Disclaimer : Naruto hanya milik om Masashi Kisimoto
.
.
.
Hanabi melanjutkan ceritanya, "Kami pernah mengerjakan tugas bersama di asrama. Aku memang kurang pandai dalam beberapa mata pelajaran dan Udon selalu membantuku menuntaskan tugas-tugasku. Dia selalu baik padaku dan membelikanku boneka dan banyak menghadiahkan gelang. Pokoknya banyak..."
Aku jadi bertanya-tanya apa maksudnya menceritakan itu semua padaku? Kuputuskan bahwa Hanabi mulai kurang beres. Seharusnya waktu itu kubelikan saja Hana gelang perak atau kalung atau Bandana. Dari dulu aku suka melihat cewek memakai Bandana di atas kepala mereka. Kenapa aku malah menghadiahkan gelang dari benang ya? Aku juga tak tahu apa yang kupikirkan waktu itu. Bagaimana pun juga aku tidak bisa mengabaikan cerita itu. Malahan emosiku mulai terpancing.
"Terus Hana masih menyimpan benda-benda itu?" tanyaku sopan, tapi jengkel.
"Tentu saja...," katanya riang. Sudah kuduga ia pasti menyimpannya. Lalu ia melanjutkan. "aku menyimpannya di lemari pakaianku,"
"Oh...," Aku terdiam bingung, antara emosi, malas, dan enggan menghentikan cerita itu. Aku 'kan sedang rindu padanya. Aku melanjutkan tanpa semangat. "kadang memang hal-hal indah itu perlu dikenang. Lalu apa yang terjadi setelah itu?"
"Kami berpacaran," kata Hanabi enteng. Kata-kata itu menusuk perasaanku dengan menyakitkan.
"Lalu?"
"Banyak hal indah... Yah, kakak tahu sendiri 'kan?"
"Kenapa kalian berpisah?" tanyaku ingin tahu. Aku terbawa kisah itu.
Hanabi tak segera menjawabnya. Dia diam beberapa saat. Setelah itu kudengar dia membuang napas. "Kami terpaksa... Udon tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh, karna aku pindah sekolah ke tempat yang lebih dekat dengan tempat tinggalku... Sejak saat itu... Aku tak pernah lagi bertemu dengannya...," suaranya terdengar memelan, seolah kenangan itu begitu menyakitinya. "terakhir kami berpisah... dia... menciumku," lanjutnya dengan suara yang terdengar seperti ingin menangis.
Aku kehilangan kata-kata. Bagian akhir cerita itu mengguncangkan perasaanku. Dalam sekejap saja emosiku menguasaiku. Hatiku remuk, mimpiku telah hancur, dan segala tentang Hana telah runtuh. Gadisku yang cantik jelita telah ternoda.
Hana pasti masih mencintai cowok culun itu, merindukannya. Pasti keputusan yang diambil cowok itu sangat melukai Hanaku. Betapa pedih membayangkannya. Hana dan Udon. Bayangan itu benar-benar bikin depresi seakan-akan hadirku cuma sempilan di antara mereka. Butuh beberapa waktu bagiku untuk menguasai diri lagi.
Dia yang di sana sedih. Aku yang di sini sakit. Napasku menderu. Aku pun mulai bernyanyi.
"Meski telah lama kita tak bertemu... Kuselalu memimpikan kamu... Ku tak bisa hidup tanpamu..." Air mataku berlinang. Kulanjutkan nyanyianku dengan suara parau. "aku... rindu... setengah mati... kepadamu... Sungguh kuingin kau tahu, aku rindu setengah mati...,"
Aku berhenti. Sesak nian dadaku. Entah berapa lama keadaan sepi itu bertahan dengan cara yang tidak menyenangkan. Aku ingin mengatakan sesuatu tentang aku mencintainya. Tapi aku jadi enggan...
"Hana," panggilku kemudian.
"Hm?" timpalnya dengan suara yang lebih baik.
"Kakak sudah ngantuk...," dia hanya diam. Aku tak berniat melanjutkan percakapan itu. Rasanya begitu menyakitkan. Maka kuputus sambungan itu secara sepihak. Aku mulai menangis seperti bocah. Air mataku terurai tiada henti. Aku mundur, kataku dalam hati. Tak berkeinginan lagi berhubungan dengannya. Nomornya juga sudah kuhapus.
Setelah itu hidupku berubah, tiga hari lamanya aku seperti orang yang linglung. Duduk melamun, makan pun terasa tak enak dan gairah hidup tak punya. Bayangan ciuman itu bikin aku jadi panas. Kau mungkin mengira aku kekanak-kanakkan, tapi toh itu adalah pengalaman pertamaku. Pengalaman yang bakal menjadi mimpi buruk bagi hidupku selama bertahun-tahun.
***o***
Kami berdua duduk, maksudku aku dan Karin, malam hari di beranda rumahku. Semenjak kejadian waktu aku memukul Nagato, rasa-rasanya aku agak jarang main ke rumah Karin. Tapi bukan berarti aku tidak bertegur sapa lagi dengan Nagato. Kami bertegur sapa, hanya saja sikap kami bila bertemu agak berjarak, bercanda seperti dulu. Kalau dengan Karin tidak ada masalah.
Awal-awalnya sikapku agak kaku, percakapan lebih banyak didominasi oleh Karin.
"Kak...,"
"Ya?"
"Sekarang kakak jujur," katanya membingungkanku.
"Jujur apa, Karin?" tanyaku tak mengerti.
Dia menatapku lekat-lekat seakan aku adalah malingnya. Lama-lama tak enak juga melihat mata merah mudanya yang berkaca-kaca.
"Ada apa sebenarnya?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Ada apa~apanya?" aku masih bingung.
"Kakak sedang ada masalah 'kan? Jujur padaku."
"Aku tidak tahu maksudmu." Dia masih menatap ke arah mataku. Seolah-olah mencari-cari sesuatu dariku. Aku seperti maling yang tertangkap basah olehnya. Tapi hal yang tak ku sangka-sangka, adalah dia lalu memelukku.
"Aku tahu kakak sedang ada masalah," kata Karin dengan sedih. "Kakak tak usah menyembunyikan apa-apa dari Karin. Karin sayang kakak." Dia memelukku sampai-sampai tulangku mau patah rasanya. Selain itu suaranya yang bergetar itu mengundang simpati. Kuusap rambut merahnya, lalu kucium puncak kepalanya.
"Maaf telah membuatmu khawatir, Karin...," kataku lemah.
"Memangnya apa yang sudah terjadi pada kakak?" tanyanya dengan sedih.
"Ada seorang gadis yang kakak cintai," kataku menerawang wajah gadisku. "tapi sayang dia masih mencintai mantannya...," Aku berhenti dan merasa sendu lagi.
"Kakak bodoh," sindirnya. "mau saja mencintai gadis seperti itu. Masih banyak gadis yang jauh lebih baik dari dia termasuk―"
"Bisakah kalian berhenti dengan adegan drama kalian. Ibu sudah pegal berdiri di sini memperhatikan kalian berpelukan seperti itu,"
Bujug! Hampir saja jantungku copot gara-gara kemunculan ibu yang tiba-tiba itu. Karin bukannya berhenti malah tak terpengaruh dengan kehadiran ibuku.
"Anu, k-kami sedang um... Itu, maksudku anu... Aaaa kami sedang latihan sandiwara. Karin 'kan ada pementasan. Yah, kira-kira begitulah, Ibu. Haha haha," ujarku gelagapan sambil mencubit-cubit lengan Karin.
"Kau sama sekali tidak berbakat berbohong, Naruto," ujar ibuku sambil memicingkan matanya menatapku. Dia kemudian berjalan ke arah kami, lalu meletakkan nampan berisi dua gelas es teh di meja kecil di depan kami. Tatapan matanya yang menusuk terus menyorot kami berdua. Tapi aku segera mengalihkan wajahku dari ibuku, berpura-pura tidak memperhatikannya.
"Karin. Minum esmu dulu. Jangan memeluk Naruto terus," tegur ibuku.
Karin pun melepas pelukannya sambil menjawab, "Iya, bi...," lalu diusap-usapnya jejak air matanya. Kau tahu apa yang terjadi setelah itu...
"Astaga!" Ibuku terkejut bukan main. Lalu ibuku menatapku tajam.
Bletak
"Itttaaii!" -.-
"Apa yang sudah kau lakukan pada Karin, bodoh?!"
"Aku mencekiknya tadi...," jawabku dengan malas.
"Apa katamu?!"
Bletak bletak bletak
Habis sudah kepalaku kena hantam. Untung ada Karin yang segera melerai.
Sepulang mengantar Karin, aku langsung merebahkan diri di atas kasur sambil memandangi langit-langit kamarku dengan perasaan hampa. Aku jadi ingin tahu bagaimana kabar gadisku sekarang?
Kesadaranku kembali ketika ku rasakan ponselku bergetar. Aku mengeluarkannya dan melihat nomor tak dikenal terpampang di layar ponsel. Aku mengerutkan kening, tapi mengangkatnya dan meletakkannya di telingaku seraya menjawab, "Ya, halo?"
Bisu. Tak ada jawaban.
"Halo?" ulangku lagi. Masih tak ada jawaban. Lama-lama jengkel juga bicara sendirian, tapi tatkala aku mau mematikannya.
Terdengar suara gresek-gresek di seberang sana.
"Kak," panggilnya.
Mendengar suaranya yang sangat kukenali. Entah kenapa jantungku berpacu. Tapi sekarang disertai denyut sakit. "Ya?" jawabku.
"Kenapa kakak menghilang?"
"Tidak ada," kataku lemah. "Kakak hanya tidak punya pulsa, Hana. Akhir-akhir ini kakak jarang punya uang." alasan klasik untuk menghindari tuduhan.
Ku dengar dia menghela napas sebelum membalas. "Kenapa tidak bilang ke Hana, kak?"
"Kan pulsa kakak tidak ada, Hana... Mau bilang pakai apa coba?" kataku berargumen.
"Pinjam ponsel teman 'kan bisa kak,"
"Memangnya kenapa, Hana?" dia diam. Aku mendengar ia mendengus. Lalu aku melanjutkan dengan bertanya lagi. "bagaimana kabar Hana sekarang?"
"Baik," lirihnya.
"Hana masih memikirkannya ya?" tebakku asal dengan nada bercanda.
"Apa maksud kakak?" tanyanya tidak mengerti.
"Tentu saja Udon," jawabku enteng.
Untuk sesaat dia diam. Deru napasnya terdengar jelas di speaker ponselku. Lalu dia berkata setengah membentak padaku. "Bodoh." Waduh gila amat ni cewek! Ngajak ribut kali.
"Kakak bodoh... Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoooh!" bentaknya dengan nyaring. Aku tidak mengerti. Sampai kapan pun aku tidak akan mengerti apa maksudnya.
Tuth tuth
Dia memutuskan panggilannya dan itu MEMBUATKU SANGAT JENGKEL. SUDAH MENGATAI AKU BODOH BERKALI-KALI, LALU TANPA PAMIT DULU DIMATIKAN BEGITU SAJA. PENGEN KU BANTING INI PONSEL. Eh tapi tunggu dulu. 'kan sayang kalau dibanting, nanti gak ada kita pakek.
*********o**********
Uzumaki Boy
Cinta adalah hal yang paling menyakitkan jika yang dicintai malah mencintai orang lain...
Baru saja
Suka Komentar Bagikan Lainnya.
Begitulah yang kutulis di status terbaruku. Lalu ku tinggalkan sebentar. Aku sedang main di warnet Shikamaru. Tak lama kemudian, kira lima menit empat puluh sembilan detik setelah itu ada yang berbunyi 'Plugh'. Kutengok Facebook ternyata banyak like dan komentar...
InoLoveForeverSai, Pinkyalways c'lalucukabungaSakura, dan empat orang lainnya mengomentari kiriman Anda.
Lihat-lihat deh. -,-
NaraShikaStreetboys
Dari dulu sampai sekarang kau ini benar-benar sial. Merepotkan. Lebih merepotkan dari menyapu warnet ini.
Sasuke Seven Demons
HAHAHAHAHAHA KASIHAN KAU BODOH...
Itachi Kece Abis
Yang baca ini kambing.
Yang gak baca tai.
Yang bales ini sapi.
Yang suka burung onta.
Yang gak Suka singa betina.
Atasku maho.
Bawahku bangke.
VioletGirl
Kamu kenapa? Lagi galau ya?
Pinkyalways c'lalucukabungaSakura
Sasuke! Kenapa kau ada di sini?! Tadi kau bilang mau belajar! Dasar setan!
InoLoveForeverSai
Cinta adalah anugerah terindah yang diberikan MahaKuasa untuk manusia...
Cuma bisa geleng-geleng kepala melihat komentar-komentar aneh mereka. Aku mendesah, kemudian membalas komentar-komentar laknat itu.
Uzumaki Boy
Nara : lanjutkan saja tidurmu somplak!
Sasuke, Itachi : kalian saling kecup saja
Violet : yah kira-kira begitulah...
Pinky : Jangan mengomel di sini! Dasar maho!
Ino :Oh tentu saja... Cinta itu kadang seperti ikan mati...
Sasuke Seven Demons
ANIKI SIALAN! TURUN KAU KALAU BERANI!
Itachi Kece Abis
Aku sudah dibawahmu peak!
Sasuke Seven Demons
ITU MASIH DIATAS BODOH!
Itachi Kece Abis
Ini buktinya di bawah... dasar Kuda ngesot...
Dan begitulah mereka saling lempar komentar yang tak jelas. Sampai-sampai memberikan dua ratus komentar di statusku... dasar gila...
************************ooo*************************
Suatu pagi di bulan juni, aku duduk di tepi jalan. Merenung seorang diri sambil memutar-mutar ponselku. Pandanganku yang tak mengisyaratkan apa-apa, tak pernah lepas memandangi jalanan sepi itu. Di sinilah aku sekarang menunggunya.
Aku masih tidak mengerti mengapa aku mau saja menyanggupi permintaan Hanabi. Kupikir aku masih merindukannya. Tapi bayang-bayang menyakitkan itu yang barangkali telah mengusir rasa rinduku. Mungkin sudah seminggu lebih aku tidak bertemu. Jantungku terus berdebar-debar. Ini adalah momen seperti pertama kali aku berjumpa dengannya waktu itu. Hanya saja sekarang denyutnya berbeda, agak nyeri.
Sekonyong-konyong aku melihat bayang gadisku di kejauhan. Semakin dekat makin jelas pula wujudnya. Dia masih imut seperti biasanya. Tapi lagi-lagi bayangan menyakitkan itu menamparku dengan keras, hingga aku merasakan mataku jadi memanas.
Lalu seseorang berambut coklat panjang datang dari belakangnya dengan motor dan berhenti di dekat Hanabi. Untuk beberapa saat mereka terlibat obrolan. Aku merasa sesuatu yang tidak enak akan terjadi.
Aku terus memperhatikan mereka. Tapi firasatku mengatakan Hanabi akan menaiki motor itu. Dan tentu saja aku benar.
Hanabi menaiki motor itu karna terpaksa~aku bisa melihat si cowok kayak maksa gitu. Entah kenapa dadaku makin nyeri melihatnya. Dia melewatiku tanpa mau melihat kepadaku... Jadi ini maksudnya memintaku untuk menemuiku?
"Babi busuk!" umpatku geram. Dia benar-benar mempecundangiku!
Aku pun berjalan pulang dengan sakit hati. Setelah tiba di sebuah jembatan aku lantas berhenti sambil mengambil napas. Aku memelototi arus sungai sambil mendengus. Aku marah, sekaligus merasa letih. Aku punya keinginan untuk loncat dari atas jembatan hanya untuk menguji seberapa deras arusnya~eh, nggak deh. Setelah memperhatikan batu-batu seukuran ban truk berserakan sembarangan di bawah sana, aku ketakutan, seakan batu-batu itu melotot padaku sambil berteriak, "Ayo sini kalau berani!"
"Kok sendirian?"
Aku langsung menoleh, terkejut dengan suara itu. Sara sedang menatapku, tersenyum sambil mengernyitkan dahi seakan-akan aku ini aneh. Kalau sudah kubilang Sara itu cantik, biar kutambahkan, sekarang dia kelihatan luar biasa cantik dengan ekspresi seperti itu.
"Eh, Sara," sahutku salah tingkah.
"Mana Hanabi?"
"Dia berangkat duluan tadi," kataku berusaha terdengar datar. "Kalau kau? Berangkat udah siang gini. Sendirian lagi."
Sara berkata, "Aku biasa berangkat sendirian dan agak siangan, biar di sekolah tak menganggur."
"Pacarmu mana?" tanyaku.
"Dia ada, tapi aku memang sengaja tak mau barengan," Dia mendesah. "aku lebih suka sendirian."
"Mau barengan?" Aku menawari.
Sara mengangguk. Dalam sekejap kami telah melangkah bersisian pada pinggir jalanan ini. Aku mencurahkan isi hatiku padanya. Daun-daun Kersen berguguran. Daunnya menari-nari di udara. Salah satunya meliuk-liuk menarik perhatianku dan hinggap di rambut merah Sara.
"Sebentar," kataku. Kami pun berhenti. Aku menyingkirkan daun itu dari rambutnya. Sara memperhatikanku tanpa merasa terganggu. Lantas pandangan kami bertemu. Dia menatapku dengan pandangan memikat, setengah menangis, setengah tersenyum. Aku jadi terhibur melihatnya. Kesenduan yang pernah kulihat pada matanya telah lenyap.
"Ada daun yang jatuh ke rambutmu," kataku tanpa melepaskan pandanganku dari matanya.
"Makasih," katanya. "aku tersentuh."
Kami berjalan lagi. Ada jeda beberapa saat ketika ia kembali berkata, "Jadi kau akan berhenti kemari?"
"Mungkin saja, aku tidak tahu. Rasanya aku tidak akan ke sini untuk waktu yang lama," jawabku. "bayangan jelek itu selalu membuatku patah hati."
Sara berkata, "Akan aneh sekali rasanya tak lagi melihatmu berkeliaran di sekitar sini. Yah. Menurutku Hanabi bisa saja sedang mengujimu, semacam ingin tahu sedalam apa perasaanmu padanya."
"Begitu caranya menguji?"
"Ya siapa tahu 'kan? Pikiran orang suka aneh-aneh."
Aku tidak menjawabnya. Bagaimana pun pendapat itu layak dipertimbangkan. Aku menatap Sara dan terheran-heran. Kesenduan yang telah lenyap itu kini kembali lagi dalam matanya. Dia sedang menatap ke depan. Dagunya terangkat. Alisku terangkat sebelah karna perubahan itu.
Dia sekonyong-konyong membalas tatapanku. Kesenduan pada matanya sekarang tak bisa lagi disembunyikan. Dia berpaling buru-buru. Hanya sekilas saja aku melihat kepedihan pada matanya itu.
Aku berhenti. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku," kataku dengan sedih. Dia kembali menatapku. "aku tak tahu apa itu. Tapi yang jelas aku selalu melihat mata sendu itu tiap kali kita bertemu."
Dia tampak terkejut. "Kapan kau mulai melihatnya?"
Aku mengendikkan bahu. "Sudah lama. Mungkin ketika kali pertama aku memeluk Hanabi~saat kita berpapasan. Aku juga melihat mata sendu itu. Maukah kau cerita padaku? Mungkin aku bisa membantu."
Dia berpaling sambil berkedip. Ia pun menggeleng. "Maafkan aku. Ini terlalu pribadi." Lalu ia mengalihkan pembicaraan. "Lihatlah ke depan. Gadismu sedang menunggu."
Caranya mengatakan itu membuatku terus memandanginya. Nadanya kali ini berbeda. Aku menangkap kepahitan dalam suaranya. "Siapa maksudmu?"
"Lihat saja." Aku mengikuti arah pandangannya. Tampaklah Hanabi di pertigaan di depan. Dia sedang memandangi kami. Pandangannya seolah kelihatan seperti seorang anak kecil yang direbut mainannya. Aku tersenyum sambil melambaikan tangan. Tapi Hana malah berpaling dan pergi ke arah sekolahnya.
"Sudah ya?" Sara pamit padaku. "Kuharap kau sering-sering datang lagi. Kau akan membuatku sengsara jika tak muncul lagi di sekitar sini."
"Tapi..." Dia berlari menjauhiku sambil melambaikan tangan padaku. Lantas ia berbelok dan lenyaplah Sara dalam pandanganku.
Tebece...
