Reader's POV

Aku masih mengingat kala itu.

Pada pertengahan musim gugur, aku menemukannya. Satu sosok yang berhasil membuatku rindu sekaligus menyesal di saat yang bersamaan. Di tengah keramaian kota, aku mendapati sosok berwarna merah tengah menatapku juga, dengan pandangan dingin andalannya. Aku menyadarinya, ia melihatku seperti orang penasaran, dan di saat itu aku sadar bahwa harapan yang kuinginkan masih ada. Setelah tak bertemu selama beberapa bulan semenjak ujian kelulusan, aku kembali menemukannya di depan pintu resto cepat saji yang awalnya merupakan incaran untuk melamar pekerjaan.

Bibir ingin menyebut nama, berlari, dan memeluknya sebagai tanda bahwa aku sangat merindukannya.

Namun di detik selanjutnya, aku sadar itu hanyalah opini semata. Rasa ini hanya sepihak. Ia tak sadar, ia tidak ingat, ia tak tahu apa yang sudah ia lakukan. Akashi-kun benar-benar tidak paham apa dosa besar yang sudah ia perbuat. Karena itulah, aku menolak untuk mengunjunginya. Berjalan kearah yang berlawanan merupakan satu-satunya celah.

Sembari meninggalkannya, aku mengusap perutku yang masih rata. Aku tersenyum lega, tak peduli lagi ada air mata yang tiba-tiba mengucur deras.

"Maafkan Mama ya, sayang. Mama benar-benar tidak bisa mengatakan kehadiranmu pada Papa..."

Aku takut kalau bayi ini akan lahir tanpa ayah di sampingnya. Dan hingga detik ini... itulah fakta yang harus kami terima.

.

.

.

ANCESTRY

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Ancestry by stillewolfie

[Akashi S. & OC/Reader]

OOC, future life, typos.

.

.

ketika ia yakin semuanya akan baik-baik saja—

.

.

CAPITULO TWO

(Treffen)

.

.

—pertemuan itu menghancurkan segalanya.

.

.

Normal POV

Kuroko Tetsuya tak tahu kenapa ia harus rela membawa dua orang idiot yang kini duduk berdampingan di depannya. Seharusnya ini merupakan hari libur yang menyenangkan untuk kencan berdua dengan jus vanilla kesukaan. Padahal 'kan, ia sudah menyusun jadwal untuk kesendiriannya. Hanya saja, bertemu Aomine Daiki serta Kagami Taiga di persimpangan depan merupakan suatu kebetulan yang sangat tidak menyenangkan.

"Sudah kubilang, Ahomine! Burger rasa keju itu lebih enak!"

"Keju itu untuk wanita! Memangnya kau perempuan, hah!? Daging lebih enak, Bakagami!"

Ah, sudahlah.

Sembari menonton perdebatan homo antara mantan dua ace itu, Kuroko mengerling ke kanan, mendapati kaca jendela yang sudah terkena uap salju yang dingin. Ia menggosoknya perlahan, mendapati para masyarakat yang kini sudah berjalan berdampingan dengan pakaian penghangat melekat di tubuh mereka. Pandangannya memang seperti melamun, namun si biru langit tetap meneliti tiap sudut yang dapat ia sentuh dengan mata batinnya itu.

Ini sudah hampir sebulan Kuroko menerima permintaan mantan kaptennya semasa SMA, dan sampai detik ini pun ia tak dapat menemukan jawaban. Kuroko tidak memiliki petunjuk apapun. Siapa yang ingin Akashi cari, siapa yang dulu pernah membuat Akashi repot seperti ini. Bohong bila ia tidak penasaran. Ini Akashi Seijuurou, ingat? Pemuda yang dari dulu dikenal sebagai sosok diktator serta keabsolutannya dalam memerintah. Akashi terkenal karena ia selalu menang, ia selalu benar; motto itu terus berlaku hingga sekarang. Karena itulah, Kuroko rela mencari sosok itu. Seorang perempuan—ia yakin bahwa orang yang dicari-cari oleh Akashi adalah lawan jenisnya.

Akashi Seijuurou tak pernah dekat dengan gadis manapun kecuali Momoi Satsuki, manajer mereka dulu.

Dan hal itu membuat Kuroko semakin sulit menemukan siapa orang tersebut.

Kerlingan manik biru yang indah sekaligus mematikan itu terus meneliti setiap orang yang melewati majiba. Ia menghitung, melamun, dan berpikir hal-hal yang polos. Entahlah apa tujuannya, yang jelas Kuroko Tetsuya sudah lelah untuk mencari siapa orang yang dicari-cari oleh seorang Akashi Seijuurou.

Tiba-tiba maniknya mengerjap. Ia menatap lurus pada satu manusia yang sekarang tengah berhenti berjalan.

Pandangan mereka bertemu, dan Kuroko menyadari sesuatu.

Brakh!

Kuroko Tetsuya yang terkenal dengan minimnya hawa kehadiran serta sifatnya yang tenang itu menggebrak meja. Tanpa memedulikan Kagami dan Aomine, ia langsung berlari keluar dari majiba dan melongok ke segala arah.

Ia tahu bahwa dirinya kurang cepat. Jadi untuk saat ini, Kuroko hanya bisa kecewa.

.

.

~ ancestry ~

.

.

Reader's POV

Sekarang, aku berlari dari kenyataan.

Sebagai awal hari ini, aku berencana untuk mencari pekerjaan tambahan. Aku sadar bahwa bekerja di kedai ramen membuat penghasilanku kurang. Seiji sudah semakin besar, dan aku bermaksud untuk memberikan hal yang lebih untuknya. Karena itulah, aku menitipkannya pada tetangga dan berniat keluar sebentar. Sejak keluar dari area apartemen, aku berdoa agar hari ini bisa menjadi hari yang tepat dan membuatku mendapat pekerjaan.

Aku berkeliling kota, mencari dan mencari, masuk ke suatu perusahaan, namun keluar tanpa kabar apa-apa. Namun, aku tidak menyerah. Aku pergi ke tempat-tempat kecil, seperti swalayan ataupun salon kecantikan. Tapi sayangnya, belum satupun yang menerimaku. Aku hanya bisa menghela napas menatap map cokelat yang berisikan data-data serta ijazah SMA sebagai bekalku. Melangkah lagi, aku mencoba untuk mencari tempat-tempat yang sepertinya membutuhkan tenaga kerja tambahan.

Hanya saja, aku malah menemukannya.

Orang itu. Aku tak akan pernah lupa dengan rambutnya yang berwarna biru langit itu.

Kuroko Tetsuya. Mantan anggota basket SMA, sekaligus teman dari Akashi Seijuurou.

Diriku kaku, jantungku berdegup. Aku tidak bisa lari kemanapun. Ia berhasil menangkapku dan mencoba untuk mengejarku. Sedangkan aku masih mematung disini, tak bisa memercayai apa yang kulihat. Kenapa ia terburu-buru seperti itu? Apa ia masih mengingatku? Apa ia tahu apa yang selama ini aku cari? Kenapa? Kenapa!?

Atau jangan-jangan... ia sudah tahu Seiji-kun, dan bermaksud menanyakannya langsung padaku.

Jadilah, aku berlari dari tempatku berpijak. Mencoba untuk menghindarinya secepat mungkin.

Aku tidak tahu apa yang di pikirannya saat itu, yang jelas aku tidak mau bertemu dengannya—untuk saat ini.

.

.

~ ancestry ~

.

.

Normal POV

Akashi Seijuurou terus menatap ponselnya. Alisnya yang kini telah tertutupi oleh poni itu mengerut. Ia terus menghitung detik jarum jam dan berharap ada panggilan masuk, yang kasus ini adalah Kuroko Tetsuya, mantan bayangannya dulu. Namun sayang, tepat pukul satu siang, Seijuurou menyerah.

Ia kembali melanjutkan pekerjaaannya dan berkonsentrasi. Musim salju sudah semakin terlihat hingga ia bisa libur minggu depan. Hal itu membuatnya menyeringai senang sekaligus bersemangat untuk menyelesaikan berbagai laporan yang belum ia tanda tangan. Seijuurou terus mengetik pada laptop kala ponselnya bergetar, menampilkan nama orang yang selalu diharapkannya.

"Akashi-kun, aku tak tahu apa yang barusan kulihat. Tapi, aku yakin." —Tetsuya.

Pesan yang tak masuk akal. Seijuurou menghela napas dan ia langsung menelepon sekretarisnya. Tatapannya menajam, harapan mulai terlihat.

"Majukan waktu liburku, aku akan berangkat besok."

.

.

~ ancestry ~

.

.

Reader's POV

Kukecup kepalanya penuh sayang.

"Selamat malam, Seiji-kun. Mimpi indah, ya."

Aku menyelimuti si kecil dengan selimut satu-satunya. Sedangkan aku kembali ke rutinitasku; membaca buku. Dengan lampu temaram milik apartemen kami, aku terus meneliti buku besar yang dulu kumiliki saat masih SMA. Aku membaca buku kenangan itu. Dan pada di lembar berikutnya, aku menemukan satu foto yang terpasang. Disana, ada segerombolan para siswa yang kukenal adalah teman sekelasku. Kami berbaris layaknya keluarga. Kami, para wanita, duduk di barisan depan, sedangkan di belakangnya terdapat para siswa laki-laki yang berdiri dengan berbagai macam ekspresi.

Kembali, aku menemukannya, Akashi Seijuurou.

Kuraba tiap bentuk gambarnya. Seperti biasa, ia tak pernah tersenyum. Manik merah-kuningnya terus menyorot dingin seperti itu. Tapi, aku tidak keberatan. Inilah dia, dialah Akashi-kun yang kukenal. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana dirinya tertawa, tapi bila ia tersenyum di depanku... sepertinya itu merupakan suatu anugerah.

Namun bayangan masa lalu kembali terulang, membuat segala hal yang terpikirkan langsung musnah.

Aku masih ingat. Saat itu, aku hadir di suatu pesta ulang tahun salah satu anggota tim basket sekolah, si ace terkenal, Aomine Daiki, yang kudengar ia sudah bersekolah di akademi polisi saat ini. Aku tak tahu kenapa orang secuek dia bisa membuat pesta ulang tahun. Namun ketahuilah, aku datang tapi aku tak ingin, aku dipaksa temanku dan akhirnya aku pun hadir tanpa mengenal siapapun.

"Ne, ne, Akashi. Bagaimana kalau kita minum? Kau pasti lelah dengan kegiatan OSIS-mu itu, 'kan? AHAHA!"

Suara berat Aomine-san masih terdengar.

"Tidak, aku menolak. Aku tak suka alkohol."

"Hee? Katanya kau hebat di segala bidang? Tapi minum alkohol saja kau tidak bisa!?"

Aku tahu kalau didengar dari nada suaranya, saat itu Aomine-san sedang mabuk. Dan juga, aku terkejut saat Akashi-kun menatapnya tajam, bersiap mengeluarkan gunting di saku, dan akhirnya menyeringai menerima tantangan itu.

Awal dari mimpi buruk dimulai dari situ.

"Baiklah, kuterima tantanganmu. Kemarikan bir itu padaku, Daiki."

Aku masih ingat. Kala aku menatap para pria itu dari kejauhan. Akashi-kun tak suka minum alkohol, 'kan? Lalu mengapa ia harus memaksakan dirinya? Harga diri itu memang selalu penting untukmu ya, Akashi-kun? Sungguh, ketika aku melihatnya meneguk minuman berat tersebutmampu membuatku gelisah. Baru tiga tegukan, wajahnya sudah memerah. Ya, saat itu aku cemas. Aku takut Akashi-kun kenapa-kenapa. Ia terus meminum melebihi batasnya untuk bertahan.

Hingga darisana aku melangkah, menghentikan lengannya yang sudah ingin mengambil segelas bir lagi.

"Sudah cukup."

Aku bodoh. Karena terlalu takut, akhirnya aku pergi dari tempatku berpijak. Aku menghampiri Akashi-kun dan mencegahnya untuk minum lagi.

Saat itu, aku masih ingat—raut wajahnya saat menatapku. Bila dilihat dari dekat, Akashi Seijuurou memang sangatlah tampan. Meski dalam keadaan sekarat, ia masih bisa bertahan dengan wajah kerennya seperti biasa. Ah, aku memang berlebihan. Tapi itu kenyataan dan aku hanya bisa menghela napas setelahnya. Melirik Aomine-san yang sudah terkapar, aku pun memaksa tubuh Akashi-kun untuk berdiri, mencoba untuk menghindari serangan alkohol mengerikan itu.

"Apa-apaan kau?"

Garis wajahnya, tubuhnya yang besar, serta pandangan tak suka itu masih terus kuingat. Ia kesal, tentu saja—aku sudah mengganggunya. Hanya saja saat itu, aku hanya bisa melemparkan senyum. Senyum biasa yang kutujukan pada semua orang, tidak terkhusus untuk dirinya pula.

"Kau mabuk, Akashi-kun. Kau harus beristirahat."

"Siapa kau?"

Tertohok, tentu saja. Ia tidak mengenalku. Hei, memang apa yang kau harapkan? Berharap ia tersenyum dan menuruti permintaanmu, begitu? Dia ini Akashi Seijuurou, si absolut yang benci diperintah. Tapi untuk saat ini aku harus bersabar, karena kondisinya tak bisa dibilang baik, 'kan?

"Jangan minum lagi, nanti kau sakit, Akashi-kun."

"Huh—ap—hei... berhenti!"

Di tengah keramaian pesta, aku menariknya ke lantai dua. Untuk saat ini biarlah aku membantah perintahmu, Akashi-kun. Kau mabuk, kau sakit, jadi aku tak akan membiarkanmu terkapar di sofa rumah ini sampai pagi. Minimal kau harus istirahat di kasur dan tidur nyenyak hingga tubuhmu kembali pulih. Itulah tujuanku saat aku menemukan satu kamar kosong tak tertempati. Kutarik dirinya disana, membiarkan dia duduk di pinggir kasur, dan tersenyum tipis sebagai awal perpisahan malam itu.

"Untuk apa... kau bawa aku kesini?"

Suaranya begitu berat, wajahnya memerah dan matanya sedikit terpejam. Ah, dia benar-benar dikuasai oleh alkohol. Kurasa, melihat Akashi Seijuurou yang menakutkan setiap hari kini berubah menjadi manusia biasa yang tak bisa apa-apa memberiku nilai tambahan tersendiri. Tak ada kesempatan kedua, jadi di sisa malam itu aku memilih untuk berdiri menghadapnya, menatap Akashi-kun yang sepertinya tidak sadar apa yang sudah terjadi sebelumnya.

Aku sempat heran. Berapa kadar persen bir alkohol yang diberikan Aomine-san padanya? Kenapa Akashi-kun sampai semabuk ini?

Bohong kalau aku tidak gugup. Bohong bila aku tidak senang bisa melihat Akashi-kun dari dekat. Meski ia memandangku dengan pandangan heran seolah manusia yang tidak punya kesadaran, aku tetap senang—aku bersyukur bisa bersamanya di detik-detik hari kelulusan kami. Saat itu, aku tak tahu apa yang merasukiku. Dengan pelan aku melangkah tepat di hadapannya, menundukkan kepalaku sedikit, mendapati dirinya yang berhasil merespon dengan menaikkan wajahnya tepat kearahku.

Tanganku gemetar, tapi aku tetap melakukannya. Kuusap garis pipinya yang dingin akibat udara, kuturunkan jemariku ke seluruh wajahnya; dari pipi hingga ke kelopak mata—Akashi Seijuurou merupakan ciptaan yang luar biasa. Ia tampan dan sempurna, seolah-olah tak ada lagi ada hal yang cacat dalam fisik maupun kehidupannya. Ialah sang dewa—bukan lagi manusia.

Kukecup pipinya penuh cinta, berharap sentuhan ini akan terasa selamanya.

"Selamat malam, Akashi-kun."

Sentuhan intim kami terlepas, tubuhnya terkulai lemas. Aku memberikan senyum terakhir di gelapnya malam dan beranjak dari kamar tersebut, membiarkan Akashi-kun beristirahat. Namun di detik itu, aku tak tahu bahwa Akashi-kun masih tersadar. Belum sempat aku menjauhinya, ia kembali menarikku dengan lengan besarnya dan memelukku tanpa kutahu apa tujuannya.

Firasatku mulai buruk saat itu.

"T-Tunggu... Akashi—kun?"

"Temani aku, sebentar saja... disini."

Jantungku berpacu, napasnya masih berbau alkohol tapi berhasil membuatku terhanyut. Aku terus terdiam disana dan membiarkan badanku dipeluknya di kasur ini. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas, entah di detik keberapa, ia berhasil menarikku dalam ciumannya yang memabukkan.

Aku kaget, tentu saja.

"Hmph! A-Apa yang—Akashi-kun!"

Ia berhasil mengunciku dalam tatapannya. Aku ingin tersedak dan menampar diriku saat itu juga. Kini Akashi Seijuurou sudah berada di atasku, menatapku dengan pandangan tak tertebak. Ia berhasil mengunci pergerakanku, ia seolah tahu kalau aku ingin kabur. Manikku membulat, napasku tertahan, bibirku tercekat.

Saat itu aku tak bisa melakukan apa-apa.

"Dari sikapmu itu... aku tahu kau mencintaiku."

Terkejut. Belum sempat aku membalas pernyataan konyol tersebut, ia sudah kembali menciumiku. Ciuman yang terasa panas dan membuatku luluh. Ia terus menggodaku dengan menggunakan bibirnya itu. Akashi-kun menangkap bibir bawahku, membelainya dengan lidah, dan saat itu aku tahu bahwa diriku hampir dibuatnya gila.

Penolakan kembali kuberikan. Aku mencoba untuk menyadarkannya lewat teriakan-teriakan yang mungkin saja terdengar dari luar. Tapi aku tahu bagaimana pun keadaannya, tetap saja dia adalah seorang Akashi yang selalu menang—ia tak mungkin kalah hanya karena seorang jeritan perempuan.

"A-Akashi... ah!"

Kalian tahu kelanjutannya, 'kan? Ya. Dia berhasil membuatku lemas lewat ciumannya. Ia berhasil membuat tubuhku berhenti memberontak. Dengan segala cara, ia kembali menghempaskan tubuhku di kasur, di bawahnya, dan kembali menciumku di titik yang lain. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Ketika Akashi-kun memelukku lebih erat dan melepaskan pakaianku satu demi satu; aku tahu itulah neraka pertama dalam hidupku.

Kututup buku kenangan itu seiring dengan berakhirnya masa lalu. Aku melirik ke belakang, tersenyum sumringah mendapati Seiji masih tertidur lelap. Aku berjalan kearah jendela, menghitung salju yang jatuh dari langit di pertengahan bulan. Kenangan itu memang tak pantas untuk diingat, hanya saja, aku merindukannya—merindukan wajah Akashi-kun yang sudah kurekam dalam otak bertahun-tahun lamanya.

.

.

~ ancestry ~

.

.

Normal POV

Akashi Seijuurou menatap jalanan dengan bertopang dagu. Ini hari pertamanya di Tokyo dan waktu cutinya dimulai saat itu. Seijuurou menyuruh supirnya untuk berkeliling kota; melihat-lihat ibukota Jepang, sepertinya ia hanya penasaran bagaimana keadaan daerah tersebut setelah lama ia tinggalkan.

"Berhenti."

Perintah mutlak dijalankan, mobil pun berhenti sesuai dengan perkataan sang penguasa. Akashi Seijuurou mendongak, mendapati tempat makan biasa yang ia ingat bagaimana keadaannya. Kedai Ramen Futsuoka, sebuah tempat sederhana yang dulu pernah ia singgahi bersama teman-teman basket dari berbagai perfektur. Ia mengundang Seirin dan Shuutoku beserta tim-nya sendiri, Teikou. Ia mengadakan itu untuk satu tujuan—sebagai pembentuk tali persahabatan.

Akashi Seijuurou keluar dari mobil mewah, melangkah dengan wibawa tenang serta aura yang mengerikan. Orang yang kebetulan lewat tentu berhenti berjalan, menganga ketika mendapati artis bisnis tengah ada di depan mata. Seijuurou adalah orang terkenal, salah satu manusia yang berpengaruh pada dunia, serta ketampanan dan darah ningrat sebagai seorang Akashi tentu merupakan sebuah nilai tambahan.

Seijuurou memasuki kedai, mendapati tempat itu tidak terlalu banyak berubah. Ada beberapa meja yang kosong, dan ia memilih duduk di pojok dekat jendela ujung. Pria itu menunggu seorang pelayan datang, ia ingin makan cepat agar bisa bertemu Kuroko Tetsuya di kampusnya sesegera mungkin.

Tak lama kemudian, salah satu pelayan wanita datang. Ia tersenyum ramah dan bertanya dengan sopan. Seijuurou tidak membalas senyum tersebut namun tetap memesan makanan yang ia inginkan. Si pelayan izin untuk pergi agar bisa mengantar makanan Seijuurou secepatnya. Pria itu pun akhirnya mengadah, mendapati langit kota yang tak lagi gelap akibat salju yang berjatuhan.

Ia berpikir. Otaknya kembali mencerna mengapa ia bisa berada disini.

Sebenarnya, Seijuurou belum tentu mengerti apa yang ia cari selama ini. Pria itu mencari sesuatu yang tidak pasti. Ia tahu bahwa nalurinya sebagai seorang penguasa tak pernah salah—maka dari itu ia kesini untuk memastikannya. Seijuurou pergi dari tempatnya, meninggalkan pekerjaan untuk sementara, demi mencari satu manusia yang berhasil menarik atensinya.

Teman—ah, bukan. Orang yang dikenalnya sewaktu SMA.

PRANK!

Suara gaduh terjadi, Seijuurou meliriknya dengan malas.

Di saat itu pula, manik belangnya perlahan melebar.

"A-Ah! Kau tidak apa-apa!?"

"...Eh? I-Iya..."

Deg.

Suara lembut mengalun dan mengendang di telinga Seijuurou. Pria itu berdiri seperti orang kesetanan, bahkan kursi yang ia duduki sudah terjengkang ke belakang. Dan detik selanjutnya, matanya menangkap sebersit ketakutan disana. Manik keabu-abuan yang memandanginya disusul air mata yang merombak.

Gadis itu berdiri pelan. Tubuhnya gemetar hebat. Seijuurou sadar, wanita yang memakai apron putih itu mencoba untuk tersenyum seperti biasa, namun ia bisa menangkap bibir itu juga bergetar, air mata jatuh di kedua pipinya yang bulat.

"A-A-Akashi—" Kalian bisa melihatnya, 'kan? Gadis itu perlahan mundur, mengabaikan tatapan cemas dari pelayan yang lain. Sontak pula, Seijuurou melangkah maju—ada dorongan khusus yang membuatnya seperti itu. "A-A-Aka-Akashi—kun...?"

Seijuurou bersumpah demi apapun, ia tidak melakukan apa-apa! Lalu mengapa gadis itu harus takut? Kenapa harus sampai gemetar hebat seperti itu? Mengapa harus menangis? Memang apa yang sudah dirinya perbuat? Seijuurou bukanlah pria brengsek yang suka menyakiti perempuan, 'kan?

Dan terlebih lagi... apa orang ini mengenalnya?

Dengan tatapan menusuk seolah menelanjangi, Seijuurou memperhatikan fisik perempuan itu. Ia berambut panjang, bermata hitam keabu-abuan, berbadan kecil dan kurus. Ia tak pernah mengenal gadis ini. Lalu mengapa dia bisa tahu siapa dia? Ah, bukan. Tentu saja semua orang di negeri ini mengenal siapa Akashi Seijuurou. Tapi pria itu sadar bahwa gadis ini 'melebihi' apa yang orang lain pahami.

Wanita itu perlahan mundur, mencoba untuk pergi dari pintu depan. Ia mengabaikan segala mata yang tertuju padanya. Aku pasti berantakan, pikirnya. Namun ia sadar, Akashi Seijuurou sedang berjalan kearahnya, mencegat lengan kecilnya, memakasanya untuk mendongak—sang wanita terkejut kala mendapati manik heteromatika yang berkilat tajam.

"Siapa? Kau mengenalku?"

Seijuurou dapat melihat manik keabuan yang sudah dibanjiri oleh air mata itu membulat lebar—seolah tak percaya apa yang barusan ia katakan. Di detik selanjutnya, Seijuurou sudah lupa diri kala gadis itu menarik langsung tangannya, dan—

PLAK!

"JANGAN MENYENTUHKU!"

—menampar dirinya di hadapan semua orang.

Seijuurou terdiam, ia sontak melangkah mundur.

Si gadis terisak pelan, ia akhirnya sadar apa yang sudah ia perbuat. Namun akhirnya ia tetap berlari—meninggalkan Akashi Seijuurou yang terdiam dengan tatapan heran tak terampuni.

Ada rasa sebersit untuk mengejarnya, meminta penjelasan, menghukum manusia laknat itu tanpa peduli alasannya.

Apa itu tadi?

Suara tutupan pintu terdengar keras, Seijuurou masih terdiam dengan posisi yang sama. Pipi kanan memerah, maniknya melebar, degup jantung terdengar keras luar biasa. Pria itu seolah baru saja dihantam oleh sesuatu yang menyakitkan, membuat kepalanya blank di saat yang sama.

Rasa sakit tersalurkan—ia dapat merasakan kekecewaan yang tengah dialami oleh perempuan tadi.

Ia menangis, terkejut, dan takut. Ia takut padanya, Akashi Seijuurou. Pria itu tidak marah, dirinya hanya heran—dan akhirnya berbagai pertanyaan langsung berkecamuk di kepalanya.

Bermenit-menit ia terdiam. Di kala salju tengah turun, akhirnya Seijuurou menyadari sesuatu.

.

.

continue

.

.

a baka little notes:

plotnya pendek, jadi jangan protes kalo mereka ketemunya kecepetan wkwk. terimakasih buat teman-teman yang sudah menerima ff ini, ya! doakan saja aku gak pehape dan tetep ada mood buat lanjutin ini haha. :')

sekedar informasi: ada yg tau World Series(?)? itu ff Akashi/OC sekaligus ff perdanaku di fandom kurobasu. nah, ff itu gak hiatus kok. cuma sengaja diperpanjang jadwal apdetnya. bakal apdet pertengahan bulan Desember nanti, biar sekaligus genap dua tahun gitoeh ihiy /hah

.

.

super thanks:

Kazuyaaa, Mrs. RA, Little Snowdrop, Juvia Hanaka, Yoshimura Arai, Ury Chan, Classiera Niza, akashiro46, Aaron, minona, Mischishige Michiyo, Ryu saenagi, AomineHikaru

.

.

Terima kasih sudah membaca!

Mind to Review?