Dihari ketujuh dari hari yang dijanjikan oleh Dokter, Hinata baru bisa diperbolehkan pulang. Dokter pembohong, umpat Hinata kala itu.

Kini ia memasukkan pakaiannya ke dalam tas jinjing yang dibawakan Hanabi.

"Untuk ukuran gadis sepertimu, ternyata dadamu besar juga," koceh Sasuke.

Telinga Hinata memerah saat akan memasukkan bra putih dengan gambar wortel. Sasuke sialan. Hinata tidak meminta diberikan ukuran yang seperti ini. Hinata juga malu dan risih.

Hinata menolehkan kepalanya ke arah belakang. Netranya membola seperti bola bekel. Disana... Sasuke duduk dengan memeragakan tangannya membentuk dada. Sontak membuat Hinata melemparkan sesuatu yang ada ditangannya.

"Sasuke MESUM."

Hinata mengerjap perlahan, tadi itu apa ya yang dilemapar ke arah Sasuke?

"Hinata," Sasuke mengangkat bra putih milik Hinata yang sempat dilempar seperti sedang ingin memakaikan benda itu kepada Hinata.

"Kyaaaaaa~"

.

Berselang tiga hari dari kepulangan Hinata ke rumah. Ia sudah bisa kembali bersekolah. Terlalu lama absen dari kegiatan sekolah membuat Hinata tidak nyaman. Ia menjadi seperti balita yang baru mengenal baca tulis saat kembali ke kelasnya.

Untungnya ada teman-teman sekelas Hinata yang berbaik hati meminjamkan catatan pelajaran dan Sasuke yang mendampingi belajar Hinata saat jam istirahat atau jam kosong.

Kalau dipikir, Sasuke ternyata cukup pintar dalam beberapa mata pelajaran. Hal itu membuat Hinata sedikit iri dan juga bahagia tentunya. Walau tampangnya menyeramkan, tapi otaknya tidak tumpul.

"Kenapa tersenyum seperti itu? Menyeramkan," ejek Sasuke pada Hinata yang sedang berkutat pada buku pelajarannya.

Dan murni Hinata tidak dengar ucapan Sasuke. Ia terlalu fokus pada soal Limit yang membuatnya sakit kepala.

"Maksudmu 'manis', Sasuke?" potong Sai.

Pertanyaan Sai membuat Sasuke mendelik sebal ke arah temannya yang satu itu.

"Jangan memperkeruhnya Sai, Sasuke sedang bimbang," lanjut Kiba.

"Kalian diamlah."

Shikamaru yang hanya melihat percakapan teman-temannya ikut tersenyum. Tingkah Sasuke yang sedikit konyol ini sedikit berbeda dengan Sasuke yang biasanya. Sasuke yang sekarang jadi lebih kalem sedikit. Hanya sedikit.

Apa ini pengaruh dari Hinata?

"Shikamaru," panggil Hinata.

"Hm?"

"Yang ini cara penyelesainnya bagaimana?"

Hinata sedikit mendekat ke arah Shikamaru. Ia lelah melihat Kiba, Sai dan Sasuke yang terlibat cekcok tidak jelas. Yang ada malah membuat konsentrasi belajarnya rusak.

Baru saja Shikamaru akan menjelaskan bagaimana cara penyelesaian soal Limit untuk Hinata, Sasuke menyembul diantara Shikamaru dan Hinata. Membuat Hinata kaget setengah mati dan mundur dengan jarak aman.

Sedang Shikamaru dan Sasuke saling berpandangan. Yang satu memandang tajam. Yang satu memandang bosan.

Kenapa lagi ini?

"Aku tidak akan merebutnya darimu," ucap Shikamaru. "Jadi berhentilah bersikap posesif padanya."

Apa ini yang disebut DIPOJOKKAN?

.

Tawa yang riang memenuhi kamar bercat putih. Terkadang tawanya terlalu memekakan telinga. Menyebalkan.

Shikamaru lebih memilih kasur empuk untuk menenangkan diri. Malah berharap bisa terlelap agar bisa lepas dari suara tawa Kiba. Sungguh, Kiba selalu seperti ini saat datang kerumah siapapun. Bikin malu saja.

"Kiba," panggil Sai. Hanya gumanan yang Sai terima sebagai jawaban. Kiba terlalu asyik dengan kartu yang dipegangnya. "Aku rasa, Sasuke jatuh cinta dengan Hinata."

Kemudian... Terdengar suara benda rapuh jatuh berhamburan dengan suara yang memilukan.

.

.

TBC

.

.

pojok kulkas :

Lama tak apdet, sekali apdet dikit banget. Anggap saja pemanis walau nyatanya tak manis.

Ah semoga kelanjutannya masih enak dibaca. Soal adu Matematikanya chap selanjutnya sajalah.

Salam adem,

Kulkas aka Juli Alio