Disclaimer : Naruto milik Masashi Kisimoto.

.

.

.

Kupikir kisah asmaraku sudah berakhir. Hidup sebagai pria yang akan meratapi asmaranya barangkali selama berabad-abad mendatang. Ternyata aku salah. Pikiran itu melayang terlalu jauh.

Tak lama setelah itu aku mengenal Sara. Perkenalan kami berawal cuma gara-gara telpon nyasar. Aku tidak percaya padanya, malah cenderung merasa curiga.

Pada zaman dahulu kala, pengalaman dikerjai oleh hode lucknut a.k.a teman sendiri cukup memalukan bagiku~ bahkan sampai sekarang itu adalah pengalaman yang bakal membuatku ingin menonjok seseorang saking malunya aku bila mengingatnya.

Ciri-cirinya sudah begitu mirip, dengan berpura-pura menjadi seorang gadis, lalu salah sambung, lalu kami berkenalan, dan seterusnya, dan seterusnya, sampai aku akan jadi bahan tertawaan bagi teman-temanku. Mereka mengejekku dan cerita Naruto si Payah itu akan diulang-ulang sampai semua orang mati. Atas dasar pengalaman payah itu aku jadi waspada.

Walau pun dia benar-benar seorang perempuan aku tetap akan jaga-jaga. Orang bijak bilang, 'Sedia payung sebelum hujan,'. Kau tahu 'kan bagaimana malunya ketika seorang hode yang disebut teman itu ingin berkenalan denganmu secara tiba-tiba. Dan ketika kau pamerkan dihadapan teman-temanmu bahwa kau ini orang yang laku. Nyatanya kau hanya jadi korban keisengan mereka.

Tapi berhubung waktu itu aku sedang menganggur. Jadi kuladeni saja. Maklum dulu kan aku punya kartu yang gratis smsnya sampai masa aktifnya berakhir. Sayang banget kalau punya gratis sms tapi tidak ada teman sms-an. Lupakan soal itu, kembali ke tema pembicaraan.

Orangnya ternyata asyik juga. Tapi, aku masih susah percaya. Akhirnya aku memberanikan diri mengorbankan pulsaku yang tersisa tiga ratus perak hanya untuk menelponnya. Dia mengangkat telpon dariku, dan suaranya memang benar cewek tulen. Aku masih curiga karna mungkin saja orang itu nyuruh-nyuruh orang buat bicara.

Keesokan harinya pas lagi kumpul-kumpul. Coba-coba saja ku misscall nomor si Sara itu, dan ternyata tidak ada satu pun ponsel teman-temanku yang berbunyi. Padahal kan semuanya sedang memegang ponsel, jadi dah aku garuk-garuk kepala sambil mendongak ke atas. 'Kok bisa sih?' tanyaku dalam hati. Jiah, panggilanku malah diangkat dan pulsaku sebanyak tiga ratus perak yang tersisa melayang sia-sia.

Mulai dari itu aku percaya bahwa dia itu perempuan. Aku mulai curhat-curhatan sama dia tentang Hanabi, dan hebatnya dia memberiku kata-kata motivasi supaya aku bisa move on dari si Hanabi. Dia itu periang, itu yang terutama membuatku terhibur. Dia juga anaknya enak diajak bercanda, selain itu tulisannya yang kayak tulisan anak-anak alay gitu bikin aku merasa lucu. Pas dibaca kayak digelitik gitu deh. Ah susah pokoknya menjelaskannya.

Perlahan karna gadis itu, sedikit demi sedikit nama Hanabi mulai memudar dari benakku. Tapi, dua hari berikutnnya tiba-tiba sebuah pesan menyela acara sms-anku dengan Sara. Dan ternyata itu adalah pesan dari Hanabi. Aku bahagia sekali sampai ingin menjerit-jerit. Kayak cewek kurang kerjaan ketika bertemu artis idolanya. Teriak-teriak tidak jelas begitu sambil menjulurkan tangan. "ZUNG PYUUU! ZUNG PYUUU!" atau "Lee Min Hoo!"

Aku tidak begitu. Itu hanya perumpamaan untuk menjelaskan betapa bahagianya aku saat itu. Kubuka pesan itu, dan bayangkan saja pesannya panjang sekali. Berisi puisi dan kata-kata indah yang membuatku mengikik. Kemudian satu-satunya kenyataan yang kuketahui setelah itu ialah Hanabi adalah teman sekolahnya Sara. Apa maksudnya coba? Jadi semua ini semacam persengkokolan diantara para cewek-cewek untuk mengerjaiku. Gila banget nih.

Aku bisa saja langsung marah sambil menuding-nuding mereka telah mempermainkan aku. Tapi, tak mungkin kuungkapkan karna bisa saja nanti Hanabi akan menjauhiku lagi hanya gara-gara itu. Posisi seperti ini tidak memungkinkanku untuk memulai acara pertengkaran dengannya. Maafkan saja.

Dua minggu berikutnya aku terus sms-an dengan dua gadis sekaligus, dan yang membuatku heran adalah Hanabi selalu berubah sinis sewaktu aku memberitahunya tentang aku yang sedang sms-an dengan Sara. Aku jadi bingung dengan sikapnya. Kucoba bertanya pada Sara, dia memberitahuku bahwa Hanabi sedang cemburu. Hebat.

Untuk sementara aku mulai menjauhi Sara, dan fokus pada Hanabi, begitulah. Lalu muncul masalah lain lagi. Takut Hanabi menjadi milik orang lain, maka kutembak saja dia walau pun kami tak pernah bertemu. Setidaknya kan untuk jaga-jaga supaya tidak ada yang mendekatinya.

Dia menerimaku menjadi pacarnya. Kurasakan kebahagiaan yang amat sangat karna hal itu, sampai-sampai aku ingin meledakkan seluruh kota dengan bom nuklir. Orang tua ku pun mengira kalau aku ini sudah gila. Bodo amat.

Semakin hari berlalu keinginan untuk bertemu dengan gadisku pun memuncak. Akhirnya di bulan Februari ketika itu malam hari, aku mengajak Hanabi untuk bertemu keesokan harinya. Dan dia mau saja menemuiku asalkan tidak jauh-jauh dari rumahnya.

Motor tidak ada, sementara minta ditemani kan tidak enak. Selain tidak enaknya pas melihat teman yang diajak cuma jadi pengganggu eh malah aku yang enak-enakan sendiri. Terus bagian tidak enaknya juga di kita, kan tidak enak bicara sama pacar kalau ada orang di dekat kita. Jadinya kucoba cari alternatif lain, dan ketemu. Mari kita lari pagi!

Singkat cerita, setelah berlari-lari menyusuri jalanan, aku lantas berhenti di sebuah tempat yang agak kedesa-desaan. Aku membungkuk karna kelelahan. Keringatku bercucuran. Kuusap dengan jaketku, lantas menegakkan badan. Pandanganku jatuh pada pohon-pohon Kersen di pinggir jalan. Ada sebuah tempat duduk yang terletak di pinggiran jembatan kecil, aku pun menuju ke sana. Kukeluarkan ponselku. Kupandangi mentari yang pucat dan langit kemerahan. Lalu ku dudukkan pantatku sambil menikmati udara sejuk pagi hari beserta pemandangan persawahan yang ada di seberang jalan.

Kutekan-tekan cepat tombol ponselku dan mencari-cari nama Hanabi pada kontak telponku. Setelah ketemu langsung ku tekan tombol berwarna hijau. Terdengar suara gresek-gresek di telingaku.

"Halo." Seseorang yang ada di seberang sana berbicara.

Aku menyahut dengan jantung berdenyut-denyut. "Hana, ayo keluar. Aku ada di tepi jalan nih."

"Haaa," Hanabi cuma ber'haaa'ria saja. Entah apa maksudnya aku juga tidak tahu. Tapi, sebelum aku bicara, Hanabi buru-buru melanjutkan, "Kakak, ada di mana sekarang?"

"Di seberang jalan raya di kampung, Hana." jawabku tidak sabar.

"Kenapa kakak tidak bilang dulu kalau kakak mau kesini?"

"Kan sudah Hana sayangku."

"Terus ke sininya pakai apa kak?"

"Lari pagi. Hehehe,"

"Iiiii." Hanabi mengucapkan itu dengan nada menggemaskan.

"Kenapa? Hana tidak suka ya?"

"Bukannya begitu. Tapi, eer..."

"Ayo keluar, kakak sudah tidak sabar ingin melihat Hana."

"Iya, tunggu sebentar. Hana mau ganti pakaian dulu."

"Iya, Hana."

Hanabi menutup telpon. Segera ku masukkan ponselku ke saku jaketku. Seiring dengan itu kubangkitkan tubuhku dan melakukan olahraga ringan. Masih saja jantungku berdebar-debar. Apa Hanabi jadi keluar ya? Atau ada halangan lagi yang akan menghambat pertemuan kami? Tiba-tiba aku menjadi agak cemas memikirkan hal itu. Ah, atau mungkin ini terlalu jauh? Aku tidak tahu. Mungkin saja.

Aku berbalik berniat kembali, mencoba untuk melangkah pelan menyusuri kembali tepi jalanan yang renjul. Aku berhenti sebentar, kemudian mengeluarkan ponselku dan mencoba menghubungi Hanabi. Tak ada jawaban atau telpon diangkat. Akhirnya kucoba berjalan lagi sambil berdoa semoga Hanabi menelponku. Tapi, sudah berpuluh-puluh langkah kemudian ponselku tak kunjung berbunyi.

Lalu tidak jauh di depanku tampaklah seorang bocah SD~imut, mengenakan pramuka dan rok pramuka panjang. Kutatap dengan seksama wajah pucatnya, hidungnya, bibirnya yang kecil, dan rambut kelamnya yang panjang. Namun, segera kualihkan pandanganku darinya dengan cuek. Tujuanku Hana bukan anak-anak. Tapi entah mengapa debar jantungku makin menggila.

Aku mulai cemas kalau pertemuanku bakal gagal lagi. Rasanya aku akan kecewa sekali. Aku melirik si Imut itu yang sudah ada di depanku. Dia tiba-tiba berhenti. Aku terheran-heran. Masak dia sih?

"Kak Naruto?" tanyanya kemudian.

Aku berhenti, menatapnya lekat-lekat. Wajahnya yang bersemu merah jambu begitu kontras dengan kulit pucatnya. Tingginya hanya sampai leherku. Jadi dia harus mendongak untuk bertemu pandang denganku. Sudah kuduga pasti dia. Ya ampun imut bangeet!

"Hana?" tebakku.

Gadis itu mengangguk. Aku melongo padanya. Berbeda sekali dia yang nyata dengan apa yang kubayangkan. Kulihat sudut bibirnya berkedut-kedut. Wajahnya makin merah. Ditengah-tengah dinginnya pagi itu aku merasa hangat.

"Jadi kau Hana?" tanyaku memastikan.

Dia menyisir rambutnya ke belakang telinganya. Tangannya yang gemetaran menarik perhatianku. "Y-ya," jawabnya dengan tidak jelas. Aku masih belum bisa berpaling dari muka imut gadisku. "Jangan diliatin terus..." tegurnya sambil membekap mulutnya.

"Eh, memangnya kenapa Hana sayang?" tanyaku tidak mengerti.

Dia berbalik. "Malu kak."

"Mana bisa kalau Hana seimut ini."

Dia berjalan meninggalkanku dengan begitu tiba-tiba. Aku lantas mengikutinya di sampingnya.

Kami baru berjalan beberapa langkah ketika dia memanggilku lagi. "Kak."

"Ya?"

"Sampai di sini saja. Kakak jangan ikut," lirihnya sambil menunduk.

Aku merasa tersinggung. "Kok gitu sih?"

"Aku malu... Di depan banyak keluargaku."

"Tenang saja," kataku meyakinkan. "Tidak ada yang melihat kita."

Hanabi diam tak menjawab perkataanku. Aku berpaling darinya pada seorang ibu yang tengah menyapu pekarangan. Lalu di depan kami ada sekumpulan anak SD yang sedang berjalan menuju ke sekolahan mereka.

"Hanabi!"

Tiba-tiba seruan seorang perempuan mengejutkan kami berdua. Kami menoleh serentak ke kiri. Tampaklah seorang gadis berparas cantik berambut merah panjang dikuncir ke belakang. Dia tersenyum ke arah Hanabi. Cantik sekali rupanya. Hanabi pun mengangkat tangannya sembari memberi isyarat ke pada gadis itu untuk mengajaknya kemari. Tapi, gadis itu terlihat menggeleng sambil menggunakan matanya menunjuk diriku. Siapa sih itu?

Tiba-tiba gadis itu memberi isyarat menggunakan wajahnya supaya aku melihat ke arah Hanabi. Dan ketika ku alihkan pandanganku untuk menatap Hanabi lagi. Ternyata Hanabi sudah meninggalkanku. Segera saja kulangkahkan kakiku mendekati gadisku.

"Hana, kenapa meninggalkan kakak?"

Hanabi diam sesaat. Lalu dia pun berkata, "Dia yang namanya Sara, kak."

"Oh." aku terdiam sebentar. "Hana, sudah sarapan belum?"

Hanabi menggeleng dengan tetap menundukkan kepalanya. Diamnya tak berlangsung lama karna Hanabi kembali membuka suaranya.

"Dia cantik ya, kak?"

Mendengar pertanyaannya. Aku pun sudah paham ke mana arah pembicaraan Hanabi.

"Hana imut," ujarku lembut. Dia tidak merespon. "Apa Hana sayang kakak?" Hanabi hanya mengangguk pelan.

Setelah itu hening, tidak ada yang berkata-kata. Ingin kuraih tangannya dan menautkan jemariku dengan jemari tangannya. Namun, karena malu dan masih ada kekakuan yang ada di antara aku dan Hanabi, aku mengurungkan niatku. Sampai berlama-lama kemudian kami tiba di sebuah pertigaan menuju sekolahnya, gadis itu berhenti dan aku pun ikut menghentikan langkahku sambil mengernyitkan dahi.

"Kenapa berhenti, Hana?"

"Sudah sampai, kak."

Kuhela napas kecewa. "Padahal kakak masih ingin bersama Hana lebih lama lagi." Hanabi tidak menjawab. Dia makin menunduk.

"Apa besok kita bisa bertemu lagi, Hana?"

"Entahlah, kak. Aku masuk sekolah dulu." Hanabi langsung berlari tanpa berkata apa-apa meninggalkanku di jalanan itu. Aku hanya tersenyum menatap kepergian Hanabi yang semakin menjauh dari pandanganku. Tak menyadari di sekitarku muda-mudi yang memakai seragam pramuka berjalan melewatiku.

TBC