Normal POV

Akhir Desember.

Pukul dua belas, tengah malam. Angin menerpa pelan langkahnya yang sedikit tergoyang. Badan tegap yang dihiasi oleh mantel gelap serta syal merah perlahan berjalan lurus dengan satu tujuan. Tidak ada yang tahu apa isi dari pikiran lelaki muda dengan status terhormat, namun dirinya sendiri paham mengapa ia bisa berada di luar pengawasan dengan kondisi yang tidak memungkinkan.

"Apa maksudmu?"

"Kau tahu siapa yang kumaksud, Akashi-kun."

Beberapa jam lalu, Seijuurou kembali bertemu dengan Kuroko Tetsuya. Mereka bertemu di tempat perjanjian, lapangan basket yang berada di daerah Teikou, tempat mereka bersekolah dulu. Seijuurou yang saat itu sedang diliputi oleh berbagai masalah, harus kembali bersabar untuk menghadapi mantan bayangan kesukaannya.

Suatu malam, Kuroko Tetsuya memintanya untuk bertemu lewat telepon genggam. Dengan segala kemungkinan, Seijuurou menyanggupinya. Mereka sekarang saling berhadapan, dengan cuaca ekstrim seperti biasa serta tatapan Kuroko yang sangat dingin dan hampa. Awalnya, Seijuurou sempat heran mengapa Kuroko tidak sehangat sebelumnya, namun kala bibir tipis lelaki berambut langit musim panas menyebut sebuah nama, barulah kedua mata belang membulat secara mendadak.

"Sejujurnya, aku sama sekali tidak percaya kenapa ini bisa terjadi pada kita—ah tidak, pada dirimu, Akashi-kun."

"Jangan berbelit, Tetsuya. Kau tahu aku tidak suka omong kosong, 'kan?"

Ditemani oleh berbagai hewan malam yang sedang memandangi mereka, tatapan mata sayu itu terus menajam, seolah menusuk dan menantang Seijuurou di saat yang bersamaan. Merasa tidak menyukai pandangan dari seorang Kuroko Tetsuya, pemuda berambut merah bernama Akashi Seijuurou pun takkan tinggal diam. Ia membalas pandangan tajam itu, mengeluarkan aura kekuasaannya, memberikan tanda secara non-verbal bahwa seorang mantan bayangan rendah seperti Kuroko sama sekali tidak pantas untuk memberikan perasaan intimidasi seperti itu.

Hanya saja, kali ini berbeda. Nyali Kuroko tidak menciut. Ia bahkan merasa tertantang kala Seijuurou memasang mimik wajah tidak bersalah sedikit pun.

Mata mereka saling memandang.

Pandangan kosong khas milik Kuroko Tetsuya.

Tatapan tajam dengan pelototan milik Akashi Seijuurou seorang.

"Kau melakukan kesalahan besar di masa lalu—akhir tahun masa sekolah kita."

Saat mendengar pernyataan tak masuk di akal itu, lantas Seijuurou mendengus. Ia ingin tertawa, ia ingin menyeringai dan membuat Kuroko menunduk sekarang juga. Dia, Akashi Seijuurou, seorang penguasa di antara penguasa, seseorang yang dihormati dengan segala kelebihannya, sosok yang memiliki segala hal di dunia, serta seorang kaisar yang akan selalu memiliki mahkota—dikatakan kalau dirinya yang sempurna ini telah melakukan kesalahan.

Apa Kuroko Tetsuya sudah kehilangan akal?

"Ini sudah malam, Tetsuya. Jangan membuatku tertawa."

"Kau kira aku memanggilmu ke sini hanya untuk bercanda?"

Kuroko sama sekali tidak menyebut namanya, pemuda berhelai biru langit terus menatap langsung kedua manik heterokom milik mantan kaptennya. Seijuurou pun tahu, mereka sudah memasuki suasana serius, namun ia sama sekali tidak bisa menangkap inti dari pembicaraan mereka hingga detik itu.

Sampai ketika Kuroko berjalan lebih dekat ke arahnya, Seijuurou benar-benar terkejut kala genggaman ringkih itu mampu membuatnya tersungkur dengan sangat keras.

Kuroko Tetsuya, 19 tahun, seorang mahasiswa biasa di universitas umum Tokyo, tengah memukul seorang Akashi Seijuurou yang faktanya merupakan pemimpin utama dari Perusahaan Akashi, calon pewaris kekuasaan besar dari Akashi Masaomi, serta mantan kapten dari Generasi Keajaiban yang dulunya pernah memecahkan rekor dunia basket secara nasionalis.

Tetsuya memukul Seijuurou tepat di pipi—kasar sekali.

Seijuurou terkejut, manik heterokom bersinar sengit. Pemuda itu langsung membalikkan keadaan, mendorong Kuroko dan membalas pukulannya.

"APA-APAAN KAU! KAU GILA!?"

Seumur hidup, semarah apapun dirinya, Seijuurou tidak akan pernah mencoba untuk bermain fisik, terlebih untuk teman-temannya. Karena baginya, dengan menggunakan hawa intimidasi pun sudah lebih dari cukup. Namun ketika teman yang sudah lama ia pilih, seseorang yang keberadaannya sudah dirinya akui, bayangan yang ia pilih secara posesif, telah memukulnya tanpa alasan yang jelas membuat seorang Akashi Seijuurou kehilangan akal dan hati nurani. Seijuurou sama sekali tidak paham apa masalah dari Kuroko hingga membuat Sang Bayangan sangat berani untuk menyentuh dirinya dengan cara seperti ini.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu," Dengan bibir yang sudah mengeluarkan darah serta pipinya yang memerah, Kuroko menyahutnya dengan tenang. "Apa yang sudah terjadi padamu saat itu, Akashi-kun?"

Seijuurou berbisik dengan penuh amarah, "Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu, Tetsuya."

Kuroko Tetsuya sama sekali tidak berniat untuk menyingkirkan tubuh Seijuurou di atasnya, ia tahu benar kalau dirinya akan kalah bila dihadapkan di bidang seperti ini. Oleh sebab itu, Kuroko hanya bisa menggenggam erat cengkraman Seijuurou di mantelnya, menusuk langsung pandangan heterokom yang siap membunuh dirinya kapan saja.

"Apa dia … perempuan itu—" Kuroko berkata, ia berbisik pelan, "—pernah melakukan kesalahan? Kenapa kau membuatnya menanggung semua dosamu, Akashi-kun?"

Otak Seijuurou yang memanas perlahan mulai memproses perkataan dari Kuroko. Manik belang itu bersinar, namun perlahan memudar karena sebuah ketidakpahaman. Hingga saat itu dirinya kembali terlempar di masa lalu, mengingat segala kejanggalan yang terletak pada seorang perempuan paruh baya yang ia yakini belum pernah dirinya temui sebelumnya. Tangisan yang sangat menyakitkan, serta senyum seorang gadis yang terus teringat kala mereka masih di bangku sekolah menengah.

Cengkraman kasar Seijuurou mulai melemah, namun Kuroko sama sekali tidak berniat untuk bergerak.

Hingga ucapan seorang mantan bayangan mampu membutakan segala akal sehatnya.

"Kau menyakitinya … kau menghamilinya, Akashi-kun—" Ketika ucapan itu keluar, kedua hati keturunan adam sama-sama telah merasakan kesakitan yang sama, "—malam itu kau memperkosanya, membuatnya melahirkan di usia belia, lalu kau … meninggalkannya sendirian."

Niat memukul dihentikan, cengkraman Seijuurou benar-benar terlepas.

Tubuhnya mendadak lemas.

Angin musim dingin menerpa mereka. Salju yang awalnya tidak muncul, perlahan jatuh dan menyentuh setiap sisi dari tubuh masing-masing pria. Seijuurou tidak lagi memandangi Kuroko, melainkan ke sembarang arah. Rasa sesak itu pelan-pelan menggerogoti tubuhnya.

Sekarang, semua sudah jelas.

Mengapa perempuan itu selalu menangis ketika melihat dirinya.

Mengapa perempuan itu selalu mengelak kala dirinya mencoba untuk menggenggam tangannya.

Mengapa perempuan itu berteriak dan memberontak.

"Jangan minum lagi. Nanti kau sakit, Akashi-kun."

"Dari sikapmu itu … aku tahu kau mencintaiku."

—dan alasan mengapa bayangan menjijikkan itu selalu menghantui kehidupan serta alam mimpinya.

"Apa kau bisa membayangkan rasa sakitnya?" Kuroko berbisik, ia mulai menjaga jarak dari Seijuurou yang berlutut dengan segala pemikirannya. "Ketika dia mengetahui kalau kau segera pindah … dia menangis. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dirinya lakukan saat itu."

Kuroko menghela napas. Kedua manik sehangat musim panas mulai sayu, seolah ia dapat merasakan sakitnya kala kembali mengingat wajah pucat sang perempuan yang dirinya temui siang lalu.

"Kau meninggalkannya sendirian, bersama dengan kehamilannya … ia terus menjaganya, menjaga anak kalian—" Pikiran mulai terlempar pada sosok kecil yang begitu suci, begitu bersih. Seorang anak berambut merah dengan mata senada, yang sama sekali tidak mengetahui konflik orang dewasa yang kini sedang mereka semua alami. "—menjaga Seiji."

Ketika mendengar Kuroko menyebutkan sebuah nama, segala indera yang Seijuurou miliki berfungsi begitu saja. Seijuurou dapat mendengar sebuah nama. Dirinya dapat membayangkan seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengannya, tengah berjalan dengan langkah semangat, tersenyum lebar bersama gigi-giginya yang sama sekali belum tumbuh, memeluk dirinya penuh cinta dan memanggilnya ayah.

Akashi Seijuurou yang brengsek ini … telah menjadi seorang ayah.

Apa-apaan—

Kuroko Tetsuya tersenyum tipis. Ia merasa begitu miris dengan keadaan kaptennya saat ini.

"Aku tahu kau masih sulit untuk percaya, Akashi-kun," Kuroko Tetsuya mulai berdiri, menepuk pakaiannya agar terbebas dari tumpukan salju. "Tapi kuyakinkan sekali lagi, yang kukatakan adalah fakta—kau akan tahu saat kau bertemu dengannya."

Sebuah langkah mulai terdengar.

"Sampai jumpa, Akashi-kun."

Malam itu, bulan Desember.

Meninggalkan Akashi Seijuurou dengan langkah terseok, saat itu jugalah seorang Kuroko Tetsuya tengah membuat sebuah keputusan.

Ia harus melepaskan perempuan yang ia sayang dan merelakannya pada mantan kaptennya.

Itu keputusan yang terbaik, 'kan?

.

.

.

ANCESTRY

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Ancestry by stillewolfie

Akashi S. & Reader/OC

OOC, future life, typos, teikou-era, etc.

.

.

ia mencoba untuk percaya—

.

.

CAPITULO SIX

(Aimer)

.

.

bahwa masih ada harapan untuk keduanya.

.

.

Tatapannya mereka sama sekali tidak terlepas.

Akashi Seijuurou, seorang pemuda yang seumur hidupnya belum pernah seintim ini dengan perempuan, tiba-tiba dengan berani menggenggam lengan kecil milik salah satu keturunan dari kaum hawa. Aroma mawar langsung tercium kala lelaki itu tak sengaja menyentuh ujung dari helai rambut panjangnya.

Seketika, tidak ada Akashi Seijuurou yang identik dengan seorang penguasa.

Kini, yang ada hanyalah seorang Seijuurou yang kosong dan hampa.

Cengkraman kasar pada lengan kecil itu sama sekali tidak memberinya kesempatan. Kala detik terus bergerak, genggaman erat dari sang pria justru semakin mengerat dan mengerat.

Sedangkan si perempuan, hanya bisa terdiam kala memandang wajah di hadapannya yang penuh dengan luka.

"Aku—" Suaranya begitu dalam, begitu sesak—begitu lega. "—berhasil menemukanmu."

Ia, perempuan itu, membulatkan matanya lebar. Pupil mengecil penuh keterkejutan, rasa kecewa yang benar-benar hampa kembali merasuki dirinya. Melihat lelaki hebat seperti seorang Akashi Seijuurou terdiam seperti tidak memiliki apa-apa, entah mengapa membuat hatinya kembali sakit. Rasa bersalah itu pelan-pelan muncul menggerogoti jiwanya. Tangisan tak bisa dibendung, bibir tipis itu gemetar perlahan.

"Akashi—kun…?"

Ia tidak tahan untuk mengucapkan namanya. Nama seseorang yang sudah lama ia cinta.

Perasaan mereka campur aduk, benar-benar bingung. Mereka tidak paham, mereka tidak tahu, mereka tidak mengerti; mengapa mereka bisa menerima satu sama lain semudah ini. Dari awal, Seijuurou yang sama sekali tidak tahu menahu siapa perempuan ini, langsung bisa menerima keberadaannya kala dirinya tahu siapa wanita yang sekarang ia genggam. Di satu sisi, dirinya, perempuan itu, terus mengingat peristiwa menjijikkan yang menghantuinya hingga membuat hidupnya hancur tak bersisa. Dirinya, yang ditinggal sendirian. Dirinya, perempuan lemah yang tidak tahu apa-apa. Dirinya, yang terus hidup secara individual tanpa memiliki teman cerita, harus menanggung sebuah dosa besar yang diberikan oleh sang pria berambut merah.

Jika kau berada di posisi mereka, apa yang akan kau lakukan?

"Kau—" Manik hitam membulat takut kala melihat bibir tipis milik sang pria mulai terbuka, Akashi Seijuurou mulai berbicara. "—kau tidak tahu selama ini aku selalu mencarimu. Kau membuatku menderita dengan mimpi-mimpi itu."

Lengan lebih kecil gemetar semakin hebat. Rasa bersalah semakin besar. Menangis—hanya ini yang bisa dia lakukan. Pipi tirus itu memerah, bibir ia gigit, matanya tertutup—mencoba untuk mengeluarkan segala air mata yang entah mengapa membuatnya tenang.

"Maaf…"

Kenapa dia yang meminta maaf?

"Jangan lari lagi," Seijuurou menarik manusia yang lebih kecil darinya ini ke pelukannya, memberikan satu kehangatan asing yang benar-benar luar biasa efeknya. Aroma mawar kembali tercium, Seijuurou merasa tenang. Rasa hampa di dalam dada perlahan menghilang, diganti dengan kelegaan yang menenangkan hatinya. "Jangan menghindar, jangan pergi—" Manik heterokom terasa kosong. Perutnya seperti diaduk-aduk. Namun ia tahu, semua akan selesai. Karena ia sadar; kala perempuan ini sudah ia kunci dengan sebuah pelukan, tidak ada lagi yang bisa menghalangi jalannya. "—terima kasih." Lalu, ia berbisik.

Terima kasih.

Akashi Seijuurou tahu, ia adalah seorang pria brengsek yang telah melakukan sebuah kesalahan. Akashi Seijuurou, sang putra tunggal dari Perusahaan Akashi yang terhomat, dirinya yang selalu dielukan akan menjadi seorang penguasa, dirinya yang sempurna ini, telah melakukan sebuah dosa di hadapan Tuhan. Segaris dosa yang benar-benar melukai seorang manusia lainnya. Salah satu sosok yang diciptakan Tuhan untuknya, telah ia nodai dengan begitu kejamnya.

Karena saat Akashi Seijuurou melihat wajah sang perempuan yang penuh dengan sirat sabar dan kelembutan, dadanya seolah kembali ditusuk oleh ujung tombak yang tajam.

Ia tidak tahu apa lagi yang harus dirinya lakukan. Memeluk perempuan ini entah mengapa membuat perasaannya sedikit lega. Seijuurou bahagia.

Helai panjang berwarna hitam ia telusuri dengan jemarinya. Begitu dingin dan pucat. Begitu rusak dan tidak sehat. Seijuurou tersenyum miris. Ia mengecup puncak mahkota wanitanya. Rasa sakit yang perempuan ini alami tentu tidak bisa ia bandingkan dengan rasa penasaran yang selama ini ia pendam.

Karena Seijuurou tahu, wanita ini sudah mengerti lebih jauh dan memahami apa itu sebuah kehidupan.

.

.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Ketika Akashi-kun menarikku dalam pelukannya, aku terdiam. Aku bingung apa yang harus kulakukan di detik selanjutnya. Ini terlalu mendadak, ini di luar perkiraan. Karena saat itu, yang bisa kulakukan hanyalah mengeluarkan air mata—mengeluarkan segala penat yang membuatku sesak selama bertahun-tahun. Mengenggam mantelnya adalah hal yang bisa kulakukan untuk melepas rindu. Menangis di pelukannya merupakan anugerah yang diberikan Tuhan untukku. Menggigit bibir untuk tidak berteriak tentu merupakan sebuah kerja keras. Aku tidak mau merusak momen ini—aku tidak mau melepaskan pemuda ini untuk yang kedua kali.

Aku sangat merindukannya. Merindukan aroma Akashi-kun yang sudah lama tak kuhembus rasanya.

Saat melihatnya, aku tahu ada yang tidak beres di sini. Tatapannya berubah, pandangan dirinya di pertemuan sebelumnya tidak sehampa ini. Akashi Seijuurou yang kukenal sebelumnya memiliki tekanan seorang penguasa. Namun kali ini, suara berat itu tak lagi terdengar mengancam, melainkan berisikan sebuah permintaan maaf secara berulang. Aku semakin menangis ketika Akashi-kun memberikan sebuah ciuman di seluruh bagian wajahku. Karena saat itu aku tidak tahu lagi bagaimana kondisi kami, bagaimana rintikan salju kembali turun di akhir musim dingin, bagaimana Akashi-kun muncul dengan perasaan menerima seperti ini.

Yang bisa kurasakan hanyalah perasaan bersalah, bersalah, dan bersalah.

Menarik napas tentu menjadi hal yang sulit. Dan ketika aku mendongak, rasa terkejut sama sekali tidak bisa kusembunyikan kala itu. Akashi Seijuurou, laki-laki ini, yang sedang merengkuhku kini, tengah menangis.

Apa yang telah kulakukan? Kenapa? Ada apa—

Hingga bisikan permintaan maaf terulang kembali, di saat itu aku langsung terdiam, pikiran-pikiran negatif pun hilang tak bersisa. Aku mencoba untuk tersenyum. Meletakkan telapak tanganku di pipi kanannya dan berbisik pelan—

"Tidak apa, Akashi-kun..." Aku memberikan senyum kecil-kecilan, memberikan atensi secara tidak langsung kalau aku sudah memaafkannya. "Jangan menangis lagi, ya?"

Aku belum pernah sedekat ini dengannya, menyentuh permukaan wajahnya merupakan sebuah hal baru untukku. Ya, pengecualian untuk peristiwa malam itu. Kali ini berbeda. Akashi-kun mendapatkan kesadarannya secara penuh, dan ia kembali mengingat siapa aku. Tentu saja, rasanya berbeda. Benar-benar berbeda. Kebahagiaan sebesar ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.

"Maaf—maaf…"

Ia terus meminta maaf, memelukku lebih erat tanpa membuat diriku terasa sesak. Aku menepuk punggung tegapnya, tersenyum lembut dan mengangguk penuh ikhlas.

"Aku memaafkanmu—tidak apa, hei…"

Aku mencoba untuk melepaskan pelukan erat kami, tapi ada kalanya ia memberikan gerakan untuk tidak berhenti. Aku tersenyum. Kami bertatapan sejenak. Dan yang saat ini kulakukan hanyalah menghapus air matanya dengan telapak tangan yang terbungkus oleh sarung tebal. Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis lagi, karena wajah Akashi-kun benar-benar berbeda untuk pertama kali. Hidung memerah, mata sembab, dan bibir gemetar.

Ia tampak menyesal.

Dan aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.

Aku tidak sanggup untuk membentaknya, aku tidak berani untuk menamparnya untuk kedua kalinya. Melihat segala tangisan, permintaan maaf, dan penyesalannya sudah membuatku puas. Ia tahu apa yang sudah dirinya perbuat. Justru aku merasa bersyukur, karena diriku tidak lagi dia tolak sedemikian rupa. Ia mengingat siapa diriku sebenarnya.

Aku sangat berterima kasih untuk itu. Tuhan mengabulkan satu-satunya permintaanku.

Aku tahu, Akashi-kun bukan orang yang mudah menangis. Tapi rasanya, entah mengapa aku bangga dengan diriku sendiri. Lihatlah wajahnya ini, begitu menggemaskan. Ia menangis seperti anak kecil. Ingin tertawa, tapi aku tahu suasananya sama sekali tidak mendukung. Karena itulah, yang bisa kulakukan hanya bisa menghela napas, mengelus rambutnya agar berhenti menangis dan mengecup pipinya yang pucat.

"Hentikan, Akashi-kun," Aku berkata, "Kalau kau tidak berhenti, aku takkan memaafkanmu."

Lalu, ia berhenti. Benar, berhenti menangis.

Aku pun tersenyum tipis, "Seharusnya aku yang menangis seperti itu, kau tahu?"

Akashi-kun kembali memelukku, ia menghela napas dalam.

"Aku hanya … merasa menyesal."

"Itu sudah bertahun-tahun yang lalu," Aku mencoba untuk menenangkannya, memijit tengkuknya yang terasa tegang. "Tidak ada yang perlu disesalkan di sini. Karena aku melakukannya denganmu…"

Dapat kurasakan tubuhnya menegang, ia semakin mempererat pelukan.

"Tapi aku meninggalkanmu, maaf—sungguh, aku—"

"Jangan meminta maaf lagi, Akashi-kun."

"…Maaf."

Aku menghela napas.

Kembali, kami terjerat di keheningan. Aku sibuk untuk menenangkan Akashi-kun yang terus berbisik maaf dan maaf. Rintikan salju kembali menghantui kota. Fajar sudah benar-benar menyingsing. Cuaca hangat serta pelukan dari Akashi-kun tentu merupakan sebuah anugerah tersendiri. Aku mencoba untuk menutup mata, menikmati segalanya meski ini hanyalah sebuah bayangan semata. Tersenyum menenangkan, mencoba untuk menahan agar air mata tidak kembali mengalir, aku berbisik pelan.

"Kau tahu kalau selama ini aku menyukaimu, Akashi-kun."

Menepuk punggungnya untuk yang terakhir kali, aku melepaskan pelukan kami. Ia tampak terkejut, namun tidak membantah. Aku tersenyum melihat wajahnya. Entahlah, segala uapan kemarahan itu hilang begitu saja kala merasakan segala penyesalan yang ada di dalam dirinya.

Kelegaan tak dapat terhindarkan. Diriku merasa bahagia.

"Aku—"

"Aku melarangmu untuk pergi."

Bibir ini tiba-tiba mengatup. Aku tidak dapat melanjutkan kata-kataku.

"Setelah ini, kau akan meninggalkanku?" Alis Akashi-kun mengerut. Ia mengenggam kembali tanganku. "Tidak setelah aku tahu apa yang sudah kulakukan padamu."

"Akashi-kun—"

"Apa kau tahu kalau selama ini aku juga menyukaimu?"

Eh?

.

.

Suasana menghangat. Tapi entah kenapa, aku merasa dia akan meninggalkanku. Lagi.

Aku tidak tahu apa yang sudah kurasakan selama ini. Tapi aku sudah memahami gelagatnya selama beberapa detik terakhir. Sejak ia tersenyum dan menyatakan perasaannya padaku, aku tahu dia akan menghindar lagi—pergi mencari kehidupan baru dan pindah ke kota lain. Tidak, tidak akan. Aku tidak mengizinkannya.

Kenapa dia ingin selalu menghindar? Dia sudah memaafkanku, 'kan?

"T-Tapi, aku—" Bibir tipisnya gemetar, aku menyipitkan penglihatan. "Aku tidak bisa, maksudku … k-kau dan aku—"

"Berbeda?" Tubuhnya menegang, air matanya kembali keluar. Aku menghela napas. Kenapa perempuan selalu memikirkan hal yang tidak berguna? "Hentikan pikiranmu itu. Sekarang kau milikku. Dan artinya, kita sama." Aku mengelus helai mahkota miliknya. "Aku tidak peduli dengan perkataan semua orang. Kau milikku, hanya itu yang perlu kau ingat."

Kulihat, dirinya menghela napas dan tertawa kecil. Aku terdiam sesaat. Entah mengapa melihatnya tertawa merupakan sebuah kesenangan.

"Sifat keras kepalamu itu sama sekali belum berubah, kau tahu?"

"Ya, tentu saja aku tahu."

Ia tertawa lagi. Dan aku hanya bisa tersenyum tipis.

Udara hangat mengelilingi kami. Kueratkan syal cokelat miliknya. Aku memeluknya lagi—entah mengapa ini membuatku merasa bahagia kembali.

"Ne, Akashi-kun…"

"Hm?"

"Aku … sampai sekarang belum bisa percaya," Uap hangat yang menggelitiki helai rambutku membuatku nyaman. Aku tersenyum dalam diam. "Jadi, selama ini kau mencariku? Untuk apa?"

"Untuk mencari kebenaran," Aku akan menjawabnya dengan sejujur-jujurnya. "Aku selalu bermimpi dan merasakan firasat, bahwa di masa lalu aku telah melakukan sebuah kesalahan." Aku dapat rasakan gumaman lucu dari dirinya. "Hingga Tetsuya mengatakan semua padaku, barulah aku bisa mencari kebenaran itu."

"Kuroko-san memberitahumu?"

"Hm."

"Semuanya?"

"Semuanya," Tubuhnya menegang, tapi aku tidak berniat untuk melepaskan pelukan. "Termasuk fakta bahwa kau mengandung anakku dan merawatnya dengan baik—" Kembali, aku bergumam; berharap ia dapat mendengarnya dengan jelas. "—terima kasih."

Sungguh, aku sangat berterima kasih.

Sebelumnya, aku belum pernah merasakan perasaan ini pada orang lain. Tidak pada anak buahku, tidak pada ayah, tidak pada Generasi Keajaiban.

Hanya dirinya, perempuan yang sudah kuanggap sebagai sebuah permata.

Dia terdiam untuk beberapa detik. Benar, aku tahu segalanya. Meski aku tidak paham bagaimana perasaannya saat harus mengurus anak di usia belia, tapi aku sangat menghargainya sekarang. Aku benar-benar berterima kasih. Aku menyayanginya sebagai seorang ibu bagi anak-anakku, dan aku mencintainya sebagai satu-satunya perempuan di dalam hidupku.

"A-Aku—"

"Tidak perlu ada yang kau sesalkan," Aku tahu apa yang akan dia katakan. Ia ingin kembali meminta maaf padaku. Rasa bersalah akan muncul di dalam dirinya karena ia tidak bisa mengatakannya padaku sejak lama. Tidak. Aku tidak akan menerima semua itu. "Aku bukan orang bodoh. Kau pasti melakukannya dengan penuh pertimbangan sampai tidak menghubungiku selama ini, bukan?"

Ia mengangguk.

Kutarik kepalanya, kutatap wajahnya dalam-dalam. Ia menangis untuk kesekian kali. Pipi serta hidungnya memerah, ia sesenggukan. Aku mempersatukan kening kami. Diriku mencoba untuk mengerti, bahwa segala sesuatu yang sudah ia alami saat ini sangatlah sulit. Tentu, aku tidak bisa merasakannya, aku tidak tahu sesulit apa untuk menghidupi anak kami sendirian, aku tidak akah pernah mengerti untuk hal-hal seperti itu.

Tapi, jika masih diperbolehkan—

"Maaf, maafkan aku—"

—aku ingin menebus kesalahanku. Aku ingin memperbaikinya. Aku ingin mengulang semuanya dari awal.

Mencium segala permukaan wajah, menghapus kerlingan air mata, aku menutup kedua mata.

"Izinkan aku—" Sejak kami bertemu di kedai beberapa waktu lalu, kala aku melihat wajahnya saat itu, ketika Tetsuya mengatakan semua fakta padaku, saat melihat dirinya menangis pilu, bergumam mengenai semua penyesalan di dalam kami berdua; aku tahu inilah keputusan terakhirku.

Menjadikan dirinya sebagai milikku—seseorang yang akan kujaga sampai akhir hayatku.

"—untuk bersamamu."

Kemudian, ia kembali menangis keras. Memelukku erat seraya mengangguk penuh kebahagiaan.

.

.

~ ancestry ~

.

.

Normal POV

Seijuurou terdiam kaku.

Setelah berjam-jam berpelukan untuk melepas rindu, Seijuurou pergi ke apartemen sederhana yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Perempuan itu tengah membawa dirinya ke tempat kediamannya yang sederhana.

Meski apartemen ini begitu sempit dan agak sedikit jauh dari kota, seketika Seijuurou merasa nyaman kala merasakan aroma mawar mengelilingi rumah petak itu. Begitu sederhana dan klasik. Benar-benar menggambarkan kesederhanaan perempuan yang di masa depan akan menjadi calon istrinya kelak.

Hanya saja, bukan itu yang membuat Seijuurou seolah kehilangan akal.

Melainkan seorang anak laki-laki berambut merah dengan mata senada yang sedang memandanginya tajam.

"Akashi-kun, ini Seiji," Sang wanita mengangkat Seiji yang saat itu sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan, harus terhenti karena anak itu tengah mendapati sosok asing di daerah kekuasaannya. "Seiji, ini Papa Seijuurou—kenapa wajahmu mengerut begitu, Sayang?"

Seketika Seijuurou tahu, Seiji benar-benar anaknya. Anak yang sangat amat mirip dengan dirinya.

Seijuurou dapat merasa tersaingi. Aura itu jelas-jelas keluar dari Seiji. Sepasang manik merah sama sekali tidak menyambut hangat tatapan Seijuurou yang awalnya ingin bersilahturahmi secara damai, harus memandang anak itu seperti sebuah rival tersendiri.

Seijuurou tersenyum tertahan. Seiji ternyata benar-benar berasal dari darah dagingnya.

'Siapa kau? Kenapa kau memegang tangan Mamaku?'

'Aku Ayahmu, Bodoh.'

Percikan kesal seketika muncul kala mendengar dengungan yang entah dari siapa itu di telinganya. Ia menatap sinis Seijuurou yang sedang melipatkan kedua tangan di depan dada sembari tersenyum meremehkan.

Seandainya saja tubuh Seiji sudah sebesar itu, tentu saja ia sudah menantang Seijuurou secara jantan.

Ah … tidak, Seiji sayang. Tidak.

"Akashi-kun—" Seijuurou melirik asal dari alunan lembut itu, "—kenapa tatapanmu seperti itu? Ah—"

Sebelum pikiran buruk kembali muncul di pikirannya, Seijuurou langsung meminta izin untuk meminang Seiji ke pelukannya. Wanita itu pun mengiyakan meski dalam hati masih ada sedikit keraguan.

"Seiji," Seiji terdiam. Mereka saling memandang. Hawa keabsolutan yang dirasakan bocah itu tak lagi ada, melainkan seuntas senyum yang diberikan oleh kembaran dewasanya justru membuatnya heran. Seijuurou tersenyum dan mengecup pipi gembulnya begitu lama. "—senang bertemu denganmu, Sayang."

Seiji mengedip lucu kala merasakan sebuah kecupan basah kembali ia rasakan di bagian pipinya. Ia terdiam sejenak, pikiran cerdasnya mencoba untuk memikirkan. Selama kehidupannya, belum pernah ia mengizinkan orang lain mencium dirinya, bahkan Paman Tetsuya sekali pun. Rasanya asing, aneh, dan … hangat.

Seketika, Seiji dapat merasakan kasih sayang yang sama seperti ibunya berikan untuknya.

Inikah rasa kasih sayang seorang Ayah yang belum pernah Seiji tahu sebelumnya?

.

.

Entah mengapa, waktu berlalu begitu cepat.

Aku menatapnya yang kini akan pergi kembali. Ia memandangiku dengan sepasang heteromatika yang entah mengapa terkesan berbeda. Ini adalah Akashi-kun yang dewasa dan bisa memandang segala sesuatu dengan seimbang, ia bukanlah anak SMA yang dulunya selalu berpikir untuk menang dan berkuasa. Dia berubah menjadi seseorang yang semakin kukagumi. Akashi-kun menjadi sosok yang lebih berani. Perasaan ini semakin tak bisa terbendung—aku sangat yakin diriku sangat mencintainya hingga detik ini.

"Jaga dirimu baik-baik," Ia menepuk dan mengelus permukaan kepalaku pelan, aku menutup kedua mata, pipi bersemu akibat sentuhan lembutnya. "Aku akan kembali besok pagi. Jadi, bersiaplah."

"Uh?" Kosakata terakhir membuatku heran, aku mendongak dan menatapnya langsung matanya. "Bersiap? Apa—"

"Aku akan membawamu dan Seiji ke Kyoto. Kita menikah minggu depan."

Apa?

"Eh?"

Seketika keraguan menghampiriku. Aku merasa terkejut saat Akashi-kun mengatakan akan membuat sebuah pernikahan untuk kami minggu depan. Tetapi, apakah itu terlalu cepat? M-Maksudku, ini terlalu tiba-tiba dan aku takut diriku tidak bisa mempersiapkan hati dengan baik. Meski rasa bahagia sama sekali tidak bisa ditepis, tapi kebimbangan itu masih ada di dalam diriku. Aku belum pernah berpikir untuk memiliki sebuah keluarga utuh sebelumnya. Aku tidak pernah Akashi-kun akan menikahiku saat ini juga. Tentu saja, aku yakin dia tidak main-main. Akashi-kun bukanlah orang seperti itu, ia bukanlah tipikal pria yang mempermainkan arti sakral dari sebuah pernikahan. Hanya saja—

Beban itu seketika hilang kala Akashi-kun mengangkat jemariku erat. Dan aku sama sekali tidak menyangka ia memasangkan sebuah cincin permata di jari manisku tanpa berkata apapun.

"…Ini milik Ibuku," Mataku membulat. Tatkala, wajah Akashi-kun bersemu perlahan. "Aku memberikannya karena aku percaya padamu—" Akashi-kun mendekat, ia memelukku dalam satu genggaman hangat. "—jadi, bisakah aku memintamu untuk menjadi pasangan hidupku?"

Dia tidak memerintah. Akashi-kun tidak memberikan sebuah pernyataan.

Ia memohon agar diriku menjadi istrinya di masa depan.

"A-Aku—"

"Hilangkan semua beban pikiranmu. Bukankah kau sudah memaafkanku?" Aku mengangguk malu, ia semakin memelukku. "Jadi, izinkan aku yang sekarang untuk melindungimu—melindungi kalian," Kedua tanganku perlahan terentang untuk memeluknya juga, aku mencoba untuk tidak menangis saat mendengar pernyataannya sekarang. "Aku akan berada di sisimu. Kau tidak akan sendirian. Mulai sekarang, kita akan melalui semuanya bersama-sama…"

Dan, tanpa bisa kutahan, kembali aku mengeluarkan air mata.

Perkataannya saat itu merupakan hal yang sangat ingin kudengar.

Akashi-kun berjanji tidak akan pergi. Ia bersedia untuk berada di sini, di sisi kami.

Terima kasih.

"…I-Iya..."

Akhir Desember.

Di saat awan gelap selalu menghiasi kota, perlahan awan tersebut bergerak pergi dan menampilkan sebuah cahaya rembulan yang begitu hangat layaknya musim yang akan datang.

.

.

continue

now listening: Chen & Punch — everytime (DOTS OST)

.

.

an super duper ooc notes:

mohon maaf kalau chapter ini terlalu dramatis. Tapi saya gamau bikin OC/Reader di sini semakin tersakiti dan membuat konflik semakin panjang. anggaplah di chapter ini Akashi bukan versi yang Boku ya, tapi yang Ore :')

doakan ancestry akan tamat satu chapter mendatang. stay tuned ya, teman-teman!

sampai jumpa di chapter selanjutnya!

.

.

special thanks to:

kimnamira, Nafi29897, Allya571, Yuki Carlyle, usagimugi, savetianglistrik, Dhdhdhe, Elzainy R, Hatsune Cherry, Strongwoman, Aka-Chan, Kyuumi-Chan, Akakaminari, Hanarisaki Alsa, Delgaze, Silvia-KI chan, Laysief von Albstein, Allya571, ShirShira, ervaria, Guest.

.

.

Terima kasih sudah membaca!

Mind to Review?