan putranya. Untuk keselamatan Sakura, istrinya.
"Jangan menggunakan anak untuk membujukku!" Dengus Sakura kesal, karena anaknya kembali tenang saat aroma Sasuke terhirup diindra penciumannya.
"Siapa yang membujukmu?" Jika Sasuke masih yang dulu, mungkin sekarang kekehan geli akan menghiasi wajah tampannya. Bukan datar seperti tembok seperti saat ini.
"My Lord~" Rengek Sakura lirih.
"Sakura. Aku memintamu untuk mengerti sebagai seorang Queen." Sasuke memandang wajah pucat Sakura. Tangannya yang bebas ia usapkan pada rambut merah muda yang masih berantakan khas bangun tidur. "Biarkan kami yang bekerja disana. Bagianmu, tolong rawat putra kita!" Lanjutnya tegas di akhir kalimat.
Emerald bening itu berkaca. Ucapan Sasuke terdengar lembut. Panggilan nama yang menggema dari suara baritonnya, membuat rasa rindu semakin membuncah. Sakura tidak mengerti, padahal Sasuke ada dihadapannya, jika ia meminta untuk bercinta pun Sasuke akan mengabulkan. Tapi mengapa? Ia masih merasa kurang.
Memilih memalingkan wajah untuk menahan airmata, Sakura berujar, "Pergilah! Hari semakin siang."
Sasuke mengangguk pelan. Dia tak bisa berharap lebih. Untuk segalanya yang tak pernah ingin ia sesali.
Sakura mengantar Sasuke hingga ke depan pintu kastil. Diakhiri kecupan meneduhkan Sasuke pada keningnya.
Lagi. Sakura merasa terpenjara. Padahal cukup lumrah bagi seorang istri ditinggal kerja oleh suaminya. Dan istri menetap untuk menyambut datang suaminya.
Sakura menengadah, memandang langit pagi yang begitu cerah. Lebih siang sedikit saja, perjalanan Sasuke akan mengalami kepanasan dari terik matahari.
'Sasuke-kun, jika waktu itu tidak pernah ada. Apa kita akan bersama? Bukan hanya raga, tapi hati yang sejalan?'
.
.
.
Kabar Sasuke yang mengalami cedera saat bertarung membuat Sakura khawatir. Namun, tak bisa pergi untuk melihat keadaannya.
Sasuke dirawat di Rumah Sakit Akademi Miyaboku, jika Sakura nekat kabur dan berakhir keselamatan bayinya, Sasuke pasti akan kecewa. Tapi Sakura tak ingin hanya menunggu. Ia ingin disana.
"My Queen, My Lord akan baik-baik saja. Beliau sangat kuat." Kurenai tahu kegelisahan Sakura.
"Kuat tidak berarti tidak bisa mati. Sesombong itukah dia hingga menjauh dari militer?" Sakura hanya mondar mandir disekitar kamar.
"Tuan Kakashi akan datang untuk memberi kabar, My Queen. Harap Anda tenang dan tidak terlalu stress. Emosi tidak baik untuk kandungan Anda."
Sakura mendudukan diri disofa. Benar kata Kurenai, tidak seharusnya Sakura peduli. Ia hanya khawatir bayinya tidak bertemu ayahnya. Ya, hanya itu. Fokus pada bayi. Jangan stress. Abaikan Sasuke. Banyak tim medis yang hebat disana.
"My Queen, Tuan Kakashi sudah datang. Sesuai perintah Anda, dia datang untuk melapor." Info Kurenai setelah tak disadari baru keluar ruangan.
"Siapa yang memberi perintah?"
"Itu...bukannya Anda sen--"
"Panggil dia masuk!" Sakura kesal tanpa sebab.
"Salam, My Queen." Kakashi datang tak lama kemudian.
"Bagaimana keadaan, My Lord?" Tanya Sakura cepat.
"Beliau sudah lebih baik. Mungkin, besok My Lord akan kembali bertugas."
"Secepat ini?"
"Y-ya. Katsuyu milik Queen Tsunade membantu pemulihan My Lord dengan cepat." Kakashi tergagap dengan ekspresi galak Sakura.
"Tetap saja itu tidak terdengar lebih baik untuk orang yang ditusuk katana." Teriak Sakura kesal. 'Sial. Kenapa harus semarah ini.' Sakura merutuki diri sendiri.
Kakashi memutar mata jengah. Tak perduli dengan reaksi Sakura lagi. Lebih tepatnya tak ingin lebih lama berurusan dengan Sakura. "Tapi hasil akhirnya, salah satu anggota Akatsuki yang bernama Deidara tewas ditangan My Lord."
"Dia--"
"Orang yang hampir membawa Anda." Sakura ingat. Karena dia, saat itu Sasuke juga memarahinya.
"Aku akan bersiap ikut kesana. Keluarlah!"
"Maaf, My Queen, pesan dari My Lord tak satu pun dari Anda maupun Selir Karin yang diizinkan untuk datang kesana."
Sakura tercenung. Dia lupa, masih ada istri lain yang mungkin juga ingin nekat melihat keadaan Sasuke secara langsung.
"Jika aku memaksa?" Balas Sakura sinis.
"Selir Karin dalam keadaan terkurung di kastilnya. Apakah Anda juga harus?"
Sakura menyeringai. "Aku sudah dikurung berbulan-bulan. Kurungan seperti apalagi yang kau maksud?"
"Lalu Anda ingin menyi-nyiakan perjuangan Anda sejauh ini. Setahu hamba kehamilan Anda termasuk lemah untuk tubuh Anda sendiri."
Sakura reflek memegang perut bundarnya. Benar. Sasuke sudah sehat. Untuk apa dia repot-repot membuat dirinya dalam bahaya.
Kakashi yang melihat Sakura terdiam memilih undur diri.
.
.
.
"Sampah! Banyak omong. Ujung-ujungnya mati lebur." Kisame berdecak sinis.
"Dia hanya terburu-buru, anak muda yang urakan." Orochimaru hanya menggeleng mengejek.
"Seharusnya, kau lebih tahu, Uchiha Itachi." Conan memandang Itachi sinis.
Itachi bangun dari duduknya. Jika Conan tak menyinggung namanya, ia tak perlu tergabung dengan gosip berisik timnya. "Aku sudah memperingati!"
"Tobi juga masih mengingatnya." Dukungnya pada Itachi.
"Bukankah lebih baik membicarakan strategi ulang. Kage merah muda itu hampir mendekati persalinan. Aku tak tahu kutukan ini akan lepas atau tidak. Dan aku tidak sudi jika harus mengulang lagi mantra itu untuk memusnahkan Dunia Shinobi." Tekan Kakuzu kesal.
"Bukankah sudah ku peringatkan untuk menculiknya. Atau, jangan sampai dia mendekati pusat air terjun Miyaboku." Suara serak Pain, pertanda ia tak ingin ada keributan saling menuduh dalam timnya.
.
.
.
"Kau siap?" Tanya Sasuke saat melihat Sakura yang masih duduk didepan cermin rias.
"Apa semua persiapan sudah matang?" Tanya Sakura ragu. Bukankah ini yang dia inginkan.
"Ya. Jangan protes karena kita berangkat terpisah. Musuh akan mengira kau berangkat bersamaku." Peringat Sasuke halus.
Sakura mendengus mendengar Sasuke yang terlalu percaya diri. Tapi setidaknya obrolan singkat ini mampu menetralkan rasa gugupnya.
Jika bisa Sakura ingin mengundur waktu persalinan. Dia merasa tidak siap. Takut menghadapi suasana melahirkan. Bukan hanya tentang wabah atau ramalan. Ini murni perasaan calon ibu yang akan menghadapi persalinan. Rasa takut itu ada.
Sakura akan tinggal di Rumah Sakit Akademi Miyaboku hingga waktu persalinan bisa diprediksi. Setelahnya akan naik mengitari Pegunungan Miyaboku hingga puncak, dekat pusat air terjun yang katanya sudah dibangun istana sederhana.
"Aku harus siap, kan?" Sakura meringis dengan jawabannya sendiri.
Sasuke hanya menuntun Sakura yang sudah kepayahan berjalan. Meremas pelan seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
Rombongan Sakura tiba menjelang sore. Sedangkan rombongan Sasuke datang larut malam. Rombongan Sasori bahkan belum tiba. Ya, Sasuke membuat tiga rombongan dari arah kekaisaran demi mengecoh Akatsuki.
Benar dugaannya, rombongan Sasuke mendapatkan penyerangan dan terjadi pertarungan sengit. Sasuke tak melepaskan dua anggota Akatsuki yang berniat menyerang Sakura. Walaupun tak sampai tewas, keduanya berhasil kabur dengan luka serius ulah Sasuke dan Gaara.
Rombongan Sasori terhambat karena memutar jalan yang cukup jauh. Tidak ada penyerangan berarti, kecuali menemukan beberapa bandit yang mengira ia membawa kereta obat-obatan untuk dicuri.
"Anda tak apa?" Tanya Sakura sambil membubuhi antiseptik ke tubuh penuh luka Sasuke. Katsuyu mini ikut membantu, menemplok pada luka paling serius. Karena Sakura tak diizinkan untuk mengeluarkan cakra apapun saat ini.
"Hn." Tak ada ekspresi berarti bahkan disaat tubuhnya kesakitan. Hanya tubuhnya, pemiliknya seakan tidak merasakan apapun.
"Bagaimana dengan pemeriksaannya? Apa bisa diketahui kapan waktu tepatnya kau bersalin?" Sasuke berkata datar.
"Belum diperiksa. Shishou berkata bisa dilakukan besok." Sakura tak memberi alasan lain dibalik pemeriksaan ditunda. Sasuke tidak perlu tahu saat tiba Sakura langsung tidur karena merasa badannya remuk.
"Tadi kau kelelahan?" Sasuke memperhatikan Sakura dengan teliti.
"Sedikit." Dipandang seperti itu, Sakura tak bisa banyak berbohong.
"Lalu kenapa kau yang mengobatiku?" Tanya Sasuke sarkas.
Dengan kasar Sakura memukul luka menganga Sasuke yang dibalas ringisan ringan. "Tidak tahu terimakasih. Sudah untung aku bantu mengobati. Beginikah balasannya? Dibentak? Rasakan!" Sakura menggerutu sinis.
"Kau gila?" Sasuke menatap Sakura tak percaya. Bukannya sembuh, lukanya malah terbuka kembali.
"Kau mengatai ibu dari calon anakmu gila?" Tuding Sakura kasar.
"Kendalikan sikapmu, Queen Sakura!" Sasuke geram. Kenapa Sakura harus seperti ini lagi?
"Untuk? Saya rasa jika itu Anda tidak perlu. Sangat tidak penting. Tidak menghargai juga. Sana urus saja sendiri!" Bentak Sakura sinis. Ia kembali berbaring disisi ranjang untuk membelakangi Sasuke.
Sasuke menghela nafas kasar. Menatap Katsuyu yang pindah pada luka yang baru Sakura buka.
"Mohon maklum, Lord Shinobi, hormon menjelang persalinan memang naik turun."
"Hn." Sasuke menutup mata sejenak. Menoleh pada punggung Sakura yang bergetar. Sasuke menghela nafas kasar. 'Sakura, ya?'
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Bagaimana? Beri tanggapan mendekati Ending! Iya, gak lama lagi mudah-mudahan Dunia Shinobi punah, hehehe...finally.
.
Terimakasih yang masih sudi mengikuti hingga akhir fic dari penulis receh cem aku...
.
Jangan lupa tekan tombol dibawah ini ya...
.
See you next time...
