Chapter II
Di depan Hinata kini berjejer empat siswa, minus siswa berkacamata yang sudah lari tunggang langgang keluar gudang. Nyawanya terselamatkan oleh Hinata secara tidak langsung. Dari ujung kanan, pemuda sok ngeboss bernama Sasuke. Tukang pukul walau si korban kadang tidak salah, sebut saja premannya sekolah. Hinata merasa sedang disidang.
"Apa?" tanya Sasuke sadis.
Pemuda dengan tato segitiga terbalik disamping kiri Sasuke mengangkat tangannya. "Hai. Aku, Inuzuka Kiba."
Pemuda disebelah Kiba juga memperkenalkan diri dengan mata tertutup dan senyum palsunya. "Sai."
Lalu, yang terakhir pemuda berambut nanas dan ngantukan. "Nara Shikamaru."
"Hyuuga Hinata."
Malah mirip ajang perkenalan cari cinta rasa-rasanya.
Manik lavender Hinata tidak berkedip saat menatap empat pemuda di depannya. Hinata hanya sedang berpikir sembari menganalisa. Dan tatapannya berakhir pada sosok Kiba. Suara yang didengar saat seseorang mendorong pundak belakangnya mirip dengan suara Kiba. Jadi, Kiba tadi datang bersama Sai.
"Kau tersesat atau menyesatkan diri? Manik Hinata bergulir ke arah Shikamaru yang dengan ogah-ogahan bertanya padanya.
"Tersesat."
Sepertinya lebih nyaman kalau yang mengantar itu Shikamaru daripada Sasuke. Biarpun Shikamaru itu terlihat begitu setidaknya tidak seperti Sasuke ini. Apaan sih Sasuke ini. Setiap Hinata berjalan ke kiri dengan jarak aman, Sasuke akan merapatnya. Ke kanan, Hinata juga dipepet. Jalan pelan-pelan, Hinata malah ditarik-tarik seperti kerbau. Hinata jalan cepat-cepat, ia disusul bahkan sempat ditubruk dari belakang.
Kenapa semenderita ini hanya untuk ke ruangan kepala sekolah.
Hinata sangat sebal dengan seseorang yang duduk disampingnya. Sungguh, Hinata tidak mengerti dengan kebetulan-kebetulan luar biasa yang sedang terjadi padanya sekarang. Sudah tersesat, bertemu geng tenar dikondisi yang cukup menyeramkan, dipepet-pepet saat keruangan kepala sekolah, dan sekarang harus sekelas bahkan duduk bersebelahan. Siapa lagi kalau bukan Sasuke. Hinata ingin pindah lagi ke sekolah yang tidak ada Sasuke di dalamnya.
Asal tahu saja, penglihatan Hinata itu sedikit kabur kalau jauh dan ia malah duduk di belakang pas pojok pula, dipepet Sasuke pula. Sepasang mata elang tak henti-hentinya menatap Hinata sejak ia duduk.
"Rabun ya?" Jangan ditanggapi. "kau cantik dengan kacamata itu."
Sasuke menopang kepala dengan tangan di meja. Menatap Hinata dari arah samping lebih jelas. Beruntung, tempatnya duduk kurang dari pantauan guru di depan.
"Terimakasih."
Ada yang memuji, wajib dong bilang terimakasih.
"Hanya itu?" tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat.
"Memangnya kau mau apa?" tanya balik Hinata. Mata dalam bingkai itu masih setia menatap ke depan dengan tangan menggenggam pulpen.
"Cium."
Tanpa pikir-pikir lagi, Hinata memukulkan pulpen berujung kepala domba ke dahi Sasuke. Lalu fokus lagi ke papan tulis. Mengacuhkan Sasuke yang mengumpatinya. Masa bodoh.
Hinata tidak tenang selama sekolah di Konoha. Kalau tahu begini, Hinata lebih memilih tidak ikut pindah. Sayang, nasi sudah basi.
"Sasuke," panggil Hinata.
"Hn."
"Ku kira kau akan membully anak baru sepertiku," Hinata menoleh, menatap Sasuke yang masih setia menatapinya.
"Seperti drama-drama televisi?" Hinata mengangguk. "kau ingin aku melakukannya padamu?"
Dan Hinata memukulkan pulpennya lagi, ke kepala Sasuke.
Bukan apa-apa Hinata menanyakan tentang bully membully pada Sasuke. Hinata hanya mengingat kebringasan Sasuke saat di gudang, dan ini berbeda sekali dengan Sasuke yang didekatnya.
Yah, yang menyamakannya hanya sifat pengganggunya. Tuhan~ kuatkan Hinata.
Keakraban Hinata dan Sasuke disalah artikan oleh seorang siswi yang tengah menatap keduanya. Lebih tepatnya menatap Hinata dengan penuh rasa benci. Amarahnya terbakar, pulpen ditangannya patah karena genggamannya yang kuat.
.
.
Dari awal masuk sampai sekarang sudah hampir dua minggu. Saat jam istirahat, Hinata pasti diseret paksa tanpa perasaan oleh Sasuke menuju kantin. Bukan ajakan makan bersama atau basa-basi. Melainkan menjadi pengasuh bayi besar yang sok ngeboss bernama Sasuke Uchiha. Hinata juga baru tahu sehari yang lalu marga Sasuke. Yah, pengasuh. Sasuke menyuruh Hinata memesan nasi goreng dengan irisan tomat memenuhi piring. Gampangnya si tomat harus menutupi nasi goreng tanpa satu butir nasi yang terlihat. Jangan lupakan jus tomat dengan tujuh buah tomat tanpa gula. Belum lagi, Hinata harus menyuapi Sasuke. Di depan pasang mata yang siap menelan Hinata layaknya pil pahit.
Ini lebih memalukan daripada disiram tepung dan telur. Dan apa-apaan tatapan teman-teman Sasuke itu. Sasuke, awas kau! inner Hinata mulai berontak.
Hinata mulai melamun, tidak sadar bahwa ia memberantakan nasi goreng Sasuke. Ia menumbuk-numbuk nasi goreng dengan sendok yang ia genggam dengan kuat.
"Hinata."
"Ap-aw-" Hinata mengusap pelan dahinya menggunakan punggung pergelangan tangan. Sasuke baru saja menyentil dahinya keras. "apaan sih?"
"Kalau mau melamun, sana di bawah pohon," ucap Shikamaru sambil menguap.
"Eh."
"Jangan hanya 'eh' bodoh."
"Yang kau kata bodoh itu siapa? Bodoh."
"Orang bodoh mana mau ngaku bodoh."
Acara saling umpat bodoh antara Hinata dan Sasuke, dimenangkan oleh Hinata dengan menggetok kepala Sasuke dengan sendok. Kemudian, Hinata memilih melenggang pergi. Rasakan!
"Mainan barumu menyenangkan, Sasuke?" tanya Sai sok polos.
"Hn."
"Awas jatuh cinta," seloroh Kiba.
Mana mungkin 'kan?
.
Hinata berjalan mendekati papan mading. Disana seorang siswa dengan rambut merah sedang menempelkan beberapa kertas. Sepertinya menarik. Langkah kakinya berhenti tepat disamping siswa itu. Membaca sekilas tempelan teranyar itu. Dikertas itu tertulis: Mathematic Challenge
"Tertarik untuk ikut?" tanya siswa disamping Hinata.
"Entahlah. Aku baru lihat ini."
"Kau anak baru?" Hinata menoleh ke arah siswa tadi. Tersenyum dan mengangguk." ini adalah event yang diadakan dua bulan sekali. Tiap event, mata pelajarannya juga berganti."
"Semacam cerdas cermat?" tanya Hinata.
"Yah, bisa dibilang begitu."
Hinata tersenyum lebar. Apa salah dicoba. "Aku i-"
"Otak dangkalmu mana bisa ikut," suara rendah dan dingin itu begitu menusuk gendang telinga Hinata.
Hinata panas, hati dan pikirannya.
Sasuke meyela dua orang di depannya dengan mendorong keduanya sedikit menjauh, membuatnya berada diantara keduanya. Mata onyxnya menatap selebaran yang ditempel sambil menyeringai. Lalu, menggulirkan onyxnya ke arah Hinata yang menatapnya sebal.
Boleh juga membuat anak ini meledak, pikir Sasuke.
"Yakin mau ikut?" tanya Sasuke kalem.
"Ada masalah?"
Bukannya menjawab, Hinata malah balik bertanya. Umpan Sasuke dimakan.
"Memang bisa mengalahkanku?"
"Kau pikir, kau itu siapa?" Hinata melipat tangannya didepan dada.
Menggunakan telunjuk kirinya, Sasuke menunjuk selebaran itu tanpa melepas kontak dari mata Hinata. Dan, manik Hinata mengikuti arah telunjuk Sasuke. Bagai tersambar dedemit, Hinata menganga tidak percaya.
Juara bertahan: Sasuke Uchiha (100poin)
Benarkah?
Hinata menggeser paksa tubuh Sasuke ke kiri. Ia ingin bertanya pada siswa berhelai merah yang tidak ia ketahui namanya, tulisan itu nyata atau hanya sekedar tempelan kertas diatas kertas. Sasuke sebenarnya ingin memarahi Hinata sejadi-jadinya, namun ia tahan.
Siswa dengan surai merah ini tersenyum kikuk saat Hinata menatapnya. Seolah tahu apa yang akan ditanyakan, ia memilih jalur aman. Mengkonfirmasi hal yang ia ingin tahu, "Ya. Itu benar."
Ya Tuhan. Mana bisa mengalahkan juara bertahan dengan poin sempurna. Nilai mentok pelajaran matematika Hinata di kelas hanya delapan puluh. Sasuke selalu saja membuatnya frustasi sejak dirinya datang ke sekolah ini. Ingin sekali Hinata menjambak rambut anehnya itu.
Setiap malam belakangan ini Hinata terus berdo'a agar pagi harinya tidak bertemu Sasuke. Tetapi itu sepertinya tidak mungkin. Mereka berdua satu sekolah, satu kelas, dan duduk berdampingan. Andai saja, satu hari saja, Sasuke tidak masuk sekolah. Mungkin Hinata tidak harus makan hati.
"Sasori, tulis namaku dan si pendek ini."
Apa? Pendek? Pendek katanya?
Sasuke brengsek, umpat Hinata dalam hati.
Sasuke hendak melangkahkan kakinya, namun tangannya merasakan cekalan kuat. Menengokkan kepala, ia mendapati Hinata yang menunduk tajam. Seperti sebelum-sebelumnya, tanpa pikir panjang, Hinata menggigit lengan Sasuke lalu berlari menjauh.
Menyisakan Sasori yang termangu dengan kelakuan adik kelasnya yang bisa dibilang ajaib.
Sasuke? Tentu saja berlari mengejar Hinata.
Menyadari sesuatu yang terlewatkan, Sasori mengangkat daftar nama peserta. "Gadis itu, siapa namanya?
.
Gudang yang pada dasarnya memang suram karena tempat penyimpanan barang tak terpakai, menjadi lebih suram. Ini karena dua orang berbeda gender sedang tatap menatap seolah sedang bermain ilusi didalam ilusi. Tiga orang yang menonton serasa angin yang berhembus. Kalau Shikamaru menguap acuh tak acuh. Berbeda dengan Kiba dan Sai, mereka sepertinya semangat walau tidak dipedulikan.
"Lepas."
"Tidak mau."
Sasuke menghela napas kesal. "Lepaskan tanganmu dari dasiku, Hinata!"
"Aku tidak mau, Sasuke."
Sai tersenyum penuh kemenangan. Kiba menggerutu sebal.
"Katakan apa maumu?"
"Ayo kita berdua bertaruh."
Dalam hati Sasuke tertawa bahagia. Akhirnya, umpan yang diberikan ditelan Hinata tanpa sisa.
"Bertaruh apa?" tanya Sasuke sok polos."
"Kalau aku mengalahkanmu dalam event itu, kau harus berhenti menggangguku," Hinata mengambil napas dalam."tapi, kalau kau yang menang, terserah kau sajalah!"
Sasuke menyeringai, dan itu tak luput dari manik lavender Hinata. Membuat tubuh Hinata meremang sejadinya. Dasi yang ada dalam genggaman Hinata akhirnya lepas begitu saja. Sepertinya Hinata baru membangkitkan setan yang tertidur.
"Kalau aku menang-" Sasuke mengelus pipi kanan Hinata. Menyampirkan helaian ungu itu kebelakang telinga. Lalu mendekatkan bibirnya pada daun telinga kanan Hinata. "puaskan aku."
Hinata menegang. Menjadi patung dadakan.
Dua kata yang Sasuke ucapkan terngiang-ngiang membuat semburat merah dikedua pipinya. Hal-hal yang berbau dewasa berseliweran dimatanya.
"Mesum."
Hinata menginjak kaki kiri Sasuke, kemudian berlari sambil memeluk kedua bahunya.
Dan lagi, Sasuke harus mengumpati Hinata. Ini bukan kali pertama ia diperlakukan seperti ini oleh Hinata. Kalau ada celah, Hinata akan menyerangnya. Bukan mental atau batin, melainkan penyerangan fisik.
"Kiba, mana nomor gadis cantiknya?"
"Nanti aku kirim!" sungut Kiba.
"Harus yang cantik dan seksi."
"Dasar mayat mesum."
Shikamaru hanya mendengus geli dengan kelakuan teman-temannya. Mereka berdua bisa-bisanya bertaruh, siapa yang akan bicara lebih dulu, Sasuke atau Hinata. Dan yang menang Sai, karena Sasuke nyatanya bicara duluan. Kiba harus merelakan satu nomor gadis cantik yang ada dideretan kontak nomor ponselnya. Sial.
.
Sasuke memandang ke luar jendela kamarnya yang tidak tertutup tirai. Gelap. Bibirnya mengulas senyum kecil. Mungkin harus dengan kaca pembesar agar senyum Sasuke benar-benar terlihat. Lalu, tangan kirinya menutupi sebagian wajah kecuali mata dengan kilat binar. Mungkin juga menyembunyikan senyum lebarnya sekarang.
Dalam dua tahun terakhir ini menjadi preman, Sasuke tidak menemukan hal yang menarik perhatiannya. Semuanya tampak sama dimatanya. Tidak ada yang melawan saat Sasuke mulai menindas. Dan itu membuat Sasuke muak. Penindasan selanjutnya dan seterusnya masih sama. Tidak ada yang melawan. Apa karena dirinya anak dari salah satu penyumbang dana terbesar di sekolahnya, makanya tidak ada yang berani melawan. Atau mereka sedang merencanakan pembalasan. Entahlah.
Hingga, Hinata masuk dalam lingkaran dunia yang Sasuke buat. Gadis cantik yang kelihatannya sangat polos, tapi malah seperti serigala malu-malu. Oh, itu sangat menarik perhatian seorang Sasuke tentunya. Dengan sedikit modal bensin, Sasuke menyiram Hinata. Yang otomatis, menyalakan tuas penghasil api yang diproduksi oleh Hinata. Dan, terjadilah aski saling ejek atau apapun itu yang mampu membuat Sasuke senang setengah mati. Sasuke tidak akan begitu saja melepas mainan baru yang sangat menarik dan langka ini.
"Apa kau mulai gila?" suara yang tak asing ditelinga Sasuke. Ia lalu menoleh, mendapati kakaknya telah duduk nyaman dikasurnya. Sejak kapan?
"Kapan pulang?"
"Belum lama. Dan sebenarnya aku ingin mengejutkanmu, tapi-" Itachi menyeringai. "malah aku yang terkejut mendapati adikku terkikik seperti orang gila."
Terkikik? Sasuke? Bahkan Sasuke tida sadar. Ah, pengaruh Hinata memang sedikit menakutkan.
.
.
Sebenarnya, Hinata bukan tipe orang yang pemberani. Hanya saja, saat dirinya merasa idak aman atau dalam zona yang diluar kebiasaannya, Hinata akan berontak dengan spontan. Semacam gerak reflek saat tak sengaja tangan kita menyentuh bara api.
Hinata sedikir merutuki aksi spontan yang dilakukannya pada Sasuke. Bukan soal memukul atau menggigit pemuda itu. Tapi, aksi nekatnya mengajak Sasuke taruhan. Hinata sudah tahu Sasuke juara bertahan. Dan dengan bodohnya karena dikuasai emosi sesaat karena dikatai otak dangkal, rabun, pendek, dan bodo, Hinata menantangnya. Sama saja bunuh diri.
Meremas rambutnya kasar, Hinata mengerang menatap sekumpulan soal-soal Event Matematika tahun lalu. Dari seratus soal, Hinata hanya mampu mengerjakan tak sampai sepuluh. Astaga, tak salah Hinata membenci mata pelajaran yang menyakitkan otaknya ini.
"Aku yang menantangnya dan aku tidak akan kalah begitu saja," berujar mantap, Hinata kembali memfokuskan pikirannya pada soal-soal yang berjejer rapi.
Selang lima menit, Hinata kembali mengerang dan meremas kertas buram yang masih bersih.
"Aku benci Matematika dan Sasuke."
Daripada emosi dengan soal Matematika, Hinata lebih memilih kasur empuknya. Jangan lupakan ponsel pintarnya. Menjelajah akun media sosialnya sepertinya bukan ide buruk.
Demi apapun, begadang memang tidak baik untuk tubuh. Hinata berjanji tidak akan begadang lagi. Cukup satu kali saja.
Rasa mual itu kembali datang, perutnya benar-benar tidak bisa diajak berteman baik. Matanya perih. Kepala bagian belakangnya sangat sakit. Efek begadang sangat mengerikan. Gara-gara taruhan konyol itu, semalam Hinata sampai tidak rela tidur untuk mengerjakan soal Matematika. Limit, peluang, trigonometri, matriks dan masih banyak lagi. Padahal entah itu benar atau salah. Yah, setidaknya, Hinata berhasil mengerjakan soal itu sampai selesai. Pukul tiga dini hari, Hinata baru tidur setelah menyelesaikan soal-soal laknat berjalan -sangat- pelan menuju kelasnya. Koridor tampak sepi, jam pelajaran sudah dimulai. Tidak apa, ia tidak ingin ambil resiko dengan terjatuh saat berjalan seperti biasa. Bahkan, Hinata merambat pada dinding untuk mencari keseimbangan. Kepalanya seolah dipukul-pukul tanpa henti. Telinganya berdenging bising.
Pemandangan dramatis Hinata juga tak luput dari mata seorang siswi berkacamata. Ia tersenyum sinis melihat Hinata. Mendapatkan ide cemerlang. Gadis berkacamat itu meneliti keadaan. Aman. Lalu berjalan tergesa hingga berlari, dan menubruk Hinata dari belakang
Hinata yang sedang tidak merambat pada dinding hilang keseimbangan dan terjatuh. Dahinya terantuk lantai. Hinata sedikit mengerang sakit.
"Ah, maaf," siswi berkacamata itu berpura-pura menolong Hinata.
"Ti-"
"Minggi
Hal yang disesalkan Sara pada akhirnya, karena Sasuke tiba-tiba datang dan mendorongnya. Bahkan Sara sampai terduduk karena dorongan Sasuke pada bahu depannya cukup kuat. Melihat bagaimana Sasuke khawatir terhadap Hinata, membuat dada Sara nyeri. Pikirannya berkecamuk. Memangnya apa yang menarik dari Hinata?
Meremat kepalan tangan kuat. Sara berdiri dan akan membantu Hinata yang kesulitan berdiri. Namun, saat tangan Sara akan memegang lengan kiri Hinata, Sasuke menepisnya.
"Tidak usah."
Lagi, dada Sara nyeri. Nyeri yang sangat hebat. Tangan Sara hanya mengambang.
"Aku hanya ingin mem-"
"Tidak perlu," potong Sasuke ketus.
-TBC-
A/N : Apa sih ini? Ngerasa nggak kalo gaya tulisannya agak beda gitu? Lebih ngaco. Dudududu~ Makasi buat ripiu, fave, follownya.
Thanks to (Ripiuer) : Ashura Darkname, Uchiha Cullen738, Arcan'sGirl, SapphireOnyx Namiuchimaki, NurmalaPrieska, ejacatKyu, Virgo24, Anggi575, lenacchi, hana, lovely sasuhina, siskap906, mikyu, Morita Naomi, dec chan, Lhya Cute, MaoMafu31, Azhura-hime. (maaf untuk kesalahan penulisan)
