Normal POV

Cuaca membaik, matahari pun menampakkan sinar setelah sekian lama. Aktivitas dapat dimulai seperti biasa, segala sesuatu terlihat kembali seperti semula ketika dunia menginjak akhir bulan. Musim semi hampir tiba, bunga-bunga akan mekar dalam waktu dekat. Oleh sebab itu, kedai pinggir kota pun tidak lupa untuk terus bersemangat agar terus mencari pelanggan dengan masakan mereka.

Seorang nenek tua memerhatikan salah satu anak buahnya dalam diam. Seorang wanita, berusia dua puluh tahun ke atas, dengan tingkah biasa saja, tengah merapikan beberapa meja depan serta menyapu lantai dengan tatapan tak biasa.

Nenek yang merangkap sebagai pemilik kedai itu menghela napas. Ia yakin wanita tersebut bertingkah aneh akibat kegaduhan yang diperbuat oleh salah satu pelanggan yang berkunjung beberapa minggu lalu.

Dengan perlahan, wanita tua itu berjalan ke objek perhatian. Mata yang sudah terlihat keriput tengah menatap seorang wanita muda yang bekerja keras meski fisik serta mentalnya benar-benar jatuh dan terlihat tidak semangat.

"Nak."

Wanita muda itu menoleh, ia tampak terkejut dan segera menunduk hormat, "Obaa-chan, s-selamat pagi."

Lihat, bahkan suaranya terdengar gemetar begitu.

"Apa izin yang kuberikan masih belum cukup bagimu?" Nenek itu tersenyum maklum, "Kau bisa cuti lagi untuk seminggu ke depan kalau kau mau. Jangan memaksakan diri, Nak."

"Ah, tidak … kurasa itu tidak perlu," Ia memberikan seulas senyum, "Jatah cuti yang obaa-chan berikan sungguh membantu. Kurasa untuk membayarnya, aku bisa lembur untuk beberapa hari ke depan."

Nenek tersebut pun terpengarah. Sungguh, anak buahnya yang satu ini memang merupakan figur wanita yang luar biasa. Ia bekerja keras, teliti, dan cerdas. Kalau saja ia memiliki era pendidikan yang cukup, mungkin gadis ini bisa direkrut di sebuah perusahaan besar.

"Terkadang aku berpikir, Sayang," Wajah wanita itu sontak memerah, "Kenapa kau bisa bekerja keras seperti ini? Apa ada seseorang yang harus kau biayai?"

Wanita berambut panjang tersebut sontak terdiam. Sapu yang baru saja ia pakai mendadak dirinya genggam dengan erat, pelipis mulai dihiasi oleh keringat tak biasa. Hal tersebut tentu tidak luput dari penglihatan rabun sang pemimpin. Nenek pun terdiam sembari menunggu jawaban.

Tapi, semua berubah ketika anak buahnya itu melihat seuntai senyum.

"Aku tidak memaksamu untuk menjawab. Tidak apa, Nak."

Manik hitam keabuan itu menatap atasannya dengan tatapan tak berarti. Ia tersenyum pasrah dan menunduk sebagai ucapan terima kasih.

.

.

Dalam seminggu ini, suasana kota memang sangatlah tidak baik. Meski begitu, Kuroko tidak mengerti apa yang membuatnya terus melangkah dan melewati beberapa orang seperti manusia lupa diri. Ia tidak tahu apa lagi yang harus dirinya perbuat, Kuroko Tetsuya tahu bahwa ia sudah memikirkannya secara matang dan inilah keputusannya.

Akashi Seijuurou sudah mengatakan alamat tempat tinggalnya untuk sementara, dan itu letaknya berada di pusat kota dengan keramaian yang luar biasa. Tokyo memang merupakan salah satu kota terpadat di negeri ini, jadi tak heran pemuda itu harus menempuh waktu hingga tiga puluh menit.

Otak Kuroko terus memikirkan. Ia mengolah dan beropini tentang resiko apa yang muncul apabila ia melakukan ini semua. Ia yakin bukan dialah yang harus terbebani di sini. Wanita yang ia kenal seminggu lalu benar-benar membuatnya tidak bisa berhenti untuk berpikir.

Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.

Bayangan mengenai seorang anak laki-laki, berambut merah yang kakinya bahkan belum bisa berjalan dengan baik, membuat Kuroko Tetsuya tahu kalau hal ini adalah sebuah konflik yang membuatnya tak habis pikir. Dia, Seiji, seorang anak satu setengah tahun yang belum mengetahui apa itu jahatnya dunia—mengapa di umurnya yang masih belia ia harus diikutkan oleh konflik orang tuanya?

Tak terasa, Kuroko Tetsuya sudah sampai di tempat yang ia inginkan. Ia pandangi pintu besar khusus tamu istimewa itu dengan tampang datarnya. Kemudian, ia melirik dua penjaga yang mengawasi di kanan serta kiri pintu, bercengkrama ria tanpa menyadari kehadirannya.

"Permisi, apa ini kamar Akashi Seijuurou?"

Suaranya pun mampu membuat salah satu wajah pengawal mendadak putih.

.

.

.

ANCESTRY

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Ancestry by stillewolfie

Akashi S. & Reader/OC

OOC, future-life, teikou-era, typos, etc.

.

.

hanya satu yang mereka harapkan—

.

.

CAPITULO FIVE

(Volver)

.

.

—yaitu saling bertemu tanpa dihiasi oleh jarak.

.

.

Akashi Seijuurou adalah manusia sempurna.

Ketika kau mendengar kata 'manusia sempurna', pasti dirimu akan mendengus tidak percaya dan berpikir hal itu hanya lelucon semata. Kau menganggap, kalau semua hal itu sangat tidak masuk di akal. Semua orang yang diciptakan di dunia ini tidaklah sesempurna yang beberapa orang pikirkan—mereka bukan Tuhan. Tapi, ketika mendengar nama Akashi, apa kau bermaksud untuk berpikir dua kali?

Bagiku, tanpa berpikir dua kali pun, aku pantas menyebutnya seperti itu.

Berjalan-jalan sejenak mungkin bukanlah kesalahan. Melangkah memerhatikan ekspresi setiap orang tentu merupakan sebuah hiburan bagiku. Mereka memiliki masalah masing-masing, termasuk diriku yang rapuh ini. Manusia yang terlalu memikirkan manusia lain tentu merupakan sosok terbodoh—dan tentu saja, manusia itu adalah diriku sendiri.

Sejak pertemuan kami waktu itu, aku tidak bisa menyingkirkan dirinya dari pikiranku. Ia sudah terlihat dewasa sekarang, benar-benar berbeda apabila menatap wajahnya dari televisi, iklan, atau pun media—Akashi Seijuurou dengan rambutnya yang poninya sedikit memanjang, sangat berbeda ketika diriku menatapnya di saat akhir pertemuan.

Entah apa yang kupikirkan, tapi aku sangat berterimakasih. Aku bersyukur dia masih tampak sehat hingga saat ini. Di tengah kesibukannya, ia tetap memikirkan kesehatan serta segala aspeknya. Dalam sekali pandang, aku tahu dia termasuk pria yang gila kerja—tapi aku sama sekali tidak menyangka Akashi-kun masih bersikap seperti manusia biasa yang tahu apa manfaat dari makanan dan istirahat.

Aku menghela napas, uap karbon tentu keluar dari bibirku yang terbuka. Aku yakin musim semi hampir tiba, tapi tetap saja, cuaca yang dingin seperti ini tidak bisa dilawan oleh tubuh seperti ini. Oleh sebab itu, aku melangkah, memberikan kakiku kebebasan untuk melanjutkan langkah. Seiji sudah dititipkan oleh bibi tetangga yang sudah kupercaya, jadi tak apa 'kan kalau aku sedikit egois dan mengabaikan kewajiban?

"Siapa? Kau mengenalku?"

Aku tahu ketika Akashi-kun bertanya seperti itu, pikiranku mendadak kosong. Aku tidak tahu apalagi yang harus kuperbuat, hati ini sudah terlanjur emosi dan kecewa. Memang, apa yang sebenarnya kuharapkan? Kalau kukatakan aku menginginkan dia tahu siapa diriku, apa semua masalah ini akan selesai begitu saja?

Tidak.

Akashi Seijuurou. Mendengar namanya saja, tentu semua orang akan terkejut dan takjub seketika. Mereka semua tahu siapa dia. Pria tunggal Akashi yang saat ini memimpin Perusaahan Akashi yang bergerak di bidang bisnis. Perusahaan tersebut tentu tak dikenal hanya di Jepang saja, Amerika dan Australia pun tentu pasti melakukan kerja sama dengan calon pemimpin dunia masa depan itu.

Lalu, kalau aku menyebarkan sebuah fakta bila Akashi-kun memiliki seorang anak … kira-kira, apa yang terjadi?

Sungguh, aku tidak mau memikirkannya lagi.

Perusahaan serta Keluarga Akashi sedang berada di masa kejayaannya. Dan diriku yang terlihat biasa serta rapuh ini, sama sekali tidak pantas untuk mencampuri urusan mereka dan membawa nama Seiji. Aku masih memiliki harga diri. Aku tidak akan pernah melibatkan diriku sendiri ke suatu masalah yang lebih besar lagi.

Ketika berbelok ke kanan, kudapati sebuah toko kecil yang menjual berbagai pernak-pernik permainan. Mataku langsung berfokus pada topi santa yang masih dijual meski natal telah terlewat. Segera kuhampiri dan melihat-lihat isinya. Kuputuskan untuk membeli beberapa mainan untuk diberikan pada Seiji nanti. Di sana terdapat kumpulan bola dengan berbagai ukuran, pandanganku fokus pada bola mini berbentuk basket yang terdapat di ujung keranjang. Setelah memikirkan tingkat keuangan dan kerugian bila mengeluarkan uang lebih, aku memutuskan untuk mengambil bola basket mini, satu paket mobil-mobilan, ultraman, serta topi santa yang kuyakin ukurannya sangat pas dengan kepala kecil Seiji.

Aku berharap di saat-saat bahagia seperti ini, orang itu bisa mendampingiku.

Memilih mainan untuk anak tercinta bersama seorang pasangan … tentu sama sekali tidak buruk, 'kan?

"Biarkan aku yang membayar ini."

Aku tersentak hebat, melirik ke kanan dan menatap seorang pemuda cukup lama.

Membiarkan dirinya berbicara dengan pihak kasir sebentar, aku sama sekali tidak sadar bahwa lengannya yang cukup lembut itu menarikku keluar dari toko. Mengerjap pelan, kutatap Kuroko Tetsuya yang kini tersenyum tipis.

"K-Kuroko-san," Aku tergugup, terlalu terkejut. "Sejak kapan kau di sana?"

"Sebelum kau muncul di toko itu, aku sudah ada di sana untuk melihat-lihat," Kubiarkan ia berjalan di sampingku. "Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu."

Kami melangkah beriringan dalam diam. Terkadang aku sedikit gugup ketika ia menarik tanganku agar lebih dekat dengannya. Jalanan terlalu padat. Mungkin ia tidak mau aku terpisah darinya. Pandangan kami masih lurus ke depan. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan Kuroko-san yang terlihat menempel padaku. Pikiranku selalu positif, aku mencoba untuk tidak terlalu terbuai. Kami adalah teman SMA, setidaknya kami sudah saling mengenal. Mungkin karena itu aku tidak bermaksud untuk memberontak dan membiarkan dirinya yang memimpin jalan.

Hingga saat itu, mataku sedikit melebar. Kami telah sampai di sebuah tempat yang cukup familiar. Sebuah taman kecil di pusat kota. Sekolah dasar tidak lagi diliburkan, hal itu merupakan salah satu alasan mengapa taman ini tidak seramai biasanya. Kuroko-san membawaku ke sebuah bangku yang waktu itu kami duduki bersama. Dan setelah itu, aku menunggunya untuk memberikan suatu alasan serta apa maksudnya dengan ini semua.

Kami duduk bersebelahan, disertai sebuah jarak yang membentang. Meski aku sudah menceritakan segalanya, bukan berarti kami digolongkan sebagai teman dekat. Terlepas dari segala kelebihannya, Kuroko Tetsuya adalah satu-satunya Generasi Keajaiban yang dapat kupercaya.

Karena aku yakin dialah yang akan membuat segalanya menjadi jelas.

.

.

Kuroko Tetsuya terdiam dengan wajah datar.

Ia yakin beberapa menit yang lalu, dirinya berhasil memasuki hotel bintang lima itu dengan kekuatannya. Hanya saja, dirinya sama sekali tidak tahu apa alasan mengapa pengawal Akashi Seijuurou Yang Terhormat rela mengusirnya hingga hampir melibatkannya dengan baku hantam. Dapat dikatakan, memang ini merupakan kesalahan dari sikap keras kepala milik Kuroko sendiri. Kedua pengawal berbadan besar itu sudah berkali-kali menjelaskan bahwa tuan mereka tidak bisa diganggu untuk saat ini. Namun karena kemauan keras serta statusnya sebagai teman sekaligus bawahan dari Akashi, Kuroko rela memutarbalikkan fakta dan melawan nasihat dari pengawal-pengawal idiot itu.

Dan di sinilah dia, akibat kebodohan serta keegoisannya.

Kuroko Tetsuya kembali ditendang ke titik awal—pintu masuk hotel yang dimasuki oleh banyak orang.

Masih memasang wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa—meski dalam hati ia mengucapkan sumpah serapah—Kuroko berbalik dan melangkah tanpa tahu arah. Ia pandangi orang-orang yang kembali beraktivitas, anak-anak yang bermain bola di jalanan, atau pun para ibu dengan anak digendongan mereka sembari berbicara dan bercanda ria. Melihat hal itu, sontak membuat pria berambut biru langit kembali teringat oleh seseorang.

Seorang wanita, satu usia dengannya, namun memiliki suatu beban yang luar biasa berat.

Kuroko Tetsuya menyadari, kalau dunia ini terkadang tidak memiliki keadilan. Ia masih diberi kesempatan untuk kuliah dan menjalankan hidup sebagai seorang mahasiswa, sedangkan gadis itu sendiri harus melepaskan pendidikannya dan bekerja untuk menghidupi seorang anak. Terlebih lagi, Seiji merupakan seseorang yang penting baginya dan perempuan itu—karena dia adalah keturunan Akashi Seijuurou, manusia penting bagi mereka berdua.

Meski Kuroko berjalan, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada jalanan di hadapannya. Ia terus berpikir dan berpikir, memutar otak agar semua konflik ini dapat selesai. Ia tidak akan membiarkan gadis itu menderita karena Akashi. Oleh sebab itu, Kuroko memutuskan untuk memberitahu pemuda itu secara langsung—persetan dengan segala risiko yang akan di hadapinya bila terlepas dari masa lalu.

Karena Kuroko Tetsuya sadar, ini bukanlah masalah biasa.

Akashi Seijuurou dengan segala keangkuhan, kekuasaan, serta keabsolutannya itu harus dijatuhkan sekali-kali. Kuroko tidak akan membiarkan seorang gadis yang awalnya sama sekali tidak ada hubungan dengan mereka, harus terlibat oleh kecerobohan fatal yang Akashi buat. Semua ini butuh titik terang—pemuda bermanik biru pucat itu akan memberikan jalan pintas.

Manik tak sengaja melirik, langkah kaki sontak terhenti.

Mulut terbuka sedikit, menampakkan uap hangat akibat cuaca yang sedikit dingin. Toko mainan khusus anak-anak. Kuroko mengerjap, ia melangkah masuk, dan melihat-lihat segala isinya. Dari boneka beruang hingga robot-robotan, semuanya benar-benar terlihat polos dan menyenangkan. Kadang dirinya berpikir, apa ia masih sempat untuk kembali ke masa kecil yang bersih tanpa konflik?

Itu jelas tidak mungkin.

Ketika sedang melihat deretan mobil mainan, Kuroko Tetsuya sedikit terkejut saat mendapati sosok tak asing tengah memasuki ruangan. Wajah pucat serta rambut hitam panjang, berjalan sambil melihat-lihat seperti ia lakukan. Kuroko menegapkan tubuh, menatap dalam diam seorang wanita yang hingga saat ini sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

Ia biarkan wanita itu berjelajah, berjalan ke sana kemari, menyentuh mainan boneka hingga tongkat yang bisa menyala, serta memasang wajah berpikir yang terlihat transparan. Bahkan perempuan tersebut melewati Kuroko begitu saja, tanpa menyadari kalau Kuroko Tetsuya tengah berdiri di sana, mengamatinya.

Apa misdirection-nya terlihat begitu parah?

Kuroko tersentak kala ia menyadari kalau perempuan itu telah selesai memilih. Ia mengikuti langkahnya menuju kasir. Dan ketika lengan kecil itu hendak membayar, sontak pemuda bermanik biru muda langsung maju dan menghentikan perbuatannya.

"Biarkan aku yang membayar ini."

Ia tahu, tubuh sang wanita menegang. Mereka pun bertatapan sejenak. Sepasang langit cerah bertemu dengan hitam yang mendung. Kuroko mengabaikan wajah bertanya dari wanita itu, lalu membayar segala mainan yang sudah dipilih.

"K-Kuroko-san, sejak kapan kau di sana?"

Ia mengeluarkan senyuman tipis, membuat sang wanita merana dalam waktu beberapa detik.

"Sebelum kau muncul di toko itu, aku sudah di sana untuk melihat-lihat," Kuroko memelankan langkahnya dengan sengaja, menyesuaikan langkah kecil yang berjalan di sampingnya, "Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu."

Senyuman Kuroko terus terpatri, membuat wajah sang gadis pun kembali mengernyit.

Tanpa berkata apa-apa, Kuroko Tetsuya segera menarik lengan yang lebih kecil darinya untuk keluar dari toko. Mereka berjalan dalam kebisuan, bahkan saling menanyakan kabar pun sama sekali tidak dilakukan. Entah mengapa, ada rasa kesenangan tersendiri ketika sang gadis sama sekali tidak menolak sentuhannya. Kuroko Tetsuya benar-benar terlihat nyaman kala wanita tersebut berjalan di sebelahnya tanpa merasa terganggu atau melakukan sebuah tolakan.

Seperti pasangan kekasih, ya.

Ada sedikit kebingungan yang kentara ketika Kuroko menatap wajah ayu sang perempuan. Tanpa menjelaskan maksudnya, ia membawa gadis itu ke sebuah bangku panjang. Mereka terduduk dengan tenang, mengabaikan jarak yang terlihat jelas membentang.

Dan tanpa basa-basi, ia berkata langsung tanpa berpikir lagi.

"Aku berencana untuk bertemu Akashi-kun pagi ini."

Kuroko tahu, kala ia mendengar namanya, rasa panik yang gadis itu rasakan sama sekali tak dapat disembunyikan.

"Untuk apa kau katakan itu padaku?" Suara cicitan pun terdengar, dapat Kuroko lihat kalau tangan gadis itu saling menyatu dan terlipat di kedua pahanya. "Kuroko-san tidak bermaksud—"

"Ya, aku ingin mengatakan keberadaan Seiji," Mereka berdua bertatapan. Pandangan datar dan tajam itu menusuk secara langsung kedua manik keabuan yang melebar, "Dan juga, tentangmu."

Angin dingin berhembus. Helai hitam bergerak mengikuti udara yang bergerak. Bibir tipis sedikit terbuka—sang wanita terlihat sama sekali tidak percaya.

"Akashi-kun sudah kelewatan," Kuroko melanjutkan, "Ia sudah menyakitimu. Maksudku, tak adakah rasa untuk membuatnya menyesal? Kau mungkin sudah memberikan kepercayaan padaku. Hanya saja, aku tidak bisa memaafkannya," Ia menatap sepasang hitam yang masih membulat tak percaya. "Dia memberikanmu sebuah beban. Bahkan aku yakin kalau aku yang ada di posisimu, mungkin aku takkan sanggup menahannya."

Perkataan yang diberikan dengan intonasi datar dengan pandangan yang sama pula. Tidak ada ekspresi berarti jika dilihat dari dekat—dan sepasang manik hitam keabuan itu dapat melihat semuanya.

Dalam benaknya, ia sama sekali tidak menyangka.

"Aku tidak yakin bagaimana ekspresinya kalau ia tahu akan kebenaran," Kuroko tahu, wanita ini sakit hati dengan perkataannya. Namun ia yakin kalau langkah yang dirinya lakukan adalah yang terbaik untuk semua orang. "Tapi, percayalah dengan Akashi-kun, dia pasti akan menerimamu serta Seiji. Juga—"

Plak.

Sebuah gerakan yang membuat perkataan terhenti begitu saja.

Tamparan itu begitu pelan, namun suaranya menggema seisi taman.

Kuroko terdiam, sang gadis pun melakukan hal yang sama.

"Ini bukan masalah kepercayaan, Kuroko-san," Kuroko tersentak. Pipinya masih terasa panas. Rasa sakit itu mampu menyadarkannya. "Tentu saja, aku selalu percaya padanya—pada Akashi-kun," Tangisan tak dapat dibendung. Permukaan pipi tirus telah terhiasi oleh air mata yang muncul. "Tapi, apa kau tidak berpikir apa dampaknya? Bagaimana perasaan Akashi-kun ketika ia tahu semuanya?"

Suaranya serak. Manik tersebut telah dihiasi dengan kristal air mata. Pipinya memerah. Rasa sakit yang sama sekali tak tertahankan.

Kuroko Tetsuya dapat melihat segalanya secara jelas.

"Dia adalah penguasa…" Sang gadis bergumam, begitu pelan. "Akashi-kun masih terbilang muda. Tentu semua orang akan terkejut jika terdengar fakta bahwa, Akashi Seijuurou yang selalu sempurna, tengah menghamili seorang gadis biasa—" Ia terisak, "—apa kau sama sekali tidak memikirkan masa depannya?"

Mereka berdua terdiam dalam kebisuan janggal. Namun saat itu pula, Kuroko menyadari sebuah kesalahan. Sang Bayangan benar-benar lupa apa status Akashi saat ini. Pemuda itu sekarang tengah memimpin perusahaan besar, serta darah konglomerat yang tentu takkan membuatnya melakukan apa saja secara bebas. Bila pihak keluarga dan media mendengar semua ini, bagaimana nasib Akashi di masa depan?

Teman macam apa dia.

Kuroko tersentak kala merasakan wanita itu berdiri, bersiap untuk meninggalkannya. Sang gadis pun menunduk dalam, "Maaf sudah menamparmu, sampai jumpa." Dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah menjauhi Kuroko yang termenung dengan segala perbuatannya.

.

.

~ ancestry ~

.

.

Akashi Seijuurou duduk di sebuah sofa besar, berhadapan dengan seorang pria berumur yang terduduk di sofa seberang. Manik belang tersebut menatap dengan tajam, mengabaikan pandangan intimidasi yang diberikan oleh tamunya siang ini.

"Aku kembali menolak, Ayah," Seijuurou menghela napas. "Aku menolak pertunangan sepihak ini."

"Umurmu sudah cukup untuk menikah. Tentu kau tahu itu, Seijuurou." Akashi Masaomi, mantan pemimpin Perusahaan Besar Akashi, berkata dengan lantang pada anak tunggalnya yang keras kepala ini. "Aku sudah rela membuang masa tuaku hanya untuk berkunjung ke tempat yang seharusnya tidak kau kunjungi."

"Aku ke Tokyo karena urusan pribadi, kau tidak memiliki hak untuk ikut campur mengenai hidupku." Tidak ada rasa patuh yang tersirat dalam hati. Akashi Seijuurou benar-benar sudah dewasa dalam menjaga harga diri. Ia adalah seorang penguasa di sini—dan seorang pria tua bangka yang merangkap sebagai ayahnya juga sama sekali tidak pantas untuk memberikan perintah padanya. "Kalau kau ingin membicarakan hal lain yang tidak berguna, pintu depan siap terbuka untukmu, Ayah."

Melihat kekeraskepalaan anaknya yang memang selalu bodoh—sejenius apapun dia, Masaomi akan terus menganggap Seijuurou anak bodoh kala dia tidak mematuhi perintahnya—membuat pria berumur itu menghela napas. "Aku mengatakan yang terbaik. Aku tidak ingin kau menghabisi sisa masa mudamu dengan kertas-kertas perusahaan," Ia tidak mau dipermalukan lebih dari ini, oleh sebab itu Akashi Masaomi memilih untuk meninggalkan kamar hotel anaknya secara terhormat. "Kuberi kau batas seminggu untuk menyelesaikan masalahmu itu, sesudahnya kau harus kembali dan mengurus perusaahan pusat, Seijuurou."

Pintu pun tertutup dalam suara pelan. Akashi Seijuurou bersandar dan menutup kedua mata.

Dasar orang tua merepotkan.

Berdebat dengan Masaomi selama berjam-jam benar-benar membuang waktu. Entah apa yang direncanakan oleh Akashi Masaomi, yang jelas Seijuurou tidak peduli lagi. Ia tak habis pikir dengan jalan yang ditempuh oleh ayah tunggalnya itu. Seijuurou memijit pelipisnya, bingung harus mulai dari mana untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat dan sempurna.

Segera ia melangkah dan bersiap-siap, pergi dan tak lupa mengatakan pada para pengawal agar tidak usah mengawasinya.

Akashi Seijuurou akan bertemu dengan seseorang.

Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Kuroko Tetsuya?

.

.

~ ancestry ~

.

.

Sepasang manik crimson terbuka secara perlahan. Yang dapat ia lihat adalah plafon kamar yang tidak terlalu tinggi jaraknya. Akashi Seiji tengah membuka mata setelah tertidur lelap selama lima jam. Dapat ia rasakan kehadiran lain di sekitarnya, dan bayi itu mendapati seorang wanita yang familiar tengah duduk di sebuah meja kecil.

"Ma… par. La-var…"

Ketika mendengar suara rengekan mungil itu, sang ibu tersentak. Dengan terburu-buru ia membereskan buku-bukunya dan menggendong si kecil ke dalam pelukan. Bibir tipis tersenyum, "Lapar? Anak Mama lapar, ya?" Ia terkekeh dan membawa Seiji yang tengah mengulum jari-jarinya. "Baiklah, Mama sudah memasakkan sereal kesukaan Seiji~"

Sang Ibu meletakkan Seiji di bangku bayi miliknya. Manik merah itu terus mengikuti pergerakan ibunya yang kini berjalan ke konter dapur untuk memanaskan bubur yang telah disiapkan sebelumnya. Iris merah itu mengerjap pelan, bibir terbuka dan menutup, tangan terlentang seolah seperti ingin menggapai sang ibu.

Merasa telah diperhatikan, wanita itu menoleh ke belakang, tersenyum mendapati anaknya yang kini menatapnya dengan penasaran. Pandangan yang seolah, 'Mama sedang apa? Cepat kesini! Aku lapar,' membuatnya terkekeh pelan. Setelah meletakkan bubur tersebut ke sebuah mangkuk bayi, barulah ibunya berjalan menghampiri dan siap untuk memberikan Seiji sebuah asupan gizi.

Tidak lupa memasangkan serbet putih bergambar bola basket kesukaan, Seiji dengan sigap menangkap sendok berisi bubur itu dengan mulutnya. Sang Ibu terus menyuapi Seiji dalam diam, sekali-kali membersihkan bibir kecilnya yang kotor akibat sisa-sisa makanan.

"Seiji tidak nakal 'kan di rumah bibi? Senang bermain dengan Eri-chan seharian, hm?"

Seiji tidak menjawab, ia hanya berfokus pada bubur yang diberikan oleh ibunya. Ia terlihat sangat lapar.

Hingga berselang beberapa menit setelahnya, Seiji telah selesai dengan makan malamnya. Segera wanita tersebut memberikan susu yang sudah berada di dalam dot dengan takar panas yang pas. Dengan pemahamannya sebagai seorang bayi, sudah saatnya Seiji bisa memegang dot botolnya sendiri. Oleh karena itulah, ia meminum susunya dalam diam dan penuh konsentrasi—ia tak ingin susu tersebut tumpah dan kembali merepotkan perempuan muda yang selalu mendampinginya.

Selagi menunggu Seiji menghabiskan susunya, seorang gadis berusia muda tengah menutup dan mengunci semua jendela. Ia tidak mau angin malam masuk dan membuat anaknya yang manis itu masuk angin. Jadi ketika selesai, ia kembali ke dapur dan mendapati Seiji sedang memandanginya dengan tatapan datar—

—atau mengintimidasi?

Sang Ibu terkekeh pelan.

"Semakin lama kau semakin mirip dengan Papa, Sayang." Mengabaikan alis kecilnya yang terangkat, ibunya segera mengangkat Seiji untuk bermain di ruang tamu. "Papamu juga memiliki tatapan seperti itu, kau tahu?"

Semua mainan yang ia beli tadi sore telah dirinya letakkan di sana saat Seiji terlelap tadi. Sudah saatnya anak itu bermain serta meningkatkan kreativitasnya dengan mainan-mainan lucu ini. "Paman Tetsuya membelikannya untukmu. Mama yakin Seiji pasti menyukainya."

Pandangan Seiji kini dipenuhi oleh benda-benda asing. Maniknya melebar, mencoba untuk mengetahui mainan-mainan yang baru saja dilihatnya hari ini. Mobil-mobilan berwarna biru dan merah, tongkat hitam yang bisa menyala, satu paket robot ultraman dalam berbagai versi, serta bola basket mini yang terbuat dari kain.

Seiji mengerjap, bocah itu menatap dalam diam. Tak lama, ia merangkak menuju bola basket yang ukurannya tidak jauh dari tubuhnya.

Melihat itu, lantas sang ibu tersenyum maklum.

"Ini namanya basket, Seiji."

"Uh?" Memeluk bola itu dengan kedua tangannya, Seiji menatap ibunya dengan pandangan heran. "Ba … bet?"

Manik hitam lantas kembali bersinar. "Ya! Dulu Papa sering bermain dengan bola ini…"

Telinga mendengar, otak memroses. Kembali, ibunya itu mengucapkan kata yang sama lagi. Empat huruf disertai satu kata berulang.

Papa.

"...Papa."

"Eh?"

"Papa!" Seiji tertawa, wajahnya terlihat antusias. "Papa! Papa! Papa!"

Lain ekspresi sang anak, lain pula dengan ibunya.

Sang Ibu terhenyak. Manik yang awalnya terlihat terang itu kian menggelap.

Namun, bibir tersebut sama sekali tidak memperlihatkan gurat kecewa.

Senyum tulus sangat terlihat di wajahnya yang tampak putus asa.

"Ya … Papa, Sayang. Papa..."

Seiji benar-benar mirip dengan Seijuurou. Fisik serta ekspresinya—sangat mirip dan terlihat seperti pantulan cermin. Sang Ibu sempat heran mengapa tidak ada gen apapun darinya yang diwariskan oleh anak semata wayangnya ini.

"Papa Seiji adalah orang yang hebat," Menghentikan aktivitas memantulkan bola basket itu, Seiji terdiam dan mendengar perkataan ibunya. Ia melihat seorang wanita dilengkapi wajah kecewa, ditambah dengan bekas jejak air mata—tengah berbicara dengan suara lembutnya. "Papa Seiji benar-benar sosok yang sempurna. Sangat cocok untuk dijadikan panutan untukmu, Sayang," Dapat ia rasakan sentuhan lembut berada di puncuk kepalanya. "Suatu saat, kalau Seiji besar nanti, jadilah seperti Papamu—menjadi anak yang mandiri dan cerdas." Sang Ibu terkekeh lembut, "Mama selalu berdoa yang terbaik untuk Seiji…"

Kecupan penuh cinta dari sang ibu terhadap anak. Kehangatan singkat yang membuat kedua manik Seiji mengerjap tak percaya.

"Mama menyayangi Seiji, dan Mama berharap Papa pun juga begitu…"

.

.

~ ancestry ~

.

.

Hari baru telah muncul. Pagi sudah menyongsong. Kaki jenjang yang dibaluti oleh celana kebesaran itu melangkah dengan perlahan. Setengah wajahnya tertutupi oleh syal yang cukup tebal. Mantel cokelat tengah menutupi bagian tubuhnya yang ringkih. Serta sarung tangan putih menutupi jari-jarinya yang terlihat kaku. Untuk akhir bulan ini, tidak ada lagi salju yang turun—melainkan suhu yang tiba-tiba berubah secara drastis dan membuat dunia semakin dingin tak berarti.

Dengan langkah pelan, ia berjalan. Kepalanya cukup pusing akibat menangis semalaman. Wanita itu terdiam dan terus memikirkan bagaimana hidupnya ke depan. Karena itulah, waktu delapan jam sama sekali belum cukup untuk membuatnya menutup mata lebih lama. Bahkan tanpa sadar, ia sudah sampai di gerbang tempat restoran ia bekerja.

Hanya saja, entah mengapa, kakinya sulit untuk bergerak.

Perlahan namun pasti, pupil hitam keabuan itu membulat—dan perlahan mengecil.

Tiba-tiba saja, angin bertiup dengan kencang—menerbangkan sisa-sisa helaian hitam yang bergerak secara bebas.

Tidak jauh di hadapannya, muncul seseorang dengan pakaian tipis tengah bersandar di dinding sebelah pagar. Merasakan sebuah kehadiran, kedua mata itu terbuka—menampilkan manik heterokom yang terlihat mematikan. Seketika, emperor eye bersinar—kekuatan itu telah muncul kala menatap satu objek yang selama ini dicarinya.

Akashi Seijuurou berdiri tegap, setelah berjam-jam ia bersandar di sebelah gerbang tempat perempuan itu bekerja.

Tidak peduli dengan udara yang semakin membuatnya mati kedinginan, Akashi berdiri—berhadapan dengan gadis yang terlihat lemas tengah berdiri tak jauh dari tempatnya. Kembali, ekspresi ketakutan itu perlahan ada. Segala sesuatu terulang bagaikan kaset rusak—

Seijuurou mencoba berjalan, mendekati gadis itu. Namun seperti yang sudah ia duga, sang objek langsung melangkah mundur. Semua sesuai dengan perhitungannya. Akashi Seijuurou sadar hal ini akan terus terulang. Karena itulah, ia tidak ragu lagi. Mengabaikan tumpukan salju yang menghalangi jalannya, dengan ekspresi tegas Seijuurou mendekati sang perempuan yang terlihat terkejut akan tingkahnya secara tiba-tiba.

Gadis itu ingin berbalik pergi, kabur dari sini. Hanya saja, tatapan itu seolah membuatnya terkunci—menyuruhnya untuk diam di tempat dan menunggu Seijuurou yang kini berjalan mendekati si perempuan.

Lengan kecil ditarik, sang gadis tak tahan untuk tidak terkejut—

Jarak mereka begitu dekat—sangat dekat untuk saling bercumbu hangat.

Emperor eye yang rupanya selalu diingat. Akashi Seijuurou yang sudah lama ia rindukan.

"Aku menemukanmu…"

—bisikan penuh arti membuat kedua mata membulat tak percaya.

Yang disadari mereka berdua hanyalah satu—

"Akashi—kun...?"

—tidak ada lagi yang bisa melepaskan genggaman erat itu.

.

.

continue

.

.

an ooc notes:

saya minta maaf atas telatnya yang luar biasa, teman-teman. kemarin saya baru pindahan dari kota S ke kota M, otomatis pindah dari rumah lama ke kos baru, sekalian beli laptop baru, jadi perlu login ke tempat baru juga. eh taunya saya lupa password ffn saya. saya galau hampir setahun, terus ya ... kemarin siang ada keajaiban, entah kenapa gatau kok bisa login. jadi fanfict pertama yang saya lanjutkan adalah ancestry setelah setahun lebih hiatus. terima kasih telah menunggu ya!

tulisan saya aneh ya? maklum teman-teman, habis hiatus ehe. chapter depan saya usahakan lebih cepat, kalau bisa akhir november ini. dan well ... bingung ya di scene terakhir? chapter depan bakal ada flashback akashi dan kuroko. jadi stay tuned terus ya, teman-teman!

sampai jumpa di chapter berikutnya!

.

.

special thanks to:

Allya571, WhiteIceCream, Nozuki0107, Hiro Kuroru, HikariRin23, akashiro46, On-chan, reina-tsu27, Shavira, Laysief, Akiko Daisy, Aoi Yukari, ryinitaputri , Lenny juni, Someoneee, Yuki Caryle, Aka-Chan, Akakaminari, Hanarisaki Alsa, Kyuumi-Chan, Guest, Puji Nozukio.

.

.

Terima kasih sudah membaca!

Mind to Review?