Normal POV

Ketika langit sudah mulai gelap akibat awan mendung yang menghiasi kota, salju-salju mulai turun dalam jumlah yang terbilang banyak. Suasana di Tokyo memang benar-benar tidak bisa dibilang baik untuk berjalan-jalan, mengingat sudah ada palang peringatan bahwa akan ada badai salju tepat pada tengah malam. Karena itulah, Kuroko Tetsuya tiba lebih awal dari jadwal perkuliahannya. Saat ini ia sedang membaca sebuah novel romansa ditemani oleh secangkir susu vanilla yang cukup panas.

Ia menyeruput susunya pelan, namun mata sebiru langit musim panas masih terpaku pada deretan kalimat yang tertampil di sebuah kertas cetakan. Ia begitu serius dan tampak memikirkan, imajinasi mulai berjalan selagi otaknya memroses apa yang ditulis oleh novelis ternama. Meski ia tidak terlalu peduli dengan cinta-cintaan, bukan berarti Kuroko akan terus sendirian sampai masa tua menerjang. Suatu saat, ia yakin, akan ada seorang wanita semanis vanilla yang akan menjadi jodohnya nanti—seperti gadis yang diceritakan dari novel ini.

Novel bertebal 300 halaman itu menceritakan tentang seorang gadis yang ditinggalkan oleh laki-laki yang ia cintai. Pasaran memang, namun semakin kau mengikuti alur ceritanya, kau akan tahu seberapa besar perjuangan sang tokoh wanita untuk terus mengejar pria brengsek yang nyata-nyatanya merupakan atensinya sekarang. Perempuan itu sadar, seberapa besar ia berusaha untuk melupakan, ia yakin bahwa sosok pemuda itu akan terus menghantuinya sepanjang ia hidup di dunia. Apalagi ketika si heroine menyadari ia memiliki satu hal yang harus ditunjukkan—gadis itu tengah melahirkan seorang anak, dan faktanya ayah dari anak tersebut adalah pria yang disebut sebagai tokoh utama dalam cerita.

Kuroko menghela napas. Ia menutup buku tersebut dalam satu tepukan.

Ia menyadarkan kepalanya yang terasa penat. Otak masih memikirkan segala sesuatu yang dialami oleh si perempuan. Apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana keadaannya di bab selanjutnya? Apa ia berhasil menemukan cinta sejatinya? Apa ia sanggup menjaga seorang anak dengan usianya yang terbilang muda? Dan juga... apa yang Kuroko lakukan 'bila' saja ia menjadi laki-laki brengsek tersebut? Apa ia akan bertanggung jawab, atau lari dari kenyataan dan merasa malu atas apa yang ia perbuat?

Kuroko Tetsuya sama sekali tidak mau memikirkannya.

Beberapa detik ia menutup mata, suara bel terdengar dari luar. Dalam hati ia merutuk, namun ia segera beranjak dari duduk. Segera ia membukakan pintu, dan ia sama sekali tidak menyangka akan menemukan Akashi Seijuurou dalam keadaan terpuruk.

Jas Seijuurou terlihat kusut, beberapa helai rambut terkena butiran-butiran salju. Kepala menunduk, dan bibirnya melengkung tak menandakan adanya kabar tidak buruk.

"Akashi-kun," Kuroko membuka pintunya lebih lebar. Meski terkejut, ia masih memasang wajah andalan. "Kalau sudah dekat, kenapa tidak menghubungiku? Bukannya kita sudah sepakat seperti itu?"

Memang seharusnya Kuroko sudah menemukan Seijuurou berjam-jam yang lalu. Mereka berencana untuk bertemu pada hari itu. Namun nyatanya, sejak dari kampus ia sama sekali tidak menemukan ponselnya berdering dan menerakan nama kaptennya sejak masa SMA dahulu. Ia kira Seijuurou membatalkan pertemuan mereka, karena itulah Kuroko tidak mau bertanya banyak. Tapi fakta mengatakan kalau jiwa dan raga Seijuurou sudah ada disana, di depan pintu apartemen sederhana milik Kuroko Tetsuya.

"Tetsuya..."

Kuroko mengerutkan alisnya sedikit. "Akashi—" Ia tidak siap ketika Seijuurou langsung menyandarkan seluruh tubuhnya pada Kuroko. Sang Bayangan terkejut. "—ada apa?"

"Tidak," Seijuurou menjawab dengan suara yang cukup dalam, nadanya terdengar serak. "Aku lelah, itu saja."

"Oh begitukah?" Kuroko menyahut datar, sama sekali tidak mempercayainya. Ia menuntun badan Seijuurou untuk masuk. "Di luar dingin. Kau bisa istirahat di dalam, Akashi-kun."

Setelah sampai di sofa ruang tamu, bukannya menemani Seijuurou untuk bertamu, Kuroko memilih untuk pergi ke dapur. Ia memanaskan teko dan membuat segelas cokelat susu. Tak sampai lima menit berlalu, ia sudah berada di hadapan Seijuurou. Dengan vanilla serta cokelat yang tertera di meja, Kuroko menatap Seijuurou yang terdiam dengan wajah pucat.

"Pertama-tama, bisa kau ceritakan apa yang terjadi padamu?" Kuroko bertanya, tapi Seijuurou masih terdiam seperti orang yang baru sadar dari koma. "Akashi-kun, kau bisa percaya padaku."

Ujung-ujungnya, si biru langit hanya bisa menghela napas. Ia putuskan untuk mengambil handuk dan melangkah lagi menuju Seijuurou. Dengan cekatan ia lepaskan mantel pemuda itu, meletakkannya ke keranjang kotor dan langsung membersihkan helai merah yang dikabarkan tengah terkena hamparan salju.

Bila dilihat dari sudut pandang manapun, terlihat seperti seorang ibu yang membersihkan rambut anaknya selepas mandi. Ya, Kuroko merawat Seijuurou dalam segi seperti itu. Tapi kita tahu, ini hanyalah rasa simpati Kuroko untuk mendapatkan kewarasan Seijuurou kembali. Pemuda merah itu masih saja bergeming dan tidak membuat kejadian yang berarti—hanya duduk dengan ekspresi yang terlihat lelah dan butuh pelepasan.

Kuroko tidak bisa memberikan pelepasan kalau saja ia tidak tahu dimana letak masalahnya berada.

Ia sudah bersiap untuk meletakkan handuk tersebut ke keranjang kalau saja Seijuurou tidak menggenggam tangannya, mendorong Sang Bayangan agar duduk di sebelahnya. Kuroko menurut, ia duduk dengan ekspresi yang datar. Ia menunggu dengan sabar sampai kapten merahnya ini berbicara seperti biasa.

"Akashi-kun," Suara Kuroko mengalun lembut. "Aku tahu sebelum kau kesini, pasti ada sesuatu terjadi, 'kan?"

Seijuurou menutup kedua mata. Ia sadar kalau dirinya tidak sesemangat seperti biasa. Kepalanya agak sedikit pusing akibat suhu dingin dan salju-salju yang tadi menumpuk di seluruh lokasi tubuhnya. "Kau tahu aku sedang tidak baik-baik saja, Tetsuya."

Kuroko tersenyum kecil. Ia mengangguk, "Karena itu, kau bisa cerita padaku."

Kepala Seijuurou memang menghadap ke Kuroko, namun manik merah-kuningnya sama sekali tidak. "Aku... menemukannya."

"Eh?"

Tangan besar pria itu gemetar, poni panjang langsung menutupi kedua mata, gigi bergemeletuk kencang, seringai kecewa langsung hinggap di wajah.

Kuroko tak sadar kalau ekspresinya kini sudah jauh dari kata datar.

Saat menemukan satu air mata yang hinggap di kelopak kuning milik Akashi Seijuurou, Kuroko Tetsuya sama sekali tidak mengerti dimana letak dari permasalahan terjadi.

Ia tidak membiarkan Seijuurou melanjutkan pembicaraan. Kuroko mengusap punggung kaptennya itu dan memeluknya dalam satu kehangatan.

Ada kalanya Seijuurou membutuhkan teman, dan kini Kuroko-lah yang berada di hadapan.

"Jangan berbicara lagi. Menangislah, Akashi-kun."

Tanpa diberitahu pun, ia sadar mengapa Seijuurou bisa hancur sampai seperti ini.

.

.

.

ANCESTRY

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Ancestry by stillewolfie

[Akashi S. & Reader/OC]

OOC, future life, typos.

.

.

ada saatnya keajaiban itu tiba—

.

.

CAPITULO THREE

(Memoria)

.

.

—sampai kenangan langsung hinggap di dalam kepala.

.

.

SMA Teikou, Tokyo.

Seperti biasa, Akashi Seijuurou memang selalu sempurna.

Di tahun ajaran baru, ia berhasil menjadi yang pertama. Nilainya semua bagus dan menjadi yang terdepan. Karena itulah, sekolah memilihnya sebagai perwakilan dari keseluruhan untuk menyampaikan pidato di tahun awal. Ia memang selalu hebat dan tak pernah salah. Tidak ada yang tidak mengenalnya, semua orang di seluruh negeri tentu mengenal siapa dia, mengingat nama Akashi disandang di dalam namanya.

Pengaruh anak itu tentu sangat dikenal oleh semua orang. Baik dari sudut pandang guru maupun siswa. Sebagai ketua dewan dan kapten basket sekolah, serta rambut merahnya yang unik itu menjadi atensi yang dikenang. Tidak ada yang cacat dan kekurangan, seolah-olah kelebihan duniawi memang ditakdirkan untuknya. Ia tampan, tegas, jenius, hebat di segala bidang—tipe sempurna untuk sebagian wanita.

Meski begitu, Akashi Seijuurou tidak pernah melirik satu pun gadis yang ada. Ia tidak pernah memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan romansa. Karena ia sadar, ia akan memiliki seorang pendamping hidup yang dipilihkan oleh ayahnya. Seijuurou merasa ia tidak perlu menolak, karena ia tahu bahwa dirinya adalah seorang Akashi—oleh sebab itu ia membutuhkan sosok yang terkenal, sempurna, dan kaya. Bukan memilih gadis-gadis secara sembarangan tanpa mengetahui asal-usulnya.

Namun, sejak di tingkat tiga, Seijuurou tidak tahu mengapa mata emperor-nya terus tertuju padanya.

Mereka pertama kali bertemu di lorong sekolah. Saat pengumuman peringkat, mereka berdesak-desakan untuk melihat siapa sang juara pertama. Mungkin seperempat siswa tak perlu lagi mengharapkannya, mengingat mereka sadar siapa yang akan menduduki bangku teratas. Tentu saja, Akashi Seijuurou. Hanya mereka yang bodoh saja yang masih mengharapkan orang lain menjadi yang terdepan: bisa dibilang, tidak punya otak.

"Huwaa, sugoi-ssu yo, Akashicchi!" Kise Ryouta, yang kebetulan begitu semangat pada hari itu, menatap papan dengan pandangan berbinar. Ia sama sekali tidak menyangka nilai Seijuurou 'memang sangat' sempurna. "Semuanya A-ssu! Benar-benar hebat!"

Seijuurou yang kebetulan bersama Kise pun hanya bisa mendengus meremehkan. "Tentu saja, Ryouta. Aku selalu menang."

Dan kebetulan, ketika ia menyebutkan perkataan itu, matanya tanpa sadar mendapati atensi lain di sepanjang lorong.

Seijuurou menatap seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya. Bukannya takut karena ketahuan sedang melirik-lirik Seijuurou, ia hanya terdiam dengan wajah tak tertebak. Mereka bertatapan cukup lama. Seijuurou dengan pandangan dingin, dan gadis itu hanya menggunakan tatapan biasa—tidak ada ancaman ataupun rasa benci yang tertera. Pandangan penasaran dan kagum, Seijuuoru bisa menebaknya seperti itu.

Sang gadis tersenyum, Seijuurou mengerjap bingung.

Beberapa detik setelahnya, ia pergi bersama teman-temannya, menjauhi papan dan berbelok ke lorong lain. Seijuurou terdiam, ia sama sekali mengabaikan teriakan Kise di sampingnya.

Akhirnya pun, mereka menjauhi papan menuju arah yang berbeda dari perempuan yang tadi ditatap dan dipikirkannya. Tanpa sadar, Seijuurou menyesali perbuatannya itu.

Rasa penasaran membuatnya tergelitik. Ketika ia mengingat senyuman gadis itu, bibirnya tak lama juga ikut tersenyum.

.

.

"Memangnya umurmu sudah berapa—nodayo? Apa yang ada dipikiranmu sampai kau mau membuat acara ulang tahun, Ahomine?" Midorima Shintarou menaikkan kacamatanya sembari menenteng boneka kerosuke sebagai alat keberuntungan untuk cancer hari ini. "Itu ide gila." tambahnya.

"Dari sudut mana kau bisa bilang kalau itu ide gila, Midorima?" Aomine sama sekali tidak setuju dengan komentar shooter guard itu. "Karena ini ulang tahun terakhirku di SMA, dan sebentar lagi aku akan pergi ke luar kota untuk studi kepolisian." Pria dim itu menaik-turunkan alisnya. "Bukankah kita butuh kenangan indah di saat-saat terakhir seperti ini?"

"Aku setuju dengan Aomine-kun," Setelah menutup kotak bekalnya, Kuroko Tetsuya tersenyum kalem. "Beberapa dari kita akan pergi keluar kota, bukan? Jadi tidak masalah kalau ingin membuat pesta kecil-kecilan."

"Dan ulang tahun Dai-chan adalah hari yang tepat!" Momoi Satsuki terlihat bersemangat, ia bertepuk tangan dengan wajah bahagia.

"Yeay, pesta~! Kalau Kurokocchi setuju, aku juga setuju-ssu!" Kise Ryouta pun terlihat berbinar, ia langsung memeluk Kuroko dengan penuh cinta. Ia mengabaikan fakta kalau si biru langit sama sekali tidak menyukainya.

"Lepaskan aku, Kise-kun. Kau berat."

Midorima yang melihat ketidakwarasan teman-teman basketnya pun hanya bisa menghela napas kesal. Ia melirik Akashi Seijuurou yang masih duduk dan menyuap makan siangnya dengan tenang. "Bagaimana menurutmu, Akashi?"

Orang yang disebut-sebut sebagai pemimpin dari kubu Generasi Keajaiban pun menyahut pelan. Ia membersihkan bibirnya dengan sangat elegan. "Tidak masalah," Ucapnya. "Ini akan menjadi rencana yang hebat 'kan, Shintarou?"

Melihat kilat jahil yang disampirkan oleh kaptennya itu, mau tidak mau Midorima pun ikut setuju dengan acara kekanakkan yang direncanakan oleh ace mereka. "Baiklah, terserahmu sajalah—nodayo."

"Buat makanan yang banyak ya, Mine-chin~" Murasakibara Atsushi, yang dari tadi diam dengan mulut yang mengunyah pun akhirnya bersuara. Ia mengambil lima keripik kentang sekaligus dan memakannya dengan lahap. "Kalau ada yang manis-manis—aku pasti datang deh~"

Aomine tertawa. Ia mengedipkan mata dan mengangguk antusias. "Tentu saja, Murasakibara!"

Deretan meja panjang yang diisi dengan kepala warna-warni terlihat ribut dan bahagia. Semuanya tertawa dengan rencana terakhir mereka sebelum berpisah. Orang-orang yang disebut sebagai 'keajaiban' yang datang setiap sepuluh tahun sekali itu memang akan pergi dengan jalannya masing-masing setelah lulus nanti. Bahkan di akhir semester, mereka diwajibkan untuk meninggalkan hobi kesayangan yang bisa menyatukan mereka hingga saat ini—olahraga basket, tentu saja.

Dibalik euforia mereka, Akashi Seijuurou yang hanya bisa menanggapi dengan senyuman pun tiba-tiba mengalihkan pandangan. Ia sama sekali tidak tahu kalau manik emperor-nya akhir-akhir ini begitu tajam. Karena saat ia mengalihkan tatapan untuk yang kesekian kalinya, objek pertama dan menarik perhatiannya pun langsung ada di depan mata.

Dari meja mereka, sudutnya bisa menggapai seorang perempuan yang diam-diam memperhatikan. Siluet siswi dengan balutan seragam Teikou, terlihat biasa saja namun sangat luar biasa di mata Seijuurou. Mereka bertatapan sejenak, dan dibalas dengan senyum tipis sang gadis yang membuat pria itu termangu.

Ia terkejut.

Tak lama, gadis itu langsung menghilang dibalik keramian orang. Ingin mengejar, namun ia tidak merasa enakkan. Pikiran jeniusnya terlintas sebuah ide cemerlang: mengajak siswi tersebut ke pesta ulang tahun sang power forward. Namun tak lama, ia mendengus dan menggeleng dalam hati. Jelas, itu ide buruk—mengingat Akashi Seijuurou tidak terlalu mengenal siapa perempuan itu.

Tak terlalu memikirkan, ia beranjak berdiri dan melangkah bersama 'keajaiban' lain untuk pergi ke kelas, bersiap menanti pelajaran yang akan disodorkan oleh guru mereka.

.

.

"GYAHAHAHAHAH!"

Akashi Seijuurou menghela napas.

Dari awal, ia kira semuanya akan baik-baik saja, karena dari acara pembukaan hingga pemotongan kue, tidak ada yang membuatnya begitu terganggu. Ia rasa pesta ulang tahun Aomine akan berjalan mulus. Tapi, kenyataan sama sekali jauh dari ekspetasinya—mending ia tidak usah ikut saja.

Seijuurou kira Aomine hanya mengundang mereka-mereka saja. Namun, sama sekali tidak. Ia mengundang tim basket lain dari berbagai perfektur. Dari Shuutoku, Seirin, bahkan Rakuzan sekalipun. Ini adalah awal mimpi buruk. Suasana terlihat gaduh dan menjengkelkan. Bahkan Kuroko Tetsuya yang ia pikir merupakan teman terwaras sudah menghilang entah kemana.

Dan bodohnya, Seijuurou malah terduduk bersama para pria jahanam—mereka tertawa sambil memegang bir dengan rasa senang. Aomine bersama Hayama Kotarou dan Mibuchi Reo sedang mabuk-mabukan bersama tampang bodoh mereka.

Seijuurou memutar bola mata.

"Ne ne, Akashi," Seijuurou mencoba bersabar, mengingat sang tuan rumah adalah seorang penguasa. "Bagaimana kalau kita minum? Kau pasti lelah dengan kegiatan OSIS-mu itu, 'kan? AHAHAHA!"

Aomine Daiki sudah tidak waras. Ia sudah dikuasai oleh alkohol. Seijuurou mengernyitkan dahi, bau Aomine benar-benar membuatnya ingin mati. Segera ia melepas rangkulan pemuda dim itu dan melemparkan tatapan tajamnya. "Tidak, aku menolak. Aku tak suka alkohol."

Aomine memang sedang mabuk—dan orang mabuk tak akan pernah mengenal rasa takut. Dengan pipi merah serta menahan seringai, Aomine mendekatkan kepalanya ke kapten kesayangannya itu. "Hee? Katanya kau hebat di segala bidang?" Kemudian pria itu menjauhkan wajahnya lagi dan tertawa keras. "Tapi minum alkohol saja kau tidak bisa!?" Lalu ia pun tertawa lagi, tidak menyadari aura-aura geram serta gunting menyembul dibalik celana hitam yang dipakai seorang Akashi.

"Baiklah, kuterima tantanganmu." Seijuurou memang sudah termakan ucapan idiot dari si mabuk Ahomine, tapi apa boleh buat. "Kemarikan bir itu padaku, Daiki."

Akashi Seijuurou, 17 tahun. Ia memang sudah cukup umur untuk mencoba sebuah alkohol. Toh, satu atau dua teguk tidak masalah. Ia juga penasaran apakah tubuhnya bisa bertahan kalau ia mencoba minuman keras ini. Segera ia mengambil gelas bersih dan menuangkan cairan kental itu ke dalamnya, meminum alkohol jenis vodka dengan satu tegukan.

Satu, dua, tiga, empat—ia tak yakin sudah meminum satu atau dua tegukan.

Kepala mulai terasa pusing, penglihatan buram dan wajahnya mengernyit samar. Namun, rasa panas yang menjalar di seluruh tubuh meminta sesuatu yang lebih—pria itu tidak mengerti, namun tangannya otomatis mengambil sebotol vodka penuh dan menuangkan cairan itu kembali. Bibir sudah mulai terbuka untuk memuaskan hasrat tersembunyi, namun lengan kecil langsung mencegat dan rasa kesal langsung tertera di dalam diri.

"Jangan minum lagi," Suaranya begitu lembut dan sejuk, di telinga Seijuurou bagaikan lonceng surga yang berbunyi. "Nanti kau sakit, Akashi-kun."

Tubuh terangkat, badan terhuyung, dan Akashi Seijuurou sama sekali tidak suka itu. "Huh—ap—hei..." Ia merasa badannya tengah terombang-ambing tidak jelas. "Berhenti!"

Seijuurou tidak merasakan guncangan itu berhenti, melainkan dirinya dibawa ke tempat yang lebih spesifik. Ia sudah menyerah dengan pusing serta rasa mual yang menghantui tubuhnya. Namun, ketika ia jatuh ke sesuatu yang empuk, rasa nyaman langsung menguasai fisiknya yang tidak teratur.

"Untuk apa... kau bawa aku kesini?"

Samar-samar, di dalam keremangan tempat yang tak diketahui olehnya, Seijuurou dapat merasakan kehadiran seseorang. Dari bentuk tubuh yang tak terlalu jelas, ia dapat merasakan seorang gadis tengah hadir di hadapannya. Hanya saja, saat menyadari kalau ada sosok lain yang berada di sekitarnya saat ini, gejolak ganjil mulai muncul kembali—seolah-olah tubuhnya tersiram air panas: begitu menyesakkan dan tak mengenakkan.

Seijuurou membutuhkan vodka itu, sekarang juga.

Rasa hangat yang perlahan-lahan mulai dirasakan di segala bentuk wajah, membuat Seijuurou yang berada di ambang kesadaran pun langsung terkejut. Sesuatu dalam dirinya langsung mengamuk, pelipis menjadi hiasan keringat pun tak membuatnya diam membisu. Gemetar. Ia takut. Ia dapat merasakan sebuah kejanggalan, tiba-tiba bagian bawah tubuhnya sudah terasa sesak.

Ini mengerikan.

Dan hawa panas itu tak bisa lagi ia tahan. Seijuurou dapat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipinya, begitu basah dan membuatnya bergairah. Hanya sepersekian detik, namun efeknya amat membuat ia serasa terbang ke dunia surgawi. Pria itu sadar kalau sosok itu langsung menjauhinya, berniat pergi dari tempat tersebut dan meninggalkannya.

Seijuurou tidak akan membiarkannya begitu saja.

Segera ia peluk tubuh kecil tersebut dalam sebuah rengkuhan hangat. Ia jatuhkan manusia itu ke kasur dan mengurungnya dalam satu kekangan kuat. Ia dapat merasakan pergolakan, pemberontakan, dan teriakan yang membuatnya harus tersadar. Namun, Seijuurou sudah dikuasai oleh nafsu dan alkohol sialan pemberian anak buahnya, membuat indera pemuda itu sudah dikunci dan tak bisa diselamatkan.

Teriakan-teriakan yang menyuruhnya untuk membuatnya harus berhenti melakukan hal yang tidak pantas. Oh, ia sudah tidak peduli lagi dengan tata krama. Namun pemberontakan perempuan ini membuatnya tak tahan. Segera Seijuurou mengunci kedua lengan kecil itu dengan satu genggaman erat, memandangi manik hitam abu-abunya yang sudah tak berdaya.

"Dari sikapmu itu..." Suara Seijuurou begitu berat, hangat, namun mengancam. Otomatis gadis yang akan ia kuasai ini terdiam dengan ekspresi menyedihkan. "...aku tahu kau mencintaiku."

Bagaikan sihir, tubuh kecil itu berhenti memberontak. Sang perempuan terlihat syok, matanya membulat, ia sama sekali tidak percaya. Seijuurou pun bersyukur akan hal itu. Segera ia bergerak—menciumi pangkal telinga, menyusuri leher jenjang tanpa noda, hingga menangkup bibir basah yang sudah terbuka akibat isakannya yang menggema di ruangan itu.

Pakaian mereka terlepas dengan beringas, robekan kecil dapat terlihat di sisi kain-kain mereka.

Desahan yang berirama, goncangan kasur yang diterangi oleh cahaya remang-remang. Sepanjang malam, ranjang itu bergerak, mengabaikan isak tangis yang terselingi dibalik erang kenikmatan. Seijuurou bergerak, wanita itu mengikutinya. Mereka terus seperti itu hingga puncak pun mereka raih bersama-sama.

Seijuurou terjatuh, ia tertidur. Mengabaikan fakta yang sudah ia perbuat.

Ia sudah membuat masalah yang sangat besar.

.

.

Keesokan harinya, tepat pukul sembilan pagi, akhirnya Seijuurou membuka mata. Melihat sinar mentari yang menyelusup dibalik jendela membuatnya mengernyit heran. Segera ia bangkit dan beranjak dari tidurnya. Menghela napas dan menyisir rambutnya ke belakang.

Ia baru saja mengalami mimpi terburuk sepanjang hidupnya.

Melihat sekeliling, ia menyadari ia berada di sebuah kamar asing. Tak terlalu peduli, pria itu pun memeriksa diri sendiri. Masih mengenakan pakaiannya secara lengkap, meski terlihat acak-acakan dan amat sangat berantakan. Ia tak terlalu peduli, berpikir bahwa itu mungkin akibat dari aktivitas tidurnya semalam.

Segera pria itu berdiri dan membersihkan diri, mengabaikan rasa sakit di kepalanya, turun ke bawah, dan menyapa teman-temannya yang ternyata masih menikmati pesta.

Secerdas apapun pikirannya, tetap saja seorang Akashi benar-benar lupa.

Seijuurou bahkan mengabaikan adanya bercak merah yang terlihat di kasur pinjaman.

.

.

~ ancestry ~

.

.

Reader's POV

Aku sudah tidak peduli lagi.

Melangkah pergi menjauhi kedai, berjalan pulang untuk menemukan suatu objek yang mungkin dapat menenangkan pikiranku. Rasanya seperti dihantam oleh sesuatu yang keras. Menangis pun tidak akan berguna. Yang kuinginkan sekarang hanya Seiji-kun. Melihat bayiku itu mungkin dapat menenangkan mentalku.

Salju kembali turun, dan hal itu membuatku benar-benar pilu. Aku tidak mengenakan satu pakaian hangat apapun, jadi aku melangkah, mengabaikan tatapan kasihan yang diberikan oleh orang-orang. Sampai di apartemen tetangga, tersenyum menyapa bibi yang terkejut melihatku, aku tak peduli apa yang dipikirannya saat itu. Karena aku hanya ingin meminta Seiji yang ada bersamanya.

Setelah mengambil anakku darinya, aku langsung pergi ke apartemenku sendiri dan mengunci pintunya.

Menyandarkan diri pada pintu masuk rumah, aku tersenyum kala mendapati Seiji yang sedang tertidur lelap.

Ia begitu manis kalau sedang masa-masa damai seperti ini. Pipi tembam, tubuh gembulnya, dan ekspresi hangatnya. Ia begitu berbeda, tidak seperti ayahnya. Segera aku mengecup pipinya tanda kalau ibunya sedang ada di sampingnya, memeluk tubuhnya dalam rengkuhan kecil yang hangat.

Sungguh. Dibalik kegelapan, aku masih memiliki titik terang yang dapat menuntunku ke jalan yang benar.

Dialah Seiji, anakku.

"Maaf... maafkan Mama, sayang..." Aku tidak peduli lagi dengan apapun. Aku tak peduli lagi dengan Akashi-kun. Aku tak peduli lagi kalau aku akan dipecat karena tindakanku di kedai beberapa saat yang lalu. Yang kuinginkan hanyalah disini, terdiam bersama satu-satunya darah dagingku—hasil sepihak yang dibuat pria itu padaku. "Mama... belum bisa menghadapi Papa..."

Aku takut dia akan menolakmu. Kalau saja dia tahu apa yang terjadi pada kita... apa yang akan dia lakukan, Seiji-kun? Apa Akashi-kun akan membawamu dariku? A-Aku tidak tahu. Aku tidak mau tahu untuk sekarang. Jadi biarkanlah aku disini, menghadapi kenyataan yang sudah kubuat sendiri.

"M-Maaf..."

Benar. Untuk saat ini, yang hanya bisa kukatakan padamu hanyalah maaf.

Bibirku bergetar, tangis langsung menyelesak keluar. Memeluk anakku hanya satu-satunya jalan.

Untukmu, untuk Akashi-kun, untuk semuanya... aku benar-benar minta maaf.

.

.

continue

.

.

a baka little long notes:

hai, apa kabar? baik, kah? maaf ya, baru muncul sekarang. saya benar-benar minta maaf.

bulan Desember memang bulan cobaan. bahkan saya gak sempet buat cerita untuk ultah Akashi Seijuurou kemaren. saya minta maaf ya, teman-teman. World Series aja saya belum selesai... ha-ha-ha(?)

sebagian dari chapter ini flashback full ya. tapi diambil dari sudutnya Akashi (potongan-potongannya bisa dibaca di chap sebelumnya). semoga memuaskan dan teman-teman dapat mengerti. kalau ada kesalahan saya minta maaf ya teman-teman. saya sungguh minta maaf. maaf kalo selama ini saya ada salah sama kalian dan pehape mulu. maaf ya, teman-teman. maafkan saya, maaf-/SUDAH WOY/

selamat tahun baru 2016. semoga tahun baru ini menjadi tahun yang lebih baik untuk kita semua!

.

.

super thanks:

Yoshimura Arai, Michishige Michiyo, chappy, Aoi Yukari, ABNORMALholic, Ury Chan, Kazuyaaa, Classiera Niza, Aomine Hikaru, Shoukaku, akashiro46, Michishige Westwick, Hatsune Cherry, On-chan, yeongwonhii, macaroon waffle, Alexis C. Black, nurifadhillah03, Hikaru Kisekine, ryinitaputri.

.

.

Terima kasih sudah membaca!

Mind to Review?