Malam, ada yang masih betah nunggu?

Lama gak update, ya. Maaf aku punya urusan penting. Tapi, biarpun fokus kesana, sayangnya tetep gak kelar. Sad banget deh. Dan, aku masih harus kejar target lagi :)

Semoga kalian semua tetap sehat, dimana pun kalian berada..

Warning: tanpa edit, typo, rancu, berantakan dipenulisan(lagi proses belajar memperbaiki)

Warning untuk konten sudah sangat jelas. Isinya bukan buat penggemar dibawah 21 atau dedek emes.

Dah, lanjut baca aja dah..

.

.

HAPPY READING

.

.


.

.

"Posisi sudah bagus, berat badannya juga tidak terlalu kecil, tidak sampai seminggu bayinya akan lahir, My Lord."

Sakura hanya menatap Tsunade dan Sasuke bergantian. Pagi ini mereka akan naik ke puncak pegunungan. Staminanya harus dalam keadaan baik. Sementara, segala kebutuhan yang mungkin diperlukan sedang dalam proses persiapan.

Setiap bencana ada sisi baik dan negatifnya. Beruntungnya ke lima kage dari setiap negara besar tidak terkena dampak konfrontasi meskipun diawal terjadi pergolakan emosi.

Buktinya, mereka mampu bekerjasama secara berdampingan selama setahun ini. Saling bergilir secara adil. Mengesampingkan perang dingin. Merebut perhatian dari negara yang sebelumnya hanya mencari aman saja. Kaisar berkata A ikut A, berkata B ikut B. Tidak berlaku disini, karena semua diberi kesempatan untuk bertukar pikiran dan tenaga.

"Dibanding melamun, lebih baik kau jalan santai diluar."

Sakura mendongak. "Kita sudah akan berangkat, jadi pinggang saya harus diamankan sebelum itu."

Sasuke mengernyit aneh. Bukan tak mengerti, hanya saja adakah kata yang lebih baik?

"Bukankah itu bagus. Kau yang lebih tahu."

"Hanya saja, praktek tak semudah teorinya."

Sasuke hanya menggeleng, Sakura dengan segala bantahannya memang tidak mau kalah. "Ayo, bangun! Semua sudah siap."

Sakura hanya menerima uluran tangan Sasuke. Berjalan mengikuti, dengan sebelah tangan menyangga perutnya yang berat.

Diluar, keduanya disambut dengan suara ribut-ribut orang yang saling berbincang sambil melakukan pekerjaan.

Baru setelah menyadari kehadiran Sasuke, mereka berhenti sejenak dan menyapa ramah.

"Anda sudah siap, My Queen." Kakashi cepat menghampiri untuk memastikan.

"Jika semua sudah siap." Sakura menjawab ragu-ragu. Tatapannya kembali mendongak pada Sasuke yang hanya berdiam diri.

"Masuklah ke kereta!"

"Anda?"

"My Queen!" Panggil Ino dari balik pintu kereta.

"Ino!" Sakura menghampiri, tanpa perduli jawaban Sasuke.

Tentu saja, Sasuke hanya mengikuti karena cara berjalan Sakura sangat mengkhawatirkan.

Sakura dan Ino berpelukan erat. Mereka memang selalu melankolis jika bertemu kembali. Keduanya adalah sahabat dibalik status majikan dan maid pribadi, seperti saudara perempuan.

"Aku merindukanmu, Ino."

"Saya juga, My Queen. Senang sekali melihat Anda baik-baik saja."

Sasuke hanya mendengus. Terlalu drama. Dan terlalu lama untuk sekedar tegur sapa. Apa setiap perempuan memang seperti itu?

Sakura yang menyadari dengusan Sasuke merasa tidak senang. "Kenapa?"

Sasuke hanya menggeleng pelan. Dagunya mengarah pada pintu masuk kereta.

"Bicara saja, tak perlu pasang wajah menyebalkan." Cerocosnya sinis.

Sasuke hanya menaikkan alis. Kemudian membantu Sakura naik ke kereta saat melihatnya mulai beranjak.

"Anda tidak ikut?" Sakura menyembulkan kepala pada saat Sasuke yang tak ikut duduk.

"Kejutan!" Ino yang sejak tadi hanya memandang Sasuke dan Sakura secara bergantian, menampilkan cengiran kuda.

Sakura terbelalak. Ino akan ikut juga, bersamanya di kereta? Sakura jelas tak akan terkejut jika saja Ino dalam kondisi normal. Senang justru. Tapi ini, dia bahkan sama sepertinya, sama-sama membawa buntalan bulat, meski jauh dibawah Sakura, tetap saja kondisi hamil tak akan mudah melewati perjalanan Gunung Miyaboku.

"Aduhhh...sebaiknya jangan!" Desah Sakura frustrasi.

"Tenang saja, dia tidak selemah itu." Suara santai dari pintu kereta satunya lagi, ditambah kursi yang bertambah beban membuat Sakura menoleh cepat.

"Putri Temari?" Tatapan Sakura tanpa sengaja jatuh pada perut Temari yang datar. Namun Sakura tahu, Temari juga tengah hamil muda. Bayi Shikamaru. Sakura hanya tersenyum kecut. Ada apa dengan mereka ini?

Sakura melihat Ino yang duduk didepannya. Kemudian, kursi sampingnya diisi oleh Kurenai.

"Apa-apaan ini?" Sakura menatap satu persatu wajah ketiganya, bahkan tak memperdulikan pintu kereta sudah ditutup dari luar.

"Ssssstttt...tenang saja. Kami sudah diizinkan. Saya tidak mau melewatkan hari Anda. Dan, dia--" Tunjuk Ino pada Temari. "--perekat. Tak mau berjauhan dengan Tuan Shikamaru."

Sakura mengernyit atas pernyataan Ino. Diizinkan? Untuk apa? Salah, salah, mereka bisa saja menjadi beban.

"Lagi pula, saya ingin menemani Anda." Lanjut Ino, santai.

Sakura hanya mengurutkan kening bingung. Sekarang, dia tahu kenapa. Rombongan hanya membawa satu kereta untuknya. Kereta lainnya berisi tambahan persediaan selama disana. Para kage dan pengawal inti menaiki kuda. Termasuk Matsuri dan Tsunade yang berada satu kuda dengan suami masing-masing. Sisanya, para militer, maid dan perawat.

Sasuke memang sengaja membuat rombongan yang besar. Mungkin ini terlihat ceroboh karena mengosongkan salah satu wilayah untuk jangkauan yang lebih kecil. Tapi Sasuke hanya menimbang bahwa Akatsuki akan mengganggu mereka dengan gencar. Apalagi saat tahu Sakura akan segera bersalin.

Suara ketukan jendela membuatnya segera berpaling. Ada Sasori diatas kuda tersenyum padanya. Senyum tanpa kata yang seolah memberinya semangat untuk tidak takut.

Hal yang baru benar-benar Sakura sadari juga adalah ia tak benar-benar sendiri. Sasori maju kedepan tepat dipersimpangan jalan, seolah-olah menunjukkan seberapa banyak yang mendukungnya. Panjangnya barisan rombongan, para kage dan keluarga, para petinggi masing-masing negara yang tergabung sejak pertama, semuanya. Peduli.

Matanya berkaca-kaca, terharu. Mereka memang tidak mengatakan langsung. Tapi ini lebih baik. Sangat luar biasa untuk membantunya kembali tenang. Tatapannya jatuh pada Sasuke yang menatapnya dalam. Sorot yang menandakan keyakinan. Anggukan Sasuke mengakhiri dirinya untuk memindai ke arah luar. Semua yang menemaninya di kereta juga selalu mengajaknya berbicara agar tidak bosan.

.

.

.

Sakura terbangun saat malam telah tiba, berada diatas ranjang. Itu berarti dia tertidur dalam perjalanan.

"My Queen. Syukurlah, Anda sudah sadar."

Sakura mengernyit. "Sadar?" 'Bukan tidur?' Lanjutnya dalam hati.

"Tadi, Anda kelelahan."

Sakura memejamkan mata erat. Pasti dia membuat banyak orang khawatir.

"Dimana, My Lord?"

"Beliau sedang berkeliling. Anda perlu sesuatu?"

"Bantu aku ke kamar mandi. Dan, Kurenai--" Sakura mendongak. "Aku lapar." Cengir Sakura malu.

"Oh, ya ampun. Baiklah akan saya siapkan." Kurenai terkekeh geli.

.

.

.

Pemandangan pertama saat Sasuke memasuki kamar di pagi hari adalah Sakura yang sedang dipijat oleh para perawat. Dia memang tak langsung kembali saat mendengar Sakura sadar karena harus mengecek langsung keadaan sekitar.

Sakura membuka mata saat mendengar yang lain memberinya salam. Sakura menghampiri setelah memerintahkan perawat pergi.

"Sakit?" Sasuke menempelkan telapak tangan pada kening Sakura yang berkeringat.

Sakura menggeleng. "Pegal. Sungguh."

Sakura ingat saat diperjalanan meminta turun dari kereta karena pegal. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ditemani Sasuke tentu saja. Tak berapa lama kemudian mengeluh capek dan berganti ikut menaiki kuda dengan Sasuke. Terus seperti itu untuk mendapatkan perjalanan yang nyaman. Padahal, Sasuke bisa saja melakukan teleportasi. Tapi tak dilakukan karena itu bisa merenggut cakra Sakura lebih banyak. Tentu saja Tsunade tak akan membiarkan itu.

"Aku panggil--"

Sakura menggeleng cepat. "Tidak. Dielus saja."

"Kau butuh mereka, kau yakin?"

"Saya harap itu bukan maksud Anda untuk menolak." Sahut Sakura kesal.

Sasuke terdiam. Tak menyahut dan menuruti keinginan Sakura.

Pijatan-pijatan ringan pada pinggang, lama-lama merayap kemana-mana. Ke titik yang sangat Sasuke hapal untuk menarik gairahnya. Saling mengkulum bibir masing-masing yang selalu menjadi candu. Sakura semakin mendesah saat area sensitifnya dimainkan intens oleh jemari kekarnya.

"Aku akan berhenti jika kau mau." Sasuke tak benar-benar bernegosiasi tentang bercinta. Dia hanya ingin memastikan apa pikiran Sakura.

"Jangan! Jangan berhenti!" Hanya orang gila yang akan setuju jika sudah setengah jalan. Terlebih ketika sang pejantan sengaja membuatnya berada diujung tanduk.

Tanpa membuang waktu lagi Sasuke menggempur Sakura. Dia sudah bertanya. Dan cara ini katanya bisa memperlancar proses persalinan.

.

.

.

"My Queen, ada berita baru."

Sakura yang sedang merangkai bunga bersama yang lainnya menoleh ke arah suara. Kurenai, berlari kecil ke arahnya.

"Ada apa?" Ino bertanya ingin tahu.

"Tim patroli menemukan goa yang sangat luas dibalik air terjun yang deras itu."

"Mustahil, air sebanyak itu seharusnya bisa merembes disetiap bebatuan. Lagi pula, siapa yang berani menantang air sehingga bisa masuk ke dalam." Matsuri mengernyit bingung.

"Sebenarnya, My Lord dan Tuan Naruto tadi sedang adu tanding diatas air. Entah apa yang terjadi, keduanya terlempar ke balik air. Dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Kemudian tim patroli menelusuri jalan masuknya."

"Bahaya sekali."

"Apa sesingkat itu?"

"Putri, mereka menggunakan cakra."

"Jadi begitu. Unik sekali. Jujur saja tempat ini sangat nyaman. Pemandangan juga sangat indah."

"Benar sekali, Nyonya Ino."

Hinata membenarkan perkataan Ino dengan berbunga-bunga.

"Mungkin para lelaki sedang merencanakan perkemahan." Sakura hanya menggeleng lucu.

"Bukan seperti itu."

"Mari mendengarkan Nyonya Kurenai dulu. Tidak ada yang menanggapi sebelum selesai dengan laporannya." Selain tomboy, Temari memang yang paling dewasa diantara mereka untuk menyikapi berita.

"Jadi, ano--begini, setelah ditelusuri lagi, didalam sana ada parit air hangat yang mengalir tenang. Setelah melihat keadaan seperti itu, Queen Tsunade menyarankan agar tempat bersalin dilakukan disana karena terhubung langsung dengan air terjun. Meskipun begitu, sekarang disana masih dalam tahap pembersihan."

Tiba-tiba perut bagian bawah Sakura menegang. Dia selalu tidak suka jika ada yang membahas persalinan disaat dirinya kapan saja merasa takut.

"Bagaimana tanggapan My Lord?"

"Setelah memastikan suhu dan hal-hal lain, sepertinya setuju. Apalagi Queen Tsunade berkata air hangat disana mungkin bisa untuk membuat otot rileks."

Sakura mengambil dan menghembuskan nafas kasar untuk menenangkan degup jantungnya gugup.

"Anda baik, Queen Sakura?"

"Jangan khawatir, Queen Matsuri, saya hanya sedikit gugup."

"Oh itu lumrah didetik-detik persalinan."

"Tidak masuk akal, goa, parit, air hangat padahal bukan gunung aktif."

"Putri Temari, mungkin ini semua berhubungan." Hinata menyahut lembut.

"My Lord pasti akan melakukan yang terbaik sebelum bertindak." Ino menyemangati Sakura yang mendadak menjadi diam.

.

.

.

Hari berikutnya, goa yang sangat luas disulap seperti kamar, dengan ranjang utama berada ditengah dekat parit. Entah apa tujuannya yang jelas disana dia akan bersalin.

Tak lupa menyediakan banyak kursi serta karpet tebal agar para wanita bisa menemani Sakura, semata-mata hanya agar tidak membuatnya tegang didetik-detik menegangkan.

Sasuke juga lebih mengecek keadaan Sakura disamping tugasnya yang kadang-kadang ikut berpatroli.

Setiap dinding goa dipasang segel pelindung, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Apa masih belum ada tanda-tanda?" Para wanita pergi ke halaman goa untuk memberi Sasuke dan Sakura privasi.

Sakura menggeleng singkat. Tangan mungilnya masih menyulam kaus kaki bayi.

"Apa diluar masih terkendali?"

"Seharusnya kau tak perlu memusingkannya, tapi semua aman walaupun beberapa kali ada penyerangan."

"Mereka begitu gigih. Padahal, kita tidak tahu tingkat keberhasilannya."

Sasuke membuang nafas kasar. "Berjuanglah! Dunia Shinobi memimpikannya."

"Hanya jika disana batasnya."

Sasuke menatap Sakura yang fokus pada pekerjaannya.

"Aku tidak tahu."

Sakura menoleh pada Sasuke yang memalingkan wajah. Apapun ekspresi itu Sakura tidak tahu. Tapi ketidakyakinan Sasuke, membuatnya semakin takut.

"Aku tak akan meninggalkanmu."

Tatapan mereka bertemu. Tak ada sorot berarti dari keduanya.

"Dejavu. Tidakkah Anda juga merasakannya? Terakhir kata itu terucap adalah untuk pergi."

"Aku ingat. Tapi itu bukan berarti kali ini."

Sasuke mengangkat wajah Sakura yang menunduk. Belum merasa puas menatap emerald yang meneduhkan. "Sasuke. Tidakkah kau ingin meneriaki nama itu nanti."

Mata Sakura melebar. 'Apakah itu sebuah perintah?'

Bibir keduanya menyatu. Tangan Sasuke mengelus area perut Sakura yang mulai keras. Bayi mereka bergerak aktif. Kecupan-kecupan kecil Sasuke semakin turun hingga perut bundarnya. "Bantulah kami!"

Tangan mungil Sakura mengelus rambut kesukaannya dengan lembut. Dulu, kala Sasuke lelah berlatih, mereka akan berteduh dibawah pohon sakura. Sasuke akan tertidur pulas dalam pangkuannya, dan dia yang mengelus surainya hingga kembali terbangun lagi. Sekarang, Sasuke juga tertidur pulas dengan tangan melingkari perutnya. Melindungi bayinya.

"Dasar, jika kau tidur seperti ini bukannya melepas lelah, malah mengunundang pegal-pegal.

.

.

.

Sore itu, Sakura mulai bosen karena terus terusan keluar masuk kamar mandi. Banyak yang sudah menduga-duga namun tak berbicara agar Sakura tidak tegang.

Mereka hanya silih berganti untuk mengingatkannya minum atau nyemil.

"Bisakah sofanya diletakkan dekat pintu kamar mandi. Aku mulai kesal."

"Tentu, tapi jangan terburu-buru ingat kamar mandi bisa saja licin." Tsunade memperingati.

"Bosan."

"Sabar, My Queen."

"Anda bisa berjalan keliling ruangan. Asal jangan melewati teras depan."

Kalimat-kalimat penenang tak pernah bosan mereka layangkan. Berusaha membuat Sakura melakukan persalinan senyaman mungkin.

Sakura mengikuti saran Shizune. Tak sedikit dari mereka yang saling berbincang tentang berbagai macam topik. Hingga Sakura tak terlalu ingat merasakan pergerakan bayinya yang terlalu cepat dari biasanya.

Saat menoleh pintu masuk Sakura melihat gerakan aneh. Lupa peringatan, dan semua orang sedang sibuk hingga tak menyadari Sakura berjalan mendekat pintu masuk.

Kyaaaaaaaa

.

.

.

Sharingan Sasuke aktif. Kemarahannya nampak terlihat jelas. Penjagaan didepan teras goa saat itu sedang kendur karena pergantian jadwal. Dan Sakura tiba-tiba tak mengindahkan peringatannya. Bukankah ini sudah direncanakan?

Akatsuki berhasil menerobos masuk dan menculik Sakura. Sebagian besar Shinobi berkumpul untuk berteleportasi bersama Sasuke.

Beruntung, sebelum meninggalkan kekaisaran Sasuke meminta Sakura memakai kalung berpasangan. Pecahan bandul tersebut yang akan terdeteksi oleh mata sharingan-nya.

"Kita pergi!"

"Baik, My Lord." Serentak semuanya.

Sebelum benar-benar berteleport Sasori memandang Sasuke kesal akan kecerobohannya. Tak hanya dia, mungkin hampir semua dari negaranya.

"Kita berjuang bersama. Saling memusuhi hanya akan membawa kegagalan." Naruto menyenggol bahu Sasori pelan. Tangan kekarnya menggandeng Hinata agar saat bertarung mereka tak terlalu berjauhan.

.

.

.

Kepalanya pusing. Kedua lengan dan kaki Sakura dirantai. Parahnya lagi, rantai ini telah dimantrai belenggu cakra. Lima menit sadar dari pingsan, dua orang berjubah awan merah menjulang angkuh.

"Jadi ini korban bagi Dunia Shinobi. Menyedihkan. Aku bertaruh tidak ada satu pun dari kita yang tahu kebenarannya." Conan berjongkok dan mencengkram pipi Sakura kuat. "Kau akan selamat jika tidak menyusahkan, tapi tidak untuk bayinya." Tunjuknya pada perut Sakura.

Dalam pandangan kabur, Sakura berdecih. "Wanita busuk!"

Plak

"Kau benar, lalu apa urusanmu? Pada kenyataannya, kalian takut hingga menculikku!" Teriak Sakura kesal tanpa peduli panas pada pipinya.

Conan berdiri tidak menanggapi lagi. Tatapannya menoleh pada Orochimaru yang tak berkedip sama sekali. "Uchiha, ya. Aku sangat menyukai darah terkutuk itu."

Sakura bergidik ngeri saat melihat lidah Orochimaru yang menjulur panjang seperti ular. Dan semakin beringsut mundur saat dia membuka sebuah botol kecil dari balik saku dan berjalan ke arahnya.

"Berhenti! Berhenti disana!" Teriaknya lantang, bagaimana pun tubuhnya tak bisa bergerak jauh. Dan penampakan Orochimaru bukan sesuatu yang bisa diterima matanya.

"Tenang. Ini tidak sakit." Orochimaru berdesis pelan.

"Yang berbeda adalah tempat dia lahir, kan? Hahaha." Tawa Orochimaru menggelar. "Lihatlah! Uchiha ada ditanganku. Hahaha..."

Cepat menatap Sakura tajam. Tangannya mencengkram pipi Sakura agar membuka mulut. Bayi itu harus lahir sebelum para Shinobi menemukan tempat persembunyian mereka.

Sakura berusaha menutup mulut dengan rapat. Pipinya pasti sudah memerah. Kedua tangannya berusaha melepaskan cengkraman Orochimaru. Jika beruntung ia ingin membuang botolnya.

Conan yang merasa jengah ikut membantu. Mengunci seluruh pergerakan Sakura sehingga cairan yang dipegang Orochimaru masuk tanpa sisa.

"Uhuk...uhuk...hoek...hoek..." Ini tak benar. Dia harus memuntahkannya. Namun tak ada apapun yang berhasil keluar.

Conan dan Orochimaru berdiri dan memandang Sakura yang menyedihkan.

"Biadab!" Nafas Sakura tersengal karena lelah.

Detik berikutnya baik Orochimaru dan Conan, mendapatkan signal untuk berkumpul diruang pertemuan.

"Baiklah, Nyonya Kage. Nikmatilah kontraksinya!" Orochimaru berkata senang sebelum benar-benar pergi menyusul Conan.

Sakura kesal pada dirinya, dia harus bisa bertahan sampai bisa kembali. Jika pun bayinya akan lebih cepat lahir. Dia harus disana, apapun metodenya.

Sakura kembali mendongak saat mendengar gema langkah kaki tenang mendekatinya. Ruangan temaran tak mampu menyembunyikan sosoknya. Kakak iparnya dalam segi urutan keluarga. Apakah sekarang juga harus berhadapan?

"Ramalan itu benar?"

Sakura memicing curiga. Apa pedulinya? Dia bagian Akatsuki, musuh para Shinobi. Mustahil jika tidak tahu.

"Memuakkan, hanya itu dan itu yang selalu ditanyakan. Kalian pikir aku perduli?" Sakura mencengkram rambutnya frustrasi.

"Tidak. Kau juga mau membunuhnya? Terlambat. Mereka lebih cepat." Teriaknya keras.

"Aku muak! Pergi! Pergi, kau! Tenang saja bayi ini pasti mati tanpa campur tangan kalian." Sakura menunduk frustrasi. Tangannya mengepal kuat. Pemaksaan. Desakan. Penculikan. Mereka pikir dirinya barang yang bebas dipermainkan.

"Berarti benar."

Sakura mendongakkan wajah kacaunya. Kesimpulan Itachi sangat ambigu untuk di cerna otaknya yang sedang sakit.

"Dimana pun bayi itu lahir--" Itachi berbalik untuk pergi. "--jika pun ramalan itu benar. Kalian akan gagal." Menghela langkah menjauh tanpa melihat ekspresi Sakura yang bingung.

Namun, sebelum benar-benar tenggelam oleh daun pintu. Itachi memutus rantai Sakura dengan jutsu. "Jika kau bisa lari. Buktikan perkataanku."

Sakura menatap kedua tangannya yang bebas dengan bingung. Apa katanya? Apa yang sedang coba Itachi katakan.

Sakura menggeleng pelan. Tak perduli apa maksud Itachi, ia harus segera pergi sebelum anggota lain menangkapnya. Dengan perut yang tegang Sakura mencoba berjalan lebih cepat mencari jalan keluar.

.

.

.

Pegunungan dalam pulau terpencil. Sekilas, terlihat seperti pegunungan pada umumnya. Namun, bagi Shinobi dengan kemampuan pada mata memandang lain.

Sasuke menatap nyalang, seolah-olah dia mampu menyapu pandangan hingga kedalaman hutan.

"Kita harus tetap berhati-hati, mungkin mereka menaruh perangkap disekitar sini." Bee mengingatkan sebelum berpencar mencari pintu masuk.

Semua orang mengangguk, dan bergerak sesuai pembagian kelompok.

Tak sedikit jebakan yang mereka alami. Pertarungan dengan para boneka, monster, dan manusia buatan tak bisa dihindari.

Jujur saja, mereka memuji kelompok yang membuat Dunia Shinobi ini dilanda keresahan.

"Ingat! Fokus mencari Queen Sakura lebih utama. Setelah itu, jika memungkinkan boleh bertarung untuk menangkap mereka."

Semua Shinobi mengangguk atas perintah tegas Tsunade yang ditangkap oleh Shinobi berkemampuan telepati dimasing-masing kelompok.

.

.

.

"Cih...apa yang membawa para Shinobi kemari jika bukan sesuatu pada tubuh kage wanita itu." Pain menatap semua anggota dingin. Terutama pada tersangka yang dianggap ceroboh.

"To-tobi tidak tahu Pain-sama. Iya, kan, Zentsu-senpai?"

Zetsu hanya menoleh tak peduli. "Dibanding itu, lebih baik kita menghadapi mereka sebelum sampai disini."

"Yah. Itu tidak penting sih. Cepat atau lambat mereka memang akan datang. Sayangnya, kita dalam posisi lambat. Aku akan pergi lebih dulu." Kisame meninggalkan tempat lebih dulu.

"Tu-tunggu, Tobi ikut." Tobi menghilang mengikuti Kisame.

"Buat wanita itu melahirkan cepat. Jangan buang waktu, bedah saja." Kakuzu memandang Orochimaru yang nampak tidak terpengaruh apa pun.

"Yah, sayang sekali itu akan sangat mengurangi kenikmatan."

"Jangan mengecewakan!" Pain pergi. Satu persatu dari ruangan ikut pergi. Ikut menghadapi para Shinobi. Kecuali Orochimaru dan Conan yang akan kembali ke ruangan Sakura.

.

.

.

"Wanita sialan! Dia membawa harta karunku." Orochimaru menggeram kesal karena tidak menemukannya diruang sekap.

Conan hanya memandang dingin. Kemudian menghilang, mengejar Sakura yang tidak mungkin bisa berlari jauh.

.

.

.

Sakura merasakan perutnya keram berkali-kali. Membuatnya yakin, obat yang Orochimaru berikan adalah obat perangsang kandungan. Dia juga mulai merasakan mulas tak tertahankan. Langkahnya mulai tak beraturan. Dia harus cepat mencari jalan keluar dari hutan ini.

Sakura menatap sekitar dengan nafas yang terengah-engah. Hutan yang tertutup dunia luar. Dia yakin ada penghalang tak kasat mata yang melingkupi markas musuhnya.

"A...aww..." Sakura membungkuk dalam. Jika tidak ingat disini berbahaya, Sakura ingin berbaring. Dia butuh penanganan. Namun sebelum itu, dia harus bisa bertahan. Kali ini saja. Dia ingin bisa bertahan dengan sakitnya.

Sakura menggapai pohon demi pohon untuk membantunya tetap berjalan. Sempoyongan. Sesekali berhenti karena ada saat-saat tertentu tekanannya lebih kuat.

"Rupanya kau nakal juga."

Deg.

Jantung Sakura berdegub kencang. Dia, ketahuan. Sakura berbalik ragu. Menatap waspada pada Kakuzu yang berjalan mendekat.

"Rumor bahwa kau putri raja yang manja sepertinya bohong. Kau bahkan bisa berjalan sejauh ini." Sindir Kakuzu dingin.

Sakura jatuh terduduk. Biarpun tidak kencang tetap saja sakit. Meskipun pada kenyataannya percuma Sakura beringsut mundur untuk menjauhi Kakuzu.

Pergelangan tangannya ditarik kasar. Membuatnya berdiri dalam sekali tarikan. Akan menyeretnya pergi jika saja--

"SHANNARO!"

--belahan tanah tak membuatnya tanpa sengaja melepaskan Sakura.

"Sialan!"

Disisi lain Sakura memaksakan diri menggunakan cakra untuk menjauh.

.

.

.

Sasori terdiam karena mendengar suara ledakan besar. Sontak membuat kelompok yang dipimpin Gaara berhenti.

"Ad--"

"Kita kesana, jika ingin mengadu pada Lord terserah."

"Tapi, markas mere--"

"Disana tidak ada kelompok kita. Lalu siapa?"

"Mungkin saja itu pengecoh. Lanjutkan, Sasori!"

Sasori menatap Gaara nyalang. Dia tahu, semua orang masih menganggapnya anak kecil, tapi bukan berarti suaranya tidak didengarkan.

"Baik. Silahkan lanjutkan. Aku akan pergi ke sana."

"Sasori, hei--" Gaara tidak bisa membiarkan misinya untuk mengutamakan Sakura, tapi berbahaya bagi Sasori untuk pergi sendiri.

"--Kankurou, Sai dan Kiba pergi menyusul Sasori. Sementara yang lain ikut denganku. Aku akan meminta bantuan juga pada My Lord."

"Baik, Yang Mulia!"

Semua mengikuti intruksi dengan patuh. Kemudian kembali berlari ke arah tujuan masing-masing.

Gaara berkonsentrasi agar bisa terhubung ke Sasuke.

"Hn, Gaara, ada apa?"

"Kelompokku terbagi dua. Sasori mengikuti arah ledakan. Sementara aku tetap pada jalur. Kirim beberapa orang untuk menyusulnya."

"Hn."

.

.

.

Sasuke memerintahkan Kakashi dan Kurenai untuk menyusul Sasori. Tatapannya mendadak kosong. Ada rasa tak nyaman saat Sasori memilih berbelok ke arah berbeda daripada ke arah yang mungkin tempat Sakura disekap.

"Dasar bocah merepotkan." Sasuke melirik Naruto yang mengumpat sekilas.

"My Lord." Panggilan Lee seketika membuat langkah semua terhenti.

Diujung sana. Ada dua orang berjubah awan merah yang seolah sedang menunggu kedatangannya. Tangan Sasuke mengepal saat melihat Itachi adalah salah satunya.

"Pengkhianat itu!" Naruto menggeram tanpa peduli siapa yang dia umpati.

"Saya akan menghadapinya, Anda pergilah. Ini bukan saat yang tepat bagi Anda." Naruto berkata serius. Tatapannya tak pernah putus dari kedua musuhnya.

Sasuke menghela nafas untuk mereda emosi. Membenarkan ucapan Naruto pada tujuan utamanya. Sakura.

Sasuke dan tiga orang lainnya siap melanjutkan langkah. Namun, rencana hanya tinggal rencana. Tidak satu pun dari mereka yang berhasil pergi karena dihadang kloning masing-masing.

'Kurang ajar."

.

.

.

Sakura menajamkan pengawasan saat mendengar gemerisik suara yang semakin mendekat. Ada tiga, tidak empat, enam. Dia tidak akan sanggup menghadapi musuh sebanyak itu disaat seperti ini. Sakura mulai menyender pada pohon besar dengan pasrah. Kontraksinya datang lagi disaat yang salah. Tenaganya terkuras.

"Simpan saja tenagamu!"

Sakura memejamkan mata pasrah. Kakuzu berhasil menemukannya lagi. Sakura kembali membuka mata, saat ternyata Kakuzu hanya sendiri. Lalu, dimana lima orang lagi?

"Kau pengecut tak tahu diri."

"Ya. Dan kau munafik yang ketakutan."

Sakura merasa jijik saat tangan Kakuzu menyentuh perutnya dengan kedua tangannya yang dikunci pada pohon diatasnya.

"Bayi ini tidak seharusnya lahir sesuai gulungan itu. Jika tidak, kutukan ku akan sia-sia."

Sakura meludah kasar. Dibalas tamparan keras membuatnya memalingkan muka. Saat seperti ini, ia masih bisa merasakan aura enam orang tadi.

"Dasar biadab! Kau pantas di neraka."

"Mari bicara setelah urusan kita selesai."

Tanpa peduli lagi, Kakuzu mencengkram kuat perut Sakura. Dia akan mengeluarkannya dengan paksa.

Sakura reflek menahan nafas. Berusaha melepaskan tangan Kakuzu yang mencengkram perutnya. Seketika perutnya terasa mati rasa. Saat oksigen perlahan menipis, lengkingan putus asa menggema.

"Baginda Kakak!"

Teriakan terakhir berhasil mengundang kelompok Sasori.

Kakashi langsung menghajar Kakuzu yang belom siap secara membabi buta. Sai, Kiba, dan Kankurou maju membantu.

Sakura menangis menahan sakit. Kesadarannya mulai tipis. Namun, Sakura bersyukur setidaknya ada yang datang mememukannya. Ditengah putus asanya.

"My Queen! Ya, ampun. Tolong bertahanlah." Kurenai memangku Sakura yang lemas dipangkuannya.

"Prince Sasori, tolong segera hubungi semuanya!"

Sasori mengangguk. Tangannya menggenggam tangan Sakura khawatir. Dibalas cengkraman tanda pelampiasan rasa sakitnya.

"Sudah. Jaga, My Queen! Kita harus mengurus ini dulu." Kakashi yang menjawab. Dia memang langsung sigap dengan segala situasi.

"Mohon tidak mengejan, sesakit apapun, My Queen!"

"Sasori!" Sakura berusaha menangkup sayang wajah saudara satu-satunya yang dirundung kekhawatiran. Matanya sayu.

"Ya. Ini aku. Bertahanlah!" Sasori membawa Sakura pada pelukannya. Menyanggahnya. "Maaf, Kak! Aku terlambat."

Sakura menggeleng cepat. "Terimakasih. Mungkin saja kematianku akan--"

"Ssstttt...berhenti! Tolong! Jangan berbicara yang tidak perlu." Sasori menangis. Kondisi kakaknya sangat mengenaskan. Ingatkan dia untuk kembali menghajar Sasuke. Karena tadi sebelum berangkat, dia belum puas.

Kurenai memberikan cakra penyembuhan. Berharap ini mampu meredakan kontraksi hingga waktunya tiba.

Sakura menatap Sasori sendu. "Jangan menangis!" Tangan mungilnya menghapus pipi adiknya. "Sekarang, bantu aku berdiri kita harus menjauh."

Sesakit apapun, Sakura sadar dia tidak bisa bersantai menunggu bantuan datang. Satu anggota Akatsuki saja membuat repot, apalagi jika berkumpul.

"Kita tunggu di--"

"Kita pergi!" Sakura kembali meringis saat gelombang kontrasinya memuncak.

"Atur nafas, My Queen. Jangan mengejan! Ya, seperti itu. Bagus."

"Mereka, memberiku obat perangsang."

"Keterlaluan. Tidak cukup sampai disitu, pria tadi mengurut perut Anda juga." Sambil membantu menopang Sakura, satu tangannya lagi masih memberikan cakra dipunggung sang majikan.

Sebelum benar-benar jauh melangkah. Mereka kembali dihadang Conan, disusul Orochimaru yang memandangnya tajam. Auranya lebih suram dari pada sebelumnya.

"Sial!" Kakashi berdecak. Musuhnya bertambah.

Kini, keempatnya seolah membangun benteng untuk melingkari Sakura.

Sasori mempercayakan Sakura pada Kurenai. Dia tak mungkin hanya berdiam diri, sedang yang lainnya memiliki andil melawan musuh.

"Bagaimana yang lain?"

"Hanya beberapa orang yang berhasil lolos. Banyak dari mereka yang terperangkap." Jelas Kakashi dengan pandangan waspada.

"Yang penting ada--"

"Lama tidak berjumpa, Kakashi. Kau semakin tua."

"Brengsek! Kau pikir, kau awet muda? Menjijikan!" Sindir Kakashi jengkel.

Fokusnya terbagi saat mendengar Sakura kembali merintih dalam topangan Kurenai.

"Ya. Nampaknya tetap akan berakhir adu kekuatan." Dan. Detik Orochimaru berbicara memuakan, perkelahian kembali terjadi.

Orochimaru mengeluarkan ular raksasa, Manda dan Aoda. Aoda berhasil mendekati Sakura.

Kurenai juga sedang menghadapi ribuan ular putih lainnya, terpaksa menghadapi Aoda.

Namun, nampaknya Aoda hanya untuk memancing Sakura. Karena detik berikutnya, Manda berlari kencang ke arah Sakura.

Sambil mengusap perutnya berulang kali, Sakura mendongak--pada Manda. Inilah akhirnya. Namun, saat dia memejamkan mata tanda pasrah, ledakan keras terjadi, bersamaan sebuah tangan yang menariknya pada pelukan menghangatkan. Sakura sangat hapal bau tubuh ini.

.

.

.


.

.

TBC

.

.

Segini aja dulu..

Mudah-mudahan semua urusan aku segera kelar ya,. Biar bisa fokus tamatin ini satu-satu..

Gimana? Merasa gak nyambung? Aku agak kaku pas di chapter ini :D

Jangan lupa, jangan hanya like di chapter terakhir update aja ya...

Tekan tombol dibawah ini!

See you next time...