Normal POV
Terkadang, hidup itu tidak bisa ditebak.
Pada awalnya, Akashi Seijuurou sama sekali tidak mengerti mengapa acaranya bisa berantakan seperti ini. Ia hanya berniat untuk berkunjung, mengenang memori lama saat dirinya menginjak masa kejayaan sebagai pemain basket nasional sembari menikmati secangkir kopi hingga salju berhenti datang. Ia tidak berpikir kalau segalanya bisa berputar dan tak berjalan sesuai dengan prediksinya. Semua tak masuk di akal dan hal tersebut membuatnya muak.
"Siapa? Kau mengenalku?"
Dan di detik itu, Seijuurou mengerti.
Dialah sang gadis yang membuatnya terus berpikir.
Ekspresinya tetap sama. Ia ketakutan. Perempuan itu seolah seperti melihat sosok iblis yang amat mengerikan. Langkah mungilnya terdengar mundur, ia berniat menjauhi Seijuurou. Tapi, pemuda yang dimaksud tak bisa membiarkannya begitu saja—dirinya butuh penjelasan. Segera Seijuurou merentangkan tangan untuk menariknya, bermaksud untuk mempersempit celah agar bisa melihat wajah sang gadis lebih dekat.
"JANGAN MENYENTUHKU!"
Di detik selanjutnya, Yang Terhormat baru saja dipermalukan.
Untuk pertama kali di dalam hidup, ia ditampar. Akashi Seijuurou yang terhormat itu disentuh pipinya secara kasar. Ia dipermalukan di depan orang banyak. Cara yang digunakan pun sangat tidak pantas. Terlebih lagi, yang mempermalukannya adalah seorang wanita—salah satu keturunan hawa yang tak punya tata krama.
Seijuurou naik darah. Ia emosi. Emperor eye bersinar dan ia siap untuk membalas tamparan itu kapan saja.
Tapi isak tangis yang begitu lembut mampu membuyarkan segalanya.
Kepingan memori perlahan muncul. Segala afeksi yang berupa opini itu mulai terbangun kembali setelah sekian lama tertidur. Hanya karena gemetar serta lirihan dari seorang wanita, Seijuurou diam membisu. Isak tangis yang begitu tak asing—ia pernah dengar sebelumnya. Sebelum mereka bertemu detik ini, pemuda itu yakin ia pernah mendengarnya sesekali.
Ketika itu, Seijuurou melucuti segalanya. Ia mengecup dari cuping telinga hingga ujung pangkal leher jenjang sang perempuan. Setengah telanjang bulat, hanya tersisa celana panjang milik Seijuurou yang hampir terlepas.
Dalam diam, dilatarbelakangi oleh isak tangis yang disertai oleh rasa kebencian, ia terus membangun sebuah kepingan lama.
"A-Ah! Uh! H-Hentikan!"
Kira-kira, begitulah gemanya.
Menyakitkan—seperti sedang tersiksa.
Karena terkejut dengan pemikirannya, Seijuurou membiarkan gadis itu pergi dari jangkauannya. Ia membiarkan mangsa lepas dari sarangnya. Tapi, pemuda itu tak peduli lagi. Ia hanya terus menggali apa yang menjadi prioritas otaknya saat ini.
Kenapa saat melihat perempuan tadi, Seijuurou menjadi sosok yang lupa diri?
Hingga tiga menit kemudian, ia berhasil mengendalikan sosoknya sendiri. Tanpa mengucapkan apapun pada pelayan serta pelanggan lain, Seijuurou pergi berjalan kaki. Tak peduli pada salju, tak peduli pada cuaca serta suhu, yang diinginkan saat itu hanyalah sebuah penyalur. Kepalanya mendadak pening, ia benci bila dirinya tak bisa diandalkan saat ini. Seijuurou juga mencoba untuk menghilangkan sosok gadis yang terus terngiang—sungguh, padahal ia yakin kalau wanita tadi bukan siapa-siapanya.
Sore menjelang, namun awan mendung masih tak sigap untuk pergi dari singgasana. Seijuurou berdiri di sebuah apartemen kecil dekat pusat kota, mencoba untuk menekan bel agar seseorang di dalam sana rela membukakan pintunya.
Hanya saja, begitu berat. Seijuurou merasa bebannya kembali datang. Menghela napas, mengakibatkan uap karbon keluar dari kedua belah bibirnya.
Menekan bel. Tak lama, seseorang menyambutnya.
Seseorang yang kali ini cukup ia butuhkan.
Kuroko Tetsuya berdiri di hadapannya. Ekspresi terkejut yang tersirat muncul dari tampang datarnya. Ia membuka pintunya lebih lebar, menanyakan mengapa Seijuurou datang ke tempatnya tanpa kabar terlebih dahulu.
Kemudian, Seijuurou menangis.
.
.
.
ANCESTRY
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Ancestry by stillewolfie
[Akashi S. & Reader/OC]
OOC, future-life, teikou-era, typos, etc.
.
.
ketika semua mulai terungkap—
.
.
CAPITULO FOUR
(Tercera)
.
.
—pihak ketiga mulai menghancurkan satu hubungan.
.
.
Rintikan salju kembali turun. Orang-orang menggunakan payung agar dapat melindungi kepala mereka agar tak terkena langsung dengan salju. Dari kaca jendela, aku dapat melihatnya dengan jelas. Penduduk memaksa untuk tetap melakukan aktivitas, padahal suhu sedang menurun drastis dan salju turun lebih banyak dari biasanya. Tapi karena tuntutan atau apa, mereka tetap memaksakan diri dan meninggalkan rumah.
Untuk hari ini, aku memutuskan untuk mengurung diri di rumah. Aku sudah meminta maaf dan izin untuk beberapa hari pada pemilik kedai—setidaknya, aku ingin beristirahat. Menjaga Seiji sekarang mungkin merupakan prioritas. Kulihat dirinya sedang merangkak pelan disertai dengan beberapa mainan dan guling. Anak itu tampak asyik memainkan imajinasinya.
Tangan kecil itu merambat mengambil boneka monster, kemudian dibentur-benturkan bersama dengan pesawat jet di tangan lainnya.
"Pu ... pupu!"
Aku terkekeh kecil.
Melihatnya tumbuh besar, merawatnya sendirian di tempat kecil ini, membuatku sama sekali tidak menyesal. Ia bisa tumbuh dan berkembang karena aku, maka aku tidak butuh seseorang di luar sana yang takkan mengerti akan sebuah dosa.
Awalnya, aku tidak mengerti mengapa Akashi Seijuurou bisa ada di Tokyo. Terlebih lagi, di kedaiku sendiri! Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia bisa di sana?
Sungguh, aku tidak mengerti.
"Siapa? Kau mengenalku?"
Benar, pertanyaan itu.
Pertanyaan yang membuat seolah diriku adalah sosok yang tak perlu mengingatnya.
Pertanyaan yang menganggap diriku adalah sampah.
Pertanyaan yang sanggup membuatku kecewa padanya.
Pertanyaan yang membuat segalanya menjadi jelas.
Dia tidak tahu aku ini siapa.
Pendapatku benar, 'kan? Dia tidak akan mengenalku bahkan sampai kiamat sekali pun.
Jadi, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi di sini.
"Seiji-kun, Mama temani main ya."
Segera kugenggam jet pesawat yang tergeletak, kemudian kukeluarkan semua imajinasiku untuk bisa menemani anakku bermain.
Seiji tertawa. Begitu polosnya.
Ia sama sekali tidak mengerti rasa sakit apa yang ditorehkan pada kedua orang tuanya semenjak kedatangannya di dunia ini.
Tapi tak apa, sungguh. Ingatlah, dia hanyalah seorang anak kecil.
Dan sebagai seorang ibu, aku tidak perlu memikirkan hal-hal tak berguna lagi.
.
.
~ ancestry ~
.
.
Seijuurou menatap segelas teh hangat yang tertera di atas meja. Dia tampak melamun dan lemas. Yang menjadi latar belakang suara hanyalah gesekan lembar buku yang kadang terdengar. Selama beberapa menit terakhir, dua mantan rekan itu sama sekali belum berbicara.
Kuroko Tetsuya hanya terduduk di depannya, membaca beberapa lembar novel yang barusan ia baca sebelum Seijuurou datang menghampiri kediamannya. Ia mencoba untuk fokus, tapi manik biru kepunyaan sama sekali tidak mau menuruti keinginan dan terus mengintip bagaimana keadaan teman seperjuangan di tim basket nasional pada zaman dahulu.
Kuroko tak habis pikir, bahwa dialah orang beruntung yang diberi izin untuk melihat seorang Akashi Seijuurou menangis. Saat melihat kedua mata belang itu menumpahkan air mata, Kuroko tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, yang bisa ia lakukan hanyalah menepuk punggung si pemuda merah dan berbisik kalau semuanya pasti akan baik-baik saja.
Seijuurou tidak menangis seperti seorang bocah, atau Kise dengan segala tangisan bualannya. Dia hanya diam, menunduk, dan matanya terus menatap ke bawah—membiarkan tetes demi tetes air jatuh tanpa diselingi oleh sebuah isakan.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir."
Sebuah perkataan yang dianggap sebagai perintah, Kuroko pun mengakhiri hiburan mendadaknya.
"Kalau kau menjadi diriku ... apa yang akan kau lakukan, Tetsuya?"
Kuroko menutup kedua mata.
"Meminta penjelasan, Akashi-kun."
Seijuurou tersenyum simpul.
Kuroko menutup bukunya, ia letakkan benda itu di atas meja. Manik biru terus bertatapan dengan sosok pemuda yang ada di hadapannya. Seijuurou pun akhirnya menegapkan tubuh dan membalas pandangan si mantan bayangan dengan pandangan khas miliknya—tapi, tetap saja, terasa kosong.
"Akashi-kun," Kuroko menghela napas. "Untuk pertama kalinya, aku melihatmu yang seperti ini."
Seijuurou terkekeh—terdengar serak. "Seharusnya kau bangga, Tetsuya."
"Tidak sama sekali."
Keheningan melanda. Rintik-rintik salju masih turun, dunia masih dihiasi oleh kristal putih yang membuat semua orang berjaga-jaga. Seijuurou melirik ke samping kiri, melihat jendela apartemen Kuroko yang menampilkan segala akses luar yang cukup dan lengkap untuk dilihat. Ia abaikan pandangan interogasi dari Kuroko yang terus menghujami pandangan datar yang—menurutnya—menggelikan.
Lagi-lagi, Kuroko melihat Seijuurou melamun.
Pikiran lelaki itu berkecamuk. Sungguh, Seijuurou heran. Apa yang ada dipikirannya saat itu? Kenapa baru teringat sekarang sejak semua sudah ia perbuat? Kenapa segala memori menyakitkan yang ia torehkan pada seseorang baru ia ingat ketika mereka berpisah? Dan juga, Seijuurou sampai sekarang tidak mengerti mengapa otaknya yang sering dipuji oleh banyak orang itu baru memberikan penjelasan tentang segalanya?
Sungguh, ini tidak lucu.
Seijuurou menghembuskan napas.
Kuroko pun menatapnya dalam diam.
"Untuk saat ini, aku tidak bisa memberikan solusi yang baik untukmu." Kuroko bersuara, nadanya terdengar datar meski dalam hati dia cukup gelisah. "Tapi setidaknya, carilah gadis itu—tanyakan baik-baik. Jangan memaksakan diri, Akashi-kun."
Seijuurou menyisir poninya ke belakang. Poin yang diberikan Kuroko cukup membantunya. Saat ini, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Belum ada penjelasan sama sekali mengenai kenangan aneh yang tiba-tiba terlintas semenjak dirinya bertemu dengan satu perempuan di kedai sederhana. Tanpa mengucapkan terima kasih atau semacamnya, segera Seijuurou mengambil mantel di gantungan pintu dan membuka akses masuk apartemen milik Kuroko Tetsuya.
Hingga saat itu, Kuroko bertanya.
"Mau ke mana?"
Seijuurou pun menjawab, dengan seringai tipis yang terhinggap di wajahnya.
"Menjalani perintahmu, Tetsuya."
Pintu tertutup dengan bunyi pelan.
Meninggalkan Kuroko yang berkedip dengan ekspresi tak terbaca.
.
.
~ ancestry ~
.
.
Pada suatu malam, kedua mata kecilnya terbuka.
Yang pertama ia lihat adalah langit kamar yang terlihat temaram. Kedua matanya mengerjap. Dengan naluri yang dia punya, ia merentangkan tangan kanannnya dan memainkan jari-jari kecilnya—membuka, menutup, membuka, dan menutup. Kemudian, manik merah itu mengerling ke samping kiri, dimana ia mendapati sosok dewasa yang terus mendampinginya semenjak ia lahir.
Di pertengahan malam, Akashi Seiji terbangun dalam lelapnya tidur.
Ia perhatikan sosok ibunya dengan jelas. Wanita yang mengandung dirinya itu terlihat lelah. Meski ia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang dewasa, tapi otak kecilnya memroses kalau apa yang dilalui oleh mereka berdua ternyata cukup berat. Sebenarnya, sudah terlihat bagaimana ibunya ini merawat, membesarkan, dan menemani dirinya hingga menjadi bayi yang sehat dan masih mengerti apa itu kasih sayang dari orang tua.
"Ma ... Mama?"
Lihatlah. Karena terlalu lelah, ibunya tak kunjung membuka mata.
Seiji pun tak berniat lagi untuk memanggil. Dengan kemampuannya, ia duduk di atas ranjang—meski posisinya belum sempurna, ia tetap bersikeras untuk mempertahankannya. Tanpa menimbulkan satu suara, ia berguling ke ujung ranjang dan turun perlahan dari benda besar itu.
Akashi Seiji bukan bayi cengeng, dia bukan sosok yang terus bergantung pada orang dewasa. Di umurnya yang masih satu tahun enam bulan, ia bisa mempertahankan harga dirinya sebagai seorang bayi.
Seiji merangkak perlahan menuju jendela yang terkunci. Jendela itu tidak tertutup tirai, membuat bayi itu melihat betapa luasnya dunia luar. Kedua manik merah membulat lebar. Iris crimson memantulkan langit gelap yang dihiasi oleh kerlipan bintang. Ditambah dengan salju tipis yang menghujami kota, membuat bayi berambut merah itu menatapnya dengan bibir setengah terbuka.
Luar biasa, pikirnya.
Ia menepuk kaca jendela. Awalnya terdengar pelan, namun tak lama menjadi keras. Mungkin dia akan terus seperti itu kalau saja tak ada kedua tangan yang mengangkatnya ke udara menuju pangkuan hangat seorang mama.
"Indah, 'kan?"
Sang Ibu tersenyum simpul ketika Seiji meresponnya dengan semangat. Manik merah yang mengingatkannya dengan Sang Papa berbinar cerah, bibirnya mengatup dan terbuka, berbicara tak jelas dan asal menunjuk luar jendela yang masih terlihat gelap.
"Kenapa? Seiji mau ke sana?"
Anaknya mengangguk.
Sang Ibu tersenyum maklum.
Ia mengecup kening putranya dalam, "Baiklah, besok siang. Kita akan ke taman, oke?"
Sembari terus memangku Seiji di pelukannya, tangan lainnya menutup tirai jendela dan membimbing sang anak tunggal menuju kasur sederhana dan hangat.
Manik keabuan terus menatap Seiji yang terus terlelap. Bibir tipisnya melantunkan sebuah lagu yang membuat kedua mata merah mulai memberat. Dan tak lama, Akashi Seiji pun tertidur untuk yang kedua kalinya.
Ia tak tahu saat dirinya benar-benar terjun ke dunia khayalan, sang ibu tersayang tengah menangis dalam diam.
.
.
~ ancestry ~
.
.
Cuaca yang cukup baik untuk berjalan-jalan.
Entah dari mana keajaiban itu datang, tapi hari ini dan keesokan harinya Kuroko Tetsuya berencana untuk tidak masuk kuliah terlebih dahulu. Karena cuaca yang cukup ekstrim dan tidak stabil, pihak universitas mempersilahkan mahasiswanya agar tidak memaksakan diri melawan peristiwa alam yang jarang terjadi seperti sekarang ini.
Menggunakan mantel hitam dengan syal putih sebagai pelengkap perjalanannya, Kuroko melangkah keluar dari pekarangan apartemen dan pergi, memasuki lingkup masyarakat yang ramai. Meski sudah dua tahun tidak bermain basket, keberadaan tipis kepemilikannya masih sama—tidak disadari dan tak terlihat.
Uap hangat muncul dari kedua belah bibirnya. Kalau dilihat dari segi manapun, Kuroko memang lelaki yang imut. Banyak dari sekian teman-temannya yang berada di universitas maupun kenalannya dari fakultas lain menyimpang gara-gara dia. Kalau dalam sudut para gadis, mereka lebih menganggap Kuroko sebagai boneka antik yang keberadaannya perlu diantisipasi. Pemuda itu benar-benar manis, bahkan seorang gadis tulen sempat iri padanya yang memiliki kecantikan natural dan benar-benar luar biasa dari pandangan semua orang.
Setiap Kuroko melangkah, yang ada dipikirannya saat itu hanyalah Seijuurou seorang. Teman seperjuangan saat SMA, mantan kaptennya, dan orang yang berhasil menemukan kelebihannya.
Dia, Akashi Seijuurou, salah satu makhluk yang sangat dihormati olehnya di dunia ini.
Kuroko sebenarnya tidak mau terlalu mengerti bagaimana rupa dan kejadian yang dilalui oleh Seijuurou. Meski tak terlalu peka, tapi ia tahu ini adalah masalah serius yang menyangkut perasaan pria kepada seorang wanita. Kuroko tidak yakin apa Seijuurou menyukai gadis yang 'kabarnya' sedang dicari-cari ini.
Kuroko berhenti berjalan. Di tengah gerakan masyarakat, ia mengadah.
Awannya mendadak mendung. Salju kembali turun.
Kuroko termenung.
Sorot birunya yang seindah musim panas tiba-tiba redup. Hela napas ia keluarkan. Rasanya, kalau memikirkan sedalam ini, ia jadi tahu bagaimana rasanya menimbun sebuah beban yang kurang bisa ditangani. Akashi Seijuurou adalah salah satu manusia terhebat di dunia ini. Dia tahan banting, kuat, dan bisa mengelak segala ejekan dan melawan segalanya dengan kebenaran. Itulah yang Kuroko kenal dari Seijuurou.
Tapi, inilah hidup. Akashi Seijuurou yang sempurna pun kadang bisa terjatuh.
Kuroko melanjutkan langkahnya.
Dan kegagalannya tersebut diakibatkan oleh seorang wanita.
Tanpa sadar, ia sudah sampai di sebuah taman.
Meski dalam cuaca yang tak stabil seperti ini, netra miliknya masih bisa menangkap beberapa anak kecil yang berlarian, para ibu yang sedang bercengkrama, atau pun penjual minuman hangat di ujung sana.
Memasuki taman, ia terduduk di bangku panjang. Pandangannya tampak melamun. Tapi percayalah, ia sedang menatap intens bocah-bocah manis yang sedang bermain salju tak jauh dari tempatnya beristirahat.
Pemandangan yang indah, pikirnya.
Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku. Ia biarkan uap hangat terus menghambur dari kedua belah bibirnya. Kuroko terus terdiam. Ia tidak membawa apapun saat itu. Ingin rasanya dirinya membaca novel sembari menyicipi susu vanilla hangat, apalagi pandangannya sekarang pas dengan anak-anak yang sedang bermain.
Oh, itu pasti manis sekali, pikirnya lagi.
Kuroko terus terdiam. Sekarang, pemikirannya tak lagi tertuju pada Seijuurou seperti beberapa saat sebelumnya. Kini, Kuroko Tetsuya dengan imajinasinya yang luar biasa, ia sedang berpikir untuk membuat sebuah novel perdana agar bisa dibaca oleh semua orang.
Kuroko senang menulis, dia berharap dengan imajinasi dan tulisannya yang 'rencananya' akan ia kirim ke sebuah toko buku, bisa membuka wacana para generasi muda yang—
Manik biru menangkap sesuatu di antara warna putih. Pikirannya mendadak kosong.
Kepalanya pening.
Dia seperti sedang melihat seorang Akashi Seijuurou.
Tidak. Itu tidak mungkin. Akashi Seijuurou sedang dalam keadaan yang tidak baik. Pemuda tersebut takkan mungkin pergi ke tempat seperti ini. Setahunya, Seijuurou tidak pernah membuka dan membaur, apalagi berjalan-jalan di taman seperti orang idiot. Bukan. Sudah jelas manusia yang sempat terlintas bukanlah Akashi Seijuurou.
Lalu, siapa?
Kuroko sibuk mencari-cari, manik biru terang memelototi setiap orang yang berada di satu tempatnya saat ini. Dan saat itulah, ia membeku. Pemuda itu terdiam. Tapi fisiknya kini sudah berdiri dengan tangan terkepal.
Untuk pertama kalinya, Kuroko merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Dari beberapa meter tempatnya berdiri, ia dapat melihat dua sosok yang amat familiar sekali. Seorang wanita, dan satu anak kecil. Mereka berdua tampak bahagia, bahkan sepertinya tak menyadari dengan pandangan tajam yang Kuroko layangkan. Mereka berdua sedang membeli minuman hangat lewat tempat penjual minuman, kemudian pergi berkeliling taman dan berjalan menjauh dari tempat si biru langit berdiri.
Kuroko tak tahu apa yang sedang ia lakukan. Tapi ia berlari.
"Seiji, pelan-pelan. Nanti terpeleset..."
Samar-samar, ia dapat mendengar nasehat lembut dari sang ibu.
Kuroko berlari cepat, meski langkahnya sedikit terseok akibat tebalnya salju yang menumpuk di atas tanah. Tapi, ia tidak peduli. Yang diinginkannya saat hanya mendekati sosok tersebut, menggenggam tangannya, dan memaksa wanita itu menoleh kepadanya.
Mereka berdua terdiam.
Kuroko mengatur napas, ia menatap wanita yang terkejut melihatnya.
Bahkan mereka tak sadar putra sang ibu kini sudah berjalan-jalan dengan sedikit sempurna.
Sungguh, situasi ini benar-benar gawat.
.
.
~ ancestry ~
.
.
Akashi Seijuurou memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya untuk beberapa saat.
Sejak kunjungannya yang mendadak di apartemen Kuroko Tetsuya, Seijuurou memutuskan untuk menginap di sebuah hotel pusat kota. Hotel berbintang lima yang tak semua orang bisa menempatinya. Akashi Seijuurou adalah orang hebat dan dikenal di semua negeri. Jadi tak heran kala mereka yang mendengar namanya, akan berdecak kagum dan menuruti perintahnya begitu saja.
Itulah untung bagi semua orang yang berada di rantai teratas.
Saat ini, Seijuurou sedang duduk dengan tenang. Dengan kopi yang mengepul di atas meja, pemuda itu berada di balkon hotel sembari menikmati keramaian Tokyo yang ada di bawah.
Lupakan Seijuurou yang menangis tadi pagi. Dalam sekejap, ia sudah berubah menjadi seorang Akashi Seijuurou yang asli. Dengan beberapa lembar kertas kerja yang berada di tangan, manik belang terus menelusuri kalimat demi kalimat yang telah dikirim langsung dari sekretaris lewat email pribadinya.
Seijuurou memutuskan untuk cuti dan mengawasi perusahaan dari luar. Segala rapat dan pertemuan penting untuk minggu ini ia batalkan tanpa terkecuali. Semua sudah aman terkendali.
Sejujurnya, tidak ada yang bisa melawannya di dunia ini.
Kalau Seijuurou mau, mungkin dia sudah menjadi pemimpin dari negeri ini. Seijuurou mungkin sudah termasuk menjadi orang yang paling berpengaruh untuk seluruh dunia. Ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat sempurna. Dengan kejujuran serta cerdiknya dia dalam memutar otak, tak ada yang bisa melawannya atau membantah segala ucapan yang ia katakan.
Tapi, mungkin pemikiran angkuhnya itu bisa dihancurkan oleh tamparan seorang wanita.
Mengingat semua itu, membuat tangan Seijuurou meletakkan kembali berkas-berkas penting milik perusahaan.
Helaan napas ia hembuskan, punggungnya disandarkan di kursi kayu yang nyaman. Manik belang kembali terbuka, menatap langit tanpa bintang.
Selanjutnya, apa yang akan ia lakukan?
Sungguh, Seijuurou tidak tahu.
Langkah apa yang harus dia tuju terlebih dahulu? Mencari kembali wanita itu, mengunjunginya, kemudian meminta penjelasan? Begitu?
Kenapa rasanya terlalu mudah?
Tidak.
Ini sulit, pikirnya.
"JANGAN MENYENTUHKU!"
Suara lembut dan melengking, begitu menyakitkan—seperti tersiksa di dalam diri. Perempuan yang baru ditemui Seijuurou siang tadi, membuat batin serta hatinya tak tenang.
Kembali, ia menghela napas.
Ponsel yang berdering membuat lamunannya terputus. Layarnya menampilkan sebuah nama yang membuat dirinya sejenak membisu. Beberapa detik, akhirnya ia mengangkat panggilan tersebut.
Sebelum menyapa, Seijuurou menutup kedua mata.
"Halo?"
Suaranya serak.
"Seijuurou."
Sapaan yang penuh ancaman, pemuda yang dimaksud hanya diam saja.
.
.
~ ancestry ~
.
.
Kekhawatiran yang terjadi di antara mereka ternyata benar.
Kuroko menarik segala pemikirannya. Memang, Seijuurou adalah sosok yang sempurna—pendapat orang itu takkan pernah salah.
Mereka duduk di sebuah bangku panjang dengan jarak yang membentang di antara keduanya. Kuroko memperhatikan sosok kecil yang kini sedang berjalan dan bermain dengan tumpukan salju di depan sana.
"Dia ... Seiji."
Seiji. Akashi Seiji.
Anak kecil berumur satu setengah tahun. Masih dalam tahap pertumbuhan dan belajar berjalan. Anak laki-laki yang sangat mirip dengan ayahnya. Rambut merah serta iris yang senada.
Segalanya mirip dengan dia, Akashi Seijuurou.
"Aku sama sekali tidak menyangka kau bisa menyembunyikannya selama ini."
Kuroko berkata, sosok lain yang duduk di sampingnya jelas tersentak. Ia tahu, bahwa tubuh ringkih itu gemetar. Pemuda berambut biru seindah musim panas mengerti mengapa kini telah ada sepucuk air mata yang tertampil di kedua mata keabuan.
Sungguh, ia paham.
Gadis ini menanggung semua beban sendirian—tanpa dibantu siapa-siapa.
Kuroko Tetsuya sama sekali tak pernah menyadarinya.
'Kenapa kau membiarkan wanita ini yang menanggung bebanmu, Akashi-kun?'
"Aku mengerti..." Kuroko tersenyum sedikit, ia menggeser duduknya agar bisa menenangkan si gadis manis. "Tak apa. Aku bisa menyimpan rahasia. Kau bisa mengatakannya kalau hatimu sudah siap."
Kuroko tahu. Sebagai seorang pria, tentu ia tidak tahu bagaimana menjaga seorang anak sendirian—ah, bukan dia yang harus dipermasalahkan di sini. Melainkan sang perempuan yang terus diam dengan tubuh ringkih. Sekilas, gadis ini terlihat sakit. Badannya kurus dan terlihat depresi, pemuda bermata biru sama sekali tidak paham akan apa yang sudah dilalui oleh wanita di sampingnya ini.
"Aku ... tidak bermaksud untuk menyembunyikannya," Setelah lama terdiam, si gadis membuka suara. "Aku haya takut ... Akashi-kun akan menolak keberadaan Seiji."
Kalau saja gadis ini seperti perempuan pada umumnya, mungkin dirinya pasti akan mengejar Akashi Seijuurou untuk meminta pertanggungjawaban sampai ke ujung dunia. Tentu saja, siapa kaum hawa yang akan menolak keberadaan pria itu? Meski dingin dan cuek, semua orang tahu dia peduli. Laki-laki itu takkan pernah meninggalkan sesuatu yang seharusnya ia lakukan. Semua orang yang mengenal Akashi Seijuurou pastilah berpikiran seperti itu. Seperti mereka berdua.
Kuroko sudah sepantasnya mengerti fakta dan kenyataan, mengingat dirinya adalah salah satu yang mengerti Seijuurou dari luar dan dalam.
Tapi, perempuan ini?
Kuroko menundukkan tubuh, namun matanya masih terus mengawasi keberadaan Seiji yang masih berjalan-jalan dikelilingi salju. Meski begitu, ia juga tak lupa melirik-lirik gadis yang kini terduduk, melamun dengan pikiran berkabut.
"Apa kau tahu apa yang kupikirkan saat itu?"
Kuroko tidak menjawab.
"Saat aku mengetahui kehamilanku, aku sama sekali tidak percaya—"
Angin dengan suhu rendah pun tiba-tiba muncul.
"—dan berniat membunuhnya."
Seandainya saja, kalau Kuroko Tetsuya merupakan sosok yang tidak bisa menjaga perasaan, mungkin pemuda itu sudah berdiri dan memelototi wanita di sampingnya. Ia akan bertanya dan mencaci-maki dirinya yang dengan mudah membunuh janin yang tidak berdosa. Apalagi, itu merupakan anak dari temannya! Akashi Seiji, seorang keturunan yang lahir secara tak sengaja dari keluarga Akashi Seijuurou.
Tetap saja, Kuroko tidak akan mengerti. Dia adalah laki-laki.
Dan seorang pria takkan pernah mengerti perasaan wanita yang telah dihamili.
.
.
~ ancestry ~
.
.
Reader's POV
Aku bersyukur saat itu, aku bertemu dengan Kuroko Tetsuya.
Sejujurnya, aku tidak terlalu mengenalnya saat duduk di bangku SMA. Kuroko-kun adalah orang yang jujur, tapi dia selalu menghilang—entah kenapa. Dia juga teman dari Akashi Seijuurou. Yang bisa kukatakan, dialah yang terdekat selain Midorima Shintarou. Bahkan kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kali aku berbicara selebar ini padanya.
Kesan pertamaku tentangnya adalah; dia pengertian. Kuroko-kun tidak memasang wajah terkejut dan bertanya macam-macam. Dalam sekali lihat saja, dia sudah tahu apa yang terjadi padaku. Setelah itu, ia bertanya hal-hal mengenai seputar Seiji; hal-hal umum dan tidak terkesan menuntut.
Hanya saja, selama pembicaraan kami berlangsung, aku tahu dia kasihan padaku.
Tapi, aku tidak merasa tinggi hati dan emosi. Ingatlah, aku seorang manusia di sini. Dan aku ... adalah korban. Korban pelampiasan dari Akashi Seijuurou, teman terdekatnya sendiri.
Sudah sepantasnya aku dikasihani, bukan?
"Perlu kuantar?"
Kuroko-kun bertanya saat aku menggendong Seiji untuk beranjak pulang. Hari mulai gelap, saatnya pulang. Sebelum benar-benar meninggalkan taman kota, aku tersenyum dan menolak permintaannya. "Tidak. Terima kasih, Kuroko-kun."
Lihat, pemuda itu kembali tersenyum. Wajahnya begitu tenang dan manis. "Baiklah, hati-hati di jalan."
Kemudian, aku melirik ke Seiji.
"Sayang, katakan sampai jumpa pada Paman Kuroko."
Mata Seiji mengerjap pelan, aku tertawa pelan. Seiring dengan itu, Kuroko-kun beranjak mendekat. Ia memegang tangan mungil Seiji dan menggoyangkannya pelan—mengajak bersalaman. "Sampai jumpa, Seiji." Katanya singkat.
Seiji tidak menjawab apapun. Wajahnya terlihat bingung.
Dan di detik itu, kami berpisah. Sepanjang jalan aku menggendong Seiji dengan erat, berharap anakku ini tidak terbawa angin saat aku membawanya. Kueratkan topi di kepalanya agar tidak terbang. Yah, setidaknya si kecil ini tidak kedinginan, 'kan?
Tanpa alasan, aku tertawa kecil.
Untuk saat ini, lupakanlah Akashi Seijuurou. Meski kini rahasia yang telah kututup rapat telah terbongkar, aku tidak terlalu peduli lagi. Karena aku tahu, ada Kuroko-kun di sisiku. Dia yang akan membelaku nanti. Ya, aku yakin itu.
Karena dari tatapan matanya saja, sudah menunjukkan kalau 'memang' Akashi-kun yang bersalah dalam kasus ini.
Tapi, kalau tidak?
Lagipula, Akashi-kun adalah temannya.
Sekali lagi kukatakan, aku tidak peduli.
Yang kupedulikan hanyalah hidupku dan Seiji. Akan kubesarkan anak ini dengan penuh suka cita dan tanggung jawab. Aku akan merawatnya sebagai seorang ibu, bukan seseorang yang menjadi korban. Aku berharap anak ini yang akan menggantikannya menjadi sosok yang berguna di dalam masyarakat—kalau bisa, mengalahkan ayahnya.
"Seiji," Aku memanggilnya. Dia yang kini sedang mengulum jari melirikku.
Aku membalasnya dengan kecupan lembut di pipi.
"Mama mencintaimu, Sayang."
Apapun yang terjadi, Mama akan mempertahankanmu. Meski Papamu berniat untuk merebutmu dariku.
.
.
~ ancestry ~
.
.
Normal POV
Kuroko berhenti melangkah.
Ia menatap langit yang disinari oleh warna kejinggaan.
Kembali terbayang, sosok wanita muda yang tengah menggendong anak.
Seketika, maniknya menggelap.
Dalam sekali lihat, dia sudah tahu.
Akashi Seijuurou tak pantas menerima maaf dari perempuan itu.
.
.
.
.
Di tengah dinginnya malam, Akashi Seijuurou melirik jendela.
Salju kembali berhenti malam ini. Ia tidak mengerti mengapa cuaca di Jepang pada awal tahun selalu saja buruk. Televisi kembali menayangkan ada badai salju yang cukup besar di sisi barat Hokkaido, dan itu membuatnya mematikan benda itu dan beranjak menuju balkon.
Ia terdiam. Pikiran ia heningkan sejenak.
Kembali terbayang, sosok wanita muda yang menolak sentuhannya.
Ia tidak tahu apa maksudnya itu, sungguh.
Mulai besok, pria itu akan mengungkap siapa dia sebenarnya.
Seijuurou akan mendapatkannya. Meski ia menolak, meski wanita itu mengancamnya, dia tetap akan memaksanya.
Ia bahkan tak peduli jika wanita itu akan meronta dan tersiksa.
.
.
continue
.
.
a ooc notes:
hai, semuanya. apa kabar semua pembaca ancestry? baik, kah?
mohon maaf sebenar-besarnya untuk fanfik ini. padahal plotnya cukup pendek lho, tapi kok malah molor apdetnya. ah, maafkan saya ya teman-teman. saya berharap untuk minggu depan saya kembali menulis seperti biasa. yah, empat bulan terakhir memang bulan-bulan penuh cobaan.
meski agak awal ngomongnya, tapi selamat berpuasa buat teman-teman yang merayakannya ya!
sampai jumpa di chapter berikutnya!
.
.
super thanks:
Hikaru Kisekine, Yoshimura Arai, Ai Minkyoo Chan, yeongwonhii, Kojima Miharu, Kazuyaaa, urnel, Laysief, Yumi Ishikawa, m, Emerarudori, akashiro46, Aoi Yukari, mei123, lola, Nozuki0107, Alfiona571.
.
.
Terima kasih sudah membaca!
Mind to Review?
