Chapter III


"Sasuke pelan-pelan."

"Ini juga sudah pelan."

"Hmp-"

"Keluarkan saja, tidak perlu ditahan."

"Ta-"

Diiringi bunyi hoek dan air mengalir dari kran kamar mandi UKS. Hinata menumpahkan muntahannya pada wastafel. Hanya air yang keluar dari mulutnya. Hinata tidak sempat makan malam, apalagi sarapan. Berkutat pada soal Matematika sudah membuat Hinata kenyang. Dengan tangan gemetar, Hinata merapatkan jari-jarinya untuk mengambil air. Berkumur dan membersihkan sekitar mulut. Lumayan.

Walau harus dengan mengalihkan pandangan ke arah lainnya, Sasuke tetap mengelus pundak dan tengkuk Hinata. Sasuke anti dengan muntahan. Bisa tertular.

"Enakan?"

"Se-"

Dan Hinata muntah lagi.

Keluar dari kamar mandi UKS, Hinata digendong ala bridal style oleh Sasuke. "Kau berat."

"Karena aku lemas."

Hinata mengeratkan pelukan tangannya pada belakang leher Sasuke. Kepalanya sedikit bersandar pada Sasuke. Matanya terpejam erat. Pusing.

Sasuke merebahkan tubuh lemas Hinata disalah satu ranjang UKS. Ia sedikit merutuk karena tidak ada dokter jaga. "Aku keluar sebentar."

Pergelangan tangan kiri Sasuke dicekal tangan dingin Hinata. "Kemana?"

"Kantin. Kau butuh makan dan plester untuk dahimu."

"Terimakasih."

"Tidak perlu formal seperti itu."

Hati Hinata tertohok. Ia sungguh-sungguh berterimakasih tapi malah disalah artikan begitu. Ingin sekali memangkas rambut bebek Sasuke.

.

.

Jam istirahat berbunyi, Sara memutuskan untuk menemui Hinata di UKS. Meminta maaf dengan cara baik-baik. Mungkin Sasuke di sana dan tersentuh. Mengalah sebelum menang tidak terlalu buruk. Merapikan rambut merahnya, Sara bergegas ke ruang UKS.

Dugaannya benar, Sasuke menunggui Hinata yang terbaring menutup mata. Tidur atau pura-pura tidur? Sara tidak peduli. Ia hanya ingin mendapat perhatian Sasuke. Beruntungnya, Sara sempat membeli sebotol air mineral dan dua roti lapis. Bisa digunakan untuk alasan meminta maaf secara baik-baik.

Sara menghampiri ranjang Hinata, "Permisi."

Hinata membuka matanya, mendapati Sara berdiri disamping Sasuke yang duduk bersidekap acuh. Hinata menghela napas. Kebiasaan Sasuke.

"Ya-"

"Untuk apa kau kesini?" tanya Sasuke ketus.

"Aku ingin meminta maaf, dan-" Sara mengangkat kanton kresek beningnya, "memberikan ini untuk Hinata."

Hinata senang. Ini pertama kalinya ada teman perempuannya yang mau berinteraksi lebih saat ada Sasuke. "Terimakasih."

Mencoba untuk bangun dari rebahannya, Hinata malah ditahan Sasuke untuk tetap tiduran. "Kau bodoh atau pura-pura bodoh."

Hinata menatap onyx Sasuke. Bingung. Sara hanya mau meminta maaf dan kenapa Sasuke malah mengatainya bodoh.

"Kau ini kenapa?" tanya Hinata.

"Kau yang kenapa?!" teriak Sasuke.

Hinata tersentak kaget. Begitu juga Sara.

Hinata semakin bingung dengan sikap Sasuke. Ada apa dengannya.

Menggeser kursi yang didudukinya secara kasar. Sasuke memilih pergi. Ia tidak mau memporakporandakan UKS hanya untuk membuat mata Hinata terbuka lebar.

Sasuke berusaha keras untuk menahan laju emosi yang terus mendobrak maju dipikirannya. Langkah yang sengaja ia hentak merupakan salah satu penyaluran terhadap emosinya. Ia membawa dirinya menuju atap sekolah. Mungkin di sana ia benar-benar akan mengamuk kalau emosinya tak kunjung reda.

Duduk di lantai berdebu dengan bersandar pada pembatas serta mendongak menatap langit. Sasuke mulai mereka ulang kejadian saat Hinata tertatih-tatih berjalan dengan merambat pada tembok dan Sara yang menabraknya. Sasuke ada di sana, hanya saja Sara dan Hinata tidak tahu keberadaannya. Mata Sasuke tidak akan salah melihat Sara yang celingukan, berjalan lambat-lambat lalu menabrak Hinata hingga jatuh. Sasuke bukan Hinata yang polos yang tidak tahu apa-apa.

"Sasuke."

Onyx Sasuke menatap sesosok gadis berambut merah. Sara. Sasuke sama sekali tidak menyahut. Ia hanya tetap fokus menatap Sara.

"Apa lebihnya Hinata?"

Onyx Sasuke melebar sekejap. "Apa maksudmu?"

"Aku yang lebih dulu mengenalmu. Aku yang lebih dulu menyukaimu," Sara mengaku, membeberkan isi hatinya. "tapi, kau malah memilih Hyuuga itu."

"Kau menyedihkan, Sara."

Menatap pantulan dirinya sendiri dicermin. Sara melepas kacamatanya, lalu membuangnya asal. Sungguh, Sara tidak mengerti apa yang kurang dari dirinya sehingga Sasuke tak pernah meliriknya. Padahal Sara sudah berusaha keras. Tapi malah Hinata yang notabene anak baru terus-terusan didekat Sasuke. Sara kesal setengah mati. Ia tidak rela.

Mengepalkan tangan, Sara memejamkan matanya. Ia berteriak di kamar mandi.

.

.

"Kemana Sasuke?" tanya Shikamaru.

"Tidak tahu."

"Kalian marahan?" timpal Sai.

"Tidak tahu."

Suasana ruang UKS pun sunyi dengan sendirinya. Shikamaru dan Sai memilih diam, mungkin tidak buruk.

"Kiba dimana?" tanya Hinata, ia tidak menjumpai Kiba saat Shikamaru dan Sai menjenguknya.

"Dihukum," jawab Sai.

"Kenapa?"

"Ketahuan bawa anjing."

"Oh."

Sepi lagi.

.

.

Permintaan Hinata terkabul. Selama jam perlajaran bahkan sampai istirahat, Hinata tidak melihat sosok Sasuke. Harusnya Hinata senang. Tapi, mengingat kejadian kemarin di UKS membuatnya merasa bersalah. Ini tidak benar. Menatap ke sebelah kanan, membuatnya tersenyum miris. Seseorang yang selalu menjahilinya absen.

Menendang-nendang kerikil kecil sembari mengamati satu per satu murid yang hendak keluar dari sekolah, membuatnya merasa risih. Ia seperti penguntit saja. Dirinya hanya sedang menunggu Shikamaru, Sai, dan Kiba. Mereka pasti tahu keberadaan Sasuke. Menunggu selama hampir setengah jam. Yang Hinata tunggu akhirnya muncul, bersama... Sasuke. Hah?

Dapat Hinata lihat, kalau Sasuke enggan menatapnya dan memilih berjalan dibelakang para sahabatnya saat menghampiri Hinata. Sepertinya, Sasuke benar-benar marah.

"Menunggu kami atau Sasuke?" goda Sai.

Ketahuan ya?

"Kalau begitu kami duluan," ucap Kiba.

Sasuke hendak berlalu, namun ditahan oleh Shikamaru. Ketiga temannya itu menepuk bahu Sasuke sebelum menjauh. Mereka bertiga cukup paham situasi setelah Sasuke menceritakan apa yang terjadi. Walau agak aneh, mengingat Hinata hanya dijadikan mainan oleh Sasuke.

Sasuke melangkah, melewati Hinata.

"Kau marah padaku?" tanya Hinata.

Sasuke sempat berhenti, tapi dengan acuhnya kembali melangkah. Meninggalkan Hinata yang susah payah menyamakan langkah kaki dengannya. Sasuke juga tahu kalau Hinata tetap mengikutinya.

Sebenarnya, Sasuke sengaja tidak masuk kelas hari ini. Ia datang, tapi dengan emosi yang stabil. Ia memilih mendekam di gudang. Melihat Hinata malah akan menaikkan kadar emosinya. Sasuke setengah bingung dengan dirinya sendiri, karena mau repot mengurusi Hinata yang ditabrak Sara. Belum lagi pengakuan Sara yang mendadak.

"Katakan kalau kau marah padaku."

Tangan kanan Sasuke ditarik paksa dari belakang. Reflek, Sasuke menepis kasar. Membuat Hinata sampai terjerembab di jalanan.

Menyadari apa yang baru saja ia lakukan, Sasuke mencoba membantu Hinata. Namun ditolak. Ada perasaan sakit yang muncul didada Sasuke.

"Hi-"

"Aku hanya ingin meminta penjelasan."

Dengan terduduk di jalanan, Hinata mulai sesenggukan.

Kemudian, muncul sekumpulan anak berseragam berbeda corak dan warna. Mereka dari SMA Swasta Konoha.

Pemuda dengan rambut merah bermata ungu spiral tersenyum sinis melihat adegan roman picisan tak tahu tempat. Menepukan kedua tangannya untuk menarik pelakon drama jalanan. Sukses. Ia mendapat atensi penuh dari keduanya.

"Lelucon yang menarik, Sasuke."

"Nagato."

Sebagai anak baru, Hinata juga tidak terlalu buta situasi. Ia berdiri dan bersembunyi di belakang punggung Sasuke. Bahkan tangannya tak sengaja memegang lengan Sasuke. Aroma permusuhan dari keduannya sangat menyengat.

"Jadi kau menolak Sara hanya untuk gadis kecil itu," ejek Nagato.

Teman-teman di belakang Nagato tertawa mengejek.

"Siapa yang kau sebut gadis kecil," Hinata mengelak dengan suara bergetar. "aku tidak seperti itu."

"Sudah diam," bisik Sasuke.

Kini mereka semua berpindah di lahan dekat bawah jembatan sungai.

Hinata masih mencari perlindungan dibelakang punggung Sasuke. Mungkin karena risih atau apa, Sasuke sedikit bergerak-gerak menjauh. Namun, Hinata tetap merapat pada punggung Sasuke.

Nagato menjentikkan jarinya. Memberi kode. Teman-temannya yang berjumlah lima orang mulai mengerubungi Sasuke dan Hinata. Ah, pengeroyokan. Tidak adil. Tapi, bukan masalah bagi Sasuke. Yang menjadi masalah bagi Sasuke adalah Hinata. Dia terus merapat dengan wajah cemas.

Salah satu teman Nagato dengan cadar diwajah bergerak ke arah Hinata, menarik jauh dari Sasuke dengan tarikan yang cukup menyakitkan. Hinata tidak dapat mengelak. Ia hanya meronta minta dilepaskan.

"Hinata!" teriak Sasuke.

"Ternyata gadis itu berharga untukmu."

"Apa maumu?" Sasuke mendecih tak suka. "kita sudah tidak punya urusan lagi."

Nagato tertawa, jenis tertawa yang menyebalkan telinga. "Kau menolak adik sepupuku. Itu urusan kita."

"Sara mengadu padamu?" Sasuke menyeringai. "keh, tukang ngadu."

Sasuke hendak menyerang Nagato. Namun, belum sempat ia bergerak ke arah Nagato. Ia sudah dihadang teman Nagato yang berwajah seperti ikan Hiu. Dari nama diseragamnya, namanya Kisame. Mereka berkelahi one on one. Macam basket saja. Kisame melayangkan tinju ke wajah Sasuke, dengan mudah ditangkis. Malah Kisame yang jatuh tersungkur. Satu jatuh. Tinggal empat.

Hinata melihat seseorang yang hendak memukul Sasuke dari belakang. Hinata berteriak, "Sasuke, belakang."

Kesigapan Sasuke patut diacungi jempol. Sasuke berbalik, memberi tendangan pada kaki lawan dan membuat lawan jatuh. Dua jatuh.

Sasuke sekarang berhadapan dengan sosok jangkung dihadapannya. Sasuke meninju, memberi pukulan keras, dan semuanya ditangkis dengan mudah. Ia mulai kehabisan tenaga. Satu tinju mengenai sudut bibir Sasuke, membuatnya oleng. Rasa amis terasa dilidah. Sudut bibirnya pun mengeluarkan cairan merah. Sasuke meludah. Lalu, memasang kuda-kuda, bersiap memukul lawannya.

Akan tetapi-

"Sasuke-"

Entah bagaimana, semuanya terlalu cepat. Yang pertama kali Sasuke lihat ialah tubuh Hinata yang ambruk disampingnya. Cairan merah merembes di seragam putihnya. Onyx kelam Sasuke beralih pada Nagato yang memegang pisau dengan ujung berlumuran darah. Darah? Darah siapa? Manik kelam beralih pada Hinata lagi. Onyx itu melebar sempurna. Gigi bergemeletuk. Napas mulai memburu dengan dada naik turun cepat.

"Brengsek."

Sasuke melesat ke arah Nagato. Menangkis piasu dengan keras. Lalu mencengkram erat kerah seragam biru muda milik Nagato. Tangan kanannya mengepal kuat, cukup satu pukulan dan Nagato akan tumbang.

Dan lagi semuanya terlalu cepat untuk Sasuke sadari. Belakang kepalanya nyeri. Pening mendadak yang tak tertahankan. Nagato dihadapannya mulai tampak kabur dan berbayang. Cengkaraman Sasuke mengendur. Sasuke ambruk. Sebelum menutup mata, ia dapat melihat sosok jangkung yang menjadi lawannya tadi mendekati Nagato. Ada batu besar ditangannya dan terdapat bercak merah. Ah, jadi ia dihantam dengan batu itu.

Sebelum menutup mata pula, Sasuke mengguman pelan, "Hinata."

Nagato merapikan seragamnya yang sempat kusut. Ia mengambil pisau yang terlempar tak jauh darinya. Kemudian melemparnya ke sungai. Teman Nagato mengikuti apa yang dilakukan Nagato, membuang batu berlumur darah itu ke sungai.

"Ayo pergi, sebelum ada yang melihat," perintah Nagato.

Ruangan serba putih itu dihuni dua orang yang tengah menutup mata dimasing-masing ranjang. Si pemuda dengan perban dikeala, dan si gadis dengan perba diperut yang tertutup baju pasiennya. Mereka, Sasuke dan Hinata. Mereka berdua cukup beruntung, karena ada yang lewat sekitaran jalan dimana Sasuke dan Hinata tergeletak di tanah dekat sungai. Orang baik itu membawa mereka berdua ke rumah sakit terdekat. Luka yang dialami keduanya terbilang cukup memprihatinkan. Terutama Hinata yang kehilangan banyak darah.

Sepasang bola mata yang tertutup kelopak mata bergerak-gerak pelan. Kemudian, kelopak mata itu terbuka. Menampilkan iris kelam. Agak silau. Tangan kirinya terangkat, menghalau sinar lampu yang terlalu terang dikelereng hitam itu. Namun selang infus menancap dipunggung tangannya. Ia letakkan lagi tangan itu disamping tubuhnya. Kepalanya masih nyeri dan sedikit pusing. Dengan gerakan pelan ia menengokkan kepala berbalut perban itu ke kanan. Dan mendapati gadis bersurai ungu terbaring diranjang sebelahnya.

Sasuke menghela napas. Lega dan bersalah bercampur. Lega karena mereka berdua selamat. Bersalah karena ia, Hinata jadi ikut terlibat.

Rasanya masih tidak percaya. Hinata menyelamatkannya dari tusukan pisau Nagato. Entah apa yang ada dipikiran Hinata. Lagipula bukan maksud Sasuke untuk marah pada Hinata. Ia hanya kesal karena Hinata terlalu polos untuk memahami sesuatu. Dan sekarang ia merasa bersalah.

"Hinata," panggil Sasuke.

Seperti mantra ampuh. Panggilan Sasuke membuat Hinata membuka matanya. Menolehkan kepala ungunya ke arah Sasuke. Keduanya bersitatap. Cukup lama. Hinata tersenyum cerah. Sudut-sudut netranya melelehkan cairan bening.

.

"Hanabi, aku sudah kenyang," Hinata memalingkan wajahnya dari satu suapan besar bubur.

"Baru dua sendok dan sudah kenyang," Hanabi mengcengkram kedua pipi Hinata dengan satu tangan, tangan lainnya bersiap memasukkan bubur ke dalam mulut kakaknya.

"Sasuke, tolong aku!"

"Berisik."

Sasuke memasang earphone dikedua telinganya. Menyetel musik dihandphonenya dengan volume tinggi. Mengabaikan Hinata yang berteriak-teriak.

Hanabi tersenyum sumringah. Ia berhasil menyuapi kakaknya. Bahkan bubur dalam mangkuk putih itu hampir habis. Ia mengangsurkan segelas air putih untuk Hinata minum.

"Lukamu tidak terlalu dama, jadi makan yang banyak," apa hubungannya? "Ayah akan datang nanti malam."

Hinata mengangguk sembari minum. Ia melirik Sasuke dari ekor matanya. Bisa-bisanya mendengarkan musik disaat kepalanya bocor seperti itu.

Tadi Sasuke sudah dijenguk oleh Kakak dan tiga sahabatnya itu. Mereka juga menanyakan keadaan Hinata. Ada untungnya mereka sekamar, yang menjenguk tidak harus pindah-pindah kamar.

"Kalau begitu aku pulang."

"Eh," Hinata mengerjap beberapa kali, "kau datang hanya untuk menyuapiku."

"Tugasku banyak, Kak. Jangan manja," Hanabi membereskan tasnya. "Lagipula ada pacarmu disini."

Hinata mengerucutkan bibirnya sebal. Ia menerima pelukan pamit dari Hanabi.

Sasuke melepas salah satu earphonenya. Menoleh ke arah Hinata yang duduk menunduk. "Kau benar-benar membingungkan."

Hinata pun menoleh ke arah Sasuke. "Itu reaksi spontan. Aku tidak mungkin berdiam diri saja."

"Apa kau juga akan mengorbankan dirimu untuk orang tidak kau kenal?"

"Mungkin," Hinata memperbaiki cara duduknya. Bekas jahitannya terasa sedikit perih. "maaf."

"Aku juga."

"Soal di UKS-"

"Lupakan. Aku tidak ingin membahasnya lagi."

Sebenarnya Hinata mulai mengerti. Mengerti kenapa Sasuke sampai kesal padanya. Berkat Nagato yang membeberkannya. Hinata menyimpulkan bahwa Sara menyukai Sasuke. Dan Sara tidak suka dirinya dekat-dekat dengan Sasuke.

Dihari keempat Sasuke diperbolehkan pulang. Luka dikepalanya sembuh, tinggal menunggu jahitan kering. Tidak ada luka serius lainnya. Teman-teman sekelas dan beberapa guru sudah menjenguk, kecuali Sara. Mereka mengomentari Sasuke dan Hinata yang satu kamar. Apa salahnya coba?

Sasuke dijemput Itachi, kakaknya. Kedua orang tua Sasuke juga menyempatkan diri menjenguk. Ibu Sasuke bahkan heboh saat melihat Hinata yang satu ruangan. Katanya Sasuke pintar mencari calon mantu. Bah.

Untungnya lagi kedua belah pihak Sasuke dan Hinata tidak terlalu meributkan siapa yang salah dan siapa yang benar.

"Aku pulang dulu," Sasuke mengacak pelan surai ungu Hinata. "cepat sembuh."

"Tiga hari lagi aku akan pulang juga."

Hinata sedikit tidak rela dan iri. Sasuke sudah boleh pulang. Sementara dirinya masih diruangan yang membuatnya jenuh.

"Aku akan menjengukmu sepulang sekolah."

Dan Hinata mengangguk senang.

-TBC-


A/N : Padahal saya udah teliti dari atas sampe bawah, masih ada aja typo, hurup-hurupnya ilang, sampe beberapa kata ilanglah, dan apalah lainnya *manyun*
Chap depan panjang tp lama hohoho *ditimpukpancibolong*
Tumben saya cepet apdetnya. Ah maaf banyak yg disekip, klise dan amburadul ahahaha *gosokneon*
Yo keripik daunpepayanya ditunggu~

Juli Mojok XD : puspa : maafkan daku lupa menulis namamu kemaren *gigit jempol*
sasuhina69 : Terimakasih. Nggak janji T-T
Arcan'sGirl : Bukan salah, cuma sial aja, eh. Belum lagi pas buat UN *Teringatmasalalu*
Eve Seven : Terimakasih. Nggak apdol kalo nggak OOC tuh *ditabok*
HipHipHuraHuraHura : Hahay mana ada yang bisa nolak Hinata. Nggak Janji T-T
Rendochika430 : Eh kenapa? o.o *lirikatasbawah* Nggak janji T-T Aku yang jatuh cinta padamu malahan *ditabok
Reza Juliana322 : Terimakasih *malu-malusapi* Tolong jangan menaruh harapan tinggi padaku T-T saya ndak kuat
sasusakuforeveronly2 : Kalo udah tau sampah ya jangan diliat-liat. Ntar malah jatuh cinta sama sampah lagi.
NurmalaPrieska : Ah enggak kok. Tapi, Terimakasih XD
hane ale : Nggak kemana-mana. Cuman sempet aku meriang, aku meriang, aku meriang, merindukan kasih sayang~ *ditonjok* frustrasi apa frustasi hayo? Terimakasih koreksinya. Nggak janji T-T
si peak : Terimakasih. Sekali-kali jangan buat Hinata makan rempela kan gpp XD Ganbatte ^o^siskap906 : Terimakasih *nduselinbantalsakingmalunya* Haha nanti tak tanya Mas Sasuke deh soal itu XD
SapphireOnyx Namiuchimaki : Wkwkwk mumes (muka mesum) Hah? aku juga nggak ngerti sama maksud kamu ._.)v Iya, playboy dikit. Siapa ya? lalala~ *ditabok* Oke. Terimkasih.
ejacatkyu : wkwkwk ada yang protes nih ye XD Kesian Hinata kalo parah-parah. Mereka F4 masa kini, eh. Ciye salah ciye XD Oke. Terimakasih.
Adalah : kau Adalah ah yang terindah ah *ditabok* Terimakasih. Oke.
dec chan : Terimakasih *atapjebol* Nggak boleh kalah sama cowok dong. kayaknya sih *siul-siul* Nggak janji T-T Semangat kok *tebarsenyum*
ana : Hoho Terimakasih. oak? o,o Jangan marah-marah nanti ilang loh cantiknya *toel* eh
anggi575 : Bang HaJi aja bilang jangan begadang XD Oke.
Guest : wkwk aku juga tidak tahu *dibacok* Nggak janji T-T
mikyu : Terimakasih. Tauk tuh, takut kehilangan kali eak XD
ririn uchiha : Malu-malu kucing meong-meong XD Nggak janji T-T
hinatachannn2505 : Oke. Aih mintanya kok susah buat saya kabulin yah T-TMorita Naomi : Terimakasih :') *lapingus*
samiyotuara09 : Oke.
SriYCnyaKookiee: Terimakasih. Oke. Fighting


Satu hari sebelum Sasuke pulang...

Ketiga pasang mata itu sama sekali tak berkedip untuk beberapa detik yang cukup lama. Mereka mendapati pemandangan yang sungguh sangat teramat mengejutkan. Walau dari

belakang dan cukup jauh. Warna rambut itu terlalu mencolok dan mudah dikenali. Surai gelap dengan perban dikepala, semakin mencuatkan surai gelap bagian belakang itu. Disamping kirinya, surai ungu.

"Kita tidak terkena genjutsu 'kan?"

Sepertinya Kiba terlalu banyak membaca komik bersampul oranye.

Shikamaru menghembuskan napas sembari memijat pangkal hidungnya. "Ayo pergi. Jangan mengganggu."

"Bukankah mereka berdua tidak sedekat itu." Kini giliran Sai yang berkomentar.

"Buktinya mereka tidur berdua." Ambigu.

Sai menaikkan salah satu alisnya. Ucapan Kiba memang ambigu. Tapi dia paham.

"Sudahlah, aku pusing." ujar Kiba.

"Sebaiknya kita pulang."

Kiba dan Sai mengangguk setuju.

Niatnya mereka bertiga ingin menjenguk, tapi kamar kosong. Bertanya pada perawat katanya sedang di taman. Setelah sampai taman mereka malah terkejut. Selalu ada kejadian yang tak terpikirkan terjadi.

Mereka bertiga meninggalkan Sasuke dan Hinata yang duduk berdampingan. Dengan kepala Hinata menyender pada bahu kiri Sasuke. Keduanya terlelap disalah satu kursi taman rumah sakit. Angin sore membuat mereka berdua tanpa sadar tertidur setelah obrolan ringan. Tidak mengetahui betapa syoknya teman-teman mereka.