Disclaimer : Naruto hanya milik om Masashi Kisimoto


.

.

.


Hari itu berbeda, tepatnya 2 bulan lebih sejak pertama kali aku menembak Hanabi, aku datang pada sore harinya. Lembayu keemasan bersinar mewarnai langit. Tapi aku tak peduli itu, karna aku bukan pengamat senja. Aku berhenti berlari, melanjutkan dengan berjalan-jalan. Pagi mau pun sore jalanan begitu-begitu saja, agak lenggang dan sepi. Aku melirik ke kanan saat kulihat sosok Sara bersandar pada salah satu gerbang rumahnya. Lalu ada seorang cowok duduk di atas motor di dekatnya. Aku menebak itu pasti pacar Sara. Sara menyunggingkan senyum manis padaku. Tapi lagi-lagi kesenduan pada matanya begitu kentara sampai-sampai aku jadi mengerutkan alis.

Wajahnya cantik. Dia berkulit pucat, dengan bibir yang bagus, yang tiap kali tersenyum, dia akan menarik semua mata kepadanya. Semua orang tahu itu. Tingginya kurasa lebih tinggi sedikit dariku. Dengan bentuk tubuh ramping, idaman para perempuan. Tapi matanya... Sepasang mata merah yang sendu seakan ada suatu kesedihan yang tampak samar di balik mata itu. Namun, kesedihan dalam matanya pun sirna, tergantikan binar mata hangat.

''Mau ketemu Hanabi ya?'' tanyanya. Aku tersenyum dan mengangguk. ''Tumben dateng sore-sore.''

Kataku, ''Hanabi yang minta. Katanya dia ingin melihat senja bersamaku.''

Dia mengernyit keheranan, berkedip sekali, kemudian berpaling sekejap pada cowok di dekatnya. Lantas menghadapkan mukanya padaku, dan mengangguk. Aku mengendikkan bahu seraya melangkah lagi. Tapi kulihat kesenduan itu kembali tampak jelas dan tak kumengerti.

Aku duduk di tempat itu seperti biasa. Kuhubungi dia dan menyuruhnya segera keluar. Setelah mematikan ponsel, kuseka keringatku. Jejeran pohon-pohon Kersen melambai-lambai tersapu angin. Kelopaknya berterbangan. Salah satunya menampar mata seorang pengendara jalan, yang kemudian berseru, ''Sialan!''

Selama menit-menit yang panjang aku terus sabar menunggu. Di benakku hanya terbayang muka Hanabi yang merona itu. Aku merasa tergelitik. Aku mengangkat pandanganku dan kulihat Hanabi jauh di depanku. Pada awalnya sosoknya begitu kecil sekecil telunjuk lantas membesar. Hatiku pun menghangat. Makin dekat, makin jelas mukanya yang dipoles itu membuat mulutku terbuka.

Rias mukanya tipis, tapi sangat pas dengan wajahnya yang pucat itu. Pipinya bersemu merah jambu. Kelopak matanya diberi celak seperti gadis itu kelewat iseng mencorat-coret matanya dengan spidol warna hitam. Rambutnya... Itu dia... Melambai pelan tertiup angin sepoi. Seketika pesonanya membuatku lupa semuanya. Dia mengangkat wajahnya tepat menghadapku, menatapku hanya sekilas, lalu menunduk lagi. Setibanya dia di depanku, dia hanya melirikku sebentar, kemudian mengambil tempat duduk di dekatku.

Perasaanku mengawang bahagia seakan bermimpi. Aku teler dibuatnya, teler akan pesonanya. Setiap gerak-gerik yang dia lakukan tak lepas dari sorot mataku. Seakan kecantikannya akan pergi begitu aku memandang yang lain.

Dia mengangkat tangannya, menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Jelas pula pipinya yang merah itu tampak kontras dengan kulit pucatnya. Kemudian dia membungkuk, dan dia membetulkan sendal merah yang digunakannya.

Aku terdiam lumpuh, tanpa sepatah kata pun. Kalau saja dia istriku mungkin sudah kuserang dia dari tadi saking gemasnya aku melihatnya.

Dia menegakkan tubuhnya lagi, membetulkan pakaiannya yang padahal masih rapi. "Ehem, ehem." Dia berdehem pelan tanpa mau menoleh. Setelah itu hening, tak ada kata-kata lagi yang mengudara. Semenit pun berlalu. Aku masih memperhatikannya. Dua menit juga berlalu. Aku masih betah menatap wajahnya. Tiga menit berjalan amat lambat. Sejam pun aku tidak akan pernah mau memalingkan pandanganku dari wajahnya. Bahkan kalau seandainya ada pesawat yang akan jatuh ke sini dan melindasku, aku tetap tidak akan pernah berpaling darinya.

"Kak..." Dia memanggilku dengan suara yang lembut. Tapi aku tak menjawab. Tiada satu huruf pun mau muncul di benakku saat itu. Pikiranku sudah tak kutahu sedang nyangkut di mana. Sekonyong-konyong kesadaranku lantas kembali ketika dia mendorong pelan wajahku dengan tangan kirinya, hingga pandanganku teralihkan dari wajahnya. Lantas tangannya yang lain membekap mulutnya.

"Kakak... Jangan melihatku seperti itu...," katanya sambil tersipu.

Sontak tanganku yang kiri pun memegang pergelangan tangannya. "Hana, cantik...," gumamku pelan.

"Kakak, bohong..." Dia menggenggam tangannya dan menariknya, menjauhkan tangan itu dari wajahku. Aku pun menahan tangan kecil itu. Tapi perlawanannya makin gencar. Takut menyakitinya, akhirnya tanganku yang lain membantu menggenggam tinjunya, tidak terlalu kuat.

Perlawanannya melemah, genggamanku pun ikut melemah. Tinjunya yang semula terkepal terbuka sedikit. Jari-jari dari tanganku yang kiri lalu bergerak menelurusi nadi Hanabi. Hanabi membuang napas dengan berat. Aku mengerjap. Jari-jariku naik, menelusup ke dalam celah itu. Makin terbuka lebar celah itu sampai jariku masuk ke dalamnya. Aku bisa merasakan celah di antara jemari Hanabi. Pun menahan napas, amat lembut sekali garis-garis itu.

Jariku memaksa masuk. Hanabi pun meregangkan jarinya. Mendadak Hanabi menggenggam erat tanganku, seolah tangan kami bersatu. Jariku terpenjara. Kuperhatikan mata lavender Hanabi sedang menatap tangan kami yang berkaitan. Aku agak berhasrat ketika melihat matanya yang sayu itu.

Tangan kami pun turun dan berhenti di depan dadaku. Aku tersenyum. Tangan Hanabi kutarik sampai menyentuh dadaku. Kemudian kugerakkan pelan tangan kananku yang bebas ke pipi kiri Hanabi yang masih ditutupi telapak tangannya.

Tiga ujung jariku menyentuh lembut bagian dekat sudut matanya. Hanabi pun menurunkan pelan tangkupan tangannya dari mulutnya. Pelan dan pelan hingga tangannya mendarat di panggkuannya. Bisa kulihat pipinya makin memerah. Matanya terpejam pelan ketika jari-jariku mengelus pelan pipinya. Dia? Muka Hanabi bergerak mengikuti ke mana ujung jari-jariku bergerak. Sudut bibir kiri Hanabi terangkat, menampakkan senyuman termanis yang menggelitiki dadaku.

Napas berat kami berhembus panjang. Aku semakin mabuk dibuatnya. "Hana...," panggilku bergumam pelan.

"Hmh?" desahnya. Hanabi tidak membuka matanya. Caranya mengatakan itu terdengar bagai desahan di telingaku. Hasratku pun makin menyala. Ingin sekali rasanya kupeluk erat-erat tubuh Hanabi lagi seperti waktu itu. Dia benar-benar membuatku tergila-gila.

Tapi tiba-tiba kami terlonjak dengan suara klakson motor itu. Kami menatap pengendara goblok itu, tak sadar dengan tautan tangan kami telah terpisah. ''Resek amat sih!'' Hanabi menunduk. Gerakannya membuatku berpaling padanya. Rasa malu menyergapku. Aku merasa pipiku memanas setelah menyadari pikiranku menyelam terlalu jauh.

"Kak...," Hanabi memanggilku. Aku mengangkat wajahku menghadap ke wajah Hanabi yang sedang menunduk.

"Mm?"

"Kenapa diam?" tanyanya kemudian.

"Mm, hmm..." aku sedang mencari-cari alasan. "tidak ada. Hm.. Hana sudah sarapan belum?" Aku mengucapkan apa saja yang terlintas dalam pikiranku.

Dia membuang napas. "Kakak."

"Iya?"

"Ini sudah sore. Mana ada orang sarapan sore hari. Kakak ini aneh," kata Hanabi nyaring.

Aku menyahut, "Ya siapa tahu 'kan, Hana belum sarapan dari tadi."

"Sarapan itu pagi. Kalau sore itu namanya makan!"

"Sama saja. Sama-sama masukin makanan ke mulut 'kan,"

"Iiiiiii," dia menunjukkan wajah menggemaskannya sambil mencubit pahaku dengan pelan.

"Aduh!" dan aku berpura-pura kesakitan untuk menarik perhatiannya. Tapi tak bisa. Aku malah tertawa karena melihat muka sebalnya. Aku pun terpaku pada mata Lavendernya dan terdiam. Cepat-cepat kupegang pipi Hanabi dengan tangan kiriku. Kemudian secepat mungkin kukecup pipi Hanabi.

Dia memejamkan matanya, kemudian Hanabi memegang kedua tanganku. Kucium tulang pipi Hana. Kucium mata Hana. Aku tidak tahu, tapi sikap Hanabi hari itu terasa agak berbeda dari biasanya.

Semakin lama aku makin tersengal. Dadaku terasa sesak. Aku ingin mengakhirinya, namun lembutnya pipi Hana membuatku malah ketagihan, sehingga aku makin dalam mencium pipi Hana. Kutarik Hana kedalam dekapanku, dan kecupanku makin bernafsu.

Sampai beberapa saat kemudian terbesit dalam hatiku rasa bersalah. Aku pun segera melepaskan ciumanku dari pipinya, tapi masih tetap menangkup pipi kanannya. Kuhela napas sejenak. "Maaf...," ucapku lemah sambil memejamkan mata. "kakak tidak bisa menahan diri."

Kurasakan tangan kiriku yang sedang menangkup pipinya digenggam. "Hana tahu, kakak tidak akan melakukan hal seperti itu padaku," balasnya seolah paham dengan isi pikiranku.

Aku kian menekan wajahku, makin dalam hingga aku bisa mendengar hembusan napas Hanabi. Aku pun menarik napas sedalam mungkin, menghirup aroma parfum Hanabi. "Jangan katakan hal seperti itu, Hana."

Dia membisu, tapi syukurlah karna tidak perlu ada perdebatan yang akan membuat kami ribut. Aku pun segera menjauhkan diri dengan merana, menjaga jarak dari Hanabi. Sesudah itu kami tak berkata apa-apa. Otakku terasa buntu. Aku berpaling pada matahari senja. Langit berwarna kemerah-merahan. Menara pemancar berdiri tegak di kejauhan, dengan siluet indah pepohonan. Aku tenggelam dalam lamunanku ketika membayangkan Hanabi menjadi pendamping hidupku.

"Kak." Hanabi menghancurkan lamunan singkatku.

"Ya?"

"Kakak, sudah makan belum?"

Aku mengikik. ''Tentu saja."

"Bagus kalau begitu,"

Keadaan kembali canggung. Aku jadi tidak nyaman. Aku langsung mengutarakan lamunanku berdetik-detik lalu.

.

"Hana... Kakak ingin Hana jadi istri kakak. Supaya tiap hari kakak bisa peluk Hana, cium Han―" Aku pun berhenti. Bisa-bisa aku akan mengatakan semua isi pikiranku.

"Serius?" Hanabi menanggapi pertanyaanku dengan serius.

"Tentu saja-tebayooo. Biar kita tidurnya barengan. Terus aku peluk Hana, cium Hana, tindih Hana. Terus kita punya anak nyang banya―"

"Kakak!" Hanabi berteriak nyaring sambil mencubit pahaku. "mengkhayalnya keterlaluan...,"

''Maaf,'' kataku agak malu.

Kami bercengkrama sampai mentari menyentuh cakrawala. Kami bercanda. Kami tertawa. Kami juga berdebat. Reaksi Hanabi benar-benar mengejutkan. Hanabi kadang suka berteriak nyaring sambil memukulku dan menjewer pipiku.

''Sudah hampir maghrib,'' kataku sedih. Nyatanya sudah hampir gelap. Warna merah langit hanya sebagian kecil di barat. Hanabi kelihatan tersentak. Dia menoleh pada matahari selama beberapa detik. Lantas kembali memandangku, dan membuang napas.

''Aku harus pulang, kak,'' kata Hanabi.

Aku menghela napas dengan kecewa. ''Apa kita bisa bertemu lagi besok?''

Hanabi bangkit, lalu tersenyum. Ia berkata dengan riang. ''Tentu saja.''

''Makasih, sayang.'' Aku pun bangkit. Kami lantas bertatapan. Ada banyak kesedihan yang menyerbuku saat itu. Maka aku pun menarik Hanabi ke dalam pelukanku. Kudekap dia sangat erat. Hanabi menjambak rambutku. Kusibak rambutnya, lalu kukecup keningnya lama. Kucium pula mata Hanabi yang bercelak itu. Bibirku meraba wajah Hanabi... hidungnya... tulang pipinya... turun ke pipinya... Lalu ke rahangnya... Hanabi tersengal. Kusibak rambut di telinga Hanabi, kemudian kuendus telinga Hanabi. Hanabi menggelinjang kegelian. ''Mmhh...'' Lantas bibirku turun ke lehernya. Kugosokkan hidungku dengan gemas. Wangi tubuh Hanabi tergambar jelas dalam benakku. ''Kak. Mmh...'' ujar Hanabi lemah.

Maka kulepas Hanabi dengan berat hati. Hanabi berdehem. Merah sekali mukanya. Ia lalu merapikan pakaiannya, lalu merapikan rambutnya, tak lupa mengibaskan rambut sewarna malam itu kemudian. Tapi segera kutangkup kedua pipinya, lantas kucium lagi bagian di dekat bibirnya selama beberapa detik. Dan kami pun berhenti.

Kami kemudian berjalan, berpegangan tangan. Ketika tiba di persimpangan jalan itu, aku berhenti dengan agak nelangsa, tapi Hana tetap berjalan, lalu dia berbelok tanpa memandangku. Hana tak mau melepaskan tangannya hingga tangan kami seakan bertarikan lemah. Aku menatap bingung Hanabi yang tak kunjung melepaskan genggamannya. Wajahnya hanya terarah pada jalan itu.

"Hana, kenapa?" tanyaku bingung. Ia pun tersentak dan segera melepaskan genggaman tangannya sembari berlari. Lima meter kemudian dia berbalik menghadapku. Mukanya tertunduk. Matanya memandang kakiku. Potret Hanabi dengan latar yang agak gelap di sekitarnya menimbulkan kesan amat menyedihkan dalam diriku.

"Selamat tinggal, kak. Besok lagi kita bertemu...," ucap Hanabi, lalu berbalik meninggalkanku. Aku memandangi punggung gadisku yang makin mengecil. Kibasan rambutnya yang tampak samar-samar dalam pandanganku terasa amat menyedihkan.

.

Aku keluar dari kamar mandi sambil mengenakan handuk. Langkahku terhenti ketika aku melihat Karin bersama ibuku di ruang tamu. Dia sedang membelakangiku. Rambut merahnya menjuntai di punggungnya. Ibuku memandangku dan Karin pun mengikuti.

.

"Karin?" Aku menatapnya tak percaya. Penampilan Karin berubah 180 derajat. Dari yang suka mengenakan hotpants sekarang rok panjang. Karin tampak lebih manis, tapi tentu saja Hanabi jauh lebih manis...

"Hei. Jangan melihat sepupumu seperti itu. Kau ini naksir ya?" goda ibuku. Namun aku tak peduli dan masih tetap menatap tidak percaya gadis yang jadi sepupuku itu.

"Ada apa?" tanyaku dengan pandangan terpaku.

Karin kelihatan merona. "Eh, kak Naruto. Temani aku ke warnet," sahut Karin.

"Boleh, memangnya mau apa?"

"Ada tugas dari guruku, kak,"

"Oke deh, tapi kakak pakai baju dulu ya?"

Karin mengangguk dan aku pun cepat-cepat berlalu ke kamarku. Sepuluh menit berikutnya kami telah berjalan di tepi trotoar. Karin memeluk lenganku seperti biasa. Aku membetulkan jaket hitamku. Kalau boleh jujur, sebenarnya jaket ini Karinlah yang membelikannya. Waktu itu aku menemani Karin ke Mall membeli ini dan itu. Lalu kami lewat di depan sebuah toko pakaian, perhatianku langsung tertuju pada jaket hitam ini. Begitulah akhirnya jaket ini jadi milikku setelah aku merampok dompet Karin. Sebenarnya Karinlah yang membelikannya untukku.

Kami sampai di tujuan, tepatnya di Naranet. Warnet milik ayah Shikamaru, yang penjaganya tidak lain dan tidak bukanlah adalah Shikamaru sendiri, salah satu teman nongkrongku sekaligus teman masa SDku.

"Hah... Dasar aneh." kata-kata itu terlontar begitu aku melihat sifatnya yang tidak pernah berubah dari dulu.

Selalu tidur sembarangan. Dengan ke dua kaki masing-masing berada di samping monitor komputer, lalu mulutnya terbuka lebar menghadap ke atas. Jadi dia begitu mengenaskan seperti korban tawuran saja.

.

KRIIINGG

.

Bunyi itu mengagetkan aku, sedikit. Itu bunyi Billing Explore di komputer Shikamaru. Seorang remaja laki-laki yang tentu sudah tidak asing lagi bagiku. Namanya Udon, bocah yang penampilannya culun sekali, dan bagian mirisnya adalah pacar Hanabi dulu... Ah sudahlah...

Dia berdiri di depan Shikamaru. "Shikamaru berapa?" Shikamaru melihat pada jam tangannya, lalu mengacungkan tiga jarinya ke udara, singkatnya tiga ribu maksudnya.

Setelah pemuda itu pergi, sekarang giliran aku yang berdiri di depan Shikamaru. Timbul niat ku untuk mengerjai bocah nanas ini. "OI! BANGUN NANAS!"

Braaakk

Kugebrak meja kecil tempat si nanas ini meletakkan kakinya. Dia terlonjak kaget dan menendang monitor di depanku. Monitor itu jatuh ke arahku. Reflek kami pun cepat-cepat meraih monitor itu dan untung saja tidak jadi jatuh, tapi satu-satunya hal yang mengganjal di pikiranku saat ini adalah kenapa aku memegang punggung telapak tangan si nanas ini. Dan sekarang kenapa tatapan kami malah terkunci?

"Bwahahaha...," tawa Karin meledak melihat kejadian itu dan seketika membuatku langsung tersentak. Aku merasa mual-mual dengan yang terjadi ini. Aku ini masih normal!.

"Wuuuueeeksss, wueeekkksss,"


XxXxX


Aku duduk sendirian di sudut tempat ini, menghajar mouse dan papan keyboard dengan jari-jariku. Aku melihat-lihat akunku di salah satu situs jejaring sosial yang populer saat ini. Sudah sebulan lebih aku tak membuka akun kece ini.

Tidak ada yang bagus dalam pemberitahuannya, hanya sekadar tumpukan like dari akun bernama Violetgirl. Jujur saja sebenarnya, aku agak merasa terganggu. Selain karna boom like ini cuma memenuhi pemberitahuan saja, juga aku mesti lelah menscroll ke bawah mencari-cari pemberitahuan yang lainnya.

.

Kapan aku mulai berteman dengannya? Sayangnya aku lupa. Aktifitas boom jempol ini dimulai sejak dua bulan yang lalu. Status-status dan poto-potoku yang sudah lalu habis dijempol olehnya. Lupakan soal itu.

Karin pun datang. Dia langsung mendesakku di pojokan. "Udah lama nunggunya kak?" tanya Karin seraya meletakkan tas kresek putih di atas meja.

"Baru sepuluh menit," Aku meraih tas putih di depanku, mencari-cari tuhan 9 centi, berkepala api yang merusak paru-paru manusia. "mana rokoknya?" tanyaku sambil menatap Karin.

Seketika itu juga Karin melotot. "Kakak beli aja sendiri pakai uang kakak!" bentaknya.

"Kenapa kau marah?"

''Tahu!''

''Iya deh, gak ngerokok. Ampun deh.''

Shikamaru mendadak muncul di depan kami sambil menenteng bungkusan rokok. Biji matanya membelalak nyaris keluar ketika dia melihat bingkisan di meja. Kemudian tanpa berucap sepatah kata, secepat kilat ia tukar salah satu eskrim di depanku, lalu ngacir meninggalkan kami.

Wah, kebetulan pikirku. Eh, ketika aku hendak mengambil itu rokok, Karin tiba-tiba mendahuluiku, gerakannya bagaikan kilat, lalu diremas-remasnya rokok itu. Dan saat aku menoleh ke arahnya, bulu kudukku langsung berdiri saat aku melihat tampangnya.

Karin berdiri seraya melemparkan bungkus rokok yang sudah awut-awutan bentuknya itu ke arah operator. "Operator payah! Berhenti memberikan rokok pada kak Naru―mmphhhff," Aku langsung membekap mulut Karin seraya menariknya untuk duduk, karna aku tidak mau kami jadi pusat perhatian tempat itu. Karin terus memberontak, terpaksa aku pun memeluk tubuhnya erat-erat, sehingga perlawanannya pun melemah.

"Ssstt... jangan berisik."

"Habis, aku tidak suka kak Naruto merokok," kata Karin merajuk.

Aku berkata, "Iya, kakak tidak akan merokok lagi, Karin. Jadi jangan ngamuk lagi."

Karin membuang napas, berangsur-angsur ia pun menenang, tapi tak menjawab. Segera kulepaskan pelukanku padanya. "Ayo, kerjakan tugasmu. Nanti keburu malam lagi. Kau tahu 'kan bagaimana Nagato nantinya kalau kau telat pulang,"

"Ya, kak," balas Karin kemudian. Dia kembali menghadap komputer dan mulai mengetik keyboard. Kuraih makanan di atas meja dan mulai menyantapnya, mendadak perhatianku tertuju pada es krim di depanku. Sekejap saja aku telah menyuapi Karin. Haha. Lantas aku pun ingin mendengar musik.

"Bentar dulu, Karin. Kakak mau mendengarkan musik," kataku sambil mengambil headset yang tergantung di sebelahku, lalu aku memilih-milih lagu dan memasangnya di Media Player yang terinstal di komputer itu.

Aku pun memakai headset di tanganku. Sampai bermenit-menit kemudian salah lagu favoritku pun berjalan, aku ikut bernyanyi.

.

Mengapa ku selalu

Tak pernah benar di mata indahmu...

Mengapa ucapanku

Selalu salah di tutur lembutmu...

Aku tertipu ke-diam-anmu

Yang kuanggap semuanya baik-baik saja...

Ku tak menyangka di belakangku

Kau tigakan cintaku yang hanya kepadamu...

.

Apa yang membuatmu

Tak pernah mengungkap isi hatimu...

Andaikan engkau tahu

Betapa hatiku mencintaimu...

.

Aku tertipu ke-diam-anmu

Yang kuanggap semuanya baik-baik saja...

Ku tak menyangka di belakangku

Kau tigakan cintaku yang hanya kepadamu...

Satu untukku ooooaaa...

.

Apa yang membuatmu

Tak pernah mengung―

.

Aku berpaling dari layar komputer kepada Karin yang telah basah pipinya oleh air matanya. Aku pun terkejut. Aku lantas membuka headset, memandang Karin dengan khawatir kalau-kalau dia baru saja diputusin sama pacarnya. ''Ada apa, Karin?'' tanyaku. Dia menangis dengan suara kecil. Aku pun memegang pundaknya, lalu membalik tubuhnya menghadapku. "Karin, kenapa kau menangis?" tanyaku lagi. Karin malah menggelengkan kepalanya. Ia pun menunduk. "Katakan padaku. Kenapa kau menangis?" tanyaku lagi sambil menangkup ke dua pipinya.

"Peluk..."

Tanpa bertanya apa-apa aku pun menarik Karin ke dalam pelukanku. Isakannya kian nyaring. Dia membalas pelukanku sambil membenamkan wajahnya ke dalam dadaku. Kubelai rambutnya dengan penuh sayang.

''Diputusin kok nangis. Nangisin orang bego itu gak guna. Cuma buang-buang waktu doank.''

Berlama-lama kemudian keadaannya menenang. Ia melepas pelukannya dan menjauhkan diri dariku. "Emang kenapa kalau Karin nangis gara-gara cowok? Kan Karin juga yang salah sama dia. Salah kakak juga kenapa nyanyi-nyanyi gaje."

Aku menatapnya dengan sinis. ''Gak sampe segitunya juga kali nangis. Kayak gak ada cowok lain aja.''

Karin berkata sambil menatap mataku lekat-lekat, ''Mana ada cowok sebaik dia. Sampai detik ini juga Karin masih ga bisa maafin diri Karin gara-gara sering nyakitin dia.''

Wajahku berubah kecut. ''Jadi mau lanjut ngerjain tugas atau curhatan sampe malam?''

Sewaktu Karin masih SMP, dia suka gonta-ganti pacar. Seminggu pacaran lalu putus. Dan karna hal itu, aku dan Nagato harus menjaga Karin saat pacarnya mengajaknya pergi kencan. Kau tahu 'kan pergaulan anak zaman sekarang itu sudah tidak bisa dibilang baik. Apalagi Karin baru memasuki usia pubertasnya.

Berkali-kali gadis ini marah-marah padaku karna gara-gara aku, dia sering putus sama pacarnya. Terakhir kali aku melarangnya dia sampai menangis, kami bertengkar hebat, dia menyumpah-nyumpah, mengataiku 'Anak Anjing, Babi Ga Laku, Monyet bangsat!' mungkin juga sangat membenciku. Karna hal itu juga aku sampai memukul wajah si songong pantat ayam mantan pacarnya itu. Sempat juga aku hampir berkelahi dengan kakak si banci itu gara-gara dia melapor ke kakaknya dengan info yang diselewengkan.

Sejak saat itu aku berhenti melarang-larang Karin untuk berhubungan dengan siapa saja yang dia mau. Aku terlalu lelah dengan semua itu. Selama beberapa minggu juga Karin bersikap cuek padaku, tapi aku tidak peduli. Toh juga kakaknya yang menyuruhku untuk melakukan itu.

Tapi setelah tiga minggu berlalu, aku tidak tahu kenapa dan apa yang sudah terjadi padanya. Tiba-tiba saja dia datang ke rumahku dengan cerianya dan mengajakku ke sana ke mari seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami.

Karin kembali berkutat dengan komputer, sementara aku kembali berkutat dengan makanan itu. Setelah berjam-jam akhirnya Karin pun selesai mengerjakan tugasnya, kami pun segera berhenti setelah jam 10 malam kurang sedikitlah. Tinggal di print saja.

Kami lantas pulang, tapi apa yang kuterima saat sampai di rumah Karin ialah sesuatu yang membuatku naik pitam...

Nagato menamparku keras sekali. Aku sangat kaget karna tamparan itu. Sesudah menamparku, dia memegang kerah bajuku dan mengangkatku ke atas sehingga membuatku sedikit terangkat.

"Apa yang sudah kau lakukan pada adik ku, brengsek!"

Kata-kata itu membuat emosiku naik seketika dan aku sudah paham apa yang dia maksud. Aku pun menyikut perutnya dan meninju wajahnya sehingga membuatnya terjengkang ke belakang.

"Memangnya apa yang sudah ku lakukan pada Karin?! Kau pikir aku ini bajingan tak punya otak, hah!" teriakku sambil menunjuk-nunjuk wajahnya penuh emosi.

Aku terdiam setelah itu, bukan karna aku tidak tahu harus berkata apa. Hanya saja biasanya kalau sedang emosi seperti ini, aku suka mengumpat. Beberapa saat kemudian aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diriku. Kemudian berkata, "Buruk sangkamu terlalu, goblok. Kalau kau takut aku akan berbuat sesuatu pada Karin, maka detik ini juga kau tidak akan pernah melihatku lagi di sekitar kalian," lanjutku sambil membetulkan pakaianku dan berbalik pergi dari tempat itu.

"Kak Naruto."

Karin menghentikan langkah kakiku dengan memegang tangan kananku. "Maafkan, kakakku. Dia cuma sedang stres. Dia lagi banyak pikiran sekarang. Kakakku ga bermaksud melakukan itu pada kakak."

Mendengar suaranya, aku jadi membaik. Aku berbalik, memandangnya, sambil memaksa tersenyum, aku mengangguk. "Iya, tidak apa-apa, Karin," balasku.

''Jangan ikutan benci sama Karin juga gara-gara kelakuan kak Nagato.''

''Tentu saja. Obati saja kakakmu. Kurasa aku memukulnya cukup keras tadi.''

Karin berkata, ''Kakak gak mampir dulu?''

Aku menggeleng. ''Sebaiknya tidak. Soalnya kakak ga mau ada masalah lagi nanti.''

Karin mendesah. ''Yaudah deh kak,'' ujar Karin. ''tapi kakak jangan jadi cuek sama Karin gara-gara masalah ini.''

''Iya, Karin sayang. Kakak gak marah kok sama kamu.''

Malam itu aku duduk di kamarku sambil memikirkan kejadian itu. Beberapa kali aku sampai mengacak rambutku frustasi.

Akhirnya karna terlalu pusing memikirkan sikap Nagato tadi, aku berinisiatif menghubungi Hanabi. Mungkin dengan berbicara dengan Hanabi hatiku bisa sedikit lebih tenang.

Tapi apa yang kudapat bukannya ketenangan, malah gadis itu membuat suasana hatiku tambah keruh.

"Kak, apa kakak tahu bagaimana kabar Udon?"

Aku melenguh, sekarang apa maksud Hanabi dengan menyebut-nyebut nama mantannya? Tiba-tiba ponselku berbunyi dan ketika kuperiksa ternyata ada nama Nagato tertera di layar. Aku membiarkannya, sama sekali tak menjawab panggilannya. Aku sedang malas berdebat dengan orang itu.