Selamat hari minggu...

Terimakasih para pendukung dan para penyinyir yang masih stay menunggu chapter demi chapter.


Sedikit cerita, ya. Aku post karyaku di dua aplikasi. Wattpad dan fanfiction. Di wp luar biasa banget responnya, mungkin bagi yang gak suka tinggalkan gak perlu nyinyir.

Di ffn, luar biasanya pake banget banget lagi, mereka biarpun gak suka tetep nunggu, baca, nyinyir lagi.

Coba deh main-main ke dua akun. Beda banget pokoknya, mungkin aja yang nyinyir di ffn orangnya itu-itu aja dan menjadi pembaca tetap. Dia suruh aku main ke akun orang maksudnya apa, suruh jiplak? Bukan tipe aku, maaf.

Sekarang, coba aku memerintahkan kamu main ke dua akunku. Gak mau kan? Tapi kamu bakal menemukan perbedaannya. Gak nyinyir semua.

Wajar sih, kalau dapat responnya ada yang nyinyir dan nggak. Itu berarti karyaku dibaca banyak orang. Tapi ya gitu...gak ada jejak. Tahu-tahu minta next, lanjut, gitu aja menurut aku adalah respon positif biarpun aku tak bisa berkata-kata lagi alias males baca. Itu lebih baik daripada nyinyiran, yang bikin aku mengutuk kamu dengan mengabsen semua kebon binatang.


Warning : Banyak typo, rancu, gak jelas.

.

.

Oh, ya. Sori juga nih ya gak sesuai harapan kalian...kayaknya kecepetan update hehehe...

.

.

.

HAPPY READING

.

.


.

.

Sasuke membawa Sakura dalam pelukannya. Tangan kanannya yang memegang katana menangkis serangan Manda. Posisinya setengah miring untuk menangkis serangan bertubi. Ia merasakan, Sakura kapan saja bisa merosot dalam peluknya. Sedangkan Manda dan Aoda mulai kembali datang menyerang. Sharingan, berputar cepat. Perlahan lapisan ungu, menyelimutinya bersama Sakura—Susano'o. Membentuk tameng sempurna.

"My Lord!" Sakura berucap lirih. Mengeratkan pelukannya setelah yakin yang datang melindungi adalah Sasuke. Dia selamat.

Namun, tubuhnya yang bergetar tak bisa membohongi bahwa ia masih ketakutan. Sakura kesal, karena ia begitu tidak berdaya.

"Bertahanlah! Kau bisa mengikuti gerakanku?" Fokus Sasuke masih tertuju pada musuh, terutama ribuan ular putih Orochimaru.

Sekali tebas, Katana Susano'o membunuh ribuan ular. Namun seolah tak ada habisnya, ular itu datang lagi dan lagi. Aoda dan Manda juga ular yang cukup menjengkelkan. Aoda sudah memiliki luka serius.

Sasuke bukan tidak mengerti cara menghancurkan mereka. Ia juga kenal siapa Orochimaru yang gila melakukan praktek manusia secara illegal. Termasuk klannya yang menjadi incaran.

Permasalahan saat ini, mereka dikejar waktu. Sakura beberapa kali meremas kuat jubahnya.

"Sakura." Sasuke akan terlihat menjadi orang paling jahat jika membawa Sakura melompat-lompat disaat kondisinya tidak baik.

"Saya sudah tidak tahan." Berulang kali Sakura mencoba mengatur pernapasan. Meski secara langsung bukan tenaganya yang digunakan untuk berpindah tempat. Secara alamiah kontraksi memang menyakitkan.

"Kita tidak bisa pergi sebelum Queen Tsunade datang." Sasuke sebisa mungkin mengurangi pergerakan. Alhasil, lengan kanannya terkena sabetan kupu-kupu kertas milik Conan.

"My Lord!" Teriak Kakashi tak terima.

Sasori dan Kakashi mendekat. Bertarung didepan keduanya seolah memberikan tameng. Padahal tameng Sasuke jelas lebih kuat dan kokoh.

Susano'o menyilangkan kedua lengan saat serangan jarak jauh mendekat.

"Kau tak apa?" Saat merasa Sakura lebih rileks.

Sakura mengangguk lelah. "Kontraksinya datang dan pergi."

Sasuke hanya bisa melakukan gerakan bertahan. Kakashi memberi kode untuk begitu. Karena chakra Tsunade sudah semakin dekat, mereka hanya perlu bertahan sebentar.

"Mereka memberikanku obat perangsang."

"Apakah itu baik?"

"Itu tidak menyenangkan."

Jawaban Sakura membuat Sasuke bungkam. Ia tidak ingin kehilangan fokus. Namun, rasa khawatir itu ada. Beruntungnya, ia mempunyai pengendalian ekspresi yang baik, hingga tak terlihat seperti suami konyol karena menghadapi istri yang akan bersalin.

Sakura kembali mengerang, dan berteriak tanpa sadar. Rasanya kali ini lebih berat. Kepalanya berputar parah. Tak lama kegelapan menguasainya.

Sasuke yang mendapatkan Sakura tak sadarkan diri, lupa pada Susano'o yang ikut terlepas.

"My Lord!"

"My Queen!"

Sahut-sahutan mereka memanggil Sakura dan Sasuke yang mendarat dipijakan tanah. Membenahi posisi Sakura yang tidak bisa berdiri lagi.

Bersamaan dengan itu, Tsunade datang bersama beberapa rombongan lainnya. Membuat Sasuke dan Sakura berada dalam lingkaran seolah membuat tameng.

Sasuke menatap kedepan, "Sebagian ikut denganku!"

Semua mengerti, tidak mungkin mereka pergi bersama disaat mungkin musuh justru mengikuti. Jelas sebagian besar harus mengecoh dikandang musuh.

Sasuke membuka gerbang teleport. Menggendong Sakura diikuti yang lainnya.

"Uchiha—aku akan tetap mengejarmu."

Adalah ancaman Orochimaru sebelum benar-benar jalan ditutup.

Jirayya mendecih sinis, saat ini mereka adalah lawannya. Dan ia diabaikan.

.

.

.

.

.

Semua sibuk mempersiapkan peralatan persalinan. Sakura hanya terkena syok ringan. Sehingga merenggut kesadarannya.

"Semuanya normal, My Lord. Mungkin tadi Akatsuki memang memberikan obat perangsang kandungan, tapi sebelum itu, sebenarnya Queen Sakura sudah dalam periode bersalin." Sejujurnya Tsunade juga merasa lega. Setidaknya, bukan racun yang diminum Sakura.

"Dia kesakitan. Dan tak sadarkan diri."

"Itu efeknya. Dan karena kontraksi yang ditingkatkan, tubuhnya belum siap menerima secara dadakan."

"My Lord, My Queen sudah sadar." Para perawat yang mengelilingi Sakura menginfokan.

Sasuke dan Tsunade mendekati. Melihat Sakura yang setengah sadar dengan kening mengernyit menahan sakit.

"Kontraksi, Queen?" Tsunade bertanya pelan, lengan tuanya mengusap perut Sakura yang keras.

"Sasuke!"

Deg

Ada rasa haru yang menyelimuti hati Sasuke saat ini. Rasa yang seolah paling dibutuhkan oleh orang yang paling dia butuhkan juga. Sakura memenuhi kekosongan itu.

Namun, Sasuke tidak bisa terlena dalam rasa senang. Dia menggenggam tangan Sakura, jika bisa ia ingin menyalurkan kekuatan agar istrinya lebih terhindar dari rasa sakit.

"Aku disini." Sasuke mengelus puncak kepala Sakura yang penuh keringat.

Sakura sepenuhnya membuka mata. Beradaptasi dengan ruangan yang meski bukan istananya yang nyaman, tapi disini juga aman. Itu yang terpenting. Menjauhkannya dari ketakutan yang mengancam dirinya dan keselamatan bayinya. Dan meski tidak tahu siapa yang akan selamat, setidaknya dia berada ditengah-tengah orang yang mendukungnya.

"Apa ada masalah?" Sakura reflek memegang pinggangnya yang pegal. Ia masih merasakan pergerakan aktif dari makhluk kecil yang akan segera menyapa dunia. Rasa cemas bercampur lega menjadi satu.

"Semuanya masih tampak normal. Karena efek obat perangsang mungkin proses bukaannya akan membebanimu. Sekarang sudah pembukaan empat." Tsunade memberikan senyum lembut.

Senyum keibuan yang sejenak mengingatkannya pada sang ibu. Bagaimana dulu ibunya melahirkannya? Bagaimana perasaan ibunya saat tahu ia akan melahirkan bayi dari orang yang membunuhnya?

Deg

Perasaan Sakura menjadi serba salah. Tidak seharusnya ia mengingat masa lalu disaat seperti ini. Dia sudah terlalu stress, dan itu tidak akan menjadi baik untuk bayinya.

"Pembukaan?"

Kasus yang mereka hadapi adalah wanita tidak mengalami pembukaan bahkan ketika kontraksi hebat datang. Bolehkah Sakura berharap pada berita bagus ini?

"Itu bertambah, karena aku sudah dua kali memeriksa."

Sakura mendesah lega. Netra hijaunya menatap Sasuke yang tidak bersuara dan hanya menatapnya sejak tadi.

"Anda ingin kami meninggalkan kalian, My Lord? Karena kita hanya bisa menunggu Queen Sakura mencapai bukaan sepuluh untuk memulai."

Sasuke berpikir sejenak dengan tawaran Tsunade. Kemudian mengangguk setuju, "Jangan terlalu jauh."

"Yah, saya hanya akan bergosip diluar dengan para ibu hamil lainnya. Karena mereka sepertinya tak sabar mendengarkan kabar berita." Tsunade mengerling jahil pada para wanita yang mengintip dipintu masuk, terutama Ino dan Temari yang saling bisik-bisik.

Sakura ikut memandang arah pintu masuk, kemudian senyumnya merekah tanpa sadar. Merasa ikut geli.

"Jangan lupa makan untuk mengisi tenaga, dan juga minum agar tidak dehidrasi! Kau kehabisan chakra saat tadi berpindah menggunakan teleport."

Sakura mengangguk lemah. Ia memang merasa lemas. Mungkin benar chakranya lemah.

Setelah memastikan mereka hanya berdua, Sakura mengalungkan kedua lengannya pada leher Sasuke.

"Anda terluka."

"Itu bukan apa-apa."

Keduanya hanya berpandangan. Saling menyelami kedalaman mata masing-masing.

"Maaf!"

"Untuk apa? Aku yang ceroboh mendekati pintu. Apa aku harus minta maaf juga?"

Sasuke menggeleng lemah. Reflek ia mengelus perut Sakura dengan posisi sama.

"Apa benar ini tidak berbahaya?"

"Obat induksi untuk mempercepat persalinan. Tapi katanya, lebih sakit dari melahirkan normal." Sakura menipiskan bibir, ngeri.

Bayangan kesakitan saat persalinan membuatnya merinding. Kontraksi seperti tadi saja membuatnya pingsan, bagaimana nanti, bukaan bertambah dan harus berusaha mengeluarkan bayi. Bisakah ia melewati itu?

"Berarti berbahaya."

"Tidak tahu." Sakura melirik pada nampan makanan. Ia ingat sangat lemah saat ini. Jadi, walaupun tidak nafsu makan ia ingin berusaha.

"Makan sekarang?"

Sakura mengangguk pelan. Sasuke melepaskan pelukan Sakura dan siap membantu menyuapkan makanan.

"Aku bisa sendiri, Sasuke."

Sakura sudah akan duduk, jika saja Sasuke tidak menahan.

"Tetap seperti itu!" Katanya tegas.

"Kau memarahiku?"

Sasuke menghela nafas atas kesalahan pahaman Sakura. "Tidak seperti itu." Sambil menyuapkan sesendok bubur pada istrinya.

"Tadi begitu." Sakura tak mau kalah kala setelah menelan buburnya.

"Tidak ada."

"Ish...mengaku!"

"Apa?"

"Kau tadi membentakku."

"Makan saja, nanti kau tersedak." Sasuke mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Tidak mau sebelum mengaku." Namun, itu hanya ucapan, Sakura tidak menolak suapan demi suapan dari Sasuke.

Sakura tersedak makanannya, kala kontraksi kembali datang. Buburnya masih tersisa setengah.

"Oh, Lord!" Geram Sakura. Jemarinya meremas jubah lengan Sasuke hingga kusut.

Sasuke memanggil Tsunade, karena kontraksi Sakura cukup panjang. Ia tidak bisa menangani pengendalian diri Sakura yang cukup buruk saat ini.

"Sakit!" Teriak Sakura lagi.

"Atur nafas, My Queen. Sesakit apapun. Jangan ditahan! Buang! Hembuskan!"

Sakura tidak bisa. Refleknya ingin mengejan. Airmatanya mengalir deras.

Tsunade membuatnya berbaring miring. Sakura melengkingkan tubuh kala pijatan-pijatan pada punggungnya membuat ngilu.

"Nafas!" Sulit.

Sasuke pasrah lengannya kena cakaran-cakaran Sakura.

Setelah Sakura sedikit tenang, Tsunade mengecek lagi pembukaan.

Sakura tak bisa berhenti terisak kesakitan. Apalagi saat jari-jemari Tsunade berusaha memasuki vaginanya secara berkala.

Dan kepercayaan diri yang tadi sempat hinggap mendadak lenyap, kala melihat Tsunade menggeleng pada Sasuke. Sakura tahu artinya, pembukaannya tidak bertambah. Bahkan setelah kontraksi panjang yang baru saja dilewati.

Dua hari telah berlalu, sisa rombongan pun sudah datang satu hari lalu.

Mereka berpikir akan mendengar kabar baik setelah sampai. Mendengar merdunya tangisan bayi. Harapan yang paling ditunggu dengan cara yang benar. Sesuai isi dalam gulungan dokumen yang diterjemahkan dulu.

Meski harapan ternyata terdengar omong kosong karena bahkan Sakura tak kunjung mencapai waktu persalinan. Keamanan tetap siaga. Mereka tetap bertanggung jawab, karena sejatinya mereka yang mendorong Sakura. Namun, benarkan itu cukup untuk kata tanggung jawab?

Ini menyangkut nyawa Sakura. Yang dirugikan tubuh Sakura. Bayi Sakura. Darah daging Sasuke juga memang, tapi yang terancam ibu dan calon bayinya.

Terlebih, dari pihak Sakura sendiri—Kerajaan Haruno. Mereka harus siap memantapkan hati untuk tabah dengan segala kemungkinan terburuk. Harus punya kelapangan dada agar tidak memprovokasi perang.

Namun, itu tidak semudah yang diucapkan para penasihat negara lain untuk negaranya. Emosi Sasori mengalahkan semua kerja otaknya. Ia menghajar Sasuke begitu bertemu. Walaupun hanya berhasil satu pukulan keras karena dihalangi yang lainnya. Itu hanya pukulan hari ini, belum pertemuan-pertemuan berikutnya.

Sasori juga cukup adil tak menghakimi Sasuke seorang. Ia juga menghajar Kakashi dan Shikamaru. Tak perduli posisi Shikamaru penting bagi kerajaannya. Mereka berdua orang yang berjasa dalam menafsirkan gulungan menyesatkan hingga mengorbankan kakaknya.

Hal tersebut yang membuat baik Gaara atau Tsunade cemas. Jika Sasori tidak mengontrol tindakannya. Bisa jadi mengundang benci dari berbagai pihak. Jika sudah begitu, akan repot untuk mengontrol tidak terjadi perang. Mereka sudah sangat habis-habisan dengan proyek ini. Perang dalam waktu berdekatan hanya akan menyisakan luka mendalam dimasing-masing pihak.

Sejauh ini Sakura baru mencapai bukaan lima. Bertambah satu tingkat dari pertama, pembukaan seolah berhenti seperti kasus-kasus yang lainnya.

Bukan main paniknya. Bukan sekali Sakura juga menyalahkan Sasuke. Bukan sekali, dia merasa ingin menyerah. Tak ada komunikasi baik lagi antara keduanya.

Sejujurnya, Sasuke juga merasa tertekan. Ia merutuki kepercayaan dirinya dulu. Meski tidak tahu pasti, ia yakin hasil penafsirannya tidak salah. Setidaknya—dirinya yang tertulis disana.

Sakura? Itu hanya efek dari ilusi ingin menempatkan Sakura disisinya. Ia percaya Sakura yang akan berjuang bersamanya. Bukan bermaksud untuk mencelakai. Ancamannya dulu hanya gertakkan nyata. Benar, ia akan membunuh orang yang menentang mereka bersatu. Termasuk saat mendengar Shikamaru yang menjadi tunangan Sakura. Sejujurnya, saat itu dia akan membunuh Shikamaru secara diam-diam.

Namun, kini kepercayaan diri itu benar-benar lenyap. Hal yang sering Sakura pertanyakan akhir-akhir ini. Yang sempat mengusik dirinya beberapa kali. Semuanya, terjawab saat ini.

Sakura mulai melemah. Bahkan setelah secara bergantian dari mereka menyalurkan cakra. Istrinya juga sudah tidak bisa mengunyah lama. Yang masuk dalam tubuhnya hanya ramuan penambah nutrisi dan air, itu pun masih sulit untuk ditelan.

"Lakukan cessar!" Dengan tangan Sakura pada bibirnya, Sasuke berujar tegas, sorotnya kosong terselimut renungan.

"My Lord—" Tsunade diam tak bisa berkata lagi. Mereka resmi gagal.

"Akan saya umumkan."

Semua para istri, perawat, pelayan yang berada dalam ruangan menunduk dalam. Mereka tahu artinya. Perkataan Tsunade jelas tak ada harapan lagi.

Perlahan mereka pergi mengikuti Tsunade. Cessar akan dilakukan setelah Sakura bangun dari obat tidur yang Tsunade berikan. Lagipula, para petinggi yang lain harus tahu juga keputusan akhirnya.

"Aku tidak mau." Sakura membuka mata sayu kala hanya menyisakan mereka berdua.

"Aku tidak punya pilihan."

"Aku ingin putraku selamat."

Sasuke menipiskan bibir kelu. Artinya Sakura ingin meninggalkannya jika putranya hidup. Dia tidak mau.

"Aku tidak mau." Dalam hati, Sasuke meminta maaf kepada putranya yang belum lahir.

"Anda seorang Lord."

"Bukan berarti aku tak bisa memilih siapa istriku."

Sakura tersenyum tipis. "Aku menghargai."

"Hanya itu. Ini seperti hanya aku yang mengharapkanmu."

"Ya, kau tak harus berpikir aku mengharapkan hal sama, kan?" Sakura tersenyum kecut. Dia terpaksa menghempaskan kejujuran Sasuke.

"Pembohong." Sasuke berkata lirih. Dia tak berani menatap Sakura dengan raut sekacau ini. Menunduk, membiarkan lengan Sakura yang digenggamnya menghalangi keningnya yang pening.

"Sasuke, kau juga terlalu terlambat. Aku jelas sedang diambang kematian." Sakura menatap langit-langit goa yang gelap. Ia tersenyum, pertama kali melahirkan putra dari pria yang begitu dicintai harus berakhir dengan ketidakpastian juga ditempat seperti ini.

Sasuke kelu. "Apa aku seburuk itu?"

"Kau bisa membunuh. Tapi bukan kau penentu hidup dan mati."

Lagi. Hati Sasuke seolah diremas paksa.

"Tidakkah kau pernah berpikir?" Sakura memaksa Sasuke untuk kembali menatapnya. Dia tidak suka Sasuke yang berantakan. Dia ingin prianya—suaminya.

"Aku tidak akan menyesal." Sasuke tahu arti tatapan Sakura. Mereka berpisah karena melihat Mebuki mati ditangannya.

Sakura tersenyum pahit. Sasuke dengan segala egonya. "Aku tidak akan merasa terbebani telah melahirkan cucunya dari orang yang membunuhnya jika begitu. Karena akulah yang akan meminta maaf disana."

"Pertemukan, aku! Sekali lagi aku akan membunuhnya jika berani membawamu serta."

Sakura terkekeh lirih. Sikap Sasuke seperti anak kecil. Entah dia sadar atau tidak. Hatinya teriris melihat Sasuke yang kembali menunduk. Aura Sasuke menggelap. Seperti katanya tidak ada yang tahu tentang kematian. Dia juga takut mati. Membayangkan kehilangan anak juga menyakitkan. Sasuke yang menyerah, dia juga yang memikul keputusannya.

"Sasuke, dengarkan ak—" Sakura kelu saat Sasuke menepis halus lengannya yang akan menggapai pipinya.

"Tolong, jaga putra kita!"

"Aku akan membunuhnya."

Sakura menangis. "Kau tak akan tega."

Sakura semakin terisak kala melihat wajah Sasuke yang mendongak. Bola matanya merah. Bukan karena mata sharingan, tapi seperti telah menahan airmata agar tidak jatuh.

"Apa yang kau nilai dariku? Itulah aku."

Sakura ingin memeluk Sasuke, tapi ditolak halus. Tak ada sikapnya yang kasar, tapi justru itu lebih menyiksanya.

"Sasuke—" Sakura merengek, tapi Sasuke hanya diam.

"Aku ingin tahu alasanmu dulu. Aku ingin tahu apa yang terjadi. Tapi, sampai angkat senjata berakhir. Kuasa berganti. Kau tak datang. Hingga kini, saat kita satu dengan status sakral pun, kau memang tak berniat berbagi denganku. Kesalahan atau hanya kesalahpahaman apapun akan berlanjut. Dan kau menyalahkanku karena penilaianku salah?" Sakura mengelus perutnya yang kembali nyeri.

"Aku tidak punya waktu lagi untuk mendengar suaramu, tapi kau memilih diam." Sakura mengerjakan mata, memalingkan wajah.

"Karena pada kenyataannya tidak ada yang salah paham. Itu nyata, seperti apa yang kamu lihat."

Hati Sakura mencelos. Begitukah akhirnya? Percuma mencari celah kebaikan Sasuke, karena pada dasarnya tidak ada kebohongan. Sasuke jelas sejahat itu. Sasuke adalah seorang pembunuh. Apa yang sebenarnya ingin ia dengar? Matanya sudah sangat jelas melihat, dan saksi nyatanya adalah adiknya sendiri—Sasori yang kini memiliki krisis kepercayaan akibat terlalu mengagumi Sasuke dulu.

Sakura kembali mengalami kontraksi hebat. Sakura memeluk Sasuke saat akan beranjak memanggil tim medis. Dia tidak mau. Mereka pasti akan langsung mempersiapkan operasi cessar.

"Kau ingin cessar, kau sudah menyerah, tapi bisakah aku meminta kali ini, biarkan kita bersama dulu?" Bisik Sakura parau diceruk leher Sasuke. Ia menggeram menahan sakit kontraksi yang semakin menjadi. Efek obat yang Tsunade mungkin sudah hilang.

Sasuke menutup mata erat. Membalas pelukan Sakura tak kalah erat. Ia tak akan sanggup jika dunia yang memisahkan mereka. Selama ini dia bisa bersantai, karena kapan saja bisa mencari celah. Seperti adanya wabah ini yang membuat mereka terpaksa menikah. Meski cara itu tidak pernah dalam daftar. Setidaknya, sejak saat itu, setiap langkahnya selalu teringat tempat pulang.

"Aku haus." Kontraksinya sedikit berkurang.

Pelukan mereka terlepas. Sasuke mengambilkan gelas minum dengan tangan bergetar.

"Jangan seperti ini!" Sakura menggenggam tangan besar Sasuke pelan.

"Jangan terbebani!" Sejujurnya, Sasuke malu karena tak bisa mengendalikan sikapnya.

Kemudian Sakura hendak membawa tangan itu menuju perutnya yang seperti bengkak. Namun tidak bisa, Sasuke menolak halus.

"Sasuke!"

"Tidak. Dia harus tahu jika ayahnya tidak menginginkan dia hidup, dia harus mengalah untuk ibunya." Bohong. Sasuke justru menyakiti dirinya sendiri. Dia ingin serakah memiliki keduanya.

"Aku membencimu!" Bentak Sakura.

"Lakukan! Jika itu bisa membawamu hidup." Tatapan Sasuke menajam.

"Aku akan bunuh diri jika justru aku yang selamat." Sakura berujar tegas.

"Kita akan melakukan bersama jika itu demi putra kita." Sasuke terpancing emosi.

Sakura menunduk menahan tangis. "Itachi benar."

"Apa yang dia katakan?" Sasuke melotot tajam. Jadi, Sakura sempat berkomunikasi. Itu artinya dia juga terlibat langsung selama penculikan Sakura.

"Dia berkata, dimana pun bayi ini lahir, rencana kita akan gagal. Aku tidak mengerti, tapi aku sudah membuktikannya persis seperti yang dia katakan."

Sakura meminta bantuan Sasuke untuk kembali berbaring dengan posisi miring. Sesekali masih mengusap airmata. Sakura tahu Sasuke egois, bahkan tak pandang bulu, meskipun itu darah dagingnya. Apa pada akhirnya mereka semua akan mati?

"Dia yang membebaskanku dari rantai cakra. Mungkin percuma aku disana. Hasilnya akan sama." Sakura mengernyit karena perutnya tidak nyaman.

"Kau baru bilang? Dia bisa saja tahu solusinya. Dan kita bisa mengancamnya untuk buka mulut." Nada Sasuke seolah menyalahkan.

"Kenapa yang ada dikepalamu hanya membunuh? Tidakkah kau pernah berpikir dingin?"

"Membuang waktu."

"Apakah aku sekarang membuang waktumu yang maha sangat sibuk itu?"

"Jika kau hanya berteriak dan hanya menghakimiku, jawabannya iya."

Sasuke berdiri, berjalan pergi menuju pintu keluar.

"Kau selalu begitu, tanpa mau merubah sikapmu bahkan setelah di kritik. Itulah hidupmu yang tak akan sesuai keinginanmu."

Sakura berteriak sebelum Sasuke benar-benar keluar. Dia yakin Sasuke mendengarkan semuanya.

Tak lama kemudian, semua orang yang selalu bergantian menjaganya kala Sasuke harus mengatur keadaan keamanan memenuhi ruangan. Menanyakan keadaannya. Para perawat mungkin sibuk menyiapkan untuk operasi cessar.

.

.


.

.

TBC

.

.


Sasuke : HAHAHA DIGANTUNGIN AUTHOR LAGI.

Sakura : Untuk gue cuma akting, kalo nggak nahan mules deh sampe update.

Me : Terimakasih sudah mau dipermainkan... Eh vis... Terimakasih sudah membaca


Jangan lupa comment and vote ya...

Love u all..

See u next time...