Disclaimer : Naruto hanya milik om Masashi Kisimoto
.
.
.
Hari itu hujan. Langit tampak kelabu. Rinainya mengguyur tubuhku. Aku segera bergegas ke sebuah papan nama yang ada lima belas meter dariku. Ini adalah ke empat kalinya aku datang menemui Hanabi. Aku tak menduga sebelumnya, guyuran hujan itu telah mengusirku dari tempat duduk itu.
Sambil berjongkok kusandarkan punggungku pada kaki papan nama itu. Rintik hujan menghalangi pandanganku. Aku berharap Hanabi akan keluar menemuiku. Meski kecil kemungkinannya dia akan melakukannya.
Dengan kecemasan yang terus melanda hatiku, aku berdo'a semoga hujan ini lekas reda agar aku bisa bertemu dengan gadisku. Pandanganku sesekali terarah pada layar ponselku, memperhatikan dengan seksama jam yang terpatri di layarnya. Aku menjadi semakin gelisah tatkala jam sudah menunjuk pukul setengah tujuh. Namun, kegelisahanku agak berkurang saat guyuran hujan setengah mereda, yang tersisa hanyalah gerimis.
Sayup-sayup dari arah belakang, kudengar seseorang memanggil namaku. Kutengok ke belakang untuk memastikannya, dan kulihat di depan sebuah POLINDES Hanabi sedang berdiri sambil mengangkat tangannya, dan menggerakkannya mengajakku untuk ke sana. Aku tersenyum, lantas bangkit. Aku berjalan menghampiri gadisku seraya menggelar telapak tanganku untuk melindungi kepalaku yang setengah basah.
Kulihat Hanabi masuk ke halaman POLINDES itu dan berhenti di bawah pohon yang baru besar. Aku pun mempercepat langkahku menghampiri gadisku. Setibanya aku di depan Hanabi, kuacak rambutku yang basah supaya aku jadi tambah keren. Kupandangi wajah gadisku yang tertunduk.
.
"Kupikir kakak tidak akan datang..." gantungnya lemah memulai percakapan.
"Memangnya kenapa, Hanaku?" tanyaku sambil tersenyum melihat pipinya memerah.
Sejak awal dia tak pernah mau menatap mataku lama-lama. Cuma sedetik, lalu berpaling ke tempat lain. "Cuma kakak saja yang memanggilku seperti itu."
''Hana suka dipanggil begitu?'' Jantungku berdebar-debar hebat sampai dadaku terasa nyeri. Napasku memburu. Aku tak mau melepaskan wajah gadisku dari pandanganku. Manis sekali sampai-sampai aku mau menggigitnya. Aku menyentuh wajah gadisku dengan ujung jari-jariku.
"Memangnya kenapa, Hana?" tanyaku gemas. Tiba-tiba saja Hanabi menutupi wajahnya dengan dua telapak tangannya seraya berbalik menyampingiku.
.
"Jangan lakukan itu lagi, kak," tegurnya dengan suara begetar.
.
''Tentu saja,'' sahutku tanpa arti. Dia pun menurunkan tangannya, mengerjap-ngerjapkan matanya sambil berdehem. Jujur saja aku tak bisa menahan diri saat melihat rona pipinya. Aku kembali menyentuh wajahnya, dia tak merespon, maka kuusap tulang pipinya dengan jempolku.
"Hana cantik," kataku lemah.
Hanabi menepis tanganku dan berpaling lagi. Aku tertawa. Hanabi berkata, ''Udah donk, kak. Ntar Hana pulang kalau kakak gitu terus.''
"Hana, tidak sekolah?" tanyaku mengubah topik.
Digelengkannya kepalanya, lalu menghadapku lagi. "Tidak. Sedang hujan kak."
"Cuma gerimis doang, Hana. Basah sedikit juga tidak apa-apa 'kan?" Dia diam saja. "Ayo sekolah. Nanti Hana terlambat."
Aku mengamati tangan kirinya yang menggantung. Entah mengapa aku tergelitik untuk memegang tangannya yang kecil itu. Aku pun melakukannya. Kupegang tangannya. Dadaku menghangat. Namun, perubahan wajahnya dari yang berwarna merah menjadi murung membuatku langsung menghentikanku.
"Hana, kenapa? Tidak suka ya kakak pegang tangannya?"
"Bukan, kak," katanya. "Hana hanya teringat sesuatu."
"Teringat kakak ya?" tanyaku percaya diri, namun agak bingung.
"Ikh, kakak ke-GR-an tahu," balasnya, berlari meninggalkanku. Aku pun mengejarnya.
XxxxX
Dalam guyuran gerimis di hari itu kami berjalan bersisian. Meski di belakang kami ada Sara beserta sekumpulan anak SD dan anak-anak SMP lainnya, sedang memperhatikan kami. Tapi aku tak mengacuhkan mereka dan lebih banyak memperhatikan Hanabi.
"Hana..." kupanggil dirinya.
.
"Hm?" dia melirikku sebentar, kemudian kembali menatap jalanan.
"Kakak, boleh pegang tangan Hana tidak?"
"Tidak boleh." Dia menolak.
Aku tetap memaksa. "Boleh ya?"
.
"Tidak." Dia menolak lagi.
"Sekarang boleh ya?"
"Tidak."
"Ayo donk Hana. Sekali saja."
"Ikh, kakak maksa banget sih," katanya marah.
"Cuma pegang tangan saja, masak tidak boleh?"
Dia menatap mataku selama dua detik. Tatapan itu menembus langsung perasaan terdalamku. Untuk sesaat yang penuh arti aku mematung. Ingin sekali kudekap dia. Dia pun berkedip dua kali, lalu berpaling. "Janji ya cuma sekali aja, kak?"
Aku masih mematung sebentar mendengar kesanggupannya, lalu aku tersadar. "Iya janji," kataku tiba-tiba.
Setelah itu Hanabi diam. Dia tidak bilang 'Ya' mau pun 'Tidak'. Dengan hati-hati kuraih tangannya, dan Hanabi tersentak dengan yang kulakukan. Dia memandangiku sambil membuka mulutnya, lalu tangannya reflek menjauh dari tanganku. Namun, kugenggam tangannya erat-erat. Darahku berdesir. Dadaku bergolak. Dia pun memalingkan wajahnya, tapi aku bisa melihat mukanya semakin merah, dan bibirnya yang terbuka itu. Aku juga mendengar suara napasnya makin berat.
Hanabi membuang napas. "Apa ada orang di belakang kak?"
Aku menoleh kebelakang. "Tidak ad―"
"Cieee, cieee, cieeee..." Gerombolan yang ada di belakang kami berteriak menggoda. Hanabi pun menoleh ke belakang. Seketika itu juga wajahnya berubah merah padam. Segera ditariknya tangannya dari genggaman tanganku.
"Kakak, lepaskan aku..." Hanabi menarik-narik tangannya. Tapi lebih erat lagi kugenggam tangannya.
"Tidak. Kakak belum puas. Lagi pula ini hanya sekali."
"Tapi...'' Dia lalu tertawa, lalu membungkam mulutnya ''Mmmhhh." Aku jadi bergairah. Hampir saja kutarik dia ke dalam pelukanku.
"Kakak, kumohon lepaskan aku. Aku malu!" kata Hanabi dengan nyaring. Kedengaran seperti sedang ingin menangis. Akhirnya karena terpaksa dan juga kasihan aku pun melepaskan genggamanku.
Aku mendesah kecewa. "Berarti besok kakak boleh pegang tangan Hana lagi?"
"Kakak 'kan sudah janji pada Hana."
"Itu 'kan cuma setengah Hana. Coba tadi sampai kakak puas."
"Tu 'kan kakak ingkar janji."
"Kakak janjinya sampai penuh. Bukan setengah-setengah."
"Tidak mau. Pokoknya besok tidak boleh. Kakak sudah janji," rajuknya.
Iya sih, dia bilang begitu. Tapi besoknya kenyataannya berbeda. Dia diam saja, tak menolak ketika jemariku menelusup ke celah jemarinya. Aku merasa seolah ini adalah mimpi. Aku merasa mengawang. Jantungku berdenyut menggila. Denyutnya mengalirkan perasaan hangat ke sekujur tubuhku, hingga kurasakan perutku mulas. Seluruh sarafku merespon perasaan hangat itu. Aku tak bisa mengendalikan diri. Kuangkat tangannya. Kucium dengan mendalam seakan-akan seluruh perasaanku terbuang pada ciuman itu. Hanabi tidak protes. Aku mengawasinya sebentar, lalu mengendus pada telapak tangannya, lalu kugosokkan tangannya pada pipiku...
Xxxxxxxxxxxxxxx
Sepuluh hari telah berlalu, Hanabi dan aku telah menuliskan kisah cintaku pada tepi jalanan ini. Sekarang Hanabi tak lagi melawan, dan diam saja ketika kugenggam dan kuciumi tangannya. Rasa itu pun makin meletup-letup dalam dadaku dan tak kunjung reda. Aku tak tahan lagi. Ketika jalanan telah sepi. Kuhentikan langkah kami di bawah pohon Kersen di pinggir jalan. Dalam sekejap kukungkung Hanabi ke dalam pelukanku. Kudekap ia erat-erat, hingga aku merasa kami telah menyatu. Hanabi mengeluarkan seruan terkejut. ''Kak,'' panggilnya. Aku tak peduli. Kuhirup aroma tubuh Hanabi. Kuremas baju seragamnya. Kutelusuri bahunya, lehernya, dan wajahnya dengan wajahku. Hanabi tak berkomentar apa-apa sampai tiga menit berlalu.
.
''Kak,'' panggil Hanabi lagi. Aku pun melepaskan pelukanku. Kami tersengal-sengal. Mukanya merah padam. Kurasa aku juga bisa merasakan wajahku memanas.
''Maafkan kakak,'' kataku penuh sesal.
Dia menatap langsung pada mataku yang basah. ''Kakak nangis?''
Aku menghapus jejak air mataku. "Nggak kok. Cuma kelilipan debu Hana,''
"Kakak bohong," katanya dengan muka cemberut.
"Nggak, Hana. Mana mungkin kakak menangis?" Kuangkat tanganku sambil memperagakan gaya binaragawan, aku berkelakar. "Kakak 'kan kuat. Lihat 'kan, lihat nih."
"Ehem, ehem." Aku menoleh, mendapati Sara sedang melewati kami. Dia menatap mataku lekat-lekat sambil tersenyum, tapi ada kesenduan pada mata merahnya yang membuatku tak mau berpaling.
"Nah, mulai udah matanya jelalatan ke mana-mana," sindir Hanabi padaku.
"Apa? Dia cuma lewat Hana."
"Alah, alasan." Dia berjalan lagi.
Aku mengejarnya. "Beneran kok."
Hanabi ngotot. "Bohong."
"Benar tahu."
"Bohong."
"Mmm... Hana sudah sarapan belum?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
Kupegang bahunya. "Hana," panggilku. Dia mengalihkan wajahnya ke samping. "Lihat kakak,'' pintaku.
"Nggak."
"Hana,"
"Jangan melihatku seperti itu."
"Terus bagaimana?"
"Ah, sudahlah." Hanabi berlari meninggalkanku sambil menutup wajahnya.
''Hana!'' Lalu aku tersadar bahwa kami telah ada di persimpangan jalan menuju sekolahnya. Aku pun mendesah kecewa. Sambil mengutuk dalam hati aku memandang kepergian Hanabi yang masuk ke dalam sekolahnya dengan sedih.
Xxxxxxx
Aku melangkah pulang sambil bersenandung. Setibanya aku di gang kampungku Nagato bersama Karin berdiri di tepi jalan raya. Di dekatnya sedang terparkir motor yang selalu dipakainya berangkat kuliah. Lelaki yang sudah memasuki bangku perkuliahan itu sedang bersidekap dengan wajah ditekuk menatapku. Segera setelah aku berada di depannya ia pun langsung menghampiriku bersama Karin dan aku sudah tahu apa yang akan dilakukannya padaku.
Bletak.
"Itttaii!" Aku merintih kesakitan sambil menggaruk kepalaku.
"Hahahahaha" bukannya khawatir, aku malah jadi bahan tertawaan Karin. Dasar sepupu jahat!
"Mana Experiaku." Nagato merentangkan telapak tangannya di depanku.
Kukeluarkan ponsel pembawa sial itu dari saku jaketku, lalu kuberikan pada Nagato. "Ini. Dasar pelit." sindirku.
"Bukannya gitu. Tapi di sini ada file-file penting yang sudah susah-susah kukumpulkan," jelasnya.
"Memangnya aku ini anak kemarin sore yang baru mengenal ponsel android."
"Bukannya aku tidak percaya padamu. Tapi, nanti kau salah tekan sehingga isi memory cardku terhapus semua oleh jahatnya jari-jari tanganmu itu."
"Halah, bilang saja kalau kau itu tidak rela ponselmu dipegang-pegang. Dasar pelit."
"Sudah, sudah," tiba-tiba Karin menyela acara pertengkaran kami. "Kakak, berangkat kuliah sana. Nanti telat." lalu mengusir Nagato, kakaknya.
Nagato mendesah. "Ya sudah, Kakak berangkat dulu ya, Karin." mendadak dia langsung mendelik kearahku, matanya tertuju pada objek yang sedang memeluk lenganku di sampingku ini. "Dan kau. Jangan apa-apa 'kan adikku."
"Apa?!" seruku.
Dia memakai helmnya. Kemudian menaiki motornya. "Aku hanya khawatir meninggalkan adikku bersamamu."
Dan ucapannya itu, membuatku mengingat kembali kejadian ketika aku menindih Karin di atas tempat tidur. "Hei! Waktu itu hanya kecelakaan yang tidak disengaja! Kenapa kau selalu mengungkit-ungkit kejadian itu!" Dia lantas tertawa, yang aku sendiri tidak tahu apa maksud dari tertawaannya itu.
"Kak Naruto ayo temani aku." Nah, yang minta ditemani di sebelahku ini punya kebiasaan aneh. Dan kebiasaannya ini ia lakukan ketika aku sering menginap di rumahnya. Karna orang tuaku sering pergi keluar kota, tepatnya mengunjungi kakakku Naruko yang sudah menikah dan tinggal di Suna. Awalnya dia tidak pernah melakukan kebiasaan itu. Dia mulai melakukan kebiasaan anehnya itu saat dia baru memasuki sekolah SMA. Pagi-pagi sekali dia sering menunggangi perutku, lalu mencubit-cubit pipiku dan itu membuatku sangat terkejut. yang paling parah terjadi 1 bulan yang lalu saat kudapati wajahnya sangat dekat dengan wajahku dan hampir saja aku berciuman dengannya. Mungkin kalau dia Hanabi, aku akan dengan senang hati memberinya ciuman. Tapi, berhubung dia sepupuku, aku agak merasa risih dengan hal itu.
Aku mencoba mengelak dengan cara membantingnya ke samping. Bersamaan dengan itu, Nagato tiba-tiba saja berdiri di depan pintu kamar yang kutempati dan menyaksikanku sedang menindih Karin. Dia tidak berkata apa-apa, hanya saja semenjak kejadian itu dia sering menyindirku dengan kalimat yang barusan.
"Kak Naruto." Karin memanggilku.
"Mm?" kulirik Karin yang masih memeluk lenganku. "Kabar di jalanan mengatakan kalau kakak sedang jatuh cinta."
Kata-katanya membuatku sangat terkejut."Ha? Jalanan mana yang mengatakan itu!" kugerakkan tanganku menunjuk jalan raya yang ada di sebelahku. "Apa yang ini. Urus saja urusanmu sendiri kawan!" kuteriaki jalanan itu. Bikin emosi saja, dasar payah.
"Jangan bercanda," balasnya ketus sambil mencubit lenganku.
"Aw!"
